- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction - Jill and B part 5


author : Ayuna Kusuma

gendre : romance, 

main cast:
Jessica SNSD : Jill
Joo Won : B
Chemi C-Real : Minna


Jill tertidur lelap di pundakku, kami masih duduk di balkon hingga mentari menyinari bumi, menandakan pagi sudah datang. Jill bangun dengan senyuman yang sangat cantik, tak pernah aku melihat senyuman seperti itu. Aku melihatnya lagi, ia gerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan, ia lemaskan semua otot-ototnya, menggoyangkan pantatnya sesekali, dan melupakan aku ada di sampingnya sedang menyelami keindahannya.

“Aish… B apa yang kau lihat hah?” Tanya Jill sambil cemberut

“Tidak ada, hanya saja, celanamu sobek, karena pantatmu begitu besar, apa kau lupa untuk diet?” mendengar kata-kataku, Jill langsung berputar-putar mencoba melihat pantatnya.

“Dasar… pembohong” katanya sambil melemparkanku selimut yang ia pakai semalam. Lalu ia menduduki perutku, mulai memukul-mukul wajahku yang tampan ini. Aku biarkan saja dia memperlakukan aku seperti itu.

“Teruskan saja, Jill… kau tidak akan bisa memukulku seperti ini lagi kalau aku sudah pindah”

“hummm… kau nakal sekali” Ia berpindah posisi, duduk di sebelahku lagi, ia pandangi langit dan berjalan ke pinggir balkon. Lalu melebarkan tangannya, ia kepakkan tangannya seperti sayap.

“B… indah sekali pagi ini, cuacanya juga cerah, hmmm kalau kau pindah ke apartemen temanmu yang bernama Hong, bolehkah…” Tanya Jill sambil tersenyum nakal

“Boleh apa?”
“Bolehkah aku sesekali menginap di kamarmu? Memasakkan untukmu? Bolehkah?”

“Tidak boleh, kalau kau ingin memasakkan untukku, boleh saja, tapi aku tidak akan membolehkanmu tidur dikamarku, kau akan merusak game-gameku yang baru. hihihi”

“B~~~~~~!!! Kau jahat sekali~~~!!” Teriak Jill, ia lari kearahku lalu melompat menduduki perutku lagi.
“Awww” jeritku, perutku seperti dilempari batu 10 ton.

“Kau jahat sekali, aku kan ingin sesekali tidur denganmu”

“Kalau kita kakak adik kandung, aku mau menemani kau tidur, tapi keadaan sudah berbalik, kita orang lain Jill, dan aku tak mau tidur denganmu, itu akan membuatku lupa, dan membuatmu menjadi tak berharga lagi, kamu mengerti sekarang? Hah? Menjauh dari perutku? Awww…. Kau melukai perutku” perutku masih terasa mulas, dan tulang belakangku mengeluarkan suara retakan ketika aku bangkit dari kursi santai di balkon.   

“Hum… B.. maafkan aku…”

“Ya… Lupakan aja…”

“AHHHHH Aku ingat…… lalu kalau kau pindah, bagaimana pekerjaan kita?? Huh??”

“kita tidak punya pekerjaan kan?”

“Dasar Bodoh, Mencuri~!!! Bukankah itu pekerjaan kita selama ini??”

“Ssssssssssssssttt” kataku sambil membungkam bibir Jill yang merah merona “Ssst….. di kamarmu ada Minna, kalau ia tahu tentang kita, kau tahu apa jadinya?”

“hum hummm…”
“Kita perlu pekerjaan baru Jill. Aku tak mau selamanya menjadi pencuri, Aku tak mau anak kita nanti tahu kalau orang tuanya kerjanya hanya mencuri, dan mengambil hak orang lain”

“hmm… benarkah? Ternyata sampai disana pikiranmu B” kulepaskan bungkaman tanganku, Jill tersenyum lagi, lebih manis dan tatapannya penuh harapan “Ya… B aku tak ingin anak-anak kita punya orang tua pencuri… huumhuhuhu…. B… berarti kita akan segera menikah kan?”

“huh??? Siapa yang mau menikah denganmu? Siapa?”
“B… hummmm… jangan bercanda aku serius…. Apakah kau mau menikah denganku suatu saat nanti?”
“Pasti…” aku berbisik ditelinga mungilnya
“Apa? Aku tidak dengar”
“Pasti… kataku”

“Terima kasih B, semoga …” Jill melingkarkan tangannya di pinggangku, lalu memelukku sangat erat. Aku semakin tahu ia begitu mencintaiku, seperti aku mencintainya.

Setelah kami bergantian mandi, dan memasak bersama pagi itu, sarapan pun kita nikmati bersama. Kami pun bergegas membawa Minna ke rumah sakit terdekat.

Kami tak memiliki kursi roda, bahkan kasur beroda, maka dari itu aku harus mengangkat dan menggendong Minna sendirian. Kulihat tatapan Jill yang penuh cemburu pada sosok Minna, sebenarnya ia tak perlu seperti itu. Karena Minna hanya orang biasa buatku, hanya teman yang memerlukan bantuan.

Aku sangat khawatir mengenai keadaannya, selama 3 hari ia tak sadarkan diri, apakah segitu parahnya trauma yang ia alami? Kekhawatiran yang ada di pikirannya?.

Sampai di rumah sakit, aku dan Jill hanya disuruh menunggu di depan kamar periksa. Jill tampak bosan, sedari tadi ia hanya memainkan smartphonenya, memainkan bibir mungilnya dan menggulung rambutnya.

“Jill, sini duduk di dekatku” pintaku
“hum” ia mendekatiku, duduk lalu menyandarkan kepalanya di pundakku seperti tadi pagi “B… bagaimana kalau anak itu terkena luka dalam, atau koma atau apalah… aku sangat khawatir”
“ya. Aku juga khawatir, kita tunggu saja proses pemeriksaannya”
“B. Bolehkah aku mengaku? Aku tak bisa menahan perasaanku”
“ya.. boleh… mengaku tentang apa?”
“Aku cemburu…”
“ha? Cemburu pada siapa?”

“Padamu… kau menggendong Minna dengan sangat romantic, selama ini kau tak pernah memperlakukan aku seperti itu… aku cemburu… B… bagaimana ini?” Kata Jill sambil terisak, aku rasakan tetesan air matanya di lenganku, mengalir begitu saja.
“Sudah… jangan menangis, cemburulah, karena itu sebuah tanda cinta, Aku suka kalau kau cemburu, cemburulah sesukamu, dan bilang padaku kau mau apa. Hum?”
 “ya….hummm…”

Greeeek……. Pintu ruang periksa terbuka, seorang pria berbaju dokter mendatangi kami, Ia sesekali melihat catatannya.
“Minna, dia gadis yang telah dilaporkan telah hilang karena diculik, orang tuanya melapor 3 hari yang lalu, dimana kalian menemukan Minna? Apakah kalian temannya?” kata dokter itu dengan tenang
“Ya. Kami teman Minna” kata Jill sambil menghapus air matanya yang tersisah
“Baiklah, silahkan ke ruanganku, mari…” kata dokter itu menyuruh kami mengikutinya.

“Baik.” Kataku. Kugenggam tangan Jill, “Jill kau tadi ingin digendong kan? Ayo aku gendong di belakang”
“Ah… tidak, seperti anak kecil saja”
“Tidak apa… aku ingin kau merasakan gendonganku hum? Mau? Ayo… siap-siap”
“Baiklah~~!” kata Jill dengan ceria.

Aku menggendongnya di belakang, menuju ruangan yang diberitahukan dokter tadi, Ia hanya tersenyum saja melihat aku menggendong Jill. Sampai di sebuah ruangan, suasana kembali serius.

“Kalian suami istri yang sangat romantis, aku iri dengan kalian hehe… baiklah, kita bahas mengenai teman kalian Minna”
“Hehe.. kami bukan su…” belum menyelesaikan perkataanku, Jill sudah mencubit perutku, matanya melotot dan mulutnya mulai tampak aneh, hehehe. Baiklah, aku biarkan saja.
“Hum? Sudah siap menyimak penjelasan saya ?”
“iya ya dok… maaf suami saya banyak bicara hehe” mata Jill masih melotot padaku, tapi aku menyukainya, saat ia mengatakan ‘Suami’

“Jadi… Minna, mengalami shock, trauma yang keterlaluan, hingga bisa membuat tubuhnya menjadi begitu lemah, Sementara kami akan menyarankan, agar Minna dirawat di Rumah sakit dulu, sebentar aku akan menelpon polisi dan keluarganya, agar mereka bisa mengakhiri pencarian Minna”

“Stop… Dok, Kalau kau ingin lapor polisi dan bilang Minna ada di rumah sakit tidak masalah, tapi jangan dengan keluarganya. Kau harus tahu cerita kelam keluarga Minna. 3 Hari yang lalu, ia minta aku selamatkan, karena ia sangat takut dengan ayahnya” jelasku
“Dengan ayahnya??” tanya dokter dengan wajah penuh kerutan tanda tanya.

“Iya… Ayah gadis itu akan memperkosa anaknya sendiri, dan kata suamiku,  Kakak  Minna sudah diperkosa berkali-kali oleh ayahnya sendiri. Dan dokter ingin menelpon keluarganya, hah? Kau ingin anak itu diperkosa???” Jill merasa emosi dan bergantian melotot pada dokter.
‘Ssst… sudahlah… jangan emosi’ Bisikku pada Jill
“Ya… Ya…. Aku tidak akan menelpon keluarganya, dan polisi. Kita sembuhkan Minna terlebih dahulu, dan nanti kita akan menanyakan semuanya saat dia sadar. Baik, silahkan tanda tangani disini, untuk tanda menyetujui perawatan Minna di rumah sakit ini”

Aku tak ingin hanya menandatangani, aku baca semua tulisan di lembaran itu, Ya, memang isinya hanya surat persetujuan dan pembayaran rumah sakit. Aku tak ingin lengah, aku harus begitu hati-hati, karena kami dulu pernah menjadi pencuri. Kemungkinan kepolisian pun memiliki data-data kami. Ah… mengapa begitu rumit seperti ini, tapi aku sedikit menyukai dokter yang bernama Noh itu.

“Ya, sudah selesai, pembayarannya akan kita urus setelah perawatan Minna sudah tuntas”
“Baik. Bolehkah kami kembali?” Tanya Jill dengan nada sebal
“Oh silahkan Nyonya, silahkan” kata dokter menggoda
“Sekali lagi kau memanggilku Nyonya, aku patahkan rahangmu” kata Jill sambil melihatkan tangannya sambil meremasnya di hadapan dokter Noh.
‘ssst… jangan buat masalah dengan dia’ Bisikku, “Maaf dok, Istri saya, sedang morning sickness, jadi melihat siapapun dia sebal”
“Oh…. Yayaya saya mengerti, selamat ya Nona… Semoga anakmu diberikan keberkahan”

Aku genggam tangan Jill dan membawanya keluar dari ruangan itu.

“Hahahaha… B. Lihatlah dokter itu takut padaku, lihat wajahnya hihihihi” Jill melompat-lompat di depanku “Dan kau tadi…. Bilang aku istrimu… ahhhhhhh bahagianya hari ini…. Ayo aku traktir Bibimbap
“Eiiss…. Kau membuat masalah saja”
“Humm jangan marah padaku, aku kan istrimu”
“Dasar, kita belum menikah”
“Tapi aku istrimu, gendong aku lagi.. ayo…. Hummm”
“Tidak mau, kau merepotkan saja”

“Aku MAU GENDONG” teriaknya diantara antrian pasien di lobi rumah sakit, Ia melompat ke punggungku, dan akhirnya aku menggendongnya lagi, dari rumah sakit sampai berkilo meter menuju restoran Bibimbap.
Jill, menyebalkan tapi aku sangat mencintainya, dan menyenangkan bisa membahagiakannya. Aku juga bersyukur, akhirnya Minna dirawat dengan orang-orang ahli dalam bidangnya, Minna harus mendapat perawatan yang tepat, Aku tak ingin anak itu mendapat masalah, karena merasakan menjadi dirinya saja sudah sangat menyakitkan, aku tak ingin ia tersakiti oleh siapapun. 

***
Di Resto, kami makan begitu banyak, karena tadi malam dan pagi tadi perut kami belum terisi. Jill melahap banyak daging pagi ini, dan melupakan dietnya.

"Bill?" sapa pria yang duduk di belakang Jill, ia duduk sendirian, posisinya menghadapku, ia melihatku dengan seksama, begitu juga aku. 
"Hong~~!!!" 
"Bill~~~!!!" Kami melompat dan bersalaman, Dia Hong, temanku semasa SMA, aku berencana menghubungi dia saat di rumah nanti, tapi takdir telah menemukan kami lebih cepat.

"Oh... Bill, kau sudah semakin tampan hehehe, ah...... Nuna... Aku Hong, kau masih ingat kan?" kata Hong, sambil menngambil tangan Jill yang sibuk menyuapkan daging besar kemulut. Hong menggenggam tangan Jill dengan lembut dan ia cium "Selamat bertemu kembali Nuna... " 

"He...... " Jill menatap Hong dengan tatapan terpesona, berbeda bila ia menatapku, ia tak pernah menatapku seperti itu, hmmm apakah sekarang aku cemburu???

To Be Continue…


Fanfiction ini disponsori oleh:

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler