- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction Diary Part 5

Songfiction "Diary"

Maincast : L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul


***

Sayup-sayup terdengar suara pria bernyanyi, karena keadaanku sangat lelah, semalaman mencuci 4 bak berisi baju kotor milik Myungsoo, kubiarkan saja siapa saja yang menyanyi di depanku. Suaranya yang lembut mampu membuatku tenang dan kembali tidur.

Tak berapa lama, ada yang mencoba mengangkat selimutku, kucoba tak bangun, hanya mengintip siapa yang begitu perhatian mau membenarkan letak selimutku.

"onjong-il geudaega nae meoli sog-eseo hwanhage naleul bomyeo usgo issneyo geudaedo gakkeumssig nal saeng-gaghaneunji oneulbam geudae saeng-gag jam mos ilujyo" Myungsoo lah yang menyanyi di pagi buta, Myungsoo lah yang membenarkan letak selimutku, dan ia lah yang ingin membelai rambutku tapi cepat-cepat ia urungkan niatnya.

Ia tak tahu aku sudah terjaga oleh nyanyiannya yang merdu. Myungsoo terlihat sibuk mengumpulkan cucian yang sudah kering, lalu ia timbun diatas tubuhku yang hanya berselimutkan bad cover tipis. Aku memang sengaja tidur di meja bawah jemuran, di tempat Myungsoo tidur. Menggunakan kamar Myungsoo tanpa izin terlebih dulu mungkin saja bisa membuat dirinya sebal. Apalagi keadaan Myungsoo yang sering lupa ingatan, bisa-bisa aku harus menjelaskan lagi kronologi dari awal.

Ia akhirnya menumpuk semua cucian diatas tubuhku, lalu ia tata seperti selimut. Rasanya semakin hangat, dan berat.

"Hehehe... kalau seperti ini kau tak akan kedinginan.... tidurlah... aku juga akan tidur setengah jam saja... setelah itu kita akan belanja gurita basi di pasar..." kata Myungsoo sambil menutupi leherku dengan kaos miliknya.

Myungsoo pun melakukan hal yang sama pada dirinya, ia timbun cucian kering lainnya di atas tubuhnya, Myungsoo memilih berbaring di teras rumah yang tak kalah dinginnya.

Sup gurita basi, berjanjilah... kau harus laku nanti siang, bantulah Myungsoo mengumpulkan uang, agar ia bisa membayar denda ke Pengadilan, lalu Minjung bisa dibebaskan tanpa syarat.

Sejenak, aku lupa bagaimana keadaanku sebenarnya. Pembunuh keluargaku yang sebenarnya, siapa mereka? apakah aku harus mencarinya? bagaimana caranya? aku sama sekali tak tahu masalah apa yang terjadi pada keluargaku, hingga ada orang yang tega membunuh semua keluargaku.

Selama ini, aku terlalu egois dengan duniaku sendiri, hingga aku tak mau peduli apa yang terjadi di rumah. Kembali ke rumah, tempat pembunuhan itu, mungkin kunci utama, bagaimana aku bisa menemukan pembunuh sebenarnya.

Tapi aku terlalu takut kembali ke sana, kunci rumah masih kubawa, rumah itupun masih milikku, tapi aku tak bisa kembali ke sana dan berpikir tak pernah terjadi apa-apa. Ini terlalu berat untukku.

"AAAAAAAAHHHSSS!!!!!" Tiba-tiba Myungsoo bangun dan berteriak sambil memegangi kepalanya. "Yaaaaa!!! Bagaimana aku bisa lupa!!! Handphoneku... dimana kutaruh tadi ya??!!" Ia pun mulai mencari-cari handphonenya di semua tempat, termasuk di timbunan baju yang berada diatasku.

"Hasssh!!!! Handphoneku.... hmmmm... mianhae.... aku harus mencari handphoneku... kuharap kau mengerti" kata Myungsoo sambil merogoh ke dalam tumpukkan baju.

"Mungkin handphoneku jatuh disini.... ssssttt... kau tidur saja... jangan bangun arra..." kata Myungsoo sambil membolak balik baju diatasku.

"AAAAAAA!!!!!!!!!!!!" teriakku ketika tangan Myungsoo hampir saja menyentuh daerah terlarang yang terhalangi selimut, walaupun begitu aku tetap shock. "YAAAAA!!! Kau sengaja HAH!??!!?" bentakku, sambil bangun dan menjauh dari Myungsoo.

"Mianhae... aku... aku hanya mencari handphoneku... mianhae... mianhae Ara..." kata Myungsoo sambil berlutut di depanku.

"Ya...... kau sengaja eoh!!..."

"Andwae.... andwae... mianhae..."

"Handphonemu... ya... Oppa... kau bodoh eoh...!! handphonemu ada di dadamu... tundukkan kepalamu!!!" Myungsoo memang sudah kelewatan pelupa, handphone yang selama ini ia cari sebenarnya tergantung aman di lehernya.

"OH!!! hahaha.... akhirnya aku menemukannya..." kata Myungsoo sambil mengotak-atik handphonenya tanpa mempedulikan kemarahanku.

Sambil membereskan cucian bersih yang berantakan di lantai. Aku melihat Myungsoo yang tampak serius dengan handphonenya.

"Sebenarnya siapa yang kau hubungi sekarang oppa??" tanyaku pada Myungsoo yang sedang menunggu panggilan tersambung.

"Temanku akan meminjamkan mobilnya... untuk kita berjualan sup gurita.... aku harus mengambilnya... sekarang... agar kita bisa belanja gurita dan bahan yang lainnya... di pasar"

"Oppa... kau serius?? apa semalam sup guritanya laku?" tanyaku penasaran.

"LAKU!!! HAHAHAHA!!!" tawa Myungsoo "Ada sekitar 9 orang yang memakan sup guritamu. kutunggu sampai mereka tidur... kutunggu sampai mereka bangun lagi pagi tadi... mereka sama sekali tak muntah... mual... atau pusing... mereka masih sehat... rupanya sup guritamu lezat dan sehat, walaupun memakai gurita basi hahahaha"

"Jadi hari ini kita berjualan sup gurita?"

"Iya... maukah kau bekerja bersamaku?" tanya Myungsoo

"Humm... tapi ada syaratnya..."

"Apa itu?"

"Jangan pernah melakukan hal aneh seperti tadi... kalau kau lupa... kau harus mencoba mengingat-ingatnya lagi... bukan mencari barang di tempat yang sama sekali tak mungkin... ARRA!!!"

"Araaa... Araseo... hehehe" kata Myungsoo, sekilas aku sadar ia menatapku dengan cara yang lain "Yoboseyo... ah... Sunny... bisakah aku pinjam mobilmu? hmmm" Myungsoo pun berlalu dariku, sepertinya ada pembicaraan yang aku tak boleh tahu.

Tapi siapakah Sunny?.

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler