- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction : DON - Part 6 - Series



"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini... hehehe"

Author : Ayuna Kusuma (Yun)

Maincast :

Kyuhyun : Sinichi Moritani
You : Miyomi
Kwangmin : Kwangmin
Youngmin : Youngmin
Taeyeon : Taeyeon
Siwan : Jaehwan
Himchan : Ozaki
Son Na Eun : Nari
T.O.P : Big Jon / Jhonny Kim

Genre : Romance - Mistery - Crime

Location : Kyoto Japan - Seoul Korea


***

5 Mei 2013 05:00 485 Hashimotocyo Nakagyo ward, Kyoto city, Kyoto Prefecture, Jepang

Youngmin dan Kwangmin terlihat melangkah dengan hati-hati, mereka tak ingin membuat suara dan membangunkan Miyomi yang tidur di kamar sebelah. Kwangmin menggeser pintu begitu pelan. Moritani terlihat masih tidur. Youngmin membuka lemari pakaian Moritani, dan mulai mengemasi barang-barang milik Moritani, hasil rampokan semalam ia masukkan ke dalam tas.

Sedangkan Kwangmin mencoba membangunkan Moritani.

“Hyung… dia tak mau bangun..” bisik Kwangmin.

“Tampar saja” balas Youngmin yang masih sibuk memasukkan baju Moritani ke tas yang lainnya.

Kwangmin menampar wajah Moritani dengan keras seperti yang di perintahkan kakaknya. Moritani bangun lalu mengambil pistol yang ada ditangannya. Mengarahkan ke segala arah.

“Ommo!! Kalian?? Apa maksud kalian eoh!!” Kwangmin mencoba mencuri pandangan Moritani, dan pria itu akhirnya bisa diam.

“Letakkan pistolmu…” kata Kwangmin, dan Moritani mulai menurutinya. “Ini buatku.. “ kata Kwangmin lagi sambil membuka pistol dan mengeluarkan pelurunya, lalu melempar pistol ke arah Youngmin.

“Moritani… kehidupanmu begitu kelam… dengan hasil curian Youngmin… pindahlah kau ke tempat yang lebih aman, jadilah orang baik yang mau membantu siapapun, dan hindari mencuri… kau akan membuat banyak orang sengsara… pergilah sekarang… jangan sampai membangunkan Miyomi dan semua penghuni rumah ini… arra… kajja… bawa tas ini… sekarang Hiduplah… dengan tenang… di tempat yang kau inginkan… lupakan semua kejahatanmu… dan jangan melakukannya lagi” kata Kwangmin, sambil memberikan tas yang sudah di siapkan Youngmin. Moritani tersenyum melihat kedua anak kembar itu. Ia memakai celananya, kemeja, dan jaket. Ia juga memakai mantel tebal berwarna hitam.

Moritani berjalan keluar, di ikuti Youngmin dan Kwangmin.

“Sayonara… Moritani… Modotte kuru koto wa arimasen!!” teriak Kwangmin dan Youngmin ketika mereka sudah mengantarkan Moritani berjalan menjauh dari penginapan.

“Sayonara!!!!!!! Hahahahaa” Youngmin berteriak, lalu memeluk dirinya sendiri “Aigoo.. dingin sekali… Kwangmin… kau yakin ia akan baik-baik saja?”

“Tenang saja… ia akan baik-baik saja… aku menghipnotisnya agar melupakan memori tentang Miyomi dan kita. Hidupnya akan lebih baik. Oh… bukankah hari ini kita harus ke GN Highschool?” kata Kwangmin sambil berlari masuk ke dalam penginapan.

“Kwangmin!!! Apakah kita harus ke sekolah eoh?? Hahaha aku tak mau… aku ingin dirumah saja dengan. Miyomi?? Waeyo?” Youngmin yang berlari masuk, terkejut melihat Miyomi yang berdiri di depannya.

“hum?? Kalian dari mana sepagi ini?” Tanya Miyomi sambil masuk ke dalam ruang lobi penginapan.

“Kami… dari… menikmati udara pagi hehe.. okey… aku akan melihat Nari sebentar…” kata Kwangmin, ia mengganti sepatunya dengan selop rumah, lalu berlalu meninggalkan Youngmin dan Miyomi yang saling memandangi satu sama lain.

“Kau… memakainya?”

“Humm… aku suka warnanya… dan benangnya begitu hangat, leherku jadi tak kedinginan sekarang… bagaimana kau tahu aku suka warna hitam?” Tanya Youngmin sambil membantu Nari menata kunci di lobi.

“matamu hitam… aku yakin kau pasti suka warna hitam”

“hmmm… apakah hari ini kita akan ke GN Highschool?”

“Kosu…” jawab Miyomi sambil mengangguk.

“Apakah disana ada club sepak bola?” Tanya Youngmin sambil mencoba melihat wajah Miyomi yang selalu menunduk.

“Kosu…”

“Hmmm… baiklah… aku akan mandi dulu… lalu kita berangkat bersama-sama…” Miyomi memandangi Youngmin yang berjalan keluar dari ruang Lobi.

“Ah.. Youngmin…”

“Hum?” Youngmin pun berbalik

“Apa kau yakin… Moritani akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik?” Mendengar pertanyaan Miyomi, Youngmin sedikit terkejut, bagaimana gadis itu bisa tahu apa yang dilakukan Youngmin, tanpa ia tahu gadis itu mengetahuinya.

“Ah.. eotteohge??” Youngmin pura-pura tak tahu apa yang ditanyakan Miyomi.

Gadis itu hanya tersenyum melihat Youngmin. “Aku setuju dengan tindakan kalian berdua… menghipnotis Moritani dan menyuruhnya pergi dari sini… kurasa permata hasil curiannya semalam bisa untuk membeli penginapan lagi bahkan yang lebih besar dari ini”

“Ommo!! Kau tahu semuanya?”

“Tentu saja aku tahu… kamarku ada di depan kamar Moritani… setiap hari aku selalu mendengar apa saja yang dilakukan Moritani. Apakah kau juga memakai hipnotis untuk membuatku mencintaimu?” Tanya Miyomi sambil tersenyum menggoda.

“Anni…” Youngmin pun mendekat ke lobi, ia menyandarkan tubuhnya di dinding, wajah Miyomi pun memerah ketika menyadari Youngmin sedang memandangi wajahnya. “Apa kau setuju dengan tindakanku? Membuat Moritani pergi dari rumah ini?”

“Aku sangat setuju… bagaimana bisa ia membuatku selama 3 tahun hanya mengharapkannya, terjebak dalam hubungan yang sama sekali tak kusukai… Oppa… gomawo…” kata Miyomi lagi ia menunduk, membuka desk yang menyimpan kunci dan data lama.

“OMMO!!!” Youngmin berlari mendekat, lalu menyandarkan tubuhnya di meja dan melihat Miyomi yang sibuk membersihkan desk. “Kau memanggilku Oppa??”

“Hum… Oppa… Oppa… dangsin-eun baegopeun ?” Tanya Miyomi sambil mengedipkan matanya pada Youngmin.

“AHHHHHHHH!!!!!! Benarkah ini?? Apakah aku bermimpi??” kata Youngmin, ia menampar wajahnya sendiri dengan keras.

“Oppa~~~… it’s real… kajja… aku akan memasakkanmu kare yang enak pagi ini…” Miyomi bangkit dan tak sengaja memukul wajah Youngmin dengan kepalanya.

“AIGOO!!” Youngmin teriak sambil memijat hidungnya.

“Ommo!! Oppa… Mianhae!!” kata Miyomi, ia berlari keluar lobi dan menghampiri Youngmin, dengan lembut ia menyentuh hidung Youngmin, lalu mulai memijatnya.

“I chiji?” Tanya Miyomi, jarinya masih tetap memijat hidung Youngmin yang memerah.

“andwae…chu” Youngmin berhasil mencuri ciuman di pipi Miyomi yang semakin memerah.

“hummm… nappeun oppa!! chu!” Miyomi membalas mencium pipi Youngmin. Lalu berlari ke dapur, meninggalkan Youngmin yang masih berdiri di tempat semula, sambil membelai pipinya sendiri.

“Uwaaaaaaa…… beginikah… rasanya jatuh cinta…?” Ia berpaling melihat Miyomi yang sudah sibuk di dapur. “Miyomi~~~~~!! Saranghae~~~~~~~~~!!” teriaknya, ia berlari ke arah dapur dan mulai membantu Miyomi menyiapkan makanan pagi ini.

Teriakan Youngmin, membangunkan Nari yang sedari tadi masih tidur di atas futon. Kwangmin ada di sampingnya, merebahkan tubuhnya dari tadi, sambil melihat Nari yang tertidur. Kini mereka saling memandang.

Nari memalingkan badannya, lalu menyentuh wajah Kwangmin.

“Oppa… apakah kau yang berteriak Saranghae?” Tanya Nari sambil menyibakkan rambut Kwangmin.

“Anni…. Itu suara Youngmin…” kata Kwangmin sambil menggenggam tangan Nari yang sedari tadi memainkan rambutnya. “Kau masih lelah? Tidurlah… aku akan menjagamu?” Kwangmin menaruh tangan Nari di depannya.

“Oppa… apakah… kita akan selalu lari seperti ini? Aku merasa bersalah kalau harus berpisah dengan Appa… di dunia ini, Ia hanya memilikiku, anak tunggalnya… mengapa aku harus memilih salah satu dari kalian hmmm” Nari memainkan rambut Kwangmin lagi.

“Aku… juga tak tahu… bagaimana kehidupan kita nanti… tapi usia kita masih terlalu muda… kau bisa tetap hidup bersama Ayahmu… aku akan tetap menunggumu… kapan kau kembali ke Seoul?” kali ini Youngmin pun tertarik memainkan rambut Nari yang panjang dan jatuh menutupi wajah gadis yang ia cintai.

“Besok lusa…”

“Hummm… cepat sekali… padahal kita baru saja bertemu…”
“menurut kepolisian Seoul, kalian dinyatakan sudah mati, jasad kalian sudah dimakamkan… tapi aku yakin itu bukan kau… karena aroma tubuhmu tak seperti itu…” kata Nari sambil mendekatkan dirinya ke dada Kwangmin.

“woaah… kau mengenali aroma tubuhku?” kata Kwangmin sambil memeluk Nari.

“nde… oppa” Nari pun sama, ia semakin melenyapkan wajahnya di dalam pelukan Kwangmin yang hangat.

“Hari ini… aku akan mendaftar sekolah di GN Highschool.. aku akan kembali belajar di kelas 3. Hehe…kau mau mengantarkanku kesana?”

“Benarkah? Berarti kau jadi Dongsaengku sekarang? Hihihi”

“Aigoo… andwae… aku tetap oppamu..” kata Kwangmin sambil merapatkan pelukan.

***

“Kwangmin… ayo ajak Nari sarapan pagi di ruang keluarga… aku dan Miyomi sudah memasakkan buat kalian” kata Youngmin dari balik pintu yang begitu tipis. Youngmin hanya tersenyum saja sambil mengintip adiknya sedang berpelukan dengan kekasihnya.

“Ye~~~!! Hyung!!!” jawab Kwangmin. Ia membuka pintu.

“Woaah… Nari!! Apa kabarmu eoh??” Tanya Youngmin sambil mengulurkan tangannya

“very nice hehehe” Nari menggoyangkan tangan Youngmin.

“Woah… auramu sudah berubah… dulu kau selalu cemberut… tapi sekarang kau tampak berubah” kata Nari

“Tentu saja.. ia berubah… Miyomi yang merubahnya.. Kajja… kita sarapan” kata Kwangmin sambil memakaikan syal di leher Nari.
Youngmin pergi terlebih dulu, tinggal Nari dan Kwangmin di kamar.

“Oppa… aku membawakanmu ini… ini… dan ini…” kata Nari sambil memberikan satu kotak berisi kimchi, jaket, juga tiga kaos pada Kwangmin.

“Ommo!! Ini terlalu banyak buatku…”

“Andwae… hehehe… aku akan membuatkanmu baju… kimchi… dan seorang anak kalau kita menikah”

“Uwah….. aku memang tak salah mencintai gadis seperti Nari… palli… Miyomi pasti menunggu kita berdua”

***

“Itadakimasu!!” Kwangmin, Nari, Youngmin dan Miyomi, menikmati hidangan kare daging pagi ini. Mereka menikmati sebuah kebersamaan yang selama ini tak pernah terbayangkan. Nari memberikan suapan terbesarnya pada Kwangmin, sedangkan Miyomi masih malu-malu melakukan itu, ia hanya memberikan tambahan kuah kare pada Youngmin.

“Miyomi… aku tak pernah menyangka… Youngmin bisa mendapatkan kekasih yang cantik sepertimu hihihi… sebelumnya… Youngmin hanya bercinta dengan bola, championship dan bola” goda Nari.

“Gomawo…” balas Miyomi sambil menundukkan wajahnya.

“Hyak!! Nari… apa kau benar-benar mencintai adikku? Woah… perjuanganmu pergi ke jepang harus kuberikan sepuluh likes hahaha… kapan kalian akan menikah? Eoh? Kudengar kalian sudah membicarakan masalah membuat anak? Eoh…? Benarkah?” Youngmin pun membalas menggoda Nari, hingga wajah gadis itu memerah.

“Miyomi… apakah kau akan mendaftar ke sekolah bersama kami?” Tanya Kwangmin sepertinya ingin merubah arus pembicaraan.

“Andwae… aku akan di rumah saja. Mengurusi penginapan ini… aku sudah bosan sekolah… apakah kalian akan sekolah? Kalau menurutku… kalian lebih baik bekerja saja… sekolah sungguh menyebalkan… mereka akan mengekang jiwa kita dengan pelajaran yang sama sekali tak dipakai di kehidupan nyata”

“Woaaaaaa…rupanya kau hebat juga Miyomi hahaha!!! Aku setuju denganmu… sekolah memang menyebalkan… untung saja aku sudah lulus” timpal Nari.

“Oh!! Benarkah? chugha-e chugha-e…..” kata Kwangmin.

“Kalau kalian ingin kembali ke sekolah. Itu terserah kalian, tapi di jepang pelajarannya begitu susah dibandingkan di korea” kata Miyomi, kali ini ia sudah merasa dekat dengan Kwangmin dan Nari, ia mengambilkan daging dan nasi, lalu menyuapi Youngmin.

“Ham… hmm nom nom nom… masakanmu memang enak Miyomi… kalau begitu aku memilih di rumah saja… hahahaha. Aku akan bekerja sebagai pelatih sepak bola… tapi bagaimana denganmu Kwangmin? Kau hanya bisa melukis… hmmm”

“Oh!! Benarkah? Aku kenal dengan seorang sensei. Kamata, ia mengatakan kalau perlu pekerja baru di galerinya. Kalau kau tertarik, aku bisa mengantarkanmu ke Sensei Kamata, rumahnya tak jauh dari sini…”

“Wah… benarkah??? Terima kasih Miyomi…” kata Nari “Oppa… kau harus bekerja di Sensei Kamata… bekerja saja… dengan kemampuanmu aku yakin. Kau lebih pantas untuk bekerja sekarang”

“Ye… Arrasoo…” kata Kwangmin sambil membuka mulutnya lebar-lebar. “Kajja… honey.. I want more curry” kata-kata Kwangmin membuat Youngmin dan Miyomi tertawa bahagia. Dua pasang kekasih yang sudah semakin dekat, kini akan menjadi keluarga yang tak akan bisa terputus oleh apapun juga.

***

5 Mei 2013 08:00 Near Hashimotocyo Nakagyo ward, Kyoto city,Jepang

“YAAAAA….. Ahjussi!!... mwoo?? Belok ke kiri? Kau yakin?? Kau saja tidak ada disini!! MWEEE?? Aigoo…. Hmmm” Seorang pria memakai topi kerucut merah berjalan sambil menempelkan handphonenya di telinga.

“Aih… Arraseo…. Kau lebih canggih dari GPS. Mwo?? Anni… anniya… tak perlu shaman penjaga untukku… bicara denganmu saja membuatku takut. Apalagi kau memberikanku shaman… brrrrr.. aku sudah berbelok. Lalu kemana lagi?? Hmmm… ye…. Hmmm ah… arraso… hmmm… matanya? Ye.. aku akan berhati-hati. Bahkan kalau bisa aku akan membutakan mata mereka berdua… hahahaha… hmmm… terus saja… hmmm penginapan? Moritani Inn? Ah… ye… aku sudah melihatnya… hmmm… anyeong”

Pria misterius itu membuka handphonenya lagi, mengetik nomor lalu menempelkan handphonenya lagi di telinganya.

“Ah.. Ahjussi.. kau tulis di surat jalanku. OZAKI ke Jepang. Kasus Jo Twins. Aku akan membawa mereka kembali ke Korea. Hidup atau mati” Ozaki pun mematikan handphonenya. Ia mengeluarkan kalungnya. Sebuah kalung yang berwarna keperakan, kalung yang sama seperti milik Nari.

“Huh… dasar Shaman… dia bilang dengan kalung ini aku akan bebas dari pengaruh Siluman itu… Arra.seo… kita coba saja sekarang… apakah mereka bisa mengalahkanku?”

Ketika Ozaki ingin masuk ke dalam Penginapan, ada seorang pria yang mendahuluinya, pria itu memakai baju serba hitam, berpenampilan seperti layaknya mafia.

Ozaki mundur beberapa langkah, lalu mengambil tabletnya di tas. Ia masuk ke dalam bank data yang kepolisan korea. Ia duduk bersandarkan tiang listrik, Ozaki seperti masih menyimpan ingatannya akan pria itu.

Ia membolak balik page demi page di bank data.

“OMMo!!! Jhonny Kim? Dia masih hidup?? Ahss.. aku lupa… 2 tahun yang lalu ia kabur dari penjara… dan… dia disini?? WOAAAAAAAAAHHAHAHAHAHA~~~~~!! AIgoo… apa yang harus aku lakukan sekarang?? HAHAHAHAHA!!!!! Aku… aku… apakah ini hari keberuntunganku!!!!!! WOAAAAAAHHahahahaha…. YES!!! YES!!!” kata Ozaki sambil meloncat-loncat, menendang-nendang tiang listrik dengan wajah yang penuh kepuasan.

“HYAHAHAHAHA….sssttt….. tenanglah Ozaki… kau akan mendapat tiga narapidana… lalu kau akan naik jabatan. Hahahaha” to be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler