Ali dan Lia


Di workshop Okrek ada dua anak kecil umur 5 tahunan yang bernama Ali dan Lia. Mereka anak Mbak Hana seorang Manager produksi. Setiap hari Ali dan Lia selalu mengganggu kami semua, dari Mbak Ais (Kru produksi) sampai Pak Afandi (Owner sekaligus suamiku).
Ada-ada saja yang bisa mereka lakukan untuk meraih perhatian dari kami semua, suatu waktu mereka berdua naik mesin jahit, pasti kami semua takut kaki mereka bisa terluka oleh mesin jahit atau jarum-jarum pentul, suatu waktu mereka mengambil dan menyembunyikan beberapa kain yang sudah siap untuk dijahit, hingga kami semua serentak mencari kain itu diseluruh workshop.
Pernah suatu hari Ali dengan wajah isengnya mengambil penggaris kain Cak Pri. So pasti semua kru mengukur dan membuat pola waktu itu dengan menggunakan penggaris biasa. Sore harinya kami baru menemukan penggaris kain itu dibawah motor Mbak Hana.
Hmmm memang sejatinya mereka pengganggu, tapi kalau menurutku mereka hanyalah sepasang anak yang ingin mencari perhatian lebih dari semua kru di okrek.com
Kita jangan selalu melihat seorang anak dari satu sisi, Ali dan Lia pun punya beberapa sisi yang bisa ku lihat, di satu sisi mereka sangat… menjengkelkan, sisi yang lain mereka bisa meramaikan suasana, disisi satunya lagi mereka adalah anak-anak yang belum mengerti apa-apa, dan kewajiban kita untuk memperlihatkan kepada mereka mana yang benar dan mana yang salah. Sisi yang lainnya mungkin hanya ibu mereka yang lebih mengerti.
Sore ini mereka sedang tidur terlelap…. Di workshop Okrek.com
Bila anda mengunjungi kami… jangan kaget dengan tingkah mereka…
Karya : Ayuna (Di Workshop sore hari menunggu suami bersama Ali dan Lia)

Riwuk... Cipluk... Mbah Ti...


Anak-anak generasi penerus okrek.comRiwuk….
Dekat dengan hutan ada sebuah rumah yang dikelilingi pohon mangga yang lebat, rumah itu sederhana namun bersih. Didalamnya terdengar suara rebut-ribut dari dalam.
“Mbah…. Riwuk nakal tenan… Riwuk… mbah…. “ teriak anak kecil yang sedang berlari-lari ketakutan dikejar teman sebayanya yang sedang memakai topeng Barong.
“Wuk…. Ojo… ganggu Cipluk wae too… keneh karo mbah…. Wes wes mari dulinane” tegur si mbah… Tubuhnya yang rapuh sedang tekun menjahit dengan pelan.
Tak mendengar teguran si Mbah.. Riwuk dan Cipluk malah tambah semakin rIbut. Berlari kesana kemari, tertawa terkadang menangis karena pertengkaran anak kecil.
Si mbah masih saja menjahit, jenuh melihat yang dilakukan kedua cucunya, si Mbah lalu mengajak mereka menemaninya bekerja
“Nduuuk… rene nduuuk… lungguh-o tak ajari njahit…”
“nggeh mbah ti…”
“Ndhelok en yoo cah ayu… iki jenenge dhom…. Iki jenenge benang… loro-loro ne isok… ngawe kelambi seng apik tenan… “
“Nggeh… mbah…”
Riwuk dan Cipluk akhirnya menikmati bagaimana Mbak Putri mereka bekerja. Jahit sana jahit sini,
“mene… nek wes gedhe awakmu ape dadi opo nduk…?” Tanya mbah ti mereka.
“Aku dhadi koyok mbah ae…. Iso nggawe klambi apik…”
Karya : Ayuna ( Tanggal 5 Maret hari jum'at dikala menemani para kru okrek
yang sedang sibuk menjahit pesanan)