- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction Diary Part 6


Songfiction "Diary" Part 6

Maincast : Sunggyu, L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul

***

Tak tahu berapa lama lagi aku harus duduk berhadapan dengan Myungsoo tanpa sepatah kata keluar dari bibir kami berdua. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan untuk memulai sebuah pembicaraan. Karena suasana seperti ini selalu membuatku kebingungan, salah tingkah dan satu cara untuk mengakhiri suasana yang kaku, aku harus berdiri dan beranjak dari sini. Kulihat di belakang Myungsoo duduk, cucian bersih menumpuk. Ya.. aku harus merapikannya, daripada aku tidak punya pekerjaan dan diam berdua dengan Myungsoo seperti ini.

"Ah!!... Duduklah Ara..."

"Eh?" Myungsoo tiba-tiba menyuruhku duduk kembali, ia sepertinya kebingungan dengan apa saja yang ada di pikirannya.

"Iya... duduklah aku ingin bicara... tapi aku lupa... sebentar aku ingat-ingat dulu... sementara itu duduklah..." kata Myungsoo sambil memegangi kepalanya.

"Kau lupa sesuatu? Kau lupa kalau kita akan kepasar membeli gurita basi?" tanyaku

"Bukan... bukan itu... aku mengingat-ingat apa yang dikatakan Minjung setengah bulan yang lalu" kata Myungsoo sambil mengguncang-guncang kepalanya.

"Huh... hehe... kejadian satu jam yang lalu saja kau belum tentu ingat.. apalagi kejadian dua minggu yang lalu... sudahlah... selagi kau mengingat-ingat... aku akan membereskan bajumu" kataku sambil menggeser duduk Myungsoo. "bajumu ini harus selalu rapi Oppa... kalau tidak.. dewa keberuntungan tak pernah mau menemuimu" kataku sambil mulai melipat kemeja Myungsoo.

"Hmmmm...." Myungsoo masih berpikir keras sambil menatap lantai.

"Oppa... kalau boleh aku membantu...Dua minggu yang lalu Minjung mengatakan padaku... kalau kau mau membantuku menemukan orang yang membunuh Keluargaku... kata Minjung, temanmu itu... punya banyak koneksi di kepolisian... apa kau ingin mengingat hal itu???' Myungsoo berpaling kearahku, matanya berbinar, sambil memukul kepalanya.

"BAGAIMANA KAU INGAT!!??" teriaknya. "Hahaha... Iya... masalah itu... Sunny... dia bisa membantumu... sekaligus dia bisa membantuku meminjamkan mobilnya padaku untuk berjualan sup gurita di taman kota.. Sebentar lagi Sunny akan datang... kau katakan semuanya padanya ya... tentang masalahmu..."

"Tapi Oppa...."

"Ada apa?? Kau tak mau kubantu? Kau takut? Kau harus mencari pembunuh sebenarnya dan memenjarakannya... Enak sekali mereka!!! Memenjarakan keluarga korban!!! bukannya menangkap pembunuh yang sebenarnya!! Kau harus mencari keadilan Ara!!" kata Myungsoo berapi-api

"Yaaa... Oppa... aku tak mau berurusan lagi dengan polisi, mereka menakutkan dan licik... Aku hanya ingin tahu siapa yang membunuh keluargaku... itu saja..."

"Lalu?"

"Ya... hanya itu saja..."

"Ara... kau tak ingin balas dendam? Ibu dan Ayahmu... Juga adikmu mereka bunuh sesadis itu...kau tak punya rasa untuk balas dendam??" Airmataku jatuh seketika. Ingatan itu kembali memenuhi pikiranku.

Bagaimana Ayah dan Ibu tergeletak kehabisan darah, sedangkan adikku tergantung di pintu kamar. Benar... Myungsoo benar, aku harus balas dendam. Tapi... apakah aku bisa? Aku hanya gadis kecil yang tak tahu harus kemana?. Dan yang kuinginkan hanya kehidupan normal, bukan balas dendam. Kalaupun aku ingin mencari pembunuh sebenarnya, Aku ingin orang itu mengaku kepada dunia, kalau ia lah pembunuh sebenarnya. Aku hanya ingin membersihkan namaku dan nama keluargaku. Hanya itu.

"Ara..." panggil Myungsoo, ia nampak salah tingkah setelah mengetahui aku menangis pilu di hadapannya. "Jeongmal Mianhae... Ara..."

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.

"munjeeobs-eoyo..." gumamku.

"Ara... Mianhae... aku tak tahu... kalau..." Myungsoo menghentikan perkataannya, ketika seorang pria berlari dengan riang. Ia menghentikan langkahnya dihadapan kami berdua.

"Haaaaahh.... Fuuuuh.... Hampir saja aku dibunuh Ayahku... Ini... kunci mobilnya... kembalikan nanti jam 4 Sore" kata pria itu sambil melemparkan kunci ke arah Myungsoo.

Myungsoo hanya diam saja, ia kembali tertarik untuk menenangkanku.

"Ada apa ini? Myungsoo!! Siapa dia? Hei Yeoja... kenapa kau menangis ?" tanya Pria itu sambil berjongkok melihatku.

"Dia yang kuceritakan semalam" kata Myungsoo

"Ah... Ara.... teman Minjung di penjara... hei... jangan menangis... Aku bisa membantumu... Myungsoo sudah menceritakan semuanya padaku... kenalkan... aku Sunny... itu nama panggilanku... sebenarnya namaku Sunggyu...Aku akan membantumu"

"Ara...." Kami pun berjabat tangan, matanya hampir tenggelam ketika ia tersenyum padaku. Pria yang manis dan bersahabat, semoga saja ia tak pelupa seperti Myungsoo, akan hancur rencana semuanya ketika ada dua pria pelupa seperti Myungsoo yang membantuku. Pikiran itu membuatku tersenyum.

"Ah... Myungsoo... lihatlah... Ara sudah tersenyum hihihi... kau cantik kalau tersenyum... jangan menangis lagi Ara... Okey... kita jadi ke pasar membeli Gurita Basi?" tanya Sunny yang bersemangat.

"Arraaaaaaseooo" Kata Myungsoo "Ayo kita berangkat" Myungsoo pun menyambar tanganku, dan kami bertiga berangkat ke pasar, mencari gurita yang tak laku di jual. Semoga saja banyak gurita yang tak laku dijual hari ini.

"Ah.. Oppa... bagaimana dengan mencari pembunuh?" tanyaku pada Myungsoo yang masih mengenggam tanganku.

Ia mempercepat menuruni tangga, hingga aku hampir jatuh mengikutinya dibelakang.

"Nanti saja... sekarang kita selesaikan urusan gurita basi dulu... Arraseo?"

"Arra!!" teriakku

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler