- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

B-G Daily Love “Look and Pay”

Dirumah jepang kuno itu aku melihatnya duduk sedikit tegang, tangan kanannya menopang pipi kanannya yang sedikit chubby, rambut pendeknya sebentar-sebentar dihembus angin sore. Dan kulihat mata kanannya tertutup oleh kain merah. Aku sangat asing dengan sosok gadis itu, namun setiap aku melihatnya saat siang dan sore sehabis kerja, aku merasa sedikit senang, entah kenapa, yang pasti dia tetap seperti hari sebelumnya.
Beberapa kali dia memergokiku sedang melihatnya. Namun ia tetap saja duduk ditempatnya. Ia selalu memakai dress putih dengan sarung tangan dan kaki hitam kelam. Sempat terpikir olehku. Apakah ia seorang mafia? Atau anak dari bos mafia?. Tapi sepertinya itu sebuah pemikiran yang gila. Bagaimana mungkin di lingkungan yang sedamai ini, ada mafia yang berkeliaran.
Aku kembali mengamati gadis itu dari balik pagar, aku melirik jam tanganku, masih pukul 1, masih ada waktuku untuk mengamati gadis misterius itu lagi.  Aku melihat tempat gadis itu duduk dan menompang pipinya, ah… kemana dia?, dia sama sekali tak ada disana? Apakah dia sudah masuk dan menemui seseorang dirumah itu?.
“Hei…” Suara teguran itu sangat mengejutkanku. Aku mencari darimana suara itu berasal, apakah dari dalam rumah?
“Hei.. aku diatasmu….. Hei pria yang aneh… apakah sedari minggu yang lalu kau memandangiku seperti ini? huh… seperti pencuri saja” aku palingkan pandanganku keatas. Aku semakin terkejut, gadis itu sudah duduk diatas pagar. Matanya memandangiku lekat-lekat
“hmmm iya kau benar… aku hanya penasaran saja… mengapa ada seorang gadis yang selalu menunggu diluar begitu lama. Selama seminggu. Maaf kalau kau tidak berkenan” Aku mengayuh sepedaku dan beranjak pergi serta melewatkan sindiran yang memalukan itu. Bagaimana aku bisa melakukan hal yang sedikit aneh ya? Mengintip seorang gadis dari luar pagar? Ah.. aku semakin malu.
“Hei…!! Tunggu….!! Bawaanmu tertinggal.. atau kau memang ingin membuangnya? Maaf rumahku bukan tempat sampah” ah… kenapa ini harus terjadi, aku melupakan semua makanan titipan rekan kerja dijalan. Aku balikkan sepedaku dan menghampiri bungkusan putih yang berisi makanan itu. Gadis itu berada diatasku saat aku mengambil bungkusan itu. Aku tak sanggup melihat ke atas, karena wajahnya semakin manis ketika aku memandangnya sedekat tadi.
“Terima kasih sudah mengingatkan” aku kayuh sepedaku, tapi begitu berat kali ini, saat aku balikan tubuhku, aku melihat gadis itu memegang dan menahan sepedaku.
“Mengapa terlalu tergesa-gesa, aku ingin kita bicara sebentar, tapi kau ingin pergi. kau sudah mengintipku selama seminggu penuh. Aku tahu itu, sekarang, kau mendapat kesempatan mengobrol denganku, mengapa kau malah mau pergi?”
“hmm maaf aku harus kembali bekerja”
“lalu besok, pada waktu yang sama apakah kau akan mengintipku lagi? Begitu?”
‘tidak… bukan seperti itu…” aku turun dari sepeda dan memarkirkan sepedaku dipagar rumah itu “Apakah kau marah padaku? Aku hanya penasaran saja… mohon maafkan aku ya… ”
“Iya aku sangat marah, wajahku, tubuhku, dan semua yang kumiliki bila dipandang sembunyi-sembunyi seperti itu, dan orang yang memandangku hanya mengatakan maaf tanpa melakukan apapun dan menganggap itu adalah hal sepele. Itu yang membuatuku sangat marah” wajah gadis itu tidak berubah walaupun ia mengatakan sangat marah saat ini. angin menyibakkan kain merah yang menempel di mata sebelah kanannya. Aku melihat segores luka yang sangat dalam.
“Hei… aku bicara padamu… jangan diam saja. Aku simpulkan bahwa kau harus membayar apapun yang kau lihat selama seminggu ini…!” bentaknya mengagetkan jantungku yang akhir-akhir ini semakin lemah saja.
“hmmm..” aku masih terlalu bingung untuk mengatakan sesuatu, membayar? Bukankah itu juga keterlaluan untkku?, aku tidak merusak apapun tapi aku harus membayar? “Maaf nona, aku sama sekali tidak merusak apapun, aku tidak merusak pagar itu, aku tidak pernah menyakitimu, aku tidak pernah merugikan siapapun, jadi untuk apa aku membayar? Karena sama sekali tidak ada yang aku rugikan”
“huh… jangan panggil aku nona, aku sangat membenci panggilan itu, Panggil namaku Bia. Kau… terang saja sudah melukaiku, dengan pandangan nakalmu selama seminggu ini, atau pandanganmu yang tidak senonoh, setiap pria selalu melakukan itu pada wanita. Jadi kau melukaiku, aku tetapkan kau sudah melukaiku” Dengan wajah yang datar dia mengatakan itu. Baru sadar kain merahnya sedikit terlepas, ia segera berbalik badan dan membenarkannya seperti semula. Apa yang dia lakukan itu sedikit membuatku terusik untuk tersenyum.
“Tapi Bia. Aku tak pernah berniat memandangmu dengan pandangan nakal, atau tidak senonoh, sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya penasaran. Mengapa gadis sepertimu selalu berada diluar rumah dan terlihat sedang menunggu seseorang. Aku hanya merasa penasaran”
“hmmm… menurut sebuah buku yang pernah aku baca. Rasa penasaran hanya berlaku selama satu atau dua jam, diluar waktu itu, pandanganmu sudah pandangan yang melecehkan. Aku minta kau membayarku sekarang juga” Sepertinya perbincangan di jalan ini akan berlangsung sangat lama, gadis bernama Bia itu begitu ingin agar aku membayarnya, sedangkan aku hanya memiliki roti lapis bekalku siang ini. Ah… sudah sangat terlambat untuk kembali ke kantor. Aku menyambar sepedaku dan bersiap mengayuh dengan kecepatan penuh.
“Hei….Mau kemana kau?….” Tapi.. Bia kembali lagi menghalangi jalanku… “Kau harus membayarku…!!! Aku tidak terima dengan semua ini…!!! aku bukan barang murahan”
“Hey… Nona Bia.  kalau aku membayarmu… kau akan terlihat semakin murahan…. Kau tahu itu… minggir..!!! aku harus kekantor, atau aku akan dipecat”
“Hey….!!! Biar saja kau dipecat….!! Karena kau sudah melukaiku….!!!” teriaknya dari jauh.. namun aku tidak bisa mempedulikan dia lagi, waktuku sangat sedikit untuk kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan. Aku berbalik dan melihat Bia lagi, ia terlihat masuk ke rumah berpagar bata itu lagi.
Kantorku tak jauh dari rumah itu, hanya selisih beberapa blok saja. Kayuh, kayuh, kayuh…
Hingga…
Sampailah aku didepan kantorku yang tergolong kecil. Aku bekerja sebagai akuntan disebuah cabang perusahaan berskala nasional.  Setelah aku parkir sepedaku, aku masuk kantor dan.. apa yang kulihat.. sangat mengejutkan. Semua orang dikantorku duduk diam diruang tamu. Mereka menunduk lesu, seperti menghadiri sebuah pemakaman yang sangat menyentuh hati.
“Selamat siang…. Aku sudah kembali… maaf terlambat… ada peristiwa yang serius tadi hehee” kataku dengan agak khawatir.
“Kemana saja kau ini?….. kami sudah menunggumu….” Kata pak manager dengan suara lemas
“Gun… taukah… kau…. Kami sangat memerlukanmu…” kata seorang pegawai yang duduk disebelah pak manager “Kami kelaparan…….!!!! Gun…!! Mana makanan kami??”
Dan. Seperti zombie kelaparan mereka mengambil makanan mereka masing-masing dengan sangat rakus, dan pak manager berkata “Gun.. ini punya siapa?”
“Punya saya pak…”
“Buatku saja.. sebagai kompensasi kau terlambat datang dan membuat kami kelaparan”
“Ta…tapi pak.. saya juga belum makan…”
“Sudah…. Didapur kantor ada kopi.. minum saja itu…”
“Kenapa bukan bapak saja yang meminum kopi dan saya yang makan punya bapak…”
“Diam… dan kembali bekerja” kata pak manager dengan senyuman sadisnya. Roti lapisku…..!! oh tidak… Untung saja pagi ini aku memakan dua piring sarapan pagi yang disediakan kakakku di rumah. Jadi rasa lapar itu tidak terlalu menggebu-gebu. Mungkin aku harusnya memberikan roti lapisku pada Bia saat ia mengatakan “Bayar Aku”… sekarang aku mungkin sedang mendapatkan karma dari gadis asing itu. Tapi.. aku juga beruntung karena bisa berbicara dengannya dalam hal yang aneh “Bayar aku” ? itu terlalu aneh bila yang mengatakan seorang gadis. Mengapa dia ingin sekali dibayar?. Apakah dirinya begitu mahal sehingga semua orang yang memandanginya harus membayarnya?. Dasar Aneh

***
Jam dinding kantor sudah menunjukkan pukul 5 sore. Matahari pun sudah bersiap-siap untuk tenggelam, semua karyawan bersiap untuk pulang. Begitu juga aku.
“Sampai jumpa besok pagi.. dan Gun… jangan terlambat lagi ya.. atau jatah makan siangmu akan aku makan hahaha… sampai jumpa.. hati-hati dijalan” Kata pak manager mengakhiri pekerjaan hari ini
“Hahahahaha..!!!!” teriak karyawan lainnya mendukung kata pak manager.
“Dasar perampas” celotehku lirih. Sepertinya pak manager mendengarnya dan dia hanya melotot padaku. Hehehe tidak masalah, memang dia perampas yang hebat, beraninya hanya merampas makanan hahaha…
Kukayuh sepedaku melewati blok-blok dan aku berhenti sejenak untuk membeli daging di toko langganan kakakku, dia selalu menitipkan secarik resep untuk makan malam, dan tugasku untuk membelikan bahannya. Aku dan kakakku masih single. Kami hanya hidup berdua disalah satu rumah sewaan. Ayah dan Ibu mungkin sekarang sudah tenang di surga dan tinggal melihat pertunjukan hidup kami berdua. Beberapa kali kakakku memiliki pria yang menjadi kekasihnya dan mereka merencanakan untuk menikah. Namun selalu gagal, kakakku mungkin wanita yang terlalu pemilih.
Setelah semua bahan sudah terbeli aku mengayuh sepedaku lagi dan bergegas pulang. Aku harus melewati blok dimana selama seminggu aku mengintip seorang gadis dari balik pagar dan sialnya tadi siang dia ingin aku membayarnya atas apa yang aku lakukan. Aku mengayuh semakin cepat. Mungkin saja Bia, gadis itu menungguku digerbang rumah itu. Dan berteriak sekali lagi “Ayo Cepat Bayar Aku….!!!” Mungkin saja kan?
“Hei……!!!!!!!” ah… tepat sekali tebakanku, suara panggilan itu suara Bia. Apa yang harus kulakukan. Aku kayuh sepedaku dengan lambat “Hei…..!!!! aku memanggilmu !!! kentangmu jatuh semua!!! Apa kau tidak melihatnya???” aku sangat terkejut ketika yang memanggilku bukan Bia, dan oh tidak.. plastik kentangku sobek dan semua kentang berserakan dijalan. Bahkan ada yang masuk kedalam selokan. Aku memungutnya sambil melihat sekitar rumah itu. Bia tidak ada. Hanya ada nenek-nenek yang tadi memanggilku dan sekarang ia sedang sibuk bernyanyi dan merawat bonsainya. Dimana Bia? Mengapa dia tidak menungguku dan mengatakan “Ayo cepat bayar aku!!” seperti dugaanku?…
Nantikan kelanjutannya besok ^_____^

By Ayuna Kusuma

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler