- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction Somun Part 3 VIXX

Fanfiction : Somun ( 소문 )

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : ---

Maincast :
Leo (VIXX)
Da Yeon ( You)

Part 3 :


Kasurku yang empuk terasa begitu dingin, walaupun jendela sudah kututup rapat, penghangat ruangan sudah kunyalakan, udara dingin menyengat tulangku. Lukaku yang disebabkan Leo pria pembunuh bayaran itu, kini sudah mengering. Untung saja Hongbin tak tahu kalau aku sedang terluka, kalau sampai ia tahu, aku akan menjadi dua kali lebih repot, karna harus menjawab pertanyaannya dan bertanggung jawab atas tindakan konyol yang nantinya ia lakukan dengan alasan untuk melindungiku.

Dua bedcover melindungi tubuhku dari dinginnya malam ini, aku masih tak bisa tidur nyenyak, kuingat-ingat lagi. Pintu depan sudah kukunci dengan benar, alarm keamanan sudah kupasang, masakan Haru sudah kumakan, apalagi yang belum kulakukan.

Aku sudah melakukan semuanya, Hongbin, mungkin sudah pulang sekarang, saat aku pamit untuk pulang lebih dulu, ia mengatakan akan tinggal sebentar di kantor untuk mengerjakan tugasnya yang lain. Pria itu 2 tahun lebih muda dariku, tapi kedewasaannya melebihi pria lainnya yang bekerjasama denganku.

Liputan yang ia pilih tak lepas dari kemasyarakatan, dan matanya itu, aku masih ingat betul, bagaimana ia menatapku, seakan mencoba menghipnotisku. Apapun yang ia inginkan akan kuturuti walaupun aku tak suka, bila aku menatap matanya itu.

Drrrrt... Drrrrrrrtt.. Drrrrrrttt.. handphoneku yang kuletakkan di meja kamar, bergetar, menandakan ada pesan baru. Bergegas kulihat siapa yang mengirim pesan di malam yang dingin seperti ini.

"Nuna... Have a wonderful dream... Besok aku jemput kau pukul 6 pagi.. kita akan pergi ke Busan, ada liputan khusus, Annyeong" pesan dari Hongbin membuatku semakin pusing.

"Ahhhsss.... Jinjja!!!!!!........ Ah...... Da yeon... cobalah untuk tidur eoh...!!" Kupaksa diriku untuk tidur, tapi dinginnya malam ini seakan membuatku harus berjaga-jaga, apalagi setelah menyadari tetanggaku adalah pria pembunuh yang kapan saja bisa menghabisi nyawa penghuni apartement ini, ketika ia tak mau terima.

"Ahhhhhhhhsssss... betapa sialnya diriku eoh!!" Aku bangun memutuskan untuk mengisi perutku dengan tteokbokki instan, mungkin saja setelah kenyang aku bisa terlelap.

Tak kusadari syal merah buatan Hongbin masih melingkar dileherku, membuatku nyaman. Lantai apartement terasa begitu dingin, walaupun aku sudah memakai kaus kaki lapis dua dan sandal rumahan dari karet tebal.

"tteokbokki... tteokbokki.... humm... do you love me? tteokbokki..." nyanyianku menggema di dapur, aku biasa mendendangkan apa saja yang melintas di otakku, menyingkirkan rasa takut yang kini membuat bulu kudukku sedikit berdiri, apalagi setelah kulihat lampu di depan pintu apartementku menyala, menandakan ada orang di luar apartementku yang sedang menunggu.

Kuambil pisau dapur, dan meninggalkan tteokbokki yang menari-nari di dalam air panas. Melangkah tanpa suara, kudekati pintu apartement, dari celah bundar di pintu, kulihat siapa yang sedang menunggu di luar apartementku.

Tak ada siapapun di luar, ini membuatku semakin ketakutan, apakah hantu sedang ingin bermain denganku! Tak mungkin, pasti ada seseorang yang ingin mempermainkanku saat ini.

Satu menit aku tunggu sambil mengintip siapa sebenarnya yang ingin bertamu tengah malam seperti ini. Tak lama kemudian, kulihat pria brengsek itu lewat di depan apartementku, ia menyeret dua karung sampah, tak lama kemudian ia kembali. tepat di hadapanku.

Kami terhalang pintu baja yang begitu keras, kalaupun ia ingin menembakku dengan shotgun, pelurunya tak akan pernah bisa menembus pintu. dan aku bersyukur masih ada pintu baja yang melindungiku.

Leo terlihat membenarkan rambutnya, membenarkan krah bajunya, merapatkan jaketnya, lalu menekan bel apartementku.

TING TONG! TING TONG! TING TONG!

Baru kali ini, aku merasakan bel apartementku terdengar mengerikan, mungkin karena pembunuh bayaran yang menekannya.

Blurrppp.... Blurppp... Blurppp... suara tteokbokki yang matang, aku segera berlari ke dapur, mematikan kompor, dan membiarkan tteokbokki ku semakin hancur dalam air mendidih.

Suara bel masih terdengar berkali-kali, aku hanya diam di sudut dapur, bingung memikirkan apa yang harus kulakukan, dan menebak-nebak sebenarnya apa yang pria itu inginkan dariku. Apakah ia tahu aku menyembunyikan suratnya?.

BRAKKK BRAKK BRAKKK!!

Kini suara bel berubah, pria itu semakin tak sabar, dengan pisau ditangan kiri, kuberanikan diri melihat lagi apa yang dilakukan Leo di depan apartementku.

Ia menendang pintu apartementku, seakan ingin merusaknya, dari wajahnya aku tahu ia sedang marah besar. Akhirnya keputusanku sudah bulat, kuputuskan membuka pintu dan menghadapinya sendirian, lagipula aku punya pisau yang bisa melindungiku.

BRAKK!!

Ia menendang pintuku hingga engselnya rusak.

"STOP!! Aku akan melaporkanmu dengan pasal perusakan dan pen!" kuhentikan kata-kataku, ketika melihat Leo yang mencoba menahan amarahnya, nafasnya yang berat begitu jelas kudengar.

"Mana suratku?... hmmmm... KAU SEMBUNYIKAN DIMANA SURATKU!!" bentak Leo yang mencoba masuk ke dalam apartementku, tapi aku tak bisa mengalah begitu saja, kutahan pintu dengan sekuat tenaga.

"Aku tak tahu!! Tadi sore sudah kuberikan semua padamu! Aku tak tahu tentang suratmu!"

"DASAR PEMBOHONG!!! APAKAH WANITA SELALU INGIN MENGURUSI URUSAN ORANG LAIN HAH!!! BERIKAN SURATKU!!!"

"ANDWAE!! AKU TAK TAHU!!" Kataku sambil menahan pintu yang hampir saja terbuka. Leo menjulurkan dadanya dan akhirnya ia bisa masuk ke apartementku, kubiarkan ia menggeledah setiap jengkal apartementku, toh suratnya ada di mobilku, rupanya ia tahu kalau 999xx999 mengirimkan surat untuknya. Atau, mungkinkah 999xx999 menanyakan tentang suratnya?.

"MANA!! KAU SIMPAN DIMANA SURATKU!!" teriak Leo sambil menghempaskan lemari kecilku yang berisi berkas-berkas berita.

"Aku tak tahu... Surat apa yang kau maksud HAH!! Bukankah aku sudah memberikannya tadi HAH!! YAAAAA SEKKIYAAAAAAAA!!!!! JANGAN SENTUH BARANGKU!!" teriakku tak terima, ketika ia menghancurkan foto ayahku yang tergantung di ruang tamu.

Leo berlari ke arahku, menyudutkanku di dinding, tangannya yang kekar dihempaskannya di dinding.

"Kau... Kalau aku sampai tahu... ternyata kau yang menyimpan suratku... aku tak segan-segan membuatmu menderita!" ancamnya, bau busuk dari tubuhnya membuatku mual.

"Kau.... aku bisa melaporkan kau ke kepolisian atas tindak pengancaman... dan pengerusakan..."

"Haha!!... laporkan saja...... Yaa... Yeoja...!! Katakan padaku... dimana kau menyimpan suratku!! HAHHH!!" teriak Leo tepat di depan wajahku.

"Aku... tak tahu..."

"Okey... kuanggap kau tak tahu... terima kasih telah menerimaku sebagai tamu malam ini... lanjutkan acara memasakmu... ingat!... kalau aku sampai tahu kau mencampuri urusanku lagi... aku tak segan-segan... menghancurkanmu!" itulah ancaman Leo yang terakhir kali, sebelum ia pergi, ia sempat menendang lemari sepatu milikku, hingga semua sepatu berserakan.

Brakk!! Pintu tertutup. batinku pun sudah menderita saat ini.

"AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!! SSEEEEEKKIIYAAAAAAAAAA!!!" teriakku, apa yang harus kulakukan sekarang? apakah aku harus diam saja, setelah mengetahui ada rencana pembunuhan? apakah aku harus melaporkan Leo ke polisi tanpa bukti yang kuat?.

"AHHHHHHHHHSSSSSS!!" aku hanya menangis sendiri, sambil mencoba menghilangkan aroma busuk yang ditinggalkan Leo.

to be continue


 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler