- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction RUHAPPY? Part 8


Fanfiction : R U Happy Now? Part 8

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love



Setelah selesai mengganti baju tidurku dengan kaos, jaket BTS, Syal, dan topi CRIB. ini saatnya memeriksa keadaan diluar kamar, Ayah sepertinya sudah berangkat kekantornya untuk tugas malam. mungkinkah Suga masih ada didalam rumah?. Kucoba untuk mendengarkan suara-suara diluar kamar, dengan menyandarkan telingaku di pintu.

Sepi, itu artinya Suga sudah pulang ke rumahnya. Kuambil tas ku, yang berisi hadiah untuk ibuku. Sebenarnya yang membelikan hadiah ini adalah Ayahku, Ia begitu mencintai Ibuku, itulah alasannya membiarkan Ibu bercerai dengannya.

Selesai mengunci pintu kamar, aku melanjutkan langkah pergi ke luar, betapa terkejutnya aku, Suga ternyata masih ada di rumah, kali ini ia lancang membuka lemari es. Memakan kue bulan kesukaan Ayahku.

"SUGA!!!" kutarik telinganya, hingga ia menjauh dari lemari es. "Kau keterlaluan!!... itu makanan Ayahku.. Kalau dia tahu.. aku yang akan dapat masalah..."

"Tenang saja... nanti kita belikan kue bulan untuk ayahmu... 2 pak.. hehehe" Suga masih melanjutkan melahap kue bulan yang masih tersisah di tangan kanannya.

"Yaaa...kau...!! jangan terbiasa meremehkan semua masalah... hmmmm" karena kesal, aku menarik telinganya lagi.

"AWW!!! SAkit!! Geumanne... aku hanya memakan kue bulan ayahmu... nanti kubelikan... Sebelum itu... Kuantarkan kau ke rumah ibumu.."

"MWOO!!!... huh... siapa yang membolehkanmu mengantarku!! EOH!!"

"Aku..... aku yang membolehkanmu hhihihi"

"SUGAAAAAAA!!!" Suga menarikku, mengajakku berlari, ia tak tahu kalau aku sedang memakai highheels, dan rasanya berlari dengan highheels seperti mati tapi tidak jadi mati.

Aku terpaksa memakai highheels, Ibuku akan marah kalau melihatku memakai sepatu pria. Padahal kalau ia marah, akupun tak pernah peduli.

"Kajja Masuklah...!! Hehe... aku sudah menambahkan aksesoris tempat duduk untukmu... kau suka BTS kan?"

Suga membukakan pintu chevrolet merahnya untukku, dan memang benar, ada bantal leher berhiaskan logo BTS, bulletproof merah yang paling kusukai.

"Hmmm" aku hanya bisa bergumam seperti itu sambil masuk ke mobil Suga. Ada rasa bersalah yang menggeliat di hati. dan beribu pertanyaan muncul di otak, salah satunya, mengapa Suga begitu memperhatikanku?. Kalau ingin menghancurkan Jin rivalnya. mengapa serumit ini ingin mendapatkan perhatianku.

"Kajja... tuliskan disini... alamat ibumu... secepatnya aku akan mengantarmu kesana"

"Yee..."

"Okey... kita berangkat..."

"Hmmm Suga... Gomawo..."

***

Seperti malam yang lalu, empat hari yang lalu, mobil chevrolet Suga begitu cepat melaju, hingga tak perlu menunggu lama di dalam mobil, sehingga aku tak perlu mencari bahan pembicaraan untuk Suga. Lagipula selama di mobil, Suga selalu bernyanyi dengan iringan musik yang ia putar di compact disk nya.

"Suga... jangan pulang... temani aku dulu... diatas... mungkin mereka menyediakan banyak makanan... anggap saja aku sedang mentraktirmu..." kataku sebelum turun dari mobil.

"Oh... memangnya ibumu mengadakan acara apa?"

"Ibuku akan bertunangan dengan kekasihnya..."

"oh...!! Mianhae..."

"Mianhae? hehe... ibuku bertunangan itu bukan sebuah masalah bagiku... Kajja Ikut denganku..."

"Kalau begitu... turunlah disini... aku akan mencari tempat parkir dulu"

"Okey... aku tunggu di pintu gerbang ndee.."

"Arraseo..." entah angin apa yang merubah suasana kami berdua, aku tak lagi marah pada pria yang seenaknya mengintipku dari luar jendela, aku tak lagi marah pada pria yang bernama Suga, yang lancang memakan kue kesukaan Ayahku.

"Hmmm... everybody say no..." gumamku menyanyikan lagu BTS yang saat ini sedang terkenal.

"Army??" sapa seseorang di belakangku.

"Yee?" rupanya Jin dan Manji yang menyapaku dari belakang. Mereka berdua memakai jaket BTS yang sama dengan yang kupakai. Tapi mengapa kedua pria itu berjalan bersama di malam seperti ini?

"Oh... Jin... Manji... sedang apa kalian berada disini?"

"Justru aku yang harus menanyakan itu... huh... aku baru ingat... kau berhutang satu tendangan..." kata Jin sambil memijat punggungnya "semenjak kau tendang... punggungku sering sakit... kau harus bertanggung jawab!" lanjut Jin.

"Mianhae... mianhae... mianhae... aku tak tahu bagaimana menyembuhkannya... tapi jangan tendang aku... arraseo..." kataku mencoba membuat Jin melupakan masalahnya.

"Hyung... jangan menyakiti wanita..."

"Humm.... tapi aku akan pastikan kau merasakan sakit yang sama ARMY!... Annyeong..." Jin dan Manji berlalu meninggalkan aku yang setengah mati ketakutan. Baru saja ketua gang di sekolahku mengancam akan menyakitiku. AHHHHHHHHH!!!! ANDWAEEEEEE

"Nuna!!... Tadi Jin dan Manji??" Suga berlari mendekatiku, memeriksa tubuhku dengan memutarnya. "Apakah mereka menyakitmu??"

"Aaa...andwae...." jawabku

"Tenang saja... aku sudah pindah ke sekolahmu... kita satu kelas...aku akan selalu melindungimu Nuna... jangan khawatir lagi Nuna... lupakan saja... hmmm apa kau sudah siap? Mungkin Ibumu sedang menunggu anaknya yang cantik ini... hehehe"

"Ye..."

"Kajja..." kubiarkan saja Suga menggenggam tanganku, telapaknya yang hangat bisa menghilangkan ketakutanku.

***

Di dalam gedung pertemuan, Ibu terlihat cantik dengan gaun merah muda nya, dan pria yang mencoba merebutnya itu terlihat tampan dengan kemeja abu-abunya. Ia lebih tampan dari Ayahku, mungkin itu satu alasan, ibuku berhenti mencintai Ayah.

"Appa..!!" Panggilan itu keluar dari mulut Manji, ketua gang yang sangat ditakuti di sekolahku, entah mengapa malam ini menjadi anak penurut, tapi CALON SUAMI IBUKU ADALAH AYAH MANJI!!!??? ANDWAEEEEE!!!!!!

"Manji... jangan ganggu Appa... Kajja... aku punya game baru!" tak lama kemudian, aku kembali dikejutkan oleh sesuatu yang aku tak mau menghadapinya. Jin memanggil pria itu dengan sebutan Appa.

"Nuna...." kata Suga sambil menopang tubuhku yang mulai lemas. "Nuna... kau sakit??" Ia pun menyeretku dan mendudukkanku dibangku dibalik poster.

"Kau lihat tadi.?? Jin... dan Manji... ia anak pria itu..." kataku mencoba menghela nafas panjang.

"Mwo?? maksudnya?"

"Jin... dan Manji... anak dari calon suami Ibuku... Suga... bagaimana ini??"

"Tenang saja Nuna... ini berarti aku harus menjadi Istrimu, agar bisa menjagamu... tak hanya di Sekolah... tapi juga di rumah"

"MBWOOOOO!!!!!!" tak sadar kutampar wajah Suga yang semakin membuatku kesal.

Kuberanikan diri berjalan ke arah Ibu yang sedang bercanda dengan Manji dan Jin, juga calon suaminya.

"Annyeong... Eomma..." sapaku. Seperti yang kusangka, Jin dan Manji sama terkejutnya denganku.

"Annyeonghaseyoo Army... kau dengan Ayahmu?" tanya Ibu sambil mencium pipku.

"Andwae... Bu... siapa mereka?" tanyaku pura-pura tak kenal, sambil menunjuk kearah Jin dan Manji.

"Annyeonghaseyo Army..." Pria calon suami ibuku mencoba mencium pipiku tapi aku berhasil menghindarinya "Hehe... mereka anak-anakku... kenalkan... ini anakku yang pertama... Jin... dan ini adiknya yang paling pintar... Jimin..."

"aaa..... Yee... Army..." kataku sambil berjabat tangan dengan Jin dan Jimin. Tangannya menggenggam tanganku begitu keras, hingga bisa terlihat tanganku yang meradang merah.

"Army... siapa pria yang dibelakangmu..?" tanya Ibu.

"Aaaa?" aku tak bisa konsen, antara ketakutan dan berbagai perasaan membuat otakku sedikit kacau.

"Ahjumma... kenalkan Aku Suga... Calon suami Anakmu..." mendengar kata itu sontak kuahlikan perhatianku pada Suga, yang sedang tersenyum nakal.

"MWOOOOOOOOO!!!!!!!!" tas ku melayang bebas ke wajah Suga, rasanya menamparnya dengan tasku saja tak cukup untuk menyelesaikan rasa maluku.

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler