- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction*Lover Boy*Part 2*Series


Perjalanan ke Pohang aku pilih memakai kereta. Karena aku sedang tak punya banyak uang sekarang, hehehe, lagipula aku harus menghemat, karena kalau aku di Pohang, belum tentu aku mendapat proyek pemotretan. Perjalanan ini perlu waktu 8 jam. Dan aku harus berganti-ganti kereta.

Ketika masuk kereta pertama, OMO~~~!!! Dadaku semakin sesak, banyak wanita cantik di gerbong. Aku duduk disamping pintu kereta. Wanita yang berdiri di depanku, dia…. Dia tidak memakai baju dalaman, jadi dress yang dipakainya menempel pada tubuhnya. Aroma parfumnya yang manis, membuat aku semakin tercekik.

“Maaf Ahjumma.. bisa kah kau minggir sebentar, aku tak bisa bernafas” kataku sambil mengatur nafas, oh tidak… sepertinya isi perutku akan keluar, namun aku masih bisa menahannya
“Mwo??”  Tanya wanita itu sedikit kebingungan
“Kau… biakah kau minggir sebentar… saja… aku… dadaku… sangat sakit”

“Nugu?” Tanya wanita itu lagi. Ahsss. Apakah dia tidak tahu ada orang yang menderita didepannya, Aku langsung berdiri, dan wanita tadi mundur dengan tiba-tiba, ia hamper jatuh kebelakang. Dengan wajah menyebalkan dia bertanya “Mwo… hey… YAK~~!!” Dia berteriak, semua orang pasti melihat wanita bodoh itu berteriak-teriak tak jelas.

Aku melangkah mencari gerbong yang tidak ada wanita cantik. Selama beberapa menit aku melangkah, jantungku semakin sakit, isi perutku seperti diaduk-aduk, keringat dinginku keluar banyak sekali, membasahi kaos dan jaket yang kupakai. Setelah melewati beberapa siswa SMA, aku menemukan gerbong yang sepi.
Hanya ada 3 orang disana, gerbong paling belakang.

2 pria dan 1 wanita memakai kostum rnb dan masker. Ah… Akhirnya aku selamat juga.

“Hey, hey kau yang didepanku, bajumu basah, cepat ganti, kalau tidak kau akan kena flu parah” kata seorang pria lanjut usia didepanku. Ah… senangnya dekat dengan pria. Nafasku lega dan perutku sudah membaik keadannya.

“Oh terima kasih Ajjussi…” Aku langsung membuka tas ranselku, aku menemukan kaos ungu dan jaket berwarna hitam bertuliskan Infinite, kesukaanku. Aku beranikan diri ganti pakaian didepan umum, Ya… tak peduli, didepanku hanya ada dua pria, dan disebelahku hanya wanita aneh memakai masker. Hehehe aku harap dia bukan wanita yang cantik.

Saat aku membuka kaosku, dan memperlihatkan perutku yang seksi, semua Anak SMA yang digerbong ke dua, melihatku melalui jendela, Mereka semua cantik dan sepertinya tertarik dengan perut seksiku.
Dengan berani aku coba memamerkan perutku kepada mereka semua.

“Kalian mau lihat keseksianku??? Lihatlah Bwahahahaha… Bruuupprbrbrrb” Sial sekali, saat aku mulai bisa menghadapi wanita cantik, aku malah memuntahkan semua isi dari perutku,
“Whahahahaha…. Ajjussi… apakah kau mabuk?? Lihatlah dia memuntahkan semuanya”
“Yak.. menjijikkan”
“Bwahahahahaha” mereka semua mentertawakanku. Aku harus apa?? Apakah menangis? Oh Tuhan… Aku hanya bisa membersihkan muntahanku dilantai gerbong.

“Sudah diam kalian~!!! Dasar Remaja Porno~!!! Tertawa lagi, aku laporkan kalian ke sekolah kalian, Aku tahu kalian dari sekolah mana”
“Aishhh… Ajjumma…. Jangan sok jadi pahlawan, hahahaha ah… kau pakai masker karena wajahmu sangat jelek kan?”
“Ah… lengkaplah sudah hiburan kita kali ini, pria pemabuk dan wanita buruk rupa. Sudah biarkan mereka bwahahaha”

“Awas kalian ya~!!!” Kata gadis dibelakangku aku mendengar dia melempar highheelsnya dan mengenai kaca pintu penghubung gerbong. Aku masih sibuk membersihkan muntahanku dan memasukkan baju kotorku ke plastic sampah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Ah… Aku semakin malu saja.
“Kau tidak apa-apa? Apakah kau mabuk? Hummm” kata gadis itu sambil membantuku membereskan muntahanku.

“Tidak, aku tidak apa… ah… biar aku saja yang membereskan, sudah sudah lepaskan” kataku sambil melepaskan tangannya dari jaket kotorku yang penuh muntahan
“Okey… minum ini” Ia menjulurkan tangannya, secangkir kopi ia berikan padaku.
“Maxim premium? Wah.. kau baik sekali, tapi perutku masih mual” Kataku sambil memakai kaos dan jaket yang bersih.
“Hah… justru dengan ini kau bisa sadar.”

“maaf tapi aku tidak mabuk, kau minum saja… ya”
“Ah…. Kau tidak pernah naik kereta? Atau…” Tanya gadis itu sambil memandangi wajahku.
“hmmm anggap saja aku tak ada okey?” kataku sambil kembali duduk ditempatku semula.
“Tapi kau tetap ada disebelahku, wah…. Wajahmu tampan sekali, aku pernah melihat wajahmu di televisi lokal, apakah kau artis?”

“ssssttt… aku ingin tidur. Terima kasih atas bantuannya nona, tapi jangan ganggu aku lagi, aku ingin tidur” kataku, tapi sepertinya aku agak kasar dengan gadis yang telah membantuku. Ah… biar saja, yang penting aku bisa tidur dan mengistirahatkan pikiranku. Kalau sampai di stasiun berikutnya aku janji dengan perutku. Aku akan mengisinya dengan bibimbap yang lezat.

“Dasar… semua pria tampan sama saja, menyebalkan. Hei… jawablah pertanyaanku dulu, kalau tidak aku akan semakin penasaran denganmu, hmm” Gadis itu menarik lenganku, aku terbangun dan melihat pemandangan yang sebenarnya tak ingin kupandang

Gadis itu melepas maskernya, dan wajahnya begitu cantik, berbeda dengan semua gadis yang kutemui, wajahnya begitu bersih, tak ada noda satupun, rambutnya yang sedikit ikal menutupi dahinya dan membuatnya semakin cantik.

“N…noo…nna…” kataku sambil mengelus dadaku, jantungku kembali sakit
“Ya?? Apakah kau artis?” Tanya gadis itu sambil melebarkan senyumnya.
“Nnnnn…onna… pppakailah… maskermu… lagi… dadaku.. sangat sakit”
“Mwo?? Maskerku?... oh… ini dia” katanya sambil memakaikan masker diwajahku. Dasar gadis bodoh, pakailah maskermu agar aku tak bisa melihat kecantikanmu

“Anniya… Anii… pakailah maskermu.. diwajahmu… ne…”
“Ah……. Yayaya. Setelah itu kau jawab ya.. kau artis atau bukan”
“Ne…. pakailah… CEPAT~~~!!” teriakku tak sabar.

Setelah ia memakai masker dan menutupi separuh wajahnya, aku sedikit lega, tapi keringat dinginku muncul lagi.

“Aku bukan artis Nona… aku seorang fotografer, ya aku sering muncul di tv karena aku seorang fotografer……”
“Wahhhhhh benarkah???? Berarti kau juga salah satu artis didunia hiburan” Dia teriak lalu tanpa kuduga dia memelukku…

“Bluuurrpp…” Aku muntah lagi, kali ini muntahanku membasahi baju gadis itu. Aku tak tahan dengan manisnya bau badan gadis itu. Aku tak tahannnnnnnnnnnnnn Oh… aku pusing sekali saat ini.
“OMOOOOOOO… kau memuntahkannya… kau merusak jaketku…. Ah tidak apa. Kumaafkan, hehehe karena kau seorang artist tv arassooo…” dia memukulku dengan gaya seorang pria.

“Ah maafkan aku… bisakah kau duduk dipojok sana…?”
“wae??”
“aku ingin membersihkan muntahanku… cepat pindahlah… aku tak tahan dengan bau tubuhmu” kataku…
“Ah… yayaya… kau tak tahan bau tubuhku… hmmm baiklah” Lalu gadis bodoh itu pindah, ia menurutiku hahaha, ia duduk dipojok gerbong. Ah… akhirnya aku bisa leluasa beristirahat. Setelah kubersihkan muntahanku, aku kembali tidur bersandar dibangu.
Beberapa menit kemudian aku bisa tidur pulas. Pemberhentian masih lama. Aku pun menikmati tidurku dengan leluasa. Kurebahkan tubuhku di deretan bangku yang kosong.

“HEI~~~!! Bangun..~!!!” Teriak gadis bodoh itu. aku teruskan menikmati tidurku
“Hei…. Pria mabuk… artis mabuk… bangunlah…” Aku masih pura-pura tidur. Karena kalau tidak, gadis itu akan menggangguku lagi. Dan aku akan sekali lagi memuntahkan isi perutku, padahal sekarang perutku sama sekali tak ada isinya, dan aku sangat lapar. Begitu menyedihkannya hidupku.

“Hei….. pria mabuk… Hei artis… kau mengingatkanku pada sebuah film, kau suka bau tubuhku kan??? Kau mengingatkanku pada film Twilight saga. Hahaha… iya… apakah kau seorang vampire??”
Sebenarnya mendengar kata-katanya aku ingin sekali tertawa. Ternyata kebodohan gadis itu berlipat ganda,

Aku ingin sekali tertawa ‘hahahaha’ tapi kalau aku tertawa ia akan lebih menggangguku. Dan wajah cantiknya semakin membuatku menderita. Tapi… Mungkin saja ia akan turun di perhentian selanjutnya. Aku putuskan melayani kebodohannya, toh nanti dia akan turun juga

Aku bangun dan berteriak padanya “Kau konyol sekali, tidak ada vampire di dunia ini, itu hanya khayalan beberapa orang saja.. hahahaha”
“Hehehehe kau sudah bangun rupanya. Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?..”  Tanya gadis itu sok peduli

“Ah… iya sudah membaik. Hey, pemberhentian selanjutnya sebentar lagi, kau tidak bersiap-siap untuk turun?”
“Turun? Untuk apa? Aku akan pergi ke Pohang, hehehe kalau kau mau kemana?”
“…………..” Aku putuskan untuk kembali tidur,. Ini begitu membuatku pusing. Betapa sialnya aku… hah? Satu perjalanan dengan gadis cantik tapi bodoh. Ah…….. aku bisa gila kalau seperti ini terus….

To Be Continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler