Sujudmu



Tak peduli apa merk sarungmu
Tak peduli apa warna sarungmu
Tak peduli warna alas kakimu
Tak peduli apa merk alas kakimu
Tapi yang harus kau pedulikan hanya.
Kemana kau melangkah
Apa niatmu saat melangkah
Berapa lama kau bersujud
Apa niatmu saat bersujud

By Ayuna Kusuma

Kematian

Add caption

Menyendiri di kubangan lumpur dunia
Berharap permata akhirat
Menyendiri di antara limbah manusia
Berharap di cuci sebelum masuk Surga.

Aku dan Kau...
tak pernah tahu
Kapan waktunya
Dimana tempatnya
Siapa saksinya

Yang kita tahu hanya.
Runtutan kisah
Runtutan cara
Runtutan makna.
Bekas Langkah masa lalu
Sebagai pelajaran
Sebagai petunjuk
Mendapat Surga.

Masih menyendiri di kubangan Dosa
Kucoba
Mencari Surga.

By Ayuna Kusuma

Fanfiction Somun S2 Part 1


Fanfiction Somun Series 2

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan, Arraseo? Gomawoyo"

Author : Ayuna Kusuma

Maincast :

D.O EXO K
XIUMIN EXO M
Han YunHi : You

Genre : Emotional Love, Mystery,

Location : Daegu, Incheon.

***

Samantha99, itu yang tertulis di pintu masuk sebuah cafe, kode yang ditulis dengan tinta emas menghiasi tulisan-tulisan dari pengunjung lainnya. Kubuka saja pintu yang terbuat dari kayu mahoni itu, aroma kopi bercampur kue karamel menyeruak keluar dari dalam cafe, sekitar 20 orang sedang duduk menikmati hidangan mereka masing-masing.

Di email, Samantha99 mengatakan ia memakai baju coklat, jaket ungu, dan topi baseball hitam. Mataku melihat satu persatu pengunjung cafe, sampai akhirnya kudapatkan pria yang memakai kemeja coklat, jaket ungu dan topi baseball hitam. Kukira orang dengan kode Samantha99 adalah wanita, tapi kali ini aku salah sangka.

"Cinta telah hilang di laut senja" kubuka kata sandi sesuai perjanjian semula, pria yang memakai initial Samantha meletakkan majalahnya, membuka topinya, dan menyuruhku duduk di hadapannya.

"Terima kasih, sudah mau datang... aku.. Kyung Soo.." ia menjulurkan tangannya di depanku, akupun menyambutnya dengan jabat tangan yang hangat.

"Xiumin..." kuambil pena dan buku catatan dari tasku, berharap ada yang bisa kucatat dari pembicaraan dengan Kyung Soo nantinya. "Jadi... apa masalahnya? sampai kau mau membayarku 20 kali lipat dari tarifku semula"

"Gadis ini... dia menghancurkanku dengan perlahan... aku ingin kau menghancurkannya... dengan perlahan seperti yang dia lakukan padaku... buatlah ia menderita" Kupandangi foto gadis berwajah polos yang diberikan Kyung Soo. Tak mengerti, mengapa gadis dengan wajah sepolos ini bisa menyakiti pria elite yang sekarang berdiri di hadapanku.

"Han Yunhi, itu namanya... dia berulang kali mempermainkanku, ah... aku tak perlu membeberkan masalah pribadiku padamu..." Kyung Soo memakai lagi topinya.

"Hehe... aku juga tak tertarik pada masalahmu... aku harus bagaimana tuan Kyung Soo? Langsung membunuhnya? atau?"

"Buatlah ia menderita... kau lukai beberapa anggota badannya... atau kau perkosa... lalu campakkan... itu aku lebih suka hahahahaha"

"Maafkan aku... aku pembunuh bayaran... bukan pemerkosa..." kataku sedikit tersinggung melihat tawanya yang terdengar congkak.

"Hehe... terserah kau saja... Oh.. sebentar.. aku harus ke toilet... dan. Ini untukmu... Down Payment di muka... hmmm? hehehehe" Kyung Soo menggeser kursinya lalu melangkah menuju toilet, kubuka bungkusan hitam yang terletak diatas meja.

Pria itu memang benar-benar sakit hati pada Yunhi, buktinya ia sudah membayarku di muka, lebih dari tarif yang kusediakan. Cepat-cepat kumasukkan bungkusan hitam itu ke tas ranselku. Berharap tak ada polisi atau detektif yang melihatku melakukan transaksi lagi, setelah 3 bulan vakum.

"Bagaimana? kau sudah menghitungnya?" tanya Kyung Soo, ia kembali dengan pakaian yang berbeda, kali ini ia berpenampilan seperti layaknya tuan muda, atau eksekutif muda.

"Tidak perlu kuhitung... kau sudah memberiku lebih..."

"Jangan khawatir... setelah kau selesai dengan misimu... aku akan menambahkan komisimu lagi... gadis itu... harganya begitu mahal... kalau kau bisa membunuhnya pelan-pelan... aku akan sangat bahagia... dan kau akan mendapatkan uang yang pantas... karena kau telah bisa membunuh gadisku yang mahal... hehehe" bisik Kyung Soo.

"hehe..."

"Okey!! Aku harus segera kembali ke kantor... ambillah ini!" kata Kyung Soo sambil melemparkan tas butik ke wajahku. "Aku baru saja membelinya... dan hanya sekali kupakai... aku tak suka mode nya... terlalu kuno! Kau pakai saja! kurasa postur kita sama!"

"Ah... Ye..." gumamku, Kyung Soo berlalu dari hadapanku, sebuah mobil limousin berhenti di depannya, pintu mobil yang sangat panjang itu terbuka, dan ia pun masuk kedalamnya.

Seperti yang kuduga. Samantha99 atau Kyung Soo adalah seorang tuan muda, lihat saja mobilnya yang begitu panjang.

"Dasar! pria sombong... kau sakit hati karena gadis secantik ini menolakmu? huh! tanpa kau ceritakan aku sudah tahu apa yang terjadi padamu!! Auh... Memangnya aku sampah!! Tssskk!!" Kulemparkan tas butik ternama itu ke kursi yang tadi di tempati Kyung Soo, sebuah buku terhempas ke meja makan.

Ternyata Kyung Soo menuliskan semua data pribadi Han Yunhi di buku diary yang sekarang aman di tanganku.

Kutinggalkan cafe, dan melanjutkan perjalananku ke apartement yang baru saja kusewa. Han Yunhi, gadis berusia 20 tahun, kelahiran Daegu, yang lama tinggal di Incheon. Ia bekerja sebagai guru di galeri balet yang letaknya kebetulan tak terlalu jauh dari apartementku. Sebuah kebetulan yang menguntungkan.

Yunhi rupanya suka menghabiskan waktunya di perpustakaan Incheon, ia lebih suka buah daripada coklat, ia lebih suka gunung daripada pantai, ia lebih suka malam daripada siang, ia lebih suka ungu daripada pink. Dan banyak sekali catatan tentang Yunhi yang disusun Kyung Soo untukku.

Sekarang timbul pertanyaan di benakku. Apa Kyung Soo menyuruhku membuat Yunhi jatuh cinta padaku lalu aku harus meninggalkannya dan membuatnya menderita? Begitukah?.

"Begitukah?" gumamku sambil membuka lagi foto Han Yunhi yang terlihat menawan dengan kepolosannya.

"Hmmm... baiklah... akan kupelajari apa saja yang kau sukai Yunhi... Jatuh cintalah padaku... dan kumohon maafkan aku... harus menyakitimu demi kehidupanku.."

To be continue

Fanfiction Somun S2 Part 2


Fanfiction Somun Series 2

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan, Arraseo? Gomawoyo"

Author : Ayuna Kusuma

Maincast :

D.O EXO K
XIUMIN EXO M
Han YunHi : You

Genre : Emotional Love, Mystery,

Location : Daegu, Incheon.



Part 2 :

Terselip sebuah pesan penting di handphoneku, diantara pesan dari klien. Kuhentikan langkahku sejenak, dan membaca isi pesan dari Luhan.

"Bisakah kau datang hari ini? aku menunggumu sampai pukul 4 sore... kalau kau tak datang... kau akan kehilanganku lagi" Luhan, lebih tua dariku 2 tahun, tapi dalam dunia nyata ia sangat kekanakkan.

Saat ini ia tinggal di rumah sakit demi menjalani pengobatan dan terapi bebas obat terlarang, setiap hari ia harus berada di rumah sakit sendirian. Ia selalu mengatakan padaku ingin bebas dari ketergantungan narkoba, tapi beberapa saat kemudian ia memaksaku membelikan obat yang sering ia konsumsi disaat tak ada pengawas yang melihatnya.

Tapi kali ini, aku tak akan terpengaruh oleh tangisannya, demi kesehatan Luhan, bila harus kutampar untuk menyadarkannya, aku akan lakukan hal itu.

Jarum jam menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit, masih banyak waktu untuk menuju rumah sakit.

Bis berhiaskan iklan kecantikkan berhenti didepanku. Setelah semua penumpang masuk, aku pun masuk memilih kursi paling belakang yang tak pernah disukai semua penumpang.

Kurebahkan tubuhku di kursi yang lenggang, sambil membaca buku Kyung Soo. Disini aku bisa membayangkan sosok Yunhi yang sebenarnya, ia lebih banyak diam daripada bicara, ia lebih suka mendengarkan musik daripada bernyanyi, lagu yang ia sukai. Exo K - Lucky. Aha... aku juga suka itu. Kurasa ada beberapa kesamaan diantara kami.

Salah satunya aku lebih suka dingin daripada harus kepanasan. Yunhi gemar menonton film horror daripada komedi, ah... sepertinya ia gadis yang selama kucari.

Kupukul wajahku dengan buku Kyung Soo. secepatnya kusadarkan pikiranku yang kurang jernih, gara-gara membaca sekaligus memandangi wajah Yunhi.

"Sadarlah... dia targetmu... selesaikan... lalu ajak Luhan pindah ke Singapore... ya... selesaikan dan pindah... Arraseo!!." Sekilas kulihat gedung rumah sakit yang menjulang tinggi. Akupun bangkit dan menunggu bis berhenti di halte selanjutnya.

Satu... dua... tiga... pintu bis pun terbuka, tak sabar bertemu dengan Luhan, aku pun memilih meloncat turun dari bis.

"KAU!!! Ahss...Ck!! Keterlaluan! Lihatlah bajuku!!" teriak seorang gadis yang sedang sibuk menghilangkan bercak kopi yang melekat di kemejanya.

"Mianhae..... aku tak sengaja... mianhae..." akupun memohon, dan mencoba menghindar darinya, tapi sepertinya terlambat, gadis itu menyambar tanganku.

"Kau sudah menabrakku! menumpahkan kopi di kemejaku! sekarang... kau harus bertanggung jawab!" Entah mataku yang rusak, atau ingatanku yang selalu tertuju pada Yunhi, kulihat gadis yang mencengkram tanganku, punya wajah yang sama dengan Yunhi.

"oh..." gumamku sambil mencari pembenaran atas pandanganku, lalu kugeser mataku ke bawah, dan benar rupanya, gadis yang kutabrak tadi adalah Han Yunhi. Ah... Sesaange.... terima kasih kau selalu membantuku... sebuah kebetulan yang membuatku semakin beruntung.

"Hei!... sekarang bagaimana?? Ah.... sudahlah.. pergilah!" kata Yunhi, ia lepaskan cengkraman tangannya.

"Hmm... Nona.. mianhae... aku tak punya banyak waktu... bisa berikan aku alamatmu... aku akan membelikanmu kemeja yang baru... berikan juga keterangan ukuranmu... nanti malam... aku akan menggantinya..."

Yunhi terdiam sebentar, ia memalingkan wajahnya dariku, lalu menatapku dengan senyuman penuh godaan.

"Kau serius?"

"Ye! Aku akan menggantinya... tuliskan juga merk yang sama... aku akan mengantinya.." kataku mencoba menyakinkannya.

"Arraseo... sebenarnya... aku hanya ingin mendengar kata maaf darimu... tapi kalau kau mau menggantinya... boleh juga... jjamkanmannyo..." Yunhi membuka tasnya, yang kulihat isinya baju balet dan buku catatan kecil. Lalu ia keluarkan buku itu dan mencatatkan sebuah alamat beserta ukuran dan merk kemeja yang telah kunodai.

"Ini... mianhae... bukan aku yang meminta... tapi kau yang memberiku..." kata Yunhi, tangannya begitu dingin ketika aku tak sengaja menyentuhnya.

"Ye... no problem.. nanti malam aku akan ke rumahmu.." kataku.

"Ah..! Annie.. itu alamat kantorku.. kau bisa menungguku disana... dan itu no handphoneku... kau bisa menghubungiku kalau kau sudah sampai dikantor..."

"Hmm... okey... Yunhi.." gumamku, aku hampir tertawa melihat tulisan gadis itu yang terlihat begitu menggoda.

"Siapa namamu?" tanya Yunhi yang mencoba memandangku dari rambut sampai kaki.

"Bismu sudah datang... kau akan tahu namaku nanti malam... Yunhi" gumamku.

"Heehe... gomawo... annyeong..." Yunhi melambaikan tangannya padaku sebelum ia masuk ke dalam bis.

Sekarang, aku sudah mendapat kejelasan dari perkara Kyung Soo dan Yunhi. Heh! Walaupun Yunhi punya wajah polos, tapi wanita itu tak sepolos yang kuduga. Kurasa, akan sulit berhadapan dengan playgirl seperti dia. Mengapa aku menyebutnya playgirl?, karena sudah bisa kulihat dari matanya yang mencoba mengunci hatiku.

"Kau tak bisa mempengaruhiku Yunhi... haha... hahahahaha!!"

BRUUUKK!!

Seseorang memukul kepalaku dari belakang, ketika aku berbalik dan ingin menendangnya, ternyata Luhan lah yang memukul kepalaku dengan novelnya yang tebal.

"Yunhi! Yunhi!! PEREMPUAN SAJA YANG KAU URUS!! Kau berjanji akan menemuiku kemarin! tapi kau tak muncul! aku hampir mati karnamu!! AUH!!!"

BRUKKK!! Ia menghempaskan bukunya lagi ke kepalaku.

"Hyung! Bukannya baru hari ini kau mengirimkan pesan??"

Luhan ingin memukulkan bukunya lagi kekepalaku, tapi tanganku berhasil menangkisnya.

"Kalau bodoh... jangan kelewatan... lihatlah.. ahsss.. sudahlah... jangan membahas hal itu... kau membuatku kesal saja!! Auhhhsss.. dingin sekali disini..." gumam Luhan sambil duduk di halte bis.

"Kau ingin kabur lagi?" tanyaku sambil memberikan sebatang rokok pada Luhan, lalu menyalakan api untuknya.

"Tentu saja... harus berapa lama lagi aku akan ditahan disana?"

"Hyung... percayalah padaku... jangan pernah memakai obat itu lagi... hiduplah dengan normal... hanya kau keluargaku.. eoh... aku tak ingin kau menderita.." kataku sambil melingkarkan lenganku ke leher Luhan.

"Haiss!!" Luhan dengan kasar menyingkirkan lenganku "Kau pikir semudah itu? kalau kau bisa mengatakan itu... aku juga bisa mengatakan... XIUMIN! berhenti jadi pembunuh! Hiduplah tanpa membunuh! cari pekerjaan lain! hiduplah dengan normal!! apa itu mudah??? lihatlah wajahmu yang mulai mengeriput... apa yang kukatakan tadi sangat sulit bagimu kan?? sama saja denganku... apa yang kau katakan tadi BULLSHIT! itu sulit bagiku... fuuuuhh" Luhan mengakhiri kata-katanya dengan hembusan asap rokok dari mulutnya.

"Mianhae..." bisikku.

"Siapa selanjutnya yang akan kau bunuh? mungkin aku bisa membantumu"

"tak perlu... ini.. uang pengobatanmu... bulan kemarin dan bulan ini... aku susah payah bekerja.. kumohon kau bisa menghargai hasil jerih payahku... dengan tak menyentuh obat-obatan itu lagi..." kulemparkan sekantong uang ke Luhan, ia membukanya lalu sibuk menghitungnya, tanpa mempedulikan aku yang sudah meninggalkannya.

Luhan, aku melakukan ini semua hanya untukmu, hanya kau yang kumiliki, kuharap kau mau mengerti.

to be continue

Fanfiction Diary Part 3



Songfiction "Diary"

Maincast : L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul

***

Aroma sup gurita yang bercitarasa menyerebak ke seluruh rumah, menggantikan bau pengap yang tadi memenuhi rumah. Setelah kutata di meja makan, nasi, sup gurita seadanya, kimchi dan berbagai teman pendamping lainnya. Ini waktunya aku membangunkan Myungsoo. Pria itu pasti akan bangga denganku, hihihi... pendatang baru yang bisa menyesuaikan diri dengan cepat.

Sambil memasak, aku juga membersihkan semua ruangan, mengumpulkan cucian menjadi beberapa bak, hari sudah larut malam, besok aku berjanji pada diriku sendiri akan mencuci semua pakaian Myungsoo yang tergeletak disana sini.

Myungsoo masih tidur di meja balkon, wajahnya yang tirus tampak indah dibawah sinar rembulan. Ia tampak nyaman tidur disana, walaupun udaranya dingin, ia tetap tidur nyenyak.

"Myungsoo.... ssshh.... Myungsoo... bangun..." kataku sambil menggoyang jempol kakinya yang muncul dari lubang kaos kaki yang robek-robek. Myungsoo diam saja tak bergerak.

"Myungsoo... aku sudah memasakkan sup gurita untukmu... ayo bangun... makan dulu baru tidur lagi... ayo..." kataku mulai gelisah. Karena sedari tadi sepertinya ada yang sedang mengawasiku dengan Myungsoo.

"huuuueemmm....." kata Myungsoo sambil membalikkan badannya "Ada apa?" tanya pria itu sambil menggosok matanya.

"Sup gurita... hehe... aku sudah memasakkannya spesial untuk pemilik rumah yang mau menampungku... ayo kita makan..." kataku sambil memberanikan diri membuka selimut Myungsoo.

"AH!!! Apa yang kau lakukan!!! Siapa kau!!!" tanya Myungsoo sambil merebut selimutnya dari tanganku.

"Eeeh...? aku... teman Minjung.... teman dari penjara... kau lupa? kau pusing? atau sakit? hmmm" sontak aku kebingungan. Bagaimana ini? bagaimana bisa Myungsoo secepat itu lupa, padahal hanya 3 jam ia tidur, tatapan matanya pun sudah lain dari sebelumnya. ia menatapku penuh curiga kali ini.

"Minjung... ah.... iya aku lupa.... lalu bagaimana bisa kau masuk ke rumahku?? HAH!!" bentak Myungsoo

"Ah.... Kau tadi memberiku kunci rumah, dan kau sendiri yang bilang... kalau aku boleh tinggal disini... lantai atas itu kamarku... aku sudah membersihkan isi rumahmu... dan memasakkanmu sup yang enak... Myungsoo apa kau lupa?? benar-benar lupa??" tanyaku kebingungan sambil memberikannya kunci rumah.

"Sudah bawa saja kuncinya... aku masih punya cadangannya.. AH!!! Aku lupa... mana celana dalam yang kugantung di situ!!" tanya Myungsoo lagi dengan nada membentak,

"Sudah kurapikan dan kumasukkan ke dalam box itu... supnya akan mendingin... kau tak tertarik untuk makan Myungsoo?" tanyaku sekali lagi.

"Hyaaa... Myungsoo... Myungsoo!! Kau pikir aku adikmu hah!!! panggil aku Oppa!!... Kajja Kita makan" kata Myungsoo sambil masuk ke rumah lebih dulu.

Saat masuk rumah, Myungsoo sepertinya terkejut melihat rumahnya terlihat bersih dari semula, ia tersenyum padaku berkali-kali, dan mengatakan kalau ide Minjung menempatkan aku di rumahnya rupanya ide yang luar biasa.

"Woaaaaah.... sup gurita... ini sup terlezat yang pernah kumakan..hihihi" kata Myungsoo

"Gomawo..."

"Darimana kau belajar memasak?" tanya Myungsoo lagi, sambil melahap kimchi yang ia ambil dari mangkuk.

"Di penjara... aku dan Minjung, sering belajar memasak di kantin penjara..."

"Hmmm... apa Minjung jadi gadis baik-baik disana? aku sempat khawatir ia kesepian disana... tapi setelah mendengar ia memiliki sahabat sepertimu... aku bisa lega..."

"huhuhum..."

"Maafkan kalau aku sempat tak mengenalimu... itu penyakit lamaku... ketika aku tertidur... lalu bangun... beberapa ingatanku terhapus... dan aku harus berusaha mengingatnya lagi..." kata Myungsoo.

"neunde munjega eobsgun-yo" gumamku sedikit malu.

"setidaknya... kau sudah tahu bagaimana harus hidup serumah dengan orang yang tiba-tiba menjadi amnesia sepertiku hehehe... Gurita ini enak sekali...kau dapat gurita darimana??" tanya Myungsoo sambil melahap gurita yang sudah matang.

"Dari lemari es..." jawabku merasa tersanjung

"WRRRRRRRROOOAAAH!!!" Myungsoo berhasil memuntahkan semua isi mulutnya di depanku. "KAU MEMASAK GURITA BASI!!! YAAAAAAA!!! BABO!!! Kau tahu itu BASI!!! kenapa kau masak juga hah!!!"

"Basi??"

"BASI!!! Kau bisa kau cium!! Gurita itu sudah di lemari es selama 1 bulan... ahsss!!!" kata Myungsoo sambil mengulurkan lidahnya lalu di cucinya dengan air soda.

Kucoba untuk merasakan lagi sup yang sudah kuhasilkan, rasanya tak ada bedanya dengan sup biasanya, daging guritanya juga tak ada anehnya.

"Sssshh... Oppa... rasakan lagi... tak ada bedanya antara gurita basi dan gurita masih segar... rasanya sama saja..."

"Oh....benarkah!!" tanya Myungsoo

"Hum!!... tak ada bedanya.... cobalah..."

"KAU SAJA YANG COBA!!!... Ah... Jjankanman... hmmm gurita basi... murah harganya...dan kau bisa membuat sup dengan rasa gurita segar... Ara!!... Araseo.... terima kasih supnya... aku akan membagikannya ke teman-temanku... kalau besok mereka tidak sakit... dan kau tidak sakit. berarti sup gurita basi ini bisa kita jual hahahaha... ah... aku lupa... siapa namamu?" tanya Myungsoo sambil menuangkan satu panci sup gurita ke container kecil.

"Ara..." jawabku sambil terus menyaksikan apa saja yang dilakukan Myungsoo. Pria itu bila memikirkan uang, cepat sekali ingatnya.

"Hmm??" tanya Myungsoo sambil melepaskan kaosnya di depanku, apakah aku harus menutup mataku? atau aku harus menyaksikan abs yang begitu sempurna di depanku. Tapi terlambat, Myungsoo cepat-cepat memakai kaos yang baru, yang diambil dari bak cucian kotor.

"Hmmm?" tanyaku bingung.

"Siapa namamu?" tanya Myungsoo lagi.

"Ara... Namaku Bo Ara..."

"Oh... iya... Ara.... Oppa... akan kembali besok pagi... kalau sup ini laku malam ini... besok siang kita akan belanja gurita basi di pasar.... Annyeong... jangan lupa kunci pintunya...jangan sampai ada orang asing masuk ke rumah saat aku tak ada di rumah" kata Myungsoo sambil menggosok kepalaku. mengacaukan rambutku.

"Ye... Oppa..." kataku sambil melirik sosok pria tampan bernama Myungsoo yang langsung menghilang dari balik pintu.

Aku terdiam selama beberapa menit.
Tiba-tiba ada yang mengalir keluar dari hidungku.
Warna merah...
Ya...
Darah...

"AAAAAAAAAAAH!!!!!! MINJUNG!!!!!!!! Aku...... tak sengaja melihatnya Minjung.... Minjung... maafkan aku... aku suka Abs kakakmu hahahaha..... Oh... Abs.... hahahahaha!!!! AHHHH!!!! naneun salang-e ppajyeoissge!!!" Teriakku kegirangan.

To be continue

Fanfiction Diary Part 4


Songfiction "Diary"

Maincast : L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul



***

Abs Myungsoo masih terbayang di benakku, dan malam ini aku begitu gelisah, tak bisa tidur, tenagaku masih terlalu banyak untuk diajak tidur. Maka kuputuskan untuk mencuci semua baju Myungsoo malam ini juga. Karena aku yakin, sup gurita basi satu container kecil yang dibawa Myungsoo pasti laku, dan besok kami berdua akan membeli gurita basi sebanyak-banyaknya di pasar.

Woah... aku hebat kalau memprediksi ya? hihihi. Kutendang-tendang jaket Myungsoo yang sudah bau di bak. Kutambahkan lagi detergen dan menginjaknya lagi dengan senang hati.

"Ssstt... hei..." panggil seseorang di belakangku. Berbalik dan melihat siapa malam-malam seperti ini yang masih bangun dan iseng menyapaku. Ternyata Ahjumma tadi siang. Wanita itu tampak ramah, ia berjalan ke meja dekat balkon, lalu meletakkan satu kotak berwarna ungu.

"Ye.. Ahjumma" kataku sambil mencuci tanganku lalu kulihat apa yang dibawa ahjumma.

"Jangan dibuka!!... itu khusus buat Myungsoo" teriak Ahjumma sambil memukul tanganku.

"Oh... baiklah..."

"itu Kimchi buatanku, Myungsoo selalu memesannya... kalau kau membuka tutupnya.. bagaimana bisa berfermentasi dengan sempurna? eoh...? auh... !!" kata Ahjumma kali ini sambil memukul kepalaku dengan lembut.

"Ehehe... iya Ahjumma.. mianhae..." kataku sambil membawa kotak ungu ke dalam rumah.

"Bagaimana?!! Myungsoo sudah menerimamu!!" tanya Ahjumma sambil berteriak dari luar, aku pun bergegas keluar rumah, agar Ahjumma tak teriak-teriak di tengah malam, hanya untuk membicarakan hal yang sepele.

"Yee.. Ahjumma... Minjung... juga sudah membolehkan aku tinggal sementara disini..." kataku sambil melanjutkan menginjak-injak baju Myungsoo.

"Auh.... tinggal satu rumah dengan seorang pria... ahss... apa kau tak takut? dia menodaimu?" tanya Ahjumma terlalu usil.

"hehehe... aku bukan wanita seperti itu Ahjumma... ah... terima kasih telah mengkhawatirkanku.." kataku sambil menundukkan badan tanda terima kasih pada orang yang lebih tua.

"Aigooo... aku khawatir Myungsoo melukaimu atau memperlakukanmu dengan kasar... anak itu mulai agak-agak gila setelah setengah tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan..... ia sering lupa ingatan... sering bertindak kasar... tapi lebih sering bersikap baik... sudahlah... aku pulang dulu... bilang pada Myungsoo... kimchinya 14.600 won... ah siapa namamu?"

"Ara.... akan kubayar Kimchinya ahjumma..." kataku sambil memberikan lembaran uang 15.000 Won pada Ahjumma yang sedari tadi selalu menelisikku.

"Aigoo... terima kasih... tapi aku tak punya uang kembalian" kata Ahjumma sambil merogoh kantongnya.

"Sisahnya untuk Ahjumma saja... "

"Benarkah??"

"Yee... Ahjumma... tapi katakan padaku... Myungsoo... kapan ia mengalami kecelakaan itu... ? bisakah kau ceritakan padaku?"

"Hmmm... apa kau tertarik pada Myungsoo? hingga mau mendengar semua tentangnya? ah... sudah kukira... hahaha" kata Ahjumma sambil menampar wajahku.

"Setengah tahun yang lalu... Minjung masuk penjara... dan ahjumma bilang Myungsoo mengalami kecelakaan.. apakah itu kejadian yang sama?" Wajah Ahjumma yang tadi ceria, kini berubah menjadi sedikit sendu, ia hapus airmatanya yang tak sedikit keluar dari kelopak matanya.

"Hmmmm... Ahjumma... apa aku salah menanyakan sesuatu?" tanyaku lagi, salah tingkah.

"Hari itu... Myungsoo bersama suamiku dan adiknya Minjung... akan pergi ke pasar membeli peralatan baru untuk rumah seni mereka. Myungsoo... dan Minjung sudah kuanggap sebagai anakku sendiri... mereka sering menghabiskan waktu di rumahku. Hari itu peristiwa itu terjadi... mobil yang mereka pakai mengalami kecelakaan beruntun, dan Minjung menjadi tersangka utama. Karena saat itu ia lah yang mengendarai mobilnya... Suamiku sudah meninggal... dan selama 2 bulan aku susah payah merawat Myungsoo..."

"Ahjumma...."

"Sudah... aku harus kembali... jangan lupa matikan lampunya kalau kau selesai mencuci... pompanya juga jangan lupa di tutup. tagihan akan semakin melunjak saat kau lupa menutup pompanya... Ara..." kata Ahjumma sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Ahjumma... kalau kau menganggap Myungsoo dan Minjung... adalah anakmu...mau kah kau juga menganggapku sebagai anakmu?... karena saat ini aku juga tak punya orang tua... mereka semua meninggal... mereka meninggalkan aku sendirian di dunia ini Ahjumma... padahal... aku masih ingin bersama mereka...."

Tak terasa Ahjumma memelukku, lalu berlalu meninggalkan aku yang masih menangisi nasibku sendiri. Myungsoo, Minjung... rupanya kalian sama sepertiku, kehidupan kita memang harus seperti ini, dan entah mengapa... aku senang bertemu dengan kalian semua di keadaan kehidupanku yang seperti ini.

To be continue

Fanfiction Tomorrow Part 7


Fanfiction TOMORROW

Author : AyunaKusuma

Genre : Drama, Romance.

Maincast :

Minji : You
Micky Yoochun : Yochun
Jaejoong : Jae
Cheska Fiestar : Cheska
Jei Fiestar : Jei
Jang Geun Suk : Geun

Location : LA + Seoul


Yang belum pernah baca... Ayo baca mulai dari awal ^_____^

***


Little Italy masih seperti dulu, ramai dengan pengunjung yang ingin berbelanja, toko dan butik mulai berkembang pesat, Butik milik Jae pun seperti itu, cafe yang letaknya di sebelah butik, telah dibelinya dan dirubah menjadi butik cafe yang bersinergi.

Hari ini, Jae akan pulang ke Korea, tiket pesawat, ia masukkan ke dalam jas. Secangkir kopi ia teguk perlahan. Dua wanita duduk dengan tergesa-gesa di hadapannya.

"Oppa.... pokoknya aku harus ikut denganmu..." kata wanita yang berambut panjang.

"Jei... kau sudah memutuskan untuk membantuku di LA, berarti kau sudah berniat menggantikanku disini kan? aku ingin kembali... kau ikut kembali... dasar kau ini!!" bentak Jae sambil pura-pura memukul wanita muda yang cemberut di hadapannya.

"Jae.... sudah... jangan membentak adikmu... Kau juga... minggu kemarin kau baru saja datang... sekarang merengek ingin pulang lagi... apa sebenarnya maumu hah? apa kau mau menguras uang ibumu ini hah? auh..." tanya Wanita tua yang masih cantik, yang ternyata ibu Jae dan Jei.

"Aaaa... Eomma.... aku masih merindukan kakakku... apa salah kalau sebelum Jae menikah, aku ingin selalu bersamanya? eoh... kapan lagi aku bisa tidur sekamar dengannya? eoh? kalau dia sudah menikah... pasti dia tidur dengan istrinya..."

"Ommo!!! YAAAAAAA!!!" pukul ibu Jei. "Kau ini!!! Memalukan...!! Apa kau menderita sister complex hah?? Jangan Jae... jangan ajak dia bersamamu... bahaya... Eomma akan memeriksakannya ke rumah sakit besok... hehehehe"

"EOMMA!!!!!! Usiaku masih 17 tahun... masih pantas tidur sekamar dengan Jae!!... Aigoo!!! lagipula... kekasihku lebih tampan... MAX lebih tampan darimu!!!" teriak Jei tak mau kalah, ulahnya semakin membuat ibu dan kakaknya semakin terhibur.

"Hmmmm... tinggallah disini... Jei... temani Eomma... aku akan kembali secepatnya membawa kakak iparmu..." celetuk Jae sambil menahan senyum

"Eomma... lihatlah... anakmu yang satu itu rupanya sudah jatuh cinta... hahaha.. apa kau setuju Jae mendapatkan istri orang Korea Eomma?... awas Oppa... kalau calon istrimu kurang cantik... aku dan eomma... tidak akan terima..." kata Jei sambil bergelayut di pundak ibunya.

"Sssttt..." kata ibu Jei sambil membungkam bibir tipis anak perempuannya. "Jaga bicaramu... hummm... Biarlah kakakmu memilih sesukanya... asal calon istrinya bisa bersikap baik padaku dan dirimu... itu sudah cukup... cantik itu relatif... iya kan Jae? kapan kau akan berangkat? bukankah ini sudah pukul 1 siang?"

"Pesawatnya di undur dua jam lagi... jadi masih banyak waktu untuk mengobrol dengan kalian berdua... Ah... Jei... kau tak perlu khawatir... gadis yang membuatku jatuh cinta... ia memiliki wajah yang cantik... tak kalah cantiknya dengan kalian berdua... Minji... selama di Korea... aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta padaku... karena malam itu... dia sudah membuatku mengingatnya sampai hari ini" kata Jae sambil menatap jalanan Little Italy yang sudah tampak ramai kembali. "Aku berjanji pada diriku sendiri... aku akan menikahinya dan membawanya ke Little Italy... dan kita berempat... bisa hidup bahagia disini..."

***

"Minji!!!! cepat!!! kita harus berangkat sekarang!!" teriak Yochun sambil mendobrak pintu kamar mandi Minji.

"Sebentar!!!!!!!!!" teriak Minji dari kamar mandi.

"Apa sebenarnya yang kau lakukan hah.... Aigooo... Beberapa tallent pasti menunggu kita sekarang!!!"

Pintu kamar mandi pun terbuka, Minji muncul dengan wajah yang penuh warna, bibirnya memerah, matanya tampak lebih berwarna dengan eyeshadow pelangi. Yochun pun sontak tertawa melihat kekasihnya tiba-tiba berdandan seperti itu.

"Ya.... hahahaha... Minji?"

"Kenapa? ada apa? apa aku terlihat konyol?"

"Hahahaha... humm... kau terlihat konyol... ada apa denganmu? hum?" tanya Yochun sambil menyeka make up Minji dengaan sapu tangannya.

"Aku ingin terlihat cantik di hadapan para talent..." kata Minji membiarkan kekasihnya menghapus make upnya.

"Aku tahu... kau ingin terllihat cantik dihadapan Jae... Dia akan datang malam ini... kalau kau ingin terlihat cantik... bukan seperti ini caranya... jadilah Minji yang seperti biasanya... humm..."

"Yochun.... aku berjanji tak akan berpaling darimu... aku... aku ingin terlihat cantik di hadapan talent... bukan Jae..."

"Tak perlu menyangkal seperti itu... kau seperti gadis bodoh kalau menyangkal... jujurlah padaku... Minji... suatu saat aku akan melepaskanmu... demi kebahagiaanmu... selama kita menjadi sepasang kekasih... aku tahu... kau sangat memaksakan perasaanmu... mungkin inilah saatnya aku melepaskanmu... Jae mungkin kembali untukmu"

"Huh....!! Yaaaaaaaaaa.. Yochun... kau ingin membuatku menangis hah??? jangan bodoh... kau ingin melepaskanku!!! tak akan kubiarkan!!! hahahaha" kata Minji sambil naik ke atas punggung Yochun.

"Oppaaaa!!! berangkat sekarang!!!"

"Ommoo... berat sekali... besok kau harus mulai diet... arra?"

"Yeeee... Arraseo Oppa...." kata Minji sambil menyandarkan kepalanya ke kepala Yochun.

"Oppa...." bisik Minji

"Humm?"
"Jangan pernah lepaskan aku.... karena... aku mulai tak ingin kehilanganmu... cintaku mulai menumpuk di hati... cinta untukmu... bukan untuk yang lainnya" bisik Minji

***

"AWAS KAU NUNA!!!!!!!!!!!!!! Kau harus menerima pembalasanku.!!!" Teriak Geun ketika ia menikmati makan siangnya sendirian di atap perusahaan.

"Mwooo??... Geun... Nuna? siapa yang kau maksud? Minji Nuna?" tanya Cheska sambil duduk di sebelah Geun, sahabatnya di dunia game.

"Hum... dia sudah membuatku malu... aku tak sanggup bersosialita sekarang... semua orang tahu wajahku... mereka bilang... oh... kau pria cabul yang di fashion show kan? huaaaaaaaaa...... bahkan... ibuku tak mau mengakui aku sebagai anaknya..."

"Kau ingin membalas Nuna??... aku beritahu caranya... buat hubungannya dengan YOCHUN dan JAE semakin rumit... hihihihi... ah... jangan lupa... buat ia putus dengan Yochun... karna aku sudah lama tertarik pada oppa... humm.. hum... bagaimana?"

"Okey... aku setuju... tapi.... ada tarifnya... 400.000 won... bagaimana..? kau dapatkan Yochun... dan aku dapat 400.000 won darimu...? uhmm?" tawar Geun.

"KAU INGIN MERAMPOK ATAU MINTA BAYARAN HAH!!! HAH!!! DASAR GEUN!!! Tidak jadi... aku tidak mau bekerjasama denganmu... AUH!!!!!" Bentak Cheska sambil memukuli Geun dengan bungkusan isi kimbab yang dibawanya, lalu berlari menjauhi Geun yang kesakitan.

"CHESKAAAAAAAA!!! 300.000WON!!!!! AH... 200.000 WON SAJA!!!!!! Diskon 10% BAGAIMANA!!!!!!!!!"

"YAAAAAAA JUGULEEE!!!!!!!" Teriak Cheska sambil melempar sepatunya ke arah Geun

Fanfiction Diary Part 5

Songfiction "Diary"

Maincast : L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul


***

Sayup-sayup terdengar suara pria bernyanyi, karena keadaanku sangat lelah, semalaman mencuci 4 bak berisi baju kotor milik Myungsoo, kubiarkan saja siapa saja yang menyanyi di depanku. Suaranya yang lembut mampu membuatku tenang dan kembali tidur.

Tak berapa lama, ada yang mencoba mengangkat selimutku, kucoba tak bangun, hanya mengintip siapa yang begitu perhatian mau membenarkan letak selimutku.

"onjong-il geudaega nae meoli sog-eseo hwanhage naleul bomyeo usgo issneyo geudaedo gakkeumssig nal saeng-gaghaneunji oneulbam geudae saeng-gag jam mos ilujyo" Myungsoo lah yang menyanyi di pagi buta, Myungsoo lah yang membenarkan letak selimutku, dan ia lah yang ingin membelai rambutku tapi cepat-cepat ia urungkan niatnya.

Ia tak tahu aku sudah terjaga oleh nyanyiannya yang merdu. Myungsoo terlihat sibuk mengumpulkan cucian yang sudah kering, lalu ia timbun diatas tubuhku yang hanya berselimutkan bad cover tipis. Aku memang sengaja tidur di meja bawah jemuran, di tempat Myungsoo tidur. Menggunakan kamar Myungsoo tanpa izin terlebih dulu mungkin saja bisa membuat dirinya sebal. Apalagi keadaan Myungsoo yang sering lupa ingatan, bisa-bisa aku harus menjelaskan lagi kronologi dari awal.

Ia akhirnya menumpuk semua cucian diatas tubuhku, lalu ia tata seperti selimut. Rasanya semakin hangat, dan berat.

"Hehehe... kalau seperti ini kau tak akan kedinginan.... tidurlah... aku juga akan tidur setengah jam saja... setelah itu kita akan belanja gurita basi di pasar..." kata Myungsoo sambil menutupi leherku dengan kaos miliknya.

Myungsoo pun melakukan hal yang sama pada dirinya, ia timbun cucian kering lainnya di atas tubuhnya, Myungsoo memilih berbaring di teras rumah yang tak kalah dinginnya.

Sup gurita basi, berjanjilah... kau harus laku nanti siang, bantulah Myungsoo mengumpulkan uang, agar ia bisa membayar denda ke Pengadilan, lalu Minjung bisa dibebaskan tanpa syarat.

Sejenak, aku lupa bagaimana keadaanku sebenarnya. Pembunuh keluargaku yang sebenarnya, siapa mereka? apakah aku harus mencarinya? bagaimana caranya? aku sama sekali tak tahu masalah apa yang terjadi pada keluargaku, hingga ada orang yang tega membunuh semua keluargaku.

Selama ini, aku terlalu egois dengan duniaku sendiri, hingga aku tak mau peduli apa yang terjadi di rumah. Kembali ke rumah, tempat pembunuhan itu, mungkin kunci utama, bagaimana aku bisa menemukan pembunuh sebenarnya.

Tapi aku terlalu takut kembali ke sana, kunci rumah masih kubawa, rumah itupun masih milikku, tapi aku tak bisa kembali ke sana dan berpikir tak pernah terjadi apa-apa. Ini terlalu berat untukku.

"AAAAAAAAHHHSSS!!!!!" Tiba-tiba Myungsoo bangun dan berteriak sambil memegangi kepalanya. "Yaaaaa!!! Bagaimana aku bisa lupa!!! Handphoneku... dimana kutaruh tadi ya??!!" Ia pun mulai mencari-cari handphonenya di semua tempat, termasuk di timbunan baju yang berada diatasku.

"Hasssh!!!! Handphoneku.... hmmmm... mianhae.... aku harus mencari handphoneku... kuharap kau mengerti" kata Myungsoo sambil merogoh ke dalam tumpukkan baju.

"Mungkin handphoneku jatuh disini.... ssssttt... kau tidur saja... jangan bangun arra..." kata Myungsoo sambil membolak balik baju diatasku.

"AAAAAAA!!!!!!!!!!!!" teriakku ketika tangan Myungsoo hampir saja menyentuh daerah terlarang yang terhalangi selimut, walaupun begitu aku tetap shock. "YAAAAA!!! Kau sengaja HAH!??!!?" bentakku, sambil bangun dan menjauh dari Myungsoo.

"Mianhae... aku... aku hanya mencari handphoneku... mianhae... mianhae Ara..." kata Myungsoo sambil berlutut di depanku.

"Ya...... kau sengaja eoh!!..."

"Andwae.... andwae... mianhae..."

"Handphonemu... ya... Oppa... kau bodoh eoh...!! handphonemu ada di dadamu... tundukkan kepalamu!!!" Myungsoo memang sudah kelewatan pelupa, handphone yang selama ini ia cari sebenarnya tergantung aman di lehernya.

"OH!!! hahaha.... akhirnya aku menemukannya..." kata Myungsoo sambil mengotak-atik handphonenya tanpa mempedulikan kemarahanku.

Sambil membereskan cucian bersih yang berantakan di lantai. Aku melihat Myungsoo yang tampak serius dengan handphonenya.

"Sebenarnya siapa yang kau hubungi sekarang oppa??" tanyaku pada Myungsoo yang sedang menunggu panggilan tersambung.

"Temanku akan meminjamkan mobilnya... untuk kita berjualan sup gurita.... aku harus mengambilnya... sekarang... agar kita bisa belanja gurita dan bahan yang lainnya... di pasar"

"Oppa... kau serius?? apa semalam sup guritanya laku?" tanyaku penasaran.

"LAKU!!! HAHAHAHA!!!" tawa Myungsoo "Ada sekitar 9 orang yang memakan sup guritamu. kutunggu sampai mereka tidur... kutunggu sampai mereka bangun lagi pagi tadi... mereka sama sekali tak muntah... mual... atau pusing... mereka masih sehat... rupanya sup guritamu lezat dan sehat, walaupun memakai gurita basi hahahaha"

"Jadi hari ini kita berjualan sup gurita?"

"Iya... maukah kau bekerja bersamaku?" tanya Myungsoo

"Humm... tapi ada syaratnya..."

"Apa itu?"

"Jangan pernah melakukan hal aneh seperti tadi... kalau kau lupa... kau harus mencoba mengingat-ingatnya lagi... bukan mencari barang di tempat yang sama sekali tak mungkin... ARRA!!!"

"Araaa... Araseo... hehehe" kata Myungsoo, sekilas aku sadar ia menatapku dengan cara yang lain "Yoboseyo... ah... Sunny... bisakah aku pinjam mobilmu? hmmm" Myungsoo pun berlalu dariku, sepertinya ada pembicaraan yang aku tak boleh tahu.

Tapi siapakah Sunny?.

Fanfiction Diary Part 6


Songfiction "Diary" Part 6

Maincast : Sunggyu, L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul

***

Tak tahu berapa lama lagi aku harus duduk berhadapan dengan Myungsoo tanpa sepatah kata keluar dari bibir kami berdua. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan untuk memulai sebuah pembicaraan. Karena suasana seperti ini selalu membuatku kebingungan, salah tingkah dan satu cara untuk mengakhiri suasana yang kaku, aku harus berdiri dan beranjak dari sini. Kulihat di belakang Myungsoo duduk, cucian bersih menumpuk. Ya.. aku harus merapikannya, daripada aku tidak punya pekerjaan dan diam berdua dengan Myungsoo seperti ini.

"Ah!!... Duduklah Ara..."

"Eh?" Myungsoo tiba-tiba menyuruhku duduk kembali, ia sepertinya kebingungan dengan apa saja yang ada di pikirannya.

"Iya... duduklah aku ingin bicara... tapi aku lupa... sebentar aku ingat-ingat dulu... sementara itu duduklah..." kata Myungsoo sambil memegangi kepalanya.

"Kau lupa sesuatu? Kau lupa kalau kita akan kepasar membeli gurita basi?" tanyaku

"Bukan... bukan itu... aku mengingat-ingat apa yang dikatakan Minjung setengah bulan yang lalu" kata Myungsoo sambil mengguncang-guncang kepalanya.

"Huh... hehe... kejadian satu jam yang lalu saja kau belum tentu ingat.. apalagi kejadian dua minggu yang lalu... sudahlah... selagi kau mengingat-ingat... aku akan membereskan bajumu" kataku sambil menggeser duduk Myungsoo. "bajumu ini harus selalu rapi Oppa... kalau tidak.. dewa keberuntungan tak pernah mau menemuimu" kataku sambil mulai melipat kemeja Myungsoo.

"Hmmmm...." Myungsoo masih berpikir keras sambil menatap lantai.

"Oppa... kalau boleh aku membantu...Dua minggu yang lalu Minjung mengatakan padaku... kalau kau mau membantuku menemukan orang yang membunuh Keluargaku... kata Minjung, temanmu itu... punya banyak koneksi di kepolisian... apa kau ingin mengingat hal itu???' Myungsoo berpaling kearahku, matanya berbinar, sambil memukul kepalanya.

"BAGAIMANA KAU INGAT!!??" teriaknya. "Hahaha... Iya... masalah itu... Sunny... dia bisa membantumu... sekaligus dia bisa membantuku meminjamkan mobilnya padaku untuk berjualan sup gurita di taman kota.. Sebentar lagi Sunny akan datang... kau katakan semuanya padanya ya... tentang masalahmu..."

"Tapi Oppa...."

"Ada apa?? Kau tak mau kubantu? Kau takut? Kau harus mencari pembunuh sebenarnya dan memenjarakannya... Enak sekali mereka!!! Memenjarakan keluarga korban!!! bukannya menangkap pembunuh yang sebenarnya!! Kau harus mencari keadilan Ara!!" kata Myungsoo berapi-api

"Yaaa... Oppa... aku tak mau berurusan lagi dengan polisi, mereka menakutkan dan licik... Aku hanya ingin tahu siapa yang membunuh keluargaku... itu saja..."

"Lalu?"

"Ya... hanya itu saja..."

"Ara... kau tak ingin balas dendam? Ibu dan Ayahmu... Juga adikmu mereka bunuh sesadis itu...kau tak punya rasa untuk balas dendam??" Airmataku jatuh seketika. Ingatan itu kembali memenuhi pikiranku.

Bagaimana Ayah dan Ibu tergeletak kehabisan darah, sedangkan adikku tergantung di pintu kamar. Benar... Myungsoo benar, aku harus balas dendam. Tapi... apakah aku bisa? Aku hanya gadis kecil yang tak tahu harus kemana?. Dan yang kuinginkan hanya kehidupan normal, bukan balas dendam. Kalaupun aku ingin mencari pembunuh sebenarnya, Aku ingin orang itu mengaku kepada dunia, kalau ia lah pembunuh sebenarnya. Aku hanya ingin membersihkan namaku dan nama keluargaku. Hanya itu.

"Ara..." panggil Myungsoo, ia nampak salah tingkah setelah mengetahui aku menangis pilu di hadapannya. "Jeongmal Mianhae... Ara..."

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.

"munjeeobs-eoyo..." gumamku.

"Ara... Mianhae... aku tak tahu... kalau..." Myungsoo menghentikan perkataannya, ketika seorang pria berlari dengan riang. Ia menghentikan langkahnya dihadapan kami berdua.

"Haaaaahh.... Fuuuuh.... Hampir saja aku dibunuh Ayahku... Ini... kunci mobilnya... kembalikan nanti jam 4 Sore" kata pria itu sambil melemparkan kunci ke arah Myungsoo.

Myungsoo hanya diam saja, ia kembali tertarik untuk menenangkanku.

"Ada apa ini? Myungsoo!! Siapa dia? Hei Yeoja... kenapa kau menangis ?" tanya Pria itu sambil berjongkok melihatku.

"Dia yang kuceritakan semalam" kata Myungsoo

"Ah... Ara.... teman Minjung di penjara... hei... jangan menangis... Aku bisa membantumu... Myungsoo sudah menceritakan semuanya padaku... kenalkan... aku Sunny... itu nama panggilanku... sebenarnya namaku Sunggyu...Aku akan membantumu"

"Ara...." Kami pun berjabat tangan, matanya hampir tenggelam ketika ia tersenyum padaku. Pria yang manis dan bersahabat, semoga saja ia tak pelupa seperti Myungsoo, akan hancur rencana semuanya ketika ada dua pria pelupa seperti Myungsoo yang membantuku. Pikiran itu membuatku tersenyum.

"Ah... Myungsoo... lihatlah... Ara sudah tersenyum hihihi... kau cantik kalau tersenyum... jangan menangis lagi Ara... Okey... kita jadi ke pasar membeli Gurita Basi?" tanya Sunny yang bersemangat.

"Arraaaaaaseooo" Kata Myungsoo "Ayo kita berangkat" Myungsoo pun menyambar tanganku, dan kami bertiga berangkat ke pasar, mencari gurita yang tak laku di jual. Semoga saja banyak gurita yang tak laku dijual hari ini.

"Ah.. Oppa... bagaimana dengan mencari pembunuh?" tanyaku pada Myungsoo yang masih mengenggam tanganku.

Ia mempercepat menuruni tangga, hingga aku hampir jatuh mengikutinya dibelakang.

"Nanti saja... sekarang kita selesaikan urusan gurita basi dulu... Arraseo?"

"Arra!!" teriakku

To be continue

Fanfiction Diary Part 7

 


Songfiction "Diary" Part 7

Maincast : Sunggyu, L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul

***

Selama di mobil, Sunny lebih banyak mengobrol dengan Myungsoo, dan aku sepertinya terpojokkan di jok paling belakang. Beberapa kali mereka tertawa terbahak-bahak, ingin sekali aku ikut tertawa, tapi ketika kucoba tertawa, Sunny menatapku dengan tatapan sinis yang tak semestinya. Atau aku saja yang terlalu sensitif ya?.

"Ara... apa saja yang kau perlukan tulis disini... nanti aku yang akan membelikannya untukmu..." kata Myungsoo sambil melemparkan note kecil dan pensil ke jok belakang. Dengan refleks yang cepat aku bisa menghindari lemparan note yang hampir saja mengenai wajahku.

"Maksudnya? yang kuperlukan?" tanyaku

"Iya... yang kau perlukan untuk memasak sup gurita... tulis semuanya..." kata Myungsoo, saat aku ingin menjawab, Oke siap!, Myungsoo terlanjur mengobrol lagi dengan Sunny yang menyetir di sebelahnya.

"Baiklah..." gumamku sambil menuliskan semua bumbu yang kuperlukan untuk membuat sup gurita basi, tanpa rasa basi.

Tak menunggu lama, Sunny menghentikan mobilnya, Kami sudah sampai di pasar ikan tradisional yang terkenal di Seoul. Myungsoo segera membuka pintu jok belakang. Ia menengadahkan tangannya didepanku.

"hah?" tanyaku sedikit kebingungan, dan kagum menatap wajah Myungsoo yang semakin hari semakin tampan.

"Mana... catatan bahan yang kau perlukan?"

"Oh... ini..." kataku sambil memberikan catatan diatas tangan Myungsoo. Ia menahan tubuhku saat aku ingin keluar dari mobil.

"Kau... tunggu saja disini... didalam bau amis... aku tak ingin gadis secantik dirimu bau amis... temani Sunny disini... ia sering merasa bosan, ajak ia bicara agar ia tak bosan... kalau bosan ia sering mengerikan... Arra...?" Jelas Myungsoo

Ia berlari masuk ke dalam pasar ikan, lalu pandanganku pindah ke arah Sunny yang duduk di jok depan, matanya kembali hilang saat ia tersenyum padaku.


"Ara... kajja... pindah ke depan... jangan duduk disana... sepertinya kita tidak berteman saja hehehe" Aku pun meloncat ke jok depan.

"Gomawo..." kataku.

"Untuk apa?"

"Kau mau membantuku... mencari pembunuh keluargaku... Sunny... apa kau bekerja di kepolisian?"

"Ayahku bekerja sebagai kepala detektif di Seoul, aku bisa mengajukan kasusmu padanya... hmmm... Myungsoo menceritakan padaku tadi... kalau kau gadis yang rajin... Ia juga menceritakan, kalau kau membersihkan semua bajunya... wah... benarkah?"

"Hummm iya..." kataku sedikit malu

"Kau sebuah keberuntungan bagi Myungsoo... aku yakin itu... sebelum kau datang... rumahnya hampir seperti tong sampah... tapi tadi kulihat begitu bersih dan mirip rumah"

"Hahahha... mirip rumah?... hmmm... Sunny... apa kau sudah lama mengenal Myungsoo?"

"Aku... sudah mengenalnya semenjak highschool, ia pria yang cerdas, tapi semenjak kecelakaan itu, kecerdasannya sedikit terganggu"

"Hmmm... benar... Ia sering lupa... Sunny... apakah Myungsoo sudah punya kekasih?"

"Hahahahahaha..... kau menyukainya?"

"Ah....... hahaha... andwae... hanya saja... aku khawatir, jangan-jangan ia melupakan kekasihnya saat bertemu ahahahaha"

"Ya...... itu tak mungkin... Kekasihnya sekarang ada dihadapanmu, ia tak akan lupa" kata Sunny membuatku bingung, dimana? apakah gadis itu bekerja di pasar ini? pantas Myungsoo tak mau aku ikut dengannya.

"Mana? apakah gadis itu bekerja di pasar ini Sunny?" tanyaku sambil melihat ke kanan dan kiri.

"Andwae... nal bwa bwa... aku kekasih Myungsoo..." kata Sunny sambil menyombongkan diri di depanku.

"WAAAAAE!!!" Teriakku shock.

"Maka dari itu... jangan sampai kau tertarik pada Myungsoo, atau aku tak akan membantumu..." ancam Sunny membuatku ketakutan

To be continue
 

Fanfiction Tomorrow Part 8



Fanfiction TOMORROW Part 8

Author : AyunaKusuma

Genre : Drama, Romance.

Maincast :

Minji : You
Micky Yoochun : Yochun
Jaejoong : Jae
Cheska Fiestar : Cheska
Jei Fiestar : Jei
Jang Geun Suk : Geun

Location : LA + Seoul


Yang belum pernah baca... Ayo baca mulai dari awal ^_____^


***

Minji terlihat sibuk dengan design panggungnya yang baru, sedangkan di ruangan lain, Yochun sibuk membuat beberapa strategi marketing baru dengan Geun, Cheska mengedipkan matanya yang lentik pada Geun, pria itupun tahu apa yang harus ia lakukan.

"Cheska... tolong gantikan aku dulu" kata Geun sambil bangkit dari duduknya.

"Ya...... Geun... kau mau kemana? ini belum selesai..." kata Yochun sambil menarik tubuh Geun hingga ia kembali duduk di bangku seperti semula.

"Aku ingin buang pup... kau mau aku menyimpannya? HAH!! Aigoo.... lepaskan... Cheska... bantu Hyung..." Geun kembali bangkit lalu pergi, Cheska tersenyum puas temannya bisa diajak kerjasama.

"Oppa... ada yang bisa kubantu?" tanya Cheska dengan suara yang diperlembut.

"Hmm... tolong antarkan ini ke devisi tiga dan lima, lalu fotokopi data ini, jangan lupa print poster yang ada di dalam flashdisk ini sebanyak 200 poster. kau minta ke bagian pembuat poster untuk jangan merubah warna yang sudah kubuat sebelumnya... kembalilah ke kantor setelah selesai, jangan lupa belikan aku cupcake dan coffee, cafe dibawah ada diskon 10% untuk pembelian 10 cupcake, belilah 10 cupcake, rasanya terserah kau saja... okey?" jelas Yochun sambil terus berkonsentrasi pada layar komputernya.

"YAAAAA!!! Oppa... Banyak sekali eoh..." keluh Cheska

"Ommo..Ommona... kau berani membentak atasanmu HAH!!" balas Yochun, kali ini ia baru memandang Cheska yang mulai sebal dengan Yochun.

"Oppa.... yaaa... baiklah... mana uang cupcakenya?"

Yochun memberikan satu lembar uang 100.000 won. Cheska masih sebal dengan Yochun, mengapa ia tak diberikan kesempatan berduaan dengan pria yang lama disukainya.

"Oppa... sebelum aku pergi... aku ingin tanya padamu..."

"Hmm tanya saja" jawab Yochun tak peduli

"Oppa... Jae... pria itu... apa kau tak merasa, ia kembali untuk merebut Minji? ah! apa kau tak berpikiran mereka selama ini selalu berhubungan? bisa jadi Minji selalu menghubungi Jae, di depanmu dia mencintaimu Oppa... mendukungmu... tapi dibelakang... ia selalu menghubungi Jae... kau sendiri yang cerita mereka sebelumnya pernah bertemu..."

Yochun menghentikan pekerjaannya, berpikir sebentar

"Cheska... bisakah kau tak membicarakan masalah pribadi saat bekerja?, cepat kerjakan yang kuperintahkan tadi" kata Yochun tenang.

"Oppa... apa kau masih bisa tenang-tenang saja? Eonnie Minji sudah membodohimu.... kau harus bertindak... Buat Jae tak pernah datang ke kantor ini... hmmm? buat agar Minji tak pernah melihatnya lagi..."

"APA KAU TAK MENDENGARKU HAH!!! CEPAT PERGI DAN KERJAKAN SEMUA YANG KUPERINTAHKAN TADI!!!" Teriak Yochun, Cheska lari terbirit-birit dibuatnya, ia ketakutan dengan Yochun yang tak bisa mengontrol emosinya.

Di ruangan yang lain, Geun tampak berbincang dengan Minji.

"Maafkan aku Geun... aku tak tahu kalau acara fashionshow itu membuatmu dipermalukan" kata Minji sambil mengulurkan tangannya. Geun tersenyum dan menyambutnya dengan jabat tangan ringan.

"Sudahlah Nuna... terima kasih kau mau minta maaf... aku juga salah mengapa tak melihat kebawah saat itu hehehe" kata Geun sambil membenarkan letak duduknya.

"Kau sudah makan Geun? aku punya sushi... Yochun membawakannya untukku... kau mau?"

"Anni... aku sudah makan tadi dengan Cheska..."

"Ah... kalian sudah sedekat itu? hehehe..."

"Nuna....." gumam Geun sambil memainkan pensil warnaa di depannya.

"Wae?..." tanya Minji sambil menatap Geun yang kebingungan "Kau ada masalah?"

"Bukan aku... tapi kau yang dalam masalah..."

"Oh? hohoho... aku dalam masalah? bagaimana bisa?" tanya Minji mulai tertarik dengan pembicaraan yang dibuat Geun.

"Jae akan datang ke Korea, dia akan bekerja untuk devisimu, perusahaan kita akan mendapatkan positive p dari grup Gangnam karena bisa mendatangkan designer terkenal seperti Jae, jadi jangan sampai Jae pergi ke perusahaan lain.. tapi... Hyung saat ini... ia berusaha untuk menemui Jae terlebih dahulu dan memintanya agar tidak bergabung dengan perusahaan kita... mungkin Hyung merasa cemburu atau apa... tapi ulahnya bisa merusak reputasi perusahaan kita... kau tahu kan Nuna? media sudah tahu kalau Jae akan bekerja sama dengan perusahaan kita... Kalau Hyung berhasil membuat pria itu pergi dari perusahaan kita... Apa yang akan kita katakan pada Media? pembohong, itu akan di cap di muka kita semua... reputasi buruk... ah........ cukup... sudah... Nuna... kumohon... kau bisa melarang Yochun melakukan hal itu... ini demi perusahaan..."

"JINJJA!!!!!" Teriak Minji "Ah... Geun!! Jinjja!!! Yochun mungkin hanya bercanda saja... Tak mungkin ia bisa selicik itu..."

"Humm... aku benar Nuna... aku mendengarnya sendiri... percayalah padaku..." kata Geun memastikan.

"Kapan Jae akan datang ke korea?"

"Ia akan datang di airport 4 jam lagi... ada penundaan penerbangan dari LA, bagaimana Nuna? kau bisa melarang Hyung?"

"Tidak... aku tak akan bisa melarang Yochun kalau seperti ini... aku harus bertemu Jae lebih dulu dari Yochun... terima kasih Geun... kau mau mengatakan hal ini padaku..." Kata Minji sambil bangkit dari tempat duduknya, ia merapikan pekerjaannya, lalu memakai jaket mengambil tas dan pergi meninggalkan Geun yang hampir sakit perut karena menahan tawa.

Ditengah perjalanan keluar kantor Minji berpapasan dengan Yochun, gadis itu memandang kekasihnya dengan tatapan penuh kemarahan tertahan.

"Kau mau kemana?" tanya Yochun sambil menahan tangan Minji.

"Ada teman yang ingin bertemu denganku... ia punya butik di Gangnam...aku tak akan kembali ke kantor. mungkin langsung pulang ke rumah" kata Minji sambil melampirkan senyumnya, menjaga perasaan Yochun dan agar ia tak curiga dengan tingkah Minji.

"Ah... apa perlu kuantar?"

"Andwae.... ini pertemuan antara wanita... hmmm..."

"Okey... aku akan datang ke rumahmu nanti malam..."

"Hummmm... tentu saja" kata Minji sambil mencium pipi Yochun, "Kutunggu malam ini Oppa..." Ia pun berlari meninggalkan Yochun di belakang, dan menanti Jae yang akan datang ke Korea. Bisakah Minji bertemu dengan Jae terlebih dulu? mengapa Minji bisa terlalu mudah dibodohi Geun?

***

Di airport LA. Jei masih saja sibuk menggoda kakaknya.

"Oppa.... belikan aku tiket...sebelum pesawatnya datang... jeongmal... jebal..." rengek Jei

"Jei...." gumam Jae tenang.

"Oppaaaaaaaaaaaaaa..... bagaimana hidupku kalau tanpa dirimu?" Jei semakin menjadi-jadi, ia menggelantung di bahu kakaknya, tak peduli banyak orang yang tertarik melihat tingkah manjanya.

"Arraseo... aku akan membelikan tiket ke Korea, kalau aku sudah mendapatkan Minji...bagaimana? sekarang duduklah dan bersikaplah seperti orang dewasa" kata Jae sambil mengangkat tubuh Jei dan mendudukkannya diatas bangku tunggu.

"Benar itu oppa??? benarkah???"

"Yes..." kata Jae meyakinkan.

"Yaaaaaaaaaayayayayayayya....... i love you Oppa... oh... Oppa... apa Minji begitu istimewa bagimu?"

"Tentu saja... Hanya ia gadis yang mau mencariku kemana saja selama beberapa minggu, dan saat bertemu ia hanya menatapku... tanpa mengatakan mengapa ia ingin mencariku... kurasa ia mencintaiku... semoga saja... selama beberapa bulan berlalu, ia masih menyimpan cintanya untukku"

To be continue

Fanfiction Diary Part 8

Songfiction "Diary" Part 8

Maincast : Sunggyu, L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul


***

"Kau yakin?" tanyaku pada Sunny yang mulai terlihat menahan senyumnya. "Sunny... jangan membuatku bingung... benarkah kalian pernah melakukannya?" tanyaku sambil memperagakan ciuman ala kedua tangan.

"Melakukannya??? apa maksudmu hahahahahahahhaa" Sunny pun tertawa, matanya menghilang, tubuhnya berguncang-guncang, lalu ia pukul-pukul setir, melompat lompat, memegang perutnya. Kurasa ia sudah berhasil membodohiku.

"Sunny... kau baik-baik saja?" tanyaku sedikit khawatir.

"Hahahahahahahahaaaaaaaaaa. Aigooo... perutku sakit.... hahahahaha.... Ya.... Ara... kau mudah sekali kubodohi... lihat wajahmu... lucu sekali kalau terkejut hahaha... Anniya.... aku tak akan pernah mau melakukan itu dengan Myungsoo... dan aku tak akan pernah mau memiliki kekasih yang baunya seperti sampah... hahahahahaha" Sepertinya ada besi pemberat yang diangkat dari kepalaku, aku lega ternyata Sunny hanya bercanda denganku.

"Yaaaaa... kau jahat Sunny... hampir saja... hahahahaha" aku pun ikut tertawa dengannya.

"Mianhae... Ara... itu kebiasaanku... aku pria yang Jahil kan? dan perlu di ingat... aku pria yang normal... sebentar lagi aku akan menikah dengan kekasihku... wanita... bukan pria... kami akan menikah 2 bulan lagi..."

"Woaaaah... Chukae...." kataku sambil menyeka airmata bahagia yang tiba-tiba keluar karena banyak tertawa.

"Myungsoo... ia tak pernah tertarik untuk berurusan dengan cinta... Ia ingin membebaskan adiknya dulu... sebenarnya Myungsoo bekerja setiap hari hanya tidur beberapa jam saja, untuk mengumpulkan uang... agar cukup membayar denda ke pengadilan lalu membebaskan adiknya...Minjung"

"Hmmm... aku juga sudah bisa menduga hal itu.."

"Myungsoo sangat senang kau bisa tinggal di rumahnya. Ia bilang padaku, semenjak ada dirimu, ia sepertinya memiliki keluarga... dan Gurita basi yang kau hasilkan itu... ia bilang... ia bisa kaya kalau hidup denganmu..."

"Oh? begitukah?..."

"Hummm benar... seperti itu..." kata Sunny sambil memberikan jus apel dalam kemasan untukku.

"Namamu Sunggyu... tapi mengapa Myungsoo memanggilmu Sunny?"

"Myungsoo memanggilku Sunny setelah kecelakaan itu... ia selalu lupa namaku, lalu ia mengganti namaku menjadi Sunny, katanya, aku cerah seperti matahari... maka dari itu sekarang namaku Sunny... aku suka nama itu..."

"Aku juga mulai suka dengan Sunny... kau hampir membuatku shock tadi hehehe"

"Jaga dirimu... Ara... aku akan lebih jahil nanti... hehehehe"

"Hahahahaha.... aku akan berjaga-jaga mulai dari sekarang..." kataku, Sunny semakin tertawa setelah mendengar kataku.

"SUNNY!!!!!! Bantu aku!!!!!!" Teriak Myungsoo dari arah pasar, ia mendapatkan sekarung besar gurita basi, dan bahan segar lainnya.

"Okeeeey!!!" Teriak Sunny sambil turun dari mobilnya, mereka berdua memang sahabat yang aneh, si pelupa dan si jahil. Kehidupanku yang kelam sudah berlalu, dan semoga saja berganti dengan kehidupan yang penuh canda tawa diantara Sunny dan Myungsoo. Minjung... aku akan membantu Myungsoo mengumpulkan banyak uang untukmu. Kalau kau bebas, aku akan semakin bahagia, tak peduli dengan pembunuh keluargaku, hidup di tengah kalian semuanya... aku akan merasa begitu bahagia.

"BOOGH!! Jangan melamun Ara... pindah kebelakang..." perintah Myungsoo, akupun meloncat ke jok belakang tanpa turun dari mobil.

"YAAAAA!!! Bau sekali disini!!!"

"Gurita basi sebanyak itu tentu saja bau hahahahahaha" tawa Myungsoo, tawa yang menyejukkan hatiku, bau gurita basi yang menyengat tiba-tiba hilang seketika saat kupandangi wajah Myungsoo yang luar biasa tampan, walaupun wajahnya kotor dan penuh debu, aku masih bisa menikmati ketampanannya.

Fanfiction Tomorrow Part 9




Fanfiction TOMORROW Part 9

"Sebelum/Sesudah membaca Fanfiction ini, budayakan share, Like, dan komentar. Terima kasih atas dukungannya"

Author : AyunaKusuma

Genre : Drama, Romance.

Maincast :

Minji : You
Micky Yoochun : Yochun
Jaejoong : Jae
Cheska Fiestar : Cheska
Jei Fiestar : Jei
Jang Geun Suk : Geun

Location : LA + Seoul


Yang belum pernah baca... Ayo baca mulai dari awal ^_____^

***

Sebelum pergi ke airport, Minji tertarik mengikuti Yochun dari belakang, Kekasihnya itu pergi dengan beberapa manajer untuk menemui pemegang saham perusahaan.

Mereka ternyata menuju sebuah ruangan rapat tersembunyi yang letaknya di lantai empat. Minji yang menggunakan tangga darurat, bertemu dengan Cheska ditengah jalan.

"Eonnie... mau kemana?" tanya Cheska yang kebingungan membawa poster.

"Ah... tidak apa..." kata Minji tak mempedulikan Cheska.

"Ditanya mau kemana ? jawabannya tidak apa.. dasar" omel Cheska "Eonnie... aku ikut.... kau pasti mengikuti Yochun kan? Oppa kan ada rapat dilantai empat... hihihi"

"Haisss... terserah kau saja..." kata Minji, sambil membuka pintu lantai empat, Cheska yang mengikuti dibelakangnya tampaknya sedang merencanakan sesuatu, Yang bisa merusak hubungan Minji dan Yochun.

Tak menunggu lama, Minji sudah bisa menemukan tempat rapat yang digunakan Yochun.

"Haisss.... aku tak bisa mendengar apapun dari dalam... padahal aku harus menjemput Jae sebentar lagi... bagaimana ini... ah... Cheska... masuklah... pura-puralah mengantarkan ini ke Yochun... cepat!!"

"Tapi eonnie... Oppa akan memarahiku kalau... Eonnie!!!" Minji pun membuka pintu rapat, dan mendorong Cheska masuk.

"Ah!! Eonnie!! eh!!.. hehehe...." gumam Cheska kebingungan.

"Cheska.!! apa yang membuat kau lancang masuk ke ruang ini Hah!!" tanya Yochun

"Dia dari devisimu?" Tanya seorang pemegang saham yang jarang berkunjung ke kantor.

"Iya.. maafkan saya Tuan." Yochun pun menyuruh Cheska keluar dari pintu lainnya sambil tetap memarahi anak buahnya Yochun mengambil poster dari tangan Cheska, lalu menendang keluar anak buahnya yang mulai menyebalkan. Yochun tak menyadari di balik pintu yang ia buka, ada Minji yang sedang menunggu informasi dari Cheska.

"Sssttt... info apa yang kau dapatkan? mereka merapatkan apa?" tanya Minji pada Cheska.

"Jangan disini Eonnie... mereka akan keluar sebentar lagi... Kajja... kita bicara di lift saja..." Mereka berdua secepat kilat berlari ke dalam lift.

"Eonnie... Yochun mengatakan kepada beberapa pemegang saham, kalau Jae adalah perancang busana yang biasa saja, Ia akan mengganti Jae dengan orang lain, maka dari itu setelah ini, Jae akan dijemput Oppa, mereka akan menuju pameran di Busan, lalu Oppa akan menempatkan Jae di anak perusahaan di Busan, Eonnie... aku tahu hal ini dari Geun... kumohon.... jangan sampai Oppa melakukan hal itu, reputasi buruk perusahaan kita akan semakin menjadi-jadi... Oppa... mungkin cemburu... tapi kau tak pernah mengkhianatinya kan Eonnie?"

"Yochun.... bisa-bisanya kau berpikir sampai seperti ini... Aigoo...!!! kau membuatku pusing!!!" keluh Minji sambil meremas rambutnya. "Tentu saja aku tak akan pernah mengkhianatinya Ches... aku akan menjemput Jae lebih dulu... untuk perusahaan... bukan untuk diriku... sudah... aku harus cepat cepat ke airport... terima kasih kau dan Geun mau membantu perusahaan...Maafkan Yochun... mungkin ia sedang lupa kalau perusahaan lebih penting daripada perasaannya...bye Cheska..."

"Bye... Eonnie... selamatkan Jae... Eonnie..." Minji pun berlalu, meninggalkan Cheska di dalam lift sendiri.

Lift menutup dengan perlahan, ketika menutup sempurna, Cheska berteriak-teriak histeris. ia mengambil handphone di saku celananya. menempelkan ke telinga kanannya, lalu menunggu panggilan tersambung.

"GEUN!!!!!!!!!! Haahahahaha........ Aku berhasil membuat Minji marah pada Yochun!!!! hahahaha..... hmmm a!! sekarang dia pergi ke airport, katanya menjemput Jae lebih dulu... JEMPUT SAJA SENDIRI!!!! Hahahahaha....... Babo.... !!! hahaha... Okey... sekarang giliranmu.. buat Yochun membenci Minji... Okey!!! Gomawoyooooo"

***

Minji, turun dari bis, ia segera masuk ke dalam airport, membawa papan nama yang bertuliskan "JAE" dengan tinta warna warni.

"Aku tak akan biarkan mereka membawamu ke pameran itu Jae... lihat saja... kalian mau merebut Jae dari perusahaanku...??? Oh... tidak bisa!!!" omel Minji sendiri. Ia mengangkat tinggi-tinggi papan nama "JAE" diatasnya.

"JAAAAEEEEEE!!!!! COME TO ME!!!" teriak Minji sambil membelah antrian orang yang menunggu di ruang kedatangan.

Semua orang melihat Minji dengan tatapan sinis, gadis kecil mungil itu akhirnya sadar juga, prilakunya sudah kelewatan kali ini.

"Mianhae... mianhae... hehehe.. aku terlalu bersemangat... silahkan teruskan menunggu... hehehe..." kata Minji sambil merapat ke dinding paling pojok. dan menempelkan badannya ke dinding.

"Jae............ ayo datang padaku... lihat papan nama ini..." bisik Minji. "Jae... kumohon... jangan membuat perjanjian dengan Yochun dulu.... ayo... datanglah padaku...." pinta Minji dalam bisikannya.

***

Di ruang kerja, tampak Yochun sibuk sendiri dengan program marketing yang tadi ia rapatkan dengan pemegang saham. Geun tiba-tiba masuk dengan tergesa.

"Hyung!! Apa kau tahu satu hal!?!" tanya Geun tergesa-gesa.

"Wae....? Mollayo..." Gumam Yochun tak peduli.

"Eonnie Minji... katanya pergi ke airport menjemput Jae... apa kau tahu itu??? apa dia bilang padamu lebih dulu??"

BRAKKK!!! Yochun mulai nampak sebal, ia mengempaskan pena nya di atas meja. Hingga Geun hampir meloncat karena terkejut.

"Hyung... kenapa marah padaku?... Aku mengatakan yang sebenarnya... bawahan Minji mengatakannya padaku, Eonnie tampak bahagia ketika ingin menjemput Jae... apa mereka masih punya hubungan hyung?"

"Sudah??... kau sudah selesai... ??"

"hummm Sudah..." gumam Geun yang ketakutan melihat tatapan sinis Yochun padanya.

"Geun... ini kantor... bisakah kau tak membuatku memikirkan hal pribadi... HAH!!! Apa kau tak ada kerjaan lainnya?? Hingga kau mau-maunya mencari berita seperti itu HAH!!... Minji sedang pergi ke butik temannya... DAN IA SAMA SEKALI tak berhubungan dengan Jae... aku tahu pasti... APAKAH hubunganku dengan Minji terlalu penting bagi kalian hah!!"

"Hyung... kali ini... dengarkan aku... Ayo kuantarkan kau ke airport dan kita lihat sendiri faktanya... Aku tak ingin dia membodohimu Hyung..."

"Minji tak akan pernah membodohiku..."

"Hyung... aku hanya ingin menolongmu... itu saja... ya sudah kalau kau tak mau, selamat menjadi korban Minji selanjutnya.." Yochun bangkit dan mencengkram leher Geun dengan penuh emosi.

"Jangan pernah kau menggambarkan Minji seperti wanita brengsek di depanku.... Ayo... antar aku ke airport... kita buktikan... kau yang brengsek... atau Minji... seperti katamu tadi"

To be continue

FF Oneshot : Are you really waiting me?


Oneshoot Fiction : Are you really waiting me?

"Sebelum/Sesudah membaca Fanfiction ini, budayakan share, Like, dan komentar. Terima kasih atas dukungannya"

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : V and You

Genre : Randomly

***

Aku jenuh dengan semua rutinitasku, yang tak pernah bisa dihentikan, setiap hari aku harus pergi ke sekolah, siangnya aku harus pergi ke berbagai tempat untuk mengantarkan Kimbap untuk makan siang beberapa pekerja. Malamnya, aku hanya bisa tidur 3 jam, setelah itu aku harus kembali mengerjakan semua tugas, sekaligus pekerjaan sampingan sebagai editor sebuah majalah remaja di Seoul.

Terkadang, saat tengah malam aku sering tak tidur, waktu yang tersisah hanya 3 jam, dan itu cukup sedikit untuk tidur, aku lebih memilih berkeliling kompleks, hingga aku tertidur di taman mawar di taman dekat rumah, seperti biasa.

Malam ini, Ibu tak memasak, aku hanya sendirian di rumah, Ibu meninggalkan sepuluh ribu won diatas lemari es, dengan catatan "belilah makanan di luar, ibu pulang besok pagi, nenekmu minta di temani seharian"

Aku tahu pasti, ketika ibu mengatakan besok, berarti belum pasti besok ia akan pulang. Kurapikan semua pekerjaanku malam ini, lalu dengan jaket dan payung segera kunikmati jalan-jalan malam hari. Seperti biasa.

Malam ini, aku ingin sekali makan sosis balut keju yang dijual di kompleks perumahan sebelah. Kulangkahkan kakiku, berjalan mengitari rumah-rumah yang sudah mulai dimatikan lampunya. Tentu saja mereka sudah mulai tidur, jarum jam di jamtanganku, menunjukkan pukul 10 malam.

Segera kupercepat langkah kakiku, karena perutku yang kelaparan ini tak bisa diajak kompromi lagi. Ditengah jalan, ada seorang pria yang tergeletak ditengah jalan.

Kuhentikan langkahku, pria itu sepertinya tertidur di tengah jalan, atau, ia salah satu korban tabrak lari?, tapi tubuh dan wajahnya sama sekali tak ada luka yang serius.

"Hei..." kataku sambil menggerakkan tangannya. Pria itu tak bergerak sama sekali, kulihat rambutnya yang berwarna pink campur pirang, wajahnya yang berbentuk v sempurna, bibirnya yang seksi, ah... apakah pria ini sedang mabuk?

"Hei...." kucoba lagi menggerakkan bibirnya yang seksi dengan ranting kecil yang kuambil dari pinggir jalan. bibirnya yang tampak lembut tak bergerak sama sekali. Aku takut ia sudah menjadi mayat, dengan penuh rasa takut, akupun menunduk dan melihat apakah ia masih bernafas atau tidak. Leganya perasaanku, ketika kulihat dadanya yang bidang bergerak turun naik.

"hmmmppptt... Hei...Bangun... Kau siapa?" kataku sambil menggerakkan, rambutnya dengan ranting, lalu kumainkan pipinya yang terlihat lembut.

"Hei.... nanti ada mobil yang lewat... kau bisa mati... kajja bangun... apa kau perlu bantuan?" tanyaku lagi dengan nada yang lebih keras.

Pria itu pun membuka matanya yang indah, ia menatapku, detak jantungku tiba-tiba menjadi tak beraturan, tatapannya yang sinis membuatku salah tingkah, keringat tiba-tiba mengucur di dahiku.

"Bisakah kau tak mengganggu orang tidur?" tanya pria itu dengan suaranya yang sungguh istimewa. Baru kali ini aku mendengar pria yang memiliki suara gentle.

"Ah.... Hmmm..." Gumamku, aku tak tahu apa yang bisa kukatakan padanya, dan aku tak berani mengatakan apapun pada pria istimewa yang ada didepanku.

"Aku hanya mencoba tidur di jalan... tak akan ada mobil yang lewat... ini sudah pukul sepuluh lebih, semua jalan ke kompleks ini sudah di tutup. Tak ada mobil yang bisa keluar masuk.."

"hmmm.... " gumamku.

"Apa kau ingin duduk disitu sambil melihatku tidur?..." sindir pria itu, aku langsung berdiri dan membersihkan kaosku yang berdebu.

"Mianhae... mengganggu tidurmu..."

"Aku tidak ingin memaafkanmu begitu saja... Kenalkan..aku Kim Taehyung... aku baru pindah malam ini, kau bisa lihat rumah kecil di atas apartemen itu... itu rumahku..... tolong!!" katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Akupun menariknya hingga ia berdiri tepat di depanku.

"hmmm...."

"Ahhhh!!... rupanya... tidur di jalan kompleks ini lumayan..." kata Taehyung sambil membersihkan punggungnya dari debu.

"Lumayan?"

"Ya... Lumayan menyakitkan hahahahahahahaha" Ia pun tertawa dan memperlihatkan giginya yang tertata rapi padaku.

"Hehe... tentu saja... senang berkenalan denganmu..." kataku sambil berlalu darinya.

Berjalan sebentar mengitari blok, tak kusangka ternyata Taehyung mengikutiku dari belakang.

"Kau mengikutiku?" tanyaku sambil menunggu Taehyung.

"Tentu saja... hobiku jalan-jalan di malam hari... kau masih punya hutang denganku... membangunkan orang tidur adalah kesalahan yang tak bisa dimaafkan... tapi aku akan memaafkanmu kalau kau mau menemaniku jalan-jalan" kata Taehyung mendahuluiku

"Tapi aku harus beli makan malam dulu... bagaimana?"

"Oh!!! Benar-benar sebuah kebetulan... aku juga belum makan malam... Kajja... kita berangkat..." kata Taehyung sambil memimpin lebih dulu.

"Mianhae... tapi kau salah... bukan belok kiri... tapi belok kanan!" teriakku,

"Oh... hahahahahahahahaha" Taehyung pun tertawa lagi, memperlihatkan giginya yang manis padaku.

***

Malam itu, kami menikmati okonomiyaki bersaama, lalu berjalan sampai tengah malam. Banyak yang kami ceritakan, Taehyung banyak menceritakan tentang keluarganya, ia hanya tinggal dengan kakeknya semenjak kecil, Orangtuanya yang tinggal di Jepang, telah menitipkan Taehyung pada kakeknya, dengan alasan tak ingin direpotkan. Taehyung terlihat begitu kesepian dan hanya ada satu keinginan dalam benaknya. Ia ingin bertemu dengan kedua orang tuanya di Jepang.

Malam itu, menjadi permulaan pertemanan kami. Setiap malam aku selalu menunggu Taehyung di seberang apartement, tepat pukul 10 malam, aku selalu tidur di jalan kompleks, merasakan dinginnya malam, dan menatap indahnya bintang gemintang.

Terkadang Taehyung yang menungguku, ketika tugasku belum selesai juga, aku terpaksa datang pada pukul 12 malam. Taehyung tetap tidur di jalan kompleks, hingga suatu hari ia terserang flu karena kebiasaannya itu.

***

Malam ini, tugas sekolah dan kantor sudah kukerjakan dengan cepat, aku ingin mengatakan kalau bulan depan aku akan kuliah di tempat Taehyung, dan kita bisa bertemu di pagi hari, bukan hanya ditengah malam.

Dengan jaket dan sepatu boots, aku berlari menuju jalan kompleks tempat dimana Taehyung menghabiskan malamnya. Tepat sekali, pria istimewa yang sudah menjadi teman baruku itu masih tak lelah tidur di tengah jalan kompleks.

"Taehyung!!! Hehehehe" kataku sambil tidur di sebelahnya,

"Heehehehehehe... sudah makan? Aku membawakan kimbap... berjaga-jaga kalau kau belum makan" kata Taehyung sambil menaruh kotak yang hangat diatas perutku.

"Gomawoyoo...hehehee"

"Hummm hehehe....Bagaimana hari mu?"

"Menyenangkan... ah... Taehyung... aku punya kabar baik untukmu..."

"Aku juga punya kabar baik untukmu..." kata V sambil melirikku.

"Aku diterima di kampusmu... hehehehehe... setiap hari kita bisa bertemu Taehyung.... apa kau senang??"

"Ahmm.... Aku senang akhirnya kau bisa diterima di kampusku... Selamat.... hehehehehe"

"Apa kabar baik darimu Taehyung... cepat katakan padaku...."

"Tidak... itu bukan berita baik..." kata Taehyung tiba-tiba membuat suasana menjadi aneh, ia memandangi langit dengan penuh makna.

"Ada apa Taehyung? Apa ada masalah denganku? atau dirmu?"

"Ibu dan Ayahku...menyuruhku dan kakek untuk pindah ke Jepang, mereka mengatakan kalau sudah mendapatkan rumah yang lebih besar untuk kami berempat. dan Ayahku sudah menjadi komisaris di sebuah perusahaan, Ibuku sudah menjadi koki utama di sebuah hotel... penghasilan mereka sudah lumayan besar... maka dari itu... mereka menyuruhku pindah... Mereka sudah menyiapkan semuanya ternyata..."

"Lalu...."

"Besok pagi... aku harus pindah... ke Jepang... tapi setidaknya aku masih pindah ke Jepang, kita bisa saling berhubungan melalui telephone atau email, atau chat... iya kan?"

"Tapi... aku sudah berhasil masuk ke kampusmu Taehyung... bagaimana denganku?" tanyaku, tak terasa airmataku mengalir begitu deras, dadaku yang sesak menuntutku untuk menangis melepaskan semua rasa khawatir.

"Kau bisa mencari teman yang lain kan? ghehehehehe... yang lebih gila dariku... bagaimana?"

"Tidak akan sama... Taehyung... tidak akan sama...." kataku mulai histeris.

"Ada temanku yang suka tidur di tengah jalan seperti ku... nanti kukenalkan kau dengannya.... bagaimana?"

"Taehyung......Babo.... semua tak akan sama... apa kau tak bisa mengerti hal itu??"

"Sudah... hapus airmatamu... kalau ibumu tahu... aku bisa terkena masalah..." Kata Taehyung sambil menyeka airmataku, lalu mencubit pipiku. "Aku juga tahu semuanya tak akan pernah sama... akupun bingung saat ini... bagaimana aku bisa hidup tanpamu... teman yang selama ini memenuhi pikiranku..."

Kupikirkan lagi, Taehyung sudah lama menunggu saat-saat ini, bisa berkumpul dengan ibu dan ayahnya di Jepang. Aku tak bisa melarangnya begitu saja, mereka terlalu berharga dibanding dengan diriku.

"Taehyung...."

"Hmmm...."

"Pergilah... aku akan menunggumu... disini... asal suatu hari nanti... kau kembali untukku... kita tidur lagi di tengah jalan seperti ini... kita menikmati bintang seperti ini lagi... dan jalan-jalan di tengah malam lagi... dan kau harus berjanji... walaupun banyak gadis yang kau temui... ingatlah aku... arrasseo?"

"Kau yakin mau menungguku?" tanya Taehyung penuh keseriusan.

"Aku yakin bisa melakukannya..."

"Baiklah... kau boleh menungguku... tapi jangan pernah menangisiku... aku akan tinggal di jepang selama 4 tahun... Selama itu... kau harus menungguku... bagaimana? kau masih mau menungguku?"

"Aku akan menunggumu... sampai kau kembali kepadaku" kami pun saling bertatapan, Taehyung kembali memperlihatkan giginya yang indah.

"Hehehehehehe.... kau memang gadis yang pemberani... mau menunggu pria yang tak jelas sepertiku..." kata Taehyung lagi-lagi sambil mencubit pipiku.

"Untuk Taehyung... aku akan menunggu... walaupun hal itu sungguh menyebalkan..." kataku sambil mempermainkan bintang yang ada di hadapanku. Langit begitu indah dimalam yang menyakitkan yang seperti ini.

"Dan... untuk gadis yang selama ini memenuhi pikiranku... untuk gadis yang mau menungguku sampai aku kembali padanya... Aku berjanji... tak akan pernah membiarkan siapapun merebut tempatmu di pikiranku dan hatiku... Gomawoyo...nan jeongmal salang haeyo" gumam Taehyung sambil mencium pipiku yang semakin memerah dibuatnya.

The end

Fanfiction RUN Part 9 - Ulzzang


Fanfiction : RUN!! Part 9

"Sebelum/Sesudah membaca Fanfiction ini, budayakan share, Like, dan komentar. Terima kasih atas dukungannya"

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : song ah ri (Ulzzang) : Song Ah Baek Jae Ah(Ulzzang) : Jae Ah Park Ji Ho (Ulzzang) : Ji Ho Na Hyun Chul (Ulzzang) : Hyun Park Hyung Seok (Ulzzang) : Hyung Seok Wong Jong Jin (Ulzzang) : Jong

Genre : Mystery, Friendship

Lokasi : Incheon, Tokyo, Aokigahara


***

Satu bulan sudah waktu berlalu, Jong dan beberapa temannya yang berlibur di hutan paling menyeramkan di Dunia, rupanya sudah melupakan hal itu dan kembali ke aktivitas mereka sehari-hari. Jiho, kembali bekerja di bengkel keramik traditional di Seoul. Jong kembali dengan aktifitasnya mendaki gunung bersama beberapa teman Korea Hunting nya, Seok sibuk mengurusi kegiatan kampus yang sekarang menjadi sorotan pemerintah Seoul. Sedangkan Song Ah dan Jae Ah, seperti biasa mereka hanya menjalani perkuliahan lalu pulang atau bekerja di butik dan restoran sebagai pegawai freelance, pegawai yang bisa dipecat kapan saja. Sedangkan Hyun lebih memilih menjadi model beberapa online shop.

Sore ini Hyun melakukan pemotretan di dekat cafe dimana Song Ah bekerja, Song Ah hanya tersenyum saja melihat bagaimana jalannya pemotretan. Hyun yang biasanya terlalu susah diatur, kini terlihat lebih dewasa dengan berbagai setelan kemeja dan jas yang disediakan online shop untuk ia pakai.

Selesai pemotretan Hyun segera bergabung dengan Song Ah yang bekerja di kasir.

"Song Ah bisakah kita bicara sebentar... ada hal yang ingin kuceritakan..." kata Hyun

"Ok. Sebentar... Minnah... gantikan aku sebentar..." kata Song Ah sambil melepas celemeknya lalu keluar dari bar cafe.

Diikutinya Hyun yang berjalan di depannya. Mereka berdua menuju ke meja yang dekat dengan jendela.

"Duduklah Song Ah... sebentar aku lupa memesan minum hehehe... tunggu kau mau pesan apa?" tanya Hyun sambil bangkit berdiri lagi.

"Tak perlu... kau pesan saja... aku sudah mencoba semua minuman disini hehehe" kata Song ah sambil merapikan letak rambutnya.

"Hari ini aku dapat komisi dari online shop... kau kutraktir... aku pesankan chocolate bar. okey?"

"Humm... baiklah... terserah kau saja" kata Song Ah sambil mengangguk pasrah. Tak perlu menunggu lama, Hyun pun lari kembali ke meja dimana Song Ah sudah menunggunya.

"Tadi kau bilang ada yang ingin kau ceritakan... ada apa Hyun?"

"Kau bertanya seperti itu. bulu kudukku langsung berdiiri Song Ah... sebentar... aku pakai jaket dulu" kata Hyun yang badannya kelihatan menggigil.

"Kau sakit Hyun?"

"Haisssh... Iya... aku bisa sakit jiwa kalau begini terus... Song Ah... kau masih ingat peristiwa itu?... Akako.. kau masih ingat?"

"Akako....aku melakukannya untuk melindungi diriku Hyun... kau juga seperti itu... ada apa? apa ada orang jepang yang melihat kita berdua? Apa ada yang mencari kita Hyun? Bagaimana ini?" tanya Song Ah mulai khawatir dengan keselamatannya.

"Kalau manusia yang mencari kita, aku masih bisa menerima... tapi beberapa hari yang lalu, ada yang mencariku di apartement, seorang gadis yang bernama Akako, ia mananyakan dimana apartementku pada pengurus apartement, kata Pak Ming, orang yang mengurus apartement setiap sore, Wanita itu memakai baju kimono dengan rambut panjang, wajahnya cantik tapi pucat, sebelumnya ia bicara dengan bahasa jepang, tapi karena pak Ming tak bisa berbahasa jepang, ia memanggil anaknya, kata anak pak Ming, Akako mencari apartementku. Karena anak pak Ming tak mau percaya begitu saja, ia bilang Hyun tak tinggal di situ. Ahhh... Aku lega... Song Ah... Hantu Akako sedang mencari kita berdua... kita harus pergi ke Shaman untuk menanyakan hal ini... kalau tidak.... aku takut ... ia akan membalaskan dendam sampai kita mati..." jelas Hyun sambil bersandar ke jendela cafe.

"Hahahahaha... kau ada-ada saja Hyun.... aku tak akan bisa percaya begitu saja denganmu... sudahlah Hyun jangan bercanda... aku akan kembali bekerja...hummm... terima kasih chocolate bar nya..."

"Song Ah.... aku tak bercanda kali ini..." kata Hyun yang mulai menangis di hadapan Song Ah.

"Hyun...." Song Ah pun mulai sadar kalau temannya tak bercanda kali ini.

"Hantu Akako... juga mencariku di kampus, ia bertanya ke semua teman satu kelompokku, dimana Hyun, dimana Hyun... Song Ah... antarkan aku ke Shaman... aku tak ingin mati... Aku tak akan biarkan Akako membalaskan dendamnya pada kita berdua...gadis gla itu harus mati.... dia memang pantas mati... bukan kita... bukan kita..." rengek Hyun sambil menyembunyikan wajahnya dibalik tangannya yang menggantung di meja.

"Hyun.... besok kuantar kau ke tempat Shaman kepercayaan keluargaku... tapi aku bisa mengantarmu besok... bagaimana?"

"Tidak masalah Song Ah... Terima kasih... tapi bisakah aku tidur di rumahmu? aku takut di apartement sendirian... bolehkah?"

"Humm... boleh... tapi kau harus menungguku, dua jam lagi aku akan bertukar shift dengan pegawai baru... kita akan pulang bersama nanti... tenangkan dirimu Hyun... tak akan terjadi apa-apa pada kita berdua... percayalah..." kata Song Ah menenangkan Hyun.

Di luar cafe, Seok mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam cafe, setelah menyaksikan sendiri Song Ah, sedang sibuk menghapus airmata Hyun dan menenangkan pria itu. Dibuangnya sebungkus coklat yang ia bawa. Nampak sekali kekecewaan di mata Seok. Banyak pertanyaan mencuat satu persatu di pikirannya. Mengapa kekasihnya akhir-akhir ini lebih dekat dengan Hyun dan selalu menjauh darinya.

Seok terus melanjutkan langkah kakinya, tak tahu harus kemana. Ia membuka handphonenya dan menghubungi Song Ah.

"Yoboseyo...Song Ah.. kau dimana? hmmmm di rumah?... malam ini aku ke rumahmu boleh? hmmm ada apa? oh... berapa lama kau keluar kota? hmmm sampai besok lusa... bisakah kita bertemu sekali saja... ada banyak yang ingin kutanyakan padamu... ah... tidak... hanya saja.... oh.. begitu... baiklah... annyeong..." Seok hampir saja menghancurkan handphonenya dengan menghempaskannya ke trotoar, tapi ia berhasil menenangkan perasaannya.

"HAAAAASSHH!!! Nappeun Yeoja..." gumam Seok.

"Oppa!!!!... Seok Oppa!!!!!" Panggil seorang gadis dari belakang. Seok menoleh ke belakang, mencari siapa yang memanggilnya.

"Oppa..!!! disini!!! lihatlah ke atas!!"

"Oh!!! Jae Ah!!! hahaha... sedang apa disitu?" Seok berbalik dan mendekati balkon dimana Jae Ah berdiri.

"Aku bekerja di cafe ini Oppa... mampir lah... ada diskon hari ini..."

"Wah... baiklah... hehehe"

Seok duduk di balkon, dimana Jae Ah bekerja, menikmati angin sore dan pemandangan jalanan Seoul yang padat merapat.

"Kau pesan apa Oppa?" tanya Jae Ah sambil memberikan buku menu.

"Sudah lama bekerja disini?" tanya Seok sambil membuka buku menu dengan teliti.

"Sebelum liburan kemarin, aku sudah bekerja disini... wafelnya lumayan enak oppa... kau pesan itu saja... ukurannya cukup besar, nanti kubantu makan.... kebetulan aku belum makan hihihihi" kata Jae ah terlalu jujur.

"Ah... begitukah... hehehe okey pesankan aku dua wafel. Satu untukku, satu untuk Jae Ah..."

"Gomawoooooo Oppaaaa!!" teriak Jae Ah, ia membawa pesanan ke dapur lalu kembali duduk di depan Seok.

"Oppa... bagaimana kabarmu? mengapa jarang main ke kantor Jong oppa?"

"Aku.... terlalu sibuk minggu ini... ada apa? kau merindukanku? kulaporkan ke Jiho kalau kau tertarik padaku... hihihi"

"OPPA!!! Awas kau... kalau kau melakukan hal itu... aku tak akan pernah menjadi temanmu lagi!!"

"hmmm... Jae Ah marah... bagaimana kabar Jiho..?"

"Dia... pekerja yang tak kenal waktu, minggu kemarin kami menggelar pameran di pusat Seni. Aku menitipkan tiket untukmu ke Song Ah... apa dia tak memberikannya padamu Oppa?"

"Anni..."

"Haaassshh... Song Ah... selalu seperti itu... padahal minggu kemarin aku sudah menunggu kalian berdua Oppa... baiklah... mungkin lain kali kami berdua bisa mengundangmu lagi..." kata Jae Ah yang tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

"Jae Ah... Misalkan... Jiho... pergi dengan gadis lain.. dan kau merasa sedih juga kecewa... apakah itu pantas?"

"MWOOOOO!!! Jiho Oppa pergi dengan siapa???" Jae Ah tiba-tiba berteriak mengagetkan siapa saja yang makan di balkon.

"Mianhae... mianhae..." gumam Jae Ah sambil menundukkan kepalanya ke segala arah, sebagai rasa permintaan maaf.

"Oppa!!! Kau lihat Oppa Jiho dimana??? ia pergi dengan siapa??" tanya Jae Ah sambil mendekatkan kursinya ke sebelah Seok.

"Aku bilang misalkan... Jiho kubuat sebagai contoh saja.. Ia tak pernah pergi dengan siapapun kecuali dirimu... aku hanya mengambilnya sebagai contoh saja..."

"Oh....begitu... ahhhsss.... aku lega... lalu oppa... siapa sebenarnya yang kau bicarakan?"

"Song Ah... hari ini ia berbohong padaku, ia bilang berada di rumah... padahal aku melihatnya sendiri... ia sedang bersama Hyun... bagaimana menurutmu? apa kira-kira yang mereka lakukan?"

"HYUN!!!! Dia pergi dengan HYUN!!!!! AIGOOOO!!! Dia berbohong hanya untuk HYUN!!! HYAAAAAAA!!!" teriak Jae Ah.

"JAE AH!!! PESANANMU!!! CEPAT!!! JANGAN BERTERIAK LAGI!!! ATAU KUPECAT KAU!!!" teriak koki dari dalam bar cafe.

"Mianhae.... mianhae... mianhae....." gumam Jae Ah sambil menundukkan kepalanya ke segela arah dan berjalan ke bar, mengambil dua wafle dan jus jeruk pesanan Seok.

"Oppa... makanlah dulu... isi perutmu dulu... baru kita pikirkan apa sebenarnya yang terjadi dengan mereka berdua... eoh... kajja makanlah dulu..." kata Jae Ah. tapi Seok tetap berdiam diri, serasa tak tertarik dengan wafle lezat yang tersedia di hadapannya.

"Oppa... apa perlu kusuapi... eoh... Kajja... makanlah..." kata Jae Ah sambil melahap Waflenya sendiri dengan cepat.

"Hehehehe... jangan tergesa-gesa... makanlah seperti seorang gadis..." kata Seok sedikit terhibur setelah melihat noda saus coklat di pipi Jae Ah.

"Heheehehehe Aku harus bekerja lagi oppa... waktu makanku cuma 5 menit... "

"Aigooo.... kotor sekali..." kata Seok sambil menyeka noda di bibir dan pipi Jae Ah.

"Oppa... apa yang kau lakukan tadi... mungkin sama dengan apa yang dilakukan Song Ah dengan Hyun... mereka hanya teman Oppa... tak ada yang perlu di khawatirkan... Song Ah... tetap milikmu... ia tak mungkin bermain perasaan dengan Hyun... percayalah padaku...."

"Hmmm terima kasih Jae Ah... kau benar... malam ini aku akan membuat surprise untuk keluarga Song Ah,... kalau menurutmu... apa yang harus kubawa ke rumah Song Ah sebagai surprise?"

"Daging segar... dan jamur... oppa... Song Ah paling suka barbeque kan? keluarganya pun begitu..."

"Kau yakin?" tanya Seok sedikit tak percaya

"Yakin oppa... Song Ah lebih suka barbeque daripada bunga hehehehe" jawab Jae Ah sambil menyeka wajahnya yang penuh noda saus coklat, waflenya sudah habis tak tersisah.

"Okey.... terima kasih Jae Ah... aku harus belanja dulu... makanlah wafle ku... ini uangnya... annyeong Jae Ah...!!"

"Yaaaaaaa Oppa....!!! Aku sudah kenyang!!!!!!" Sekeras apapun Jae Ah berteriak, Seok tak akan mendengarnya.

"JAE AH!!!!!!!! JANGAN BERTERIAK LAGI!!! ATAU KUPECAT KAU!!!!" Teriak kepala koki dari dalam bar.

Jae Ah yang ketakutan langsung berdiri dan menundukkan kepalanya sekali lagi ke segala arah sebagai simbol permintaan maaf.

To be continue

Shit Down Chap 6 Nakata


Flash Story : Shit Down
Author : Ayuna Kusuma

"Sebelum/Sesudah membaca Fanfiction ini, budayakan share, Like, dan komentar. Terima kasih atas dukungannya"

Chapter Six :

Nakata Side :

Malam telah larut, tapi Yoshi tetap saja tak inginkan aku pergi, ini hari kedua aku kencan dengannya, sesuai perjanjian semula, demi memberikan pengalaman yang indah untuk Yoshi sebelum meninggal, aku harus berkencan dengannya. Sisa empat hari lagi, setelah itu aku bisa lepas dari Yoshi, walaupun Yoshi tak jadi meninggal seperti yang ditetapkan dokternya.

"Nakata... tetaplah disini... aku takut sendirian..." kata Yoshi sambil melingkarkan lengannya ke lenganku, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku yang sudah mulai lelah menjadi sandarannya seharian.

"Yoshi... kau tak bisa menahanku selama ini... aku hanya ingin membantumu... tapi kalau kau menuntutku selalu bersamamu seperti ini... aku tak bisa menuruti semua keinginanmu... ada seseorang yang pasti menunggu sekarang... tidurlah... ibumu pasti mencarimu... besok kita bertemu lagi..." Kucoba melepas lengan Yoshi dari lenganku, tapi pelukannya semakin erat, membuatku sesak dan sedikit risih.

"Chigau!.... kau harus bersamaku... aku tak bisa hidup tanpamu Nakata..."

"Yoshi... aku juga tak bisa hidup tanpa orang yang menungguku saat ini... kumohon... mengertilah..."

"Apa yang kau maksud Dokter Nanako? apakah kalian saling mencintai?..."

Aku hanya bisa mengangguk menyetujui prasangkanya, benar sekali Yoshi, kami berdua memang saling mencintai, dan kau tak bisa seenaknya menahanku.

"Nakata...apa... apa kau GILA !!! hah... Dokter Nanako kakakmu... kau tak bisa seenaknya mencintai kakakmu sendiri... kalian saudara kandung... bagaimana bisa... Oh...!!" Yoshi pun melepaskan pelukannya.

"Kau salah Yoshi... aku dan Nanako tak pernah terikat tali persaudaraan, walaupun orang tua kami menikah, dalam hukum negara, kami masih bisa menikah. karena kami sama sekali tak pernah terjalin hubungan darah.... Kumohon mengertilah... aku hanya membantumu, pura-pura berkencan denganmu selama seminggu agar kau bahagia nantinya... tapi kau tak bisa begitu saja menahanku seperti ini.."

"Nakata.... tapi aku...." Aku pun bangkit dari bangku di taman, tak mau lagi mendengar penjelasan Yoshi yang sering sekali terlalu egois, kutinggalkan ia disana sendiri, dan kucoba tak mendengar semua teriakannya.

Kulihat handphoneku yang selama seharian ini kusimpan di saku jaket, inboxku penuh dengan pesan Nanako,

"Jangan lupa minum obatnya..."

"Angin sedang berhembus kencang siang ini, jangan lupa jaketmu Nakata, hati-hati, jaga Yoshi"

"Kau sudah makan siang? jangan makan yang mengandung gula... jaga kesehatanmu"

"Nakata.... Sore ini akan ada hujan... jangan keluar saat hujan..."

dan banyak lagi pesan, semua yang ia kirimkan ke inboxku menandakan ia sebenarnya cemburu pada Yoshi, ia ingin lebih memperhatikanku, Nanako ingin mengingatkan kalau ia mencintaiku.

"Kutunggu kau di rumah... jangan pulang terlalu malam, ibu mencarimu... ia mulai mengkhawatirkanmu Nakata..." itulah pesan Nanako yang terakhir.

***

Bis terakhir malam ini hanya aku yang menggunakannya, supir bis yang masih semangat meluncurkan bisnya di tengah malam, selalu mendendangkan lagu Jepang tempo dulu, satu persatu memori itu hadir di benakku.

Bagaimana sikapku yang sedikit kasar pada Yoshi, gadis yang sama sekali tak bisa dibilang beruntung hidup di dunia ini. Bagaimana bisa aku bersikap seperti itu padanya, padahal waktunya hidup di dunia ini tak lama lagi. Tapi ingatanku berakhir pada senyum Nanako, aku tak mungkin bisa menghianati cinta sejatiku.

Aku tak bisa meninggalkan Nanako yang sudah berpuluh tahun yang lalu aku mencintainya bukan sebagai kakakku. Tapi bagaimana bila sikapku pada Yoshi membuat Nanako bersikap kasar padaku, seperti ada karma antara kami bertiga.

Nanako.... tak mungkin melukaiku.

Hanya itu yang bisa mengakhiri pikiranku malam ini, dan Yoshi pun tak akan bisa menyakitiku, pria yang sudah membuatnya bahagia, pria yang sudah merelakan waktunya hanya untuk gadis yang baru dikenalnya.

"Kau turun di halte di depan kan?"

"Kyō wa i!"

Bis pun berhenti,

"Dōmo arigatōgozaimashita" kataku sambil melambai pada pak tua sopir bis tengah malam.

"Hai... Chūi shite kudasai" gumam pak tua ramah, sambil menutup pintu bis.

"Nakata!!!" panggil seseorang di belakangku, aku bisa mengenali siapa yang berlari mendekat dari belakang, setelah kubalikkan badanku, benar seperti dugaanku, Nanako berlari ke arahku, ia semakin cantik bila rambutnya yang pancang di kuncir dua, dengan jaket warna pink ia seperti bersinar di tengah malam yang kelam seperti saat ini.

"Nakata... ada apa? apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Nanako sambil berputar layaknya seorang putri raja yang ingin memerkan gaunnya.

"Ie... Kau terlihat cantik... sedang apa disini? bukankah kau harus tidur...? ini sudah tengah malam.. besok hari Kamis, kau ada jadwal operasi kan?"

"Hmmm... itulah sebabnya... aku ingin penyegaran pikiran... hehehe"

"Begitu... Benarkah ibu mencariku?"

"Iya... ia mencarimu untuk memarahimu... Nakata... kalau aku punya permintaan... maukah kau berusaha mewujudkannya?" tanya Nanako sambil menggapai tanganku.

"Apapun yang kau minta... aku akan berusaha Nanako..."

"Belikan aku ice cream... Okonomiyaki... malam ini... berkencanlah denganku... Yoshi, gadis yang tak kau kenal saja, kau berikan ia kebahagiaan... apalagi aku... wanita yang selama ini kau cintai... maukah kau berkencan denganku?... setidaknya malam ini saja... setidaknya... belikan aku ice cream atau okonomiyaki... setidaknya...." Entah mengapa, aku tak ingin ia mengatakan apa-apa lagi, aku tahu mengetahui aku berkencan dengan Yoshi adalah hal yang menyakitkan bagi Nanako. Tak banyak bicara lagi, kucium bibirnya yang lembut, dari tatapan matanya kutahu kesedihan itu sirna seketika.

"Sā! kita beli ice cream dan okonomiyaki kesukaanmu" kubawa Nanako berlari ditengah malam yang semakin sunyi. Senyuman manis itu kembali kulihat, Nanako berlari di sampingku sambil terus mempertahankan senyumannya hanya untukku. Apapun keadaannya kami akan berusaha selalu merasa bahagia.

To be continue