Fanfiction - Lover Family - Part 3




Author : Ayuna Kusuma (Yun)

Genre : Parody, Family, Romance, Sadly

Maincast :

Woohyun Infinite : Woohyun
Minah Girl's Day : Naemi
Lauren Hanna : Nanna

Target : Semua usia.


“OOPPAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~~~~!!! NANNA~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~!!!”

Naemi teriak dari kamar, kuminum cocktail dalam satu tegukan dan langsung berlari menuju kamar Nanna, Kakiku sepertinya terkena plastic yang tajam saat berlari tadi, hingga kulit telapak kaki mengeluarkan darah, aku melijhat Naemi menangis sambil menggendong Nanna. Ada apa lagi ini.

“Waeee wae geulaess-eoooo?” tanyaku sambil merebut Nanna dari pelukan Naemi. Nafas anakku sesak, kuletakkan tanganku di dadanya, jantungnya berdetak begitu kencang.

“Oppa… aku tak tahu mengapa Nanna menjadi seperti ini”
“Apakah tadi dia makan Almond?”
“Anni…” jawab Naemi sambil menangis

“Nanna… lihat Appa… Nanna… Nanna… ayo ikuti Appa, atur nafasmu, huuuuuuff… haaa… huuuuf haaa. Huuuf haaa. Seperti ini. Arra… ayo Nanna…”
“appppaa….. naaannn anndwaeee Apppa” jawab Nanna disela-sela nafasnya yang sesak.

“Naemi, siapkan beberapa baju Nanna dan semua kebutuhannya, kita akan kerumah sakit sekarang” kataku sambil bangkit dan menggendong Nanna, mempertahankan posisinya agar Nanna bisa mudah bernafas.
“Sekarang?”

“Ye… Jeppalliyooo” bentakku. Naemi segera mengemasi semua barang Nanna, dan aku mengambil kunci mobil lalu memasukkan Nanna ke dalam mobil “NAEMIIIIIIIIIIIIIIII~~~~!!! Jeppalliiiiiiiiiiiiiiii” teriakku tak sabar, beberapa tetangga melihatku dengan penasaran.

“Wae… Hyun?” kata seorang nenek yang tinggal di depan rumahku.
“nan byeong-won-e gayahanda...” Jawabku singkat, Nenek itu pun melihat Nanna yang terbaring dan masih susah mengatur nafasnya. “NAEMIIIIIIIIIIII~~~~~~!! JEPPPALLIIIIIIIIIIII~~~~!!” Mendengar Teriakanku Naemi langsung datang membawa beberapa tas.

“Aigoo. Aku lupa mematikan kran air” Kata Naemi membuatku sebal
“Haiiisshh… nanti saja”
“Haee… Arrasso… biar aku saja yang mematikan, cepat antar Nanna ke rumah sakit” Kata nenek itu.
“oh.. halmeoni, dangsin-eul gamsahasibsio… ini kunci rumahnya”

“Ye.ye.ye… pergilah… aku akan menjaga rumahmu” Kata Nenek itu, Kulihat Naemi sudah menggendong Nanna dan memangkunya di jok depan. Disampingku, Nanna menatapku dengan air mata yang menetes.

“Nanna nae gwiyeooon… Appa akan mengantarmu ke rumah sakit, tunggu sebentar ya….” Kataku menahan agar tak menangis itu sangat sulit, kepalaku langsung pusing, Naemi menguatkanku dengan belaian tangannya.

“Appa… Nanna akan baik-baik saja… iya kan Nanna…” kata Naemi sambil membelai rambut Nanna, sekejap saja Nanna sudah bisa tersenyum menahan sakitnya. Anakku memang pintar, ia tak pernah mengeluh mengenai apapun yang ia rasakan.
“Naemi, pasang beltmu” kataku

“Yee Oppa..” Mobilku melaju dengan cepat di jalanan Seoul, untung saja rumah sakit letaknya tak jauh dari rumah.
“Naemi, apa kau yakit Nenek tadi bisa menjaga rumah kita?”
“Hum… dia beberapa kali menjaga rumah kita, saat kau pergi keluar kota dan aku ada urusan di galeri”
“hmmm… baiklah…Naemi apakah kau sudah membawa Kartu rumah sakit?”

“Ye…” kata Naemi sambil menggosok-gosok dada Nanna dengan tangannya.  Nanna tampak tak separah tadi, tapi nafasnya masih tetap tak teratur, terkadang sesak, terkadang batuk.
“Sebentar lagi, kita akan sampai, lihatlah Nanna.. didepan kita… itu Rumah sakit, kau akan sembuh kalau Appa membawamu kesana” kataku sambil sekilas tersenyum pada anakku yang cantik.

“jinnjjaa appa?” Tanya Nanna dengan suara serak.
“mullon-ibnida. nae salang…” kataku sambil menyentuh tangan Nanna yang mungil.
Mobil kami sudah masuk kawasan rumah sakit, dengan cepat aku langsung menghentikan mobilku di depan pintu masuk rumah sakit, beberapa Suster datang membawakan ranjang darurat. Naemi menidurkan Nanna dan masuk ke dalam rumah sakit.

Setelah mendapatkan tempat parkir yang nyaman. Aku bergegas menyusul Naemi dan Nanna.
Drrrrriit… Drrrrrit.. handphone ku bergetar.
Naemi menelponku dengan tergesa-gesa.
“Oppa. Aku ada di lantai dua, ruang ICU… palli…”

“Ye… yeyeye…” kataku, sambil membawa 3 tas berisi keperluan Nanna aku berlari menembus angin. Ada apa dengan anakku? Apa yang telah terjadi dengannya?. Tak mau menunggu lift yang terlalu lama. Aku terpaksa menggunakan tangga darurat yang ada disamping rumah sakit.
Di lantai dua aku melihat Naemi sedang duduk, kedua tangannya menopang wajahnya.

“Naemi… apa yang terjadi?”
Naemi yang tak memakai masker memelukku,
“Nanna… aku tak tahu apa yang terjadi padanya, setelah mengantarnya ke lobi, salah satu dokter memeriksanya dan membawanya ke ruangan ICU… Oppa… aku tak mau kehilangan Nanna….Oppa….”

“Tidak…. Sssst… sudah sudah… Nanna akan baik-baik saja…. “
“Oppa…. Apakah aku ibu yang bodoh? Mengapa anakku bisa seperti ini…. Nanna…” Naemi melepaskan pelukannya, lalu beranjak melihat Nanna dari balik jendela kaca yang memisahkan antara ruangan ICU dan lorong rumah sakit.

Aku memeluknya dari belakang, “Naemi… sebaiknya kita tunggu saja, semoga Nanna bisa melewati keadaan krisisnya dengan cepat, dan pulih kembali… ya… duduklah… jangan membuatku semakin khawatir…”

“Oppa…” Naemi pun duduk, ia sandarkan kepalanya ke pundakku.
“Naemi… aku tak pernah memberikan Nanna almond, kacang merah bahkan setiap perangkat makan Nanna sudah ku bersihkan dari sabun… apakah dia mencuri almond di lemari es dan memakannya”
“Mollayooo oppa… mollayoo…aku juga tak pernah melihat Nanna memakan Almond”
“hmmm….”

“Oppa… seminggu yang lalu, kau masih ingat kan? Nanna demam dan panasnya sangat tinggi selama 3 hari Nanna  hanya makan satu kali sehari… apakah ada hubungannya dengan itu?”
“molla…”

***

“Mr Nam…annyeong…” tak sadar kami berdua tertidur didepan ruang ICU. Seorang suster membangunkanku, dia membangunkan Naemi juga.
“Wae… mana Nanna? Anakku?” kataku kebingungan

“Sir. Silahkan ikut saya, Nanna sudah ada di kamar rawat inap, dokter sedang menunggu anda berdua”
“Hmmm… okey..” kataku sambil mengikuti Suster. Naemi berjalan di sebelahku, tangannya tak henti-hentinya memeluk lenganku. Ku rasakan air matanya menetes di lengan kemejaku.
“Oppa… mengapa Nanna bisa diopname?”
“Molla… nanti kita akan tahu”

Masuk ke ruangan dokter, suster menyuruh kami untuk duduk dan menunggu di depan meja dokter. Beberapa menit kemudian seorang wanita yang bernama Dr Lim datang menyapa kami dengan wajah ramah tamah.

“Annyeong…kalian Appa dan Eomma Nanna?”
“Ye…apa yang telah terjadi dengan anak kami?” Tanya Naemi tergesa-gesa.
“Keadaan Nanna sekarang ini menunjukkan bahwa paru-parunya terkena virus dan jamur yang tersebar luas di udara, Nanna kami tetapkan menderita Pneumonia atau Paru-paru basah, tapi… anda tidak perlu khawatir, penyakit Nanna bisa di obati, kalau anda bekerja sama dengan kami. Nanna harus melakukan berbagai pengobatan selama beberapa waktu, kemungkinan satu minggu sekali”

“Mwoo?? Pneumonia?... apa kau tak salah? Nanna tak pernah bermain di luar dan kami selalu menjaga apa saja yang ia makan. Dok. Apakah kau tak salah?” ujarku.
“Anni…Pneumonia juga bisa disebabkan karena lendir Nanna sendiri, kemungkinan saat Nanna batuk, ia tak memuntahkan lendirnya dan menelannya, padahal lendir adalah salah satu cairan yang penuh bakteri juga virus jahat. Sudah… tenanglah… kami akan membantu kalian berdua untuk menyembuhkan Nanna..”

“Ye… Arrasso…” Naemi melihatku dengan penuh kepasrahan.
“Ini adalah jadwal control, aku harap kalian berdua bisa membawa Nanna ke sini, agar penyakitnya bisa cepat di tangani”
“Baik..” Kataku sambil menerima beberapa schedule periksa untuk Nanna.
“Jangan pernah lewatkan control dan periksakan kesehatan Nanna, kalau tidak, kalian akan kehilangan Nanna, karena penyakitnya sekarang sudah ada di level 2, Arra?”
“hmmm” gumamku.

“Nanna ada di kamar 127 silahkan temani Nanna, aku sangat berharap Tuhan bisa memberikannya kesembuhan, dia anak yang manis, dan terlalu manis untuk mendapatkan semua ini”

“Ye… gomawo… Dokter Lim” kata Naemi.
Kami berdua keluar dari ruangan dokter dengan perasaan yang campur aduk, bagaimana bisa Nanna memiliki penyakit yang sangat parah seperti itu disaat usia emasnya. Naemi menangis dipelukanku, akupun tak kuat dengan semuanya ini. Sama sekali aku tak mau kehilangan anakku Nanna, tak akan kubiarkan ia merasakan sakit untuk kedua kalinya.

“Oppa… aku ingin menangis sekarang…” kata Naemi
“Ya… menangislah…”
“Oppa… jangan menangis di depan Nanna… arra?”
“hum… jangan membuatnya bersedih…”

“Oppa…. Bisakah aku mengambil penyakit Nanna? Bisakah aku saja yang mendapatkan penyakit itu? jangan Nanna… ia masih kecil oppa….”
“molla…. Ayo… hapus matamu… Nanna pasti menunggu kita”
Naemi menghapus air matanya dan memasang maskernyaa lagi.
“Oppa… janji…kelingking…” katanya sambil menyodorkan kelingkingnya yang kecil.
“Mwo?”

“Janji… kita tak akan melewatkan atau melupakan jadwal control Nanna, janji kita akan membuat anak kita lebih bahagia dari kemarin, janji kita akan merawat Nanna dengan baik, Janji?”
“ye…” kataaku sambil menyodorkan kelingkingku.
“jeongmall?”
“Jeongmallyooo hehehe… terima kasih Naemi, kau menguatkan diriku”
“ye… Oppa…”

***

Di kamar inap Nanna duduk sambil bernyanyi-nyanyi, memainkan boneka yang ada di bajunya.
“Appa… Eomma… nae salang… hummm nananana… dududududu… bogosiposooo eomma… hmmm” Kami melihatnya dengan seksama, Nanna sudah lebih sehat sekarang.
“Nanna… kau menyanyikan apa?” Tanya Naemi sambil duduk disebelahnya.

“Eommaaaaaaaaaaaaaaa… abeoji abeoojji.. wa eomeoni e daehan nolae hihihihi”
“ouhhhmmmm kau cantik sekali… Nanna… Ayo pulang…” kataku sambil menggendongnya, mencium pipinya yang chubby, membelai rambutnya, hampir saja aku lupa menahan tangisku.
Naemi melihatku dan mengatakan tanpa suara “Jangan menangis”. Hmmm… Nanna.. mengapa kau mengalami hal seperti ini. Seumur hidupku aku tak akan mau kau menderita sepertiku dan seperti ibumu.

“Apppa… uyyu uyyu” kata Nanna sambil memeragakan minum susu.
“Uhmmm..kau ingin susu?”
“Yeeeee appa…”
“Ayo… kita pulang… Eomma akan membuatkanmu susu yang lezaaaaaat di seluruh dunia”
“jinjja appa?”

“ye… Nanna Nae Salang…” kata Naemi sambil mencium pipi Nanna.
“Hooooraaaaay….. Appa… nae salangheyooo”
“Nanna nae salangheyoooo”
“Hhihihihihi” tawanya yang lucu mulai menghibur kami.
Apakah yang akan terjadi nanti?, Aku dan Naemi akan menjaga Nanna dengan baik, kami tak akan pernah memaafkan diri kami sendiri, kalau Nanna sampai menderita.

To Be Continue

Fanfiction - Lover Family - Part 2



Author : Ayuna Kusuma (Yun)

Genre : Parody, Family, Romance, Sadly

Maincast :

Woohyun Infinite : Woohyun
Minah Girl's Day : Naemi
Lauren Hanna : Nanna

Target : Semua usia.

Selesai makan Ayam Goreng, Naemi membereskannya, ia sangat senang makan apa saja yang sudah kumakan, tulang ayam pun pasti dia cicipi padahal sudah tidak ada dagingnya yang bisa dinikmati. Nanna bermain sendiri sambil minum susu yang sudah kubuatkan. Inilah saatnya untuk menonton acara baseball nasional, hahaha, dan melihat wanita cantik di layar televise, Aku tidak takut
kalau ada wanita cantik yang disiarkan di televise. Karna aku jauh dari mereka, kalau jantungku mulai sakit dan dadaku sesak, aku tinggal mengganti channel.

Kunyalakan TV dan siap-siap dengan siaran langsung baseball nasional. Popcorn sudah ada ditangan kiri, remote ada ditangan kanan.

Ctak… TV menyala, siaran yang megah itu berlangsung, disana banyak sekali wanita cantik menggunakan baju seksi.

“ommo… ommoo.. geulaeseo dangsin ... aleum daun ooo hahahahaha” teriakku.
“Yess… Mr Park ayo pukul dengan sekuat tenaga WOOOHOOO Home Run~~~!! Oh oh oh… lihat wanita itu hahahaha…… woa… sexy… segsihannyoo… hahahaha” Teriakku lagi.

Tiba-tiba mataku jadi gelap, ada yang menyekap mataku dari belakang

“Waee.. wae wae wae…” Kataku, saat kuraba di belakangku, ternyata Nanna yang menutup mataku “Oh… Nanna nae gwiyeooon… jangan tutup Appa seperti ini okey?” kataku sambil mengangkat badannya dan menaruhnya diatas kakiku, sekarang ia duduk di kakiku. Kulihat wajahnya yang sebal,

“Waeeyoo? Nanna wae geulaess-eoooo?... Appa mau melihat televise sebentar saja…” Nana tetap saja berusaha menutup mataku, ia berdiri lalu menutup mataku lagi tapi ia tak bisa menyimpulkan kain untuk menutup mataku, jadi kain itu selalu jatuh. Kubiarkan saja dia seperti itu dan tetap fokus melihat pertandingan serta wanita cantik yang sexy di televise hahaha.

Tiba-tiba Nanna memukulku lagi dengan remote yang ada ditangannya “Napeujjii… Appa Napeujjii… oooo huaaaaaaaaaaaaaaaaaa… huaaaaaaaaaaaaa” Lalu Nanna menangis dan mencoba memukulku lagi, tapi aku larang, kubuang remotenya dan memeluknya

“Nanna…. wae geulaess-eoooo?...” tanyaku lembut. Tiba-tiba kuterima pukulan dari belakang, Naemi memukulku dengan sarung tangan cuci yang kotor. Aku melihatnya dengan ekspresi marah

“Haiiissh… Babo… yang kau pukulkan tadi kotor, rambutku jadi kotor” kataku sambil membersihkan rambutku.

“Kau yang babo… hehehehe… kau tak mengerti ? Nanna cemburu padamu”
“Waeeeee?”

“Kau melihat wanita cantik di tv kan? Lalu kau berteriak-teriak sexy sexy… aku masih bisa menahan cemburuku, tapi tidak dengan Nanna hehehe” Kata Naemi sambil menggendong Nanna
“Nanna nae gwiyeooon… Ayo kita main di taman, hmmm” kata Naemi sambil menghapuskan air mata Nanna.

“Haisss… “ kataku sambil membersihkan rambutku, bagaimana bisa anakku cemburu padaku hahaha. Aneh.
“Oppa, aku ke belakang dulu, selamat menonton wanita cantik okey”

“Ha… ye Arrasso… Nanna… yang cantik… cium Appa dong…”
“ANDWEEEE…. Appa Chu..chuhan” kata Nanna mengejekku.
“Hahahahahahaha…… ye Nanna… Appamu Chu..chuu??”
“Han hehehehe” Mereka berdua tertawa bersama-sama sambil berjalan menuju taman belakang, Haisss… bisa-bisanya mereka berdua mentertawakanku. Tapi sekarang aku bisa bebas melihat Tv dan berteriak OH SEgsihannyooo hahahahaha.

***

Aku yang sedang bekerja di studio rumahku, terganggu dengan panggilan Naemi,
“Ssst…Oppa… Ayo kita bicara… disini…”

“Ada apa?” kataku sambil mendatangi Naemi.
“Oppa… maskerku baru, bagus kan? Kau masih suka pororo kan? Hehehe”

“Ommo… kau menyuruhku menunda pekerjaan karna itu saja? Haiss kau ada –ada saja” kataku sambil berbalik menuju studioku lagi, tapi Naemi malah memelukku dari belakang.

“Oppa… aku ingin bicara megenai Nanna… Ayo ikut denganku… nanti kau kubuatkan Fruit Cocktail … hmmm bagaimana?” Kata Naemi sambil melihatku dari ketiakku.

“Okey… “ kataku menuruti Naemi. Kami berjalan seperti kepiting, dia memelukku dan bergelayut, dasar Naemi.

Di dapur, ia mulai membuatkanku cocktail Buah, resepnya sangat lezat, buah semangka, potong dadu, melon potong dadu, strowberi dan blueberry di potong panjang, lalu semua dicampur jadi satu dengan soda. Wah… hariku akan menyenangkan kalau Naemi sudah membuatkanku Cocktail Buah.

“Oppa… kau lihat tadi aksi Nanna?, dia sebenarnya cemburu padamu, kau melihat wanita lain dan mengaguminya, tapi dengan Eommanya, kau menyuruh menggunakan masker, hehehe.. kau tahu kan perasaan anak kecil sangat ekstreem dan kita harus mengaturnya”

“hmmm… ya… apakah Nanna membenciku? Dari siapa dia tahu kata-kata Napeujjii?? Darimu?”

“Tidak… Nanna sangat menyayangimu… hmmm aku rasa dia belajar dari Won anak seorang pemilik galeri”
“Oh… kau pernah mengajak Nanna ke galeri?”
“Hmmm.. beberapa waktu yang lalu, waktu kau pergi keluar kota”

“Oh…”
“Oppa…. Nanna juga cemburu padaku”
“Mwoo?”

“Hehehe.. waktu aku di swalayan dan berbincang dengan penjaga kasir yang lebih tampan darimu, Nanna memukul lututku dengan boneka plastiknya… aigoo.. itu sangat sakit”

“Woooahahahaha… berarti bukan aku saja yang menderita aigoo”
“Oppa… mungkinkah Nanna ingin kita selalu setia?”
“Ommo… mungkin saja, dia sudah mulai pintar sekarang”
“hum… pintar seperti Eomma nya hahaha”

“Haiiisssh… kau Babo, dia pintar karna aku selalu mengajarinya”
“Haissh… ini minum cocktailnya, Aku akan mengemasi barang, besok pagi kita akan ke Pohang kan?”
“Ommo… besok masih hari Jum’at”

“Kau ada acara?”
“Tidak ada…”
“Okey kita berangkat hari Jum’at, okey.. Oppa Salanghae… Hahahahahahahahaha” kata Naemi, ia tak berhenti tertawa sampai di kamar.

“OOPPAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~~~~!!! NANNA~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~!!!”

Naemi teriak dari kamar, kuminum cocktail dalam satu tegukan dan langsung mendatanginya, ada apa dengan Nanna??

To be Continue

Jangan lupa like dan yang terpenting Share juga COmment yaaaaaa

Fanfiction - Lover Family - Part 1



Author : Ayuna Kusuma (Yun)

Genre : Parody, Family, Romance, Sadly

Maincast :

Woohyun Infinite : Woohyun
Minah Girl's Day : Naemi
Lauren Hanna : Nanna

Target : Semua usia.

Empat tahun sudah aku menikah dengan Naemi, setelah hari itu, pertemuan antara keluarga Naemi dan ibuku, keesokan harinya kami langsung menyiapkan gedung pernikahan, hanbok, souvenir, dan semua yang diperlukan untuk sebuah pernikahan.

Satu minggu setelah itu, Kami menyelenggarakan pernikahan yang tidak terlalu mewah, tapi semua orang bisa menghadiri pernikahan kami, baik artis ataupun orang biasa. Kakakku Su jin pun hadir dengan suami dan anak-anaknya. Eomma dan Appa begitu bahagia karena melihat anak perempuannya kembali dengan penuh cinta di hari bahagiaku dan Naemi.

Hari itu sepertinya malaikat mengelilingi kami, semua bahagia, tak ada konflik diantara kami. Selesai pesta, Suami Su Jin, Jae Bong memberikan paket wisata untuku dan Naemi, Wisata bulan madu ke Paris selama 10 hari.

Malam pertama, aku masuk rumah sakit, penyakit jantungku dan phobia ku masih melekat didalam kehidupanku. Walaupun Ji Sung, Ah… Sung Ji menyembuhkanku full time selama satu minggu.

Penyakitku masih saja ada di dalam diriku. Malam itu aku merasa terkena serangan jantung setelah melihat wajah Naemi yang begitu cantik setelah di poles make up. Ah… Sebenarnya aku ingin menciumnya, tapi kala itu jantungku menyerangku bertubi-tubi.

Naemi dan semua keluargaku kebingungan, akhirnya aku dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Dan… sialnya paket bulan madu ke Paris kami lewatkan begitu saja.

Pesawat sudah terbang meninggalkan kami, sedangkan aku dan Naemi tetap di rumah sakit. Naemi sudah menjalani berbagai pengobatan dan pergi ke psikiater, tapi sikap gila nya masih saja tersisa, mungkin sikapnya yang gila adalah sebuah ke khasan, kalau dia tak gila, bagaimana aku mencintainya? Hum?

Ketika kami putus asa karena tak bisa ke Paris, Sung Ji menjadi penyelamat kami. Hari ke empat setelah pernikahan kami, Sung Ji datang dengan kekasihnya yang bernama Max Kim, pria yang berasal dari Irlandia yang sangat senang tinggal di Korea. Sung Ji dan suaminya memberikan kami tiket dan reservasi hotel di Citywest Hotel Dublin Irlandia.

Wah, sepertinya kami diselamatkan oleh banyak orang.

Hahahaha… Oh aku lupa menceritakan, Sung Ji sekarang selalu meniru apapun gaya Naemi, apapun yang dibeli oleh Naemi, Sung Ji selalu membelinya, dan kata Sung Ji suaminya menyukai gayanya yang gila. Hahahaha…. Kalau saja Max Kim tahu siapa yang memberikan inspirasi pada Sung Ji pertama kali untuk bersikap menjadi gadis gila yang bebas, Max Kim akan mencintai istriku lebih dari Sung Ji. Tapi… AkU AKAN MELARANG ITU. Naemi Nae Salang, Hanya untukku.

Setelah aku sehat dan bisa bepergian jauh, Aku dan Naemi menempuh perjalanan yang jauh ke Irlandia, Disana kami menikmati suasana bulan madu yang sangat istimewa. Dan malam pertama kami, berhasil, asalkan Naemi menggunakan masker, atau semua lampu dan penerangan di matikan. Hahahaha…
15 hari berbulan madu di Irlandia rupanya membuat Naemi hamil, kamipun pulang ke Seoul dan memberitahukan kabar bahagia itu pada semua keluarga.

Semua keluarga berbahagia, menunggu kelahiran anak kami yang pertama, Naemi, dia memang istri yang luar biasa, demi menjaga penyakitku yang semakin kronis, setiap hari ia selalu memakai masker kalau bertemu denganku. Saat hamil pun dia memakai masker. Walaupun seperti itu, aku tahu Naemi Nae Salang adalah istriku yang paling cantik.

Tepat hari pertama memasuki musim semi, Naemi melahirkan anak pertama kami, bayi perempuan yang lucu dan imut keluar dari rahimnya. Bayi kami yang lucu itu kami beri nama Nam Han Na. panggilan cantiknya Nanna.

Sekarang, Umur Nanna 3 tahun lebih 5 bulan, tingkahnya sama gilanya dengan Naemi, tapi anakku itu seperti malaikat kecil, setiap hari ia menyanyi untuk kami, walaupun kami tak pernah tahu apa yang dia dendangkan.

Seperti hari ini, aku dan Nanna bermain bersama di rumah, sedangkan Naemi sedang pergi ke galeri untuk menjual semua lukisannya. Aku? Tentu saja aku bekerja, aku bekerja setiap minggu untuk pemotretan dan hari-hari lainnya bila ada pemesanan pemotretan dari televise lokal.

“Apapapapaa… “ Nanna menarik celanaku, saat aku berupaya membuatkan dia susu.

“ye… nanna… nae gwiyeooon… wae geulaess-eoooo?”

“papapapa… Apppa… nan uyyyu.. uyyu.. sip-eun appa…” Dia meminta susu padaku, ahss, sama saja seperti ibunya, tidak mau menunggu lama

“Ye…. Nae gwiyeoooon chu chu…i jagi uyuneun” kataku sambil memberikannya susu dalam botol.

Naemi sudah tak mau memberikan asi pada Nanna, karena ia sudah besar, 3 tahun, Nanna harus belajar berpisah dengan ibunya, dan minum susu kaleng, kalau tetap menyusu dengan Naemi, Nanna akan menjadi anak yang tidak mandiri.

“Apppaa… eodi naeee eomeoni? Hum?” Tanya Nanna sambil tiduran di sofa, suaranya lucu kalau dia bertanya padaku.
“Emma? Dia sedang bekerja”

“Hmmm…. Apppa… naneun… naneun… salangheyoo appa…”
“eomma? Waeyoo?”

“hmmm eomma naeeeeeeeeeeeenun salaaaaaangheyoooo appa” katanya lagi dengan tingkah lucu, aku memeluknya. Dan mengingat lagi peristiwa saat bertemu dengan Naemi di kereta. Inilah hasilnya hahahahaha. Hasil cinta kami berdua.

Drrrrttt… drrrtt… pintu apartement terbuka dan Naemi datang
membawakan kami sekotak ayam goring dan belanjaan yang lainnya.

“Eoooooooooooomaaaaaaaa…” Nanna berlari mendekati Naemi, Istriku menggendong anakku sambil tersenyum padaku.
“Oppa… apakah aku bisa membuka maskerku?”
“Ahh…kenapa?” kataku, saat ini aku masih takut dengan wajahnya yang cantik.

“Aigooo Oppa, diluar panas sekali” katanya sambil membuka jaketnya dan menurunkan Nanna.
“Ohh… Arrasoo. Arrasoo.. lepaskan maskermu” kataku sambil berbalik.

“Nanna… Illi Hajja… Hajja…” kata Naemi sambil menyuruh Nanna duduk disebelahnya, aku melirik mereka, Naemi dan Nanna mulai menikmati ayam gorengnya.

“Oppa, ini untukmu” Kata Naemi sambil memberikanku ayam goreng. “Oppa, hari minggu besok, apa kau ada acara?”
“Anni…” kataku sambil memulai menggigit paha ayam.

“Ah… Jisung mengundang kita untuk pergi ke Pohang, dia akan membuka panti asuhan lagi dengan Max Kim, kita akan kesana?”
“Max kim? Pacarnya?”
“Haisss… kau pelupa sekali, saat Nanna umur 1 tahun kita menghadiri pernikahan Jisung kan? Aigoo, apa kau sudah tua?
Ah…. Benar kau sudah tua, rambut putihmu bertambah” Kata Naemi sambil mengacak-acak rambutku

“Aigoo.. lihatlah, bantu Nanna makan.. jangan merusak rambutku arra?”
“heemmm… jadi bagaimana? Kita akan ke Pohang besok minggu?”

“Okey… amu munje eobs-eum…” aku setuju dengan acara Naemi.
“Jinjja?” Tanya Naemi

“Ye….” Kataku sambil menghancurkan tulang ayam yang empuk dengan gigiku.
“Oppa… kita ke Pohang pakai kereta?”

“Andweeeee… kasihan Nanna kalau terkena polusi, kita naik pesawat saja arra?”
“oh Andwe…. Oppa pakai kereta saja, aku ingin nostalgia”

“Hmmm… okey… … amu munje eobs-eum…tapi ada syaratnya… aku tak mau menjaga Nanna kalau dia rewel” kataku.
Aku sangat terkejut tiba-tiba Nanna memukul pundakku dengan bukunya sambil berkata “ Appa… naaepeujii.. napeujjii…”

“Hahahahahaha….ye… appamu memang jahat, pukul dia”
Ya, begitulah keluarga kami, aku serasa disiksa oleh dua wanita di rumah ini. Tapi aku bahagia hahaha, karena mereka lah cintaku, Nae Salang. Kami putuskan untuk bernostalgia pergi ke Pohang menggunakan kereta. Naemi, Nanna, Ayo kita berlibur bersama.

To Be Continue

Bahasa korea hari ini, tolong dicatat :

nae gwiyeooon = Cantikku / Imutku
wae geulaess-eoooo? = Ada apa?
Napeujjii = Jelek
amu munje eobs-eum = No problem / Tidak masalah
Illi Hajja = Cepat kesini / Ayo kesini
eodi naeee eomeoni? = Dimanakah Ibuku? Mana ibuku?

Fanfiction: Yesterday Part 1 Heart break – Ep 4



Author : Ayuna Kusuma

Maincast :

Lee Hi : Lee
Sandara Park : Sandy
G Dragon : Ji Young
Suho EXO K : Joon Myun
Madam Cho : Choo So Young

Genre : Parody, Sadly, Romance

Location : Little Italy - NYC

“Lee…. Kau tak mau memberikanku kesempatan?”
“ANdwee”

“Padahal aku selalu memberikanmu kesempatan beribu-ribu kali, dan memaafkanmu kalau kau lupa agar menghindari minuman keras, aku hanya melakukan satu kesalahan saja, berilah aku satu kesempatan lagi… Lee…” Joon tak mau membuka kan pintu untukku, ia malah memohon dan memohon padaku, kira-kira 10 menit ia melakukan permohonan yang sama.

“Andwee andwee andwee andwee andwee andwee andwee andwee andwee andwee andwee. ANDWEE~!!!”

“Haiissh….. haiissh….” Kata Joon sambil mengacak-acak rambutnya, kalau seperti itu, aku hafal apalagi yang akan dia katakan. Dia akan mengatakan. Mianhae..

“Lee… Mianhae…”

“Hahahahahaha….” Sekali lagi aku tak bisa mengontrol tawaku, Joon yang sedari tadi serius dengan permohonannya sekarang ikut tertawa

“Hehehe… tawamu mengagetkanku saja… apa yang kau pikirkan?”

“Andwee… akan aku pikirkan, aku akan memaafkanmu atau tidak, sekarang buka pintunya… ppalli… aku sudah menahan buang air kecil dari tadi…”

“oh… oh… okey” Joon pun membukakan pintu kamarnya, tapi tangannya yang kekar itu menahanku keluar. “Apakah kau juga akan mempertimbangkan apakah bisa mencintaiku lagi atau tidak?” Tanya Joon

“hmmm… Mollayo…. Haiss.. awas” kataku sambil menyingkirkan tangan Joon.

Surat, apakah Joon jujur tidak mengetahui tentang hal itu, aku juga tidak mengetahuinya, atau itu hanya alat untuk mengelabuiku, ommo… hebat sekali Joon melakukan aktingnya tadi, ah… aku lupa dia salah satu penulis novel terkenal dari Korea, dia pasti tahu ribuan tak tik untuk menyentuh hati wanita. Huh. Aku tak pernah mau tertipu lagi Joon. Kau boleh saja berpura-pura bahagia didepanku, aku takkan pernah mau berurusan denganmu lagi.

Dibawah tangga Sandy menungguku, ia berjalan dari sisi tangga ke sisi yang lainnya.

“Ssst… sedang apa kau? Hehehe” sapaku
“Ssst…ikut aku sekarang” kata Sandy sambil menarik bajuku, ia membawaku ke kamarnya, “Aku mendengar Joon berteriak-teriak, kau juga berteriak, apakah dia menyiksamu? Atau kau menyiksanya?”

“Hahahaha… ommo… aku tak mungkin menyiksa pria se besar dia, aigoo… pria busuk itu hebat sekali, awalnya dia memasang tampang sedih padaku, lalu dia memberikan statement kalau dia meninggalkanku karena surat, dia bilang aku mengiriminya surat perpisahan lalu dia bertanyaku… Lee kau tidak mengirimiku suratkan? Berarti kita dipisahkan oleh seseorang, lalu dia menarikku dan melambungkanku seperti komedi putar, kau tahu sandy… dia juga mengatakan, Lee inikah jalan tuhan? Apakah kita disatukan oleh tuhan… lalu dia Tanya padaku, kau mau memaafkanku, kau mau menerima cintaku?? HAIIIIIIIIIIIISSSSh… geuneun geojismal jaeng-i HAHAHAHAHAHA” Sandy yang mendengar ceritaku hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar, seperti cicak yang bersiap-siap menyantap nyamuk.

“Ommo ommo.. ommo… pria itu hebat kalau bersandiwara hahahahaha”

“Hmmmm dia memang hebat kalau mengarang cerita, aku sudah mengenalnya selama 3 tahun, dan sekarang aku tak mau tertipu untuk kedua kali”

“hm… Aku mendukungmu hahahahaha”
“Ye… geugeos-eun haeya…Hahahahaha….” Kami pun tertawa berdua di kamar Sandy.
“Lee… aku ingin memberikan pelajaran berharga pada Joon, agar ia bisa mengontrol lidahnya”

“Ohh…?”
“Aku akan memberikannya pasta sambal yang paling pedas sedunia hahahaha”
“ooohhhahahahahaa aku setuju”
“Hum… ayo kita lakukan sekarang, ehh sebentar, kalau teman Joon, yang bernama Ji Young, apakah dia sama dengan Joon?”

“Mollayo… Sepertinya mereka baru bertemu, aku tak pernah mengenalnya sebelumnya”
“hmmm arrasoo…”

“huuuuu apakah kau menyukainya?” tanyaku, wajah Sandy pun berubah memerah,
“Sssst… dia sangat tampan hihihihi…. Aku ingin sekali dekat dengannya…tapi bagaimana? Baru kali ini aku bertemu pria korea seperti Ji Young hmmm?”

“Sahabatku… masih ada aku, aku akan membantumu… Arra?”
“Woooaah… hihihihihi ye ye ye… sekarang… saatnya memberi pelajaran pada Joon”

***

Untuk menyambut penghuni baru, Madam Cho sengaja memasak Bibimbap dengan 8 macam lauk, wah terlalu mewah, waktu menyambutku saja ia hanya memasak lasagna. Saat mendekati makan siang, Ji Young pulang ke rumah. Kata Madam, dia kekantor hanya mengambil beberapa berkas dan alat untuk aransemen lagu. Ah… lengkaplah sudah, pria di rumah ini sangat ahli masalah cinta, Joon ahli menulis cinta dan Young ahli menyanyikan lirik cinta.

Aku berharap Sandy tak pernah mengalami perjalanan seperti yang kualami. Sebelum mereka semua berkumpul aku dan Sandy mencampurkan bubuk cabai termahal dan terpedas sedunia. Di mangkuk milik Joon. Hahahaha, mungkin ini salah satu balas dendamku, Joon sudah menghancurkan hidupku, kalau aku menghancurkan lidahnya itu masih belum seberapa parah.

“Anak-anak… ayo berkumpul… Joon, Young… ayo turun, kita makan bersama” teriak Madam Cho.

Selang beberapa menit semuanya sudah duduk di tempat masing-masing.

“Lee, ayo mana Bibimbabnya? Sandy bantu dia” perintah Madam Cho

“Ye Eomma.”

Didapur kami berdua sulit untuk menahan tawa, hampir saja tertukar antara mangkuk madam Cho dengan milik Joo. Saat semua sudah tertata di meja, kami memulai menikmati Bibimbap terenak buatan Madam Cho, dan menunggu reaksi Joon.

“Woooah…I like bibimbap..” Young mencium aroma bibimbapnya.
“I cooking that bibimbap” serbu Sandy, sambil membubuhkan senyumannya yang manis untuk Young

“Oh really? I will eat this, I love it” kata Young sambil mengedipkan matanya pada Sandy.
“I love you too” Sandy membalasnya dengan wajah memerah, ah… Sandy mengapa kau terlalu polos hahahaha.

“Wait” kata Joon,
“What?” Tanya Young penasaran
“Do you like pork right?” Tanya Joon
“Yes, why?”
“In my bibimbap, I have much pork, and in your bibimbap have a lot chicken fillet, can we change?”
“Oh… really… thanks Joon” Mereka pun bertukar mangkuk.

“Aigoooooo… Joon, jangan menukar makananmu dengan makanan orang lain” kata Sandy, ia tak bisa menerima tindakan Joon kali ini.

“Kenapa? Young suka daging babi, dan aku suka ayam, aku memberinya banyak daging babi dan aku meminta daging ayam, adil kan? Ada masalah? Hum? Hum?” Tanya Joon.

“A… Anni…” kata Sandy, kuhentikan makanku, aku tak sanggup Young yang menerima racun cabai itu.

Saat Young mencampurkan bibimbapnya dan akan menyantapnya, Sandra memegang tangannya.
“Young… do you like pork right?, this my bibimbap… eat it okey”
“oooh??” Tanya Young kebingungan
“hmm… I love your bibimbab… h…mm.. so I want eat it” kata Sandy sambil melirikku,
“Oh….. thank you Sandy… you a sweet girl”

“T…thank you” Sandy pun melahap semua bibimbapnya dengan cepat. Akupun begitu, aku tak tega melihat wajah Sandy yang memerah karena menahan pedas.

Setelah satu mangkuk bibimbap habis, Sandy berlari ke dalam kamar mandi, aku menyusulnya.

“Aigooo,… kenapa kau makan semuanya hah?” tanyaku sambil memijat punggung Sandy, ia ingin memuntahkan semua bibimbap yang masuk ke lambungnya.

“Lee…. Tenggorokanku terbakar… aigooooooo… hueek… hueek…Leee… pria itu memang sadis… hueeek… hueeek… apakah dia tahu tentang rencana kita??” kata Sandy sambil memuntahkan bibimbap terpedasnya.

“Miannata Sandy… dia sepertinya tahu semua tentang rencana kita… bersihkan mulutmu pakai ini… ah minum dulu air ini ppalli.. pallli” kataku

Sandy meminum air fress dengan tegukan super cepat, lalu ia mengeluarkan lagi air yang ia minum
“Huuuaaa… Lee… tenggorokanku sakit…”
“Kau perlu kuantar ke dokter?”
“Anni… Anni…. Aku perlu membalas pria itu…”

“Ya… tapi kau basahi dulu tenggorokanmu… minum lagi…. Bagaimana tenggorokanmu?” tanyaku
“Aigooooooooooooooooooo Lee….. lihat bibirku….. apakah bibirku semakin membesar?????”

“I… Iyaaa…..” jawabku ketakutan.
“Aigoooo. Aigooooo. Aigoooooooooooooo…… AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~~~!!!” teriak Sandy tak terima.
“Ssst… kau akan membuat semua orang curiga.”

“huks huks… Lee… lihatlah bibirku… aku tak mau Young melihatku sejelek ini…”
“Joon… Aku akan membalas apa yang kau perbuat pada sahabatku” kataku penuh emosi

“Iya… aku akan membuatnya GAME OVER”
“Hmmm… kita harus merencakan semua dengan penuh rahasia” kataku sambil memberikan lipbalm di bibir Sandy
“Lee… apakah dia bisa mendengar kata-kata kita tadi? Di kamar?” Tanya Sandy

“Mungkinkah? Ah….. mungkin saja….. kita harus lebih hati-hati…”
“Hmmm… Joon Akan kubuat kau GAME OVER hahahahaha” Kulihat wajah Sandy yang begitu membara, entah karena menahan pedas atau menahan kemarahan pada Joon

“ii…iya Hahahahaha” Joon, sekarang bukan aku saja yang ingin membuatmu Game over, Sandy sudah ada di pihakku, tak lama lagi kau akan keluar dari rumah ini. HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHA

To Be Continue

Fanfiction: Yesterday Part 1 Heart break – Ep 3


Author : Ayuna Kusuma

Maincast :

Lee Hi : Lee
Sandara Park : Sandy
G Dragon : Ji Young
Suho EXO K : Joon Myun
Madam Cho : Choo So Young

Genre : Parody, Sadly, Romance

Location : Little Italy - NYC

“Lepaskan tanganku” kataku, kulempar tangan Joon, sayangnya aku tak bisa melepaskan cengkramannya.

“Bisakah kau bersikap seperti biasa aja?” Tanya Joon sambil melirik, sorot matanya masih seperti dulu, sering membuat orang serba salah. Aku turuti saja apa kemauannya kali ini, Di lantai atas hanya ada kami berdua, Joon membawaku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.

“Dimana Ji Young?”

“Jangan urusi dia, dia pergi ke kantornya”

“hmm… bisakah kau buka pintunya? Aku tak ingin Madam Cho dan Sandy mengira kita melakukan…”

“Kalau mereka tanya, aku akan menjelaskan kau hanya menata bajuku, ppalli… rapikan pakaianku dan letakkan di lemariku” Kata Joon sambil membuka tiga kopernya yang besar. Semua berisi kaos, jaket, dan sepatu. Joon sekarang lebih seperti pria metro yang memakai baju tabrak warna.

“kau kan bisa melakukannya sendiri… Joon.. jangan menyulitkanku arra… aku sangat membencimu.. jangan menggangguku lagi…okey…” Kataku mulai menata bajunya di lemari.

“Oh… benarkah? Apakah kau tak ingat? 5 tahun yang lalu, selalu kau yang merapikan baju milikku, hehehe… dan aku merindukan hari itu…” Kata Joon, ia membuka laptopnya dan mulai menulis

“oh… ada yang lupa ingin kukatakan, aku masih mencintaimu, dan aku akan mengganggumu sampai kau berubah mencintaiku lagi”
Braakkk… Aku lempar sepatu ke dinding, tak bisa lagi menghalangi semua kemarahanku.

“mueos-eul malhabnikka???? naleul hwanagehaji masibsio. dumyeon?” mulut Joon terbuka, ia terlihat sangat terkejut melihat reaksiku.

“Ommo… dangsin-eun simgaghan ??? Bagaimana kalau sapatu yang kau lempar itu mengenai mukaku yang tampan ini HAH??” huh berani-beraninya dia membentakku seperti ini. Kuacak-acak semua bajunya, kulempar kesana kemari celana dalamnya, kusobek celana jeans yang sangat ia sukai.

“AIgoo… Aigoo… STOP STOP~!!” Joon menghentikan aku, ia memelukku dari belakang, tapi aku berhasil memukul dadanya dengan siku. “AIGooo….” Ia pun terjatuh dibelakangku, mengelus dadanya dengan ekspresi kesakitan.

“Wae….. CEPAT BUKA PINTUNYA. PPALLI~~~!!” bentakku sambil mencoba mendobrak pintu.

“Haiisss…..” Tiba-tiba kurasakan tangan Joon yang kuat menyekap mulutku, sedangkan tangannya yang lain memelukku, lalu ia duduk dibawah membantingku.

“juseyo… jaga sikapmu, atau aku akan memberikanmu pelajaran, hmmm” Joon masih menyekap mulutku, “Apakah sepetti itu sikap seorang wanita dewasa hah? Merusak barang orang lain, hhmm? Apakah dengan melakukan hal semacam itu kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan… Lee.. beribu kali aku bilang padamu, jangan bertingkah kekanakan… ARRA??”

“JOOON~~~~~!!! Lee~~!!! Apa yang terjadi…?? Hah??? Ramai sekali didalam” suara Madam Cho bisa kudengar, ia berdiri di depan pintu, aku melihat kakinya dibawah pintu. Tanganku mencoba melepas tangan Joon yang menyekap mulutku, tapi tak berhasil, dia terlalu kuat untuk kulawan.

“Anni… madam… kami hanya membasmi tikus” kata Joon mulai berbohong.

“sstt… kau lihatkan apa akibat yang kau lakukan…” bisiknya lembut di telingaku.

“Okey… setengah jam lagi turunlah… kalian berdua, Kita makan siang, Ah.. Joon dimana Ji Young?”
“Oh… dia pergi ke kantornya”
“Okey… aku turun dulu… “ Madam Cho pun berlalu dan aku masih disekap mantan kekasihku.

“Hmmm…” kataku dengan bahasa isyarat, joon aku tak bisa bernafas lepaskan tanganmu, kataku.

Dia pun melepas tangannya dari wajahku, aku bergegas menjauh darinya, Joon tersenyum saja melihat tingkahku.

“Hehehehe… ternyata kau masih seperti Lee yang dulu, pemarah, perusak, dan masih anak-anak” kata Joon sambil mengelus dadanya, mungkinkah pukulanku tadi melukai hatinya.

“juggo sip-eo?” tanyaku dengan suara serak, hampir saja aku mati karena kehabisan udara.
“oh come on… I’m sorry okey?” Joon mendekatiku, ternyata ia hanya mengambil celana-celana nya yang tergeletak di dekatku.

“Aku tak bisa memaafkanmu”

“Wae…. Apakah kau masih pendendam seperti dulu?”

“Kau terlalu banyak menyakitiku, apakah kau tak pernah sadar? Kau sudah pergi meninggalkanku, kau meninggalkan semua rencana kita untuk menikah, lalu semua orang membenciku karna aku tak menikah dengan kekasihku yang kaya raya, dan sekarang kau datang lagi, disaat aku sudah memiliki dunia sendiri, sudah bahagia dengan kesendirianku… hah… itu yang membuatku membencimu, itulah alasannya”

“aissh…. Jamkkanman…” katanya sambil memegang kepalanya, aku tahu ia pasti sedang mengingat sesuatu, hidup dengannya selama 3 tahun aku bisa mengetahui semua gerak geriknya.

“Wae…? Cepat buka pintunya, kau sudah bisa merapikan bajumu, tak perlu aku lagi kan”

“jamkkanman…. Aku meninggalkanmu??”

“oh… hohohoho… apa kau melupakannya?”

“Mwo?”

“Di malam saat kau usir semua teman-temanku dari apartemenku, dan membuang semua botol vodka yang kumiliki lalu kau membakar semua puntung rokok, kau mengatakan kau tak mau memaafkanku, besoknya kau sudah tak pernah datang ke apartemen, dan kau menyuruh kuli angkut untuk mengambil semua barangmu dari rumahku. APA ITU BERARTI KAU TIDAK MENINGGALKANKU???”

“Bukankah kau yang mengirimiku surat? Surat yang berisi kau tak ingin menikah denganku? Karena aku terlalu overprotective??”

“WAEEEEEEEE…….. ah… Joon, aku tak mau kau bohongi lagi, sekarang buka pintunya okey……” kataku sambil memegang ganggang pintu

“jamkkanman…. Apakah kau yang mengirim surat itu? dan menginginkan kita gagalkan pernikahan?”

“Aku tak pernah mengirimimu surat. Okey….”
“jeongmallo???” tanya Joon dengan wajah penasaran
“jeongmal-ieyo…. Joon… buka pintunya… ppalli…” jawabku merasa bosan

Tiba-tiba Joon mendekatiku secepat kilat, wajah kami saling bertemu. Aku menundukkan mukaku, tak sanggup melihat pria setampan dia.

“Lee.. kau bersumpah bukan kau yang mengirim surat itu?”
“Y…yee..” gugup sekali diri ini, ketika kulihat wajahnya sedekat ini, dan merasakan harum nafasnya lagi.

“Ommo… apakah kau bisa menebak hal ini… hah? Hah?” tanya Joon sambil mencolek dagu ku “wae geulaess-eo?..... apakah wajahku terlalu tampan ? hhihihihi… Lee…pikirlah dengan baik-baik, kau tak mengirim surat itu, berarti kau tak pernah memintaku untuk pergi dariku kan?”

“Oh…Andwee…” Aku baru sadar apa yang terjadi sesungguhnya, tapi… bagaimana rasa benciku pada Joon. Ahhhss dia tetap bersalah, mengapa terlalu gegabah dan meninggalkanku sendirian.

“OMMO~~~~~~~!! LEE~~~~~~~~~~~~~!!! Apakah ini kesempatan yang diberikan Tuhan untuk kita? Apakah dia menyatukan kita? hahahahaha” Joon tampak bahagia, ia tertawa di hadapanku, bisa kurasakan ludahnya menyebar ke wajahku.

“mollayo…..”
“Hmmmm… kau masih menjaga imagemu? Hmmm” Joon menarik bahuku, dan memutar tubuhku seperti mainan komekdi putar.

“LEE~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~!!!! Kita bersama lagi~~~~~~~~~~~~~~~~!!! Hahahaha Horeeeeeeeeee” teriaknya

“WAEEEEEEEEEEEEE~~~~~~~~~~~~~~~~~~!!! Aigooooooo turunkan aku… Ppalli” balasku, aku bisa melihat lagi wajahnya yang bahagia. Lalu ia menurunkanku, dan memelukku.

“Lee… naneun algoissda. dangsin-eun jeoleul salang huhuhuumm” kata Joon sambil memelukku lebih erat, seperti boa yang menjerat mangsanya

“Ommo…….Andwee…” kataku sambil melepaskan pelukannya “Aku tak akan mau mencintaimu lagi, kau orang yang terlalu gegabah, aku sudah terlalu sakit karna kau selalu memperlakukanku sebagai orang yang bodoh dan selalu salah. Cepat buka pintunya… Ppalli…”

“Lee…” Joon menatapku dengan penuh permohonan, tapi aku tak mau lagi bermain cinta dengannya.

“PPALLI~~~~~~~~~~~~!!!” Aku tak mau lagi tertipu oleh ceritanya, bisa saja dia membohongiku, mengenai surat itu, bisa saja dia berakting seperti itu agar aku tertarik lagi dengannya dan memaafkannya. Huh, sampai kapanpun aku tak kan lagi jatuh cinta, walaupun Joon setampan itu, aku tahu seluk beluk masa lalunya, itu yang membuatku takut dengannya.

To be continue

Sampai Jumpa di PART ke 2 Minggu depan ^_____^ Anyeong.... jangan lupa share dan like ya...

oh Comment juga ya...... love you my reader

Fanfiction: Yesterday Part 1 Heart break – Ep 2


Author : Ayuna Kusuma

Maincast :

Lee Hi : Lee
Sandara Park : Sandy
G Dragon : Ji Young
Suho EXO K : Joon Myun
Madam Cho : Choo So Young

Genre : Parody, Sadly, Romance

Location : Little Italy - NYC

“andweeeeeeee….” Semua orang melihatku, Termasuk Joon, semoga saja ia tak mengenaliku.
“Ada apa Lee?” Tanya Madam Cho,

“Ah…aku lupa mematikan kran kamar mandi.. sebentar” kataku, sambil meninggalkan mereka. Aku berada di balik dinding yang membelah lorong dengan ruang tamu, aku bisa mendengarkan mereka dari sini.

“Haiiss.. dasar… Ah… Ji Young, JoonMyun, silahkan istirahat dulu, kau pasti lelah”
“Yes thank you” kata salah satu dari mereka, aku tahu itu bukan suara Joon.

“Where are you come form?” Tanya Sandy.
“I’m from Chicago.. and Joon from Seoul”
“Ah… ye… I’m Sandy from here” mendengar perkenalan Sandy yang konyol aku ingin sekali tertawa, tapi tidak, mereka akan tahu aku sedang menguping.

“Ayo kita bantu kau mengangkat barang-barangmu.”kata Madam Cho

“Tidak perlu, kami hanya membawa baju saja, Madam, aku akan membayar sewa 6 bulannya nanti setelah kami sudah tinggal disini selama 6 bulan, okey? Aku tidak ingin membayar sewa setahun di depan, karena mungkin saja kami akan pindah lagi”

“Oh… tidak apa… yang terpenting kau sudah membayar uang 6 bulan pertama hehehehe. Mana… Lee. Sandy panggil dia..” Madam Cho berbicara, dengan cepat Sandy menemukanku sedang duduk dilantai sambil mendengarkan mereka.

“SSSttt… apa yang kau lakukan disini” bisik Sandy dibelakangku.
“Dia JoonMyun… dia pria itu”
“Ommo… benarkah?... dia terlihat baik orangnya…”

“Aigoo… hidupku tidak akan nyaman lagi kalau ada dia…”
“Okey…nanti kita bicarakan, sekarang keluar dari sini, sapa mereka, bersikaplah seperti biasa, seperti kau bukan Lee.” Benar.. Saran Sandy ada benarnya juga. Kurapikan rambutku, dan kupakai lagi kacamata hitam. Sandy mendorongku ke tengah-tengah ruangan.

“Kemana saja kau hmm? Sini… Sandy, berdiri di samping Lee…”
“Ye….. Eomma…” kata Sandy bersemangat

“Jadi… perkenalkan, yang disampingku ini adalah Lee.. dia karyawanku yang tinggal dirumah ini juga, dia juga teman anakku Sandy, disebelah Lee adalah Sandy anakku yang cantik satu-satunya… hehehe…. Kami cantik kan…”

“Y…yes Madam” kata pria yang duduk disamping JoonMyun.
“Dan Lee… Sandy… kenalkan mereka berdua adalah pria korea yang sudah kubicarakan kemarin, mereka akan menyewa lantai dua selama 6 bulan. Hmmhehehe.. yang berwajah cubbi cubbi cute ini adalah Ji Young, dia anak dari teman lamaku, benar kan Young?” Tanya madam, Pria yang bernama Young wajahnya berubah menjadi memerah.

“Yes Madam, Nice to know you. I’m Ji Young, and He is my friend from Korea, Joon Myun”
“Annyeonghaseyo…” Suara Joon masih sama seperti dulu, penuh karisma dan membuatku merinding.

“Ah…….. kau tampan sekali Young… huhuhuhummm” Tiba-tiba Sandy berteriak disebelahku, teriakannya mampu menghancurkan gendang telingaku yang sensitive.
“OKEY~~~~!! Mari kita memasak lady… “

“Arraseo… Eomma” Sandy kembali melukai gendang telingaku
Ah… mengapa hari ini hari minggu, aku jadi harus dirumah setiap hari, aku ingin saja keluar dari sini. Ke museum menjadi pekerja lepas, ke peternakan di luar kota milik keluarga Will tetangga kami, kemana saja, asal tidak disini, aku takut bila berhadapan dengan pria bernama Joon yang sekarang menatapku dengan teliti.
Akupun melihatnya, dia lebih tampil sebagai pria cool dengan gaya seperti itu.

“Lee… kau kah itu?” Joon mengagetkanku, membuyarkan semua lamunanku, akupun tersadar, hanya ada aku yang berdiri ditengah ruangan  dan Joon yang duduk didepanku masih memandangiku lekat-lekat.

“Hoh??” tanyaku kebingungan
“hehehe…” Joon tersenyum, lesung pipinya terlihat sangat tampan, lalu rekaman mengenai senyumannya yang selalu menghiasi hidupku 5 tahun yang lalu menghantui pikiranku saat ini juga.
“hmm?” tanyaku lagi sambil membenarkan letak kacamataku yang meluncur kebawah hidungku.

“Kau Lee.. kan?”
“Anni…. Ah.. Namaku memang Lee.” Kataku sambil menenangkan diriku, aku melihat Madam Cho dan Sandy ada di dapur, Ji Young sedang mengangkat kopernya ke lantai atas.
“Nae… Dalkong… hmm kau Lee Nae Dalkong kan?” Tanya Joon, aigoo.. mengapa ia mengingatku padahal aku sudah memakai kacamata.

“Mwo…” kataku, aku menggenggam tanganku sendiri, agar tak terlihat bergetar.

“Nae Dalkong… Lee.. kau lupa denganku? Your Alkong? Hmm” Joon mendekatiku, muka kami saling bertemu, dia pasti melihat dengan jelas wajahku yang penuh keringat, lalu dengan lancangnya dia melepas kacamataku, aku tak bisa apa-apa, tubuhku kaku seketika.
“Benar… Kau… Nae Dalkong… Lee.. Apakah kau lupa denganku?” Tanya Joon lagi membuatku terpojok

“SANDYYYYYYYYYYYYY~~~~~~~~!!!” aku berteriak dengan semua tenaga, didepan wajah Joon.
“Aigoo…” kata Joon sambil membersihkan mukanya dari ludahku. Hah. Terima itu.
“YEEEEEEEEEE~~~~~!!” Sandy pun datang melihat kami berdua saling bertatap muka dengan posisi yang aneh.

“Tidak apa, teruskan saja memasaknya, jangan campuri urusan kami” kata Joon dengan suara penuh emosi pada Sandy, ia pun kembali ke dapur sambil menatapku dengan penuh penyesalah. ‘mianhae… aku tidak bisa membantumu’ kata Sandy tanpa suara.
Aku kembali menatap Joon, “aku tak ingat siapa kau, hmm, aku tak pernah kenal orang sepertimu” kataku sambil menyusul Sandy ke dapur. Tapi kurasakan tangan Joon yang kekar telah menahanku, ia mencengkramku dan membalikkan tubuhku dengan kasar.

“Lee.. aku tahu kau masih mengenalku, Aku Joon, apakah kau terlalu membenciku sehingga kau tak mau mengingatku”
“Lepaskan Joon…”

“hehhehehe… aku tak tahu kita bisa bertemu lagi seperti ini, tinggal di satu atap lagi, Lee.. apakah kau masih ingat selama 3 tahun kita pernah tinggal di satu apartemen? Apakah kau masih seperti dulu? Suka berpesta? Minum alcohol? Merokok? Apakah masih seperti itu”

“Bukan urusanmu” kataku sambil mencoba melepaskan cengkraman Joon.

“Lee… kau terlalu sempurna, jangan merusak hidupmu sendiri, aku terlalu sakit bila melihatmu merusak dirimu sendiri dengan alcohol dan rokok, juga lingkunganmu yang membuatmu rusak”

“Joon… Mr perfect… silahkan kau tinggal disini, sesukamu, tapi kalau kau mengurusi hidupku lagi, melarangku ini itu, akan kutendang kau dari sini ARRA??” bentakku.
Joon semakin menyakiti tanganku. “Lee… apa kau tak pernah tahu aku begitu mencintaimu lebih dari segalanya?”

“Kalau kau mencintaiku, kau takkan meninggalkanku dan meraih mimpimu sendiri, kau meninggalkanku dengan alasan kedewasaan, lalu kau tak pernah menghubungiku sama sekali, bukankah itu tingkah anak-anak???  Percuma kalau kau menyuruh orang lain untuk berubah menjadi lebih dewasa tapi kau tak pernah memperhatikan tingkahmu sendiri”

Kataku sambil melepaskan cengkraman tangan Joon. Ia tak pernah tahu aku sudah berhenti merokok dan konsumsi minuman alcohol tepat setelah ia memarahiku habis-habisan di apartemen kami. Aku sudah berusaha menyembuhkan kecanduan yang kualami, tapi ia tak terima dan tak mau tahu.

Joon 5 tahun yang lalu, hanya meninggalkanku tanpa mau tahu apa saja yang sudah kulakukan untuk memperbaiki hidupku dan ia tak peduli bagaimana caraku mencintainya.

“Joon… hehehey… apa yang kau lakukan disana? Tolong ambilkan koperku yang satunya” Teriak Ji Young dari lantai atas. Joon mengangkat semua barang-barangnya. Aku ingin membantunya tapi ia akan besar kepala kalau aku melakukan itu.

“Lee… kenyataannya aku masih mencintaimu, aku akan memperbaiki diriku dan mendapatkanmu kembali” kata Joon sambil berjalan menjauh dariku. Apa sebenarnya yang dia inginkan? Apakah ia selama ini mencariku? Atau ini hanya sebuah kebetulan?
Ketakutanku berangsur-angsur hilang. Ya.. tidak masalah kalau akhirnya Joon mengenaliku, aku tidak mau berurusan lagi dengannya, mulai sekarang aku akan menghindar setiap kali dia datang. Ya hanya itu cara yang tepat untukku saat ini. Aku tak mau lagi dikecewakan oleh pria setampan Joon.

“Lee.. apa yang terjadi tadi?” Tanya Sandy sambil memotong paprika
“Hidupku akan hancur kalau ia tinggal disini…”
“Kau terlalu membesarkan masalah Lee. Dia seperti pria baik-baik”

“Sssst… Sandy…. Kau harus tahu, dia tipe pria yang memberikan kebahagiaan, janji harapan, lalu saat kita wanita yang ia dekati sudah terlalu banyak berharap, ia akan menghilang, bagaimana kalau kau jadi aku hah? Kami berdua sempat akan menikah, pernikahan akan dilangsungkan 2 bulan lagi, tapi hanya karena alasan kedewasaan, dia meninggalkanku, bagaimana menurutmu haa…..” bisikku pada Sandy

“Ommo… jadi karena itu…”

“Dan tadi… dia mengatakan ia masih mencintaiku, aku tak bodoh Sandy… aku tak mau menjadi gadis bodoh kedua kalinya, aku tak akan membiarkan dia mengecewakan aku lagi… kau tahu… keluargaku sangat kecewa denganku juga dengannya… dia menghancurkan semua rencana hidupku”

“aa…aigoo…apakah dulu dia punya wanita lain? Mungkinkah dia meninggalkanmu karena wanita lain?”

“Sssstt,… dia akan mendengarmu, pelankan suaramu… aku juga tak mau tahu… hatiku sudah hancur karnanya”
“hmmm… kuatkan hatimu Lee…” Kata sandy, ia menguatkanku dengan pelukan.

“Aku… tak mau lagi kecewa Sandy… aku sangat takut dengan dia.. itulah mengapa sampai sekarang aku tak pernah berurusan dengan cinta… aku terlalu takut untuk memulainya, sekarang ada Joon disini, aku tahu pasti dia akan menyulitkanku”

“Lee… aku akan membantumu tenangkan hatimu ya… jangan menangis, Eomma akan marah padaku kalau kau menangis.. arra?”
“Humm… thanks Sandy..”

“Ah… mianhae.. merusak suasana. Lee, bisakah kau bantu aku menata bajuku? Aku harus menulis novelku, tidak ada waktu lagi, bisakah kau bantu aku sebentar saja?” Joon tepat berdiri dibelakang Sandy, dia membawa laptop berwarna ungu, wajahnya tampak baik dan seperti malaikat, tapi aku tahu hatinya busuk.

“Tidak bisa… Lee harus membantuku memasak” kata Sandy sambil memelukku. Ya Sandy selamatkan aku…
“AIGOO… Sandy… apa yang kau lakukan, lepaskan Lee, biarkan dia membantu Joon, arra..” Tiba-tiba Madam Cho datang sambil melepaskan pelukan Sandy

“EOMMA~~~~~!!” Sandy masih memelukku.
“Haissh… kau ini kekanakan sekali, kasihan Joon tidak ada yang membantu” Akhirnya pelukan Sandy pun terlepas, Madam Cho mendorongku, hampir saja aku terjatuh tepat mengenai dada Joon, tapi aku terlalu seimbang untuk melakukan kesalahan itu hahaha.

“Lee.. bantulah aku sebentar aarra? Nanti kau bisa kembali memasak Ayo…” Kata Joon sambil mecengkram tanganku lagi, ia menyeretku kelantai atas. Apa lagi yang akan Joon rencanakan…

AHHHHHHHHHHHHHHHH ANDWEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE

To be continue

Jangan lupa Like Share dan Komentar ya...........
Please.....untuk kelangsungan hidup penulis hahahahaha

Fanfiction : Yesterday Part 1 Heart break – Ep 1



Berikut ini Fanfiction yang memadukan antara bias EXO K, Lee Hi, Sandara Park 2ne1, G Dragon dan Jaejoong JYJ. menceritakan tentang seorang wanita yang harus menjauh dari pria yang selalu membuatnya trauma. Apakah dia bisa selalu menghindar???
Mari kita baca bersama-sama


Author : Ayuna Kusuma

Maincast :

Lee Hi : Lee
Sandara Park : Sandy
G Dragon : Ji Young
Suho EXO K : Joon Myun
Madam Cho : Choo So Young

Genre : Parody, Sadly, Romance

Location : Little Italy - NYC

“Kedewasaan akan muncul pada saatnya, Kedewasaan akan membimbingmu menemukan cinta yang sebenarnya” Aku masih ingat kata-katamu itu, karna setelah kau mengatakan itu, kau pergi tak pernah menemuiku lagi. Kau menyudahi hubungan kita hanya karna alasan kedewasaan. Aku sempat bingung denganmu, kebanyakan pria lebih suka wanita yang konyol, kekanak-kanakan, tapi kau malah sebaliknya.

Masih terngiang di ingatanku, kemarahanmu ketika aku mengadakan pesta khusus wanita di apartemen yang kita sewa berdua. Kau mengusir semua temanku, dan membuang semua botol vodka yang kubeli. Aku tahu kau memang tak suka mabuk, tapi jangan mempermalukanku didepan teman-temanku.
Setelah peristiwa itu, di kampus aku menjadi bahan pembicaraan,
“Kasihan sekali Lee mendapatkan pria yang overprotectif, yang tidak suka kebebasan, kau putus saja Lee dari dia, cari yang lain, yang lebih bisa memahamimu..”

Dan akhirnya, kau yang mengakhiri semua hubungan kita. Hubungan yang sudah tiga tahun kita jalani bersama. Kini aku bisa menjalani kehidupan sendiri, tanpa siapapun. Aku terlalu trauma untuk memulai hubungan yang baru, aku tak mau merasakan kehilangan lagi. Cukup kau saja yang membuat hatiku remuk.

Pagi, di Little Italy New York, sangat ramai, banyak penjual makanan dan serba serbi lainnya memenuhi jalan, aku harus bergegas pergi ke butik tempatku bekerja. Semenjak Joon memutuskan untuk meninggalkanku, aku tak bisa melakukan apapun di Seoul, seorang teman mengajakku untuk pergi ke New York,dan… sekarang seperti ini.

Aku bekerja untuknya, sebagai marketing promotion di butik milik keluarganya yang semakin besar. Tinggal di New York bisa menenangkan hatiku, tak ada pria korea disini, yang bisa membuatku teringat dengan wajah Joon.
“Annyeong…” Sapaku saat masuk kedalam butik Madam Cho.
“Annyeonghaseyoo Lee.. ayo makan bersama kami…” ajak Sandy, mulutnya penuh pizza keju yang lezat.

“Mana ibumu?” tanyaku, sambil memotong slice pizza yang ada didepanku.
“Ada dibelakang, hehehe… pizza ini terlalu enak kalau kau lewatkan, ayo tambah lagi” kata Sandy sambil menambahkan slice pizza di piringku.
“Ommo… aku sudah terlalu gemuk, lihat pipiku… jangan…” kataku sambil mengembalikan slice pizza yang diberikan Sandy.

“Hmmmm” Sandy tiba-tiba mencubit pipiku “Kau jorok,ayo makan pizza tadi, haisss… makan satu pizza saja tidak bisa membuatmu gemuk” Sandy melirik dengan sinis padaku.
“Hehehe… okey…okey…” kataku melanjutkan makan.
“Lady… mohon perhatiannya sebentar……”

“Ohh… iya Eomma” kata Sandy sambil membersihkan mulutnya.
“Sandy… Lee… besok lusa ada yang akan menginap di rumah kita, rumah kita kan lantai dua masih kosong, keluarga Smitc sudah pindah kan… sayang kalau tidak kita sewakan, hmm nah… tadi eomma sudah dapat orang yang mau menyewa lantai dua rumah kita huaaaaaaaaaaaa hihihi”
“HUAAAAAAAAAA benarkah??? HOREEEEEEEEEE” Sandy berteriak-teriak sambil mengangkat tangannya.

“Wah… Madam.. kau memang hebat hihihi” kataku
“Huhuhu itu semua karena ilmu pemasaran yang kau ajarkan padaku Lee…”
“Kira-kira siapa yang mau menyewa lantai dua Eomma?” Tanya Sandy
“Mereka sama seperti kita hehehe”
“Woaaaaaaaaaaaah wanita korea?” Tanya Sandy penuh dengan rasa penasaran

“Nononono…. Namja”
“UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~!!! Benarkah???” Tanya Sandy sambil melirikku.
“Humm…”
“Apakah mereka tampan?” Tanya Sandy…

“Satu pria aku tahu, dia tampan, dia anak temanku, tapi tidak tahu dengan temannya”
“UWAAAAAAAAAAAA Dua Pria Korea??”
“Hum…” jawab Madam Cho sambil meneruskan memakan pizza nya
“Siapa nama mereka?” Sandy tak ada hentinya bertanya mengenai hal itu

“Ji Young, dan Joon Myun”
“UWAAAAAAAAAAAAAAA pasti mereka tampan, aku sangat merindukan pria korea hahahaha kau juga kan Lee?” kata Sandy.
“ha??... ah…tidak juga” kataku sambil beranjak dari tempat dudukku, Siapa ? Joon Myun?.. Apakah dia orang yang sama dengan Joon. Aku tak mau bertemu dengannya lagi, apalagi tinggal satu atap lagi dengannya. Joon Myun, kalau itu benar kau. Aku akan lari dari New York dan tinggal di benua lainnya dimana aku tak bisa melihatmu atau pria korea lainnya.

***

Hari yang di janjikan Madam Cho pun tiba, Kedua pria korea akan datang ke rumah kami, mereka akan mengangkut barang-barangnya hari ini. Aku sama sekali tak tertarik dan terlalu takut menghadapi kenyataan. Tolonglah Tuhan… jangan temukan aku dengan pria yang sok dewasa yang telah meremukkan hatiku 5 tahun yang lalu.

“LEE~!!! BUKA PINTUNYA~!!” Sandy berteriak sambil menggedor pintu
“SSSSSSSSt… apa yang kau lakukan hah? Sandy… bilang pada Eommamu, aku sedang sakit” kataku sambil bersandar di pintu, agar Sandy bisa mendengar suaraku yang kecil

“Tidak bisa, kau harus ikut dengan kami membantu mereka mengangkut barang” aku membuka pintu dan menyeret Sandy masuk.

“Apakah kedua pria itu sudah datang hah?” tanyaku dengan ekspresi ketakutan yang bisa membuat Sandy tertawa
“Ommo… hahahahaha… apa yang terjadi padamu hah? Kau seperti ketakutan… belum mereka belum datang… tapi Eomma meminta kau untuk keluar dari kamar ini dan membereskan lantai dua denganku”

“Sandy… apakah kau sudah lupa hah?”
“Lupa?... tentang apa?”
“Joon Myun…5 tahun yang lalu…kau mengajakku ke New York karena apa? Kau masih ingat?”
“Ah… Joon Myun… hmmm AHA…. Aku ingat… kau trauma karena putus dengan kekasihmu kan? Lalu apa hubungannya dengan nama Joon Myun..”

“Ayoo.. ingat lagi… ingat lagi… cepat…”
“hmmm sebentar… Ah…….. aku ingat…. Dulu kekasihmu bernama Joon Myun kan?”
“Iya.. lalu sekarang ada yang akan menyewa lantai atas, bernama Joon Myun, aku takut kalau itu dia… Sandy… Aku dikamar saja ya?”
“HAHAHAHAHAHAHAHA….. kau tahu Lee… kau lucu kalau sedang ketakutan hahahaha” Sandy tertawa sambil jongkok didepanku. Saking kesalnya aku lempar dia dengan bantal bekasku tidur.

“Ommo… jangan menyakitiku Lee… hahaha… hei… apa kau tidak bisa berpikir? Nama JOON dan MYUN sangat banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaak di korea, kau tahu hum?? Mungkin saja dia JOON MYUN yang lain…”
“Jeongmal…”

“Haiissh… tata rambutmu, sini aku ikat rambutmu….hmmm kalau seperti ini kau akan lebih cantik”
“Ah… Sandy… apakah aku harus pakai kacamata hitam? Kalau dia memang Joon Myun yang pernah menyakitiku dulu, bagaimana?”
“Iya… baiklah kau pakai kacamata hitam saja…”

“LADYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY~~~~~~~~~!! MEREKAAAAAAAAAA DATANG~~~~~~~~~~~!!!” Madam Cho berteriak memanggil kami.

Seluruh tubuhku bergetar tak menentu, jantungku ah… mengapa bisa berdetak keras seperti ini. Tanganku tiba-tiba menjadi dingin, kepalaku pusing AHHHHHHHHHHHHHH JOON MYUN. Tak habis-habis nya kau membuatku menderita.

Sandy memasangkan kaca mata hitam, lalu ia menyeretku keluar dari kamar,menuju ruang tamu. Kulihat pria korea itu masuk ke dalam rumah, pria pertama berambut kuning dan postur tubuhnya tak setinggi Joon, ah… aku sudah lega, Lalu pria kedua masuk dan… dan…. Dia memang JoonMyun. Pria sok dewasa yang meninggalkanku seperti sampah.

Kugenggam tangan Sandy, JoonMyun terlihat lebih tampan daripada 5 tahun yang lalu, ia memakai jas lengkap yang pas di tubuhnya. Tapi aku begitu takut padanya sekarang ini. Ia menatapku, menembus kacamata hitam yang kupakai. AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH AKU TAKUUUUUUUUUUUUUUUUUUT.

"hallo..." Kedua pria korea itu menyapa kami.

“ANDWEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE~~~~~~!!!” tanpa sadar aku berteriak.

To be continue

Fanfiction Infinite : Lover Boy Part 18


Author : Ayuna Kusuma (Yun)

in my web : http://ayuna.ok-rek.com/

Genre : Romance. Parody. Sadly

maincast :
Woohyun : Woohyun INFINITE
Gadis Cantik dan Bodoh/ Nae Mi : Minah Girl's Day


Lelah bercanda, kami berdua tertidur di lantai, Naemi menyandarkan kepalanya di lenganku,  Ia sangat cantik tanpa polesa make up, tanpa pewarna bibir, rambutnya yang panjang terurai membuatku bertambah mencintainya, saat aku punya keberanian untuk mencium pipinya, jantungku kembali sakit, kali ini aku tak bisa menahannya. Aku menangis tertahan, jantungku seperti ingin meledak.

“hmmm… oppa… ada apa?...” Naemi membalikkan tubuhnya, wajahnya yang tak tertutup masker melihatku, jantungku semakin sakit, aku tak bisa bicara terlalu banyak.

“N…Na…emi…tutup… wajahmu…” kataku sambil menahan rasa sakitku. Keringat dingin semakin mengucur deras. Kulihat Naemi begitu kuwalahan, ia sangat khawatir, berlari kesana kesini, memanggil appa dan eommanya.

Aku tak biasanya seperti ini. Jantungku sepertinya berdetak lebih parah.

“EOMMA~~~~~~~~~!!! WOOHYUN PINGSAN~~~~~~~~~!! EOMMA~~~!!! WOOHYUN~~~!! BANGUN~~~~~~!!!” Aku mendengar teriakan Naemi disertai tangisannya yang menyedihkan, tapi aku terlalu sakit untuk bangkit dan membuka mataku.

“Naemi… apa yang kau lakukan padanya hah? Ayo bantu aku eomma, angkat dia ke mobil kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang” Suara Appa Naemi jelas ku dengar, tapi sakitku ini tak tertahankan, nafasku semakin berat.

Aku tertidur dipangkuan Naemi, jantungku membuatku semakin tak berdaya, sulit rasanya untuk bangkit dan mengatakan hey aku tak apa. Apa yang bisa membuatku seperti ini, apakah karena sedari tadi aku menahan sakit saat melihat wajah naemi yang cantik.

Mobil melaju dengan cepat, Appa Naemi berteriak-teriak tidak jelas, sepertinya dia marah dengan pengguna jalan yang selebor atau semacamnya. Aku rasakan tangan Naemi menggenggam tanganku yang semakin dingin.

“Oppa…oppa…. Kau kenapa? Apakah jantungmu sangat sakit…” Tanya Naemi, aku tak bisa lagi mengeluarkan suara, sebagai jawaban aku sangat sakit menahan jantungku yang semakin tidak terkontrol seperti ini, aku hanya bisa menggenggam tangan Naemi semakin erat.

“Eomma… Woohyun Oppa masih bisa menjawabku… Appa… cepatlah sedikit… aku tak ingin terjadi apa-apa padanya” kurasakan air mata yang hangat menetes menembus kemeja, Naemi, aku akan bertahan, aku akan melawan penyakit ini, seperti yang kau bilang dulu.

“Naemi, ajak bicara terus Woohyun, jangan biarkan dia tertidur” kata Appa, “Eomma, cepat kau hubungi keluarga Woohyun, cari informasi tentangnya di dompetnya, Naemi, apakah kau bawa dompet Woohyun?”

“Ye Appa…”

Dadaku semakin sesak, apakah aku akan mati?, tidak, tidak… aku tidak mau mati seperti ini, Naemi masih memerlukanku, dan penyakitku hanya phobia pada wanita cantik, bukan penyakit jantung. Sedari tadi aku bisa menahan phobiaku, sekarangpun aku pasti bisa menahannya.

“Oppa… oppa… jangan menangis, aku ada didekatmu, arra? Aku ada disini, aku tahu kau pasti baik-baik saja… Oppa… lihatlah, aku sudah memakai masker, hum… kau tidak akan sakit lagi kalau aku memakai masker kan?” kata Naemi sambil menggosokkan masker yang dia pakai ke tanganku.

“Oppa… apakah perlu aku panggilkan Jisung?... Oppa…… jawab aku….. apakah kau perlu Jisung?... huuuuh ooppaa….. huks huks”

“Oppa… seharusnya aku melepasmu saat bersama Jisung, biar saja kau bersamanya, kau tak akan pernah sakit seperti ini kalau kau bersama Jisung, dia akan menyembuhkanmu… mengapa aku begitu egois Oppa…. Oppa……….. jawab aku…….. oppa….”

‘Oppa… cepatlah sadar… aku akan membuatkanmu bibimbap hum… kau suka bibimbap kan?... aku akan telp jisung, agar ia datang untuk menyembuhkanmu… oppa…….. jawab aku oppa…”

***

Sunyi, hening, tak ada siapapun yang bersamaku saat ini. Dimana Naemi, dimana Appa dan Eomma Naemi yang membantuku mengantarkanku ke rumah sakit. Hanya ada aku yang berbaring di kamar inap yang mewah.

Lama menunggu, Wanita separuh baya yang seumur hidup kupanggil Eomma datang menemuiku, dia memelukku dengan erat.

“Aigoo… Aigoo… Woohyun… apa yang terjadi denganmu huh? Mengapa kau jadi seperti ini?” Eomma menangis sambil memelukku.

“Mana Naemi?” entah mengapa aku hanya mencarimu Naemi, aku sangat menghargai Eommaku datang menjengukku, tapi aku sangat memerlukanmu,dadaku semakin sesak saat aku tahu kau tak ada disini.

“Naemi??? Aigooo… Aigooo.. Woohyun, kau harus urusi jantungmu dulu, jantungmu terkena komplikasi, otot jantungmu hampir rusak, huh… mengapa kau tak mengatakan kau terkena phobia huh? Mengapa apakah Eomma tidak penting? Huh? Apakah gadis gila bernama Naemi yang membuatmu seperti ini lebih penting dari Eomma huh??”

“EOMMA~!!! DIA TIDAK GILA~!! JANGAN MEMANGGILNYA GADIS GILA~!!” tak terasa
aku sudah berteriak didepan Eommaku sendiri, ia semakin menangis. Menyesakkan.

“Eomma… kau adalah wanita yang mencintaiku, dan Naemi adalah orang yang membuatku mengenal cinta, ia tak pernah menyusahkanku, ia menolongku, ia yang selama ini menemaniku berobat, Eomma, kalian berdua adalah yang terpenting bagiku…  Eomma… aku sangat mencintainya Eomma… jangan panggil dia gadis gila… dia sangat berarti bagiku“ Aku memeluknya sangat erat.

“Aku… tak pernah membencimu Woohyun… walaupun kau membentakku seperti tadi, tapi perhatikan kesehatanmu, aku tak ingin kau terus kesakitan, bila dekat dengannya, Naemi sudah pulang kerumahnya, dengan keluarganya. Mereka meminta maaf karena telah membuatmu menderita… hum… mereka saja tahu bagaimana menyikapi masalah… kau pun harus begitu, belajarlah mencintai orang lain”

“Eomma… pernahkah kau berpikir? Aku hanya sakit phobia wanita cantik, bila Naemi memakai masker aku masih bisa mencintainya, dan aku bisa menyembuhkan penyakitku ini, kami pun nanti bisa bersama”

“Woohyun…. Mengapa kau tak mendengarkanku… jantungmu ini” kata Eomma sambil menepuk dadaku, “Jantungmu ini…. Oh… Aigoo… Dokter mengatakan… kalau jantungmu sudah mengalami komplikasi, otot-otot jantungmu sudah banyak yang rusak… dan kalau kau terkena serangan jantung sekali lagi, kau akan mati, tanpa merasakan kesakitan… Aigooo… Woohyun…… aku tak ingin kau mati sia-sia…” Eomma menyerbuku dengan pelukan dan pukulan, Tuhan… mengapa kau memberikan aku penyakit yang sama dengan Hong. Mengapa?, berikan aku kekuatan Tuhan, agar aku bisa membahagiakan Naemi juga keluargaku.

“Eomma… Eomma” kataku sambil menghentikan pukulannya. “Eomma, biarkan aku menikah sekali saja dengan Naemi, satukan kami, buatlah Naemi bahagia, aku akan tetap hidup, kalau Naemi bisa bahagia Eomma, aku akan tetap hidup, bila aku dan Naemi bisa bersatu, Eomma… aku tak ingin ia kehilanganku kedua kalinya… Eomma….”

“Tidak…. Hari ini kau akan pulang bersamaku ke Seoul, kita akan mendaftar pengobatan jantung disana, kau akan kurawat dengan baik, aku tidak mau anakku mati sia-sia, Naemi juga akan pindah dari Korea, orang tuanya bilang, mereka akan pindah ke Hongkong untuk waktu yang lama. lupakan gadis itu... atau jantungmu akan membunuhmu”

To Be Continue

Fanfiction Infinite : Lover Boy part 17



Author : Ayuna Kusuma (Yun)

in my web : http://ayuna.ok-rek.com/

Genre : Romance. Parody. Sadly

maincast :
Woohyun : Woohyun INFINITE
Gadis Cantik dan Bodoh/ Nae Mi : Minah Girl's Day

“Tok tok tok… Annyeonghaseyo…. Apakah Naemi nae salang ada di sana?” kataku sambil membuka pintu kamar Naemi yang terkunci.
Setelah pintu terbuka. Naemi yang sedari tadi menunggu di balkon, berlari ke arahku. Ia terlihat sangat bahagia setelah melihatku mendatanginya.

“OPPAAAAAAAAAAAAAA~~~~~!!” Ia memelukku sangat erat. “Oppaaaaa oppa oppa oppa oppa oppa oppa oppa oppa oppa oppa oppa oppa oppa oppa oppa” Naemi menari-nari sambil mengayun-ayunkan tanganku. Ia menutup kamarnya lalu menyuruhku duduk di ranjangnya.

“Oooooppa… apakah Eomma dan Appa memarahimu? Hmm? Apa yang mereka bicarakan kenapa kau lama sekali??” Aku menghapus air mata yang membasahi pipi Naemi.

“Sudah… jangan menangis, tidak terjadi apa-apa di bawah…mereka menyukaiku…”
“Oppa… apakah mereka menceritakan tentang seseorang padamu?”
“Anni…”

“jeongmal??”
“ye…”

“hmmm aneh sekali, seharusnya mereka menceritakan tentang Hong…” Kata Naemi sambil melirikku.

“Siapa itu Hong?” tanyaku dengan nada marah, pura-pura tak tahu.
“Hmmm… aku juga tidak tahu” jawab Naemi dengan aegyo yang membuatku ingin menggodanya.

“Hummm… aku cemburu, siapa dia?” kataku sambil pura-pura cemberut.

“Ah….. Oppa….. jangan bercanda denganku…”

“tidak… aku tidak bercanda. Siapa pria itu? mengapa kau begitu peduli aku ditanyai orang tuamu tentang orang itu atau tidak hmm?”
“anni…dia hanya masa laluku” Naemi menghapus air matanya yang hampir jatuh, ya… kulihat itu Naemi, aku telah membuatmu menangis lagi karena candaan yang tak penting seperti ini “dia hanya masa lalu oppa… dan kau adalah masa depanku”

“oomoo….. benarkah?”

“AAAAAHH~~!! Oppa~~~~!! Apakah kau masih cemburu~~~~~!!??” Naemi berlari dan melompat ke arahku, ia mencubiti tubuhku dan menindih dadaku. Jantungku… Ommo… Aigoo… kembali sakit seperti semula.

“Oppa… hummm… kau tidak boleh cemburu hmm..” kata naemi sambil mencubiti pipiku.
“Aigo.. Aigoo… naemi… ayo cepat pakai maskermu” Naemi beranjak dari dadaku. Ia lalu mencari maskernya.

“Oppa… aku tidak punya masker… maskerku hilang AHHHH”
“Ssstt… tenang sedikit, nanti ibumu mengira yang bukan-bukan”
“ups… hehehe, aku pakai ini saya ya? Seperti masker kan?”

“HUAHAHAHAHAHAHAHAHHA………….” Naemi memakai pakaian dalamnya yang berwarna pink untuk masker,
“Bagaimana? Sudah tidak sesak lagi kan? Hehehe mianhae…”

“Aigooo.. hahaha aku masih melihat wajahmu, pakai ini…” Kataku sambil melepas pakaian dalamnya dan menggantinya dengan saputangan hitamku. “Nah… seperti ini kau akan semakin cantik, arra?” Tiba-tiba Naemi memelukku begitu erat.
“Oppa… apakah kita bisa bersama selamanya?”

“tentu saja…” Suasana menjadi begitu hangat dan menyenangkan. Naemi menyandarkan kepalanya ke dadaku, ia pasti bisa mendengarkan detakan jantungku yang semakin cepat tak beraturan
“Oppa… jangan tinggalkan aku,…”

“Aku disini sekarang… sedang kau peluk, mengapa aku meninggalkanmu?”
“janji… kau tak akan meninggalkanku sekali saja?”
“Tentu saja sekali-kali aku harus meninggalkanmu”

“MWWOO??” Naemi melepaskan pelukannya.
“Iya tentu saja… bagaimana kalau aku ingin buang air besar? Apa kau akan mengikutiku?”

“Tidak apa. Aku ikut denganmu, aku akan membersihkan pantatmu Oppa”

“MWOOOOO???” Naemi semakin gila saja hahaha.. aku suka dia.
“Iya, aku sanggup menahan baunya, membersihkan muntahanmu saja aku sanggup”

“Lalu kalau aku harus mandi, apakah kau akan mengikutiku juga? HA? Hahahaha kau tidak bisa menjawab kan??? WOHOOO”
“Aku akan memandikanmu, aku tahu cara memakai lulur, dan membersihkan rambut dengan baik, aku akan memandikanmu, Oppa…… okey?”

“OMMO…… apa kau begitu mencintaiku hah? Sampai kau mau melakukan semua itu”
“YE~~~~~~~~~!!! OPPA~~~~!! HEHEHEHE Aku akan mengikutimu, kemana saja kau pergi”
“Bagaimana kalau aku sedang ada liputan ke luar negeri? Hah? Ke amerika misalnya? Apakah kau tetap ikut?”

“Aku ikut……. Aku akan minta kau membelikan satu tiket untukku”
“Kalau aku tidak punya uang bagaimana? Apa yang kau lakukan?”
“Aku akan membuat banyak lukisan dan menjualnya sampai aku mengumpulkan uang.. hehehehe”

“Kalau kau ingin berada di sisiku selamanya… hanya ada satu cara”
“mwoo?? Apa itu oppa…” Tanya Naemi penuh dengan rasa penasaran

“menikahlah denganku….”

To be continue

Fanfiction Infinite : Lover Boy Part 16


Author : Ayuna Kusuma (Yun)

in my web : http://ayuna.ok-rek.com/

Genre : Romance. Parody. Sadly

maincast :
Woohyun : Woohyun INFINITE
Gadis Cantik dan Bodoh/ Nae Mi : Minah Girl's Day


“Apakah selama 4 hari ini… Naemi sangat menyulitkanmu?”

“Ah… anni… Ahjussi”

Ayah Naemi terdiam melihatku yang sedang sibuk membolak balik semua album foto Naemi dan Hong. Mereka sangat serasi, tampan dan cantik, mengapa takdir begitu kejam dengan mereka berdua. Saat kulihat foto Naemi mencium pipi Hong, ada tersirat kecemburuan di dalam hatiku. Naemi melihatku sebagai Hong selama ini, Naemi mengatakan cinta padaku, karena ia menganggapku sebagai Hong. Lalu bagaimana cintaku.

“Ceritakan saja… aku ingin tahu apa saja yang kalian lakukan selama ini?”

“Naemi… Dia… selalu ceria saat bersama Hong… Ah… Ahjussi, cerita kami begitu konyol hehehe..”
“Apakah Naemi memanggilmu Hong?”

“Tidak pernah, dia selalu memanggilku Oppa saat kita pertama kali bertemu”

“Hmmm… aku rasa anakku sudah melupakan peristiwa yang lalu, dan ia melihatmu sebagai Woohyun, Naemi… ternyata dia berhasil menemukan apa yang dia cari hehehe… aku sangat kecewa dengan diriku sendiri Woohyun..” Ayah Naemi menyeka air matanya sambil menepuk-nepuk bahuku.

“Ahjussi….”

“Aku kecewa dengan diriku yang tak bisa mengetahui apa saja keinginan anakku, aku tak tahu apa saja yang ia pikirkan, aku hanya membiarkan anakku pergi kemana saja, dan aku malah menyuruh kolega juga keluargaku yang lainnya untuk mengawasi anakku. Aku tak melakukannya sendiri… Ayah seperti apa aku ini” Ayah Naemi memukul-mukul dadanya.

Dadaku pun sesak merasakan ini semua. Naemi… betapa menderitanya dirimu. Mengapa di hari pertama kau melihatku di Studio, kau tak menyapaku, kau tak bertindak gila seperti di gerbong kereta, kenapa kau hanya mencuri pandang, kalau saja kau datang padaku lebih awal, aku akan bisa membuatmu bahagia lebih lama.

“huuufff… apakah Naemi menceritakan sesuatu tentang dirinya?”

“Iya Ahjussi… Naemi menceritakan tentang dirimu dan eommanya. Hanya itu saja, dia selalu mengangguku, aku adalah pria yang mengidap penyakit jiwa takut pada wanita cantik, aku tak kuat bila terus melihat Naemi, hehehehe, jantungku ini seperti akan meledak, nafasku menjadi sesak, dan keringat dingin terus meluncur membasahi tubuhku, aku kira dengan memarahi Naemi dan menolaknya, ia akan lari dariku. Kenyataannya Naemi semakin mengejarku, semakin dekat denganku, aku merasa jatuh cinta akan semua kegilaannya. Ketidak normalannya. Aku menahan rasa sakitku hanya untuk melihat wajahnya.. Ahjussi… kau harus bangga, karena punya anak secantik Naemi, tidak ada satupun manusia yang terlahir sempurna. Ada keyakinan dalam hatiku, suatu saat nanti Naemi akan normal kembali”

“Woohyun… beruntung sekali anakku bertemu dengan pria sepertimu… maaf kalau anakku sudah membuatmu menderita hehehe… dia memang keras kepala, apa yang ia inginkan, harus didapatkan”

“Benar… hehehe… aku dirawat di rumah sakit satu malam karena dia mencoba menciumku, hehehe…”

“Oh benarkah? Hahahahaha… Naemi… Naemi…. Aku rasa dia sudah membaik sekarang, selama ini Naemi tak pernah bicara kepada kami, dia hanya diam saja, kalau eommanya memintanya untuk makan, dia pasti makan, tapi kami tak pernah mendengar satu katapun yang keluar dari bibirnya.”

“hmmm… apakah semua lukisan ini Naemi yang membuatnya?”
“Ya… Ya… dia yang membuat semua ini, lukisan yang tidak laku, ia pajang disetiap sudut rumah kami”

“Kau mau minum? Aku akan ambilkan soju..”
“Ah… tidak usah repot Ahjussi…”
“Ahjussi… sepertinya panggilan itu sangat asing bagiku, bisakah kau memanggilku Appa?”
“Ah… tapi…”

“Suatu saat kau akan menjadi suami Naemi kan? Mulai sekarang kau harus memanggilku Appa”
“Ghamshamida Appa…”

“hmmm… Biarkan Naemi istirahat sebentar, mungkin ia sedang tertidur di balik pintu”
“Ye… Appa..”

“Woohyun, mengapa kau begitu mencintai anakku? Padahal kau harus menderita menahan rasa sakit di jantungmu, aku harap kau tidak meninggal seperti Hong…”

“Appa~~!! Apa yang kau katakan hah? Tarik kembali…” Ibu Naemi tiba-tiba muncul dari belakangku, dia membawakan kopi Americano, juga biscuit coklat.

“Woohyun… akan tetap sehat-sehat saja… hmm benarkan Woohyun? Ayo diminum.. aku sudah membuatkannya untukmu” Tanya Ibu Naemi sambil tersenyum padaku. Ia duduk disamping Ayah Naemi, pasangan yang sangat serasi dan saling melengkapi. Tiba-tiba aku ingin sekali cepat-cepat menikah dengan Naemi, dengan begitu aku bisa selalu menjaga Naemi, Dia pun tak akan pernah merasa kehilanganku lagi. Hong pun akan hilang dari ingatannya.

“Iya… terima kasih Eomma… Sekarang aku hampir sembuh, Naemi telah memberikan banyak pelajaran buatku, dia mengajariku bagaimana melawan penyakit, bagaimana bersikap dewasa, bagaimana mengungkapkan iya dan tidak, bagaimana menjadi orang yang berpikiran bebas. Naemi sudah membuatku lebih baik daripada sebelumnya”

“Humm… sekarang, aku hanya berdoa, semoga Naemi melihatmu dan menganggapmu sebagai Woohyun, bukan sebagai Hong, kalau sampai Naemi menganggapmu sebagai orang yang sudah mati, aku kasihan sekali padamu Woohyun” Ibu Naemi tiba-tiba menangis, tubuhnya bergetar, wajahnya yang memerah ia tutup dengan tissue.

“Eomma… aku tidak mempermasalahkan hal itu, aku tidak peduli apa yang dipikirkan Naemi, asal dia bahagia dan melupakan penderitaannya, aku akan lebih bahagia”

“Naemi menangis sedari tadi di kamarnya, mungkin ia menunggumu Woohyun, datanglah ke kamarnya, aku rasa kau sudah mengetahui semuanya, dan tidak ada masalah lagi sekarang arraso?” kata Ayah Naemi sambil memberikan kunci kamar Naemi padaku.

“Ye.. Appa…sudah jangan menangis lagi, hehehe… aku jadi merasa serba salah, kalau kalian melihatku seperti itu”

“Woohyun… kau tampan sekali hihihi… aku selalu melihat acara pemotretan di televise, kau yang itu kan?” kata Ibu Naemi sambil memperagakan orang memotret.
“Woooh… Eomma, kau melihat acaraku?”

“Hmmm.. tentu saja, kami juga fotografer, hehehe nanti akan kutunjukkan foto-foto yang kami hasilkan dulu” Eomma berkata dengan antusias

“Eomma… tunjukkan juga foto-foto masa kecil Naemi padanya hehehe” Jawab Appa dengan bahagia.  
“YE~!!! Aku akan melihatnya nanti.. hmmm hehehehe”
“Cepat naik lah, temui Naemi, sebelum ia bertindak yang aneh-aneh”
“Ye Appa…”

To Be Continue

Fanfiction : Lover Boy Part 15




Author : Ayuna Kusuma (Yun)

in my web : http://ayuna.ok-rek.com/

Genre : Romance. Parody. Sadly

maincast :
Woohyun : Woohyun INFINITE
Gadis Cantik dan Bodoh/ Nae Mi : Minah Girl's Day


Terhitung 5 kilo perjalananku dengan Naemi memakai sepeda gunung yang aku sewa didekat stasiun. Kakiku terasa sangat panas,  lututku hampir kram, badan Naemi yang berat membuatku menderita. Sedangkan Naemi terus saja menyanyi, menari dan menikmati suasana.

“Hyaaaaakkk…. Naemi… aku sudah lelah” kataku sambil menghentikan laju sepeda
“Oppa… ayo cepat… jangan berhenti….”
“Lihatlah kakiku…” keluhku sambil memijat lututku yang hampir kram.
“Oppa… jangan berhenti mengayuh… “

“HYAAAAK… lihatlah… rodanya bocor, turunlah sebentar, aigoo… pantas kau terasa sangat berat” Aku memeriksa roda sepeda, ternyata besar sekali, kulihat ke sekililing tidak ada bengkel yang bisa memperbaiki sepeda ini. Pangkalan sepeda pun aangat jauh.

“Naemi… ayo cepat turun… kita berhenti dulu, arra? Aku sangat lelah” Naemi masih duduk diatas sepeda, ia menatapku dengan sinis
“Aku tak mau oppa… aku juga lelah berjalan… ayo kayuh lagi…” Ia terlihat kembali kekanak-kanakan dan manja. Sebal sekali aku menghadapinya. Kulepas tanganku yang sedari tadi menahan sepeda agar tidak jatuh.

“Oppa~~~~~~~~~!!! Tolong akuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu” tak sadar apa yang aku lakukan, aku membiarkan naemi masih duduk diatas sepeda, dan melepaskannya pas di tanjakan. Sepeda yang dinaiki Naemi pun meluncur mundur. Aku berlari menyusulnya.

“OPPAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~~~~!! AH~~~~~~~~~~!!!!”
BRAAAKKKKZZZ… Naemi jatuh tertimpa sepeda.
“NAEMI~~~~~~~~!!!” Kupercepat lariku, Naemi menangis sambil memegang kakinya.
“Oppa…. Huks huks”
“Naemi.. Naemi… kau tidak apa? Huh? Mana yang sakit? Ada yang luka?”

“Kakiku…… oaaaaah… oppa jahat… aku tidak bisa bersepeda mengapa kau membiarkan aku meluncur begitu saja…”
“Naemi… mianhae.. mianhae nae salang…”
“Ye… oppa… kaki ku sakit huks huks”
“Coba kulihat… “  sepatu naemi berdarah, aku membukanya dengan hati-hati “Apakah sakit?”

“Andwee.. huks”
“Naemi… kulitmu terkelupas, apakah kau bisa jalan?”
“Bisa… oppa…” Naemi mencoba berdiri, tapi ia terjatuh  lemas.
“Ayo aku gendong…”

“Andweee… katamu kakimu juga sakit, aku harus bisa berjalan sendiri.. auww…”
“Okey… duduklah disini sebentar” Kataku sambil mengangkat tubuhnya. “Jaga barang-barang kita okey… aku akan pergi mencari obat”

Siang yang begitu panas menyengat, aku harus cepat-cepat mencari toko obat, beberapa kali keliling blok aku mendapati toko obat dan disebrangnya ada toko sepatu. Ah… kebetulan sekali.

Aku membelikan perban, ramuan penyembuh luka rekomendasi apoteker, dan membelikan 2 pasang sepatu dengan mode dan warna yang sama. Berlari berlari berlari… , semoga Naemi tidak marah padaku, karena terlalu lama meninggalkannya.
Naemi masih duduk ditempatnya tadi. Rupanya dia terlalu kesakitan hingga tidak bisa bergerak terlalu banyak.

“oppa……” sapa Naemi sambil mengusap air matanya.
“maaf aku terlalu lama. Ini minumlah, aku membeli susu untukmu, kau pasti haus”

“Hummm…” Saat Naemi meminum susunya, aku langsung membuka sepatunya dengan cepat, membasuh luka nya dengan alcohol dan membalutnya dengan ramuan, lalu menutupnya dengan perban. Naemi sama sekali tidak mengeluh.

“Oppa… itu bungkusan apa?”
“Hmmm… sebentar… “ kataku sambil membuang sepatu Naemi yang lama dan sepatuku yang sudah buruk rupa.
“Ini sepatu untuk kita berdua. Bagaimana? Serasi kan?”
“ommo… kau baik sekali oppa…”

“Hehehehe… ini ganti kaos yang kau belikan untukku” aku memakaikan sepatu ke kaki Naemi yang luka, ia pun tak menangis seperti tadi.
“Oppa… aku memberimu, bukan berarti aku ingin meminta imbalan.”
“ye… arraso..”
“hummm… aku tak menyangka akan seperti ini…”
“Wae…?”

“aku tak menyangka aku bisa memiliki kekasih seorang fotografer terkenal, dia tampan, suka dengan gadis gila sepertiku, dan yang terpenting dia selalu bisa menerimaku, bahkan mengobatiku”
“Hmmm… kau membuatku malu saja, ayo kita lanjutkan perjalanan ke rumahmu”
“Oppa… apakah kau akan bersamaku nanti kalau kau sudah di rumahku”

“tentu saja… memangnya ada apa?”
“Apakah kau mau melanjutkan hubungan ini dengan gadis gila sepertiku?”
“Hmm..  tentu saja, hehehe akupun sudah gila karnamu, jadi apa masalahnya?”
“Andwee…”
“hmmmm… ayo ku gendong”

“anni… aku tak ingin membuatmu  sakit” kata Naemi, dia berjalan di depanku, walaupun dengan kaki yang luka. Aku semakin mengerti, sebenarnya Naemi bukan gadis yang aneh, hanya saja, dia ingin sebuah kebebasan, kebebasan mengutarakan sesuatu. Berpendapat. Mengatakan cinta. Bahkan dia sangat bebas untuk menolak dan menerima.

4 hari aku bersamanya… cinta itupun muncul sedikit demi sedikit dalam hatiku. Dan penyakitku yang terlalu aneh ini, menghilang sedikit demi sedikit. Naemilah malaikatku, bukan Sung Ji Roh.  

***

“Oppa… itu adalah rumahku” kata Naemi sambil menunjuk sebuah rumah yang penuh dengan ornament.
“Itu?” tanyaku terkagum-kagum
“hum… ayo masuk” Naemi menggenggam tanganku dan mengajakku masuk.

Didalam ruang tamu rumah Naemi, aku seperti merasa berada di dunia mimpi, semuanya warna-warni, banyak barang-barang antic dan lukisan-lukisan. Mungkin itu adalah karya kekasihku Naemi.
“Oppa… duduklah disini, aku akan memanggilkan Appa dan Eomma”

“Tidak perlu dipanggil~!!! NAEMI~!! Kau kemana saja hah?” Tanya seorang wanita tua yang berjalan turun dari tangga dan mendekat kearah kami.

“Eomma… aku dari Seoul, menjual lukisanku… “
“Siapa dia?” wanita itu melihat dan meneliti wajahku dengan seksama “Ommo… ommo… kau Hong? Benarkah kau Hong?”
“ha??” aku bertanya pada wanita itu dengan kebingungan,
bagaimana dia bisa mengira aku Hong, siapakah Hong?

“Eomma, dia kekasihku, Woohyun. Nam Woohyun”
“Ommo…. Naemi… kau bertemu dia dimana?”
“Ahjumma, aku Woohyun, kekasih Naemi, kami bertemu di stasiun kereta” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Oh… ye ye ye… ah… duduklah… “ Ibu Naemi menyuruhku duduk di sofanya yang berwarna ungu. Aku sepertinya merasakan keanehan di tengah rumah ini.

“Appa~~~~~!! Kemarilah~~~!! Lihatlah siapa yang bersama Naemi~~!!”
“Hooi….” Seorang pria keluar dari ruangan nya di lantai atas. Pria itu memakai baju seperti ayah-ayah lainnya, tapi seluruh tubuhnya banyak noda cat. Oh… mungkin ayah Naemi adalah pelukis, pantas saja, keluarga ini suka seni. Rumahnya penuh dengan lukisan.

“Ada apa?... hum…kau berteriak begitu keras, bumi bisa runtuh kalau mendengar teriakanmu”

“Hehehe” aku tersenyum sedikit mendengar kata-kata pria itu.

“Lihatlah… siapa yang bersama Naemi…”
“Wae…” Pria itu berpaling dan menatapku, wajahnya yang sedari tadi biasa saja, kini berubah menjadi penuh emosi, aku bisa melihat air matanya ingin keluar dari pelupuk matanya yang tertutup kacamata.

“Hong??...”
“Ah……. Sudah… sudah… dia kekasihku, Woohyun, bukan Hong… arra?... appa… ini Woohyun… WOO HYUN” jelas Naemi, ia membelakangiku, tangannya dilebarkan seperti sayap, menghalangi orang tuanya untuk melihatku.

“Eomma, bisakah kau bawa Naemi keatas?”
“Ye…”

“Oppa~~~~!!! Jangan dengarkan dia……..” Ibu Naemi, menyeretnya ke lantai atas, aku mendengar pintu yang dikunci. Ada apa ini sebenarnya, mengapa suasananya menjadi aneh seperti ini.

“Ah… mianhae Woohyun… silahkan duduk, kau darimana? Apakah kau tinggal di Pohang?”
“Hm.. Anni… Ahjussi, aku berasal dari Seoul, ke Pohang ingin mengunjungi seorang teman saja”

“Hmmm. Apakah kau sudah lama kenal dengan Naemi??”
“hmmm hanya 4 hari kami saling mengenal Ahjussi…”
“Dan kalian sudah menjadi sepasang kekasih?”
“Hehehehe… iya… mianhae… tingkah-tingkahnya yang konyol bisa membuatku jatuh cinta saat itu juga”

“hmmm… Woohyun, caramu bicara, gerakgerikmu, sama dengan Hong… Apakah kau pernah melihat Naemi sebelum empat hari itu?”

“Anni… ah mianhae Ahjussi… Siapa itu Hong?”

“Sebelum kau melangkah terlalu jauh dengan Naemi, kau harus tahu sebuah cerita, Hong, adalah tunangan Naemi, dia mirip sekali denganmu, tapi sayangnya, Hong meninggal karena penyakit jantungnya, ia meninggal 3 tahun yang lalu. Naemi tak bisa menerima semua keadaan itu, ia selalu kabur kemana saja ia mau, Naemi bilang akan mencari Hong kemana saja. aku sangat khawatir denganya, dengan keadaan Naemi. Aku menghubungi semua kolega yang ada di seluruh pelosok Korea, agar bisa mengawasi Naemi. Aku sangat bersyukur, tidak ada orang yang menyakiti anakku” Ayah Naemi menghapus air matanya. Ia pun melanjutkan ceritanya.

“2 bulan ini, kolega ku mengatakan kalau Naemi menjual lukisan-lukisannya ke sebuah galeri di Seoul, dan dia selalu pergi kesebuah studio pemotretan setelahnya. Kegiatan seperti itu berlangsung terus menerus, setiap hari ia membuat 10 bahkan 20 lukisan untuk ia jual ke galeri. Sepertinya dia memiliki semangat untuk hidup dan melupakan kekasihnya Hong yang telah meninggalkannya lebih dulu”

“Apa nama Studio yang didatangi Naemi Ahjussi?”
“Baddam Studio” Ommo.. itu tempatku bekerja “2 hari sekali Naemi pergi ke Seoul, setiap malam ia membuat banyak lukisan untuk bisa dijual di galeri Seoul. Woohyun.. apakah kau yang bekerja di Baddam Studio?”

“Ye… Ahjussi”
“Kau tahu… Naemi selalu melihatmu di depan studio, ia menunggu didepan studio sampai kau pulang,  kalau kau pulang dia akan pulang. Kalau kau lembur, ia akan lembur memandangimu dari luar studio. Kolegaku mengatakan itu”

“Aku tak pernah merasakan ada yang mengawasiku Ahjussi… benarkah semua ini?”
“Baiklah… tunggu sebentar” Ayah Naemi meninggalkan aku sendirian di ruang tamu.

“OPPA~~~~~!! Oppa~~~~~!! Jangan dengarkan dia… ARRA~~~~!! Oppa SALLANGHAE~~~!!” Aku mendengar Naemi berteriak dan menangis dari lantai atas. Apa yang bisa kulakukan hah? Naemi? Benarkah kau seperti itu?.

“Woohyun… lihatlah foto ini… ini Hong, saat menghadiri kelulusan Naemi, 1 tahun sebelum dia meninggal”
Benar. Aku melihat pria yang memiliki wajah yang hampir mirip denganku, hanya saja apa yang bisa aku lakukan sekarang, apakah Naemi benar-benar gila? Benarkah dia selalu mengawasiku setiap hari didepan studio? Tapi aku begitu mencintainya. Keadaan seperti ini tak bisa membuatku memebencinya, aku semakin mencintainya. Naemi…apakah hatimu begitu sakit menerima semua keadaan ini?

“Woohyun… 2 Dokter mengatakan anakku mengidap gangguan kejiwaan… aku tahu kau mencintainya. Tapi apakah kau sanggup hidup dengannya?”

“Ahjussi… aku sangat mencintainya,  Naemi sangat menderita kehilangan Hong, bagaimana aku bisa meninggalkannya begitu saja… sudah pasti… Ahjussi… aku sanggup hidup dengannya, bagaimanapun keadaan Naemi”

To be continue