- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction The Moon and The Sun Part 3



Author : Ayuna Kusuma

Genre : Romance, Sad

Maincast :

Joong Ki / Shin : Song Joong Ki
HoongKi : Lee Hong Ki
Manajer Lim : Kwang Soo
Hyeri : Hyeri Girls Day
Gwon : masih rahasia ^__^

Apartementku sudah dipenuhi wartawan, sebenarnya aku ingin mengambil baju dan beberapa buku-buku yang ingin ku sumbangkan untuk panti asuhan tempat Gwon tinggal. Dibalik para wartawan aku melihat manajer Lim sedang sibuk memerikan bukti kepada para wartawan. Kupakai masker dan topi yang sedikit tertutup, agar semuanya tak melihatku. Mobilku sengaja kuparkir jauh dari apartemen, karena aku sudah paham situasi seperti ini.

Disaat ada yang menjebakku dan ingin menghancurkan karierku dengan menyebar banyak issue busuk, para wartawan berkumpul di apartemenku, aku tak ingin menyingkir dari mereka. Para wartawan itu sedang bekerja, walaupun pekerjaan mereka sedikit membuat orang lain menderita. Aku menghargai pekerjaan mereka, tapi kalau sudah mencuri fotoku seperti kemarin, yang kurasakan hanya kecewa.

“Jadi… perlu diketahui semuanya, JoongKi hanya dijebak oleh orang ini” kata manajer lim sambil menunjukkan nama dibawah tanda tangan yang masih belum terungkap.

“JB… orang ini yang telah membuat Hyeri di perkosa dan memberikan statement bahwa Joongki yang melakukan semuanya”
“Wooooahh… benarkah itu baiklah kami catat, ayo foto semuanya” kata seorang wartawan. Teman-temannya pun mencatat nama dan memotret surat kerjasama JB dengan Hyeri.

“Oh.. terima kasih Hyung, kami mendapatkan jawabannya, hehehe” kata seorang wartawan sambil menunduk menghormati manajer Lim.

“Yaya… aku mengerti, sekarang pergilah, jangan membuat artisku stress, okey?”

“Ye… Mr Lim” mereka pun pulang dengan tergesa-gesa, kemungkinan mereka langsung ke kantor dan menulis semua berita hari ini, aku bisa menebak, beberapa dari mereka pasti ada suruhan dari JB, yang akan memutar balikkan fakta.

“Ssst… Manajer Lim…” bisikku dari jauh… “Ssst.. hei… ini aku…” panggilku, Manager Lim pun mendekat.
“Oh… Joong Ki. Cepat keatas sebelum mereka kembali”

“Iya… ssshhh.. ck.. bagaimana tadi pertemuan dengan wartawan? Sepertinya lancar saja? Oh,, apakah mereka menungguku?”
“Iya…ayo cepat ikut aku ke atas” Manajer Lim menarikku menuju Lift.

“Joong.. apakah sudah menemukan tempat untuk tinggal sementara? Disini sepertinya sangat bahaya untukmu, aku lihat tadi di kamarmu sudah dipasangi kamera rahasia”
“Mwoo?? Siapa yang memasangnya?”

“Aku juga tak tahu, kemungkinan suruhan JB yang tahu kode apartemenmu, sementara pindah saja dulu, kemana saja, atau ke kakakmu, Hoongki? Bagaimana?”
“Tidak bisa… dia tidak mau diganggu, dia sedang kencan dengan seseorang, itulah sebabnya kenapa dia pindah apartemen dan meninggalkanku”
“hmmm… apakah perlu kusewakan apartement lagi?”

“Ahhhsss.. aku sudah punya tempat sendiri”
“Dimana? Didekat Busan”
“Mwoo?”

“Perkampungan kecil, dekat Busan, aku akan tinggal dengan temanku, dia tak mengenalku sebagai Joongki, mereka mengenalku sebagai Shin”
“Shin? Hahahaha… itu bagus, aku bantu kau berkemas, aku akan memberimu liburan selama 3 bulan saja, aku tak bisa memberimu 4 bulan, karena kau ada jadwal syuting film baru”
“Oh benarkah? Kau mendapatkan kontraknya?”
“tentu saja… hehehe”

“Woaah… Hyung memang hebat” kataku sambil memeluknya.
Hari ini semuanya berubah, aku akan menjalani kehidupan sebagai Shin, bukan seorang artis, tapi hanya Shin, pemuda yang ingin mendapatkan kehidupan privasinya lebih banyak. Dan ditempat Gwon lah aku mendapatkan itu semua.

“Joongki, selamat berlibur, sampai jumpa 3 bulan lagi”
“Ye… Gomawo.. hyung…” kami pun saling berpelukan, dia manajer yang terbaik yang pernah kumiliki.

***

Sebelum memutuskan untuk tinggal di panti asuhan bersama Gwon, aku mampir ke kantor Hoongki.
“Annyeong…”
“Annyeong… joongki… apa yang membuatmu datang ke rumah sakitku?”

“Hyung… aku akan pindah”
“Kemana?”
“Ke suatu tempat yang bisa membuatku bahagia”

“ohh hehehe… bicaralah padaku kau akan kemana?” Tanya Hoongki sedikit memaksa. Titititi… smartphone Hongki berbunyi dan aku melihat Hyeri yang menghubungi Hoongki. Lalu dengan cepat kakakku mematikan dan menyembunyikannya dibalik jas dokternya.

“Ah… maaf aku tak bisa… Hyung ini untukmu” Kataku, aku menyerahkan satu pak gingseng pada Hongki, mungkinkah kakakku ada hubungannya dengan masalahku? Itu yang membuatku tak mau memberitahukan dimana aku tinggal.

“Gingseng?”
“untukmu dan kekasihmu, hehehe kapan kalian akan menikah?” mencoba mencairkan suasana.
“hmmm… terima kasih. setelah semua urusan selesai, aku akan menikahinya”

“Urusan?” tanyaku curiga, dan dia hanya menganggukkan kepala sambil mengotak-atik smartphonenya.

“Hyung aku akan pindah dan tidak bisa mengunjungimu selama 3 bulan, apakah kau tidak tertarik untuk memeluk adikmu ini?”
Hyung memelukku tapi sepertinya ada yang berbeda dari tingkah lakunya. Ini semakin membuatku curiga.

Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan, apakah yang sedang dilakukan mereka berdua? Hoongki dan Hyeri? Apakah mereka pernah kenal sebelumnya? Apakah Hyung yang melakukan semua ini? Apakah ia iri dengan semua pekerjaanku dan ketenaranku? Padahal ibu dan ayah hanya bangga terhadap dirinya bukan padaku.

***

Aku menunggu di didepan panti asuhan, dan menunggu gadis bernama Gwon itu keluar dari sana, saat dia keluar aku akan menghampirinya, mengatakan kalau aku ingin tinggal disana. Tapi sampai sore dia tak keluar juga.

Masih menunggu Gwon, aku memikirkan lagi mengenai HoongKi dan Hyeri. Mungkinkah mereka memiliki hubungan percintaan, mungkinkah Hyeri adalah kekasih Hoongki, sehingga Hyung ingin pindah dari apartemenku ke tempat lainnya dan tak pernah mengabariku dimana ia tinggal.

Lalu kalau seperti itu, apa sebenarnya yang mereka inginkan dariku, Lalu siapa JB yang menandatangani surat perjanjian kerjasama itu. Ahhhss.. aku semakin pusing memikirkannya.

Dok Dok Dok.

Aku dikejutkan oleh seorang gadis yang mengetuk pintu mobilku. Dialah gadis yang ku tunggu, Gwon berkali-kali mengetuk pintu mobilku.

“Annyeonghaseyo…” katanya datar padaku
“Ye… Annyeong…” Balasku, aku langsung keluar dari mobil, Gwon memandangiku tatapan datar, saat aku membuka pintu mobil, dia tidak pindah dari tempatnya berdiri, sehingga aku seperti mendorongnya.
“Eh, mianhae… kau tak apa?” kataku

“Anni… Ahjussi.. bisakah anda memindahkan mobil dari jalan ini? Karena Tuan Pyo, tetangga kami akan marah kalau ada yang memarkir mobil didepan rumahnya”

“Oh… ye… arraso” heran, mengapa Gwon tak mengenaliku sama sekali. Aku memindahkan mobilku dan memasukkannya kedalam halaman panti asuhan. Kulihat Gwon hanya berdiri ditempat yang sama. Lalu dia melihat ke segala arah, dan dia mencoba mendengarkan, lalu berjalan kearahku. Apa yang sedang ia lakukan?, ia menatapku.

“Ahjjussi.. apakah anda akan mengunjungi panti asuhan?”
“ye…” jawabku sambil melihat matanya, tak ada yang aneh dengan matanya, tapi pandangannya begitu hampa.
“Ahjussi, maaf waktu berkunjung sudah berakhir, kau bisa berkunjung lagi besok”

“Oh… Anni.. aku ingin tinggal disini, Gwon, kau tak mengingatku?”
“Ahjussi, kau mengenalku?”
“Tentu saja… beberapa waktu yang lalu kita bertemu”

“Ah….. benarkah?”
“Iya… Aku Shin dan jangan memanggilku Ahjussi, karena aku masih 22 tahun arra?”

“Mianhae… Ahju… ah Shin, aku tak bisa melihatmu, mataku buta, jadi aku tak bisa mengenalimu, apakah kau jadi ingin tinggal disini Shin?”
“……” Aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa lagi, kami saling berhadapan, aku melihat matanya, tak ada yang salah dengan matanya, tak ada yang bisa mengira kalau dia buta.

“Shin, ayo aku antarkan ke Ibu Asrama” Katanya
“Sebentar, b.. benarkah kau…”

“Ya… aku sudah terlahir buta, semua yang pernah kukenal mengatakan mataku seperti orang normal, tapi aku tak bisa melihat mereka semua termasuk dirimu Shin, mianhae.. ayo kuantar ke ibu asrama”

“Gwon… berapa usiamu?”
“mwo?... usiaku saat ini masih 20 tahun”
“Gwon kalau kau bisa melihat dirimu sendiri, kau akan bahagia”
“wae…”

“Karena kau terlahir sebagai wanita yang cantik dan baik, aku tak pernah tahu kau buta Gwon, beberapa waktu yang lalu kau menemani temanmu berjalan dan kau menolongnya saat terjatuh, aku tak pernah berpikir kalau kau buta, kau memang gadis yang hebat yang pernah kutemui Gwon” saat mendengar kata-kataku, pipi Gwon berubah menjadi memerah.

“terima kasih, Shin, hmmm aku tak bisa berlama-lama, karena aku harus memasak untuk semua anak yatim yang tinggal disini, ayo ikut aku, aku kenalkan dengan ibu asrama”
“Wow… kau juga bisa memasak?” tanyaku terkagum-kagum

“Hum… kau mau makan apa malam ini?” katanya sambil memanduku masuk kedalam panti asuhan.
“Oh.. aku ingat, aku punya gingseng, aku ingin ayam gingseng, bisakah kau memasaknya?”
“tentu saja.” Jawabnya singkat,

“Sejak kapan kau belajar memasak?”
“Sejak umur 7 tahun, mana gingsengnya?” Tanya Gwon.

“Ini” kataku sambil memberikannya sekotak gingseng, Gwon langsung mengambilnya, tapi dari gerakan tangannya aku tahu bahwa dia benar-benar tak bisa melihatku. Dia meraba-raba tanganku dan mengambil kotak Gingseng. “Gomawo… aku akan memasakkan untukmu, Ibu asrama ada dikantornya, kau belok kekanan lalu ke kiri”

“Humm… Gomawo.. Gwon” Gadis itu berlalu dan masuk kedalam dapur, aku tak tertarik menemui ibu asrama, aku lebih tertarik mengikuti Gwon dan melihatnya memasak. Sepertinya dia mengenali semua sela-sela tempat ini, dan semua letak bahan makanan ia tahu.

Aku memandanginya yang sedang memasak nasi, menyalakan kompor, mengupas bawang, memotong ayam. Tak terasa air mataku menetes. Tuhan, mengapa gadis secantik dia kau berikan cobaan seperti ini. Tapi aku kembali sadar, kalau dia bisa melihat, dia akan bertindak seperti gadis lainnya, hanya peduli dengan dirinya sendiri dan kebanyakan suka menyakiti hati pria.
Gwon, entah mengapa, sepertinya aku mulai mencintaimu.

To Be Continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler