- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction The Moon and The Sun Part 7 Series



Author : Ayuna Kusuma

Genre : Romance, Sad

Maincast :

Joong Ki / Shin : Song Joong Ki
Gwon : Yoon Eun Hye

***

Plazz… Gwon kembali menamparku.

“apakah orang yang mencintaimu harus kau tampar dulu lalu kau terima?” tanyaku dengan sedikit emosional.

“…….” Gwon masih diam saja, aku keluar dari mobil dan memakai topi juga kumis palsu, juga kacamata hitam. Ibu Gwon meminjamiku baju Joo yang sedikit kekecilan, tak apa ini akan aku pakai setengah hari saja.

Repotnya menjadi pria yang selalu dikejar wanita dan penggemar ya seperti ini. Padahal aku ingin sekali menjadi orang yang biasa saja, memiliki satu wanita yang kucintai, menjalani hidup yang biasa saja tanpa ada orang lain yang mau mengusik dan menanyakan tentang hidupku. Itu semua sudah konsekuensi yang harus aku terima.

“Ayo turun Gwon” kataku sambil membuka pintunya.
“Aku ingin kembali, kau ingin membelikan aku buku karena kau ingin mendapatkan ciuman dariku kan?” Gwon mengutarakan pemikirannya sambil menahan tangis. Apakah dia begitu ketakutan padaku. Oh Gwon..

“Ommo… aku tidak akan melakukan itu, ayo turunlah, sebelum banyak yang sadar kalau artis ternama sedang berkeliaran tanpa penjagaan”

“Aku tidak mau Shin, kau sepertinya sangat meremehkanku, aku tidak perlu buku… aku hanya perlu…”

“Kau sangat perlu percaya dengan orang lain okey? Apakah kau marah padaku karena yang kulakukan tadi? Hm? Aku tak akan menciummu, aku tak akan melakukan itu sebelum kau menyetujuinya, tadi aku hanya mencoba bercanda denganmu”

“Jadi kata-kata cintamu itu hanya sekedar bercanda? Huh… tak heran kalau banyak wanita mengejarmu, kau membuat mereka sebagai permainanmu” Kata Gwon sambil turun, dan berjalan menjauh dari mobil.

“Gwon.. mau kemana kau?” kataku sambil menggenggam lengannya.
“Aku mau pulang, kalau kau mau beli buku, belilah sendiri untukmu, aku tak mau”

“Gwon… jangan keras kepala seperti ini okey?”

“Aku tak mau menjadi permainanmu selanjutnya Shin atau Joongki…” dia berhenti didepan lapangan parker. Dia mengulurkan tangan ke depan dan merasakan apa yang ada di depannya “Jadi… aku harus memanggilmu apa? Shin? Joongki? Hah? Namamu saja kau buat mainan apalagi aku dan keluargaku”

“Didepanmu ada jalan raya, sangat padat banyak mobil yang melaju cepat didepanmu. Pulang saja, terserah kau mau memanggilku apa” Kataku sedikit putus asa “Gwon… ternyata kau tidak bisa diajak bercanda, pulanglah, aku akan tetap membelikan buku untukmu, karena aku tulus ingin membuatmu bahagia, terserah apa yang ingin kau lakukan, lakukanlah, terserah kau marah padaku, aku tidak pernah bermain dengan kata-kata cinta, aku mencintaimu Gwon, pulanglah, aku tidak bisa mengharapkanmu” Kataku, aku berpaling darinya dan berjalan beberapa langkah, lalu berbalik lagi melihat Gwon yang diam saja.

Sudah hampir lima menit aku menunggu reaksi Gwon, ia tetap saja berdiri terdiam di posisi semula. Tiba-tiba Gwon berbalik padaku, ia berjalan mendekatiku, dan akhirnya kami berdua bertambrakkan.
Gwon kembali meraba-rabaku, ah, mengapa dia tidak memukulku, bagaimana kalau aku orang lain. Dia memang sering salah mengambil sikap. Tapi aku yakin dia sengaja meraba-raba wajahku, dia pasti mencium parfum yang biasa ku pakai.

“Shin… maafkan aku…”
“Ayo ikut denganku, kita beli buku yang banyak, okey? Kau sudah tidak marah kan?”
“hum…” Gwon tersenyum padaku, “Terima kasih kau sudah menungguku, hingga marahku habis, maaf kalau aku terlalu buruk sangka padamu Shin”

“no problemo hehehe”
“Hehehehe…”
Kami sudah berada di toko buku, banyak sekali orang yang ada di toko buku. Hal itu membuat Gwon sedikit nerveus. Dia tak sadar telah menggenggam tanganku, tangannya basah karena keringat.
“Sudah… jangan terlalu takut, kita disini belanja bukan menemui mafia”

“hehehe… iya shin, kumohon jangan lepaskan tanganku ya”
“ye…” Kami berkeliling toko buku, akhirnya kami menemukan juga buku khusus untuk orang buta, Gwon terlihat bahagia dengan apa yang telah dia dapatkan.
“Gwon, cobalah raba ini, apa yang kau baca?”
“hmmm… aku tak tahu… “
“Benarkah?”

“Hum… aku belum bisa menulis dan membaca”
“oooo… okey, aku akan belikan banyak buku untukmu, kita belajar bersama di rumah ya”
“Ye… gomawo Shin…”
“Humm…”

Aku membelikannya 40 buku, 20 buku pelajaran mengeja, 10 buku pelajaran berhitung, 10 buku cerita untuk melatih dia membaca. Setelah lelah mencari buku, Gwon terlihat tidak begitu lelah, di mobil dia menyanyikan beberapa lagu yang dia sukai, aku sengaja tak menyalakan radio, agar Gwon tetap menyanyi.

“Shin… apakah 40 buku itu tidak terlalu banyak?”
“tidak… kau mau kemana sekarang? Kita makan di restoran?”
“Dunia luar ternyata begitu ramai… hhuhuhuumm… aku menyukai mereka semua, mendengarkan mereka berbicara sepertinya menyenangkan” Ia mengalihkan pembicaraan, pasti perasaannya saat ini sangat bahagia.

“Hehehe… kalau kau suka mendengarkan cerita orang lain, kau bisa bekerja sebagai psikolog”
“apa itu?”
“Orang yang kerjanya hanya mendengarkan orang lain bercerita” jelasku
“Oh.. ada pekerjaan yang seperti itu?”
“Tentu saja ada… hehehe”
“Shin…. Kalau begitu, aku ingin mendengar mengenai masalahmu saja”
“Wae…”

“Karena kau temanku, kau bilang kau mencintaiku, tentu saja aku harus baik denganmu, Joo bilang kau juga sedang ada masalah sampai kau menghilang selama 3 bulan, dan aku tertarik denganmu, aku ingin mendengarkan masalahmu saja… bagaimana?” Gwon berkata dengan antusias. Dia bilang dia tertarik padaku.

“Kau tertarik padaku?”
“Ye….”
“Hah?? Kau juga mencintaiku”
“Hasssh… aku tertarik dengan kehidupanmu, bukan masalah cinta, Shin mengapa kau sangat cepat kalau membahas tentang cinta hum? Heheh”

“Ahh… kau membuatku malu saja”
“Hehehehe shin… ada yang mau kutanyakan”
Tititititi…. Tiba-tiba handphone ku bordering. Aku terpaksa menghentikan laju mobilku dan menerima telp dari Hoongki.

“Yeoboseyo…”
“Joong… kau dimana?” suara Hoongki terdengar begitu emosional
“Aku, sedang berlibur, wae?”
“Hyeri, dia hamil, apa sekarang yang akan kau lakukan?”
“hmmm aku sudah tahu tentang kabar itu”
“apakah kau melakukannya?”
“Wae…. Kau sendiri yang membantuku memeriksa keadaanya saat dia terkapar didepan apartementku, mengapa kau menuduh ku yang melakukannya?”
“Aku tidak tahu dia terkapar atau tidak, kau menelponku saat dia sudah tertidur di sofamu, apa kau melakukannya? JAWAB DENGAN JUJUR” tiba-tiba dia membentakku.
“Hyung… dia menjebakku, aku sama sekali tak menidurinya, aku sama sekali tak melakukan itu”
“Aku tak percaya padamu, sudah banyak wanita yang mengabarkan kalau kau menghamili mereka, jangan-jangan kau memang melakukannya, lalu kau menghindar dan mengatakan kalau kau dijebak”
“Hyung.. bisa-bisanya kau bilang seperti itu padaku, AKU DI JEBAK OKEY???”
“Lalu mengapa Hyeri…”
“Mengapa Hyeri menelponmu dan kau menyembunyikannya dariku? Hah? Saat kita terakhir bertemu, mengapa kau menyembunyikan telpmu hah? Apakah kau yang mempermainkanku? Apa kau yang menjebakku? Aku sudah punya bukti kalau aku sedang di jebak Hyung. Ini permasalahanku, dan jangan pernah lagi mengurusi permasalahanku”
“Kau adikku Joong…”
“Tapi kau tak pernah menganggapku sebagai adik, kau selalu menganggapku sebagai pesaing, sudahlah Hyung, aku bisa mengatasi masalah ini sendiri”
“Jangan pernah menyakiti Hyeri” Lalu Hoongki mematikan sambungan telpnya.

Aku semakin bingung, apa sebenarnya hubungan Hoongki dengan Hyeri, mengapa ia tak mau aku menyakiti Hyeri. Aku tak pernah menyentuhnya sekalipun. Gwon melihatku, dia meraba dadaku dan mengatakan
“Shin… tenangkan dirimu…”
“Hmmm…” aku lanjutkan mengemudikan mobil dijalanan Busan yang ramai.
“Aku percaya, masalahmu akan berakhir, dan kau bisa bekerja lagi sebagai artis”

“Aku tak mau lagi bekerja seperti itu…”
“hmmm…”
“Aku akan mencari pekerjaan lainnya”
“Aku tidak bisa membantumu Shin… mianhae…” kata Gwon sambil menatap kedepan.
“Kau sudah membantuku Gwon, dengan adanya dirimu, aku punya kekuatan dan alasan  untuk bisa tetap hidup”

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler