- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction RUHAPPY? Part 4 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 4

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


Konser Hip hop di mimpiku bubar seketika, saat angin besar menerpa tubuhku, dan gempa membuat tubuhku berguncang.

"Hei... Nuna...sudah sampai... Ayo bangun..." kubuka kelopak mataku yang masih menempel karena kotoran mata, nyaman sekali rasanya tidur di mobil Suga dengan selimut bulunya. Suga tepat di sampingku, mencoba membangunkanku, dan setengah kepalaku keluar dari jendela. Pantas saja aku merasa kedinginan. Angin malam rupanya telah meniup rambutku.

"Uhmm..." segera kuangkat kepalaku dan melihat kesekitar. Ternyata Suga berhasil menemukan rumahku. Rumah kecil dengan kebun bunga dan peternakan madu, diantara permukiman yang sudah padat meninggi.

"Itu rumahmu kan?"

"ye... gomawo..."

"Aku akan selalu mengingat jalannya... sekarang... pulanglah... sampai bertemu besok.." kata Suga sambil melipat selimut bulunya lalu menyimpannya di jok belakang.

"Eh?" tanyaku kebingungan.

"Besok kau akan kujemput... sekolah kita hanya berselisih satu blok... rumahku juga tak jauh dari sini. hanya selisih 4 km"

"Eh? jangan... merepotkanmu saja... Jangan... terima kasih..." kataku, Suga tak tahu betapa bahagianya aku ketika ia menawarkan untuk menjemputku besok.

"Anak baru yang bernama Jin, besok ia akan mengikutimu lagi... dan aku khawatir... baiklah.. pulanglah... aku juga akan segera pulang. Bila denganku, dia tak akan pernah bisa menyakitimu..."

"Suga...."

"Hehe jangan menatapku seperti itu... aku bisa malu..."

"Apa kau tak ingin tahu namaku?" bodoh sekali, mengapa aku menanyakan hal konyol itu.

"Aku tak perlu namamu... bagiku... kau hanyalah satu... penyelamatku... kajja... keluarlah... sampai jumpa besok.." Akupun keluar dari mobil, karna Suga sudah mengusirku, padahal aku masih ingin menatap wajahnya yang aneh, tapi menghangatkan hatiku. Matanya selalu hilang ketika ia tersenyum.

Suga melambaikan tangannya, lalu melaju, menghilang ditengah gelapnya malam. Melihat sekitar yang sudah gelap, aku mulai ketakutan lagi, jangan sampai Jin muncul lagi. Pria yang seperti hantu itu berhasil membuatku sedikit paranoid.

Berlari kedalam rumah tanpa melepas sepatu, aku langsung menuju kamar, Ayah rupanya masih sibuk melihat pertandingan baseball yang sedang digemarinya seminggu ini.

Ia sama sekali tak peduli padaku semenjak, seminggu yang lalu bertemu dengan atlit baseball idolanya. Menurutku tak masalah ia tak mempedulikanku, asal ia tak mengganti posisi ibu dengan wanita lain, seperti yang dilakukan ibu. Teganya ia mengganti posisi lama ayah dengan pria sok tampan yang bernama Seok Jung. Hasssh... ingat masalah itu, ingin sekali ku robek mulut ahjussi yang banyak bicara itu.

Akupun tertidur dengan bayangan tiga pria, Suga, jodohku yang baru kutemukan hari ini, Jin pria yang hampir saja membunuhku, dan Ahjussi yang hampir saja merebut ibuku dari pengaruhku.

***

Teriakan Ayah, berhasil membangunkanku dengan meninggalkan sakit kepala akut.

"ARMY!!!!!!!!!!!!!!!! TURUN!!!!!!! MAKANANMU SUDAH SIAP!!!!!!!!!!" Ayah meneriakkan kalimat itu berkali-kali, hingga kepalaku terasa pening.

Setelah mandi dan mengganti pakaianku, aku tertarik melihat di depan rumah dari jendela kamar. Ada sesuatu yang sepertinya menyuruhku untuk melihat ke bawah. Dan ternyata Suga bersama mobil chevrolet merahnya sudah berada dibawah. Ia melambaikan tangannya padaku.

Kusambar tas dan beberapa jurnal yang harus kubawa kesekolah. Secepatnya pergi ke dapur dan mengambil bekal yang sudah disiapkan ayah.

"Appa... aku berangkat... salanghaeyoo" kataku sambil mencium pipinya yang berbulu.

"Yaaaaaa!! Kuantarkan kau... tunggu sebentar..."

"AnDWAE!!! Andwae ... Appa... Tak perlu...hehehe... Aku akan berangkat dengan seorang teman... hehe... Annyeong... Appa... Salanghaeeeeyooooo" teriakku.

Kubuka pintu dan berlari ke tempat Suga memarkirkan mobilnya. Tak banyak bicara, kami pun masuk ke dalam mobil dan mulai perjalanan ke sekolah.

"Bagaimana?" tanya Suga. mengejutkanku, yang sedari tadi sibuk memandangi kulitnya yang bersinar, lebih bersinar dari kulitku, dan bibirnya yang tak ada yang bisa mengalahkan.

"Eh...?"

"Bagaimana...? Kau sudah makan burger yang kubelikan semalam?"

"Ah.... burger... aku simpan di frezzer hehee..."

"Ommo!!... Jinjja?? HAHAHAHA Waeyoo?"

"Hmm...makan ice cream yang kau belikan saja sudah membuatku kenyang... mungkin burgernya akan kumakan lain kali..."

"Ah....ye..." jawab Suga.

"Suga... apa yang membuatmu ingin menjemputku? selain ingin melindungiku dari Gang Manji?"

"Oh..."

"Ah!!... Lupakan... heehehe... lupakan apa yang kutanyakan tadi..." Suga berpaling ke arahku, ia tersenyum dan entah mengapa, mobil langsung dihentikannya.

Ia mengambil sebuah majalah dari balik jok yang didudukinya. Sambil memandangiku, ia membolak balik majalah, seperti hafal dimana halaman yang akan dicarinya.

"Ini..." kata Suga sambil memperlihatkan majalahnya padaku. "Ramalan ini... aku selalu mempercayainya... disini dikatakan... kalau kemarin aku akan bertemu dengan seorang gadis yang memakai baju kuning... gadis itu akan menyelamatkanku dari marabahaya. dan angka keberuntunganku adalah 4 dan 8. Kemarin kau memakai hoodie warna kuning... dan kau menyelamatkanku dengan teriakanmu .. lalu kau duduk di bangku deretan empat baris ke empat. dan aku tidur di pundakmu tepat pukul 8 malam... Hey... kau adalah jodohku..." kata Suga, ia memandangku dengan penuh keseriusan, suasana diantara kami semakin memanas. Aku hanya menganga... tak percaya, mengapa Suga juga bisa mempercayai ramalan di majalah itu.

"A...aku.. aku juga mempercayai ramalan itu... Kau... dimajalah itu... kau adalah Jodohku... Suga..."

"hehehe... tapi kita perlu membuktikan... apakah benar kita berdua adalah cinta sejati..." kata Suga sambil kembali menyetir.

"Tapi ada yang aneh..."

"Oh!!" Suga sepertinya terkejut mendengar prasangkaku.

"Mengapa seorang gangster sepertimu suka majalah seperti itu hahahaha"

"Ahss... aku juga remaja normal... yang perlu update mengenai duniaku.. hehehe..."

"Hmmm... benar juga.... kau juga remaja... sama sepertiku" kataku sambil memandangi langit cerah yang sepertinya ingin mendekatiku, ketika mobil dilajukan secepat mungkin oleh Suga. Jodoh yang sudah diramalkan untukku. "Tapi Suga... apa kau tak mau menanyakan siapa namaku?"

"Haruskah seperti itu?"

"Hmmm mollayo..."

"Sebelumnya... aku banyak mengenal nama gadis yang dekat denganku... dan mereka mengecewakanku... kali ini... aku tak ingin tahu namamu... sampai aku tahu pasti... kau bisa mencintaiku... dan sampai aku tahu pasti... kau bisa menjadi bagian hidupku suatu hari nanti..."

Mobil chevrolet pun melaju cepat, seperti jantungku yang berdegub bak roket yang ingin meluncur ke luar angkasa. Pagi ini, Suga berhasil membuatku merasa begitu istimewa.

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler