- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction : Sal-In - Part 3



Author : Ayuna Kusuma

Maincast :
Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun
TIGER JK : Hyung / ChangJun
5ZIC : JaeBo

Genre : Romance, Action


Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, 11 Februari 2013 13:08

Lee Ji-Eun berlari menuju kamar sewaannya di lantai dua, ia melihat ke sekililing, tak ada siapapun yang bergerak-gerik mencurigakan, dibukanya pintu kamar. Ia bergegas masuk, berlari menuju lemari pakaian, semua baju ia kemasi dengan cepat.

Satu kesempatan dia ragu, apakah hanya membawa tas ransel saja? Atau semua barang harus ia bawa, kalau membawa semua barangnya, ia tak bisa cepat melarikan diri. Akhirnya Ji-eun hanya membawa satu setel pakaian, dua jaket, dan slayer tebal.

Rrriing… Rriing… handphonenya bordering. Dengan cepat ia membuka sambungan.

“Yoboseyo….. Ah… Appa… kabarku?... baik saja Appa… wae… appa, tak perlu mengunjungiku, saat ini aku akan ke Pohang secepatnya, tunggu aku disana Appa… andwae.. sekolah sedang libur, jadi aku ingin pulang ke Pohang.ye… ah… aku sudah membeli tiketnya… ye Appa… bye..” Ji-eun menutup semua jendelanya, mematikan semua aliran listrik di kamarnya.

Saat berkemas, Ji-eun mendengar suara langkah kaki yang mencurigakan, Ji-eun melihat beberapa orang berdiri di depan pintu kamarnya, segera ia mengambil tas ranselnya, dan meloncat dari jendela, ia tutup jendelanya dengan sangat hati-hati, jangan sampai ada yang mengetahui kalau ada orang di kamar itu.

Ji-eun, masih bisa berdiri di sisi balkonnya yang sempit. Ji-eun mencoba melihat siapa sebenarnya yang ingin masuk ke dalam kamarnya, ia terlalu takut saat ini untuk menerima tamu, tak menunggu lama, suara tembakan terdengar, pintu kamar Ji-eun rusak karena tembakan yang beruntun, tiga pria masuk ke dalam kamar, dan memeriksa setiap ruang kosong, di bawah tempat tidur, di lemari, mereka menembaknya terlebih dahulu. Lalu melihat apakah disana ada orang yang mereka cari.

Merasa tak menemukan apapun, salah satu mafia yang mencari Ji-eun, pria berambut pirang, memukul temannya sendiri.

“HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAk~~~~!! RYU~~~~~!! Beraninya kau menipu kami…” pria berambut pirang segera mengambil handphone dari saku jasnya.

“Hyung… wanita itu tak ada dirumahnya… Hyung… Ye… aku akan tetap mencarinya… atau Ryu memang benar-benar membunuhnya?... ah yee… mayatnya tidak ada dimanapun… ah.. mollayo Hyung… ye.. ye… kalau kau percaya wanita itu masih hidup,
aku akan membunuhnya. Ye..” kata pria berambut pirang.

“Woooah… Hyung Hyung… lihat ini” kata pria berjas hitam lainnya, sambil membuka-buka album foto yang ada ditangannya. “Ahss… pantas saja Ryu tidak membunuhnya, wanita ini begitu cantik, kalau aku jadi Ryu aku akan menikahinya bukan membunuhnya hahahahaha Auh…Auh… Hyung… mianhae… Hyung…” pria berambut pirang tadi rupanya begitu emosi ketika mendengar anak buatnya mengoceh tentang kecantikan target pembunuhan. Dia memukuli anak buahnya sampai berdarah dikepalanya.

“terima ini… hmm.. terima ini… bisa-bisanya kau bermain disaat bekerja HAH???” pria berambut pirang itu masih saja memukuli anak buahnya. Ji-eun melihat kekerasan itu secara langsung, tangannya bergetar dan mengeluarkan keringat berlebih. Hampir saja ia jatuh, ia masih bertahan berdiri di balkon. Belakang jendelanya.

Mafia yang ketiga, bersandar di lemari Ji-eun yang menghadap jendela, ia menyiapkan pistol dengan cepat “Hyung… kau melupakan memeriksa jendela” kata pria itu, pandangan Ji-eun dan pria itu saling bertemu.

DRRRRRRRRRRRRRRRttttttttttttttttttt……..

Tembakan dari machine gun beruntun menghancurkan jendela Ji-eun yang terbuat dari kayu. Sebelum tembakan itu Ji-eun sudah meloncat dari lantai dua, wanita itu mendarat dengan kakinya di tumpukan sampah yang ada dibawahnya. Pecahan kaca botol menembus celananya dan menusuk lututnya. Ji-eun segera berpindah posisi, ia berjalan dengan cepat menjauh dari tong sampah, sambil menahan sakitnya, Gudang apartemen terbuka, Ji-eun masuk lalu menutup pintunya, bersembunyi di gudang apartemen mungkin keputusan yang bagus saat ini.

Ketiga pria itu tertawa terbahak-bahak di dalam kamar Ji-eun. “Hyak… apakah kau dengar ada yang jatuh?. Apakah kita berhasil membunuh target kita? hahahaha” kata pria berambut pirang itu sambil menghancurkan jendela dan melihat ke bawah. Tak ada siapapun disana, tak ada mayat yang tergeletak, hanya ada tong sampah yang berjejer di garasi.

“Haisss… kita kehilangannya lagi…” kata pria itu sedikit kecewa, ia meremas rambutnya sendiri sambil menyandarkan tangannyaa ke balkon.

“Hyung… mungkin saja tadi yang jatuh hanya pot bunga, itu… lihatlah… hanya pot bunga yang hancur di sebelah tong sampah… aku percaya wanita itu sekarang bersama Ryu” kata salah satu mafia yang kepalanya sudah dihajar habis-habisan tadi.

“SHUT UP. Atau kau yang kubunuh sekarang hah?” kata pria berambut pirang sambil menodongkan shotgun caliber 9 pas di dada bawahannya.

“Hyung… sudahlah… ayo kembali, biarkan wanita itu lari, aku tahu pasti, dia sekarang sedang terluka. Biarkan saja, kita bunuh wanita itu secara pelan… kita balaskan dendam Pyo. Ayah wanita itu telah menghancurkan adikmu, aku yang orang lain saja merasakan marah, apalagi kau… Ayo Hyung, kita kembali saja, suatu saat nanti kau akan bisa menyiksa wanita itu. Aku akan mendukungmu”

Ketiga anggota mafia The ShadowMan, akhirnya keluar dan pergi dari apartemen Ji-Eun, mereka tak membawa kabar baik untuk atasan mereka. Sedangkan Ji-eun masih duduk di gudang apartement sambil memeluk tas ranselnya.

Setelah merasa aman, ia mencabut satu persatu kaca yang menancap di kakinya.

***

Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, GyoJong Bar. 11 Februari 2013 15:08

Gyojong Bar, terlihat ramai dipenuhi pria yang mabuk di sana sini, mereka menari sesukanya, seakan dunia tak akan berakhir bila mereka menari, beberapa dari mereka ada yang berdebat, bertengkar, berciuman, bahkan saling menodong pisau.

Ryu berjalan dengan santai, tapi mungkin pikirannya tak sesantai tingkahnya. Ryu sedikit ketakutan, bagaimana kalau Hyung tahu dia belum membunuh targetnya, malah melepaskannya begitu saja. Ketika Ryu berjalan, banyak wanita yang melepaskan pasangan mereka dan menyentuh Ryu, tapi pria itu sadar kalau semua wanita di bar itu milik banyak orang. Ia pun sebisanya menghindari semua wanita yang ada di bar.

Ryu masuk ke dalam ruangan karaoke VIP. Didalamnya sudah ada Hyung dan Chongbong yang sedang menikmati beberapa lagu dengan wanita di samping mereka.

“Hyung…” sapa Ryu ragu-ragu. Ditangan kirinya ia membawa tas
plastic. “ Aku sudah membunuh targetku” kata Ryu sambil melemparkan tas plastic hitam itu ke meja.

“oh… Ryu… duduklah…” kata Hyung “kalian bertiga, keluarlah…” Hyung menyuruh kedua wanita yang ada di sisinya dan Chongbong keluar dari ruangan.

Ryu masih berdiri menatap atasannya.

“Ada apa dengan tanganmu? apakah wanita itu melukaimu? Hehehe… tak biasanya kau terluka kalau membunuh targetmu… jangan berdiri saja… duduklah disini… “ kata Hyung sambil menyiapkan tempat untuk Ryu disampingnya.

“hmmm, ini…” Ryu melihat lukanya sekilas lalu kembali menatap atasannya dengan pandangan mantab “benar.. wanita itu melukaiku… saat aku ingin membunuhnya”

“Apa ini hah?” Hyung mulai membuka tas plastic hitam yang dilemparkan Ryu. “Hah… hanya baju? Darah?... apakah hanya ini bukti yang kau berikan untukku? Mana mayatnya? Kakakku ingin mayatnya… dia ingin membelah-belah mayat gadis itu… hmmm… bisakah kau membawa mayatnya kemari?”

“mayatnya… sudah kubuang..”

“Heh… apa kau sedang bermain-main denganku? HAH???” Hyung menendang meja, meja terlempar sampai menghantam dinding ruang karaoke.

Braaakkk.. Pria yang di sebut-sebut kepala mafia The ShadowMan itu memecahkan botol vodka dengan tangan kanannya, dia mendekati Ryu dan menunjukkan pecahan botol itu tepat di depan wajah Ryu.

“Apa kau sedang bermain denganku?” Wajah Hyung terlihat menahan emosi yang sudah memuncak, matanya hampir terlihat keluar ketika melihat Ryu yang ada dihadapannya.

“Anni…” jawab Ryu simple.

Dengan membabi buta, Hyung memukuli Ryu, ia melempar pecahan botol ke belakangnya, lalu menghajar anak buahnya dengan pukulan bertubi-tubi.

“Tega-teganya kau mempermainkanku hah????” Ryu sama sekali tak menolak pukulan dari atasannya. Hyung memukul perut, wajah, dada dan terakhir ia menghantam ulu hati Ryu, hingga pria tampan itu tersungkur ke lantai.

“Hyung… Aku sudah membunuhnya…hmpp huk… huk…” Ryu mengatakan hal yang sama, ia mempertahankan kebohongan demi menolong wanita itu, darah yang menghitam keluar dari mulutnya berkali-kali.

“Kau masih berbohong padaku Hah??” Hyung menendang kepala Ryu berkali-kali dengan sepatu kulitnya.

“Hyung… baiklah… kalau kau tak mau percaya…”
Pria yang berhasil menghajar Ryu, berjongkok sambil menjambak rambut anak buahnya dan melihat wajah anak buahnya yang hampir hancur. “Jangan melemah seperti ini, kau tau… kau pembunuh bayaran yang paling kubanggakan, jangan karena wanita seperti dia, kau mengurungkan niat untuk membunuh. Bangunlah… aku sudah puas menghajarmu, bangun ayo banguuuuuuuuun” Hyung membantu Ryu untuk bangkit.

Ia menyeret Ryu agar duduk di sebelahnya, ia bersihkan jasnya dari debu, lalu duduk seperti semula. Ryu masih setengah sadar, darah membasahi wajahnya, beberapa kali ia terbatuk dan mengeluarkan darah berkali-kali.

“Maafkan aku Ryu, kalau terlalu keras denganmu, tapi kau memang harus mendapatkan itu, kau tak bisa coba mempermainkanku… Chang JUN…. tak ada yang bisa mempermainkan CHANG JUN hahahahahaha” pria bernama ChangJun itu tertawa, ia memukul pundak Ryu dengan halus. “Sudahlah… jangan berbohong lagi. Kau sudah lepas dari pekerjaan ini, aku memang salah, memberimu tugas membunuh wanita cantik seperti dia, hehehe… padahal kau sama sekali belum pernah bertemu dengan wanita iya kan? Hahahahaha… ya… sebagai orang yang pernah menjadi orang tua angkatmu, aku paham bagaimana perasaanmu saat ini. Hmmm” ChangJun membuka botol minuman keras yang masih utuh di sampingnya.

“Ryu… sudah… jangan membunuh wanita itu lagi, aku sudah mengutus JAEBO. Untuk membunuhnya” kata Chang Jun sambil mulai meneguk minumannya.
Mendengar penjelasan ChangJun, Ryu sedikit sadar, ia menegakkan tubuhnya, “Mwoo… Moraguyo?” Tanya Ryu dengan suara tertahan.

“Hmm… ah….. enak sekali minuman ini… apa Ryu?” ChangJun memandang Ryu dengan senyumannya yang aneh.

“Moorraguyo??... kau mengutus siapa untuk membunuh ji-Eun?” Tanya Ryu

“Jae…Bo.. kakak, Pyo, kau mengenalnya kan? Pria yang sanggup membunuh 17 orang dalam satu kali pertempuran... Dia... Dendamnya begitu besar kepada polisi yang membunuh adiknya.. hehehe… dia bilang padaku, akan memotong-motong tubuh wanita itu dan memberikan pada Ayahnya dalam bentuk daging panggang HAHAHAHAHA……. Ternyata masih ada yang lebih sadis darimu Ryu hahaha” ChangJun tertawa sambil mengangkat kakinya ke sofa, ia terlihat begitu bahagia dengan fakta yang didapatnya.

“Hyung… apakah harus membunuh wanita itu? dia hanya wanita biasa… tak ada sangkut pautnya dengan urusan kakak iparmu dan polisi itu, dia hanya guru sekolah dasar, wanita biasa yang lemah, dan apakah harus kau membunuh wanita itu? kenapa tak kau bunuh saja polisi yang telah membunuh Pyo?? Hah??” Ryu berdiri gontai menghadap ChangJun, ia terlihat marah setelah mengetahui apa yang akan dilakukan para mafia pada wanita yang ditemuinya tadi pagi.

“Wooooooi…wooooooii… apakah kau marah padaku? Ryu… apakah kau jatuh cinta pada wanita itu hahahaha. Sudah lupakan, aku akan membawakanmu wanita yang lebih cantik daripada dia”

“HYUNG~~~~~!!! Apakah kau setega ini? Hah? Selama ini kita hanya membunuh pejabat korup, penjahat, selama ini kita membantu kepolisian, tapi mengapa kau mengikuti kakak iparmu hah??? Mengapa kau mau membunuh wanita yang tak bersalah itu hah??? Persetan dengan cinta, aku sama sekali tak memikirkan itu HYUNG~!!
Tapi… apakah tak ada cara lain untuk membalas dendam?? Aku tak akan mau menodai tanganku dengan membunuh wanita itu atau wanita lainnya” Ryu kembali menghempaskan tubuhnya di atas sofa, ia membersihkan wajahnya yang penuh darah dengan saputangan hitam miliknya.

“hahahahaha… apa kau marah padaku?.... Ryu…. Kau harus mengerti… sebagai pembunuh bayaran, kita harus bisa membunuh siapa saja… siapapun target kita, harus dibunuh, kau sudah mendapatkan separuh uang dariku, seharusnya kau membunuhnya, atau setidaknya, memotong tangan atau kaki wanita itu sebagai hadiah untuku…”

“HYUNG~!!” Ryu melemparkan amplop tebal ke lantai, “Aku keluar dari pekerjaan ini, ini uangmu, aku tak memakainya sama sekali. Aku sudah muak bekerja menjadi pembunuh bayaran”

Ryu keluar dari ruangan karaoke vip, ia meninggalkan Hyung nya yang sedari dulu sudah menghidupinya sebagai ayah angkatnya. Apa lagi yang akan ia lakukan kali ini.

Di dalam ruang karaoke yang berantakan, Changjun masih sibuk meneguk minumannya, setelah habis, ia menghempaskan botol itu ke dinding hingga pecah berantakan. “Ryu…. Mengapa kau begitu tega denganku, demi wanita kau meninggalkanku… aku tak akan membiarkanmu dan wanita itu hidup… lihat saja… kau tak mau menganggapku sebagai ayahmu, tidak masalah, tapi kalau kau seperti ini, aku tak bisa menahan kemarahanku”

ChangJun membuka smartphonenya dan menunggu panggilan menyambung.

“JAEBO… targetmu ada dua sekarang, Anakku Ryu, dan Lee Ji-eun Anak polisi brengsek itu… cepat bunuh mereka berdua, dan berikan aku mayat Ryu… aku akan mengawetkannya untuk pajangan di rumahku.. Hahahahaha…….. Hahahahahahahahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……… RYUUUUUU~~~~~~~~~~!!! HYAAAAAAAAAAAAAAAAK~~~~~!! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Changjun menghempaskan smartphonenya, ia merusak semua barang yang ada didalam ruangan itu.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Nantikan Part selanjutnya

To Be Continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler