- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction RUHAPPY? Part 14 BTS



Fanfiction : R U Happy Now? Part 14

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


Dua minggu berlalu, Ibu akhirnya hari ini, ia akan melangsungkan pernikahannya dengan kekasihnya. Waktu dua minggu sudah cukup untukku mengenal Jimin dan Jin. Kedua ketua gangster itu tak ubahnya seperti anak kecil usia 8 tahun, namun di waktu yang berbeda mereka seperti anak 18 tahun yang tangguh.

Jimin, tipikal pria pemarah, sekecil apapun kejadian atau suatu hal yang tak disukainya, ia bisa marah sampai beberapa hari, dendam dan bila ia tak menyalurkannya, Jimin akan merasa stress, mengurung diri, bahkan beberapa kali menyalurkan kemarahannya pada orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan permasalahannya.

Aku masih ingat permasalahan Suga dan Jimin, sebenarnya kesalahan utama bukan pada diri Suga, tapi pada Jimin. Selama dua minggu, Suga pun mulai tak bisa dipisahkan bila bertiga dengan Jimin dan Jin.

Suga yang lucu dan memiliki empati lebih dibanding kedua pria itu, bisa membuat persahabatan semakin menyenangkan.

"Nuna... kau sudah siap?" tanya Suga, dari luar jendela. Ia memakai setelan jas hitam, sepatu pantovel hitam, dan dasi warna emas. Rambutnya sudah tertata rapi. Tapi tingkah lakunya yang masuk ke kamarku melalui jendela tetap sama, walaupun ia menggunakan setelan Jas.

Ayahku benar, Suga akan terbiasa masuk rumah melalui jendela, maka dari itu aku selalu membuka pintu kamarku, agar Ayah tak khawatir denganku.

"SUGA!!! AIGOO!!! Kau ini!!!" Ayahku masuk ke kamar, lalu membuka jendela dan menyeret Suga masuk ke dalam kamar. "KALAU KAU ULANGI MASUK KAMAR ANAKKU LEWAT JENDELA!!! Akan kularang kalian bertemu..." Mendengar ancaman itu, Suga hanya tertawa padaku, lalu mengedipkan matanya, seakan ia ingin aku menjelaskan pada Ayah, tentang satu hal yang pernah ia jelaskan padaku.

"Ayah.... Kajja... ikut aku..."

"ARMY!!! Kau jangan selalu membelanya!!! Lagipula !!! Kau belum termasuk keluarga kami!!" Teriak Ayah.

"Ayah... kemarilah sebentar..." aku menyeret Ayah ke dapur. dan mendudukkannya di kursi makan, lalu kuambilkan kue bulan yang selalu dibawakan Suga buat Ayahku.

"Ayah... Suga punya trauma mengenai pintu rumah... ia berkali-kali ditolak oleh banyak orang, orang-orang itu selalu membanting pintu didepan wajah Suga, itulah mengapa ia tak suka pintu... jangan khawatir... Dirumahnya... Suga juga selalu masuk kamar melalui jendela... Ibunya pernah bercerita padaku"

"Ahss... JINJJA!!??" Tanya Ayah sambil melahap kue bulan.

"Humm..." Aku mengangguk, Suga yang berdiri di pintu kamarku hanya memberikanku dua jempol tangannya, lalu menghilang dari pandanganku.

"Hmmm... kasihan sekali... apa aku tadi keterlaluan??"

"Anniya... heheee"

"Kasihan sekali anak itu... padahal dia baik sekali selalu membelikanku kue bulan setiap minggu..."

"Hehehe... Sudahlah Ayah... Suga pasti memaafkan Ayah... Sebentar... aku harus menata rambutku... Ayah ikut ke pernikahan Ibu kan?"

"Humm... Ye.. Ye!! Tentu saja..."

"Kita berangkat dengan mobil Suga saja... Ia sudah berjanji mau mengantarkan kita"

"Hum.... okey... aku juga akan menyetrika bajuku dulu" Ayah membersihkan bibirnya dari coklat yang tertinggal.

Aku pun kembali ke kamar, kulihat Suga tertarik untuk melihat penampilannya sendiri melalui kaca.

"Oh!! Nuna!... apa aku tampan?"

"Ye"

"Jinjja?"

"Yeee... kau tak percaya?"

"Woah... apakah aku cocok memakai pakaian ini?"

"Ye.."

"Apa aku cocok memakai sepatu ini?"

"Ye."

"Apakah aku cocok memakai dasi ini?"

"Ye"

"Apakah aku cocok hidup denganmu?"

"Yeee... yeyeyeyeyeye...... sudah Suga... jangan bertanya lagi.. aku tak bisa konsentrasi dengan rambutku"

"Sini... serahkan padaku... kubuat kau cantik..."

"hmmm" Lalu kuberikan ikat rambut berwarna emas pada Suga, dan ia pun mulai menata rambutku, walaupun sesekali ia menarik rambutku, menatanya dengan aneh, aku tak bisa memarahinya, karena senyumannya membuatku tak bisa marah kali ini.

"Nuna..."

"Humm...."

"Benarkah aku cocok hidup denganmu?"

"Huh?? Moraguyo?"

"hehe... tadi.... kau menjawab yeyeyeyeyeeeee.. saat kutanyakan apakah aku cocok hidup denganmu..."

"Ah... aku bilang begitu?"

"Humm... hum... apakah benar?" tanya Suga sambil menganggukkan kepalanya.

"Oh... Jinjja??" Kucoba menyembunyikan rasa malu "Hmmm..."

"Bagaimana Nuna... apa kau mau hidup denganku?"

"hmmm..."

"Bagaimana?"

"Yaa!! SUGaaaaaa.... Berapa usiamu..? dan berapa usiaku? Eoh... sebentar lagi kita akan menghadapi ujian masuk universitas... bukannya memikirkan hal itu... kau malah memikirkan masalah menikah!! Aihsss.. Jinjja!!"

"Nuna... aku tak pernah mengatakan menikah... aku hanya bertanya... apakah aku cocok hidup denganmu.... itu saja..."

"Arra... Arraseo... kau cocok hidup denganku... tapi sekarang!!! GANTI IKATAN INI!!! Eoh!!!" kataku sambil mencoba melepas ikatan rambut yang membuat rambutku berdiri menjulang keatas.

"Hehehe... itu berarti kau mau menikah denganku..." kata Suga sambil memperlihatkan giginya.

"Suga... jangan pikirkan itu dulu... lepaskan ikatan rambutku ini... hmmm..."

"Andwae.... kau saja... ternyata aku kurang mahir menata rambut hihihihi"

"SUGAAAAAAAAA!!!!!" Suga akhirnya kabur keluar kamar, meninggalkanku dengan rambut yang menjulang keatas, dengan puluhan ikat rambut yang menghiasinya.

"Haisss... Pabo!!" gumamku sambil melepaskan satu persatu ikat rambut.

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler