- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction Butterfly - Part 2 - NEW Series.



Author : AyunaKusuma ( Yun )

"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini... hehehe"

Genre : Mystery, Romance, Sadness

Maincast :

Jin Hee : Lee Yeon-hee
In Moon : Song Ha-yoon
Min Gyong : Changmin
Kim Nam : Kim Nam Gil


***

14 Februari 1989 - Daegu

***

Wanita tua yang memiliki toko kelontong, membuatkan susu hangat untuk Jinhee dan kopi untuk Kimnam. Ia berkali-kali menyentuh perut Jinhee yang sudah membesar. Ia membuka sedikit jendela tokonya agar bisa melihat Mingyong apakah sudah datang atau belum.
Cuaca begitu parah hari ini, salju turun semakin deras dan cepat. Jarum jam menunjukkan angka ke tujuh dan ke angka dua belas.
Pukul tujuh sore hari, mereka masih menunggu Mingyong. Jinhee sudah tak menangis lagi, ia hanya terdiam menatap ke luar jendela, seakan begitu menantikan suaminya kembali.

“Aigooya… kau pria yang baik… siapa namamu?” Tanya wanita tua pemilik toko, sambil menepuk dada Kimnam.

“Kim Nam.. itu namaku… ehehe… aku kasihan padanya… kalau Ahjumma melihatnya saat di sekap… ahjumma… tak akan bisa menahan air mata… ommo… mianhae.. aku jadi ingin menangis” kata Kimnam sambil mencoba menahan air matanya.

“Tidak apa… tidak apa… Jinhee… memang sungguh wanita yang menyedihkan… bagaimana bisa keluarganya sendiri menyekapnya… lalu kakak tirinya merebut suaminya… aku tak tega dengan ini semua… kalau aku bertemu Moon… ingin sekali aku… menghajarnya…!!” ujar wanita tua pemilik toko, sambil memperagakan sedikit taekwondo yang ia kuasai.

“Apakah.. Ahjumma tahu bagaimana kehidupan Jinhee bersama suaminya? Apakah mereka pernah bertengkar ? saling melukai? Mungkinkah suami Jinhee ada dibalik kasus penculikan selama 5 bulan ini?”

“Akss… Mollayo…” kata Wanita tua itu, ia mengambil bantal, lalu menaruhnya di dekat Kimnam, ia duduk diatasnya, lalu bersiap memulai sebuah cerita mengenaskan mengenai Jinhee dan keluarganya.

“Yang aku tahu… Jinhee adalah anak seorang pembisnis ternama di Kangnam… Ibu tiri Jinhee, ibu Moon, menikah dengan ayah Jinhee karena hartanya… kabarnya ayahnya meninggal mendadak setelah melihat istri barunya berselingkuh di rumahnya sendiri… mungkin karena shock lalu mati di tempat. Jinhee menikah sudah satu tahun yang lalu… ia pindah ke rumah itu setelah menikah dengan suaminya… Mingyong… kurasa ia pria baik… ia sama sekali tak pernah memukul istrinya… bahkan membentak pun aku tak pernah mendengarnya. Rumahnya begitu dekat dengan rumahku… aku pasti mendengar kalau mereka bertengkar. Tapi selama ini aku tak pernah mendengarnya… Jinhee dan Mingyong adalah pasangan yang serasi. Tujuh bulan yang lalu… Moon pindah ke rumah itu, katanya ia ingin merawat adiknya yang sedang hamil, menjaga Jinhee, karena Mingyong sering pergi ke luar negeri… Lima bulan yang lalu… ketika Mingyong datang.. aku sempat mendengarkan Moon dan suami Jinhee berteriak-teriak, saling memaki, bahkan mereka sempat keluar bersama. Tetanggaku yang tinggal di sebelah sana… kau bisa lihat rumah itu?” Kata Wanita tua pemilik toko sambil menunjukkan satu rumah yang bercat ungu.

Kimnam hanya menangguk saja memastikan bahwa ia sudah melihat rumah itu “Dia.. mengatakan padaku akan Jinhee pergi ke luar negeri, karena dia akan menikah dengan seorang pria, banker dari amerika, memang beberapa kali kami memergoki dia pergi dengan seorang pria… tapi aku tak tahu kalau Jinhee… keadaannya seperti ini… akupun tak percaya dengan gossip itu.. tapi aku juga marah pada Jinhee mengapa ia bisa meninggalkan suaminya dan memilih menikah dengan pria lain saat ia mengandung… setelah seminggu gossip itu beredar… aku sering melihat Moon tetap tinggal di rumah itu… dia pernah datang ke tempatku memberikan kue, katanya kelebihan memasak untuk Mingyong… AISSH!! Tak kusangka kalau Moon seperti itu… dia wanita busuk… bisa-bisanya menghancurkan rumah tangga adiknya sendiri..!!... Kajja.. minumlah… sebelum kopinya dingin” kata Wanita tua pemilik toko, ia berpindah posisi, kali ini ia mendekati Jinhee yang terdiam menatap jendela.

“Jinhee… kau harus minum ini… untuk anakmu…. Mingyong akan kembali… dia belum menikah dengan adikmu… kita bisa mengembalikan keadaanmu seperti semula… tapi sekarang minumlah dulu…ayoo…” rayu wanita tua. Tapi Jinhee masih terlalu shock, ia tak mempedulikan apapun yang ada di sekelilingnya.
Ia membiarkan wanita tua itu membuka mulutnya lalu menuangkan sedikit demi sedikit susu ke mulutnya memakai sendok. “Ya… minumlah… kau boleh bersedih… tapi kau harus menjaga anakmu… woah… perutmu besar sekali… apakah kau akan punya anak kembar? Hehehe… Mingyong akan bahagia kalau bisa bertemu denganmu lagi…” kata wanita tua, sambil menyuapi susu kemulut Jinhee.

“Ahjumma… jangan dipaksakan… kasihan Jinhee” kata Kimnam sambil sesekali meneguk kopinya.

“Haiss… tidak bisa.. apakah kau tak melihat tubuhnya yang kurus kering??” kata wanita tua, ia terus memasukkan susu kedalam mulut Jinhee walaupun seringkali susu itu ditumpahkan lagi oleh Jinhee.

“Ah… Kim!! Apakah kau sudah menikah? Kalau belum.. aku punya anak perempuan… pahlawan sepertimu pasti membuat anakku jatuh cinta hahahaha” goda wanita tua, membuat suasana lebih nyaman, ketegangan pun berakhir. Kim tertawa mendengarkan pertanyaan wanita tua pemilik toko kelontong.

“Aigoo… Ahjumma… aku sudah punya istri… hehehe… sekarang istriku juga sedang hamil… sama seperti Jinhee… itulah yang membuatku ingin menolong Jinhee… aku tak bisa membiarkan wanita hamil seperti dia di siksa seperti ini…”

“hmmmm…. Kau benar… kita berdoa saja… semoga Mingyong bisa menerima Jinhee kembali dan percaya pada istrinya… bukan pada wanita rubah pembawa sial seperti Moon…. Oh.. apakah istrimu juga tinggal di Daegu?” Tanya wanita tua sambil menyeka wajah Jinhee yang basah karena tumpahan susu dari mulutnya.

“Anni… dia tinggal di Busan… baru tiga bulan yang lalu aku pindah ke Daegu… kemungkinan aku akan pindah lagi ke Busan untuk menemani istriku… semoga masalah Jinhee bisa teratasi dan aku bisa melaporkan Moon dengan tuduhan penculikan…”

“Iya!!! cheonjae!!! Kau harus memenjarakan Moon dan ibunya karena sudah menculik Jinhee selama itu… Lima bulan di dalam kamar… aigoo… Jinhee… kumohon… jangan bersedih lagi… eumm… sekarang ada aku… walaupun aku tak pernah mengenalmu… tapi aku bisa merasakan kesedihanmu…” Wanita tua menaruh cangkir susu, lalu memeluk Jinhee dengan pelan.

Airmata Jinhee hanya menetes, ia bereaksi setelah wanita itu memeluknya, tangannya menunjuk ke jendela. “Suamiku… sudah pulang… Mingyong… Mingyong…”Jinhee menunjuk mobil yang berhenti di depan rumahnya.

Kimnam dan wanita tua pemilik toko langsung membantu Jinhee berjalan, menemui suaminya. Mereka tak tahu kalau Jinhee menyimpan pisau milik wanita tua pemilik toko, yang sedari tadi dipakai untuk memotong apel, ia menyimpannya, di balik jaket tebalnya.

Seorang pria membukakan pintu untuk Moon, ia tersenyum begitu manis pada gadis itu.

“Mingyonggggg” teriak Jinhee, pria yang bernama Mingyong langsung menoleh ke arah Jinhee, senyumannya yang manis itu hilang seketika, ia melangkah maju menemui istrinya yang sedang hamil tua, dan dalam keadaan memprihatinkan.

“Jinhee… kapan kau datang? Apakah Amerika terlalu membosankan untukmu?” kata Mingyong dengan aksen menyebalkan. Moon yang sedari tadi khawatir, ikut menghadapi Jinhee juga.

“Mingyong... Aku… tak pernah ke Amerika… aku menunggumu Min… kau tahu… selama ini aku menunggumu menjemputku di rumah Moon… tapi kau tak pernah menjemputku… Moon bilang kau akan kembali… lalu besoknya Moon bilang kau akan menikah dengan seseorang… Mingyong… apakah kau sudah tak mencintaiku? Eumm…? mengapa kau meninggalkanku sendirian… eoh? Mengapa…?”

“WUOO!! Apa kau bilang?? Sekarang kau menyalahkan kakak tirimu !!! kau kabur dari rumah !! lalu menikah dengan pria amerika itu!! lalu kau menyalahkan MOON!! Dia yang menyelamatkanku dari kesendirian… dari pengkhianatanmu… aku!!! Tak bisa kau tipu JINHEE!!” Mingyong membentak Jinhee seakan-akan ia yang selalu benar, wanita itu langsung lemas seketika, ia terpuruk diatas trotoar yang dingin dan licin.

“Mingyong!! Aku Kimnam!! Dari kepolisian Daegu. Aku menemukan wanita ini di sebuah rumah di Suseonggu. Aku sendiri saksinya… ia memang di sekap disana selama 5 bulan ini… dan pelaku utamanya adalah Moon kakak tirinya sendiri… kuharap kau bisa percaya pada istrimu” kata Kimnam sambil memperlihatkan lencana polisinya.
Moon ketakutan ketika melihat Kimnam, sedangkan Mingyong mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ia berbalik ke arah Moon, dicengkramnya pundak Moon.

“APAKAH INI BENAR!!?? Kau menyekap adikmu sendiri?? EOH!!! KATAKAN PADAKU!!!!!!!!” Mingyong berteriak sekencang-kencangnya, melepaskan amarahnya.

“A…andwae…. Aku tak melakukan itu…” jawab Moon sambil menangis

“ Jinhee pergi ke amerika… aku punya buktinya… mungkin sekarang… ia… ia sedang bersandiwara… dan ingin merebutmu kembali… Min… jangan percaya padanya…. Eoh…” kata Moon sambil memeluk Mingyong, tapi pria itu melepaskannya. Ia tampak begitu bingung dengan kenyataan saat ini. Bingung memilih siapa yang lebih benar, apakah Jinhee atau Moon.

“HYAKKK!!! Sempat sempatnya kau berbohong HAH!!!” wanita tua pemilik toko langsung maju dan melampiaskan kemarahannya pada Moon, ia jambak rambut Moon, lalu memukul wajah gadis itu berkali-kali. Moon tak tinggal diam, ia malah membalas mencakar wanita tua hingga berdarah.

“SUDAH!! SUDAH!! AHJUUMA!!!” kata Kimnam melerai pertengkaran.

“Kuharap kau mau percaya padaku Mingyong.. aku saksi dari semua peristiwa ini… dan kau Moon… kau bisa kupenjarakan dengan tuduhan penculikan…Urusan kita tak berakhir sampai disini!!” kata Kimnam sambil menyeret wanita tua yang masih saja ingin memukul Moon.

“MOON!!! Tega sekali kau menculik istriku HAH!!! LALU KAU Merusak rumah tanggaku!!! APA YANG KAU MAU HAH!!!!!!! HARTAKU??!!! HAH!!!!!” Mingyong mengguncang-guncang tubuh Moon dengan keras, ia tak bisa lagi membendung kemarahannya.

“Mianhae.. Oppa… ani! .. naneun dangsin-ege naui kkul-eul salang ... naneun dangsin-eul salanghabnida ... naega dangsin-eul salanghagi ttaemun-e geugeon ....!!” kata Moon sambil mencoba memeluk Mingyong, pria itu hanya membiarkan Moon memeluknya, ia menangis sambil mencengkram kepalanya.

“nae nampyeon-i…… mian haeyo. dangsin-eun nal salanghaji anh-eumyeon ... naega jug-eoya ... mian haeyo ... jeongmal mianhae ... naneun joh-eun anaega doel su eobs-seubnida ...” mendengar kata-kata Jinhee, semua orang melihatnya, kedua nadinya teriris begitu dalam hingga semua orang bisa melihat nadinya terputus.

“JINHEEEEEEEEEEEE!!!!!!!” Mingyong menghempaskan tubuh Moon, dan berlari mendekati istrinya. Ia menggenggam nadi Jinhee yang sudah bersimbah darah. “JINHEE!!! nae anae ga nal tteona jima ! jebal ... JINHEEEEEE!!!!!!!” kata Mingyong sambil mengikat sapu tangan dan dasinya di masing-masing lengan istrinya, ia tak tahu kalau istrinya sudah terkapar tak berdaya di trotoar yang dingin.

“JINHEEE!!! AIGOO!!” Mingyong segera mengangkat tubuh istrinya, dan memberikan kunci mobil pada Kimnam.

“jebal… dowajuseyo… antarkan kami ke rumah sakit… kau saja yang menyetir” kata Mingyong. Dengan cepat Kimnam berlari menuju mobil, lalu menyalakan mesinnya.

Mingyong membawa istrinya ke jok belakang, ia memeluk istrinya sambil menangis, Moon yang ingin masuk ke dalam mobil di seret wanita tua dan di hempaskan ke trotoar.

Mobil pun melaju begitu cepat, membelah udara yang dingin.

“Kau tak pantas bersama mereka!!! ARRA!!! Kau wanita hina yang pernah kutemui!! Bisa-bisanya kau membuat saudaramu menderita HAH!!! TERIMA INI!!” kata wanita tua sambil menendang perut Moon yang terkapar di jalan. Ia lalu pergi meninggalkan Moon yang kesakitan.

“RRRRRRRRRAAAAAAAAAAAH!!!!!!!!!! JINHEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!!!! Bagaimana bisa HAH!!! JINHEEEEEEEEEE!!!!!!! Aku bersumpah akan membunuhmu!!!!! HYAKKKKKKKKKKKKK!!!! SSEEEEEEKIIIYAAA!!!!!” Teriak Moon ditengah badai salju.

***

Mobil masih melaju di lebatnya hujan salju, Kimnam begitu hati-hati menyetir, dengan kecepatan tinggi ia melajukan mobil Mingyong, di dalam mobil hanya ada kesunyian, beberapa kali Kimnam hanya melirik ke jok belakang. Mingyong memeluk istrinya, menyanyikan lagu yang disukai istrinya, membelai wajah istrinya. Sambil menjaga agar darah tak lagi keluar dari kedua nadi istrinya.

“Apakah… Jinhee”

“Dia masih hidup… Istriku harus tetap hidup… Jinhee… kau harus tetap hidup eumm… aku… akan selalu menjagamu mulai saat ini…eumm” Mingyong memotong kata-kata Kimnam, ia memeluk Jinhee sambil memegang erat tangan istrinya. “Kau tak boleh meninggalkan aku… Jinhae… kau harus bertahan… aku begitu mencintaimu… hanya kau yang kucintai… Jinhae!!!!! Oh… Jinhae…”

“Sebentar lagi kita akan sampai…” Kimnam membelokkan mobilnya ke arah gerbang rumah sakit. Ketika Mobil baru berhenti, Mingyong langsung membuka pintu, dan berlari ke arah emergency room, beberapa dokter dan suster menangani Jinhee dengan cepat.

“Aku harus ikut dengannya… aku suaminya” kata Mingyong pada dokter.

“Baiklah mari ikut kami” kata Dokter sambil mempersilahkan Mingyong untuk masuk kedalam ruang emergency.
Kimnam tampak sedang menelpon seseorang, ia berjalan mendekati ruang emergency dengan tergesa-gesa.

“Suster.. kau melihat pria yang membawa istrinya yang terluka di kedua tangannya?” Tanya Kimnam pada suster yang lewat didepannya.

“Oh.. Tuan Mingyong dia masuk kedalam ruang emergency silahkan tunggu disini saja” kata Suster sambil menunjukkan kursi tunggu pas di depan pintu ruang emergency.

Kimnam menempelkan handphonenya di telinga. “Humm… aku masih di Daegu… ya.. Shinhye…tolong… jaga anakku… hmmm… love you… hari ini? Hari ini aku membebaskan seorang wanita yang hamil tua dari sekapan keluarganya sendiri… ia di culik lalu disekap selama lima bulan di kamarnya…dan barusan saja… oh… aigoo.. aku menangis.. hehe… barusan saja… ia melakukan percobaan bunuh diri… Shinhye… apakah kau juga menangis? Hummm… kalau kuceritakan padamu keseluruhan ceritanya… kau akan lebih menangis lagi… hmmm… arraseo… aku akan pulang besok siang… hmmm… Kimchi? Ah… arraseo… aku akan bawakan kimchi Daegu untukmu..byebye my hunney… love you too” Kimnam menutup handphonenya, lalu memasukkan ke kantong jas.

Ia menggosok-gosokkan tangannya agar lebih hangat, lalu meniupnya. Mingyong keluar dengan tertatih, ia menangis sebisa-bisanya. Kimnam berdiri ingin membantu Mingyong berjalan, tapi pria itu malah memeluknya.

“Aku tak kuat lagi… Aigoo…. Apa yang harus kulakukan…. Istriku meninggal… Jinhee meninggalkanku… Aku kecewa pada diriku sendiri…aku bodoh sampai tak mencarinya… tak mencari kebenaran… Istriku… meninggalkanku…” Kedua pria itu menangis seperti layaknya pria sejati.

“Duduklah… sekarang bagaimana mayat istrimu?” Tanya Kimnam sambil membopong Mingyong, hingga pria itu bisa duduk tenang di ruang tunggu.

“Dokter sedang membedah perut Jinhee… mereka bilang anakku masih hidup… kedua anakku… ya… kedua anakku masih hidup…. Jinhee… kedua anak kita sudah hidup… Jinhee… mengapa kau meninggalkanku… apakah ini hukuman yang harus kuterima…? Jinheeeee…..” Mingyong menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya.

“Tenanglah… Jinhee… mungkin inilah kehidupan yang terbaik buat Jinhee… tenanglah Mingyong… aku yakin… anak-anakmu akan lahir dengan sehat… Jinhee… mengatakan padaku kalau ia menjaga anaknya untukmu… kali ini… jangan sampai kau kecewakan anakmu… sudah cukup.. kau mengecewakan istrimu… aku akan memproses kasus ini ke jalur hokum..” kata Kimnam

“Oh!! Kumohon… jangan… jangan kau laporkan kasus ini ke jalur hokum… aku masih punya nama baik… aku memegang nama baik keluargaku… jangan Kim… aku akan mengatasi ini sendirian… aku akan menghukum siapa saja yang menyakiti istriku dengan caraku sendiri… Kumohon… jangan lakukan itu Kim… kumohon”
Kimnam hanya melihat Mingyong yang semakin tampak menyedihkan, ia pun memikirkan lagi, memang akan berdampak buruk pada perusahaan Mingyong bila ada berita yang tidak sedap mengenai rumah tangganya.

“Baiklah… aku akan menyimpan ini semua…..” kata Kimnam sambil menepuk punggung Mingyong, menenangkan pria yang ada disampingnya.

“Kim… terima kasih… kau sudah menyelamatkan istriku… kalau tak ada dirimu… bagaimana aku bisa bertemu dengan istriku… aku tak akan bisa bertemu dengannya.. dan anakku… apa yang akan terjadi dengan anakku kalau kau tak menyelamatkan Jinhee….. Kim… apakah aku pria yang bodoh?”

“Aku tak mengenalmu Mingyong… tapi mendengar cerita dari tetanggamu dan istrimu… kau memang pria terbodoh yang pernah kutemui…” mendengar jawaban dari Kimnam, Mingyong semakin menangis tercekat, tanpa suara, hanya rasa sakit yang begitu menggema.

Dokter keluar dari ruang emergency. Ia berjalan mendekati Mingyong yang tertunduk.

“Tuan Mingyong… maafkan kami yang tak bisa menyelematkan istrimu… tapi… baru saja kami berhasil menyelamatkan anakmu… dua jam lagi, kau bisa melihat kedua anakmu di baby care ward… ini beberaapa formulir yang harus kau isi untuk pembayaran biaya rumah sakit dan oprasi Caesar..”

***

Baby care ward, kedua pria itu memasuki ruangan yang penuh bayi, suster mengantarkan mereka ke box bayi yang berada paling pojok. Mingyong melihat kedua anaknya yang masih memerah. Ia berlutut diantara kedua box bayi.

“Kalian… cantik seperti eomma kalian… eum… mianhae….. appa tak bisa menyelamatkan eomma kalian… mianhae…” gumam Mingyong sambil membelai satu persatu pipi anaknya.

Kimnam hanya menahan air matanya dengan menatap langit-langit ruang perawatan bayi. Suster memberikan dua formulir berwarna biru pada Mingyong.

“Tuan.. tolong tulis disini… Nama kedua anak anda…” kata suster. Mingyong berdiri lalu mengambil formulir itu, ia memberikannya pada Kimnam. “Bisakah… kau menuliskan untukku?... aku terlalu lemas untuk menulis saat ini…”

“Ye..” jawab Kimnam

“Anakku yang cantik ini… yang selalu tersenyum padaku… aku berikan ia nama… Ji Gyong…”
Kimnam Nampak menulisnya dengan sangat hati-hati.

“Dan… anakku… yang cantik ini…. Yang selalu terpejam… seperti ibunya… aku namakan ia Je Gyong…… Ji Gyong… Je Gyong…. Ini Appa… aku berjanji… akan menjaga kalian… tak ada lagi yang bisa kupercaya selain kalian… tak ada lagi yang bisa kucintai saat ini selain kalian… aku akan hidup untukmu… anak-anakku…”

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler