- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction RUHAPPY? Part 10 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 10

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


Suga benar-benar pindah ke sekolahku, kami satu kelas sekarang, bahkan sebangku, dengan sedikit paksaan akhirnya ia bisa menyingkirkan Sungmin, pria yang dulunya sebangku denganku. Akhirnya sekarang Suga bisa bernafas lega bisa berdua denganku.

Tapi tidak denganku, di kelas masih ada Manji, atau yang sering dipanggil Jimin oleh ayahnya. Manji sekelas denganku, Sedangkan Jin kakaknya malah satu kelas dibawah Manji. Banyak orang yang menceritakan padaku, kalau Manji lebih cerdas dibanding Jin, sedangkan Jin lebih brutal dibanding Manji, maka dari itu ia sering tidak naik kelas, harusnya saat ini Jin sudah kuliah di universitas, tapi karena kebodohannya, ia malah satu tahun dibawah Manji. Sungguh memalukan.

Manji sering menengok kebelakang, melihat kami berdua dengan tatapan sinis, sesekali ia mengepalkan tangannya lalu menunjukkan ototnya kearahku. Suga tak mau diam saja, ia pura-pura memukul tangan manji dengan penggaris. Mereka sepertinya tak ada hentinya saling genjat senjata. Walaupun ada guru yang sedang menerangkan, Manji selalu menyempatkan menoleh kebelakang untuk mengancam kami.

Aku masih Ingat Suga mengatakan padaku tadi pagi, 'Jangan pedulikan mereka' tapi sekarang dia lah yang selalu mempedulikan ancaman dari Jimin.

"Suga.... hentikan... jangan dipedulikan... katamu jangan pedulikan mereka..." kataku sambil menurunkan lengan Suga.

"Hehe... aku hanya bercanda dengannya..." kata Suga, kembali mengerjakan proyek ilmiahnya.

"Kau pikir mereka bercanda??? Aigoo... lihatlah luka di kepalamu belum sembuh... bagaimana kalau mereka memukulmu lagi?"

"Biarkan saja... mereka akan lelah suatu hari nanti... sssstt... Mr Jungkook berjalan ke arah kita..." Kulihat lagi Manji yang mengancamku dengan pisau lipatnya, dibelakang guru ia masih bisa melakukan ancaman itu, tapi aku tak bisa melaporkannya, ia punya kedudukan yang tinggi saat ini. Apapun laporan yang masuk, akan dibersihkan oleh ayahnya. yang nanti juga akan menjadi Ayahku.

Baru saja terpikirkan satu hal yang membuatku sedikit mendapat harapan, bisa bebas dari ancaman Jin dan Jimin yang terkadang keterlaluan.

"JANGAN MELAMUN!!! KERJAKAN TUGAS KALIAN!!" Mr Jungkook membentakku sambil memukulkan penggarisnya ke meja Suga.

"Yee... seonsaengnim.." gumamku. Ketika Mr Jungkook kembali ke kursinya lalu keluar untuk merokok. Aku mencolek tangan Suga.

"Hmmm?" Tanya Suga sambil meneruskan menyelesaikan tugasnya.

"Suga... kalau Ibuku menikah dengan Ayah Manji... itu berarti aku kakak Manji kan?"

"Tentu saja... tergantung siapa dulu yang lahir... hehe..."

"Aku lahir lebih dulu... selisih tiga bulan... dengan Manji... itu berarti aku calon kakak Manji kan?"

"Hmmm mungkin... kalau kau setuju ibumu menikah dengan ayah mereka..."

"AKU SETUJU!... Ya... Aku setuju Suga..."

"ya..... Nuna.... jangan melihatku seperti itu hoh... kau tampak menakutkan..."

"Mianhae... mianhae..." kataku sambil mengembalikan pandangan Suga ke tugasnya. "Mianhae mengganggumu.... hehehe... aku terlalu senang kali ini... Lihat saja kau Manji... kau akan kubuat Sengsara..."

"ya... Nuna... bisakah kau kembali menjadi gadis yang polos? kalau kau berani seperti ini... apa gunanya diriku?"

"eh?"

Suga melepaskan tanganku dari wajahnya, lalu menaruh tanganku di meja, kini giliran dia memainkan pipiku yang mulai memerah.

"Nuna... kumohon... jadilah Nuna yang seperti seminggu yang lalu... Nuna yang polos dan tak pernah berani mengungkapkan perasaannya..."

"Mwooo??"

"Ahsss... mungkin ini salahku... yang terlalu dekat denganmu... kau tertular kebiasaanku yang pemarah..."

"Yaaaaaa....! Kau bicara apa? Aku bingung memikirkannya??"

"KALIAN BERDUA!!! DIAM!!!! SUDAH KUBILANG!!! KERJAKAN!!! Ahhh.... Arraseooo... Arraseooo kalian tak mau mendengarkan aku... sekarang buka halaman 90... kerjakan tugas itu setelah tugas kalian selesai...." rupanya sedari tadi MR. Jungkook mengawasi kami dari jendela. Suga dan aku hanya tersenyum saja, baiklah, tidak masalah mengerjakan tugas berapapun, asal Suga masih bersamaku. Karena walaupun ia selalu membuatku bingung, aku bisa merasakan nyaman berada disisinya.

"HAHAHAHAHAHAAAAAAAA!!! RASAKAN ITU!!! MATI KALIAN!!!" Teriak Jimin. MR Jungkook terkejut hampir meloncat ke dalam kelas, karena terkejut.

"JIMIN!!! KAU!!! KAU JUGA KERJAKAN TUGAS HALAMAN 90!! BERANINYA KAU MEMBUATKU JANTUNGAN!!!" balas Mr Jungkook

"YAAA!! seonsaengnim!!!" keluh Jimin.

"APA!!!?? Kau mau melaporkan aku pada Ayahmu!!!??"

"AKU AKAN MEMECATMU LANGSUNG seonsaengnim!!"

"EEEHH!!! KAU BERANI PADAKU!!! KERJAKAN TUGAS HALAMAN 110 juga!!! Aku tunggu hasilnya...!! Asal kau tahu saja... Ayahmu sudah menitipkan dirimu padaku... Dasar ANAK KECIL TAK TAHU DIRI!!! KERJAKAN!!!" Teriak Mr Jungkook, Jimin yang tak terima dengan pelecehan itu langsung membanting mejanya ke samping.

Semua murid di kelas gempar melihat aksi Jimin yang keterlaluan. Setelah ia merusak mejanya sendiri. Ia menghampiri aku dan Suga. Inginnya melempar meja Suga, tapi ia kalah kuat dengan Suga, Meja disampingku masih berada di tempatnya semula, walaupun Jimin berusaha menghancurkannya. Suga terlihat kuat di moment seperti ini.

Tak ingin menyerah, Jimin mengambil kotak pensil besi milik murid lain dan mencoba memukulkannya ke wajah Suga. Tapi aku berhasil mencegahnya. Kucengkram Lengan Jimin yang keras dan berat seperti besi.

"Jimin... Jangan selalu menyalahkan orang lain atas kebodohanmu sendiri ... ARRASEO!!!??"

"Huh... dasar gadis murahan!!... masih sekolah kau sudah berpikiran untuk menikah!!... BUKANKAN ITU MURAHAN!!! AKU MUAK MELIHATMU DISINI!! AKU MUAK MELIHAT KALIAN BERDUA MENGOTORI SEKOLAHKU!!! Bukankah kau hamil dengannya?? Berandal dari sekolah miskin!!??"

Suga bangkit dari tempat duduknya dan melayangkan pukulan ke wajah Jimin.

"kau boleh menghancurkanku...tapi jangan pernah kau menyakiti Nuna... Jaga bicaramu.!!!"

"KAU!!!!" Jimin menyeka darah yang keluar dari bibirnya.

"Jimin... sebentar lagi orang tua kita akan menikah... dan kau akan menjadi adikku... Kuharap kau bisa menjaga perkataanmu... Aku tak pernah melakukan hal itu... aku tak pernah mau menghancurkan hidupku dengan melakukan hal menjijikkan yang sempat terpikirkan oleh otakmu.... Kalau kau melakukan hal ini lagi... aku tak segan-segan membuatmu sengsara... lebih dari sekedar pukulan..."

"Ah.... Kau mengancamku sekarang??... baiklah... terserah kalian... tapi aku tak bisa menerimamu disini Suga... satu sahabatku meninggal karena kau... aku... aku tak akan biarkan kau bahagia Suga... sampai kapanpun... Dan KAU ARMY!!! Ibumu... tak akan pernah menjadi IBUKU!!! CAMKAN ITU!!" Jimin kembali ke tempat duduknya, semua murid masih melihat kami dengan pandangan sinis.

Suga mengembalikan mejanya seperti semula, lalu melanjutkan tugasnya. Hyura yang duduk didepanku berpaling kebelakang.

"Army... apakah benar kau sedang hamil?" tanya Hyura sambil berbisik.

"Dia akan mengandung anakku kalau kami sudah lulus, dan sudah menikah... jadi kau jangan pernah membahas hal itu lagi!!" Bentak Suga, Hyura langsung berbalik dan sepertinya kecewa telah menanyakan hal itu padaku, karena ia hanya mendapatkan bentakan dari Suga.

Suga, apakah benar ia telah membunuh salah satu teman Jimin? Kulihat wajah Suga yang tampak serius dengan tugasnya, ia sama sekali tak punya perawakan seperti seorang pembunuh, apakah mungkin ia menyembunyikan hal itu padaku?, lalu membunuh atau tidak itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku, karena aku hanya temannya.

Jimin masih menyeka darah di bibirnya, kulihat ia sedang menghubungi seseorang, apakah ia menghubungi Ibuku? Ayahnya? atau malah Jin?

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler