- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction : Sal-In - Part 2

Author : Ayuna Kusuma

Maincast :
Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun

Genre : Romance

Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, 11 Februari 2013  10:15

Ryu berhasil mengecoh targetnya, wanita bernama Ji-Eun itu percaya begitu saja pada pria tampan yang akan membunuhnya suatu saat nanti. Mereka berjalan lagi ke arah bukit yang letaknya sekitar dua kilometer dari Daeduk Elementary School

“hey… jangan jauh-jauh dariku… hey… siapa namamu ? kemarilah… katanya kau mau melindungiku” teriak Ji-Eun sambil menunggu Ryu berjalan mendekatinya.

Padahal sebelum wanita itu memanggilnya, Ryu bersiap-siap untuk menembaknya dengan shotgun yang sudah dipasang peredam. Sepertinya berurusan dengan wanita yang satu itu sangat sulit bagi Ryu. Ia mendatangi wanita itu dengan malas.

“Ye… Seonsaengnim… ada apa?” Tanya Ryu sambil sibuk menyembunyikan shotgun miliknya di saku belakang, terlihat di balik jas tebalnya, ia menyiapkan tiga senjata untuk menghabisi Ji-Eun.

“Panggil aku Ji-Eun, ah.. bukankah kau ikut denganku untuk melindungiku?, jangan berjalan terlalu lambat, kalau penjahat itu menembakku, bagaimana? Kau akan mendapatkan hukuman dari atasanmu, lalai menjalankan tugas, lalu kau di penjara karena sudah membuat wanita secantik diriku, anak detektif ternama, dibunuh dengan mudah, hum… berjalanlah di dekatku… Anak-anak… teruskan berjalan” wanita itu terlalu banyak bicara, Ryu menyeka keringat yang deras membasahi wajahnya. Kini mereka berjalan berdampingan, tak ada satupun kesempatan yang pas untuk membunuh Ji-eun saat itu.

“Ah… aku belum tahu namamu…” kata wanita itu sambil berjalan mengikuti murid-muridnya menuju bukit.

“apakah itu perlu? Saat ini aku dalam tugas untuk melindungimu, jadi tak perlu memperkenalkan diri kalau menurutku” kata Ryu dengan nada datar, kedua tangannya dalam posisi di belakang tubuhnya, ia sedang menyiapkan suntikan racun yang bisa membuat target mati di tempat. Dan polisi akan kehilangan bukti forensic karena suntikan racun itu begitu kecil seperti bekas gigitan serangga.

“tentu saja perlu…….. hehhehe… kau sekarang penyelamatku.. aku berterima kasih padamu, jarang sekali ada polisi yang mau melindungi target pembunuhan seorang diri… hmmm jadi aku berterima kasih padamu” tanpa disangka sebelumnya, ji-eun meraih kedua lengan Ryu dan mengayun-ayunkannya. Senjata biologis yang disiapkan Ryu, terjatuh, dan ia tak bisa mengambilnya lagi. Karna Ji-eun sudah mengajaknya berlari ke depan barisan murid-muridnya.

Tampak sekali kekecewaan yang di wajah Ryu, ia tak tahu lagi dengan cara yang bagaimana untuk membunuh wanita cantik dan cerdik bernama Lee Ji-eun.

“Stoopp….. hehehehe” Ji-Eun berdiri didepan barisan murid-muridnya, ia masih menggenggam tangan kiri Ryu. “Anak-anak…. Kita sudah sampai, apakah kalian siap mendaki gunung?” teriak Ji-Eun dengan ekspresi ceria nya yang unik.

“Yeeee…….!! Seonsaengnim ~~~!!” Murid-murid Ji-eun bubar seketika, ada yang duduk, ada yang berlari-lari mengelilingi taman bermain di dekat bukit, ada yang masih berdiri di tempat semula.

“Anak-anak…..!!!!!! Berbaris Lagi~~~~!! CEPAT~~~~!!” Dengan satu teriakan, semua muridnya mengikuti perintah Ji-Eun, mereka berbaris lagi, walaupun tak teratur.

“Siapa yang menyuruh kalian bubar hah?” teriak Ji-Eun, Ryu terlihat mentertawakan tingkah murid Ji-eun.

“Mereka lucu sekali… hihihihi” bisik Ryu pada Ji-eun, sambil menahan tawa. “Nuna… bisakah kau melepas tanganku?” Tanya Ryu

“oh…” Ji-eun pun melepas tangan Ryu yang sedari tadi tak sadar ia genggam. “Mianhae.. hehehe, aku pelupa” Ji-Eun beralasan, wanita itu mengatur semua barisan murid-muridnya begitu cepat.

“Ya…. Berbaris seperti tadi, kita akan naik bukit bersama-sama, saling berpegangan tangan ya, dan… Kenalkan… Dia adalah Ahjussi yang bekerja sebagai Polisi, dia bertugas melindungi kita semua dari penjahat,  Ayo sapan Ahjussi”  perintah Ji-eun pada muridnya.

“Annyeonghaseyo… Ahjussi……….” Semua muridnya berteriak seketika.

“Sssst… perkenalkan namamu… sapa mereka” bisik Ji-Eun. Ryu curiga saat itu, jangan-jangan Ji-Eun sudah mengetahui apa sebenarnya tujuan Ryu mengikutinya. Jangan-jangan ji-eun sudah tahu sedari tadi Ryu sibuk menyiapkan racun biologis khusus untuknya.
Diam, tak ada suara yang keluar dari bibir Ryu, dia hanya memandangi Ji-Eun.

“Hmmm??” Ji-Eun menggoyang-goyangkan tangannya di depan mata Ryu, “Hei.. Ssstt…” Ji-Eun menggoyang-goyang bahu Ryu,

“Hei… perkenalkan dirimu pada mereka, baru kali ini mereka bertemu dengan polisi sepertimu” kata Ji-Eun dengan suara yang lembut.
Itu mampu membangunkan Ryu dari lamunannya yang lama. Ia menghadap semua murid Ji-Eun, berdiri tegap, memberi hormat seperti polisi biasanya, dan berkata dengan lantang

“Annyeonghaseyo. Aku Ryu, Aku akan melindungi kalian semua hari ini. Senang berkenalan dengan kalian semua” Bodohnya Ryu, ia memberikan identitasnya yang asli pada targetnya sendiri.

“Baiklah……. Semuanya…….. Ayo kita mendaki gunung sekarang~~~!!”
“Hey… yang benar saja, itu hanya bukit” kata Ryu

“Kalau kau memandangnya bukit, tapi anak-anak memandangnya sebagai gunung. Hehehe” kata Ji-eun sambil berlalu dari hadapan Ryu. Semua murid mengikuti wanita itu, berjalan dan mendaki.
Ryu tetap berdiri di tempatnya semula, kali ini ia mengisi pistol caliber 32, memenuhi semua dengan peluru yang masih baru.

“aku akan membunuhnya Hyung… aku pasti membunuhnya…” Di selipkannya pistol caliber 32, di saku jasnya.  Lalu dia mengikuti targetnya menuju puncak bukit.

***
Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, 11 Februari 2013  11:15

Ryu duduk di atas bukit, sambil mengawasi targetnya, seperti serigala yang mengawasi domba di ladang rumput.

“Ahss… haruskah aku membunuhnya sekarang?...” ia bertanya pada dirinya sendiri. Lalu direbahkan tubuhnya diatas rumput, “Ah… aku lebih suka tidur daripada membunuh wanita itu.. Hyung… mengapa kau menyuruhku membunuh wanita seperti dia… lebih mudah kalau aku membunuh ayahnya…hmmm” kata Ryu, sambil menutupi wajahnya dari sinar matahari yang terlalu menyengat.

Drrrrt… Drrrt…

Ryu dengan cepat membuka jasnya dan melihat layar handphonenya. Ternyata Hyung ketua gang mafia menelponnya. Tak tahu apa yang harus dia katakan, Ryu hanya membiarkan telp itu mati sendiri.

Drrtt… Drrrrrrtt…

Akhirnya Ryu mengangkat sambungan telp itu.

“RYU~!!! Apa yang kau lakukan disana HAH?” suara teriakan Hyung terdengar sangat keras.
“Hyung… aku ? aku sekarang ada di Daemyeong, menjalankan perintahmu” jawab Ryu dengan gugup
“bagaimana kau bisa membunuh wanita itu, kalau kau hanya tidur di atas bukit hah?...”
“Hyung… kau mengawasiku?”
“Hummm… lihatlah di balik pohon, dekat family market, kau bisa melihat mobilku?”
“Haisss…”
“Bunuh dia sekarang, atau kau yang kubunuh”
“tapi hyung… HYUNG~!!” sambungan telp telah terputus, mobil yang terparkir di balik pohon itupun sudah tidak ada lagi.

“Haissssss…. Ssssibbalyoo..!!” kata Ryu, ia meletakkan handphone nya di saku celana, dan ia mulai turun bukit mendatangi wanita itu.

“Aku harus bisa membunuhnya sekarang… haisss..” kata Ryu sambil menyiapkan pistol caliber 32 di tangan kirinya.
Ji-eun masih terlalu asyik bermain dengan murid-muridnya. Wanita itu sedikit takut ketika Ryu mendatanginya dengan pistol di tangan kiri.

“Ada apa?” Tanya Ji-Eun dengan ekspresi ketakutan.

“Kita harus bicara, biarkan anak-anak disini, kau ikut denganku” kata Ryu sambil menyeret Ji-Eun menuju café didepan taman.

“Tapi.. tapi… mereka… apakah tidak berbahaya membiar…” kata Ji-Eun sedikit cemas, ia berpaling melihat murid-muridnya yang sedang bermain di taman.

“Sssstt… ikut saja denganku, mereka akan baik-baik saja” Ryu tetap saja menyeret Ji-Eun, mereka tidak masuk ke dalam café, melainkan berjalan terus menuju belakang café dan berbelok ke gang sempit, Ryu sibuk mencari tempat yang paling aman untuk menghabisi targetnya.

“Ada apa ini? Bisakah kau melepaskan lenganku? Kita terlalu jauh, muridku akan mencariku, Ryu… hei..” dihempaskannya tubuh Ji-Eun ke dinding, di sana tak ada siapapun yang bisa melihat mereka berdua, di gang sempit itu, tempat yang pas untuk membunuh Ji-Eun.

Ia pertahankan tubuh Ji-Eun dengan tangan kanannya yang kekar, agar tak bergerak dari tempat semula.

“Hyaaaakkk… apa yang akan kau lakukan hah? Ryu??” Sekuat tenaga Ji-Eun memukuli Ryu agar bisa melepaskannya

“Sssttt… sekali lagi kau berteriak, aku akan menembak kepalamu” Ryu kembali mengawasi sekelilingnya, ia tak mau membunuh wanita itu ditempat yang tidak aman,
Setelah merasa aman, dia kembali kepada Ji-Eun, di tatapnya wanita itu.

“Lee… Ji..Eun… sebenarnya aku bukan polisi, aku bukan mengikutimu untuk melindungimu, aku adalah orang yang akan membunuhmu” Ryu menyiapkan pistolnya, ia letakkan pistol pas di kepala Ji-Eun.

“Apa… mengapa kau membunuhku?, kita tak pernah bertemu sebelumnya” kata Ji-Eun, dari matanya terlihat sekali ketakutan, ia menatap Ryu, dan mulai dengan aksinya, ditendangnya perut Ryu. Tapi pria itu tak bergerak sama sekali.

“Tendanglah terus, sampai kau lelah… aku sudah terbiasa… Nuna… apakah aku harus bertemu denganmu dulu, lalu ada alasan untukku membunuhmu?... aku hanya pembunuh bayaran, kali ini aku akan membebaskanmu… aku tak tega bila membunuh wanita tak bersalah sepertimu, aku akan membebaskanmu, tapi dengan syarat, pergilah dari Korea, kalau kau tetap ada di Korea, aku akan cepat mengetahuinya, dan keputusanku yang terakhir adalah membunuhmu… jadi… bekerjasamalah denganku. Eoh…?”

“Apa… maksudmu HAH????!!” Teriak Ji-Eun. Ryu menampar wajahnya yang cantik, wanita itupun menangis sambil menahan suaranya.

“Sudah kubilang, jangan berteriak, mengapa kau tak mau bekerjasama denganku hah?.. aku ingin membebaskanmu… pikirkan hal itu, aku tak ingin membunuhku, tapi kau… terus berteriak, diluar sana… banyak orang yang sedang mengincarmu, mereka semua akan membunuhmu… aku sudah membebaskanmu, bagaimana kalau mereka mendengarmu, lalu datang kemari dan membunuhmu hah?”

“Andwae…. Kau sedang bercanda kan? Hah?” Tanya Ji-Eun, ia menatap pria yang akan membunuhnya dengan seksama.
“Lihat peluru ini, apakah ini palsu?” kata Ryu sambil menjatuhkan beberapa peluru yang ada disaku jasnya. Peluru itu berdenting ketika
menyentuh lantai kramik.

“Lalu… apa maumu sekarang.?... membunuhku?” tanya Ji-Eun

“Sudah kujelaskan sebelumnya Nuna… Aku tak akan melakukan itu, aku tak mau membunuh wanita yang tak bersalah sepertimu, Nuna… bisakah kau pergi dari sini? Aku akan berpura-pura telah membunuhmu, pakailah baju yang telah kubawakan untukmu… aku minta bajumu, aku akan melumuri bajumu dengan darahku, agar mereka tahu kalau aku telah membunuhmu. Cepatt……..”

“tapi…”
“Haisss… apa kau tak sayang dengan nyawamu sendiri hah?”
“bagaimana dengan muridku? Mereka akan mencariku…”

“Tenang saja, aku akan mengantarkan mereka kembali ke sekolah, cepat lakukan… sekarang….sebelum pembunuh yang lain mencarimu” kata Ryu, ia masih menahan Ji-Eun agar tetap bersandar di dinding.

“tapi….”

“Haissssss…. Ssssibbalyoo..!! cepat ganti.” Kata Ryu, ia melepaskan tangan kanannya yang sedari tadi menahan bahu Ji-Eun. Ji-Eun membuka tas yang di berikan Ryu, dan mengambil baju yang telah disiapkan pembunuh bayaran itu untuknya.

“Haruskah… aku mengganti pakaianku disini? didepanmu?”
“Hum…” kata Ryu datar, sambil menodongkan pistol kearah Ji-Eun.
“Bisakah… kau menutup matamu…” pinta Ji-Eun, ia masih sempat-sempatnya memperagakan Aegyo disaat genting seperti ini.

“Hyak… lakukan sekarang, atau haruskan aku membunuhmu saja Nuna?”

“Ryu… aku akan bekerjasama denganmu… tapi tutup matamu… juseyoo… Ryu…”

“hum baiklah” kata Ryu. Ia tetap menodongkan pistol kea rah Ji-Eun yang sedang sibuk berganti pakaian.

“Ryu… buka matamu… aku sudah menganti pakaianku, apa lagi yang harus kulakukan eoh?”

“Pakai kacamata ini” kata Ryu sambil memakaikan kacamata ke wajah Ji-Eun, “Dengan begini, tak ada yang tahu kalau kau Ji-Eun.
Pulanglah, aku sudah menolongmu, kau juga harus menolongku Nuna, jangan mengatakan pada siapapun kalau ada orang yang menjadikanmu target pembunuhan. Jangan mengatakan pada siapapun kalau aku akan membunuhmu, dan jangan membongkar identitasku. Aku tak membunuhmu, tapi banyak anggota mafia yang akan mengejarmu, jangan bekerja di sekolah itu lagi, pindahlah ke luar negeri, jangan tinggal di korea lagi kalau kau masih sayang dengan nyawamu, mengerti Nuna” kata Ryu, kali ini ia tak lagi menodong pistol keaarah targetnya, mereka berdua mulai bisa saling mempercayai. Ryu menggores lengannya sendiri dengan pisau, dan menumpahkan darah di baju milik Ji-Eun.

Wanita itu berdiri di hadapannya, matanya tak lagi mengeluarkan air mata, ia hanya tersenyum melihat Ryu yang sibuk menyiapkan barang bukti. 

“Ryu… terima kasih… kau memang penyelamatku”

“Nuna… pergilah sekarang, pulanglah, jangan kembali ke sekolah, kemungkinan beberapa pembunuh sudah mengintaimu di sekolah” kata Ryu sambil mengemasi barang bukti.

“Ryu…”

“Larilah… jeppallii…” JI-Eun pun berlari meninggalkan Ryu, tapi sesekali ia berpaling dan melihat pria yang telah menyelamatkan hidupnya.

“Aiiigooo… susah sekali bekerjasama dengan wanita itu… Hyung…. Sekarang aku akan menelponmu hahahaha… Aku sudah membunuhnya Hyung~~~!!” kata Ryu sambil mengotak-atik handphonenya.

Tak menunggu lama sambungan itu diterima “RYU~!! Kau dimana? Hah?” suara Hyung menggelegar hampir saja membuat Ryu gugup.
“Hyung~!! Aku sudah membunuhnya~!! Hahahahaha…”
“Yaaaaaa… Itu baru adikku… temui aku di bar”

“Baik Hyung” Ryu sang pembunuh bayaran yang melepaskan targetnya, tertawa lepas, akhirnya ia bisa menyelesaikan masalah tanpa membunuh wanita tak bersalah. Ia melangkah pergi meninggalkan gang sempit, bukti kematian Ji-Eun sudah ada di tangannya, sekarang dia bebas dari tugas yang mengusik hatinya itu.

Murid-murid Ji-Eun masih ada di taman, mereka seperti malaikat kecil yang belum mengerti bahwa dunia ini penuh dengan kejahatan, hampir saja guru mereka yang cantik itu dibunuh oleh Ryu.
Pria itu menghampiri murid Ji-Eun dan menyuruh mereka segera berbaris.

“Ya…. Berkumpul semuanya~!!! Ayo… Ayo… Ahjussi akan mengantarkan kalian pulang ke sekolah. Ibu guru kalian sudah pulang ke sekolah, karena sakit perut, jadi kalian pulang bersama Ahjussi yaaa”

“YEEEEEE AHJUSSI~~~~~!!” Anak-anak itu terlalu polos, mereka mengikuti Ryu dengan riang gembira, tanpa mencari tahu dimanakah sebenarnya guru mereka yang cantik berada saat ini.
Bisakah Lee Ji-Eun lolos dari percobaan pembunuhan yang akan dilakukan oleh pembunuh bayaran lainnya? Bagaimana reaksi Hyung setelah tahu kalau Ryu tak pernah membunuh targetnya?

To Be Continue 

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler