- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction : DON - Part 4 - Series



"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini... hehehe"

Author : Ayuna Kusuma (Yun)

Maincast :

Kyuhyun : Sinichi Moritani
You : Miyomi
Kwangmin : Kwangmin
Youngmin : Youngmin
Taeyeon : Taeyeon
Siwan : Jaehwan
Himchan : Ozaki
Son Na Eun : Nari

Genre : Romance - Mistery - Crime

Location : Kyoto Japan - Seoul Korea

***

4 Mei 2013 07.00 485 Hashimotocyo Nakagyo ward, Kyoto city, Kyoto Prefecture, Jepang

Ketika semua orang di penginapan itu masih tidur di tempatnya masing-masing, Miyomi sedang sibuk di dapur, dan Youngmin sengaja bangun lebih awal hari ini untuk menyapa Miyomi yang sudah bekerja sedari matahari terbit dari timur.

Youngmin hanya melihat Miyomi yang sibuk sendiri di dapur, ia memotong sayuran, mencucinya, lalu memotong daging yang besar hingga menjadi kecil. Rupanya hari ini Miyomi masak banyak sekali untuk memberikan sarapan kepada beberapa pengunjung yang tadi malam menginap di penginapan milik Moritani.

Youngmin melihat ke sekeliling, tak ada siapapun disana. Kemudian ia melangkah maju, sedikit demi sedikit ia mulai mendekati Miyomi yang sibuk mencuci ramen dengan saringan.

“Morning….” Sapa Youngmin dengan suara yang tertahan.

“Oh… kau mengagetkanku saja…pagi sekali bangunnya? Bagaimana tidurmu semalam?” Tanya Miyomi, sekarang ia menaruh ramen yang sudah bersih di mangkuk besar dekat kompor.

“Menyenangkan… hehehe…rumah ini sangat sejuk… jauh berbeda dari rumahku yang dulu…hmmm… Miyomi… terima kasih kemarin kau mau mengantarkanku dan Kwangmin berbelanja… lihat… aku memakai hoodie yang kau pilihkan untukku… hehehe…” kata Youngmin,

Miyomi berpaling dari makanannya, dan melihat Youngmin yang memamerkan Hoodienya pada Miyomi.

“Hihihihi… apa itu yang menempel di pipimu?” Tanya Miyomi sambil membelai pipi Youngmin. “Ah… stiker diskon? Kau mendapatkannya? Kenapa kau tempel di pipimu..? harusnya kau berikan padaku… kita akan dapat diskon kalau belanja dengan membawa kupon ini” kata Miyomi, ia bergegas mengambil kertas minyak, dan menempelkan sticker itu di atas kertas minyak. Lalu mengguntingnya dengan sangat hati-hati.

Sedangkan Youngmin hanya bisa membuka mulutnya dan mengatakan “aaaaah….” Dengan suara yang tertahan, sambil membelai pipinya sendiri, lalu mencium aroma tangan Miyomi yang sudah menyentuh pipinya. Sepertinya ia begitu bahagia pagi ini, bisa bicara berdua dengan Miyomi, bahkan berhasil membuat gadis itu menyentuh pipinya.

“Aku tak tahu… kalau rasanya seperti ini… hhihi…” bisik Youngmin pada dirinya sendiri.

“owaru!... simpan ini… kau akan dapat diskon kalau kembali ke toko itu hemm” kata Miyomi sambil menyelipkan kupon diskon pada saku Hoodie milik Youngmin.

“Youngmin?? Nani ga okoru ka?” Tanya Miyomi sambil menggerakkan tangannya di depan wajah Youngmin.

“Youngmin!” Miyomi mendorong pria yang ada di depannya dengan lembut.

“O.. Ommo… gomawo… Miyomi…aku akan menyimpannya” kata Youngmin sambil menepuk saku hoodienya. “Sekarang apakah ada yang bisa kubantu?” Tanya Youngmin.

“hmmm… bagaimana kalau buatkan aku kopi? Aku sedikit mengantuk hehe…” mendengar permintaan Miyomi, Youngmin bergegas mengambil dua cangkir besar dan membuat kopi original dengan mesin pembuat kopi.

“Aku akan buatkan kau kopi yang lezat… kau pernah minum cheese coffee?” Tanya Youngmin sambil memeriksa lemari es, ia mengambil keju potongan kecil, dan memasukkannya ke dalam cangkir yang sudah ia siapkan.

“oh… Cheese coffee? Hmmm… aku belum pernah” kata Miyomi sambil melanjutkan menaruh ramen di 10 mangkuk yang tertata rapi di depannya.

“kau akan merasakannya sebentar lagi” kata Youngmin. Ia konsentrasi pada kopi yang ada didepannya.
Mengaduk dengan cepat sampai keju mencair dan menyatu dengan kopi. Ia menuangkan kopi bercampur keju itu pada cangkir yang sudah terisi 2 potongan keju kecil.

Miyomi menuangkan kuah ramen di satu persatu hingga sepuluh mangkuk yang ada di depannya penuh dengan ramen hangat.

“Youngmin… aku akan mengantarkan makanan ini dulu… kau jaga dapurku ya… aku memasak kare untuk Moritani…” kata Miyomi sambil membawa ke sepuluh ramen dengan kereta dorong.

“Hmmm…” jawab Youngmin, ia melihat Miyomi yang sudah menjauh dari dapur. Wajah Youngmin sedikit berubah kali ini, ia melihat kuah kare yang ada di depannya dengan penuh kebencian.

“Kare… untuk Moritani?... mengapa kau selalu memperhatikannya huh? O!.. aku akan membuatmu mengerti bagaimana rasanya sakit. Moritani… hyaakss…” bisik Youngmin pada dirinya sendiri.
Ia memeriksa lemari bumbu yang ada di depannya.

“Koshō? Ah… bukankah itu bahasa jepang untuk lada?” Youngmin membuka botol yang ada di tangannya, lalu menciumnya “yaks… memang lada chii..!!” Youngmin bersin ketika mencium botol berisi lada.

Ia menuangkan 3 sendok teh lada hitam. Tak puas dengan tindakannya, ia kembali melihat lemari bumbu.

“hahahaha….sssstt….. chiri… kau menyebutnya chiri? Dasar… orang jepang” kata Youngmin dengan nada sebal. Ia hampir saja menuang semua bubuk cabai di kuah kare.
Youngmin meratakan lada dan bubuk cabai di kuah kare.

“Haruskah ku coba? Ahss… andwae… kau saja yang mencobanya Moritani… hahahasssttt” kata Youngmin.
Ia melihat Miyomi berjalan mendekati dapur dengan membawa kereta dorong yang sudah bersih tanpa mangkuk ramen. Youngmin bergegas kembali ke tempatnya semula, di depan cheese coffee yang sudah ia buat khusus untuk Miyomi.

“Woah… aku senang semua yang menginap di sini menyukai ramen buatanku… Youngmin… kau mau ramen?” kata Miyomi sambil membereskan dapurnya, lalu mematikan kompor. Ia menutup panci yang penuh dengan kuah kare.

“Hmmm… aku ingin meminum kopi ini denganmu…” kata Youngmin sambil memberikan kopi yang masih hangat pada Miyomi.

“baiklah…” kata Miyomi, ia melangkah keluar dari dapur lalu menuju ruangan kosong yang dekat dengan taman. Youngmin mengikutinya, dan mereka pun duduk di lantai, saling berhadapan. Sambil menikmati cheese coffee di pagi yang begitu romantic.

“Oh!... rasa kopi ini begitu tajam… dan gurih… hehehe… aku tak pernah merasakan kopi yang seenak ini…” kata Miyomi, ia meminum sisa kopi yang ada di cangkir dengan satu tegukan. “Ah…. Nomnomnom enak sekali… aku kira kau hanya pria yang banyak bicara… tapi kau punya keahlian membuat kopi seenak ini hehehe” kata Miyomi sambil mengulaskan senyum untuk Youngmin.

“Kau suka?” Tanya Youngmin

“Tentu saja aku suka…” jawab Miyomi sambil memandang mata Youngmin dengan tegas.

“Benarkah? Kau suka padaku…” mendengar kata-kata Youngmin, Miyomi hanya menundukkan wajahnya lalu tersenyum sendiri.

“hehe… Youngmin bisakah kau tak menghubungkan hal itu” gumam Miyomi sambil memainkan kakinya.

“hmm… kalau aku… aku sangat suka padamu… entah mengapa… sepertinya aku bisa merasakan… suatu hari nanti kita bisa menjadi pasangan sejati…. Haiss… aku bisa merasakan itu…” kata Youngmin sambil memijat lehernya.

“Youngmin… apakah kau akan merampok malam ini? Dengan Moritani?” Tanya Miyomi sambil melihat wajah Youngmin yang sedikit canggung.

“benar… aku akan melakukan itu… Moritani sudah membantuku dan adikku, aku harus melakukan apapun untuk Moritani…”

“Youngmin… kau pria yang baik… jangan kotori tanganmu dengan hal-hal criminal yang dilakukan kakakku…aku akan mengatakan pada Moritani kalau tidak membawa kau dan adikmu ke dalam dunia hitamnya” kata Miyomi

“Jangan khawatir Miyomi… aku akan baik-baik saja…terima kasih telah mau menyempatkan waktu untuk menikmati kopi buatanku… kata Youngmin sambil bangkit dari duduknya. “Miyomi…”

“hum??”

“Aku tak sebaik yang kau pikirkan…” tambah Youngmin, ia pun berlalu meninggalkan Miyomi yang duduk sendiri di ruangan kosong dekat taman.

“Young… min…kau membuatku bisa melupakan Moritani… mulai saat ini aku akan berdoa untukmu… Young… min…” gumam Miyomi sambil tersenyum sendiri.

4 Mei 2013 17.00 455 Hongeun 1(il)-dong, Seodaemun-gu, Seoul

Seorang gadis melangkah begitu pasti menuju ke lift, ia masuk dan menunjuk angka 8. Ia melepas Hoodie dan kacamatanya. Nari menunggu lift bergerak ke lantai delapan. Sesekali ia membuka lagi foto Kwangmin yang ia miliki, lalu senyumnya merekah begitu tulus.

“Kwangmin… apakah kau merindukanku?... kalau aku merindukanmu… besok kita akan bertemu lagi… aku akan mencarimu ke seluruh Kyoto… kali ini… aku tak akan menjebakmu… aku hanya ingin menemuimu Kwangmin… aku tak akan menjebakmu lagi… tak akan…kehilanganmu membuatku selalu merasa sakit…” kata Nari sambil menahan air matanya.

Ia melangkah ke lantai 8, setelah lift terbuka. Dengan langkah yang cepat, ia pun sampai di kamar apartemennya. Tak lama, ia sudah berada di kamarnya, membongkar semua bajunya. Lalu memasukkan beberapa bajunya ke tas ransel yang lebih besar daripada punggungnya.

Ia memasukkan tiket pesawat di saku jaketnya.

Nari menuju ruang tengah, lalu mengangkat telp dan memutar nomor, ia sepertinya sedang menyiapkan kata-kata yang akan ia utarakan nanti.

“Yoboseyo…” Nari menyapa orang yang ia hubungi

“Appa… aku akan berangkat ke Jepang malam ini, hum…. Temanku sudah membeli tiketnya untuk malam ini… mianhae… Appa… aku tak bisa menolaknya… mereka memilih malam ini karena tiketnya diskon 50%... Appa… yoboseyo….. Appa… aku tak bisa ke kantormu… aku berangkat sekarang…. Ye… sudah Appa… sudah kusiapkan kimchi, dan daging di freezer.. ye… appa… bye…” Nari pun menutup telp rumah, dan kembali ke kamarnya.

Nari membawa tas ranselnya yang besar.

“Ah.. aku harus menghubungi Dan Sim. Kalau Appa menghubunginya aku akan dapat masalah besar kali ini” kata Nari sambil memutar lagi nomor di telp rumahnya.

“Yoboseyo… Dansim?... aku akan ke Kyoto… hum.. aku akan melakukannya… kalau appaku menelponmu… bilang saja kalau kau bersamaku ke Kyoto….. memang… hum… ahss.. mollayo… bilang pada Eommamu kalau ada appaku telp… bilang padanya kalau kau dan aku ke Kyoto… ye…. Mwoo?? Geuleu… aku akan membelikanmu yukata baru… bye Dansim..”

Nari meninggalkan handphone dan semua yang bisa membuatnya berhubungan dengan ayahnya. Ia memasukkan handphone di bawah ranjangnya. Setelah selesai menjalankan rencananya gadis itupun meninggalkan apartemen dan menuju airport. Menuju Kyoto… menemui pria yang sudah merebut hatinya.

4 Mei 2013 22:00 485 Hashimotocyo Nakagyo ward, Kyoto city, Kyoto Prefecture, Jepang

Kwangmin dan Youngmin menunggu di ruang keluarga, di sana juga ada Moritani yang duduk, sambil menyiapkan semua senjata untuk merampok toko permata.

“Kwangmin. Pakai ini… ancam semua orang yang melihatmu” kata Moritani. Sambil memberikan pisau pada Kwangmin.

“Hum…” jawab Kwangmin sambil mengambil pisau lipat.

“Moritani… sudah ku jelaskan dari tadi… aku dan Kwangmin bisa melakukannya tanpa kekerasan.. percayalah padaku…” kata Youngmin sambil mengembalikan pisau yang di genggam Kwangmin pada Moritani.

“Youngmin… selama aku merampok sampai sekarang… selalu ada kekerasan yang terjadi. Kita tak bisa menanggulangi hal itu” kata Moritani.

Youngmin pun menatap mata Moritani dan mulai menghipnotisnya.

“Sudah kukatakan… aku dan Kwangmin bisa melakukannya sendiri… hmmm sekarang… antarkan aku ke toko permata itu… aku akan ambil semua permata untukmu” kata Youngmin.
Moritani hanya terdiam seperti patung.

“Kau mengerti?” Tanya Youngmin

“Humm…” Moritani hanya bisa menjawab se simple itu saat ia dalam hipnotis Youngmin.

“Baiklah… kapan kita akan berangkat?” Tanya Youngmin pada Moritani.

“Sebentar lagi… kita tunggu toko itu tutup” kata Moritani dengan pandangan kosong.

“baiklah…” kata Youngmin, ia merebahkan tubuhnya di atas lantai kayu yang hangat.

Kwangmin hanya duduk diam, ia sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya sedikit khawatir.

“Hyung… aku tak bisa ikut merampok… Nari akan ke Kyoto… aku merasakan hawanya di Kyoto… aku akan menemuinya… bisakah kau bergerak sendiri malam ini dengan Moritani…?” Tanya Kwangmin sambil menatap Youngmin. Di matanya terlihat binar-binar kerinduan.

“benarkah? Ia akan ke Kyoto?” Tanya Youngmin sedikit penasaran.

“Hum… sekarang dia sedang dalam perjalanan… Hyung… aku tak akan membiarkan ia mencariku di kota yang penuh criminal ini sendirian… aku akan menjemputnya… bisakah kau bekerja sendiri dengan Moritani?” Tanya Kwangmin “Kumohon Hyung… aku sangat merindukannya…” kata Kwangmin penuh pengharapan.

“Baiklah… pergi saja… aku akan bekerja sendirian… hehehe… selamat Kwangmin… akhirnya kau tahu kalau Nari juga mencintaimu…” kata Youngmin.

Tak menunggu lama, Kwangmin langsung berlari keluar penginapan, ia berlari tanpa jelas mau kemana, tapi dengan penciuman siluman rubah, ia tahu kemana harus melangkah, dan dimana gadis yang di cintainya berada.

“Hyak!! Moritani~!! Kita bekerja bersama malam ini eoh… haiss!! Kalau saja usiamu lebih muda dariku.. akan kuhajar kau… bisa-bisanya kau mempermainkan Miyomi” kata Youngmin sambil berpura-pura memukul Moritani.

Moritani yang masih terhipnotis hanya duduk seperti patung batu yang mati rasa, ia tak menanggapi apa saja yang dikatakan Youngmin.

“Haiss… untuk apa menunggu… ayo kita berangkat sekarang!!” kata Youngmin, ia mengontrol tubuh Moritani hingga berjalan di belakangnya, mengikuti kemana saja Youngmin melangkah.
Di lobi, ia bertemu dengan Miyomi yang sibuk menata bunga di vas yang tertata rapi.

“Miyomi...” sapa Youngmin.

“hum… Moritani…? Ada apa dengannya?” Tanya Miyomi sambil menunjuk Moritani yang berjalan seperti patung.

“Ah.. mungkin Hyung sedang mabuk… kami akan pergi bekerja… hati-hati menjaga penginapan sendirian ya Miyomi…” kata Youngmin sambil memasang sepatu.

“arra… aku akan menunggumu Youngmin… semoga berhasil…” kata Miyomi, membuat Youngmin menjadi lebih semangat. Ia pun berjalan ke luar penginapan. Sedangkan Moritani hanya mengikutinya di belakang. Ia sama sekali tak memakai sepatu, bagaimana bisa seorang yang terkena hipnotis bisa memakai sepatu?.

“Moritani… tunjukkan padaku… mana toko yang akan kita rampok” bisik Youngmin pada Moritani. Pria tampan itu pun berjalan lebih dulu, menunjukkan toko permata yang akan menjadi target utamanya malam ini.

“hehehe… aku lebih menyukaimu yang seperti ini Moritani…” gumam Youngmin sambil berjalan santai di belakang Moritani.

“ah… malam yang indah… akhirnya Kwangmin bertemu lagi dengan Nari… dan Miyomi sedikit demi sedikit membuka hatinya untukku…huaaaaaaah…..” gumam Youngmin

***

4 Mei 2013 22.24 3-8 Sennyuji Suzumegamori-cho Higashiyama-ku Kyoto

Kwangmin berlari dan masih berlari, ia berbelok kekanan, dan kekiri mencari sumber aroma tubuh Nari.

“RRRRAAAAAAAAAH~~~!!” Kwangmin semakin mempercepat larinya, walaupun keringat membasahi bajunya, ia tak peduli. Sepertinya ia sudah tahu dimana Nari berada. Kwangmin pun sampai di depan gedung yang begitu besar. Ia masuk ke dalamnya.

Dan ternyata itu adalah sebuah hotel. Ia melanjutkan larinya menuju ke tangga darurat yang ada di sebelah hotel. Dengan cepat ia menuju lantai lima.

“NARI~~~~~~~!!” teriaknya. Semua orang yang ada di lorong hotel lantai lima, melihatnya dengan tatapan aneh.

“NARRRRRI~~~~~~~~!! Dimana kau~~~~~~~~~!!” teriak Kwangmin lagi, ia menghapus keringat yang mengalir di wajahnya.
Seorang gadis yang hampir saja membuka kamar hotel, memalingkan wajahnya, ia melihat pria yang memanggil nama Nari.

“Kwangmin….?” Gumamnya… ia menjatuhkan kunci kamar hotel, tangannya hampir lemas, tatapan matanya hanya tertuju pada pria yang mencarinya, dan air matanya sudah mengalir begitu deras.

“NARI~~~~~~~~!! Aku tahu kau ada disini~~~~~~!! Aku….. huff…” Teriak Kwangmin di sela nafasnya yang semakin berat.
“AKU~~~~!! Juga merindukanmu Nari…..” Kwangmin mengatur nafasnya sambil berjalan menuju lorong hotel, ia melihat satu persatu orang yang ada di lorong itu. Yang melihatnya sebagai pria aneh. Orang-orang pun pergi menghindari Kwangmin.

Dan… akhirnya ia menemukan gadis yang ia cari. Nari hanya diam saja ketika Kwangmin mendatanginya, wajah Nari basah karena airmatanya sendiri, ia tak melepaskan pandangannya dari pria yang sedang berdiri di depannya.

Nari menghapus air matanya dengan lengannya, lama sekali… mereka berdua hanya berdiri saling memandang.

“Nari…” gumam Kwangmin, tanpa aba-aba Nari menghempaskan tubuhnya dan memeluk Kwangmin dengan begitu erat. Ia menangis di dalam pelukan Kwangmin.

“Kwangmin… aku tahu kau masih hidup… aku tahu kau tak akan meninggalkanku…. Kwangmin… aku… tak peduli siapa kau sebenarnya… aku tak peduli….kau monster atau apapun itu… aku akan mencintaimu Kwangmin… kumohon… jangan tinggalkan aku… hum jangan tinggalkan aku…. Hatiku begitu sakit… bila kehilanganmu…” gumam Nari.

“Nari… aku tak pernah tahu… kalau kau mencintaiku seperti ini… Nari… kumohon…jangan pernah membohongiku… karena aku tak pernah bisa mengetahui apa yang kau pikirkan… hanya dirimu… dan pikiranmu yang tak bisa kubaca… kumohon… katakan yang sebenarnya…. Apakah kau mencintaiku?” Tanya Kwangmin sambil membelai rambut Nari.

“Kwangmin… aku berjanji tak akan berbohong padamu… aku mencintaimu… percayalah padaku… Kwangmin… aku tak ingin kembali ke Seoul… kalau Appa sampai tahu… dia akan membunuhmu dan Youngmin…izinkan aku hidup denganmu Kwangmin… aku akan bersedia menemanimu sampai akhir usiaku… aku tak bisa kehilanganmu Kwangmin…”

“Nari… begitu besarkah cintamu padaku?” Tanya Kwangmin sekali lagi. “aku hanya monster.. yang membunuh siapa saja yang ku inginkan… aku juga bisa membunuhmu saat ini... dengan resiko seperti itu... apa kau masih bisa mencintaiku?...”

Nari merapatkan pelukannya “Aku tak peduli siapapun dirimu… aku akan selalu mencintaimu Kwangmin… kumohon… jangan melarangku mencintaimu… kumohon…”

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler