- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Fanfiction Somun S2 Part 2


Fanfiction Somun Series 2

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan, Arraseo? Gomawoyo"

Author : Ayuna Kusuma

Maincast :

D.O EXO K
XIUMIN EXO M
Han YunHi : You

Genre : Emotional Love, Mystery,

Location : Daegu, Incheon.



Part 2 :

Terselip sebuah pesan penting di handphoneku, diantara pesan dari klien. Kuhentikan langkahku sejenak, dan membaca isi pesan dari Luhan.

"Bisakah kau datang hari ini? aku menunggumu sampai pukul 4 sore... kalau kau tak datang... kau akan kehilanganku lagi" Luhan, lebih tua dariku 2 tahun, tapi dalam dunia nyata ia sangat kekanakkan.

Saat ini ia tinggal di rumah sakit demi menjalani pengobatan dan terapi bebas obat terlarang, setiap hari ia harus berada di rumah sakit sendirian. Ia selalu mengatakan padaku ingin bebas dari ketergantungan narkoba, tapi beberapa saat kemudian ia memaksaku membelikan obat yang sering ia konsumsi disaat tak ada pengawas yang melihatnya.

Tapi kali ini, aku tak akan terpengaruh oleh tangisannya, demi kesehatan Luhan, bila harus kutampar untuk menyadarkannya, aku akan lakukan hal itu.

Jarum jam menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit, masih banyak waktu untuk menuju rumah sakit.

Bis berhiaskan iklan kecantikkan berhenti didepanku. Setelah semua penumpang masuk, aku pun masuk memilih kursi paling belakang yang tak pernah disukai semua penumpang.

Kurebahkan tubuhku di kursi yang lenggang, sambil membaca buku Kyung Soo. Disini aku bisa membayangkan sosok Yunhi yang sebenarnya, ia lebih banyak diam daripada bicara, ia lebih suka mendengarkan musik daripada bernyanyi, lagu yang ia sukai. Exo K - Lucky. Aha... aku juga suka itu. Kurasa ada beberapa kesamaan diantara kami.

Salah satunya aku lebih suka dingin daripada harus kepanasan. Yunhi gemar menonton film horror daripada komedi, ah... sepertinya ia gadis yang selama kucari.

Kupukul wajahku dengan buku Kyung Soo. secepatnya kusadarkan pikiranku yang kurang jernih, gara-gara membaca sekaligus memandangi wajah Yunhi.

"Sadarlah... dia targetmu... selesaikan... lalu ajak Luhan pindah ke Singapore... ya... selesaikan dan pindah... Arraseo!!." Sekilas kulihat gedung rumah sakit yang menjulang tinggi. Akupun bangkit dan menunggu bis berhenti di halte selanjutnya.

Satu... dua... tiga... pintu bis pun terbuka, tak sabar bertemu dengan Luhan, aku pun memilih meloncat turun dari bis.

"KAU!!! Ahss...Ck!! Keterlaluan! Lihatlah bajuku!!" teriak seorang gadis yang sedang sibuk menghilangkan bercak kopi yang melekat di kemejanya.

"Mianhae..... aku tak sengaja... mianhae..." akupun memohon, dan mencoba menghindar darinya, tapi sepertinya terlambat, gadis itu menyambar tanganku.

"Kau sudah menabrakku! menumpahkan kopi di kemejaku! sekarang... kau harus bertanggung jawab!" Entah mataku yang rusak, atau ingatanku yang selalu tertuju pada Yunhi, kulihat gadis yang mencengkram tanganku, punya wajah yang sama dengan Yunhi.

"oh..." gumamku sambil mencari pembenaran atas pandanganku, lalu kugeser mataku ke bawah, dan benar rupanya, gadis yang kutabrak tadi adalah Han Yunhi. Ah... Sesaange.... terima kasih kau selalu membantuku... sebuah kebetulan yang membuatku semakin beruntung.

"Hei!... sekarang bagaimana?? Ah.... sudahlah.. pergilah!" kata Yunhi, ia lepaskan cengkraman tangannya.

"Hmm... Nona.. mianhae... aku tak punya banyak waktu... bisa berikan aku alamatmu... aku akan membelikanmu kemeja yang baru... berikan juga keterangan ukuranmu... nanti malam... aku akan menggantinya..."

Yunhi terdiam sebentar, ia memalingkan wajahnya dariku, lalu menatapku dengan senyuman penuh godaan.

"Kau serius?"

"Ye! Aku akan menggantinya... tuliskan juga merk yang sama... aku akan mengantinya.." kataku mencoba menyakinkannya.

"Arraseo... sebenarnya... aku hanya ingin mendengar kata maaf darimu... tapi kalau kau mau menggantinya... boleh juga... jjamkanmannyo..." Yunhi membuka tasnya, yang kulihat isinya baju balet dan buku catatan kecil. Lalu ia keluarkan buku itu dan mencatatkan sebuah alamat beserta ukuran dan merk kemeja yang telah kunodai.

"Ini... mianhae... bukan aku yang meminta... tapi kau yang memberiku..." kata Yunhi, tangannya begitu dingin ketika aku tak sengaja menyentuhnya.

"Ye... no problem.. nanti malam aku akan ke rumahmu.." kataku.

"Ah..! Annie.. itu alamat kantorku.. kau bisa menungguku disana... dan itu no handphoneku... kau bisa menghubungiku kalau kau sudah sampai dikantor..."

"Hmm... okey... Yunhi.." gumamku, aku hampir tertawa melihat tulisan gadis itu yang terlihat begitu menggoda.

"Siapa namamu?" tanya Yunhi yang mencoba memandangku dari rambut sampai kaki.

"Bismu sudah datang... kau akan tahu namaku nanti malam... Yunhi" gumamku.

"Heehe... gomawo... annyeong..." Yunhi melambaikan tangannya padaku sebelum ia masuk ke dalam bis.

Sekarang, aku sudah mendapat kejelasan dari perkara Kyung Soo dan Yunhi. Heh! Walaupun Yunhi punya wajah polos, tapi wanita itu tak sepolos yang kuduga. Kurasa, akan sulit berhadapan dengan playgirl seperti dia. Mengapa aku menyebutnya playgirl?, karena sudah bisa kulihat dari matanya yang mencoba mengunci hatiku.

"Kau tak bisa mempengaruhiku Yunhi... haha... hahahahaha!!"

BRUUUKK!!

Seseorang memukul kepalaku dari belakang, ketika aku berbalik dan ingin menendangnya, ternyata Luhan lah yang memukul kepalaku dengan novelnya yang tebal.

"Yunhi! Yunhi!! PEREMPUAN SAJA YANG KAU URUS!! Kau berjanji akan menemuiku kemarin! tapi kau tak muncul! aku hampir mati karnamu!! AUH!!!"

BRUKKK!! Ia menghempaskan bukunya lagi ke kepalaku.

"Hyung! Bukannya baru hari ini kau mengirimkan pesan??"

Luhan ingin memukulkan bukunya lagi kekepalaku, tapi tanganku berhasil menangkisnya.

"Kalau bodoh... jangan kelewatan... lihatlah.. ahsss.. sudahlah... jangan membahas hal itu... kau membuatku kesal saja!! Auhhhsss.. dingin sekali disini..." gumam Luhan sambil duduk di halte bis.

"Kau ingin kabur lagi?" tanyaku sambil memberikan sebatang rokok pada Luhan, lalu menyalakan api untuknya.

"Tentu saja... harus berapa lama lagi aku akan ditahan disana?"

"Hyung... percayalah padaku... jangan pernah memakai obat itu lagi... hiduplah dengan normal... hanya kau keluargaku.. eoh... aku tak ingin kau menderita.." kataku sambil melingkarkan lenganku ke leher Luhan.

"Haiss!!" Luhan dengan kasar menyingkirkan lenganku "Kau pikir semudah itu? kalau kau bisa mengatakan itu... aku juga bisa mengatakan... XIUMIN! berhenti jadi pembunuh! Hiduplah tanpa membunuh! cari pekerjaan lain! hiduplah dengan normal!! apa itu mudah??? lihatlah wajahmu yang mulai mengeriput... apa yang kukatakan tadi sangat sulit bagimu kan?? sama saja denganku... apa yang kau katakan tadi BULLSHIT! itu sulit bagiku... fuuuuhh" Luhan mengakhiri kata-katanya dengan hembusan asap rokok dari mulutnya.

"Mianhae..." bisikku.

"Siapa selanjutnya yang akan kau bunuh? mungkin aku bisa membantumu"

"tak perlu... ini.. uang pengobatanmu... bulan kemarin dan bulan ini... aku susah payah bekerja.. kumohon kau bisa menghargai hasil jerih payahku... dengan tak menyentuh obat-obatan itu lagi..." kulemparkan sekantong uang ke Luhan, ia membukanya lalu sibuk menghitungnya, tanpa mempedulikan aku yang sudah meninggalkannya.

Luhan, aku melakukan ini semua hanya untukmu, hanya kau yang kumiliki, kuharap kau mau mengerti.

to be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler