- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Short Fiction : I Love you Ahjussi.




Author : Ayuna Kusuma (Yun)

Maincast : Kris EXO M and You
Song : EXID – Everynight

Pertama kali, aku memanggilmu Ahjussi, karna aku sama sekali tak mau tahu siapa namamu, rasa malu itu selalu saja memutus semangatku untuk menanyakan siapa namamu, di mana kau tinggal, di mana kau bekerja, dan segalanya tentangmu.

Rasa malu itu juga yang memberikanmu kesempatan untuk mencuri cintaku, dengan mendekati dan melengkapiku. Kau selalu menanyakan tentang diriku, saat kita bertemu.  Rasa malu itu juga yang membuatku tahu, bahwa kau yang pertama kali jatuh cinta padaku. Bukan diriku.

Mengingat lagi… Ya Aku mengingat lagi bagaimana kita pertama kali bertemu. Seperti jalinan pita film yang diputar balik. Aku mencoba mengingatmu lagi.

Hari sabtu, di akhir bulan Januari, aku sedang sibuk-sibuknya menyusun proposal acara penggalangan dana tlevisi lokal untuk mengatasi tuna wisma. Aku bertemu denganmu di kantor televise itu, kau menjadi kepala bagian proyek yang sedang kususun.

Aku masih ingat kau memakai setelan kemeja dan jas yang begitu special, kau lah yang tertampan dari semua kepala bagian disana. Pertama kali aku memanggilmu Ahjussi… saat kau memarahiku, yang telah lancang menghapus beberapa artis yang akan diundang dalam acara penggalangan dana.

Kau memarahiku begitu ekspresif, semangatmu, emosimu, membuatmu semakin special dalam pandanganku. Kala itu aku hanya mengatakan “Maaf… Ahjussi”

Lalu kau membanting semua kertas proposal yang kau genggam, meja menjadi bergetar, begitu pula hati dan jantungku. Apakah aku sudah gila atau sejenisnya, semenjak itu, aku tak bisa melepaskan pandanganku dari sosokmu.

Ahjussi,

Aku masih ingat keesokan harinya, kau membawakan semua orang bagian produksi kopi hangat, tapi kau malah memberiku strawberries shake, darimana kau tahu kesukaanku? Apakah kau seorang peramal? Atau kau sudah memeriksa semua biodataku? Atau kau bertanya pada semua orang yang ada didekatku apa saja kesukaanku?.

Setelah kau memberiku strawberries shakes yang lezat itu, aku baru tahu kalau kau juga tak bisa melepaskan perhatianmu dari diriku. Itulah kedua kalinya aku memanggilmu Ahjussi.

“Terima kasih, Ahjussi…”

Hari selanjutnya. Aku sangat ingat, kita tak pernah lagi menyapa, tak pernah lagi bertemu, hanya saja antara kita berdua, tak ada yang bisa menyudahi saling memandang dan menyelidik.

Tanggal  5 Februari 2011. Saat semua bagian produksi merayakan keberhasilan acara penggalangan dana, kau mengajak kami semua untuk makan malam di restoran kakakmu, Ahjussi. Disana pun kau tak banyak bicara dengan semua orang. Aku pun tak sanggup memulai pembicaraan denganmu. Tentunya karena rasa malu. Setelah semua orang selesai makan dan berubah menjadi pemabuk, hanya ada kau dan aku di ruangan khusus itu, ya hanya kau dan aku yang masih tersadar.

Kau menatapku dengan pandangan yang tak semestinya, aku pun begitu. Kita berdua seperti menyelami keindahan satu sama lain. Suaramu yang berwibawa membuyarkan semua lamunanku tentangmu

“Mianhae… sepertinya semua orang sudah berubah jadi pemabuk sejati, biarkan mereka tidur disini, ayo kita pulang” Apa yang harus aku katakan hm?
“Baik Ahjussi” hanya itu yang bisa kubalas.
Kau melangkah mendekatiku dan mengulurkan tanganmu “Ayo pulang”
“Ye Ahjussi”

Betapa kagetnya diriku, saat kau mengajakku untuk berjalan kaki dan
menunggu bis. Selama aku bekerja di banyak perusahaan, aku tak pernah sekalipun melihat kepala bagian mengajak co-workernya untuk pulang menggunakan Bis. Biasanya mereka mengajak semua co-workernya untuk pulang menggunakan fasilitas mobil kantor.

“Lebih menyenangkan berjalan seperti ini daripada naik mobil kan?”

“Ye Ahjussi” jawabku singkat, udara saat itu semakin dingin, tapi keringatku telah membasahi baju yang sedang ku pakai. Untung saja saat itu aku menggunakan mantel tebal,, jadi kau tak pernah tahu betapa gugupnya aku.

“Pekerjaanmu bagus sekali, kau mengerjakannya sendiri?”
“Ye.. Ahjussi…”

“Baiklah… kita tunggu bis nya disini” katamu sambil duduk di halte. Aku bisa melihat gaya dudukmu yang begitu elegan. Tapi setelah kau mengetahui bahwa aku memandangimu, kau mulai gugup dan merubah gaya dudukmu. Aku sebenarnya ingin tertawa sedikit, tapi aku sangat malu.

“Aku tahu namamu, apakah kau sudah punya kekasih?” tiba-tiba kau menanyakan itu, lalu apa yang harus ku jawab?.
“Anni… “
“Aku juga tidak punya…”
“Apa kau suka makan sushi?”
“No.. Ahjussi”
“Aku juga tidak suka”
“hmmm.. Apa kau suka melihat bintang?”
“hmm… some times ahjussi”
“Apa makanan kesukaanmu?”
“spongecake, Ahjussi”
“hmmm aku juga suka itu, kau bisa memasak?”
“ye. Ahjussi”
“Aku tidak bisa memasak, apakah kau mau mengajari aku memasak suatu hari nanti?” tanyamu dengan mata berbinar-binar
“Ye. Ahjussi”
“Hmmm… “

Mulai malam itu kau terus menanyakan tentang diriku. Dan yang kurasakan, hanyalah kebahagiaan, aku tak pernah bosan bila kau bertanya macam-macam. Tapi yang bisa kujawab hanya Iya, tidak, Ahjussi. Aku terlalu malu untuk berhadapan denganmu. Setiap kita bertemu, kau selalu menanyakan segala sesuatu tentang diriku, dan
kau menjelaskan semuanya tentang dirimu.

Tanggal 14 Februari 2011. Kau tiba-tiba melamarku di depan semua co-worker di kantor.

“Hey… aku sudah tahu namamu, dan aku sudah tahu apa yang kau rasakan padaku, kaupun juga sudah tahu apa yang kurasakan padamu. Kita tahu apa saja yang kita sukai dan tidak sukai. Kita tahu dimana saja tempat yang bisa membuat kita bahagia. Kita sudah tahu warna apa saja yang membuat kita istimewa, kita juga saling mengetahui apa lagu yang bisa membuat hati kita saling menyatu dalam sebuah pandangan dan kesunyian. Kita sudah mengetahui apa-apa saja makanan yang bisa kita nikmati. Kita sudah saling mencintai dalam sebuah pandangan dan kesunyian. Sekarang aku tak ingin membiarkanmu hanya memandangku, dan aku tak mau membiarkan diriku semakin sakit karena hanya memilikimu dalam pandanganku. Hey… maukah kau menikah denganku? Aku ingin memilikimu dalam pandanganku juga dalam kehidupanku selama-lamanya”

“Ye Ahjussi… I do” Itulah terakhir kali aku memanggilmu Ahjussi. Setelah hari itu, setelah kita menikah sore itu juga, aku mulai memanggilmu Oppa.

Terima kasih Ahjussi, Oppaku, kau mau memilikiku di dunia nyata, bukan hanya dalam pandanganmu saja. Salanghaeyo.. Ahjussi….. My Oppa.

The End

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler