- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction # Summer Of Love # Part 7 # Series


“Tuan Yeol kau mau kemana?, ikut denganku, Boram sudah sadar“ kata dokter itu 
“What???“

“Boram sudah sadar Tuan, Ayo ikut dengan kami”
“Ah… Benarkah?” Tanyaku sambil berlari mengikuti dokter
“Kita lihat saja nanti”

Dokter dan suster masuk terlebih dahulu, aku hanya menunggu diluar. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku akan menunda menelpon Daylim dan orang tua Boram. Aku melihat Boram memuntahkan segala sesuatunya, dan salah satu suster menyambungkan selang ke kandung kemihnya, Boram pun mengeluarkan kotoran yang selama ini dia simpan ditubuhnya.

Dokter keluar dan menghampiriku.

“Tuan Yeol, kau berhasil membuat pasienku sadar dari koma nya yang begitu lama, sekarang bisakah kau menghubungi Nona Daylim dan keluarga Boram lainnya? Ini adalah sebuah kebahagiaan, dan kau harus membaginya” kata Dokter itu menepuk pundakku “Ah.. kau disini saja ya, kami harus membersihkan Boram dari kotoran sebentar saja dan mengganti bajunya”

“Baik” Sebenarnya aku sudah malas dengan semua ini, aku hanya diam saja melihat perkembangan Boram dari kaca jendela. Beberapa kali aku mendengarnya menteriakkan namaku, memanggil namaku, apakah aku harus bertemu dengan Boram lagi? Dan menampakkan mukaku lagi di depannya, Aku akan merasa dipermalukan oleh Boram, bila aku muncul di depannya.

Aku menelpon Daylim, sambil melihat Boram.
“Nuna…”
“Ye.. Yeoboseyo..”
“Kau harus datang sekarang ke rumah sakit, Adikmu sudah sadar dari koma”

“Oh… benarkah? Baik Yeol aku akan kesana, tunggu aku”
“Aku akan pergi Nuna, aku menelponmu agar kau cepat kesini, karena sekarang aku akan mengejar pesawatku”

“Apaa?? Kau sudah pesan pesawat?”
“Iya aku, akan pulang ke korea 5 jam lagi”
“Tidak Yeol. Kau harus menungguku, katanya kau pria kau harus tetap disana menunggu Boram, Adikku membutuhkanmu”

“Oh… Nuna… Kepalaku sangat sakit sekarang, aku bingung Nuna. Boram sedari tadi memanggil namaku,”
“Sudah kubilang, gagalkan pulang ke Korea, kita perlu penjelasan Boram tentang semua ini, tentang semua yang ia lakukan dengan suamiku”

“Nuna….”
“Berpura-puralah masih mencintainya, atau pertahankan cintamu padanya Yeol… Aku tak ingin kau menyerah karena peristiwa kemarin, karena semua informasi yang telah kuberikan, kalau kau seperti ini, Aku menjadi orang yang bersalah. Mengerti?”
“ye… Nuna, kutunggu kau disini”

“Aku akan segera kesana”
Beberapa suster sudah mengganti baju boram dan melepas semua selang yang selama ini menopang kehidupan Boram. Dokter memberikan sinyal aku harus masuk sekarang.
“Yeol… kau dimana? Yeol…”
“Aku disini”

“Yeol~~~~!!!”
“Ya”
“Baiklah Tuan Yeol, selamat kekasih anda sudah sadar, aku tahu, sepertinya anda membawa kekuatan cinta hehehe” kata dokter, beberapa suster ikut tertawa karena kata-katanya.
“Hei… itu juga karena bantuanmu dokter dan suster yang baik, terima kasih, hehehe”
“Baik… kami pamit dulu, silahkan menikmati hari yang indah ini”

“Arrasso hehehe”
Sebenarnya aku gembira karena akhirnya kekasihku sadar dari koma nya, setelah aku mengingat-ingat lagi bagaimana cerita Boram dengan David Lee, dan meingat lagi bagaimana kebersamaan mereka berdua terungkap oleh detektiv yang disewa Daylim, aku jadi sedikit emosional.
“Yeol… “ Boram memandangiku dengan senyuman khas nya yang cantik
“hmm?” Aku masih berdiri disamping pintu, hatiku sepertinya enggan mendekat pada Boram begitu juga tubuhku

“Mengapa kau disitu… Ayo duduk disini, di sampingku”
“Ah… Aku, aku bosan duduk, semalam aku sudah menunggumu sambil duduk di kursi itu, aku sudah bosan, aku berdiri saja, bagaimana keadaanmu?”
“Aku semakin baik Yeol, itu semua berkat dirimu, Dokter bercerita padaku tadi, kau selalu menjagaku disini, kau memang kekasihku yang terbaik”

“Berarti ada lagi kekasihmu yang terburuk? Begitukah?”hampir saja aku membuka pembicaraan mengenai masalah Boram dan kekasih gelapnya. Aku harus lebih sabar
“Apa maksudmu? Yeol, kau mau kemana? Mengapa membawa tas begitu besar?” Kata Boram dengan sedikit nada curiga
“ah… ini, aku akan pulang ke hotel, dan mencuci semua pakaianku”

“Yeol… bisakah kau mendekat kesini sebentar saja, aku merindukanmu” Boram menangis tertahan “Aku ingin kau memelukku, bisakah kau lakukan itu sekarang? Aku baru saja sadar dari tidur yang begitu lama Yeol, bisakah kau…” Aku memeluk Boram, aku tak bisa membuat Boram menderita.
Ya sepertinya akan sulit untukku meninggalkan Boram, karena aku begitu percaya padanya, dan cintaku ini semakin kuat padanya.
“Boram…” kubelai rambutnya yang semakin panjang

“hmmm?” Boram masih dalam pelukanku, menangis, entah bahagia, entah takut padaku, entah sedih aku pun tak pernah tahu hati dan perasaannya.
“Boram… gadis semangkaku… maukah kau membuatkan jus semangka untukku?”
“hmmm hmmhehehe… mau…” Boram semakin mempererat pelukannya.
“Benarkah?”
“Humm aku mau Yeol… Yeol, mau kah kau memelukku setiap hari?”
“ya.. tentu saja aku mau”
“Aku tak ingin kehilanganmu lagi…”
“Boram… maukah kau setia hanya padaku?”
“….” Boram memelukku lebih kuat dan menangis dalam pelukan
“Boram… maukah kau setia hanya padaku?” Kutanyakan kembali padanya
“Yeol… aku akan setia padamu kalau kau menikahiku”

“KAU TIDAK AKAN BISA MENIKAH DENGAN YEOL, SETELAH KAU MEMBUNUH SUAMIKU~!!!”

Tiba-tiba Daylim masuk dia sepertinya begitu marah, wajahnya penuh dengan emosi, dan airmata begitu deras keluar, Boram melepaskan pelukanku.

“Kakak…” panggil Boram, suaranya hampir tak kudengar, sepertinya Boram setengah mati ketakutan saat menghadapi Daylim

“Yeol, tak akan menikah denganmu, karena kau sudah merebut dan membunuh suamiku, kau telah mengkhianatiku, kau sudah mengkhianati Yeol. Dia tak akan pernah menikah dengan orang yang telah menyakitinya”

Mendengar Daylim mengatakan itu, aku juga tak bisa menyelanya. Aku hanya bisa diam disamping Boram. Kurasakan tangan Boram menggenggam tanganku, bahkan ia meremas tanganku sangat keras.

“Kakak… kau tak tahu kenyataan yang sebenarnya, kau tertipu oleh dirimu sendiri” Boram menangis “Yeol lah yang akan menetapkan apakah dia akan menikahiku, atau akan pulang ke Seoul, Aku mencintainya kak… Aku tak pernah mencintai suamimu. Aku tak pernah mencintai suamimu…”


To Be Continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler