- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction : DON - Part 3 - Series



"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini... hehehe"

Author : Ayuna Kusuma (Yun)

Maincast :

Kyuhyun : Sinichi Moritani
You : Miyomi
Kwangmin : Kwangmin
Youngmin : Youngmin
Taeyeon : Taeyeon
Siwan : Jaehwan
Himchan : Ozaki
Son Na Eun : Nari

Genre : Romance - Mistery - Crime

Location : Kyoto Japan - Seoul Korea


***

3 Mei 2013 08:26 485 Hashimotocyo Nakagyo ward, Kyoto city, Kyoto Prefecture, Jepang

Miyomi terlihat sibuk di dapur, ia memotong kubis menjadi potongan kecil, lalu memasukkannya ke dalam panci yang mendidih, lalu memotong wortel dan memasukkan pasta ke dalam panci yang sama. Di belakangnya Moritani berjalan keluar dari kamar mandi yang tak jauh letaknya dari Dapur.

“Oh… kau sendirian?.. mana Kwangmin dan Youngmin?” Tanya Moritani sambil menggosok rambutnya dengan handuk hangat.

“Mereka sedang membersihkan setiap kamar di penginapan ini… Moritani.. aku membuatkan sup untukmu… coba.. bagaimana rasanya?” kata Miyomi sambil meniupkan sedikit sup yang ia ambil dengan sendok. Lalu Moritani memakannya.
Pria tampan itu memejamkan matanya, lalu ia tersenyum pada Miyomi.

“Huumm… seperti biasa… masakanmu selalu enak ehehehe” kata Moritani sambil mencium pipi Miyomi yang terlihat empuk seperti kue mochi. Ketika Moritani akan meninggalkan gadis itu, Miyomi menahannya dengan menarik bajunya.

“Moritani….” Panggil Miyomi dengan begitu pelan.

“wae?” Tanya Moritani sambil mendekat pada Miyomi, karena kaosnya telah di tarik gadis itu.

“Bisakah kau menganggapku sebagai kekasihmu?... kau selalu memperlakukanku sebagai kekasih… bukan sebagai adik…” kata Miyomi sambil menundukkan kepala.

“oh… hahaha….” Moritani menahan tawanya. Ia mengangkat wajah Miyomi, hingga bisa melihat wajahnya “Miyomi… apa kau mencontoh Youngmin yang langsung menembak tepat tanpa melihat waktu? Hehehe” Moritani melepaskan tangan Miyomi lalu berjalan keluar dari dapur.

Tapi Miyomi tak mau menyerah ia mengejar Moritani dan memeluknya dari belakang.

“Moritani…kalau kau menganggapku sebagai adik… bersikaplah seperti kakak, bukan seperti kekasih…Jangan membuatku gila Moritani…” kata Miyomi

Dengan lembut Moritani berbalik dan memeluk gadis yang mencintainya itu. Ia melepaskan pelukan Miyomi, dan berlutut di depannya.

“Maafkan aku Miyomi… aku tak bisa menjadi kekasihmu… maafkan aku yang telah salah bersikap terhadapmu… kau adalah adikku, kita bertemu saat orang tua kita meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun… saat itu… aku melihatmu menangis… entah mengapa hatiku begitu sakit… dan aku berjanji… aku akan menjagamu seperti adikku sendiri… dan jangan sampai kau menangis lagi…. Tapi sepertinya sikapku sendiri yang membuatmu menangis… maafkan aku Miyomi…” kata Moritani sambil menghapus airmata Miyomi yang deras mengalir membasahi wajahnya.

“Huumm… apakah aku kurang cantik?” Tanya Miyomi semakin membuatnya menangis “atau apakah aku kurang tinggi? Aku kurang baik?”

“hehehehe…. Kau adalah adikku yang paling cantik, walaupun kau pendek… kau tetap putri cantik yang harus ku jaga sepanjang masa… Kumohon Miyomi… aku mencintaimu sebagai adikku…. Jangan menyiksa diri dengan menganggapku sebagai orang lain… arra? Aku adalah kakakmu…Lihatlah sepertinya supnya sudah meletup-letup hehehe” kata Moritani.

“Oh. Aigoo…” gumam Miyomi, ia menghapus airmatanya lalu berlari menuju dapur, ia mematikan kompor, lalu duduk bersandar di dinding. Dan menutup wajahnya dengan tangannya yang mungil.
Moritani berlalu meninggalkan dengan menyisahkan senyuman manis pada adiknya. Youngmin muncul dari arah yang lain, ia membawa pel dan pembersih kaca. Melihat Miyomi duduk sambil menangis, ia segera mendekatinya.

Youngmin melanjutkan pekerjaan Miyomi memotong bawang bombai. Sesekali ia melihat Miyomi yang masih duduk di belakangnya.

“Ah… Miyomi… apakah aku harus memotong bawang bombainya kecil-kecil seperti ini… atau bagaimana?” Tanya Youngmin sambil menunjukkan hasil potongannya yang memanjang pada Miyomi.
Miyomi menengadahkan wajahnya, ia melihat Youngmin dengan tatapan yang aneh, matanya masih memerah habis menangis, dan wajahnya basah karena airmata.

“Woah… kau pasti kesakitan karena bawang bombai ini… aku akan memotongnya untukmu. Hehehe… apa benar seperti ini eoh?” Tanya Youngmin lagi dengan wajah yang konyol. Miyomi yang melihatnya kini mulai bisa tersenyum.

“hum… apa seperti ini?” Youngmin kembali menanyakan dengan mempermainkan potongan bawang bombai di tangannya.

“hehehe… benar… mana aku saja yang mengerjakannya” kata Miyomi sambil merebut pisau yang di bawa Youngmin. Tapi Youngmin tak mau mengalah, ia menghindari tangan Miyomi.

“Kau memasak yang lain saja.. aku akan memotong bawang ini untukmu… bisa-bisanya ia membuat gadis yang cantik sepertimu menangis… HYAAAAAAAAK!!!” teriak Youngmin sambil memotong bawang dengan cepat tapi tak terarah.

“Hahahahaha…. Kau memang pria yang lucu…” gumam Miyomi.

“Hehehehe… apakah kau menyukaiku?... ah… sepertinya iya… “ kata-kata Youngmin membuat Miyomi bebas memukulnya. Dengan sendok nasi yang panas, ia memukul punggung Youngmin.

“AW!!” kata Youngmin, tapi kemudian ia tertawa setelah melihat Miyomi tersenyum melihatnya.

“Miyomi… sebentar lagi aku akan sekolah di tempatmu… dan aku berusaha agar bisa sekelas denganmu… hahahaha” kata Youngmin sambil menuangkan bawang yang sudah seperti bubur ke loyang tahan panas.

“Hahahaha…. Bawangnya mengapa kau jadikan seperti itu hahahaha” kata Miyomi sedikit terhibur karena ulah Youngmin.

“Hehehe… Kwangmin paling tidak suka bawang, jadi aku membuatnya seperti bubur. Agar ia tak tahu kalau sudah memakan bawang” kata Youngmin.

“Ah… baiklah… terserah saja… Youngmin… kau pasti tak bisa mengejarku. Nilaiku di kelas 120. Aku mendapat nilai 10 dalam semua mata pelajaran…” kata Miyomi menyombongkan dirinya. Ia menuangkan bubur bawang ke pan yang sudah di beri mentega. Lalu ia masukkan daging giling kalengan.
Youngmin duduk bersandar di dinding. Ia terlihat menghitung sendirian.

“Miyomi… tapi aku beberapa kali mendapat nilai 10… pelajaran Olahraga… seni… ahss aku lupa… tapi yang pasti aku pernah mendapatkan nilai 10. Dan aku akan berusaha satu kelas denganmu hahaha” Miyomi menutup masakannya, lalu mematikan kompor.
Ia berbalik melihat Youngmin yang masih memajang senyum untuknya. Miyomi lalu duduk di depan Youngmin, bersandar di oven.

“Youngmin… benarkah kau pemain sepak bola yang hebat?” Tanya Miyomi tiba-tiba.

“Hum… aku pernah mengalahkan pihak Jepang, dan berbagai Negara di Asia. Aku berharap aku bisa bermain sepak bola lagi nanti…” kata Youngmin sambil memainkan kakinya.

“Ye… aku berharap kau bisa masuk ke sekolahku… semoga kau berhasil Youngmin…” kata Miyomi. Ia bangun dari duduknya, lalu merapikan piring dan mangkuk kecil di atas meja makan.

“Apakah perlu kubantu?” Tanya Youngmin.

“Tentu saja, kalau kau mau” kata Miyomi lagi-lagi mengulas senyum pada Youngmin.

“dan… tentu saja aku mau…” kata Youngmin sambil membawa sup dan daging oseng buatan Miyomi.

3 Mei 2013 13:58 371 Gongdeok-dong, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan

“Nuna~~~~~~~~~~~!!” teriak Jaehwan sambil membuka pintu apartemen Taeyeon. Tak ada jawaban, pria itu masuk ke dalam apartemen dan memeriksa kamar demi kamar. Tapi Taeyeon tak ada di sana.

“Nuna…. Kau dimana?” Jaehwan melihat di catatan dinding, jadwal Appa keluar hari ini sampai jam 6 sore. Jaehwan berlari ke dapur, karena hanya itu tempat yang belum ia periksa.

Ia buka pintu dengan cepat, dan menemukan Taeyeon yang duduk bersandar di pojok ruangan, dan menundukkan wajahnya tenggelam di kaki dan tangannya. Seluruh dapur terlihat kotor dan berantakan.

Jaehwan segera mematikan kompor. Ia mendekati Taeyeon, lalu mengangkat tubuhnya, menidurkan kekasihnya di sofa ruang keluarga. Ia menyeka wajah Taeyeon yang penuh dengan noda bumbu.

“Nuna… apa yang kau lakukan… hum?” Tanya Jaehwan sambil menyeka Taeyeon dengan handuk basah.

“aku… tak bisa bekerja lagi… bahkan memasakpun aku tak bisa… “ Taeyeon hanya terdiam saja membiarkan Jaehwan membersihkan tangannya

“Nuna… jangan memaksakan diri… ada aku… aku yang akan memasakkan makanan yang enak untukmu… aku yang akan bekerja… kau bisa di rumah sambil menikmati kehidupanmu yang tenang…hum… Nuna… jangan membuatku sedih…” Taeyeon melempar tangan Jaehwan, ia mencoba duduk, lalu ia memuntahkan semua isi perutnya di depan Jaehwan.

Setelah Muntah Taeyeon kembali tidur di sofa sambil menangis.

“Tidak apa Nuna… tidak apa… aku akan membersihkannya… apa kau masih pusing ketika duduk?” kata Jaehwan sambil berdiri, mengambil lap dan membersihkan muntahan Taeyeon.

“Nuna… besok lusa kita harus ke dokter.. kau harus berobat lagi… tidak boleh seperti ini terus… kalau kau duduk, selalu memuntahkan isi perutmu… aku tak akan biarkan ini berlangsung lama” kata Jaehwan sambil melempar lap kotor ke keranjang sampah.

“Jaehwan… aku wanita yang menyedihkan… iya kan…” Taeyeon kembali mencoba duduk, kali ini ia menyandarkan kepalanya di sofa. Agar tak terasa pusing dan mual.

“Anni… kau wanita yang membanggakan…” kata Jaehwan mencoba menghibur, ia duduk di bawah Taeyeon, sambil memijat kaki wanita yang ia cintai.

“Jaehwan… sebaiknya kau batalkan saja pernikahan kita… aku tak bisa menikah denganmu dan membuat kau semakin menderita… kalau hidup denganku… kau akan menderita…” kata Taeyeon.

“Andwae… bagaimana kalau aku suka penderitaan? Nuna?” Tanya Jaehwan, Taeyeon mencoba meraba kekasihnya, ia pun mendapatkan rambut Jaehwan, dengan lembut ia coba membelainya.

“hehehe… kau memang… bisa membuatku bahagia… hehehe” kata Taeyeon yang sudah membaik perasaannya.

“Nuna… tebak… aku membawakanmu apa?”

“mwo?? Mollayo…” jawab Taeyeon, kini ia menyandarkan kepalanya lagi ke sofa.

“Aku membawakan… kabar… kalau semua polisi merindukanmu… hehehe… mereka semua akan hadir di pesta pernikahan kita,,,”

“Oh…. Hahaha” Taeyeon menutup mulutnya, ia tampak bahagia mendapat kabar itu. “Jaehwan… tapi aku… aku tak bisa membuatkan apapun buat mereka… hehehe”

“Ssssttt… aku sudah menyiapkan semuanya… hehehe…” kata Jaehwan. Ia pun duduk di di samping Taeyeon, dan menyandarkan kepala kekasihnya di pundaknya. “Seoul begitu damai tanpa kedua anak itu… aku bersyukur bisa membunuh mereka malam itu… Nuna… aku yakin Hyung akan bahagia kalau bisa melihat kita menikah” kata Jaehwan.

“Hum…” Taeyeon memeluk lengan Jaehwan “Dia akan bahagia disana… dan mungkin sekarang dia sedang makan chicken nugget bersama bidadari…”

“hahahahaha… yayaya kau benar… Hyung suka sekali dengan chicken nugget. Hahahaha”

Jaehwan dan Taeyeon terlihat menikmati siang itu, mereka melupakan jam makan siang, memang merasakan cinta itu bisa melupakan rasa lapar dan penderitaan.

3 Mei 2013 15:00 485 Hashimotocyo Nakagyo ward, Kyoto city, Kyoto Prefecture, Jepang

Moritani membawa dua berkas ke kamar Youngmin dan Kwangmin, ia masuk lalu menyapa kedua anak kembar yang telah ia tolong.

“Ini data kalian, Tanggal 6 kalian harus ke sekolah bersama Miyomi untuk mendaftar murid baru. Aku tak bisa mengantar kalian… hehehe bisa kan?” Tanya Moritani sambil memberikan berkas kepada Youngmin dan Kwangmin

“Humm.. terima kasih… kami akan berusaha dengan baik… hehehe” kata Kwangmin, Moritani pun keluar dari kamar mereka, tapi Kwangmin mengejarnya. “Moritani!! Kapan kami bisa bergerak? Merampok? Membantumu?” Tanya Moritani.

“Hahaha…. Sssshmmm…” Moritani menggosok dagunya, lalu melihat Kwangmin yang terlihat antusias dengan tugasnya. “Besok malam saja… temani Big Jon merampok salah satu toko permata. Bagaimana?”

“OKE!!. Gomawo..” kata Kwangmin sambil melangkah kembali ke kamarnya.

“hahahaha… memang kalian anak yang luar biasa… aku tak salah membantu kalian” kata Moritani sambil kembali ke tempat kerjanya di lobi.

Kwangmin dan Youngmin melihat data palsu yang dibuat Big Jon.

“Wahahaha… dia memang hebat… aku sama sekali tak mengerti tulisan ini hahahahaha” kata Youngmin. Membuat Kwangmin tertawa mendengar kakaknya.

“Akupun begitu… ahss… asal kita bisa kembali ke sekolah.. aku sudah senang… hahahaha” kata Kwangmin sambil melemparkan berkasnya ke atas futon.

“Humm…. Kwangmin… kau yakin kita bisa membantu Big Jon merampok?”

“Tentu saja bisa… kita masih memiliki kekuatan hipnotis hahahaha… AH!! Hyung… kenapa Miyomi tak kau hipnotis saja…? Cintai aku… jadilah kekasihku… HAHAHAHAHAHAHHAA” Kwangmin memengang perutnya dan mentertawakan kakaknya.

“Haiss.. baboya… aku tak ingin dia mencintaiku karena hipnotis… ketika bersama Nari apakah kau menghipnotisnya seperti itu?” Tanya Youngmin.

Kwangmin langsung berhenti tertawa. Ia memandang langit-langit kamar yang terang.

“Aku tak pernah menghipnotisnya… ia mengatakan cinta padaku… dan aku tak pernah menghipnotisnya… ah… Hyung… kau membuatku merindukan Nari…”

“hummm mianhae… kau bisa tahu… apakah Nari merindukanmu juga?” Tanya Youngmin yang masih mencoba membaca tulisan jepang di ijazahnya.

“aku sama sekali tak bisa membaca pikirannya… ia wanita yang hebat… bisa menjaga pikiran dan perasaannya dari kekuatanku…” gumam Kwangmin, ia memejamkan mata, mencoba mencari dan mengingat wajah Nari dalam mimpinya.

3 Mei 2013 23:00 618-1 Ahyeon-dong, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan

Di ruang komisaris polisi, Nari menghadap ayahnya yang masih sibuk membaca tumpukan kasus yang ada di mejanya.

“Appa…. Ayoo… bolehkan aku…” mohon Nari sambil menggosok tangannya.

“Andwae…!! Kau ke Jepang dengan siapa?” Tanya komisaris polisi yang juga ayah Nari.

“Aku bersama semua teman sekelasku… kami akan ke Kyoto besok lusa… kami akan di sana. selama satu minggu saja Appa… setelah kelulusan… kami ingin berlibur. Setelah itu kami akan kuliah.. apa kau mau membuatku menderita tanpa liburan HAH!! APPA!!!!!!!!!!!!!!” Nari berteriak tak bisa menahan emosinya di depan Ayahnya.

“SSSSSSSSttt!!!” Ayah Nari membungkam mulut ayahnya. “Jangan berbuat tak sopan di kantorku… baiklah… aku akan bolehkan kau ke Jepang tapi hanya tiga hari. Setelah itu pulang dan ikut kontes menembak di sini… kau sudah kudatarkan lomba…” kata Ayah Nari, ia kembali membaca kasus yang ada di depannya, tak sekalipun melihat anaknya yang sudah kembali ceria.

“Benarkah Appa?? Jeongmal??” Tanya Nari, sambil bersiap melompat.

“Ye…” jawab Ayahnya.

“YEAAAAAAAAAAAAAAH!!!!!” Nari melompat dan hampir saja menabrak meja ayahnya. “Baiklah Appa… aku akan ke Jepang selama tiga hari, lalu kembali ke Korea segera…salangheyoo… Appa……”

Setelah mencium wajah Ayahnya, Nari keluar dari kantor ayahnya.
Ia menyapa setiap polisi yang bertemu dengannya. “Aku akan ke Kyoto… hahahhaa” dan kata-kata itu tak ia lupakan. Ia sebarkan ke semua polisi yang bekerja sebagai bawahan ayahnya.

Nari masuk ke dalam ruang data, ia membuka kasus yang menyangkut Kwangmin dan Youngmin. Nari mencetak beberapa foto Kwangmin, lalu memotong satu foto yang paling bagus dan menyelipkannya di diarynya.

“Hum… Kwangmin… aku yakin kau masih hidup… dan tuan Shaman sudah mengatakan padaku lewat mimpiku… kau ada di Kyoto… hehehe…chu” kata Nari sambil mencium foto Kwangmin. “Aku akan menemuimu… tak peduli kau pembunuh… aku akan selalu mencintaimu… tunggu aku disana… Kwangmin…” Nari pun mematikan komputernya dan meninggalkan ruang data yang sudah sepi.

Tapi gadis itu tak tahu kalau masih tersisah satu orang di dalam ruang data. Di balik computer Nari ada pria yang berlutut mengambil bolpoinnya di bawah meja. Ia mempertahankan posisinya karena terlalu penasaran dengan apa yang dikatakan Nari.

“Ah…. Kwangmin… Youngmin… monster itu belum mati? Shaman? Bukankah itu suara Nari… anak komisaris? Hmmm apa hubungannya dengan monster itu” pria berkacamata itu membuka datanya. Ia mencari nama Nari di bank datanya.

“Ommo… mereka satu sekolah… hmmm monster itu di Kyoto… mungkin mereka akan melakukan pembunuhan lagi disana… hmmm…. Aku harus menyelidiki lebih lanjut…”

“OZAKI!!! Cepat keluar!!! Aku akan menutup ruang data!!” kata seorang polisi. Pria berkacamata itupun langsung mengemasi barangnya lalu pergi dari ruang data.

“HEI!!! Matikan komputernya!!!” teriak polisi tadi sedikit kesal.

“KAU SAJA YANG MATIKAN!!! HAHAHAHA” pria bernama Ozaki pun berlari, ia membuka handphonenya lalu menaruhnya di telinganya.

“Yoboseyo… aku memesan tiket ke Kyoto tanggal 5. Kau bisa siapkan? Kelas ekonomi saja.. yang murah… hum. Okey” Ozaki menutup handphone dan menyimpannya di saku. Ia kembali berlari menembus gelapnya malam.

“Hahahahahahahaha!!!!!!! Akhirnya aku punya kasus yang bisa menaikkan pamor dan kedudukanku sebagai detektif… HAHAHAHAHAHA!!!!!! Kau hebat OZAKI!!!!!!!!!!!!” teriaknya sambil terus berlari.

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler