- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

"Golek" By Ayuna Kusuma



Ditengah teriknya masalah demi masalah hari ini, seorang ibu berjalan sendirian, menjajakan makanan yang di sunggih dengan susah payah. Jalanan yang tak hanya berkerikil, tapi juga berbatu, tak mengurungkan niatnya untuk berjualan. Anak- anaknya pasti sudah menunggu di rumah. Mereka punya keinginan dan keperluan sendiri-sendiri yang harus di tepati. Sebagai Ibu, ia tak mungkin membiarkan buah hatinya menunggu terlalu lama.

"Pecel...!!! Pecel pincuk!!!!... Murah...!!! Sehat....!!! Ayo sopo seng luweh... maem pecel pincuk yooo!!!" teriak Ibu penjual pecel pincuk dengan sekuat tenaga.

Orang-orang hanya melihatnya, ada juga yang tertarik membeli, tapi seorang temannya bilang kalau ini belum waktunya makan. Memang, Ibu penjual pecel pincuk itu sedikit terlambat menjajakan hasil karyanya. Pagi sudah berlalu, Siang pun belum datang. Semua orang pasti sudah makan dan belum begitu lapar.

"Pecel mbak?? enak mbak... lauk tahu sama peyek" tawar sang Ibu, pada perempuan molek yang duduk di warung.

"Aku yo dodol pecel buk... sampean dodolano neng kono loh... wakeh seng arep paling o" kata perempuan molek dengan suara angkuhnya.

"Matur nuwun..." jawab Sang Ibu. Ia kembali berjalan mengitari jalanan yang ramai, tapi serasa sepi di lubuk rasanya.

"Ya Allah... tunjukkan aku bagaimana cara mencintai semua yang kau berikan padaku... bila hari ini pecel ini tak laku... setidaknya aku bisa memberikannya pada kedua anakku di rumah..." gumam Sang Ibu sambil terus berjalan menawarkan pecel pincuknya.

Puluhan langkah kakinya, tak bisa mempertemukannya dengan pembeli yang sangat ia dambakan. Ia duduk di bawah halte bis. Di sampingnya, seorang bapak tua yang nampak seperti orang tak waras, sedang memegangi perutnya yang kurus kering.

Entah apa yang dipikirkan Sang Ibu, ia membuka bakulnya dan membuatkan satu pecel pincuk lezat beserta peyeknya yang gurih. Lalu, dengan hati-hati ia mendekati pak tua gila, yang duduk menerawang di sisinya.

"Pak... monggo di dahar..." kata Sang Ibu pada pak tua gila, yang umurnya jauh lebih tua darinya.

Pak tua gila, matanya membelalak, melihat pecel yang ada di sampingnya, tanggannya gemetaran hendak mengambil makanan yang disediakan Sang Ibu penjual pecel. Dengan hati-hati ia memasukkan satu persatu "pulukan" ke dalam mulutnya. Ada airmata yang menetes dari pelupuk matanya.

Sambil makan, pak tua menatap ibu penjual pecel pincuk, rasa bahagia tergambar di wajahnya.

"Ning... aku wes ga luwih... aku ra nduwe duwik... mugo-mugo... pecelmu laku kabeh... puenak tenan hihihihi" kata pak tua gila, dengan logat ketidakwarasannya.

Sang Ibu penjual pecel pincuk ikut menangis melihat pak tua gila yang sudah kembali ceria, ia sunggih kembali bakul yang masih penuh pecel pincuk. Dengan segala tenaga, ia berjalan lagi menjajakan pecel.

"Ning!!!! GOLEKO!!! GOLEKO!! REZEKI SENG AKEH!!!! ALLAH Seneng ngekeki awakmu NING!!! GOLEKO!!! GOLEKOO!!!" Teriak pria tua gila dari bawah halte bis.

***

Sore hari, ketika matahari kian malas bersinar, Sang Ibu penjual pecel pincuk pulang ke rumah, bakulnya sudah kosong, dompetnya sekarang yang penuh. Anak-anaknya berlari menyambut dirinya dengan suka cita.

"Wes laku buk?" tanya salah satu anaknya yang masih kecil
"Wes.... laku kabeh... Alhamdulillah.... iki gawe awakmu le... meneh bayaro SPP, iki gawe Sulis... meneh tukuwo buku neng gurumu yoo... nah... nek iki... gawe modal ibuke... wes ndang sinau.... ben mene isok dadi dokter..." kata Sang Ibu mengakhiri perjalanan hari ini.

By Ayuna

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler