Fanfiction Butterfly - Part 2 - NEW Series.



Author : AyunaKusuma ( Yun )

"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini... hehehe"

Genre : Mystery, Romance, Sadness

Maincast :

Jin Hee : Lee Yeon-hee
In Moon : Song Ha-yoon
Min Gyong : Changmin
Kim Nam : Kim Nam Gil


***

14 Februari 1989 - Daegu

***

Wanita tua yang memiliki toko kelontong, membuatkan susu hangat untuk Jinhee dan kopi untuk Kimnam. Ia berkali-kali menyentuh perut Jinhee yang sudah membesar. Ia membuka sedikit jendela tokonya agar bisa melihat Mingyong apakah sudah datang atau belum.
Cuaca begitu parah hari ini, salju turun semakin deras dan cepat. Jarum jam menunjukkan angka ke tujuh dan ke angka dua belas.
Pukul tujuh sore hari, mereka masih menunggu Mingyong. Jinhee sudah tak menangis lagi, ia hanya terdiam menatap ke luar jendela, seakan begitu menantikan suaminya kembali.

“Aigooya… kau pria yang baik… siapa namamu?” Tanya wanita tua pemilik toko, sambil menepuk dada Kimnam.

“Kim Nam.. itu namaku… ehehe… aku kasihan padanya… kalau Ahjumma melihatnya saat di sekap… ahjumma… tak akan bisa menahan air mata… ommo… mianhae.. aku jadi ingin menangis” kata Kimnam sambil mencoba menahan air matanya.

“Tidak apa… tidak apa… Jinhee… memang sungguh wanita yang menyedihkan… bagaimana bisa keluarganya sendiri menyekapnya… lalu kakak tirinya merebut suaminya… aku tak tega dengan ini semua… kalau aku bertemu Moon… ingin sekali aku… menghajarnya…!!” ujar wanita tua pemilik toko, sambil memperagakan sedikit taekwondo yang ia kuasai.

“Apakah.. Ahjumma tahu bagaimana kehidupan Jinhee bersama suaminya? Apakah mereka pernah bertengkar ? saling melukai? Mungkinkah suami Jinhee ada dibalik kasus penculikan selama 5 bulan ini?”

“Akss… Mollayo…” kata Wanita tua itu, ia mengambil bantal, lalu menaruhnya di dekat Kimnam, ia duduk diatasnya, lalu bersiap memulai sebuah cerita mengenaskan mengenai Jinhee dan keluarganya.

“Yang aku tahu… Jinhee adalah anak seorang pembisnis ternama di Kangnam… Ibu tiri Jinhee, ibu Moon, menikah dengan ayah Jinhee karena hartanya… kabarnya ayahnya meninggal mendadak setelah melihat istri barunya berselingkuh di rumahnya sendiri… mungkin karena shock lalu mati di tempat. Jinhee menikah sudah satu tahun yang lalu… ia pindah ke rumah itu setelah menikah dengan suaminya… Mingyong… kurasa ia pria baik… ia sama sekali tak pernah memukul istrinya… bahkan membentak pun aku tak pernah mendengarnya. Rumahnya begitu dekat dengan rumahku… aku pasti mendengar kalau mereka bertengkar. Tapi selama ini aku tak pernah mendengarnya… Jinhee dan Mingyong adalah pasangan yang serasi. Tujuh bulan yang lalu… Moon pindah ke rumah itu, katanya ia ingin merawat adiknya yang sedang hamil, menjaga Jinhee, karena Mingyong sering pergi ke luar negeri… Lima bulan yang lalu… ketika Mingyong datang.. aku sempat mendengarkan Moon dan suami Jinhee berteriak-teriak, saling memaki, bahkan mereka sempat keluar bersama. Tetanggaku yang tinggal di sebelah sana… kau bisa lihat rumah itu?” Kata Wanita tua pemilik toko sambil menunjukkan satu rumah yang bercat ungu.

Kimnam hanya menangguk saja memastikan bahwa ia sudah melihat rumah itu “Dia.. mengatakan padaku akan Jinhee pergi ke luar negeri, karena dia akan menikah dengan seorang pria, banker dari amerika, memang beberapa kali kami memergoki dia pergi dengan seorang pria… tapi aku tak tahu kalau Jinhee… keadaannya seperti ini… akupun tak percaya dengan gossip itu.. tapi aku juga marah pada Jinhee mengapa ia bisa meninggalkan suaminya dan memilih menikah dengan pria lain saat ia mengandung… setelah seminggu gossip itu beredar… aku sering melihat Moon tetap tinggal di rumah itu… dia pernah datang ke tempatku memberikan kue, katanya kelebihan memasak untuk Mingyong… AISSH!! Tak kusangka kalau Moon seperti itu… dia wanita busuk… bisa-bisanya menghancurkan rumah tangga adiknya sendiri..!!... Kajja.. minumlah… sebelum kopinya dingin” kata Wanita tua pemilik toko, ia berpindah posisi, kali ini ia mendekati Jinhee yang terdiam menatap jendela.

“Jinhee… kau harus minum ini… untuk anakmu…. Mingyong akan kembali… dia belum menikah dengan adikmu… kita bisa mengembalikan keadaanmu seperti semula… tapi sekarang minumlah dulu…ayoo…” rayu wanita tua. Tapi Jinhee masih terlalu shock, ia tak mempedulikan apapun yang ada di sekelilingnya.
Ia membiarkan wanita tua itu membuka mulutnya lalu menuangkan sedikit demi sedikit susu ke mulutnya memakai sendok. “Ya… minumlah… kau boleh bersedih… tapi kau harus menjaga anakmu… woah… perutmu besar sekali… apakah kau akan punya anak kembar? Hehehe… Mingyong akan bahagia kalau bisa bertemu denganmu lagi…” kata wanita tua, sambil menyuapi susu kemulut Jinhee.

“Ahjumma… jangan dipaksakan… kasihan Jinhee” kata Kimnam sambil sesekali meneguk kopinya.

“Haiss… tidak bisa.. apakah kau tak melihat tubuhnya yang kurus kering??” kata wanita tua, ia terus memasukkan susu kedalam mulut Jinhee walaupun seringkali susu itu ditumpahkan lagi oleh Jinhee.

“Ah… Kim!! Apakah kau sudah menikah? Kalau belum.. aku punya anak perempuan… pahlawan sepertimu pasti membuat anakku jatuh cinta hahahaha” goda wanita tua, membuat suasana lebih nyaman, ketegangan pun berakhir. Kim tertawa mendengarkan pertanyaan wanita tua pemilik toko kelontong.

“Aigoo… Ahjumma… aku sudah punya istri… hehehe… sekarang istriku juga sedang hamil… sama seperti Jinhee… itulah yang membuatku ingin menolong Jinhee… aku tak bisa membiarkan wanita hamil seperti dia di siksa seperti ini…”

“hmmmm…. Kau benar… kita berdoa saja… semoga Mingyong bisa menerima Jinhee kembali dan percaya pada istrinya… bukan pada wanita rubah pembawa sial seperti Moon…. Oh.. apakah istrimu juga tinggal di Daegu?” Tanya wanita tua sambil menyeka wajah Jinhee yang basah karena tumpahan susu dari mulutnya.

“Anni… dia tinggal di Busan… baru tiga bulan yang lalu aku pindah ke Daegu… kemungkinan aku akan pindah lagi ke Busan untuk menemani istriku… semoga masalah Jinhee bisa teratasi dan aku bisa melaporkan Moon dengan tuduhan penculikan…”

“Iya!!! cheonjae!!! Kau harus memenjarakan Moon dan ibunya karena sudah menculik Jinhee selama itu… Lima bulan di dalam kamar… aigoo… Jinhee… kumohon… jangan bersedih lagi… eumm… sekarang ada aku… walaupun aku tak pernah mengenalmu… tapi aku bisa merasakan kesedihanmu…” Wanita tua menaruh cangkir susu, lalu memeluk Jinhee dengan pelan.

Airmata Jinhee hanya menetes, ia bereaksi setelah wanita itu memeluknya, tangannya menunjuk ke jendela. “Suamiku… sudah pulang… Mingyong… Mingyong…”Jinhee menunjuk mobil yang berhenti di depan rumahnya.

Kimnam dan wanita tua pemilik toko langsung membantu Jinhee berjalan, menemui suaminya. Mereka tak tahu kalau Jinhee menyimpan pisau milik wanita tua pemilik toko, yang sedari tadi dipakai untuk memotong apel, ia menyimpannya, di balik jaket tebalnya.

Seorang pria membukakan pintu untuk Moon, ia tersenyum begitu manis pada gadis itu.

“Mingyonggggg” teriak Jinhee, pria yang bernama Mingyong langsung menoleh ke arah Jinhee, senyumannya yang manis itu hilang seketika, ia melangkah maju menemui istrinya yang sedang hamil tua, dan dalam keadaan memprihatinkan.

“Jinhee… kapan kau datang? Apakah Amerika terlalu membosankan untukmu?” kata Mingyong dengan aksen menyebalkan. Moon yang sedari tadi khawatir, ikut menghadapi Jinhee juga.

“Mingyong... Aku… tak pernah ke Amerika… aku menunggumu Min… kau tahu… selama ini aku menunggumu menjemputku di rumah Moon… tapi kau tak pernah menjemputku… Moon bilang kau akan kembali… lalu besoknya Moon bilang kau akan menikah dengan seseorang… Mingyong… apakah kau sudah tak mencintaiku? Eumm…? mengapa kau meninggalkanku sendirian… eoh? Mengapa…?”

“WUOO!! Apa kau bilang?? Sekarang kau menyalahkan kakak tirimu !!! kau kabur dari rumah !! lalu menikah dengan pria amerika itu!! lalu kau menyalahkan MOON!! Dia yang menyelamatkanku dari kesendirian… dari pengkhianatanmu… aku!!! Tak bisa kau tipu JINHEE!!” Mingyong membentak Jinhee seakan-akan ia yang selalu benar, wanita itu langsung lemas seketika, ia terpuruk diatas trotoar yang dingin dan licin.

“Mingyong!! Aku Kimnam!! Dari kepolisian Daegu. Aku menemukan wanita ini di sebuah rumah di Suseonggu. Aku sendiri saksinya… ia memang di sekap disana selama 5 bulan ini… dan pelaku utamanya adalah Moon kakak tirinya sendiri… kuharap kau bisa percaya pada istrimu” kata Kimnam sambil memperlihatkan lencana polisinya.
Moon ketakutan ketika melihat Kimnam, sedangkan Mingyong mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ia berbalik ke arah Moon, dicengkramnya pundak Moon.

“APAKAH INI BENAR!!?? Kau menyekap adikmu sendiri?? EOH!!! KATAKAN PADAKU!!!!!!!!” Mingyong berteriak sekencang-kencangnya, melepaskan amarahnya.

“A…andwae…. Aku tak melakukan itu…” jawab Moon sambil menangis

“ Jinhee pergi ke amerika… aku punya buktinya… mungkin sekarang… ia… ia sedang bersandiwara… dan ingin merebutmu kembali… Min… jangan percaya padanya…. Eoh…” kata Moon sambil memeluk Mingyong, tapi pria itu melepaskannya. Ia tampak begitu bingung dengan kenyataan saat ini. Bingung memilih siapa yang lebih benar, apakah Jinhee atau Moon.

“HYAKKK!!! Sempat sempatnya kau berbohong HAH!!!” wanita tua pemilik toko langsung maju dan melampiaskan kemarahannya pada Moon, ia jambak rambut Moon, lalu memukul wajah gadis itu berkali-kali. Moon tak tinggal diam, ia malah membalas mencakar wanita tua hingga berdarah.

“SUDAH!! SUDAH!! AHJUUMA!!!” kata Kimnam melerai pertengkaran.

“Kuharap kau mau percaya padaku Mingyong.. aku saksi dari semua peristiwa ini… dan kau Moon… kau bisa kupenjarakan dengan tuduhan penculikan…Urusan kita tak berakhir sampai disini!!” kata Kimnam sambil menyeret wanita tua yang masih saja ingin memukul Moon.

“MOON!!! Tega sekali kau menculik istriku HAH!!! LALU KAU Merusak rumah tanggaku!!! APA YANG KAU MAU HAH!!!!!!! HARTAKU??!!! HAH!!!!!” Mingyong mengguncang-guncang tubuh Moon dengan keras, ia tak bisa lagi membendung kemarahannya.

“Mianhae.. Oppa… ani! .. naneun dangsin-ege naui kkul-eul salang ... naneun dangsin-eul salanghabnida ... naega dangsin-eul salanghagi ttaemun-e geugeon ....!!” kata Moon sambil mencoba memeluk Mingyong, pria itu hanya membiarkan Moon memeluknya, ia menangis sambil mencengkram kepalanya.

“nae nampyeon-i…… mian haeyo. dangsin-eun nal salanghaji anh-eumyeon ... naega jug-eoya ... mian haeyo ... jeongmal mianhae ... naneun joh-eun anaega doel su eobs-seubnida ...” mendengar kata-kata Jinhee, semua orang melihatnya, kedua nadinya teriris begitu dalam hingga semua orang bisa melihat nadinya terputus.

“JINHEEEEEEEEEEEE!!!!!!!” Mingyong menghempaskan tubuh Moon, dan berlari mendekati istrinya. Ia menggenggam nadi Jinhee yang sudah bersimbah darah. “JINHEE!!! nae anae ga nal tteona jima ! jebal ... JINHEEEEEE!!!!!!!” kata Mingyong sambil mengikat sapu tangan dan dasinya di masing-masing lengan istrinya, ia tak tahu kalau istrinya sudah terkapar tak berdaya di trotoar yang dingin.

“JINHEEE!!! AIGOO!!” Mingyong segera mengangkat tubuh istrinya, dan memberikan kunci mobil pada Kimnam.

“jebal… dowajuseyo… antarkan kami ke rumah sakit… kau saja yang menyetir” kata Mingyong. Dengan cepat Kimnam berlari menuju mobil, lalu menyalakan mesinnya.

Mingyong membawa istrinya ke jok belakang, ia memeluk istrinya sambil menangis, Moon yang ingin masuk ke dalam mobil di seret wanita tua dan di hempaskan ke trotoar.

Mobil pun melaju begitu cepat, membelah udara yang dingin.

“Kau tak pantas bersama mereka!!! ARRA!!! Kau wanita hina yang pernah kutemui!! Bisa-bisanya kau membuat saudaramu menderita HAH!!! TERIMA INI!!” kata wanita tua sambil menendang perut Moon yang terkapar di jalan. Ia lalu pergi meninggalkan Moon yang kesakitan.

“RRRRRRRRRAAAAAAAAAAAH!!!!!!!!!! JINHEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!!!! Bagaimana bisa HAH!!! JINHEEEEEEEEEE!!!!!!! Aku bersumpah akan membunuhmu!!!!! HYAKKKKKKKKKKKKK!!!! SSEEEEEEKIIIYAAA!!!!!” Teriak Moon ditengah badai salju.

***

Mobil masih melaju di lebatnya hujan salju, Kimnam begitu hati-hati menyetir, dengan kecepatan tinggi ia melajukan mobil Mingyong, di dalam mobil hanya ada kesunyian, beberapa kali Kimnam hanya melirik ke jok belakang. Mingyong memeluk istrinya, menyanyikan lagu yang disukai istrinya, membelai wajah istrinya. Sambil menjaga agar darah tak lagi keluar dari kedua nadi istrinya.

“Apakah… Jinhee”

“Dia masih hidup… Istriku harus tetap hidup… Jinhee… kau harus tetap hidup eumm… aku… akan selalu menjagamu mulai saat ini…eumm” Mingyong memotong kata-kata Kimnam, ia memeluk Jinhee sambil memegang erat tangan istrinya. “Kau tak boleh meninggalkan aku… Jinhae… kau harus bertahan… aku begitu mencintaimu… hanya kau yang kucintai… Jinhae!!!!! Oh… Jinhae…”

“Sebentar lagi kita akan sampai…” Kimnam membelokkan mobilnya ke arah gerbang rumah sakit. Ketika Mobil baru berhenti, Mingyong langsung membuka pintu, dan berlari ke arah emergency room, beberapa dokter dan suster menangani Jinhee dengan cepat.

“Aku harus ikut dengannya… aku suaminya” kata Mingyong pada dokter.

“Baiklah mari ikut kami” kata Dokter sambil mempersilahkan Mingyong untuk masuk kedalam ruang emergency.
Kimnam tampak sedang menelpon seseorang, ia berjalan mendekati ruang emergency dengan tergesa-gesa.

“Suster.. kau melihat pria yang membawa istrinya yang terluka di kedua tangannya?” Tanya Kimnam pada suster yang lewat didepannya.

“Oh.. Tuan Mingyong dia masuk kedalam ruang emergency silahkan tunggu disini saja” kata Suster sambil menunjukkan kursi tunggu pas di depan pintu ruang emergency.

Kimnam menempelkan handphonenya di telinga. “Humm… aku masih di Daegu… ya.. Shinhye…tolong… jaga anakku… hmmm… love you… hari ini? Hari ini aku membebaskan seorang wanita yang hamil tua dari sekapan keluarganya sendiri… ia di culik lalu disekap selama lima bulan di kamarnya…dan barusan saja… oh… aigoo.. aku menangis.. hehe… barusan saja… ia melakukan percobaan bunuh diri… Shinhye… apakah kau juga menangis? Hummm… kalau kuceritakan padamu keseluruhan ceritanya… kau akan lebih menangis lagi… hmmm… arraseo… aku akan pulang besok siang… hmmm… Kimchi? Ah… arraseo… aku akan bawakan kimchi Daegu untukmu..byebye my hunney… love you too” Kimnam menutup handphonenya, lalu memasukkan ke kantong jas.

Ia menggosok-gosokkan tangannya agar lebih hangat, lalu meniupnya. Mingyong keluar dengan tertatih, ia menangis sebisa-bisanya. Kimnam berdiri ingin membantu Mingyong berjalan, tapi pria itu malah memeluknya.

“Aku tak kuat lagi… Aigoo…. Apa yang harus kulakukan…. Istriku meninggal… Jinhee meninggalkanku… Aku kecewa pada diriku sendiri…aku bodoh sampai tak mencarinya… tak mencari kebenaran… Istriku… meninggalkanku…” Kedua pria itu menangis seperti layaknya pria sejati.

“Duduklah… sekarang bagaimana mayat istrimu?” Tanya Kimnam sambil membopong Mingyong, hingga pria itu bisa duduk tenang di ruang tunggu.

“Dokter sedang membedah perut Jinhee… mereka bilang anakku masih hidup… kedua anakku… ya… kedua anakku masih hidup…. Jinhee… kedua anak kita sudah hidup… Jinhee… mengapa kau meninggalkanku… apakah ini hukuman yang harus kuterima…? Jinheeeee…..” Mingyong menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya.

“Tenanglah… Jinhee… mungkin inilah kehidupan yang terbaik buat Jinhee… tenanglah Mingyong… aku yakin… anak-anakmu akan lahir dengan sehat… Jinhee… mengatakan padaku kalau ia menjaga anaknya untukmu… kali ini… jangan sampai kau kecewakan anakmu… sudah cukup.. kau mengecewakan istrimu… aku akan memproses kasus ini ke jalur hokum..” kata Kimnam

“Oh!! Kumohon… jangan… jangan kau laporkan kasus ini ke jalur hokum… aku masih punya nama baik… aku memegang nama baik keluargaku… jangan Kim… aku akan mengatasi ini sendirian… aku akan menghukum siapa saja yang menyakiti istriku dengan caraku sendiri… Kumohon… jangan lakukan itu Kim… kumohon”
Kimnam hanya melihat Mingyong yang semakin tampak menyedihkan, ia pun memikirkan lagi, memang akan berdampak buruk pada perusahaan Mingyong bila ada berita yang tidak sedap mengenai rumah tangganya.

“Baiklah… aku akan menyimpan ini semua…..” kata Kimnam sambil menepuk punggung Mingyong, menenangkan pria yang ada disampingnya.

“Kim… terima kasih… kau sudah menyelamatkan istriku… kalau tak ada dirimu… bagaimana aku bisa bertemu dengan istriku… aku tak akan bisa bertemu dengannya.. dan anakku… apa yang akan terjadi dengan anakku kalau kau tak menyelamatkan Jinhee….. Kim… apakah aku pria yang bodoh?”

“Aku tak mengenalmu Mingyong… tapi mendengar cerita dari tetanggamu dan istrimu… kau memang pria terbodoh yang pernah kutemui…” mendengar jawaban dari Kimnam, Mingyong semakin menangis tercekat, tanpa suara, hanya rasa sakit yang begitu menggema.

Dokter keluar dari ruang emergency. Ia berjalan mendekati Mingyong yang tertunduk.

“Tuan Mingyong… maafkan kami yang tak bisa menyelematkan istrimu… tapi… baru saja kami berhasil menyelamatkan anakmu… dua jam lagi, kau bisa melihat kedua anakmu di baby care ward… ini beberaapa formulir yang harus kau isi untuk pembayaran biaya rumah sakit dan oprasi Caesar..”

***

Baby care ward, kedua pria itu memasuki ruangan yang penuh bayi, suster mengantarkan mereka ke box bayi yang berada paling pojok. Mingyong melihat kedua anaknya yang masih memerah. Ia berlutut diantara kedua box bayi.

“Kalian… cantik seperti eomma kalian… eum… mianhae….. appa tak bisa menyelamatkan eomma kalian… mianhae…” gumam Mingyong sambil membelai satu persatu pipi anaknya.

Kimnam hanya menahan air matanya dengan menatap langit-langit ruang perawatan bayi. Suster memberikan dua formulir berwarna biru pada Mingyong.

“Tuan.. tolong tulis disini… Nama kedua anak anda…” kata suster. Mingyong berdiri lalu mengambil formulir itu, ia memberikannya pada Kimnam. “Bisakah… kau menuliskan untukku?... aku terlalu lemas untuk menulis saat ini…”

“Ye..” jawab Kimnam

“Anakku yang cantik ini… yang selalu tersenyum padaku… aku berikan ia nama… Ji Gyong…”
Kimnam Nampak menulisnya dengan sangat hati-hati.

“Dan… anakku… yang cantik ini…. Yang selalu terpejam… seperti ibunya… aku namakan ia Je Gyong…… Ji Gyong… Je Gyong…. Ini Appa… aku berjanji… akan menjaga kalian… tak ada lagi yang bisa kupercaya selain kalian… tak ada lagi yang bisa kucintai saat ini selain kalian… aku akan hidup untukmu… anak-anakku…”

To be continue

Fanfiction Butterfly - Part 1 - NEW Series.


Author : #AyunaKusuma ( #Yun )

"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini... hehehe"

Genre : Mystery, Romance, Sadness

Maincast :

Jin Hee : Lee Yeon-hee
In Moon : Song Ha-yoon
Min Gyong : Changmin
Kim Nam : Kim Nam Gil

***

Februari 1989 - Daegu -

***

Cuaca di bulan Februari masih buruk, beberapa orang memutuskan untuk berada di rumah mereka, atau sekedar keluar untuk pergi ke rumah saudara dan kolega yang memiliki pemanas ruangan. Hawa dingin menyebar melalui jendela-jendela. Salju turun begitu lebatnya. Memenuhi jalanan Suseong-gu.

Seorang wanita terlihat tergesa-gesa, ia membawa kantong plastic yang penuh dengan makanan juga obat-obatan. Ia berlari di jalanan yang licin, melewati pohon-pohon yang penuh dengan salju di samping trotoar. Tak ada siapapun di jalan saat ini selain wanita berambut pendek yang membawa dua kantong plastic.
Ia berbelok ke gang sempit, lalu menuruni tangga.

“Aigoo!!” Hampir saja ia terpeleset karena jalanan yang licin. Wanita itu berbelok ke arah kiri dan memasuki sebuah rumah berwarna hitam dengan list biru yang berada di tengah pemukiman. Ia dorong pintu rumah yang setengah terbuka.

Wanita itu menaruh barang yang ia bawa di meja berbentuk kotak, lalu melepas mantel dan syal yang ia pakai. Pintu di tutup lalu ia menyalakan pemanas ruangan.

“Jin Hee… aku sudah pulang…….” Kata wanita itu sambil melangkah ke satu kamar yang ia kunci. Dengan hati-hati ia membuka kuncinya, lalu menyalakan lampu kamar setelah pintunya terbuka.

“UHMM!! Apa kau memakai parfum itu lagi?” Tanya wanita itu sambil mengibaskan syalnya ke udara di dalam kamar, ingin menyingkirkan aroma pengap yang tak sedap. Wanita itu melangkah ke arah jendela, ia membuka korden lalu merapikan beberapa kertas yang penuh coretan.

“Jin Hee… kau masih mencoba menulis? Bagus… kau harus segera menemukan hidupmu yang baru… hum… bagaimana si kecil?” ia mendekati wanita lainnya yang bernama Jin Hee duduk di ranjang, memeluk bantal sambil menangis.

“Jangan menangis… aku membelikanmu susu khusus untuk ibu hamil dan beberapa makanan… oh… aku hampir lupa… ini… aku membeli ini untuk anakmu… hehehe… hari ini aku mendapat bonus dari kantor. Jadi aku belikan ini untuk anakmu… sebuah kalung… lihatlah… kupu-kupu… bisa di pisah… dan bisa di satukan… lihatlah… hehehehe… kau suka?” kata wanita berambut pendek pada Jin Hee sambil memperagakan cara memakai kalung.

“Moon… apakah… kau bertemu dengan Mingyong tadi?” Tanya Jinhee sambil menghapus airmatanya.

“Hummm… aku sudah mencarinya di kantor barunya, tapi beberapa pekerja disana, bilang… tak ada pria yang bernama Mingyong yang bekerja disana… mungkin teman suamimu bohong padaku… haiss… jangan memikirkan pria brengsek itu… aku akan ambilkan Susu untukmu..” Moon bangkit dari duduknya dan menyerahkan dua kalung yang sudah dibelinya pada Jinhee.

“Moon” Jinhee melarang temannya menjauh darinya. Ia menggenggam lengan Moon dengan erat, lalu menyeret temannya untuk kembali duduk dengannya. “Kumohon… lepaskanlah aku… aku tak akan merusak barangmu… aku bukan wanita gila… aku perlu mencari suamiku… kau tahu… suamiku… begitu mencintaiku… Moon… ia tak akan pernah meninggalkanku… kalaupun ia meninggalkanku… aku akan mencarinya… eum… lepaskan aku… jangan kurung diriku disini…. Moon…. Kumohon…” Jinhee memohon sambil memeluk punggung Jinhee, memastikan bahwa ia memang benar-benar ingin keluar dari sekapan temannya.

“Jinhee… aku kasihan padamu… aku menempatkanmu disini… karena aku sayang padamu… aku tak mau kau terluka… suamimu… aku melihatnya sendiri dengan mataku… ia meninggalkanmu… dan aku melihatnya sendiri sekarang ada wanita lain yang bersamanya… menjadi istri barunya… haruskah aku melepaskanmu dan membuatmu melihat semua itu HAH??? HARUSKAH AKU??? APA KAU TAK SAKIT HATI HAH!!!” Moon berteriak sambil melepaskan pelukan Jinhee. Wanita itu semakin menangis ketika mendengarkan penjelasan dari Moon.

“apakah kau akan tetap mencintai pria BRENGSEK!! Seperti dia hah??? Jinhee… sudah kukatakan… bunuh saja anakmu itu… aku sudah lama mengatakannya… tapi kau tetap saja pada pendirianmu… mempertahankan mereka di rahimmu… KAU TAHU JINHEE!!! Suamimu tak pernah mencintaimu!!! Suamimu yang brengsek itu mencintai wanita lain!! EOH!!! Apakah kau ingin aku menyakitimu dengan membuatmu bebas di luar?? Lalu melihat kebahagiaan mereka ? BEGITUKAH??? APA KAU TAK SAKIT HATI?? EOH!!!” Moon masih membentak dan menatap Jinhee yang menangis sambil menutup wajahnya. Mata Moon terlihat penuh kemarahan.

“Andwae…. Andwae… Mingyong akan terus mencintaiku… dia akan terus mencintaiku… suamiku akan menemuiku… aku akan menunggunya… Moon… aku tak bisa membunuh anakku… mereka… bukti cintaku pada suamiku… Moon… aku tak percaya padamu… sebelum aku melihat dengan mataku sendiri… Moon…… kumohon…… lepaskanlah aku… kali ini saja…”

“ANNI….. Aku tak akan melepaskanmu!!” Moon pergi keluar kamar lalu membanting pintu dan menguncinya lagi. Ia meninggalkan Jinhee yang masih sibuk menangisi keadaannya. Wanita yang rapuh itu turun dari ranjangnya… Ia berjalan dengan pelan dan tertatih.

“geugeoya… hum…” gumam Jinhee sambil menghapus air matanya, lalu membelai perutnya yang mulai membesar. “geugeoya…. Eomma… tak akan menangis lagi sekarang…. Eomma akan tetap menunggu Appa…Appa kalian… begitu tampan… baik… dan setia… ia tak akan pernah berkencan dengan wanita lain… Eomma… yakin… kalian akan terlahir di dunia sebentar lagi… Eomma akan berjuang… keluar dari sini… dan mendapatkan Appa lagi… hummm… Ye… Eomma… tak pernah percaya pada Moon…” Jinhee bicara sendiri sambil mencorat-coret kertas yang ada di hadapannya.

“Mingyong…. Apakah… kau benar…benar… membenciku?... apa salahku eoh…? Apakah… karena aku seorang diri di dunia ini…. Hingga kau meninggalkanku begitu saja?.... aku akan menemuimu sebentar lagi… aku akan menemuimu… ya… aku akan menemuimu…” Jinhee berjalan mengelilingi kamarnya, ia memeriksa setiap sudut kamar, memeriksa jendela yang sudah diberi trails besi. Menggeser lemari, ia mencari celah untuk bisa keluar dari sekapan Moon.

“Aku tak akan membiarkan Moon menyekapku lebih lama lagi… ia sudah berbohong padaku… ia sama sekali tak pernah menyayangiku… Mingyong… tunggu aku… aku akan mendatangimu… Mingyong… Mingyong…” Jinhee berusaha mencari celah.

“JINHEE!! Ini susu untukmu dan ini makananmu…” kata Moon yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar, Jinhee yang sedari tadi sibuk mencari celah, kini terdiam, ia tak mau Moon mengetahui apa yang ia lakukan.

“hum…” jawab Jinhee sambil melirik Moon yang berdiri di belakangnya.

“Aku akan pergi… kau diam saja disini… aku akan membelikan buku baru untukmu arraseo? Hehehe… apa yang kukatakan tadi… lupakan saja… mianhae…” kata Moon sambil memijat bahu Jinhee, lalu mengulaskan senyum padanya.

Moon kembali ke luar dan mengunci Jinhee di kamar yang begitu pengap. Jinhee berlari ke pintu kamar, ia menyandarkan kepalanya ke daun pintu, didengarkannya suara langkah Moon, setelah ia memastikan wanita itu sudah tak ada di rumah. Jinhee berlari ke arah dinding, ia menendang dengan sekeras-kerasnya. Hingga ia terjatuh.

“Aaww..!! Aihs… Aigoo…!!” keluhnya, ia pun mengulangi tingkahnya, kali ini dengan bangku kayu, di lemparkannya ke jendela kaca, hingga ia bisa merasakan dinginnya udara di bulan februari.

Jinhee melangkah ke pecahan kaca, ia tak merasakan sakitnya pecahan kaca, ia tak mempedulikan bagaimana rasanya darah keluar dari telapak kakinya. Yang ia rasakan hari ini adalah kebahagiaannya karena mendapatkan keberanian untuk membebaskan diri.

“jeo jom dowa juseyo!!!!!!!!!!!!!!!” Jinhee berteriak sekeras-kerasnya

“jeo jom dowa juseyo!!!!!! AHJUSSI!!!!! AHJUMMA!!!!!!! jeo jom dowa juseyo!!!!! OH!! jeo jom dowa juseyo!!!!!!!” Teriak Jinhee, tapi tak ada yang mempedulikannya, tetangganya hanya membuka korden lalu menutupnya kembali, penjual kimbab keliling juga membiarkan Jinhee berteriak.

Ia hanya bergumam “Aissh… dasar wanita gila… ia memecahkan kaca kakaknya lagi” kata wanita penjual kimbab itu sambil memberikan satu bungkus kimbab ke Jinhee “Kajja… makanlah… apa kakakmu tak memberimu makan? Aigoo… apakah saudara tirimu harus memperlakukanmu seperti ini?” kata penjual kimbab, ia belai wajah Jinhee yang menahan kesedihan.

“Oh… Ahjumma… aku tak perlu kimbab Ahjumma… dowajuseyoo ahjumma… aku harus keluar dari sini.. ahjumma… aku tak gila ahjumma… tolong aku ahjumma…” mohon Jinhee, ia menangis dihadapan penjual kimbab keliling.

“Oh…ma-emo… oh… aigoo… aigoo… makanlah… kajja… aku harus kembali bekerja… aku tak bisa melepaskanmu.. atau kakak tirimu akan marah padaku… arra… aigoo… kasihan sekali kau…” Wanita penjual kimbab itu pun berlalu meninggalkan Jinhee yang semakin keras menangis.

“HUAAAAAAAAAAA!!!!!!!! jeo jom dowa juseyo!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriaknya lagi, sambil mencoba melepaskan terali besi yang menghalangi jendela. Darah mengalir begitu deras dari telapak kakinya.

“Ahjussi!! jeo jom dowa juseyo!.... lepaskan aku darisini!!!!” kata Jinhee pada pria pejalan kaki yang melintasi jendelanya.

“Ommo!!! Aku? Apa yang terjadi padamu? Eoh??” Pria itu terkejut melihat Jinhee yang menangis, ia melongok ke dalam jendela dan melihat perut Jinhee yang membesar lalu melihat genangan darah yang menghitam.

“HYAK!!! Jangan lepaskan dia!! Dia hanya wanita gila!!! Kakak tirinya sudah berpesan padaku… jangan lepaskan dia!!” Tetangga Moon berteriak membuat pria pejalan kaki itu bingung..

“Anni… ani…..aku bukan orang gila… jeball… jeo jom dowa juseyo!...” kata Jinhee sambil meraih tangan pria pejalan kaki itu. Pria itu melepaskan tangan Jinhee.

“ANDWAE!!!!!!!!!!!!!! jeo jom dowa juseyo!!!!!!!! Hak Hak Hak!!!!” Jinhee berteriak sambil menangis, tapi bukannya pergi, pria itu malah menuju pintu rumah Moon, dengan paksaan ia mencoba mendobrak pintu yang terbuat dari kayu.

“Dimana kau!! Ahjumma!!!” pria itu berteriak mencari Jinhee yang harus dia tolong.

“Aku Disini!!!!!!!!!!!!!!!” Jinhee menghapus air matanya, ia masih berdiri bersandar pada trali besi. Pria yang berjiwa pahlawan itu mendobrak pintu kamar Jinhee hingga rusak dan roboh.

“Ahjumma!!!” Pria pejalan kaki itu terkejut ketika melihat Jinhee yang berdiri di atas pecahan kaca, darah mengalir deras dari telapak kakinya. Dengan cepat pria itu berlari lalu membopong Jinhee menghindari pecahan kaca. “Aku akan membawamu ke rumah sakit… mana suamimu Ahjumma??” Tanya pria itu sambil menggendong Jinhee.

“Aku… biarkan aku turun… aku harus mencari suamiku” kata Jinhee mencoba turun saat pria itu membawanya ke ruang tengah.

“Ahjumma!!!... biarkan aku mengobatimu sebentar saja… kaca-kaca itu menusuk kakimu… apakah kau tak merasa sakit eoh??” Pria itu berlari ke segala arah, ia membuka desk, lemari bahkan ke kamar mandi untuk mencari obat yang bisa ia gunakan.

“Aku… harus mencari suamiku…” kata Jinhee, ia duduk di meja kayu berbentuk kotak, “Aku… harus menemukannya… suamiku… tak akan pernah mengkhianatiku…” kata Jinhee, ia mulai menangis.

“Baik… Ahjumma… aku akan mengantarkanmu menemui suamimu… apakah kau di sekap oleh kakak tirimu? Bagaimana ceritanya kau ada disini Ahjumma? Lalu dimana suamimu?” Tanya pria itu begitu cepat sambil mencabut satu persatu kaca yang menancap di kaki Jinhee.

“Moolaayoo…” Jinhee bergumam ditengah tangisannya…

“Ahjumma… kau harus melaporkan hal ini pada kepolisian… ini sudah termasuk penculikan dan penyiksaan. Apalagi kau sedang hamil… aku akan membawamu ke kantor polisi… kita laporkan bersama-sama… aku tak akan membiarkan orang yang menyekap ibu hamil sepertimu, aku tak akan membiarkannya bebas…” Pria pejalan kaki itu rupanya sedikit merasa emosi ketika menghadapi kenyataan bahwa wanita yang ia tolong adalah korban penculikan.

“aku… aku ingin mencari suamiku… Moon… bilang ia tak akan datang menemuiku… karena… suamiku… bersama wanita lain…. Aku tak percayaa… aku tak bisa percaya… aku harus menemui suamiku…” gumam Jinhee dengan suara lirih.

“Siapa Moon? Suamimu?” Jinhee hanya menggeleng menjawab pertanyaan dari pria yang menolongnya.

“Kakak tirimu?” Jinhee mengangguk sambil terus menangis.

“Baiklah… aku akan membantumu.. mencari suamimu… apakah kau masih ingat dimana rumahmu yang dulu? Rumah yang kau tempati dengan suamimu??” Jinhee mengangguk, ia menghapus air matanya sedikit demi sedikit.

“Jeongmal?” Tanya Jinhee.

“yagsog haeyo…” pria itu mengikat telapak kaki Jinhee dengan perban, lalu menutupnya dengan kaus kaki tebal, dan memasangkan sepatu boot. Ia juga mengambil mantel di lemari pakaian, tak peduli lagi mantel siapa yang dia ambil.

“Kajja… kita harus cepat-cepat keluar dari sini… aku akan menolongmu… Kim Nam.. itu namaku… senang bisa menolongmu Ahjumma” kata pria penolong bernama Kim Nam sambil menyodorkan tangannya ke arah Jinhee.

“daedanhi gamsahabnida , dangsin-eun joh-eun salam” gumam Jinhee, ia tak menanggapi perkenalan dari KimNam. Jinhee mencoba berdiri, ia melangkah keluar dengan begitu cepat lalu berlari, Kimnam pun mengikutinya.

“Aih… Jjankanman…Aku akan mengantarmu dengan mobil… disana… kalau jalan kaki.. kita akan membuang waktu” kata Kimnam sambil menahan Jinhee, Kimnam mengarahkan Jinhee untuk berjalan menuruti perintahnya.

“HYAKKKK!!!!!! AKAN KAU BAWA KEMANA GADIS GILA ITU!!!” Tetangga Moon kembali berteriak, menghentikan langkah Kimnam.

“AHJUSSI!! Kau tahu atas penculikan ini!! EOH!!! Kau tahu semuanya tapi kau tak melaporkannya ke polisi!!! KAU YANG GILA!!! Aku akan melaporkanmu ke polisi… tuduhan penculikan!!! ARRASOO SEKKIYAAA!!!” teriak Kimnam membuat pria tua yang tadi menghalangi jalannya sedikit ketakutan. Beberapa tetangga yang membuka korden mereka dan melihat Jinhee bebas, juga menutup kembali kordennya.

“Aissh… dasar… apakah mereka tak pernah menolongmu?” Tanya Kimnam pada Jinhee yang terlihat kedinginan. Wanita itu hanya menggelengkan kepala.

“Pakai ini… jangan sampai kau kedinginan Ahjumma...” kata Kimnam sambil melingkarkan syal tebalnya ke leher Jinhee. “yagsog haeyo… aku akan menolongmu mencari suamimu… aku tak tega melihatmu Ahjumma… aku juga punya istri yang sedang hamil sepertimu… ia pasti sedih bila melihat wanita seperti dirinya mendapatkan perlakuan seperti ini… tenanglah.. aku akan antarkan kau kemana saja… untuk mencari suamimu… arra… jangan menangis lagi… secepatnya.. kau akan bertemu dengan suamimu..”

***

“Eomma… apakah baju ini cocok untukku?” Tanya Moon pada wanita tua yang duduk di kursi goyang.

“Humm… pantas… kau tampak cantik… Moon… apakah kau sudah memberikan makanan pada Jinhee?” Tanya wanita tua itu.

“EOMMA!!!!!!! Sebentar lagi aku akan menikah… mengapa kau hanya memikirkan gadis gila itu…” kata Moon sambil memasang wajah kecewa.

“Kau akan menikah dengan mantan suami Jinhee… kau sebentar lagi akan mendapatkan segalanya… apakah kau tak kasihan pada Jinhee… setidaknya kita harus memikirkan bagaimana keadaan Jinhee hahahahaha”

“Hahahahaha….. Eomma… kau membuatku shock… hahaha bagaimana bisa kau memikirkan Jinhee ketika anakmu akan menikah… hmmm aku sudah memberikannya makan, tadi ketika aku mengunjunginya… ia terlihat ingin keluar dari rumah itu… tapi aku sudah memasang beberapa kunci hingga ia tak bisa keluar… tenang saja Eomma…”

Wanita tua itu mendekati Moon, ia membenarkan letak veil anaknya.

“Sampai kapanpun… kau akan menjadi pemenangnya… Moon… aku tak akan pernah membiarkan Jinhee mendapatkan Mingyong untuk selama-lamanya… memisahkan mereka berdua… membuatku semakin puas… aku begitu membenci ayahnya… bisa-bisanya dia menipuku… mati.. lalu meninggalkanku dengan hutangnya yang menumpuk…”

“Humm… Eomma… aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mingyong hihihi… kami adalah sepasang kekasih yang saling mencintai…”

“Hummm….. kau memang anakku yang hebat… apakah sore ini kalian ada kencan?” kata Ibu Moon sambil mencubit pipi anaknya.

“Ye….. kami akan makan malam… bukan kencan… hanya saja… hihihi”

“Ah…… ye…. Arraso… hahahaha” Kedua wanita itu tertawa menikmati waktunya, di tengah musim dingin yang begitu menusuk.

***

Ditengah hujan salju, mobil hitam milik Kimnam melaju cepat menghenyakkan butiran-butiran salju di jalan raya. Cuaca yang semakin ekstreem tak menyurutkan semangat Kimnam untuk membantu Jinhee, wanita yang baru saja diselamatkannya.

“Kau masih ingat? Belok mana sekarang?” kata Kimnam pada Jinhee yang ada disampingnya.

“Kiri…” kata Jinhee, wanita itu bersemangat ketika ia akan sampai di rumah suaminya. “Didepan… rumah itu… diujung jalan… itu rumahku dan suamiku..” kata Jinhee. Ia pun bersiap-siap turun.
Ketika mobil berhenti, Jinhee membuka pintu mobil, ia berlari menuju rumahnya, di gerbang, ia membanting tangannya berkali-kali, memencet bel, hingga berteriak.

“MINGYONG!!!!!!!! Buka!!!!! Ini aku!!!! JinhEEE!!!!! MINGYONG!!!!!! SUAMIKU!!!!!” Jinhee terus berteriak, tapi tak ada yang menjawab, Kimnam memeriksa ke belakang rumah, ia melihat rumah itu, seperti tak berpenghuni lagi.

“Ahjumma… kau yakin ini rumahmu yang dulu?” Tanya Kim Nam sambil mencoba meloncat pagar.

“Ye.. ini rumahku… aku membelinya dengan suamiku… ia membelikan rumah ini untukku… suamiku… Mingyong ada didalam… dia pasti di dalam sedang menungguku… MINGYONG!!!!!!!!!! BUKAAAAAA!!!! INI AKUUU JINHEEEEEEEEEEE!!!!” sekali lagi… tak ada yang menjawab.
Seorang wanita yang tinggal di sebelah rumah, keluar mengenakan mantel hitam, ia menghampiri Jinhee. Dari wajahnya bisa terlihat kalau ia sempat terkejut melihat Jinhee.

“OMMO!!!... apakah kau JInhee!!!?!! Bukankah sekarang kau di amerika?? Apakah kau mau kembali lagi untuk menyakiti suamimu eoh!! Dasar wanita penggila harta… eoh!! Kau kembali dengan suami barumu eoh!! Dasar!! Pergi dari sini!! Aku benci melihatmu!! Bagaimana kau bisa melukai suamimu yang baik itu heh!!” tetangga lama Jinhee berteriak bahkan memukul Jinhee dengan pembersih kaca.

KImnam yang sedari tadi ingin meloncat pagar, kini menahan aksi wanita tua yang tiba-tiba marah tak jelas pada Jinhee.

“Ahjumma… apa maksudmu?” Tanya Jinhee sambil menahan kesakitan di lengannya.

“KAU!!! AIH!!! LEPASKAN AKU!!!ARRG!!” wanita tua, mencoba melepaskan dirinya dari pelukan KimNam yang semakin rapat.

“Aku bukan suaminya… apa maksudmu ahjumma? Tenanglah… jelaskan pada kami… apa yang terjadi… Aku baru saja menyelamatkan Jinhee… wanita itu… dari tindak penculikan… bicaralah pada kami… aku adalah polisi… aku bertugas di kepolisian daegu… kau bisa lihat ini HAH!!” kata Kimnam sambil melihatkan lencananya.

Wanita tua yang sedari tadi marah dan terus berusaha memukul Jinhee tiba-tiba terdiam. Kimnam pun melepaskannya, dan beranjak ke Jinhee, melindunginya dari aksi wanita tua itu.

“Penculikan??” Tanya Wanita tua, ia melihat wajah Jinhee yang bersembunyi di balik Kimnam. “Bukankah… sudah lima bulan… kau… bukankah kau lari bersama seorang bankir dari Amerika? Lalu meninggalkan suamimu?... bukan…kah…”

“Andwae…. Aku tak pernah meninggalkan suamiku… ahjumma…. Selama ini… Moon menyekapku di rumah… ia bilang padaku kalau suamiku meninggalkan aku…” gumam Jinhee

“Aku menemukannya di kawasan Suseonggu.. ia berada di kamar yang sengaja di kunci rapat… kemungkinan selama 5 bulan ia disekap disana, para tetangga bilang ia memang di sekap saudara tirinya… dengan sangkaan Gila... Tak mungkin Jinhee pergi ke amerika seperti ceritamu… aku sendiri yang menemukannya tadi siang. Ahjumma… lalu dimana Migyong? Apakah kau tahu dia pindah kemana?” Tanya KimNam.

“Aigoo… Aigoo… Jinhee…. Mianhae…mianhae…aigooo mengapa mereka begitu tega padamu… aigoo… mianhae… Jinhee” wanita tua itu mencoba mendekati Jinhee dan memeluknya. “Oh… Jinhee… mianhae.. hum? Aku tak tahu kalau semua yang dikatakan Moon semuanya kebohongan… Mingyong… masih tinggal disini… kajja.. kita tunggu bersama-sama di tokoku… aku yakin Mingyong akan bahagia bila bisa melihatmu lagi…” Kata wanita tua itu pada Jinhee. Ia menghapus airmatanya sendiri. Lalu menuntun Jinhee untuk masuk ke dalam toko kelontongnya.

Kimnam, mengikuti kedua wanita itu dari belakang. Ia membuka handphonenya,

“Yoboseyo… ah… mianhae… aku harus pulang terlambat lagi kali ini… ada kasus penculikan yang harus kuselesaikan… hum…… ye… gomawo… love you…” Ia menutup handphonenya, lalu ikut masuk ke dalam toko kelontong yang kebetulan tutup pada hari itu.

“Ahjumma… apa kau tahu… dimana suamiku? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia merindukanku?” Tanya Jinhee pada wanita tua yang duduk di hadapannya. Satu persatu airmata wanita tua itu meluncur membasahi pipinya yang berkerut.

“Aigoya… tega sekali mereka padamu… Jinhee… Suamimu… akan menikah dengan Moon… saudara tirimu sendiri… Aigooya…. Jinhee…” kata Wanita tua itu sambil merapat duduk mendekati Jinhee, lalu memeluknya, dan membiarkan Jinhee mengangis sekeras-kerasnya dalam pelukannya.

To be continue

Fanfiction : New Life Part 22



"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini... hehehe"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : Romance.

Maincast :

Hyorin : Bora SISTAR
Hoya : Hoya Infinite
SungYeol : SungYeol Infinite
Joo Park/JP : Woohyun Infinite
Shin Eunji : Lim Soo Jung


“Huaaaammm…” Kuretakkan otot-ototku yang kaku… aku sama sekali tak ingat dengan kejadian kemarin. Kugeser tubuhku ke kiri, dan memeluk bantal yang ada di sampingku. Tapi… bantalnya punya rambut?... dan kulihat Hoya sedang menatapku dengan matanya yang bulat.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH!!!!!!!!!!” Kami sama-sama teriak, dan meloncat menjauh. Bagaimana bisa ia di kamarku?.

“MWOO!!! HOYA!! Keluar kau dari kamarku!! EOH!!! Apa yang kau lakukan padaku? Kau menodaiku???” aku panic memeriksa keadaan diriku, tapi tubuhku masih tetap sama, aku meloncat-loncat, tak ada yang terasa sakit. Kata Sonya seorang wanita yang di rampas mahkotanya, ia akan merasa sakit kalau melompat.

“HYAK!!! Kau yang keluar!!!... ini kamarku Babo SUBOK!!!!” teriak Hoya, aku selesai melompat karena tak ada yang sakit di tubuhku, dan kulihat Hoya melihat miliknya. “Oh?? Aku tak melakukan apapun denganmu… LIHATLAH!! Aku masih memakai dalaman yang rapat seperti ini!!!” kata Hoya sambil membuka celananya.

“AAAAAAAAAAAHHH!!!!!” aku langsung kabur keluar. Apa-apaan ini, dia memperlihatkan miliknya padaku?... walaupun masih tertutup kain, aku ahss…. Babo…

Di dapur aku menemukan roti dan selai nanas, juga susu yang hampir saja basi. Aku terpaksa menuangkannya di dua gelas kaca, dan menyiapkan roti bakar isi selai nanas untukku dan Hoya. Setidaknya ia sudah berbaik hati mau membawaku menginap di rumahnya yang super gadget ini.

Aku memikirkan lagi kata-kata Hoya… ia mengatakan sudah mulai mencintaiku? Ommo… bagaimana bisa?... orang segalak dia jatuh cinta padaku?. Lalu apa yang terjadi denganku semalam? Mengapa aku bisa tidur di tempatnya.

“Hoya~~~~!! Sarapanmu kuletakkan di meja kerja~!!” teriakku, aku kembali ke kamar yang di sediakan Hoya untukku. Tapi Hoya terlanjur melarangku, ia menahan tanganku, wajahnya berkonsentrasi melihat tabletnya.

“Subok… kita harus segera rekaman. Semua orang tahu kalau kau akan menikah denganku, ayo ikut denganku…” kata Hoya sambil menarikku.

“Hoya… aku mau makan… aku kelaparan….” Kataku sambil menaruh piring yang penuh dengan roti bakar di meja.

“nanti akan kubelikan subok dan pizza… kau ikut denganku dulu…” kata Hoya, ia segera memakai jaketnya dan memakaikanku jaket.

“Bawa ini… kita harus mengembalikannya dan menyewa yang baru…” kata Hoya, sambil mengunci pintu rumahnya.
Ia memberikan satu tas berisi baju yang kemarin kupakai untuk menghadiri pesta ibu Hoya.

“Hoya… apakah ini tak terlalu cepat? Dari mana mereka tahu kita akan menikah?” kataku agak khawatir menghadapi apa yang sekarang terjadi.

“Hmmm.. kau lupa siapa aku? Hyak?? Subok. Aku ini seorang artis. Aku tahu kalau kita melakukan rekaman ini.. aku bisa lebih terkenal hahahaha.. Jeppalli…. Masuk” kata Hoya sambil membuka kan pintu untukku. “Kau saja yang menyetir. Nanti dari butik, aku yang menyetir hahahaha” Hoya tertawa lagi.

“Haiss… ku kira… kau benar-benar mencintaiku.. ternyata kau hanya memanfaatkanku…” godaku sambil menyalakan mobil.

“Aku sudah membayarmu… tadi malam aku sudah transfer gaji mu 5jt won, ke rekeningmu… aku lebihkan sedikit untuk membayar supirku Subok hahahahaha….” Hoya memakai sabuk pengaman lalu membuka lagi tabletnya, sambil senyum-senyum sendiri.

“Kita akan kemana sekarang?” tanyaku sambil menyalakan gps.

“Ke Butik kakakku…” jawab Hoya, ia sama sekali tak melihatku.

“Subok.. subook… hahahaha… kau lihat ratingku di berita dan gossip minggu ini? Aku ada di peringkat pertama hahahahaha… akhirnya aku bisa kembali mendapatkan jadwal syuting. Tadi pagi managerku bilang kalau aku dapat beberapa film dan harus pergi ke Jepang untuk syuting hahahaha… berkat kau Subok… semuanya akan membaik, I love you” kata Hoya

“HYAKK!!! Jangan dorong porselingnya~!!!!” kataku sambil menyingkirkan tangannya yang mendorong tanganku dan porseling mobil. Haiss.. aku tau dia ingin menyentuh tanganku dengan lembut, tapi rupanya Hoya pria yang begitu kuat, hampir saja aku mengacaukan acara menyetir di pagi hari.

“Hehehee… mianhae… Eunji…”

“Mwoo??? Kau tak memanggilku Subok?”

“anni… hehehe… kita akan menikah… aku harus memanggilmu Eunji… hehehe” kata Hoya berpura-pura senyum padaku, tapi tunggu sebentar lagi, ia akan marah padaku. Aku sudah hafal bagaimana tingkahnya.

“Apakah kita benar akan menikah? Bukannya mantan istrimu ingin kembali padamu eoh? Apa kau tak mau dengannya? Dia lebih cantik dariku, eoh…? Apa kau tak berpikir lagi?” godaku, aku menyembunyikan senyumanku ketika melihat wajah Hoya kembali seperti monster. Ia melihatku seperti ingin meletupkan semua kemarahannya.

“HYAAAAAAK!!! SUBOK!!!” teriaknya.

“Nah… begitu… panggil aku Subok… hehehehe” kataku.

“beraninya kau mempermainkanku Hah?? Siapa bos di sini sekarang HAH??” dia masih saja marah denganku, tapi aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.

“menurut buku yang pernah kubaca. Kalau suami dan istri itu posisinya berbeda. Istri sebagai bos dan suami sebagai pekerja.. hahaha… sekarang aku calon istrimu… jadi aku calon bosmu Hoya HAHAHAHAHAHAHHAA~~~~~~~!!” akhirnya aku bisa tertawa begitu keras membalasnya.

“HYAAAAAAAAAAKK SUBOK~~~~!!” Hoya berteriak tepat di telingaku, kuhentikan mobil Hoya di pinggir jalan.

“Hyak… Hoya…bisakah kau menjaga sikapmu? Kalau kau terus seperti ini. Wanita manapun tak akan betah tinggal dekat denganmu… okey… arra?” Hoya hanya menatapku. Kunyalakan mobilnya dan mulai melaju ke butik milik kakak Hoya.

***

Mobil Hoya sudah berhenti di depan butik kakaknya, ia membukakan pintu untukku, lalu menggenggam tanganku, mengajakku masuk ke dalam butik kakaknya yang serba pink.

Di dalam butik, ada pekerja butik yang kemarin menerima kemarahan dan teriakan Hoya dan satu wanita yang begitu cantik, ia memakai baju rajutan yang tebal berwarna maroon, sepatunya juga begitu tinggi, tak seperti yang kupakai. Ia tersenyum pada Hoya lalu padaku.
Kami mendatanginya, dan Hoya memeluk wanita itu dengan pelukan yang begitu hangat.

“Nuna… ini.. Subok.. calon istriku” kata Hoya. Ia lalu meninggalkanku sendirian berdiri menghadapi wanita super cantik yang pernah kutemui. Senyumannya masih tetap hangat.

“Subok? Hihihihi….benarkah itu namamu?” Tanya kakak Hoya sambil menutupi mulutnya yang sedang tertawa dengan tangannya, begitu anggun, jauh dari yang kubayangkan.

“Subok!!! Itu panggilan kesayanganku… dan panggilan kesukaannya… nama aslinya Eunji~!! Kak… aku pinjam baju ini ya!!” kata Hoya dari belakangku, aku berpaling melihatnya, ia sepertinya sedang tertarik memilih baju daripada mengenalkanku pada kakaknya dengan sopan.

“Eun… ji…? Itu nama yang bagus… mantan kekasihku punya selingkuhan yang bernama Eunji… dan dia cantik sepertimu hehehe… Aku… Leemi…” kata Kakak Hoya sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menyambutnya dengan senang hati.

“Senang berkenalan denganmu Eonnie… sekarang… kau panggil aku Subok saja… aku lebih menyukai subok daripada nama asliku” kataku sambil berjabat tangan dengannya.

“HAHAHAHAHAHAHA~~~~~!! Hoya!!! Dia lucu sekali Aigooo… oh… aigoo… masalah mantan pacar dan selingkuhan itu aku hanya menggodamu…kajja… ikut denganku..” Leemi menyeretku menuju ruangan yang ada di dalam butik. Aku tak percaya, ia punya style tertawa yang sama seperti adiknya.

“Hoya sudah bilang padaku… kalau kau dan dia akan menghadiri konfrensi pers…aku harus menyulapmu menjadi lebih cantik hehehehe… ayo duduklah subok…”

Leemi mulai merias wajahku, ia membubuhkan beberapa bedak di atas wajahku, rasanya sedikit gatal, tapi kalau untuk membantu Hoya dan menghargai usaha kakaknya, aku akan menahan rasa gatal ini.

“Humm… wajahmu begitu halus… aku suka itu… subok..!! apa kau pernah bertemu Hyorin? Apakah ia pernah melakukan yang tidak-tidak padamu? Memakimu?” Tanya Leemi dengan nada yang berapi-api.

“Humm… kemarin waktu acara ulangtahun Ibu.. aku bertemu dengan Hyorin.. tapi Hoya bisa mengalahkannya dengan berbagai cara hehehehe”

“haiss… dia memang wanita gila… kau tahu kabarnya? Tadi malam suaminya yang lebih tua itu masuk ke rumah sakit dan hampir meninggal, anak tirinya bilang, Hyorin telah meracuni ayahnya selama berbulan-bulan. Kemungkinan ia akan berurusan dengan hokum. HAiss.s.. aku sangat bersyukur kalau wanita seperti dia masuk dalam penjara… kau tahu!!! Dia secara tidak langsung membunuh kekasih sahabat adikku… kasihan… aku ingin sekali menggantikan kekasihnya yang meninggal, tapi ia terlalu menutup diri huuuff…”

“Joo Park?” tanyaku kelepasan. Leemi melotot padaku sambil membuka mulutnya.

“WOOOOAAAAAAAAH!!! Kau tahu Joo Park??” Leemi teriak tertahan.

“Iya… sebelumnya aku bekerja dengannya, selama aku bekerja dengannya, ia sama sekali tak membawa wanita dalam pekerjaannya… mungkin ada kesempatan buatmu Eonnie… masuk dalam kehidupannya”

“WOAAAAAAAAH!!!!!!! Benarkah!!!!! SUBOK!!!!!!!” Leemi hampir saja merusak riasannya sendiri yang ia berikan di wajahku, ia mencubit pipiku hingga memerah “SUBOOOOOk!!!! Kau memang calon adik ipar yang BAIK~~~!!!” melihat aku kesakitan, Leehi pun melepas tangannya.

“subok… bantu aku mendapatkan Joo Park… hum… jeball…. Bantu aku… hum?” Leemi berlutut di hadapanku yang sedang duduk di bangku rias.

“Eonnie…jangan seperti ini…. Aku akan membantumu….kajja… jangan seperti ini… aku merasa tak enak hati” kataku sambil mengangkat tubuhnya.

Leemi pun memelukku, ia mempererat pelukannya.

“Subok… Hoya memang benar… kau adalah kehidupan baru yang bisa membawa kebahagiaan bagi keluarga kami…. subook… hum…. Sarangheyo…. Kau tahu… aku begitu mencintai Joo Park… kumohon bantulah aku…” Leemi masih saja memohon padaku, dengan senyuman akupun mengangguk setuju. Ya aku akan menolongnya.

“HYAK!!!!!!! APA YANG KAU LAKUKAN EOH!!! SUBOK!!! Kau memeluk Leemi… kapan kau memelukku??” Hoya mengulurkan kepalanya dan melihat kami di dalam ruangan VIP.

“HOYAAAAAAAAAAAAA~~~~!!!!! GET OUT~~~~~~!!” teriak kami berdua.

To be continue

Poem Fiction - Mianhae...



Author : Ayuna Kusuma 

Genre : Sadly

Maincast : You and JHOPE (kamu bisa ganti biasmu)

***

Bila kau menganggapku Bunga...
sekarang aku hanyalah bunga yang layu
bukan karna kau tak datang 
untuk membuatku lebih hidup 

Tapi aku terlalu menganggap ini semua hanya mimpi 
dan...
aku harus mengakhiri mimpiku lebih cepat 
sebelum aku merasakan kekecewaan 
yang begitu dalam 
merusak hatiku 
hingga 
aku tak bisa hidup lagi tanpamu. 

Kalau kau menganggapku sebagai Angin 
yang bisa menyegarkan harimu..
melembutkan perasaanmu
melindungimu dari kuman di bumi. 

Kali ini aku akan menjadi angin topan 
yang bisa membunuhmu dalam satu kali sapuan 
Aku tak ingin siapapun memilikimu. 
Aku tak ingin siapapun mencintaimu selain 
diriku. 

Kau pikir aku terlalu jahat?
benar... 
pemikiranmu semuanya adalah sebuah kebenaran 

Aku adalah manusia yang begitu jahat. 
Tak ingin melihat siapapun mencintaimu lebih dari cintaku 
Maka dari itu... 
pilihlah... kau yang hidup...
atau aku yang hidup...

Tapi... lebih baik...
aku saja yang mengakhiri hidupku. 
Karna 
Pemikiranku ini 
sudah membuatmu membenciku. 

Mianhae...
Aku tak bisa menikmati cintamu... 
dan kau tak bisa mencintaiku lagi...

The End 

Songfiction : Banana



Author : Ayuna Kusuma

Maincast : You and Jungkook Bangtan

Genre : Comedy Romance

Song : Afterschool - Flashback

Aku masih ingat kau marah padaku hanya karena sebuah pisang, kau marah saat aku membuang pisangmu yang sudah hampir busuk di lemari esku.

Aroma pisang membuatmu jatuh cinta, lebih jatuh cinta daripada kepadaku. Kini aku tinggal sendirian di rumah, tak ada lagi kau yang selalu mengangguku di rumah. Tak ada lagi pisang di lemari es. Dan tak ada lagi yang bisa merayakan ulang tahunku, saat ini.

Aku sama sekali tak punya teman yang begitu dekat denganku, yang mau datang ke apartemen kecilku, lalu merayakan ulang tahunku. Hanya kau sahabatku yang selalu merayakannya untukku.

Aku menikmati setiap waktu ketika kau datang di siang hari ke apartemenku dan menghabiskan waktumu bersamaku, lalu pulang di malam yang sunyi. Kala itu aku seakan-akan memiliki segalanya, aku tak perlu lagi seorang kekasih, aku tak perlu lagi banyak teman, aku tak perlu lagi partner kerja. Karna aku sudah memilikimu.

Tapi karena kebiasaanmu yang terlalu mengangguku, menyimpan pisang busuk di lemari esku, akhirnya kau pergi. Masih teringat dalam otakku bagaimana kau marah padaku, hanya karena masalah sepele.

Pisang... Kau tahu... betapa aku membenci buah itu?. aku sangat membencinya, setiap pulang kerja aku pasti menyempatkan waktu untuk membeli pisang, dan dengan kakiku yang kuat, aku injak ia hingga tak berbentuk lagi.

Aku begitu marah pada buah itu, ia merebutmu dariku, ia menghalangiku untuk mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya padamu.

kriing.. kriing....

Bell apartemenku berbunyi, kulihat dari lubang pintu, Ommo!!! ternyata kau datang... apa kau masih ingat hari ulang tahunku?.

Kriiing.... Kriiing....

Bel masih berbunyi, aku memang sengaja membiarkannya menunggu di depan

"Nunaaaaaa......naneun Jungkook iss-eoyo... hasigi balabnida mun-eul yeolgo ............!! Nuna~~!!" ia memohon sambil memperlihatkan wajahnya yang imut padaku.

Kau kira dengan begitu aku akan memaafkanmu? lalu membukakan pintu? untukmu dan untuk pisang-pisangmu? Andwae....!!!

"Nuna~~~~~~!! Mianhaeyo~~!! jebal . jebal ... jeoleul yongseo ... Nuna ... jeongmal mian haeyo .... da-eumgwa gat-i haji malgo ... naega dangsin-eul geuliwo ... mun-eul yeolgo .."

Bagaimana ? ia merindukan aku? haruskah aku membukakan pintu untuk pria menyebalkan pecinta pisang yang kini kucintai??

To be continue

Songfiction : Banana



Author : Ayuna Kusuma

Maincast : You and Jungkook Bangtan

Genre : Comedy Romance

Song : Brian Joo - Let's this die

Aku masih menunggunya di balik pintu, masih melihat ia menungguku didepan pintu. Ia diam saja melihat lubang pintu.

"Nuna... open the door... are you crazy? saeng-il chughahabnida... Nuna... aigoo... jeongmal baega gopeu gun..." Jungkook mengambil pisang dari tas ranselnya. Aku tahu ia akan memakannya dengan lahap.

Ia mundur ke belakang lalu duduk bersandar ke dinding apartemen, bukan hanya satu, ia memakan 4 pisang dalam 3 menit. Aku hanya bisa tertawa melihat aksinya yang sedang kelaparan.

"Nuna~~~!! Nuna~~!! Open the door eoh...!!!" Jungkook berlari mendekat ke pintu kamarku, kali ini ia mencoba membuka engsel pintunya.

"Nuna...mianhaeyoo eoh.... saeng-il chughahabnida....eoh..." aku tak tega melihat matanya yang berair ingin menangis.

Pintu kamar aku buka setengah, masih ada rantai gembok yang melindungi pintuku dari Jungkook yang mencoba masuk.

"Wae... " tanyaku sambil menyimpan senyum, aku bahagia bisa melihatnya lagi, apalagi di hari ulang tahunku.

"Nuna... jeongmal mianhae ... nan neomu oelowo . dangsin-i bakk-eulo nan neomu seulpeuda ... jeoleul yongseohaejusibsio ......" Jungkook terus memohon padaku, ia masih terlalu kekanakkan menurutku, bagaimana bisa ia meneteskan air mata hanya karena ingin memaksa masuk ke apartemenku, dan bagaimana bisa ia melepaskan hubungan kami yang sudah membaik hanya karena pisang.

"jeongmal ? dangsin-ui simjang issnayo??" tanyaku.

"Nuna.... jebal... baegpeosenteu ... nan simgag iss-eoyo. nae ma-eum eoh..."

"Okey... come in" kataku sambil membukakan pintu untuknya.

Jungkok pun masuk dan memburuku, ia menyudutkanku di dinding.

"Nuna....." Ia bersandar padaku.. wajah kami berhadapan dekat sekali, aku bisa mencium nafasnya yang beraroma pisang.

"Wae...?" kataku sambil mencoba menyingkirkan tubuhnya. Tapi Jungkook tak mau pergi, ia semakin menyudutkanku.

"Nuna... I brought grapes. I'll try to love the grape for you, I will try to eat it, even though I could die from poisoning, I will leave the bananas, just for you ... because I can not lose you ... my life feels empty without you. Please ... accept me to be your boyfriend ... happy birthday to you ... This gift for you ... chu..." Jungkook mencium bibirku, dengan bibirnya yang beraroma pisang.

"Hyakk~~~~~~~!!! Jungkook!!! come back here!!! i will kill you~~~~!!" kataku sambil mengejar Jungkook yang berlari menghindariku.

"No Way!! You happy Nuna??!!! hahahaha" Teriaknya, akhirnya ia datang juga untukku, dan akhirnya tak ada pisang di apartemenku, hanya ada anggur dan Jungkook yang sekarang menjadi kekasihku. Walaupun usianya begitu muda, aku bisa merasakan ia lebih dewasa dalam satu waktu. dan bisa membahagiakanku.. kalaupun ia kembali mencintai pisangnya, aku tidak akan mempermasalahkannya.. aku akan menerimanya.. daripada aku hidup sendiri.

The End

Fanfiction : DON - Part 6 - Series



"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini... hehehe"

Author : Ayuna Kusuma (Yun)

Maincast :

Kyuhyun : Sinichi Moritani
You : Miyomi
Kwangmin : Kwangmin
Youngmin : Youngmin
Taeyeon : Taeyeon
Siwan : Jaehwan
Himchan : Ozaki
Son Na Eun : Nari
T.O.P : Big Jon / Jhonny Kim

Genre : Romance - Mistery - Crime

Location : Kyoto Japan - Seoul Korea


***

5 Mei 2013 05:00 485 Hashimotocyo Nakagyo ward, Kyoto city, Kyoto Prefecture, Jepang

Youngmin dan Kwangmin terlihat melangkah dengan hati-hati, mereka tak ingin membuat suara dan membangunkan Miyomi yang tidur di kamar sebelah. Kwangmin menggeser pintu begitu pelan. Moritani terlihat masih tidur. Youngmin membuka lemari pakaian Moritani, dan mulai mengemasi barang-barang milik Moritani, hasil rampokan semalam ia masukkan ke dalam tas.

Sedangkan Kwangmin mencoba membangunkan Moritani.

“Hyung… dia tak mau bangun..” bisik Kwangmin.

“Tampar saja” balas Youngmin yang masih sibuk memasukkan baju Moritani ke tas yang lainnya.

Kwangmin menampar wajah Moritani dengan keras seperti yang di perintahkan kakaknya. Moritani bangun lalu mengambil pistol yang ada ditangannya. Mengarahkan ke segala arah.

“Ommo!! Kalian?? Apa maksud kalian eoh!!” Kwangmin mencoba mencuri pandangan Moritani, dan pria itu akhirnya bisa diam.

“Letakkan pistolmu…” kata Kwangmin, dan Moritani mulai menurutinya. “Ini buatku.. “ kata Kwangmin lagi sambil membuka pistol dan mengeluarkan pelurunya, lalu melempar pistol ke arah Youngmin.

“Moritani… kehidupanmu begitu kelam… dengan hasil curian Youngmin… pindahlah kau ke tempat yang lebih aman, jadilah orang baik yang mau membantu siapapun, dan hindari mencuri… kau akan membuat banyak orang sengsara… pergilah sekarang… jangan sampai membangunkan Miyomi dan semua penghuni rumah ini… arra… kajja… bawa tas ini… sekarang Hiduplah… dengan tenang… di tempat yang kau inginkan… lupakan semua kejahatanmu… dan jangan melakukannya lagi” kata Kwangmin, sambil memberikan tas yang sudah di siapkan Youngmin. Moritani tersenyum melihat kedua anak kembar itu. Ia memakai celananya, kemeja, dan jaket. Ia juga memakai mantel tebal berwarna hitam.

Moritani berjalan keluar, di ikuti Youngmin dan Kwangmin.

“Sayonara… Moritani… Modotte kuru koto wa arimasen!!” teriak Kwangmin dan Youngmin ketika mereka sudah mengantarkan Moritani berjalan menjauh dari penginapan.

“Sayonara!!!!!!! Hahahahaa” Youngmin berteriak, lalu memeluk dirinya sendiri “Aigoo.. dingin sekali… Kwangmin… kau yakin ia akan baik-baik saja?”

“Tenang saja… ia akan baik-baik saja… aku menghipnotisnya agar melupakan memori tentang Miyomi dan kita. Hidupnya akan lebih baik. Oh… bukankah hari ini kita harus ke GN Highschool?” kata Kwangmin sambil berlari masuk ke dalam penginapan.

“Kwangmin!!! Apakah kita harus ke sekolah eoh?? Hahaha aku tak mau… aku ingin dirumah saja dengan. Miyomi?? Waeyo?” Youngmin yang berlari masuk, terkejut melihat Miyomi yang berdiri di depannya.

“hum?? Kalian dari mana sepagi ini?” Tanya Miyomi sambil masuk ke dalam ruang lobi penginapan.

“Kami… dari… menikmati udara pagi hehe.. okey… aku akan melihat Nari sebentar…” kata Kwangmin, ia mengganti sepatunya dengan selop rumah, lalu berlalu meninggalkan Youngmin dan Miyomi yang saling memandangi satu sama lain.

“Kau… memakainya?”

“Humm… aku suka warnanya… dan benangnya begitu hangat, leherku jadi tak kedinginan sekarang… bagaimana kau tahu aku suka warna hitam?” Tanya Youngmin sambil membantu Nari menata kunci di lobi.

“matamu hitam… aku yakin kau pasti suka warna hitam”

“hmmm… apakah hari ini kita akan ke GN Highschool?”

“Kosu…” jawab Miyomi sambil mengangguk.

“Apakah disana ada club sepak bola?” Tanya Youngmin sambil mencoba melihat wajah Miyomi yang selalu menunduk.

“Kosu…”

“Hmmm… baiklah… aku akan mandi dulu… lalu kita berangkat bersama-sama…” Miyomi memandangi Youngmin yang berjalan keluar dari ruang Lobi.

“Ah.. Youngmin…”

“Hum?” Youngmin pun berbalik

“Apa kau yakin… Moritani akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik?” Mendengar pertanyaan Miyomi, Youngmin sedikit terkejut, bagaimana gadis itu bisa tahu apa yang dilakukan Youngmin, tanpa ia tahu gadis itu mengetahuinya.

“Ah.. eotteohge??” Youngmin pura-pura tak tahu apa yang ditanyakan Miyomi.

Gadis itu hanya tersenyum melihat Youngmin. “Aku setuju dengan tindakan kalian berdua… menghipnotis Moritani dan menyuruhnya pergi dari sini… kurasa permata hasil curiannya semalam bisa untuk membeli penginapan lagi bahkan yang lebih besar dari ini”

“Ommo!! Kau tahu semuanya?”

“Tentu saja aku tahu… kamarku ada di depan kamar Moritani… setiap hari aku selalu mendengar apa saja yang dilakukan Moritani. Apakah kau juga memakai hipnotis untuk membuatku mencintaimu?” Tanya Miyomi sambil tersenyum menggoda.

“Anni…” Youngmin pun mendekat ke lobi, ia menyandarkan tubuhnya di dinding, wajah Miyomi pun memerah ketika menyadari Youngmin sedang memandangi wajahnya. “Apa kau setuju dengan tindakanku? Membuat Moritani pergi dari rumah ini?”

“Aku sangat setuju… bagaimana bisa ia membuatku selama 3 tahun hanya mengharapkannya, terjebak dalam hubungan yang sama sekali tak kusukai… Oppa… gomawo…” kata Miyomi lagi ia menunduk, membuka desk yang menyimpan kunci dan data lama.

“OMMO!!!” Youngmin berlari mendekat, lalu menyandarkan tubuhnya di meja dan melihat Miyomi yang sibuk membersihkan desk. “Kau memanggilku Oppa??”

“Hum… Oppa… Oppa… dangsin-eun baegopeun ?” Tanya Miyomi sambil mengedipkan matanya pada Youngmin.

“AHHHHHHHH!!!!!! Benarkah ini?? Apakah aku bermimpi??” kata Youngmin, ia menampar wajahnya sendiri dengan keras.

“Oppa~~~… it’s real… kajja… aku akan memasakkanmu kare yang enak pagi ini…” Miyomi bangkit dan tak sengaja memukul wajah Youngmin dengan kepalanya.

“AIGOO!!” Youngmin teriak sambil memijat hidungnya.

“Ommo!! Oppa… Mianhae!!” kata Miyomi, ia berlari keluar lobi dan menghampiri Youngmin, dengan lembut ia menyentuh hidung Youngmin, lalu mulai memijatnya.

“I chiji?” Tanya Miyomi, jarinya masih tetap memijat hidung Youngmin yang memerah.

“andwae…chu” Youngmin berhasil mencuri ciuman di pipi Miyomi yang semakin memerah.

“hummm… nappeun oppa!! chu!” Miyomi membalas mencium pipi Youngmin. Lalu berlari ke dapur, meninggalkan Youngmin yang masih berdiri di tempat semula, sambil membelai pipinya sendiri.

“Uwaaaaaaa…… beginikah… rasanya jatuh cinta…?” Ia berpaling melihat Miyomi yang sudah sibuk di dapur. “Miyomi~~~~~!! Saranghae~~~~~~~~~!!” teriaknya, ia berlari ke arah dapur dan mulai membantu Miyomi menyiapkan makanan pagi ini.

Teriakan Youngmin, membangunkan Nari yang sedari tadi masih tidur di atas futon. Kwangmin ada di sampingnya, merebahkan tubuhnya dari tadi, sambil melihat Nari yang tertidur. Kini mereka saling memandang.

Nari memalingkan badannya, lalu menyentuh wajah Kwangmin.

“Oppa… apakah kau yang berteriak Saranghae?” Tanya Nari sambil menyibakkan rambut Kwangmin.

“Anni…. Itu suara Youngmin…” kata Kwangmin sambil menggenggam tangan Nari yang sedari tadi memainkan rambutnya. “Kau masih lelah? Tidurlah… aku akan menjagamu?” Kwangmin menaruh tangan Nari di depannya.

“Oppa… apakah… kita akan selalu lari seperti ini? Aku merasa bersalah kalau harus berpisah dengan Appa… di dunia ini, Ia hanya memilikiku, anak tunggalnya… mengapa aku harus memilih salah satu dari kalian hmmm” Nari memainkan rambut Kwangmin lagi.

“Aku… juga tak tahu… bagaimana kehidupan kita nanti… tapi usia kita masih terlalu muda… kau bisa tetap hidup bersama Ayahmu… aku akan tetap menunggumu… kapan kau kembali ke Seoul?” kali ini Youngmin pun tertarik memainkan rambut Nari yang panjang dan jatuh menutupi wajah gadis yang ia cintai.

“Besok lusa…”

“Hummm… cepat sekali… padahal kita baru saja bertemu…”
“menurut kepolisian Seoul, kalian dinyatakan sudah mati, jasad kalian sudah dimakamkan… tapi aku yakin itu bukan kau… karena aroma tubuhmu tak seperti itu…” kata Nari sambil mendekatkan dirinya ke dada Kwangmin.

“woaah… kau mengenali aroma tubuhku?” kata Kwangmin sambil memeluk Nari.

“nde… oppa” Nari pun sama, ia semakin melenyapkan wajahnya di dalam pelukan Kwangmin yang hangat.

“Hari ini… aku akan mendaftar sekolah di GN Highschool.. aku akan kembali belajar di kelas 3. Hehe…kau mau mengantarkanku kesana?”

“Benarkah? Berarti kau jadi Dongsaengku sekarang? Hihihi”

“Aigoo… andwae… aku tetap oppamu..” kata Kwangmin sambil merapatkan pelukan.

***

“Kwangmin… ayo ajak Nari sarapan pagi di ruang keluarga… aku dan Miyomi sudah memasakkan buat kalian” kata Youngmin dari balik pintu yang begitu tipis. Youngmin hanya tersenyum saja sambil mengintip adiknya sedang berpelukan dengan kekasihnya.

“Ye~~~!! Hyung!!!” jawab Kwangmin. Ia membuka pintu.

“Woaah… Nari!! Apa kabarmu eoh??” Tanya Youngmin sambil mengulurkan tangannya

“very nice hehehe” Nari menggoyangkan tangan Youngmin.

“Woah… auramu sudah berubah… dulu kau selalu cemberut… tapi sekarang kau tampak berubah” kata Nari

“Tentu saja.. ia berubah… Miyomi yang merubahnya.. Kajja… kita sarapan” kata Kwangmin sambil memakaikan syal di leher Nari.
Youngmin pergi terlebih dulu, tinggal Nari dan Kwangmin di kamar.

“Oppa… aku membawakanmu ini… ini… dan ini…” kata Nari sambil memberikan satu kotak berisi kimchi, jaket, juga tiga kaos pada Kwangmin.

“Ommo!! Ini terlalu banyak buatku…”

“Andwae… hehehe… aku akan membuatkanmu baju… kimchi… dan seorang anak kalau kita menikah”

“Uwah….. aku memang tak salah mencintai gadis seperti Nari… palli… Miyomi pasti menunggu kita berdua”

***

“Itadakimasu!!” Kwangmin, Nari, Youngmin dan Miyomi, menikmati hidangan kare daging pagi ini. Mereka menikmati sebuah kebersamaan yang selama ini tak pernah terbayangkan. Nari memberikan suapan terbesarnya pada Kwangmin, sedangkan Miyomi masih malu-malu melakukan itu, ia hanya memberikan tambahan kuah kare pada Youngmin.

“Miyomi… aku tak pernah menyangka… Youngmin bisa mendapatkan kekasih yang cantik sepertimu hihihi… sebelumnya… Youngmin hanya bercinta dengan bola, championship dan bola” goda Nari.

“Gomawo…” balas Miyomi sambil menundukkan wajahnya.

“Hyak!! Nari… apa kau benar-benar mencintai adikku? Woah… perjuanganmu pergi ke jepang harus kuberikan sepuluh likes hahaha… kapan kalian akan menikah? Eoh? Kudengar kalian sudah membicarakan masalah membuat anak? Eoh…? Benarkah?” Youngmin pun membalas menggoda Nari, hingga wajah gadis itu memerah.

“Miyomi… apakah kau akan mendaftar ke sekolah bersama kami?” Tanya Kwangmin sepertinya ingin merubah arus pembicaraan.

“Andwae… aku akan di rumah saja. Mengurusi penginapan ini… aku sudah bosan sekolah… apakah kalian akan sekolah? Kalau menurutku… kalian lebih baik bekerja saja… sekolah sungguh menyebalkan… mereka akan mengekang jiwa kita dengan pelajaran yang sama sekali tak dipakai di kehidupan nyata”

“Woaaaaaa…rupanya kau hebat juga Miyomi hahaha!!! Aku setuju denganmu… sekolah memang menyebalkan… untung saja aku sudah lulus” timpal Nari.

“Oh!! Benarkah? chugha-e chugha-e…..” kata Kwangmin.

“Kalau kalian ingin kembali ke sekolah. Itu terserah kalian, tapi di jepang pelajarannya begitu susah dibandingkan di korea” kata Miyomi, kali ini ia sudah merasa dekat dengan Kwangmin dan Nari, ia mengambilkan daging dan nasi, lalu menyuapi Youngmin.

“Ham… hmm nom nom nom… masakanmu memang enak Miyomi… kalau begitu aku memilih di rumah saja… hahahaha. Aku akan bekerja sebagai pelatih sepak bola… tapi bagaimana denganmu Kwangmin? Kau hanya bisa melukis… hmmm”

“Oh!! Benarkah? Aku kenal dengan seorang sensei. Kamata, ia mengatakan kalau perlu pekerja baru di galerinya. Kalau kau tertarik, aku bisa mengantarkanmu ke Sensei Kamata, rumahnya tak jauh dari sini…”

“Wah… benarkah??? Terima kasih Miyomi…” kata Nari “Oppa… kau harus bekerja di Sensei Kamata… bekerja saja… dengan kemampuanmu aku yakin. Kau lebih pantas untuk bekerja sekarang”

“Ye… Arrasoo…” kata Kwangmin sambil membuka mulutnya lebar-lebar. “Kajja… honey.. I want more curry” kata-kata Kwangmin membuat Youngmin dan Miyomi tertawa bahagia. Dua pasang kekasih yang sudah semakin dekat, kini akan menjadi keluarga yang tak akan bisa terputus oleh apapun juga.

***

5 Mei 2013 08:00 Near Hashimotocyo Nakagyo ward, Kyoto city,Jepang

“YAAAAA….. Ahjussi!!... mwoo?? Belok ke kiri? Kau yakin?? Kau saja tidak ada disini!! MWEEE?? Aigoo…. Hmmm” Seorang pria memakai topi kerucut merah berjalan sambil menempelkan handphonenya di telinga.

“Aih… Arraseo…. Kau lebih canggih dari GPS. Mwo?? Anni… anniya… tak perlu shaman penjaga untukku… bicara denganmu saja membuatku takut. Apalagi kau memberikanku shaman… brrrrr.. aku sudah berbelok. Lalu kemana lagi?? Hmmm… ye…. Hmmm ah… arraso… hmmm… matanya? Ye.. aku akan berhati-hati. Bahkan kalau bisa aku akan membutakan mata mereka berdua… hahahaha… hmmm… terus saja… hmmm penginapan? Moritani Inn? Ah… ye… aku sudah melihatnya… hmmm… anyeong”

Pria misterius itu membuka handphonenya lagi, mengetik nomor lalu menempelkan handphonenya lagi di telinganya.

“Ah.. Ahjussi.. kau tulis di surat jalanku. OZAKI ke Jepang. Kasus Jo Twins. Aku akan membawa mereka kembali ke Korea. Hidup atau mati” Ozaki pun mematikan handphonenya. Ia mengeluarkan kalungnya. Sebuah kalung yang berwarna keperakan, kalung yang sama seperti milik Nari.

“Huh… dasar Shaman… dia bilang dengan kalung ini aku akan bebas dari pengaruh Siluman itu… Arra.seo… kita coba saja sekarang… apakah mereka bisa mengalahkanku?”

Ketika Ozaki ingin masuk ke dalam Penginapan, ada seorang pria yang mendahuluinya, pria itu memakai baju serba hitam, berpenampilan seperti layaknya mafia.

Ozaki mundur beberapa langkah, lalu mengambil tabletnya di tas. Ia masuk ke dalam bank data yang kepolisan korea. Ia duduk bersandarkan tiang listrik, Ozaki seperti masih menyimpan ingatannya akan pria itu.

Ia membolak balik page demi page di bank data.

“OMMo!!! Jhonny Kim? Dia masih hidup?? Ahss.. aku lupa… 2 tahun yang lalu ia kabur dari penjara… dan… dia disini?? WOAAAAAAAAAHHAHAHAHAHA~~~~~!! AIgoo… apa yang harus aku lakukan sekarang?? HAHAHAHAHA!!!!! Aku… aku… apakah ini hari keberuntunganku!!!!!! WOAAAAAAHHahahahaha…. YES!!! YES!!!” kata Ozaki sambil meloncat-loncat, menendang-nendang tiang listrik dengan wajah yang penuh kepuasan.

“HYAHAHAHAHA….sssttt….. tenanglah Ozaki… kau akan mendapat tiga narapidana… lalu kau akan naik jabatan. Hahahaha” to be continue

Fanfiction : New Life Part 23



"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini... hehehe"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : Romance.

Maincast :

Leemi : You
Hyorin : Bora SISTAR
Hoya : Hoya Infinite
SungYeol : SungYeol Infinite
Joo Park/JP : Woohyun Infinite
Shin Eunji : Lim Soo Jung


***

“Finish… dengan gaun hitam.. kau akan tampak cantik, tidak mudah di sepelekan, dan tegas. Subok… ingat janjimu tadi ya? Hihihi” Leemi membenarkan letak rambutku, kulihat dari kaca rias, Hoya hanya melihat kakaknya dengan sinis.

“Lee… jangan panggil dia Subok..!! itu panggilan kesayanganku!!” bentak Hoya, huh, kesayangan kau bilang? Kapan kau melihatkan sayang padaku? Kalau tidak marah kau hanya bisa meludahi wajahku sambil merusak gendang telingaku dengan teriakanmu.

“Hoya… jangan bersikap seperti itu… kau kan sudah jadi bintang terkenal sekarang…” kata Leemi sambil menunjuk-nunjuk wajah Hoya dengan gunting rambut.

“benar kata Eonnie. Kau harus bisa menjaga ucapanmu… atau para haters akan lebih membencimu kalau tahu kau yang sebenarnya seperti ini” tambahku.

“Hahahahaha… benar-benar… kau memang pintar Subok” puji Lee padaku.

“hehe…” suara tawaku semakin bermakna ketika kulihat mulut Hoya yang sudah di beri lipbalm terlihat semakin menebal.

“ye…ye… arraseo… Palli.. kita harus berangkat sekarang!!” kata Hoya sambil menyeretku keluar dari ruang rias VIP milik Leemi.

“Semoga berhasil~~~~!! Subok!! Ingat janjimu ya~~~!!” Teriak Leemi dari tengah pintu butiknya. Ia melambaikan tangan seolah-olah itulah harapan besarnya padaku. Ahss… bagaimana caranya aku mendekatkan Joo Park dan Leemi? Sedangkan aku saja sudah tak dibolehkan untuk bekerja lagi dengannya.

Di mobil aku memeriksa tasku, selama tinggal di rumah Hoya aku tak pernah melihat handphoneku, ketika kulihat daftar panggilan masuk. Ternyata Joo Park menghubungiku sampai puluhan kali.

“Ommo… dia melakukannya berkali-kali” kataku sambil menghapus panggilan dari Joo Park.

“Wae? Wae?” Tanya Hoya sambil mencuri pandang ke Handphoneku.

“Aissh… perhatikan jalan saja” aku mengelak, dan menghindarkan handphoneku dari pandangannya. Kalau dia tahu, pasti marah dan make up yang sudah susah payah di buat Leemi akan rusak karena ludahnya.

“Ada apa? Apa yang berkali-kali?” Tanya Hoya lagi seakan-akan tahu apa yang kusembunyikan. Aku tak bisa berbohong dengannya, kalau ia tahu aku pernah membohonginya, urusannya akan lebih rumit dari sekarang.

“Anni… Joo Park menghubungiku berkali-kali… tapi aku tak mengangkatnya kemarin…”

“HAHAHAHAHAHAHA……….. Poor Joo Park…!!” Hoya berteriak lalu membanting setir, ia seakan bahagia diatas penderitaan temannya sendiri.

“Hyak!! Hoya…kau tahu?... kakakmu sudah lama menyukai Joo Park… bagaimana kalau kita jadi comblang mereka? Hum?” tanyaku sambil mengedipkan mata pada Hoya, Sonya pernah mengatakan kalau seorang gadis sudah mengedipkan matanya, pria akan kalah dan menyetujui apapun yang diinginkan sang gadis.

“Mwo? Apakah ada debu di matamu?” kata Hoya, tangannya menyentuh mataku, lalu membukanya dengan paksa.

“HYAKSS!! Aissh… apa kau tak tahu maksudku eoh?” kataku sambil menempelkan lagi bulu mataku yang hampir lepas karena ulah Hoya.

“Oh….. kau sedang merayuku? Hahahaha ku kira mataku kemasukan debu.. aih.. mianhae… HAHAHAHAHA…”

“Haiss… Hoya… bagaimana dengan kakakmu? Dia sepertinya begitu mencintai Joo Park… apa kau tak mau membantunya?”

“ANDWAE!!!” kata Hoya sambil membelok ke kiri dengan begitu keras, hingga aku terbentur kaca jendela.

“MWOO!!! Okey!!! Aku juga tak mau membantumu. Turunkan aku disini!!! JEPPALLI!!!!!!!!!!! Aku tak mau membantu pria yang tak mau membantu kakaknya sendiri… pria seperti apa kau? STOP!! Turunkan aku disini!!” Hoya melihatku dengan tatapan sengitnya. Ia menghentikan mobilnya, tapi mengunci pintunya secara permanen.

“Subok… “ aku sangat terkejut ketika Hoya bukannya memarahiku, tapi ia hanya memanggilku dengan suaranya yang begitu berat. “Kau tahu… kakakku.. adalah wanita yang suka plinplan… saat ini ia suka dengan Joo Park. Besok ia suka dengan Sung Jae Jung. Besok lusa ia suka dengan Tae Bo. Kau tahu…? Aku rasa kau tidak tahu karena kalian hanya satu kali saja bertemu. Sedangkan Joo Park… ia akan setia dengan wanita yang ia cintai.. Leemi… tak akan bisa bersama Joo Park… kalau mereka bersama… akan ada salah satu yang merasa tersakiti… karena kakakku bukan orang yang setia seperti Joo Park. Dan usia mereka terpaut begitu jauh…dangsin algo su issseubnikka?” Aku hanya memandangi raut wajah Hoya yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya, ia sepertinya sedang menahan emosinya.

“Tapi… kalau mereka kita pertemukan… pasti ada sesuatu hal yang bisa membuat mereka saling mengerti, saling memahami, bahkan Leemi bisa belajar bagaimana kesetiaan, eoh.. dan Leemi bisa mengajari Joo Park bagaimana menjadi pria yang menyenangkan… dan bisa melupakan kekasihnya yang dulu… aigoo… aku lupa namanya…”

“Subok…kau tak tahu masalah cinta yang seperti ini… akan sulit bagi Joo Park untuk memulai sesuatu…”

“Hoya… kau lihat berapa kali dia mencoba menelponku? Hampir 40 kali… ia pasti mengharapkanku.. ia pasti kesepian saat ini… hmmm… kumohon… bantulah mereka berdua untuk bertemu… ancamanku tadi masih berlaku… kalau kau tak mau membantu Leemi, aku akan akhiri semua ini. Aku tak mau lagi mengenalmu, dan kita akhiri saja semua sandiwara yang kau buat” kataku. Kulihat di sorot mata Hoya ada binar-binar yang tak pernah kulihat sebelumnya.

“Subok… apakah kau menganggap ini hanya sandiwara?... aihss… kajja… aku akan membantu Leemi… padahal aku berharap ini bukan hanya sandiwara… haiss… forget my word” Hoya kembali menyetir, lalu melirik padaku.

Aku terpanah, oleh perubahan kepribadiannya, cepat sekali ia berubah, tadi marah padaku sekarang ia baik padaku. Aku tentu saja sudah bersiap-siap menerima marahnya.

***

Hoya menghentikan mobil di depan angel café, dimana semua pasangan kekasih pasti datang kesana untuk mengungkapkan rasa cintanya. Di dalam café aku bisa melihat banyak sekali orang dari berbagai perusahaan pers dan paparazzi juga sesaeng yang menunggu kami, mereka duduk dengan rapi, menunggu kami berdua.

Ketika aku masuk bersama Hoya, semuanya tersenyum menyapaku, kecuali sesaeng, sumpah demi apapun, aku sedikit takut pada mereka. Ada satu orang yang menunjukkan pisau tajam ke arahku, beberapa security langsung mengamankan wanita itu.

Hoya hanya menggenggam pundakku, dan sesekali menghalangi mataku agar tak melihat sesaeng.

“Silahkan duduk disini… terima kasih kalian berdua sudah datang ke acara yang kami selenggarakan… bisa kita mulai sekarang” kata salah seorang pria yang memakai rompi bertuliskan PD.

Silau blitz kamera membuat mataku sedikit sakit, dan kepalaku langsung pening, tapi ketika kulihat Hoya, matanya begitu bulat, seakan-akan ia siap menerima blitz yang begitu menyakitkan mata. Tak kusangka pria yang sekarang bersamaku begitu cinta dengan pekerjaannya. Ia tersenyum pada semua orang yang belum tentu menyukainya.

“Hoya… apakah kalian berdua bertemu di halte bis? Bisakah kau jelaskan pada kami semua hehehe?” Tanya seorang pria yang duduk persis di depanku, melihatnya tertawa ingin sekali aku memasukkan highheelsku ke mulutnya.

“Benar… kami bertemu pertama kali di halte… sekarang halte itu seperti halte cinta buat kami..” itulah jawaban Hoya. Huh… kalau ingat bagaimana pertama kali bertemu dengannya, ingin sekali aku memukulnya saat ini, aku masih ingat bagaimana sombongnya dia menandatangani blazer yang bukan milikku. Lalu membayarku seperti membayar seorang pengemis.

“Apakah kejadian itu saat anda masih menikah dengan Hyorin?” Tanya Seorang wanita yang sedari tadi menatapku dengan sinis.
“Apakah karena dia anda bercerai dengan istri anda?”

“Anni… aku bertemu dengannya… baru beberapa bulan ini… ia bekerja denganku.. sebagai sekertaris pribadiku… perilakunya membuatku jatuh cinta… benarkan ss.. Eunji..” Hoya mencium tanganku, membuat semua orang melupakan kesalahannya menyebut namaku.

“Hmmm… kapan kalian akan menikah? Ingin bulan madu kemana? Apakah Eunji memiliki silsilah keluarga yang penting di Korea?” mendengar pertanyaan itu aku tahu Hoya sudah mulai emosi, kerutan di wajahnya muncul sedikit.

“Hyak… apa kau eommaku? Hahahaha”

“HAHAHAHAHAHA……” semua orang pun ikut tertawa.

“Aku akan menikah dengannya seminggu lagi” aku langsung mencubit Hoya dengan cubitan yang super sakit, tapi ia bisa menahannya, seminggu lagi? Dia bilang 1 bulan lagi.

“Kami.. hehehe… kami akan berbulan madu ke Bali…” kata Hoya, ku kira ia tak membalasku, tapi pinggangku panas karena cubitan balasannya.

“Hmm okey… Eunji.. apakah kau bisa menjelaskan sosok Hoya pada kami?”

“wae?” gumamku, Hoya melihatku, ia berpura-pura membenarkan letak rambutku. “Ah… Hoya.. dia pria yang baik… setiap hari selalu saja ada kejutan darinya” benar kejutan berupa teriakan, lemparan ludah, bahkan aksi di luar kewajaran.

“Lalu…” wartawan itu masih saja memintaku untuk melanjutkan.

“Hoya… pria yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, walaupun terkadang ia tertawa… tapi aku tahu.. bagaimana perasaannya… Hoya adalah anak yang begitu sayang dengan kakak juga ibunya… itu yang membuatku jatuh cinta dengannya…” mendengar penjelasanku, Hoya berpaling lalu memberikan senyum padaku, itu berarti rangkaian kata-kataku sudah benar.

“Eunji… apakah anda tertarik dengan harta milik Hoya? Ia adalah anak dari seorang pengusaha. Dan penghasilannya sebagai artis tentunya banyak sekali… apakah kau tertarik dengan itu?”

“Mwo…. Apakah kalau kau menikah dengan seseorang kau tertarik dengan hartanya?” Hoya membalikkan pertanyaan pada wanita yang berprofesi sebagai wartawan salah satu televise paling terkenal di Korea.

“Anni…” wanita itu menjawab dengan suara tertahan.

“Ya….. tentu saja… Eunji… juga begitu… ia mau menikah denganku… karena kami saling mencintai..” lanjut Hoya. Hampir saja aku mati ketakutan, bagaimana kalau Hoya mengungkapkan semuanya tanpa control.

Akhirnya semua puas, dan sesaeng pun puas, mereka tahu inilah yang terbaik untuk idolanya. Aku sempat beberapa kali berkenalan dengan mereka. Tapi Hoya memberikanku jaket, lalu menyeretku keluar.

Ia memasukkanku ke mobil. Dan menyuruhku melambaikan tangan pada semua sesaeng yang menghimpit mobil Hoya. Aku bahagia, akhirnya bisa membantu Hoya kembali mendapatkan popularitasnya.

“YEAAAAAAAAAAAAAAH!!!!!!!!! HAHAHAHAHA~~~~~!!” Hoya berteriak di dalam mobil, ia seakan-akan bahagia dengan konfrensi pers tadi. Dengan cepat ia sudah mengacak rambutku, lalu membelokkan mobilnya menuju suatu tempat.

“Kau mau pizza? Subok?”

“MAU~~~~~~!!!” jawabku.

“Okey…. Aku akan membelikanmu PIZZA!! Dan kita makan bersama di rumah!!”

“YAY!!!!!!” aku tak tahu mengapa aku juga ikut bahagia, bukan karena sebuah pizza, tapi karena senyuman Hoya, membuatku ingin tersenyum dan merasakan kebahagiaannya.

Drrrrrrtt… Ring ring….. Drrrrrtt… Ring ring…..

Suara telp di mobil Hoya. Aku melihat ternyata Leemi yang menelpon. Hoya mengklik tombol loudspeak.

“Yoboseyo!! Hoya!!?? Kau sudah lihat di beberapa web? Hyorin menyebarkan rekaman pembicaraanmu dengan Subok. Kau pernah mengajaknya satu mobil dengan kalian?? Eoh???”

“Mwoo???”

“Coba dengarkan ini!!” Leemi memutarkan sebuah rekaman di web, aku bisa ingat, ternyata rekaman itu…

“SUNGYEOL!!!!!!!” kami berdua entah mengapa berteriak pada waktu yang sama. “Tapi aku sudah menghapusnya iya kan Subok??” Hoya menghentikan mobilnya, lalu fokus dengan rekaman itu.

“HYAK!!! Bagaimana?? Apa kalian tahu siapa yang membuat ini semua??” Tanya Leemi terdengar begitu khawatir.

“Humm… Eonnie. Anak tiri Hyorin yang melakukannya…” kataku.

“Okey…konfrensi pers kalian tadi, sama sekali tak ada artinya, sekarang semua orang fokus kepada kejelekan kalian, yang merencanakan semua ini… aku tahu Hyorin dibalik semua ini… Subok.. Hoya.. jadi… sekarang terserah kalian… kalau ada yang perlu kubantu… bilang saja. Aku akan membantu kalian” Hoya mematikan telponnya tanpa aba-aba.

“Kau masih menyimpan alamat Sungyeol??” Tanya Hoya padaku, wajahnya terlihat menakutkan.

“Yyye…” jawabku.

“Kita kesana sekarang… aku akan memberikan pelajaran padanya… awas kau SUNGYEOL!!!!!! HYAAAAAAAAK!!!! SEKKKIYAAAAAAAA!!!!!!!!”

To be continue

Nari. Fanfiction DON ( Jeo-ju 2 )

 

Mencintai itu...
Bisa menghilangkan kebencian dalam hatiku. 
Mencintaimu... 
Bisa membuatku melupakan semua logika. 
Tak peduli siapapun dirimu. 
Aku akan tetap mencintaimu. 
Tak peduli apakah kau akan membunuh atau sebaliknya. 
Aku akan mencintaimu. 

Kau pria pertama 
yang membuatku sakit hati 
Kehilangan sebuah cinta begitu cepat. 
Tapi aku tak mau begitu saja 
membiarkan hatiku tersiksa. 

Aku akan mencarimu 
walaupun harus melintas dimensi. 
Aku akan katakan padamu...
Apapun yang kau lakukan aku akan mencintaimu 
Seperti apapun kau menyakitiku. aku akan mencintaimu 
Bagaimana takdir kita berusaha memisahkan. aku akan mencintaimu. 

Memang terlalu bodoh 
Untukku... 
Memimpikan kehidupan yang tak mungkin kudapatkan 
Tapi terlalu bodoh buatmu 
Mengapa kau berani menjeratku
untuk pertama kali.
menjerat
Wanita 
Yang tak bisa melepaskan pria yang ia cintai begitu saja. 

Nari. Fanfiction DON ( Jeo-ju 2 )
by Ayuna Kusuma (Yun)