- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction Somun part 11


Fanfiction : Somun ( 소문 )

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan, Arraseo? Gomawoyo"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : ---

Maincast :
Leo (VIXX)
Da Yeon ( You)
Hongbin (VIXX)


Part 11 :

Kembali ke kasurku yang dingin, kuhempaskan tubuhku yang lelah menjalani hari ini. Hongbin telah membuat hari-hariku begitu sibuk dengan tawa dan canda. Ia pria yang terpilih hanya untukku.

Semakin ia memperhatikanku, semakin aku mencintainya. Semakin ia membuatku bahagia, semakin aku tak ingin ia meninggalkanku. Akupun sudah menceritakan mengenai Leo dan masalalunya.

Hongbin sama sekali tak marah, ia malah menyuruhku untuk tetap dekat dengan Leo, karena hanya aku yang dekat dengan Leo. Orang yang sedang mengalami trauma seperti Leo, tak semudah orang normal yang bisa cepat beradaptasi dengan lingkungannya.

Hongbin, ia berjanji padaku tak akan marah bila menemukan aku sedang membantu Leo di apartementnya suatu hari nanti. Kurasa dengan keputusan Hongbin, ia membuatku semakin mencintainya.

Kau memang hebat Hongbin, kini, tak ada yang bisa merebut hatiku, Leo sekalipun. Karena kau pria yang selama ini kuinginkan.

TLAK!!! TLAKK!!! suara itu berasal dari jendela. Aku pun bangun dan melihat ada apa sebenarnya?. Siapa yang begitu usil melempari jendelaku.

Ketika kubuka jendela, tak ada siapapun di luar, tak mungkin ada orang yang berdiri di trotoar melempar batu ke apartementku yang setinggi ini. Namun akhirnya aku tahu siapa dalang dibalik pelemparan batu ke jendelaku.

"Dayeon... darimana saja kau? aku sudah memanggilmu berkali-kali kau tak menyahut..."

"Leo?" kujulurkan tubuhku ke depan dan melihat Leo yang duduk di jendela apartementnya.

"Kau tahu... aku begitu merindukanmu... kenapa kau tak segera datang saat kupanggil?"

"Oh... mianhae... Seharian tadi aku ke Busan... ke rumah calon ibu mertuaku..."

"OH!!" Leo hampir saja terjatuh, ia turun dari jendelanya, lalu menjulurkan badannya persis seperti yang kulakukan. "Dayeon! Kau akan menikah?? kapan??"

"Hehehe... iya... Kekasihku... sudah melamarku tadi pagi... lihatlah..." kataku sambil menunjukkan cincin Hongbin yang melingkar menghangatkan jari manisku.

"Cincin yang cantik..." gumam Leo, ada ketidak nyamanan yang kurasakan ketika mendengar suaranya saat ini.

"Gomawo... "

"Apakah kau akan menikah secepatnya?"

"Ah... Anniya... tak bisa secepat itu hehehe... aku harus menunggu Hongbin di promosikan ke bagian diatasku dulu... baru aku mau menikah dengannya... saat ini kekasihku bekerja untukku... akan terasa aneh bila nanti kita menikah, tapi ia masih menjadi bawahanku..." aku baru sadar Leo sedari tadi seperti tak mempedulikan apa yang kukatakan, ia terus saja memandangiku walaupun begitu sulit, harus menjaga keseimbangan.

"Hmmm... aku terlambat..." gumam Leo sambil memalingkan wajahnya dariku.

"terlambat? kau mau bekerja? oh... baiklah... selamat malam... aku juga harus tidur hehehe annyeong..." Leo melemparkan batunya lagi ke jendelaku, ketika aku akan menutupnya. "Ada apa lagi eoh! kau tak mengantuk? huuuaaammm"

"Aku terlambat makan malam... maukah kau buatkan aku tteokbokki seperti malam kemarin?" tanya Leo

"MWOO!! Leo... kau tidur saja... lihatlah sekarang sudah pukul 1 dini hari..."

"tak bisa... Dayeon... kumohon... anggaplah ini makan malam bersamaku yang terakhir kali... selanjutnya aku tak akan pernah mengganggumu"

"hmmmmm"

"kumohon Dayeon... aku lapar sekali..."

"Arraseo... bukakan pintunya untukku"

"YES!!" Teriak Leo. aku pun bergegas mengambil dua bungkus tteokbokki instan berjaga-jaga kalau Leo tak punya tteokbokki yang ia inginkan.

Menunggu sebentar di depan apartement Leo, kudengar ada suara-suara aneh di dalam apartement, sepertinya Leo sedang melempar-lemparkan sesuatu, lalu Lampu apartement menyala. dan pintupun terbuka.

"Masuklah... anggaplah rumah sendiri..."

"Huuuuuuaaammmm.... arraseoo... kau ingin yang pedas atau yang manis?" tanyaku sambil menunjukkan kedua tteokbokki instan yang kubawa.

"kedua-duanya... masakkan untukku"

"mwoo!! akan lama sekali..."

"kalau begitu campur saja semuanya...okey?"

"hmmm baiklah..." Leo tersenyum senang, ia berlari menuju sofa, lalu dengan satu loncatan yang tinggi, ia menghempaskan tubuhnya ke sofa.

Leo terlihat begitu damai ketika ia memandangi salju yang turun di luar. Sesekali ia menghapus airmatanya, kurasa ia sedang sakit mata, tapi aku yakin itu, yang ia hapus adalah airmata.

"Leo... bagaimana pekerjaanmu?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.

"Aku sudah tak bekerja di wedding organizer..."jawab Leo tanpa melihatku.

"Apakah karena kelakukanku yang kemarin?? jeongmal mianhae Leo... Jeongmal..."

"Hehe.. anniya... aku jenuh dengan kehidupanku..."

"Lalu bagaimana dengan dirimu? hah! kau perlu bekerja untuk tetap hidup"

"Ada tawaran pekerjaan yang lebih kusukai... Dayeon... apa kau mengkhawatirkanku?"

"Ah? Ah! tentu saja... aku temanmu.. seorang teman harus saling memperhatikan iya kan?" sebersit rasa yang tak ingin kupikirkan, kini lewat di benakku. Apakah ini semua kesalahanku?, hingga keadaan Leo menjadi lebih buruk seperti ini. "Leo... bagaiamana kalau kau bekerja di kantorku? kami memerlukan beberapa fotografer dan bagian manajemen... kau bisa bekerja disana... hmmm?"

"Hehehee... benar... apa yang kuduga..." Leo bangkit dan mendekatiku yang sedang memasakkan tteokbokki untuknya. "Dayeon... sekarang... kau sedang mengkhawatirkanku... aku senang mendengarnya hehehehe" Leo mengambil pisau dapur yang ukurannya lebih besar dari yang kupunya.

Ia mendekatiku, dan memberikanku pisau dapur yang sebelumnya ia genggam dengan erat.

"Leo... apa ini? apa maksudmu?" tanyaku yang mulai ketakutan.

"Dayeon... aku mencintaimu... perhatianmu padaku... mengingatkan perhatian ibuku padaku... tapi... sebentar lagi aku tak akan bisa bersamamu seperti ini... kau akan menikah... dan aku akan sendiri lagi seperti dulu... Kumohon Dayeon... bunuhlah aku... lebih baik aku mati... daripada hidup tanpa wanita sepertimu" kata Leo sambil mendekatkan pisau yang kugenggam ke hatinya.

PRAAANGG!! kulempar pisau Leo sejauh mungkin.

PLAAAK!!! lalu kutampar wajah Leo yang basah karena airmata.

"Tak kusangka... kau sepicik ini Leo!! KAU INI PRIA ATAU WANITA HAH!!! APAKAH SEMUDAH ITU KAU MENYERAH HAH!!!"

"Dayeon...KUMOHON!!! BUNUHLAH AKU!!! AKU TAK BISA HIDUP SEPERTI INI SELAMANYA!! Kau...orang terakhir yang kuharapkan Dayeon... namun sekali lagi aku terlambat... MENGAPA AKU SELALU TERLAMBAT MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN ITU HAH!!! MENGAPA HAH!!" bentak Leo yang semakin mendekatkan wajahnya

"Leo.... jangan lakukan ini..." kataku

"DAYEON!! Hidupku tak berharga sekarang... aku tak punya pengharapan lagi... kumohon... akhiri Hidupku Dayeon..." Leo pun menangis dihadapanku, airmatanya menetes deras membasahi bajuku.

"Aku tak mau mengenalmu lagi Leo! Jangan panggil aku!! SEKALIPUN!! JANGAN TAMPAKKAN WAJAHMU DIHADAPANKU!! ARRASEO!!! Aku malu memiliki teman sepertimu!!!" bentakku sambil melepaskan celemek hitam milik Leo, dan melangkah pergi meninggalkan Leo yang terus berteriak.

"DAYEON!!! TETAP DISINI!!! KUMOHON!!! DAYEOOOOON!!!!! BERHENTI!!! geuman!!!!! DAYEON!!! GEUMANNE!!! nal tteona jima !!!" teriakan Leo masih bisa kudengar walaupun aku sudah kembali ke apartement. Suara gaduh seperti hempasan perabot pun meramaikan malam yang begitu memilukan.

Bagaimana bisa ia mencintaiku? apa yang membuatnya mencintaiku?.


BRAKKKK!!!

suara hantaman itu terdengar dari bawah. aku segera berlari menuju jendela dan melihat apa yang terjadi. Seperti ada tamparan yang bertubi-tubi ke wajahku, ketika kulihat tubuh Leo sudah terbaring tak berdaya di atas mobil. Ia memutuskan untuk terjun dan bunuh diri. Mengapa ia memutuskan untuk meninggalkan dunianya yang masih bisa diperbaiki?. Mengapa?

"LEOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!! ANDWAEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!!!! LEOOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!" teriakku berharap ia masih bisa mendengarku dan bangkit. Tak menunggu lama, banyak orang yang mengerubungi tubuh Leo, mereka mengangkatnya dan membawanya entah kemana.

Kakiku begitu lemas, akupun terkapar di lantai, aku menangisi Leo yang begitu cepat memutuskan tentang hidupnya. aku menangisi diriku sendiri yang tak bisa menenangkan Leo dan memilih untuk egois, meninggalkannya sendiri dalam kehidupannya yang penuh masalah.

Leo... mengapa kau lakukan ini padaku?. secepat itukah kau tinggalkan aku?

to be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler