Human Devil : Kematian

Sebuah kematian
Ia datang bersama keterpaksaan
Bila mereka mati, mereka terpaksa meninggalkan semuanya
Meninggalkan yang mereka  cintai
Meninggalkan yang mereka ingini
Meninggalkan apapun yang menjadi hasrat
Lalu muncullah dia
Sosok yang menurut mereka gagah dan memiliki kekuatan
Ia berkata
“Aku memiliki keduanya”
“Kebahagiaan di Dunia dan akhirat”.
Dengan senyum yang penuh rahasia
“Aku memiliki keduanya kebahagiaan dan ketentraman”
Lalu semua yang dihadang kematian
Berkata dengan penuh harap
“Siapakah kau? Lalu apakah kau bisa memberi kami keduanya?”
Dan terdengarlah tawa sosok gagah itu.
Dan dia membalik balik batu ditangannya dengan sangat misterius
“Aku bisa memberikannya untuk kalian. Namun… kalian harus menjadi budakku seumur hidup”
Merasa terkejut, mereka yang dihadang kematian menganga dan hanya melihat betapa orang itu akan sangat memanfaatkan diri mereka dan berbuat aniaya.
“Tak perlu khawatir… kalau kalian menjadi budakku, kalian tidak akan aku pekerjakan”
Merasa sedikit lega, mereka yang dihadang kematian sedikit tersenyum.
“Namun.. kalian harus hidup demi harta, wanita, dan cintailah dunia, bila di akhirat kelak, kalian harus tetap mencintai dunia, harta dan wanita”
Merasa sangat bahagia karena mendengar syarat yang diberikan adalah kesukaan mereka. Tak diragukan lagi merekapun segera bersuka cita.
“Kami mau menjadi budakmu~~!! Kapan kau akan memberi kami keduanya? Dunia dan Akhirat dengan Cuma-Cuma?”
Tawa pria itu semakin menggema, dan menggelegar.
“Baiklah…. Baiklah….. namun kalian akan menjadi budakku sampai diakhirat kelak”
Mata mereka berbinar-binar dan serentak berkata.
“Kami senang bila menjadi budakmu”
Lalu pria itu berkata “Kalian sudah mendapatkannya” dan menghilang dari hadapan mereka.
Sang kematian mengulur waktunya, agar semua orang itu kembali sadar bahwa mereka sudah tertipu, dan kembali kepada kesucian diri.
Namun sudah sangatlah terlambat.
Waktu yang diberikan oleh Sang kematian, mereka gunakan untuk meraih harta, menikmati dunia dan merasakan kehangatan semua wanita.
Lalu Sang Kematian merasa waktunya sangat tidak dihargai.
Dan ia menghampiri setiap rumah orang-orang dunia itu.
Dibawa nya jiwa mereka.
Namun semuanya berontak dan berkata
“Hei…. Apa yang kau lakukan? Aku sudah menjadi budak DIA, aku tak bisa mati, jadi kau tak punya hak untuk membawaku”
Sang kematian dengan wajah yang marah membara berkata
“Kalian ini terlalu BODOH~!!! Kalian sudah ditipu oleh Iblis itu. YA~~~! Benar kalian telah menjadi budaknya. Dan nanti diakhirat kalian akan bersama Iblis itu di Neraka”
Sangat terkejut, beberapa dari orang dunia itu menangis tersedu-sedu
“Wahai… kematian…. Apakah tidak ada kesempatan kami untuk bertaubat?”
Sang kematian merubah tatapannya dengan tatapan kesedihan.
“Maafkan aku… kalian sudah aku beri kesempatan itu. Namun kalian terlalu bahagia menjadi budak Iblis itu. Sekarang mari kita ke Alam Kubur. Kalian akan disiksa disana…. Siapkan diri kalian”
Lalu teriakan-teriakan yang kencang dan menyayat hati itu menggema dari sudut bumi. Manusia lainnya tak mendengar teriakan pilu itu. Iblis pun akan menggoda manusia saat ia diambang kematian.
Oleh Ayuna Kusuma

Human Devil : Pembunuh

By : Ayuna Kusuma 22 December 2011

Seorang anak lelaki keluar dari sebuah gubuk. Di kompleks kumuh tingkat atas, anak itu terlihat memukul-mukul jaket kusamnya. Tak beberapa lama seorang Iblis datang, dia menyerupai kakek-kakek yang berbaju mewah dan masih mulus.
Anak lelaki itu menatapnya  dengan kekaguman yang berlebihan. Beberapa kali kakek itu mengkibas-kibaskan tongkatnya, menunjuk-nunjuk tanah dan bicara seorang diri, namun dia seperti menyuruh seseorang untuk membereskan apapun yang ia tunjuk.
Anak itu masih menatap dengan rasa kagumnya,

“Sudahlah nak, jangan kau pandangi aku dengan matamu itu, kau akan silau…” kata kakek itu pelan dengan nada yang berat
“Kakek ini siapa….”
“Aku?… apa pedulimu siapa aku….”
“Aku peduli… karena baru kali ini aku melihatmu… dan aku ingin meminta sereceh uang, untuk membeli makan untuk ibuku yang sedang sakit…”
“Oh… kau pengemis rupanya… pengemis yang peduli dengan orang lain daripada peduli dengan dirinya sendiri…”
“Aku peduli pada diriku dan ibuku.. maka dari itu aku peduli padamu dan menanyakan hal sepele itu padamu…”

“Tapi maaf nak… aku tidak suka memberi dengan Cuma-Cuma…  Kalau kau mau bekerja untukku, kau akan kuberi lebih.. bahkan… kuberi uang muka yang lebih daripada yang kau harapkan… bahkan pikiranmu pun tak habisnya untuk menghitung uang muka yang kuberikan nantinya”
“Apa pekerjaan yang kau berikan untukku?”
“Hmmm.. kau lihat gubuk yang ada didepanmu?”
“Iya, itu rumah para tetanggaku,…”
“Bakar rumah mereka nanti malam.. karena aku akan membangun sebuah toko besar disini. Kalau kau mau menjalankan tugas ini, aku akan membawamu dan ibumu ke tempat aman dan memberikan kalian makan dan juga uang, kalau kau tidak mau melakukan tugas ini, mungkin kau akan ikut terbakar bersama para tetanggamu”
“Tidak.. aku tidak mau… mereka para tetanggaku, mereka saudaraku, kau orang gila, sampai menyuruhku membakar mereka”
“Aku tak menyuruhmu membakar mereka, pengemis yang malang…. Aku hanya memberikan kau tugas untuk membakar rumah mereka”
“Lalu bagaimana dengan mereka? Kau benar-benar iblis”
“Ssst… apakah kau sudah lupa kalau ibumu sedang kelaparan? Jangan pernah pikirkan mereka, pikirkan dirimu sendiri… lihat bajumu… lusuh.. bau… kau juga harus merawat ibumu. Merawat orang sakit harus ditempat yang bersih.. kalau kau membantuku… kau akan dapatkan harta untuk membeli itu semua”
“Aku tak mau harta.. tuan kaya raya… aku tidak mau harta bila aku harus membunuh saudaraku… puas?”
“hmmm… jangan munafik…”

Anak itu kembali ke gubuk dengan penuh pikiran, campur aduk lama-lama menghitam dan muncullah sebuah keputusan yang mengubah segala hidupnya. Setelah ia melihat ibunya yang terkapar tak berdaya, kadang nafasnya tersenggal, kadang berhenti, kadang memuntahkan semua air dalam perutnya. Karena hanya air yang ada diperutnya.

Anak itu terlihat marah, saat menerima sebuah keadaan, mengingat-ingat apa yang terjadi selama ini, Semua tetangganya, hanya orang asing baginya, saat ia kelaparan dan hendak mencari pertolongan tak ada yang mau membantu, bahkan ada yang baik hati membantu, dengan memberikan sisa makanan anjing peliharaan, Saat ibunya terbaring lemah dan sangat perlu gizi, walaupun sepiring nasi. Tak ada satupun tetangga yang memberi nasi layak dimakan, semuanya hanya memberi nasi basi bersama belatung kecil, semakin terhina dan marah anak lelaki itu ketika ia ingat anak tetangga sempat-sempatnya mencuri sepeda peninggalan dari ayahnya, dan ia tak mampu merebut kembali sepeda yang sudah menjadi haknya, karena ancaman dari ayah sang pencuri.

Semakin marah, semakin muram, semakin benci, semakin dendam.
Anak itu berlari keluar gubuk, ia mencari kakek kaya itu, dan berniat merubah keputusannya.
“Hei…!! Aku mau bekerja untukmu… apakah masih ada kesempatan untukku?”
Kakek itu berpaling ke arah lelaki kecil itu, ia tersenyum bangga
“Bagaimana… kau sanggup melakukan itu semua?”
“Aku sanggup, tapi kau harus memindahkan ibuku ke rumah sakit, berilah obat yang bagus untuknya, belikan ibuku makanan yang penuh gizi. Berikan kami uang yang banyak. Dan akan aku bakar mereka semua”
“Hehehe… sabar nak…. Apa yang membuatmu begitu bergelora dalam emosi?”
“Kau benar, mereka bukan tetanggaku, mereka hanya orang asing bagiku dan ibuku, mereka tak pernah membantuku, bahkan mereka sering menghina kami”
“kasihan sekali kau nak… baiklah… kita pindahkan ibumu ke rumah sakit sekarang”
***
Lalu malam itu.. saat semua terlelap… Seorang anak lelaki yang telah mendapat segalanya dari sang iblis. Melangkah dengan pelan-pelan, lalu ia menyulut api, dan…. Semua  rumah yang semula ia anggap sebagai rumah tetangga, menyala berkobar, beberapa kepala keluar dari rumah dengan kobaran api yang menjadi-jadi. Teriakan-teriakan menggema, langit berubah menjadi berwarna, semakin ceria namun menderita.

Si anak lelaki hanya tersenyum sadis melihat tetangganya terbakar. Ia sudah memiliki kebahagiaan diatas ratusan derita tetangganya, Ia sudah tahu pasti ibunya makan enak setelah hangusnya tetangganya.
Si anak pulang… gembira ia…. Senyumnya bertebar diwajahnya. Namun apa yang ia lihat, begitu mengguncang hati. Mayat terbaring diatas ranjang rumah sakit, di kamar ibunya.
Ia bertanya dengan tertatih.. Siapa itu? Dalam hatinya…… Pasti bukan ibuku… ibuku sudah sehat karena aku sudah belikan obat untuknya…
Lalu kakek itu datang, dia menahan sedikit air mata, huh…. Bukankah iblis tak bisa menangis?… itu sebuah kepalsuan belaka.
“Nak.. ibumu telah meninggal…”
“……..” anak itu tak bisa berpikir lagi, ia berteriak teriak, matanya melotot keluar, ia kecewa… mengapa secepat itu ibunya mati, mengapa secepat itu ibunya pergi.
“Ini nak… bayaranmu…. Terimalah”

“Dasar iblis….. apa artinya uang bila ibuku mati…… apa???? Apa??? Hah!! Apa????”
“Kau bisa menikmati hidupmu sendirian tanpa ibumu…. Kau bisa menikmati dunia…. Tanpa merawat ibumu yang pesakitan itu….”
“Aku bunuh mereka semua~~~!!! Untuk ibuku~~~!!! Untuk kesehatannya…. Untuk kesejahteraannya…. Untuk membalas cintanya kepadaku….. “
“ups…. Maaf aku kira kau bisa melepaskan ibumu…. Aku membunuh ibumu karena dia terlalu merepotkanmu nantinya”
“……………” Semakin gila, semakin lantang teriaknya, semakin gila suasana. Dan iblis hanya berlalu dengan tertawa bangga. Ia menghancurkan semuanya dalam satu malam.

B-G Daily Love “Look and Pay”

Dirumah jepang kuno itu aku melihatnya duduk sedikit tegang, tangan kanannya menopang pipi kanannya yang sedikit chubby, rambut pendeknya sebentar-sebentar dihembus angin sore. Dan kulihat mata kanannya tertutup oleh kain merah. Aku sangat asing dengan sosok gadis itu, namun setiap aku melihatnya saat siang dan sore sehabis kerja, aku merasa sedikit senang, entah kenapa, yang pasti dia tetap seperti hari sebelumnya.
Beberapa kali dia memergokiku sedang melihatnya. Namun ia tetap saja duduk ditempatnya. Ia selalu memakai dress putih dengan sarung tangan dan kaki hitam kelam. Sempat terpikir olehku. Apakah ia seorang mafia? Atau anak dari bos mafia?. Tapi sepertinya itu sebuah pemikiran yang gila. Bagaimana mungkin di lingkungan yang sedamai ini, ada mafia yang berkeliaran.
Aku kembali mengamati gadis itu dari balik pagar, aku melirik jam tanganku, masih pukul 1, masih ada waktuku untuk mengamati gadis misterius itu lagi.  Aku melihat tempat gadis itu duduk dan menompang pipinya, ah… kemana dia?, dia sama sekali tak ada disana? Apakah dia sudah masuk dan menemui seseorang dirumah itu?.
“Hei…” Suara teguran itu sangat mengejutkanku. Aku mencari darimana suara itu berasal, apakah dari dalam rumah?
“Hei.. aku diatasmu….. Hei pria yang aneh… apakah sedari minggu yang lalu kau memandangiku seperti ini? huh… seperti pencuri saja” aku palingkan pandanganku keatas. Aku semakin terkejut, gadis itu sudah duduk diatas pagar. Matanya memandangiku lekat-lekat
“hmmm iya kau benar… aku hanya penasaran saja… mengapa ada seorang gadis yang selalu menunggu diluar begitu lama. Selama seminggu. Maaf kalau kau tidak berkenan” Aku mengayuh sepedaku dan beranjak pergi serta melewatkan sindiran yang memalukan itu. Bagaimana aku bisa melakukan hal yang sedikit aneh ya? Mengintip seorang gadis dari luar pagar? Ah.. aku semakin malu.
“Hei…!! Tunggu….!! Bawaanmu tertinggal.. atau kau memang ingin membuangnya? Maaf rumahku bukan tempat sampah” ah… kenapa ini harus terjadi, aku melupakan semua makanan titipan rekan kerja dijalan. Aku balikkan sepedaku dan menghampiri bungkusan putih yang berisi makanan itu. Gadis itu berada diatasku saat aku mengambil bungkusan itu. Aku tak sanggup melihat ke atas, karena wajahnya semakin manis ketika aku memandangnya sedekat tadi.
“Terima kasih sudah mengingatkan” aku kayuh sepedaku, tapi begitu berat kali ini, saat aku balikan tubuhku, aku melihat gadis itu memegang dan menahan sepedaku.
“Mengapa terlalu tergesa-gesa, aku ingin kita bicara sebentar, tapi kau ingin pergi. kau sudah mengintipku selama seminggu penuh. Aku tahu itu, sekarang, kau mendapat kesempatan mengobrol denganku, mengapa kau malah mau pergi?”
“hmm maaf aku harus kembali bekerja”
“lalu besok, pada waktu yang sama apakah kau akan mengintipku lagi? Begitu?”
‘tidak… bukan seperti itu…” aku turun dari sepeda dan memarkirkan sepedaku dipagar rumah itu “Apakah kau marah padaku? Aku hanya penasaran saja… mohon maafkan aku ya… ”
“Iya aku sangat marah, wajahku, tubuhku, dan semua yang kumiliki bila dipandang sembunyi-sembunyi seperti itu, dan orang yang memandangku hanya mengatakan maaf tanpa melakukan apapun dan menganggap itu adalah hal sepele. Itu yang membuatuku sangat marah” wajah gadis itu tidak berubah walaupun ia mengatakan sangat marah saat ini. angin menyibakkan kain merah yang menempel di mata sebelah kanannya. Aku melihat segores luka yang sangat dalam.
“Hei… aku bicara padamu… jangan diam saja. Aku simpulkan bahwa kau harus membayar apapun yang kau lihat selama seminggu ini…!” bentaknya mengagetkan jantungku yang akhir-akhir ini semakin lemah saja.
“hmmm..” aku masih terlalu bingung untuk mengatakan sesuatu, membayar? Bukankah itu juga keterlaluan untkku?, aku tidak merusak apapun tapi aku harus membayar? “Maaf nona, aku sama sekali tidak merusak apapun, aku tidak merusak pagar itu, aku tidak pernah menyakitimu, aku tidak pernah merugikan siapapun, jadi untuk apa aku membayar? Karena sama sekali tidak ada yang aku rugikan”
“huh… jangan panggil aku nona, aku sangat membenci panggilan itu, Panggil namaku Bia. Kau… terang saja sudah melukaiku, dengan pandangan nakalmu selama seminggu ini, atau pandanganmu yang tidak senonoh, setiap pria selalu melakukan itu pada wanita. Jadi kau melukaiku, aku tetapkan kau sudah melukaiku” Dengan wajah yang datar dia mengatakan itu. Baru sadar kain merahnya sedikit terlepas, ia segera berbalik badan dan membenarkannya seperti semula. Apa yang dia lakukan itu sedikit membuatku terusik untuk tersenyum.
“Tapi Bia. Aku tak pernah berniat memandangmu dengan pandangan nakal, atau tidak senonoh, sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya penasaran. Mengapa gadis sepertimu selalu berada diluar rumah dan terlihat sedang menunggu seseorang. Aku hanya merasa penasaran”
“hmmm… menurut sebuah buku yang pernah aku baca. Rasa penasaran hanya berlaku selama satu atau dua jam, diluar waktu itu, pandanganmu sudah pandangan yang melecehkan. Aku minta kau membayarku sekarang juga” Sepertinya perbincangan di jalan ini akan berlangsung sangat lama, gadis bernama Bia itu begitu ingin agar aku membayarnya, sedangkan aku hanya memiliki roti lapis bekalku siang ini. Ah… sudah sangat terlambat untuk kembali ke kantor. Aku menyambar sepedaku dan bersiap mengayuh dengan kecepatan penuh.
“Hei….Mau kemana kau?….” Tapi.. Bia kembali lagi menghalangi jalanku… “Kau harus membayarku…!!! Aku tidak terima dengan semua ini…!!! aku bukan barang murahan”
“Hey… Nona Bia.  kalau aku membayarmu… kau akan terlihat semakin murahan…. Kau tahu itu… minggir..!!! aku harus kekantor, atau aku akan dipecat”
“Hey….!!! Biar saja kau dipecat….!! Karena kau sudah melukaiku….!!!” teriaknya dari jauh.. namun aku tidak bisa mempedulikan dia lagi, waktuku sangat sedikit untuk kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan. Aku berbalik dan melihat Bia lagi, ia terlihat masuk ke rumah berpagar bata itu lagi.
Kantorku tak jauh dari rumah itu, hanya selisih beberapa blok saja. Kayuh, kayuh, kayuh…
Hingga…
Sampailah aku didepan kantorku yang tergolong kecil. Aku bekerja sebagai akuntan disebuah cabang perusahaan berskala nasional.  Setelah aku parkir sepedaku, aku masuk kantor dan.. apa yang kulihat.. sangat mengejutkan. Semua orang dikantorku duduk diam diruang tamu. Mereka menunduk lesu, seperti menghadiri sebuah pemakaman yang sangat menyentuh hati.
“Selamat siang…. Aku sudah kembali… maaf terlambat… ada peristiwa yang serius tadi hehee” kataku dengan agak khawatir.
“Kemana saja kau ini?….. kami sudah menunggumu….” Kata pak manager dengan suara lemas
“Gun… taukah… kau…. Kami sangat memerlukanmu…” kata seorang pegawai yang duduk disebelah pak manager “Kami kelaparan…….!!!! Gun…!! Mana makanan kami??”
Dan. Seperti zombie kelaparan mereka mengambil makanan mereka masing-masing dengan sangat rakus, dan pak manager berkata “Gun.. ini punya siapa?”
“Punya saya pak…”
“Buatku saja.. sebagai kompensasi kau terlambat datang dan membuat kami kelaparan”
“Ta…tapi pak.. saya juga belum makan…”
“Sudah…. Didapur kantor ada kopi.. minum saja itu…”
“Kenapa bukan bapak saja yang meminum kopi dan saya yang makan punya bapak…”
“Diam… dan kembali bekerja” kata pak manager dengan senyuman sadisnya. Roti lapisku…..!! oh tidak… Untung saja pagi ini aku memakan dua piring sarapan pagi yang disediakan kakakku di rumah. Jadi rasa lapar itu tidak terlalu menggebu-gebu. Mungkin aku harusnya memberikan roti lapisku pada Bia saat ia mengatakan “Bayar Aku”… sekarang aku mungkin sedang mendapatkan karma dari gadis asing itu. Tapi.. aku juga beruntung karena bisa berbicara dengannya dalam hal yang aneh “Bayar aku” ? itu terlalu aneh bila yang mengatakan seorang gadis. Mengapa dia ingin sekali dibayar?. Apakah dirinya begitu mahal sehingga semua orang yang memandanginya harus membayarnya?. Dasar Aneh

***
Jam dinding kantor sudah menunjukkan pukul 5 sore. Matahari pun sudah bersiap-siap untuk tenggelam, semua karyawan bersiap untuk pulang. Begitu juga aku.
“Sampai jumpa besok pagi.. dan Gun… jangan terlambat lagi ya.. atau jatah makan siangmu akan aku makan hahaha… sampai jumpa.. hati-hati dijalan” Kata pak manager mengakhiri pekerjaan hari ini
“Hahahahaha..!!!!” teriak karyawan lainnya mendukung kata pak manager.
“Dasar perampas” celotehku lirih. Sepertinya pak manager mendengarnya dan dia hanya melotot padaku. Hehehe tidak masalah, memang dia perampas yang hebat, beraninya hanya merampas makanan hahaha…
Kukayuh sepedaku melewati blok-blok dan aku berhenti sejenak untuk membeli daging di toko langganan kakakku, dia selalu menitipkan secarik resep untuk makan malam, dan tugasku untuk membelikan bahannya. Aku dan kakakku masih single. Kami hanya hidup berdua disalah satu rumah sewaan. Ayah dan Ibu mungkin sekarang sudah tenang di surga dan tinggal melihat pertunjukan hidup kami berdua. Beberapa kali kakakku memiliki pria yang menjadi kekasihnya dan mereka merencanakan untuk menikah. Namun selalu gagal, kakakku mungkin wanita yang terlalu pemilih.
Setelah semua bahan sudah terbeli aku mengayuh sepedaku lagi dan bergegas pulang. Aku harus melewati blok dimana selama seminggu aku mengintip seorang gadis dari balik pagar dan sialnya tadi siang dia ingin aku membayarnya atas apa yang aku lakukan. Aku mengayuh semakin cepat. Mungkin saja Bia, gadis itu menungguku digerbang rumah itu. Dan berteriak sekali lagi “Ayo Cepat Bayar Aku….!!!” Mungkin saja kan?
“Hei……!!!!!!!” ah… tepat sekali tebakanku, suara panggilan itu suara Bia. Apa yang harus kulakukan. Aku kayuh sepedaku dengan lambat “Hei…..!!!! aku memanggilmu !!! kentangmu jatuh semua!!! Apa kau tidak melihatnya???” aku sangat terkejut ketika yang memanggilku bukan Bia, dan oh tidak.. plastik kentangku sobek dan semua kentang berserakan dijalan. Bahkan ada yang masuk kedalam selokan. Aku memungutnya sambil melihat sekitar rumah itu. Bia tidak ada. Hanya ada nenek-nenek yang tadi memanggilku dan sekarang ia sedang sibuk bernyanyi dan merawat bonsainya. Dimana Bia? Mengapa dia tidak menungguku dan mengatakan “Ayo cepat bayar aku!!” seperti dugaanku?…
Nantikan kelanjutannya besok ^_____^

By Ayuna Kusuma

Beli Pizza atau Menolong Pengemis??


Masih… dan masih masalah makanan…
karena banyak dari kita yang melewatkan kesempatan memberikan makanan enak kepada orang-orang lain yang kesulitan membeli makanan (saya kira ga perlu lagi dijelaskan siapa itu orang-orangnya, karena semua temenku cerdas hihihi)
Suatu hari..di akhir bulan, anda hanya hanya punya uang 200.000
100.000 sudah dibelikan macam-macam kebutuhan keluarga
50.000 sudah dikeluarkan untuk memperbaiki genteng, karena habis terkena angin kencang.
Nah… sisa 50.000
Semua kebutuhan sudah terpenuhi, dan 2 hari lagi gajian,
Lalu anak-anak minta pizza “ma beliin pizza dong…. pengen ma….. ayo ma….” mereka merengek-rengek seperti itu.
Ya…. dibelikan saja hehehe kan masih ada 50.000
Tapi,,, ketika di perjalanan, anda melihat keluarga pengemis dijalan, menangis dibalik kaca. Entah bohongan atau benar tangisannya itu. Dia meminta sejumlah uang untuk makan anak-anaknya, karena sudah 5 hari tidak ada orang yang memberi uang untuk mereka, sudah tidak ada yang percaya dengan pengemis.
NAH LOH…….. apa yang anda lakukan?
apakah anda akan percaya dan membelikan keluarga pengemis itu makanan?
atau anda akan ikut-ikutan tidak percaya seperti kebanyakan orang?
lalu bagaimana anak-anak?
Bagaimana menyikapi tangisan minta pizza? hehehe
Lupakan kartu ATM, kartu KREDIT, heehehe karena dalam soal ini anda hanya punya uang 50.000 ^________^
Selamat menjawab soal ini di sela-sela waktu
By Ayuna Kusuma

Rumus Sukses.... terbaru


Rumus sukses menurut banyak orang
Bekerja + Berdoa = Sukses

Rumus sukses menurut suami saya yang ditanamkan ke benak saya, dan kemungkinan lebih bagus dan indah :

Bekerja + Berdoa = hasilnya untuk membantu investasi ke saudara
Bekerja + Berdoa + Hasil investasi = Hasilnya untuk membantu sahabat atau orang-orang sekitar lingkungan
Bekerja + Berdoa + Hasil Investasi dr Saudara + Hasil Investasi dr Lingkungan = Hasilnya untuk kepentingan membantu orang-orang di lingkungan yang lebih luas lagi.

Dan seterusnya. hasil semakin banyak, sahabat semakin banyak, saudara semakin banyak, Cinta dari Allah SWT kita serahkan saja lah.... makin banyak atau bagaimananya hehehe

^______^
Salam Ukhuwah

STOP Nonton TV

Berapa kali anak anda menonton TV setiap hari?

Saat itu juga anak anda belajar mengenai :

Bagaimana memaki,

Bagaimana membuat orang sebal

Bagaimana menuruti dendam

Bagaimana cara jahil

Bagaimana cara tidak patuh pada orang tua

Bagaimana cara bergaul secara bebas tanpa batas

Bagaimana berhubungan dengan non muhrim dengan leluasa

Bagaimana merencanakan kejahatan untuk membalas kejahatan
Bagaimana mencintai sebuah produk diatas mencintai Tuhannya
Bagaimana mengumpat teman-temannya dan tidak menghargai gurunya
Bagaimana mencinta musik dan melupaka dzikir
Bagaimana mencintai tampilan yang buka-bukaan dan berpikir bahwa berhijab itu kolot.
Bagaimana bekerja dengan kecurangan, culas dan tidak memikirkan orang lain, hanya untuk kepentingan diri sendiri.
Bagaimana takut dengan Hantu, Setan, Iblis daripada takut kepada Allah SWT

Insan seperti itulah yang dibentuk Oleh TV
lalu.... apakah anda masih membolehkan anak-anak menikmati semua tontonan di TV ?

Ultah tanpa pesta, Ultah penuh bahagia

Semua setuju kalau hari ulang tahun ..... atau hari kelahiran harus dirayakan,

walaupun merayakan itu harus membuang uang percuma untuk membelikan makanan dan diberikan kepada orang yang mampu membeli makanan sendiri.

Apa ga sia-sia tuh.....
lalu membeli kue tar dengan hiasan mewah, dan harga yang fantastic
apa ga sia-sia tuh.....
Coba kalau saat ulang tahun kita.... kita memang berkumpul dengan sahabat dan semua keluarga. tapi suguhannya hanya teh manis dan kue cucur. Lalu kita berembuk. mengumpulkan uang. yang nantinya disumbangkan kepada orang yang memerlukan.

Teh manis + kue cucur + keluarga +sahabat + bakti sosial = perayaan ulang tahun yang hebat dan melebihi standart

bayangkan seluruh keluarga kita yang berpunya... menyumbangkan sekiranya 100.000, berapakah yang sudah terkumpulkan?.... hehehe

Selamat ulang tahun. yang berulang tahun hari ini

wanita.. oh wanita....

Wanita

tak perlu kalian menghias wajah

dengan pemerah bibir. pewarna mata, dan lainnya

cukuplah kalian menghias hati, perasaan, pemikiran, dan misi kalian untuk hidup

Janganlah jadi kayu bakar di neraka kelak. Karena terlalu banyak mengikuti dunia

Kelak...

Jadilah wanita yang lebih cantik dari bidadari

Memulai kebaikan itu...

"Saya mulai duluan ya...

nanti kalian yang mengikuti"

Itulah inti dari mengajarkan kebaikan kepada banyak orang.

Lakukan, dan contohkan, lalu yang lainnya mengikuti.

tapi ingat, kepada yang menyebarkan contoh kebaikan,

jangan sekali-kali ada kebanggaan dalam diri. Itu bisa mengurangi timbangan hehehe

dan kebanggaan diri hanya sia-sia.

Ayo Menjadi Pohon

Satu dahan pohon tidak dapat mengalahkan musuh
Dua dahan pohon pun begitu
Tiga, empat, lima, belum cukup....

Kita perlu sebuah pohon untuk mengalahkan musuh.
bila semua dahan dikumpulkan, dan diikat menjadi satu, jadilah pohon.

dan siap mengalahkan musuh.
Siapa musuh kita?
musuh kita adalah kemiskinan, kebodohan, pemimpin dzolim, liberalisme, dan anda bisa menambahkan daftar musuh-musuh kita.....

Ayo kita menjadi pohon

By Ayuna Fitriah Fajrin

Rasa tinggallah rasa

Pernahkah kalian bertemu dengan orang yang lemah, miskin, cacat, kekurangan, kaum fakir miskin, anak yatim, orang jompo yang terlantar…. Lalu apa yang kalian rasakan?... Mungkin iba, sedih, dan terharu… namun kebanyakan perasaan itu tinggallah perasaan, pernah kita merasa ingin membantu mereka, ingin membebaskan mereka dari derita. Namun sekali lagi banyak yang terealisasi, akhirnya rasa iba tinggallah perasaan… bukan awal dari setiap amal kita.

Pernah suatu hari aku bertemu dengan kakek-kakek yang usianya mungkin sudah lebih setengah abad, kakek itu… aku tak tau namanya, tapi setiap pagi dan sore beliau selalu lewat didepan rumah. Dengan rajinnya beliau berteriak-teriak memanggil konsumennya begini teriakannya “sapu…. Sapu… ayoo tuku sapuuu… resik… resik… umahe diresiki…”

Banyak yang iba dengan kakek itu, tapi sekali lagi, disaat itu tak ada yang bertindak, tak ada satu wargapun yang membeli sapu buatan beliau, dengan alasan sapu yang ada dirumah masih bagus, belum lecek, atau walaupun lecek tapi masih layak pakai. Suatu hari aku menunggunya didepan rumah sambil menerima telp dari pelanggan okrek.com aku menunggu sampai jam 4 sore… namun kakek itu tak juga lewat. Aku berfikir mungkin uang yang aku genggam ini bukan rezeki beliau. Akhirnya aku kembali kedalam rumah dan melakukan segala aktifitas saat itu.

Besoknya tanpa ditunggu-tunggu kakek itu lewat didepan rumahku, padahal aku masih banyak kerjaan, akhirnya gagal lagi aku membeli sapu produk kakek itu.
Begitulah sering sekali kita merasa iba, namun tak jarang kita hanya merasa iba, tanpa membantu mereka. Akhirnya rasa tinggallah rasa