- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction : Sal-In - Part 5



Author : Ayuna Kusuma

Maincast :

Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun
TIGER JK : Hyung / ChangJun
BaekHyun EXO K: Yokji
Park Eun Ji 9MUSE : Chunghyang


Genre : Romance, Action


11 Februari 2013 18:45 Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, GyoJong Bar

ChangJun masih berada di café, kali ini dia pindah ruangan, karena ruangan sebelumnya sudah ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Pemilik café tak berani menangih kerugiannya pada ketua mafia

TheShadowMan. Dia lebih memilih untuk diam dan terus melayani permintaan ChangJun. Kalaupun dia melaporkan ChangJun ke polisi, keluarganya akan menjadi target pembunuhan selanjutnya.

ChangJun pernah di tahan berkali-kali. Tapi karena bantuan dari kolega sesame mafia di Korea, dia berhasil bebas. ChangJun dikenal banyak kalangan mafia sebagai pria yang rajin membunuh. Siapapun orang yang membayarnya, ChangJun akan patuh sepenuhnya pada orang tersebut.

Chongbong masuk ke dalam bar karaoke, dengan tergesa-gesa ia duduk di sebelah Changjun.

“Waee…..” gumam ChangJun sambil meneguk minumannya.
“Hyung… Jaebo dan kedua anak buahnya dinyatakan meninggal di bus. Mereka meninggal saat bertarung dengan Ryu” mendengar berita itu ChangJun kembali meluap-luap amarahnya. Ia melempar gelas kacanya kea rah televise layal lebar yang ada didepannya. Beberapa wanita panggilan langsung berlari keluar, ketakutan dengan aksi ChangJun.

“Panggil YokJi dan ChungHyang sekarang… bawa mereka menghadapku” kata ChangJun sambil mencekik leher Chongbong, dan melemparnya ke samping, sampai tubuh pria itu memecahkan meja kaca didepan Changjun. Pria yang bekerja sebagai tangan kanan bos mafia itu berlari keluar. Lalu berlari ke luar bar.
Berlari begitu cepat di trotoar, menembus banyak pejalan kaki, walaupun kepalanya terus mengeluarkan darah ia tetap saja berlari, lalu berhenti di depan sebuah pusat game. Chongbong masuk
kedalam pusat game. Dia mencari ke sana kemari, dan.

“Yokji… Hyung memanggilmu” Chongbong menepuk bahu seorang pria yang sedang asyik bermain game shotgun, pria itu tetap saja bermain tak mempedulikan yang dikatakan orang di belakangnya.

“HYAK~!! YOKJI~!! HYUNG MEMANGGILMU” teriak Chongbong, lalu ia mengatur nafasnya yang hampir berhenti. Tiba-tiba Pria yang bernama Yokji menancapkan shotgun mainan ke kepala Chongbong.

“Aku… sudah mendengarnya… kalau saja ini shotgun asli, aku akan hancurkan kepalamu…” Yokji kembali bermain, “Ada apa dia mencariku? Hum? Bukankah dia sudah memiliki Ryu?”

“Chunghyang… kau juga dicari Hyung” kata Chongbong sambil menghentikan seorang gadis yang berjalan membawa kantong koin.

“waeee… aku? Ada apa dengan Hyung sampai dia mencariku?” kata gadis itu sambil mulai memasukkan koin di sebelah Yokji.

“Kalian berdua… aigoo… nafasku berat sekali… Yokji… Chunghyang. Cepat ke bar, Hyung mencarimu, dia pasti ingin kau berdua memburu Ryu…” kata Chongbong sambil duduk di belakang Yokji.

“Really? Ryu menjadi target ayahnya sendiri?” Tanya ChungHyang, ia mulai tertarik dengan pembicaraan, ditinggalkannya permainannya.

“Ya… cepatlah… kalian ke sana… aku akan dibunuh Hyung kalau dia menunggu lama”

“Hyung… apakah dia sudah bosan dengan anaknya yang tampan? HAHAHAHAHAHAHA” Yokji meletakkan mainannya,

“Apa kau tak tahu kabarnya? Ryu tak mau membunuh targetnya, ia membiarkan targetnya lari, lalu malam, ini dia membunuh Jaebo dan kedua anak buahnya, Hyung sangat ingin kalian berdua membunuh Ryu”

“heh… Chunghyang… apa kau percaya ini?” Tanya Yokji sambil melihat Chunghyang.

“hmmppt… hahahahaha… Ayo Yokji… aku sudah menunggu saat ini begitu lama”

***

11 Februari 2013 19:09 Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, GyoJong Bar

Yokji dan Chunghyang masuk ke dalam bar karaoke, dimana Changjun menunggu. Chongbong hanya menunggu didepan. Ia tak mau menjadi sasaran kemarahan bosnya.

“Hyung… kau mencari kami?” sapa Chunghyang sambil duduk di samping bosnya. Yokji, tak banyak berkata-kata, Ia hanya duduk disamping Changjun, sambil mengotak-atik smartphonenya.

“Kalian berdua… ini, dua juta won, untuk kalian, bawalah Ryu kehadapanku, dan wanita yang bernama Ji-eun bunuh dia, lalu kirim mayatnya ke Pohang” kata Changjun sambil melempar satu amplop penuh uang.

“Apa kau yakin? Menyuruh kami membunuh anakmu?” Tanya Yokji, sambil meneruskan bermain smartphone.

“Dia bukan anakku sekarang… Yokji, bisakah kau menghormati atasanmu? Letakkan mainanmu. Seriuslah sedikit… aku hanya memilikimu dan Chunghyang sekarang. Jaebo sudah mati tertembak, dan kakak iparku, sangat ingin melihat mereka berdua disiksa, kehilangan dua anak memang sangat menyakitkan”

“Baik.. Hyung…” Yokji menyimpan smartphone di kantong kemejanya. “Apakah kita mulai sekarang?” Tanya Yokji, Chunghyang hanya tersenyum saja mendengar kekasihnya di sindir.

“Tentu saja… aku akan menambah uangnya, kalau kalian membawa Ryu padaku”

Tanpa aba-aba Yokji dan Chunghyang keluar dari bar, meninggalkan bosnya sendirian.

“Chunghyang… kau mencari mereka kearah barat, aku akan mencarinya ke timur. Okey?” kata Yokji, ia memberikan kalungnya pada Chunghyang, sebaliknya Chunghyang memberi Yokji topi yang tadi ia pakai.

“Okey Dokey Oppa…”

“Ryu, tak pernah mengenalmu, dia tak pernah bertemu denganmu, jadi targetmu Ryu, Wanita ini…” kata Yokji “Wanita ini… dia tak pernah tahu diriku, jadi dia targetku… berhati-hatilah, kemungkinan mereka berdua memiliki senjata…”

“Ye.. Oppa.. Bawalah Topiku, dengan itu, kau akan merasa selalu bersamaku” kata Chunghyang sambil membenarkan topi miliknya
di kepala Yokji.

“Humm… kalung keberuntunganku, akan melindungimu… ayo kita mulai sekarang” kata Yokji. mereka berpisah. Mencari target mereka masing-masing.

***   

11 Februari 2013 20:00 Daegu Station. Chilseong 1(il)-ga, Buk-gu, Daegu

Daegu Station. Terlihat Ryu berjalan mendekati loket tiket, di belakangnya Ji-eun masih tetap saja mengikuti. Ia sesekali bersembunyi, ketika Ryu menoleh kebelakang. Ji-eun ternyata gadis yang tak pernah menyerah. Setelah Ryu membeli tiket lalu duduk di ruang tunggu, ia juga mendatangi loket tiket.

“Ahjussi… pria tadi, yang memakai kaos hitam, dia beli tiket kereta tujuan mana?” Tanya Ji-eun, ditutupnya kepala Ji-eun dengan hoodie. Agar Ryu tak melihatnya sedang membeli tiket.

“Ah… pria yang duduk disana?” Tanya penjual tiket sambil menunjuk Ryu.

“Haiss.. jangan keluarkan tanganmu, nanti dia tahu… dia mau kemana? Ahjussi?” kata Ji-eun

“Dia.. akan ke Gumi… kau mau beli tiket atau bertanya saja hah?” Ahjussi penjual tiket membentaknya.
“Satu tiket ke Gumi” jawab Ji-eun sebal.

“Okey… ini tiketnya, selamat berlibur nona…” kata petugas tiket sambil tersenyum pada Ji-eun.

“Kalau sudah kuberi uang, kau bisa tersenyum sekarang, huh” keluh Ji-eun sambil berlalu.

Ryu tak ada lagi di tempatnya semula, merasa kebingungan, Ji-eun berlari mengelilingi ruangan tunggu yang begitu besar. Ryu tak ada disana.

“Ryu… kau kemana hah… aigoo… aku takut sekali…” kata Ji-eun sambil berjalan, melihat kekiri dan kekanan. Ia tak tahu kalau Ryu berada di belakangnya, bergantian mengikutinya.

Dengan hati-hati, Ryu mengikuti gadis itu, ia ingin tahu, apa sebenarnya yang di inginkan Ji-eun. Mengapa ia terus saja mengikutinya. Padahal sedari tadi, Ryu selalu memarahinya, mendorongnya, bahkan sempat berpikiran akan membunuhnya.

“Ryu… kau kemana eoh… aigoo… banyak sekali orang disini…” kata Ji-eun, sekarang ia berjalan jauh sekali dari stasiun, mencari orang yang sebenarnya ada dibelakangnya. Di seberang stasiun banyak sekali pedagang makanan. Ji-eun membeli sosis panggang dan melahapnya. Lalu berjalan lagi mencari Ryu.

“HYAAAAAAAAAAAAAA~~~~~~!! RYUUUUU~~~~~!! Kau kemana HAH~~~~!! Aigoo.. kakiku…” kata Ji-eun sambil berjongkok memijat kakinya.

Ryu yang sedari tadi mengikuti gadis itu, mendorong pantat Ji-eun
ke depan, hingga gadis itu tersungkur.

“Hya… mengapa kau mengikutiku hah?” Kata Ryu, sambil memakan sosis panggang yang sama seperti milik Ji-eun.

“Ryu…..!! ah… aku? Aku tidak mengikutimu… hehehe” Ji-eun mencoba menyembunyikan apa yang telah ia lakukan. sambil bangkit berdiri, lalu membersihkan bajunya.

“Aigoo… bisakah kau sekali saja menjauh dariku?, semenjak aku mendapat tugas membunuhmu, aku selalu sial, Hyemi meninggal gara-gara dirimu, apakah kau tak punya malu hah? Hah? Hah? Hah?” Tanya Ryu sambil memukul dahi Ji-eun.

Gadis itu diam saja, melihat tingkah Ryu, ia membiarkan dahinya dipukul pria itu berkali-kali.

“Ryuuuuu…… pukullah aku…eoh… pukullah… aku…aku sangat berduka cita atas kematian kekasihmu... aku... tak punya siapa-siapa saat ini Ryu… Kolegaku di Pohang, mengatakan kalau Ayahku terbunuh saat tugas, Ryu… aku tak punya siapa-siapa saat ini… dan hanya kau yang bisa menyelamatkanku ryu……” gadis itu menatap Ryu sambil menangis.

Tak sadar, Ryu menjatuhkan sosisnya, ia terlalu terkejut dengan kabar yang disampaikan Ji-eun.

“Benarkah? Ayahmu?... “

“huu umm…. Ryu….. hanya kau yang bisa melindungiku…” Ji-eun masih menangis, ia terlalu lemas untuk menyeka air mataanya. Kenyataan hidup yang sangat pahit menerpa mereka berdua.

“TheMadMan, mereka pasti dibalik kematian ayahmu… Ji-eun.. sudah jangan menangis… aku turut berduka cita atas kematian Ayahmu…”

“Ryu… aku akan ikut kemanapun kau pergi… aku sudah membeli tiket ke Gumi… aku akan ikut denganmu… kemanapun kau pergi… selamatkan nyawaku Ryu…” kata Ji-eun sambil memperlihatkan tiket yang dibelinya.

“Ji-eun…” Ryu tak bisa berkata apa-apa lagi melihat gadis yang dibencinya ternyata menaruh harapan besar padanya.

“Ryu….” Ji-eun mendekati pria bekas pembunuh bayaran itu, dan menggenggam tangannya “Aku berjanji… aku akan menyelamatkanmu… dan berjanjilah… selamatkan diriku… hum…?”

“Ji-eun?...” kata Ryu, dia menatap wajah gadis itu yang basah karena air mata.

“Ryu… berjanjilah padaku… dengan berdua, kita akan menjadi lebih kuat”

“Ya… aku berjanji akan melindungimu…” Ryu memeluk Ji-eun yang tetap menangis. Ia menenangkan gadis itu dengan pelukannya yang erat.

“Sudah… jangan menangis… kita harus lari sekarang juga… aku yakin ChangJun, akan mengutus banyak anak buahnya untuk mencarimu… kalau kau tetap menangis, kau akan mudah untuk dikalahkan” kata Ryu sambil melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Ji-eun dengan saputangan hitam miliknya.

Ryu dan Ji-eun tak sadar, kalau di belakang dan didepan mereka sudah ada Chunghyang dan Yokji yang mengintai. Chunghyang mengintai dari belakang Ryu, dibalik tumpukkan kardus-kardus. Dan Yokji mengintai dari lantai dua sebuah motel.

Drrrrrrt Drrrrrt.

Yokji membuka smartphonenya

“hummm… itu mereka… jangan Chunghyang… biarkan mereka menikmati waktu mereka terlebih dulu, apa kataku… Ryu akan ke Gumi, aku sudah membelikan tiket untuk kita berdua, jangan bertindak gegabah, kita buat mereka terkecoh, dan membunuh keduanya bersamaan… hum… love you too” Yokji menutup smartphonenya, dan terus mengintai Ryu juga Ji-eun yang mulai beranjak pergi ke Stasiun.

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler