- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction # Summer Of Love # Part 3 # Series


Author : Ayuna Kusuma

Gendre : romance,

main cast:
Boram : Ahreum T-Ara
Yeol : SungYeol Infinite
DayLim : Hwa Young

Part 1 Author Web : http://ayuna.ok-rek.com/2013/04/fanfiction-summer-of-love-part-2-series.html


Daylim sedari tadi menyetir sambil sibuk menghapus air matanya. Ia pasti begitu mencintai adiknya, aku tak bisa membayangkan sudah berapa liter air mata yang ia habiskan. Humm, aku sendiri saja sempat bingung, apa yang harus kulakukan, apakah aku harus menangis seperti Daylim, kalau aku menangis tidak akan ada yang bisa menguatkan keluarga Boram. Maka aku putuskan tak menangis apapun yang terjadi.

Aku tak pernah bisa berpikir bila jalan kehidupanku akan seperti ini. Mengapa aku tak punya kesempatan untuk mengetahui kejadian ini lebih cepat, misalkan lebih cepat aku ke Berlin, lebih cepat pula aku bisa membantu Boram dan keluarganya.

“Nuna... mengapa kau tak mengabariku saat Boram kecelakaan? Sedangkan kau tahu Boram sedang menjalin hubungan denganku?“ kumulai pembicaraan di dalam mobil, pembicaraan yang membuat kami berdua merasa sesak.

“Soal itu, maafkan aku, aku tak berpikir tentangmu sebelumnya“ kata Daylim sambil mencoba mengeluarkan ingusnya yang membuat ia susah bernafas.

“Ah... aku mengerti, apakah kau menerima emailku? Kau sekarang menggunakan ipad Boram kan? Ah iya apakah semua teman Boram sudah kau beri tahu?“ Tanyaku dengan nada tenang, aku tak ingin suasana menjadi semakin larut dalam kesedihan

“Selama ini hanya kau teman Boram, dan hehehe... aku lelah menerima emailmu, kau mengirimiku 189 email, itu yang membuatku tak tahu apa seharusnya yang aku katakan“ Aku bersyukur suasana hati Daylim sudah membaik sekarang, jadi ia bisa menyetir dengan tenang.

“hmmm... Boram gadis yang manis, mengapa hanya aku saja temannya, dan kau Nuna... kau hampir membuatku membenci Boram karena kebohonganmu. Kalau Boram sadar kau harus meminta maaf padanya“

“Tapi nyatanya kau tak pernah membenci Boram kan? Humm... aku iri pada kalian berdua, Yeol, kita sudah sampai, kau janji akan mencintai adikku selamanya? Dalam keadaannya seperti sekarang?“
“Janji, dan kau Nuna, janji tidak membuat adikmu lebih menderita lagi?“
“Iya janji.“

“Baik. Kita sudah impas. Bentar tunggu aku“ Kulihat didepan rumah sakit ada toko bunga, Aku ingin membelikan bunga matahari kesukaan Boram. Aku harap Boram merasakan dan mencium baunya yang segar.

Kulangkahkan kakiku, kurapikan perasaanku, kukuatkan hatiku, Daylim berjalan didepanku, sesekali ia masih menyapu air matanya dengan tisu. Memasuki ruangan rawat Boram, kami memakai baju dan masker, dan beberapa suster menyemprot kami dengan cairan pembersih. Boram, Aku datang padamu, mari kita bersenang-senang di sisa musim panas ini.

„“Boram.... coba tebak siapa yang datang? Humm?“ kata Daylim dengan nada ceria, tapi aku tahu pasti ia sangat sulit menahan air matanya di saat seperti ini.

Aku masih terdiam, bersandar di pintu masuk. Melihat kekasihku dengan keadaan seperti itu, aku menjadi sangat lemah. Lalu entah mengapa aku keluar begitu saja meninggalkan kekasihku dan Daylim.
Tubuhku sangat lemas, kakiku yang kuat kini lemah dan menjatuhkanku. Badanku gemetar. Boram, aku tak sanggup melihatmu seperti ini. Aku sungguh tak berguna, mengapa baru sekarang aku tahu keadaanmu seperti ini.

Mengapa tidak tiga bulan yang lalu aku datang ke Berlin, saat kau bilang, kau sedang sibuk dengan wisuda, saat kau sibuk dengan mencoba membuka stand di Berlin,saat kau bilang kau ingin aku berada di sisimu secepatnya, saat kau bilang kau sangat merindukanku, saat semuanya baik-baik saja, mengapa aku tak mendatangimu saat itu juga.

Lalu kurasakan tamparan keras, aku tersadar, Daylim yang telah menamparku, ia berdiri di depanku, menangis sebisanya

“Yeol... apa kubilang.... Kau tak akan bisa menerima keadaan ini, iya kan? Kau tidak bisa menerima Boram dengan keadaan seperti itu kan? Hah??? Apakah kau takut melihat wajahnya? Apakah kau malu, memiliki kekasih seperti dia?? HUH ??? Jawab pertanyaanku...“ kurasakan tamparan lagi ditempat yang sama, tamparan Daylim tak pernah membuatku sakit, kali ini yang sakit hanya hatiku.
“Ya... Nuna.....Iya aku tak bisa menerima semua ini. Kekasih seperti apa aku ini, saat kekasihku dalam situasi yang parah seperti itu aku tak pernah tahu dan tak pernah ingin mencari tahu. Dan KAKAK seperti apa kau ini HAH???... Sudahlah Nuna... Tak perlu khawatir, Aku masih tetap mencintai Boram. Jangan pernah kau meragukan yang kurasakan“ 

“Boram.......“ Kata Daylim sambil beranjak melangkah ke jendela kaca yang menghubungkan lorong rumah sakit dengan ruangan Boram, “Boram... kalau dia sadar, dia akan menjalani oprasi plastik, dan dokter akan membuatkan kaki palsu untuknya. Jadi kau tak perlu khawatir, ia akan kembali cantik seperti dulu, dan kau tak akan malu menjadi kekasih bahkan suaminya“

“Hmmm... Aku baru sadar, ternyata pemikiranmu begitu picik Nuna... Aku tak pernah mencintai adikmu karena penampilannya, aku mencintainya, karena aku yakin dia juga mencintaiku. Sudahlah Nuna, jangan pernah lagi berpikir seperti itu. Sekarang mari kita membantu Boram untuk kembali sadar“

“Yeol... maafkan aku. Aku terlalu...“ Daylim kembali menangis, Aku bangkit dari dudukku, dan menghapus air matanya.
“Ayo masuk Nuna... Boram pasti menunggu kita“

“Humm...“
Kami berdua masuk lagi dengan hati yang lebih tenang. Situasi Boram saat ini memang membuat siapapun yang melihatnya merasa sedih. Kedua kakinya telah diamputasi, lengannya penuh dengan balutan perban, kemungkinan luka yang sangat parah, dan wajahnya masih terlalu cantik, walaupun banyak goresan dan jahitan di pelipis sebelah kanan.

Selang oksigen, dan infus masih lengkap terpasang, alat pengatur jantungnya pun masih berfungsi. Boram pasti berada di sebuah tempat, sedikit bermain-main di alam bawah sadarnya, atau bahkan ia sudah memiliki stand jus sendiri di alam bawah sadarnya. Hehehe. Aku sedikit bahagia, karena sekarang Boram sudah berada di sisiku.

“Hey... Gadis semangka~!!!“ Aku berteriak ditelinganya
“Aisshh... apa yang kau lakukan Yeol???“ Daylim melihat aku dengan wajah kaget
“Tidak apa Nuna, aku sering membentaknya seperti itu, dan Boramku ini sangat suka kalau aku membentaknya iya kan Boram??“ aku menggerakkan lengan Boram, „“Boram... kemana saja kau hah? Aku sudah menunggumu di Korea, kau tahu berapa gelas jus semangka yang aku habiskan tiap hari? 5 gelas Boram~~~!! Aku kira kalau aku menghabiskan gelas ke 5 kau akan datang di hadapanku. Tapi kau sama sekali tak datang. Gadis semangka...... jangan diam saja, aku gerakkan matamu, ayo bangunlah“
“Yeol, aku pergi dulu, aku harus kembali bekerja, aku titip Boram, jangan berteriak lagi ya“
“Terima kasih Nuna. Kau memang Nuna yang baik. Maafkan aku kalau membuatmu terluka ya?“
“Aish... tenang saja, jaga Boramku okey?“

“Aja..“
Kulihat lagi Boram yang masih tidur dengan nyenyak,
“Gadis semangka...“ Kupeluk kekasihku, mungkin ini pelukan yang begitu menyedihkan, aku tak bisa menahan lagi, akhirnya air mataku menetes, sedikit membasahi baju Boram.
“Gadis... Semangka... pangeranmu sudah disini, memelukmu, kau tak perlu lagi merindukanku, aku sudah ada disini, sedang memelukmu, apakah kau bisa melihatku? Humm?? Bangunlah Boram... Ayo bangun, ikut denganku kemana saja aku pergi, agar aku bisa selalu melindungimu... Boram... atau kau ingin ke suatu tempat? Kau ingin ke California? Atau Vegas? Kau ingin kesana? Aku akan mengantarkanmu kesana.. atau kau ingin makan tteokbokki masakan bibiku? Mau? Aku akan mengantarkanmu kesana, dan kita akan memakan tteokbokki sebanyak-banyaknya... hmmm Atau kau ingin kita menikah?“ Aku sangat terkejut, mata Boram yang sedari tadi tak ada gerakan, sekarang bergerak ke kiri dan ke kanan, lalu bola matanya yang terhalangi pelupuk mata bergerak ke arah kanan, ia memandangiku, aku tahu itu. Walaupun matanya masih tertutup. Aku merasa ia melihatku dan menyambutku.

“Boram... apakah kau ingin menikah denganku?“ Mata Boram kembali bergerak-gerak cepat.

“Kalau kau sadar... aku akan menikah denganmu, aku akan membuatmu bahagia, hehehe... kau harus bahagia memiliki suami sepertiku... Ah.. Mulai sekarang aku harus belajar memasak, aku akan memasakkan untukmu, setiap pagi, siang, dan malam. Aku akan pulang kerja lebih cepat untuk membawamu jalan-jalan, dan aku harus memberimu makanan sehat, aku tak mau wanita yang akan melahirkan anakku nanti ternyata kurang gizi hehehe. Hmm... kalau kita sudah menikah nanti, kau ingin tinggal dimana? Pankow? Seoul? Atau Wakatobi? Beberapa temanku pernah wisata ke Wakatobi. Mereka bilang pemandangan disana seperti surga, kau pasti ingin menikmati surga setiap hari denganku kan? Boram..... hei... gadis semangkaku... ayo bangunlah... bangun... aku menunggumu“ kataku sambil membelai tangan Boram yang lembut.

“bolehkah aku tidur menemanimu disini? Sebentar saja... aku sangat lelah... kau juga tidak mau bangun... hummm... aku harap kau bisa mendengarku Boram... Aku sangat mencintaimu. Kau masih tetap memilikiku, jadi bangunlah...“

Aku sama sekali tak ingin terlihat bersedih dihadapan Boram, cukup sekali saja. Aku harus membuat diriku semakin tegar dan membuat Boram yakin. Aku tetap pantas menjadi pangerannya yang bisa menjaganya sampai kapanpun. Apa yang terjadi besok? Akupun tak pernah tahu, asalkan Boram di sisiku akan selalu kupastikan masa depan kami harus lebih bahagia.

Aku harus menemui keluarga Boram, dan merencanakan pernikahan. Aku sangat yakin kalau kami berdua menikah. Keadaan Boram akan membaik dan cepat sadar. Boram... menikahlah denganku

To Be Continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler