- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction # Summer Of Love # Part 3 # Series




Author : Ayuna Kusuma

Gendre : romance,

main cast:
Boram : Ahreum T-Ara
Yeol : SungYeol Infinite
DayLim : Hwa Young 


Sudah 3 hari, aku di rumah sakit, menunggu Boram tersadar, Dokter berkali-kali mengucapkan kegembiraannya padaku, dia bilang, keadaan kekasihku sudah semakin membaik, selama aku menunggunya, beberapa bagian tubuhnya bergerak. Dari mata, tangan, hingga bibirnya yang sedikit demi sedikit berfungsi kembali.

Hari ke 4. Daylim nuna mengajakku menemui Ayah dan ibu. Aku sedikit gugup, karena semua barangku tertinggal di kamar hotel, dan dari 3 hari yang lalu aku hanya memakai baju yang sama. Walaupun aku mandi berkali-kali dan memakai colonge tentunya akan menimbulkan ketidaknyamanan.

Siang ini, aku menyeka wajah Boram, dengan air dingin, aku melihat beberapa kerutan didahinya. Ya. Dia telah merasakannya.

“Boram... bagaimana, apakah nyaman? Hum??... kau tahu Boram.. aku sangat beruntung bisa menjadi orang yang special untukmu. Dan kau juga beruntung bisa mendapatkan calon suami seperti diriku ini. Hehehe... Woah.. kukumu masih terlihat cantik, Daylim memang aneh, dia bilang kau buruk rupa. Mana? Hum?... aku tidak melihatnya... Aku hanya melihat kecantikan, hanya kecantikan dari dirimu Boram... Aku mencintaimu gadis semangka“ Kataku. Kucium keningnya yang semakin berkerut.

Saat kerutnya menghilang, betapa terkejutnya aku, air mata Boram menetes sedikit demi sedikit dari matanya. 
“Boram... apa yang kau rasakan? Hum?... tak ada yang menyedihkan disini, kau seharusnya tersenyum. Karena aku sudah ada disisimu, Boram... apakah kau bisa melihatku? Boram... apakah kau mendengarku?“ kataku sambil menggenggam tangannya yang semakin terasa dingin.

Ada apa ini? Apakah Boram akan pergi meninggalkanku? Aku merasakan dahinya juga terasa sangat dingin. Lalu dokter dan para suster masuk kedalam ruangan dengan sangat tergesa. Daylim,. Ia terlihat sangat khawatir dan bingung seperti aku.

“Yeol... apa yang terjadi?“
“Aku hanya menyeka wajahnya yang penuh keringat lalu dia menangis Nuna... aku tak tahu. Bagaimana Boram dok?“ Kami berdua sangat bingung dengan situasi ini.
“Mohon tenang dan tunggulah didepan, biar kami yang mengurus semua ini“

“Dok... apakah adikku akan meninggal?“ Daylim mulai menangis dan tubuhnya melemas, aku membopongnya
“Tolong tunggulah diluar“

Kami menunggu diluar, sesekali Daylim melihat keadaan di dalam ruangan melalui jendela.
“Boram... kuatkanlah dirimu... adikku... aku tak ingin kehilanganmu...“ Daylim menutup wajahnya lalu suara tangisan yang semakin menyayat hatiku kembali terdengar.
“Nuna... duduklah sebentar, Kita doakan saja, tidak terjadi apa-apa“
“Yeol... apakah adikku tadi menangis? Aku membaca di beberapa artikel, kalau seorang pasien koma bisa menangis, tidak lama lagi ia akan sadar... ya... aku yakin Boram akan sadar“
“Hummm...“ 

Dokter keluar dari ruangan dengan tergesa.
“Dok, bagaimana keadaan adik saya? Apakah ia akan sadar?“
“Perkembangannya sangat cepat sekali, ketika Yeol menemaninya sampai saat ini. Boram, keadaannya masih baik-baik saja, hanya saja tadi jantungnya berdetak lebih cepat dan tidak normal, tapi sudah kami atasi. Kemungkinan Boram merasakan suatu hal yang membuat dirinya merasa sedih, dan itulah yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat“
„“Aku hanya bilang kalau aku mencintainya... apakah itu salah? Kalau salah aku tak akan berkata seperti itu lagi“ Kataku sambil melihat keadaan Boram didalam, nafasnya sudah normal, dan dia terlihat lebih segar sekarang.
“Ah. Tidak... tetaplah berkata seperti itu, gejolak emosional akan membuat Boram cepat tersadar“

“Dok, apakah kalau setelah adikku tersadar nanti, oprasi plastiknya bisa cepat dilaksanakan? Karena Yeol dan Boram akan menikah secepatnya.“
“Nuna...“ kataku gelisah, Bisakah Boram menjalani operasi plastik yang sangat lama, setelah ia begitu lama mendekam di ruang rawat, aku rasa operasi plastik itu akan membuat Boram semakin tak percaya diri.
“Sebaiknya, jangan dulu, Nona Daylim, Biarkan Boram menikmati keadaannya dulu setelah sadar nanti, kalau sudah berselang beberapa bulan, dan perasaannya sudah membaik, baru, dia bisa menjalani rangkaian oprasi plastik“

„“Nuna... jangan fokus ke masalah oprasi plastik dulu, karena sampai sekarang Boram belum sadar“
“Hmmm.. terima kasih dokter“
“Baik. Aku tinggalkan kalian dulu, ada pasien yang memerlukanku“
“Oh silahkan dok“ Kataku, „“Nuna haruskah aku pergi menemui Ibu dan Ayah Boram sekarang? Aku tidak punya ganti, dan bauku sudah seperti kotoran saja“

“Hehehe... aku baru saja membelikanmu kemeja dan sepasang jas, kalau kau mau, aku ambilkan di mobil sebentar.“
“Wah... kau sangat perhatian sekali terhadap adik iparmu hhihihi, baiklah aku mau, mana kunci mobilmu, biar aku ambil sendiri“
“Jangan, kau disini saja, temani Boram. Aku akan segera kembali“

Daylim berlalu meninggalkanku, baru kali ini aku menemukan seorang kakak yang begitu perhatian dengan kehidupan adiknya, aku sudah memaafkan kebohongannya tentang pernikahan Boram. Karna aku tahu pasti, di posisi Daylim sungguh sangat sulit. Ia pasti tak mau ada satupun yang menyakiti adiknya, mungkin karena alasan itu. Daylim sering membicarakan mengenai oprasi plastik.

Kalau menurutku, Boram masih cantik, dan luka-lukanya akan sembuh dengan sendirinya. Yang diperlukan Boram sekarang adalah Aku dan keluarganya. Boram masih tertidur pulas, nafasnya sudah normal kembali. Saat kugenggam tangannya, matanya kembali bergerak-gerak dan aku tahu pasti ia melihat kearahku

“Gadis semangka... kau nakal sekali, sampai kapan kau harus tidur seperti ini, hum? Kau tahu... kami semua sangat merindukanmu, aku, kakakmu, ibu dan ayahmu,  kami sangat ingin kau cepat sadar. Cepat kembali Boram...“ Tak terasa air mataku jatuh begitu saja “Boram... bangunlah, dan akan kubuat kau merasa bahagia, aku sangat mencintaimu Boram“

Suasana hatiku begitu campur aduk hari ini. Bagaimana aku menghadapi Ayah dan ibu Boram?, apakah pantas kalau aku langsung meminta untuk menikah dengan Boram? Padahal mereka belum pernah bertemu denganku.

Lalu aku dikagetkan oleh belaian lembut tangan Daylim. Ia memamerkan jas dan kemeja yang sudah dibeli untukku.
“Ssst... lihatlah, bagus kan. Ayo cepat ganti bajumu, aku tunggu kau di mobil“ Kata Daylim lirih.
“Baik Nuna... Boram, aku akan menemui orang tuamu,  Doakan semoga usahaku berhasil dan kita bisa menikah ya“
“Sudahlah Yeol. Ayo cepat... waktu kita sangat sedikit“ kata Daylim sambil menyeretku keluar dari ruangan.

***

Di perjalanan menuju rumah orang tua Boram, Daylim terlihat sangat bahagia. Aku semakin penasaran, mengapa ia tampak begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya

“Hey... Nuna... sepertinya ada yang membuatmu bahagia, hehehe  apa itu, kalau aku boleh tahu“
“Kau tahu saja Yeol, aku bahagia karena akhirnya ada perkembangan dalam kesehatan Boram, dan aku bahagia karena aku bisa membelikanmu Sepasang jas juga kemeja“
“Ah.. iya iya... tapi mengapa membelikanku jas saja, bisa membuatmu bahagia? Hehehe kau aneh Nuna“
“Dulu, aku sering sekali membelikan sepasang jas buat suamiku, tapi, setelah kami berpisah, aku menjadi...“
“hummm... kalau begitu, setelah aku menjadi suami Boram, kau bisa membelikanku berapapun yang kau mau“

“Kau baik Yeol... tapi kalau seperti itu caranya, kau membuat Boram semakin membenciku“
“Ah... Boram tak mungkin membenci kakaknya sendiri.“
“Ya, Yeol... kau harus tahu kenyataan tentang kami berdua, kami saling membenci, Aku tak bisa mendapatkan yang adikku dapatkan, dan adikku tak bisa mendapatkan yang ia dapatkan“
“Huh... dasar wanita..“
“Kami berdua seperti orang bodoh kan? Hehehe saling membenci“
“Tapi aku yakin Nuna, sebenarnya memiliki cinta yang begitu besar pada Boram, ya kan?“

“Humm... setelah peristiwa itu, aku selalu menyalahkan diriku sendiri, mengapa aku tidak bisa melindungi adikku, dan aku berjanji akan melupakan masalah kamu yang dulu“
“Yup... kau harus memaafkan Boram dan dirimu sendiri Nuna. Ah Nuna, apakah aku sudah tampan?“
“Sudah... Ayo turun, kita sudah sampai“
“Nuna... apa yang harus aku lakukan ? ahss... aku bingung nuna...“

“Kau ingin cepat menikahi Boram kan? Kau ingin membuatnya Bahagia kan?, kuatkan hatimu, Ayah dan ibuku orang yang baik, tenang saja, rapikan dulu kemejamu“
“mana ?“ tanyaku, Refleks Daylim mendekat kearahku dan membenarkan letak krah kemejaku, Aku merasakan ada yang aneh saat itu. Wajah kami begitu dekat, Aku melihat senyum Daylim yang begitu manis, seperti senyum Boram, wajahnya memerah dan Langsung saja aku membuyarkan pandanganku.
“Biar aku benarkan sendiri Nuna“ aku menjauhkan tangannya dari krah kemejaku.
“Oh.. maaf Yeol, maafkan aku ya“
“Maaf tentang apa?“ aku memancingnya berbicara
“Tidak... Ayo masuk“ Aku bisa merasakan Daylim sangat malu saat aku menolaknya untuk membantu membenarkan kemejaku, Ah... mengapa dia bisa menjadi seperti itu. Membingungkan.

Di dalam, Aku melihat sepasang suami istri sedang sibuk bercengkrama.
“Annyeong... Eoma, Appa.. Lihat siapa yang kubawa, hehehe, Dia Yeol, kekasih Boram“
“Annyeonghaseyo...“ Sapaku,
“Ah... kau yang bernama Yeol, wah tampan sekali, Daylim sering membicarakan tentang dirimu, Ya... kau menjaga Boram dengan baik selama 3 hari ini“
“Terma kasih, Tuan“
“Ah... kenapa kau memanggilnya tuan? Heehe panggil dia Appa, dan aku Eomma, okey?“
“Baik, Eomma“
“Kau sudah makan?“
“Sudah Eomma“

“Ah... Yeol, kau pasti bertanya-tanya mengapa kita tak menjaga Boram selama kau ada disana, Kami hanya memberikanmu kesempatan bersama Boram, karena kami semua tahu, Boram akan sadar kalau hanya kau yang ada disampingnya“

“Iya Appa, Sebenarnya aku datang kesini, ingin bertemu dengan kalian dan memperkenalkan diriku, tapi sepertinya Nuna sudah banyak bercerita tentang diriku. Jadi aku akan langsung ke pokok pembicaraan, Appa, Eomma, Aku ingin menikahi Boram secepatnya. Melihat keadaan Boram yang semakin membaik, Aku kira, kalau kami berdua menikah, aku akan punya waktu yang banyak dan alasan untuk melindungi Boram“

Ibu Boram menangis seketika, lalu suaminya menyeka air matanya

“Oh... Tuhan, terima kasih kau berikan Yeol ditengah keluarga kami, Yeol... Aku dan Eomma menyetujui kalian menikah, kapan sebaiknya pernikahan diadakan?“
“Besok“
“Baik Yeol, aku akan mengurus surat untuk Boram, Adikku sangat beruntung memilikimu“ Kata Daylim,
“Besok aku akan menyiapkan surat-suratnya“
“Aku akan datangkan Tuan Kim ke rumah sakit, Beliau pendeta terbaik disini, Ohohohoho besok anakku akan menikah... Terima kasih Tuhan, Berikan keberkahan pada kami semua“

“Yeol, kau akan tidur dimana malam ini? Menginaplah sekali-kali disini“ Kata Eomma
“Tidak bisa Eomma, aku harus tetap menunggu Boram, Ia akan merasa sendirian bila aku tak berada disisinya“
“Hemmm. Kau benar Yeol, Daylim, berikan kunci mobilmu ke Yeol, besok kau pergi bekerja pakai mobilku saja“ Kata Appa antusias

“Baiklah Appa, Eomma, aku kembali kerumah sakit dulu“
“Kesinilah sebentar Yeol, aku ingin sekali memelukmu“ Kata Appa.
Aku mendekat padanya dan ia pun memelukku sangat erat, Appa menangis tertahan, tapi aku bisa merasakan air matanya yang panas menyentuh jas ku dan menembus ke kulitku.
“Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu kepada putriku? Hum??“
“Aku tidak meminta apapun Appa, membuat Boram bahagia aku sudah merasa sempurna“ Kataku sambil memberikan senyum pada calon mertuaku, Matanya yang penuh dengan air mata terlihat begitu puas dengan pertemuan kami malam ini
“Baiklah, pergilah, Daylim, antarkan calon menantuku keluar“

***

Daylim mengantarkanku ke mobil dan memberikan kuncinya.
„“Pakailah mobilku, bagaimana ? hum?? Pertemuan yang singkat dan memuaskan kan?“ Tanya Daylim diiringi tawa kecilnya
„“Iya, orang tuamu sangat baik, aku sangat beruntung kalau bisa memiliki mertua seperti mereka“
„“humm ya...“ katanya.
Aku sangat terkejut saat ia menggenggam tanganku, segera aku hempaskan tangannya, aku tak ingin jiwa Boram yang masih lepas melihat kami berdua dalam keadaan yang seperti ini.
Aku menunda masuk ke mobil dan ku tatap wajah Daylim yang kini berubah menjadi begitu penuh penyesalan

“Yeol... kau pasti mengira, aku kakak yang nakal, dan jahat kan? Hum? Aku hanya iri pada Boram.... mengapa ia selalu memiliki hal yang aku inginkan“
“Apa maksudmu Nuna? Kau menginginkan aku?“
“Kau pria yang baik Yeol, aku sangat iri pada adikku, Mengapa dengan keadaannya yang cacat seperti itu kau masih mencintainya? Mengapa kau tidak berpaling padaku?“
“Sejak kapan kau punya pemikiran seperti itu? Dia adikmu NUNA~!!!... Oh.. tidak... apakah kau begitu iri dengannya? Apakah kau ingin memilikiku? Hah?? Aku tak tahu bagaimana jalan pemikiranmu Nuna. Kau terlalu kekanak-kanakan. Dan kau harus tahu, aku tak bisa mencintai siapapun kecuali Boram. Kalaupun Boram meninggal, aku tak akan pernah mau mencintai siapapun, apalagi mencintai kakak yang jahat sepertimu. Ini kunci mobilnya“ Kulemparkan kunci mobilnya pas ke muka Daylim.
Untung saja aku membawa bajuku yang aku pakai dirumah sakit kemarin. Aku lepas jas dan kemeja yang diberikan Daylim. Kupakai bajuku yang bau, tak peduli, asal aku tidak memakai pemberian seorang wanita yang haus cinta.

“Ini jasmu, dan kemejamu, kalau kau memberiku, agar aku tertarik padamu, lupakan hal itu, aku tidak akan tertarik sekalipun untuk berpaling dari Boram. Aku sudah menghargaimu Nuna, tapi kau tak menghargaiku“

Aku berjalan menjauh dari rumah Boram, masih bisa kudengar tangisan Daylim yang begitu menyayat hati. Tapi jujur aku tak bisa menjadi seperti yang dia inginkan. Aku tak akan memberikan kesempatan pada diriku untuk mengkhianati Boram.

Kepalaku tiba-tiba terasa pening, Apa yang barusan aku lakukan? Bagaimana kalau Daylim membicarakan hal ini ke orang tuanya? Dan mereka semua akan menentang habis-habisan pernikahanku dengan Boram... Aaaah... Aku telah merusak rencanaku sendiri. Harusnya aku bisa menolak Daylim lebih halus lagi, dan memperhatikan perasaannya.

To be Continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler