- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction RUHAPPY? Part 12 BTS

Fanfiction : R U Happy Now? Part 12

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love

Lingkaran putih menarik tubuhku, hingga aku mati rasa, ada Suga disana, di ujung pandangan mataku, Ia duduk di depan mayat yang berlumuran darah. Ia urungkan mencabut pisau yang masih menancap di perut mayat itu. Lalu ia kembali duduk, dan menatap lagi mayat itu lekat-lekat.

Lalu kulihat di tempat yang lain, Jin, Manji dan beberapa temannya berjalan ke arah Suga. Berselang beberapa menit mereka menghajar Suga tanpa ampun, lalu Jimin menyeret Suga yang sudah pingsan masuk ke mobilnya. Aku bisa melihat peristiwa itu dari jauh, seakan saat ini aku pergi ke masa lalu.

Mobil Jimin menghilang dalam kabut putih. Jin masih menunggu mayat temannya sambil menghubungi seseorang melalui handphonenya, tak menunggu lama. Mobil ambulance dan polisi datang, mereka membawa mayat dan Jimin pergi. Sedangkan polisi sibuk mencatat dan mencari bukti pembunuhan, tak lupa mereka memasang police line di sekitar tempat kejadian perkara, agar tak ada yang mengganggu penyelidikan.

Anehnya, aku melihat diriku sendiri, berjalan ke arah kejadian perkara, lalu aku menunduk dan memungut sesuatu di dekat kejadian perkara. Sebuah cincin amnesthy warna hitam. Bodohnya aku tak memberikan cincin itu pada polisi, aku langsung memakainya dan pergi meninggalkan tempat.

Benar, aku hampir saja lupa, kalau harus mengembalikan cincin ini pada pemiliknya, cincin itu masih kupakai di jari manisku, ada initial MY di cincin hitam yang kupakai. Ya... aku harus mengembalikannya.

Lingkaran putih menarik tubuhku lagi, kini, tubuhku tak lagi mati rasa, ada rasa sakit yang menusuk-nusuk di perutku. Tanganku terasa hangat, ketika ku buka mata.

Suga berada di sampingku, ia menggosok-gosokkan tangannya ke telapak tanganku.

"Nuna... gwaenchanh-euseyo?" tanya Suga sambil menyeka keringatku.

"Ye" jawabku singkat, perutku masih terasa sakit bila aku menggerakkan tubuhku, begitu juga bila aku bicara.

"Barusan saja, Ayahmu pulang... ada urusan kantor yang harus segera di selesaikan... Dia... menunggumu semalaman..."

"hmmmm...."

"Nuna... mengapa harus selalu kau yang melindungiku? Aku... pria yang begitu bodoh... harusnya aku yang menerima tusukan dari Jimin... bukan kau..."

"Hehe... aa... anniee... jeongmal... aku sudah baikan sekarang" kucoba untuk menjelaskan keadaanku, walaupun rasanya sakit sekali.

"Nuna.... Aku berjanji... kali ini... aku akan melindungimu... biarkan aku melindungimu Nuna!!" Kata Suga sambil memelukku, tangannya menekan punggungku, membuat lukaku yang terbalut obat terasa tertekan.

"Yaaaa!!!" bentakku sambil menyingkirkannya. "berjanjilah... tapi jangan tambah menyakitiku seperti ini...aw...aw..." ketika aku kembali ke posisi tidur seperti sebelumnya. kulihat Jin mengintip di jendela kamar.

"Suga... ada tamu... suruh dia masuk.."

"Kau yakin?... bagaimana kalau dia mau menusukku? hmmm? atau mau melanjutkan aksi adiknya... dengan menusuk perutmu yang sebelah kanan? hmmm?"

"Ya.... Suga... percayalah padaku... ia tak akan pernah melakukan itu..."

"Kau yakin? aku tak ingin membukakan pintu kalau kau tak yakin"

"Arraseo... aku yakin... bukakan pintu untuknya... firasatku mengatakan kalau Jin sedang merasa bersalah"

Suga mengambil kunci kamar di desk sebelahku, ia melangkah ke arah pintu dan membukakan pintu, Dihalanginya Jin untuk masuk, Suga membisikkan sesuatu yang membuat Jin menatapku, sepertinya Suga mengancam Jin agar tidak bertindak macam-macam padaku.

"Annyeong..." Sapa Jin terlihat canggung.

"hmmm"

"Aku mengunjungimu... karena ingin menyampaikan rasa maaf yang sedalam-dalamnya atas kebodohan adikku... Army... Bisakah kau memaafkan Jimin? dan membebaskan dia dari hukuman penjara selama satu tahun?"

"wae?" tanyaku sedikit kesal, bagaimana bisa aku memaafkan pria yang sudah mengancamku berkali-kali, lalu berani menusukku.

Jin terdiam sesaat, air matanya kemudian mengalir sedikit demi sedikit, wajahnya yang putih cemerlang, kini berubah memerah. Disekanya airmata yang membasahi pipi.

"Maafkan adikku Army... maafkan kami berdua Suga... Kami terlalu mengikuti kebodohan kami...Adikku... kau tahu sendiri Army... dia satu-satunya murid yang mendapatkan beasiswa terbaik disekolah kita... aku tak mau karena masalah ini, ia tersendat dan menjadi pria bodoh sepertiku... Army... kalau kau ingin menghukum Jimin... anggaplah aku Jimin.. dan katakan pada polisi... kalau yang menusukmu itu... aku... bukan pria yang mereka tahan sekarang... katakan pada mereka Army..."

"Aku tak bisa... Jin... hukum harus ditegakkan... yang salah harus menanggung hukumannya..."

"Nuna..." Suga ikut bicara, dari pandangannya aku bisa mengerti, ia sedang ingin mempengaruhiku untuk mengikuti kata-kata Jin.

"Army... kumohon... kali ini saja... bebaskan Jimin... sebelum hidupnya rusak seperti hidupku.... Kalau kau ingin menghukum... hukumlah aku..." kata Jin yang masih terisak tangisnya.

"Arraseo... aku akan membebaskan Jimin dari penjara... aku akan mengaku kalau itu hanya kecelakaan. bukan sebuah kesengajaan... tapi kau harus berjanji... dan Jimin harus berjanji... Janji untuk memaafkan Suga... atas kesalahan yang tak pernah dibuatnya... Yang membunuh sahabat kalian bukan Suga... bagaimana bisa kalian selama ini menghukum Suga dengan berbagai ancaman? menghukum Suga, atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan... Aku... yang ditusuk secara sengaja saja... bisa membebaskan adikmu... harusnya kau bisa memaafkan Suga yang tak pernah membunuh sahabatmu..."

Hening seketika, Jin dan Suga saling berhadapan, mereka berdua saling mendekat dan berjabat tangan, lalu entah kenapa Suga begitu leluasa memeluk Jin, dan menenangkan pria itu yang mulai menangis histeris.

Baru kali ini aku tahu seorang pria bisa juga menangis, dan baru kali ini aku memahami seburuk-buruknya tingkah laku Jin, ia masih menyimpan cinta untuk adiknya, dengan mau berkorban demi masa depan adiknya.

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler