- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Shit Down Chap 7 Nakata


Flash Story : Shit Down
Author : Ayuna Kusuma

"Sebelum/Sesudah membaca Fanfiction ini, budayakan share, Like, dan komentar. Terima kasih atas dukungannya"


Chapter Seven :

Nakata Side :

"Kalian berdua.... sejak kapan semuanya ini bermula?" tanya Ibu yang selama ini selalu ingin menghapus diriku dalam dunianya, airmatanya yang tak pernah untukku, kini mengalir begitu deras.

"Ibu.... jangan salah paham... jangan dengarkan semua kata-kata Yoshi... antara kami berdua tak ada hubungan apapun kecuali persaudaraan" kata Nanako mencoba menenangkan, entah mengapa sepertinya aku sedikit kecewa mendengar pembelaannya.

"Nanako... jangan berbohong padanya... Katakan semuanya... Benar bu... aku mencintai kakak tiriku sendiri... aku sungguh mencintainya..." kataku sambil menghalangi darahku yang deras keluar dari hidungku.

"KAU!!! Sudah kuduga!!! Kau memang anak iblis!!! Bisa-bisanya HAH!!! Bisa-bisanya kau mempermalukan ibu seperti ini!! Bagaimana kalau Ayahmu tahu Hah!!!" wanita yang mengaku Ibuku selama ini tiba-tiba mengambil tongkat kayu dan menghajarku tepat di depan Nanako.

"Ibu!!! Sudah!!! Jangan sakiti Nakata!!! Ia tak bersalah!!! Ibu!!! Jangan sakiti dia!!! Ibu........" Nanako seperti biasa selalu melindungiku, entah berapa kali ibu memukul punggungnya, wanita itu sungguh diluar batas, Ayah Nanako keluar dengan terburu-buru, merangkul istrinya lalu menyeretnya ke dalam rumah tanpa sepatah kata.

"KAU!!!! HARUSNYA KUBUNUH KAU SEJAK DULU!!! MEMALUKAN!!!" teriak wanita itu sekali lagi, membuat tetangga-tetangga yang melihat kami semakin bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?.

"Nakata... kau baik-baik saja? bagaimana hidungmu? kau masih pusing?" tanya Nanako sambil menyeka darah di hidungku.

"Bukan masalah... kau sendiri... apa punggungmu sakit? apa ia memukulmu begitu keras?"

"Ie... tidak apa... kau bisa berdiri? ayo kubantu!" kata Nanako sambil mengulurkan tangannya, caranya berdiri, aku tahu punggungnya masih terasa sakit. Tapi bukan Nanako namanya kalau ia berterus terang padaku tentang apa yang ia rasa.

***

Acara liburan ke pantai, kami tunda, seharian ini Ibu tak mau keluar kamar, Ayah pun masih menemani ibu di kamar. Ayah Nanako memang pria yang luar biasa menurutku. Ia mencintai Ibuku, tak peduli kejahatan apa saja yang telah ia lakukan pada anaknya sendiri. Ayah Nanako pun menyayangiku seperti ia menyayangi Nanako, ia tak pernah memarahiku walaupun terkadang kenakalanku terlewat batas.

"Nakata.... apa yang kau pikirkan euhmm?" tanya Nanako sambil mengumpulkan obat untukku di tangannya yang mungil.

"Ibu... Aku kasihan pada Ayahmu... Ia pasti membuat ayahmu pusing... bagaimana bisa ia memukulmu seperti itu... kuharap kali ini Ayah marah padanya..."

"Nakata..... cepat minum obatnya... kita tak bisa ikut campur urusan mereka... biarkan saja..." kata Nanako "Harusnya kau ikuti saja apa kataku tadi... jangan ungkapkan kalau kita punya hubungan... sebelum ibu tahu kita memang pantas"

"Menurutmu kapan kita pantas mengungkapkannya? ehhmm" kuminum semua obat yang diberikan Nanako, sekali tegukan tanpa air, seperti biasa.

"Akupun tak tahu..."

"Nanako... kau sendiri sudah tahu... kalau tak lama lagi aku akan tutup usia... apakah kau ingin kita merahasiakannya selama yang kau inginkan? lalu bagaimana denganku? Menikah... dengan siapapun aku bisa melakukannya... denganmu... dengan Yoshi... dengan siapapun aku bisa melakukannya... tapi masalahnya... aku tak bisa bersama wanita selain dirimu... kalau kau mengerti itu... kau tak akan mengecewakanku dengan sikapmu seperti tadi!!"

"Nakata.... kau... marah padaku?"

Aku hanya bisa menganggukkan kepala, tak ada kata-kata lagi yang bisa kuungkapkan, kepalaku terasa begitu pening.

"Nanako... Kurasa... aku harus kembali membahagiakan Yoshi... sikapku tadi kurasa keterlaluan... Jangan tunggu aku... mungkin aku pulang malam hari ini..."

"Tapi... Nakata... " Nanako merebut tanganku, terlihat ketidakpercayaan ditatapan matanya.

"Berikan aku waktu Nanako... Yoshi posisinya sama denganku, seminggu lagi ia akan meninggal, kalau bukan aku yang membahagiakannya, siapa lagi... ia tak punya teman satupun... seperti diriku... temanku... yang kucintai hanya dirimu Nanako... Yoshi pun begitu... temannya... dan yang ia cintai hanya diriku... kalau aku tak bisa membahagiakannya... kaupun tak bisa membahagiakanku..." kucoba untuk menenangkan Nanako yang sedang menunjukkan ketidakpercayaannya.

"Nakata... tapi..."

"Yoshi... tak akan pernah bisa merebut tempatmu di hatiku... percayalah Nanako... belajarlah percaya padaku kali ini..."

***

Kamar Yoshi terlihat kosong dan sudah tertata rapi. tetangga di sebelahnya pun kosong, bingung mencarinya kemana, kutanyakan saja pada Dokter Daiki yang kebetulan lewat di depan kamar Yoshi.

"Dokter!! Sebentar..." kataku sambil mengejarnya.

"Oh!!! Nakata... katanya kau dan Nanako akan berlibur ke Pantai... mengapa ada disini?" Tanya Daiki

"Dibatalkan... Ibu sedang sakit... Dokter kau tahu tidak... kemana Pasien bernama Yoshi? apakah dia dipindahkan? atau sudah pulang ke rumahnya?"

"Yoshi? Ahh.... lima jam yang lalu polisi menemukan ia terkapar di halte bis... dengan keadaan yang fatal..."

"Fatal!!! maksudmu??"

"Iya... ia pingsan... dan darah mengalir deras dari hidung juga telinganya... sekarang ia dipindahkan di kamar inap dekat kamar icu... ibunya yang meminta itu"

"Okey... Terima kasih Daiki!!... Ah... Dokter!!"

"Hehehehe... panggillah aku sesukamu Nakata!!" teriakan Dokter Daiki tak kuhiraukan, aku langsung berlari ke kamar inap sebelah kamar ICU tempat biasanya aku tidur sambil menunggu Nanako dulu.

Tak perlu lama mencari, akhirnya kutemukan juga Yoshi dan Ibunya. Dari balik jendela di pintu masuk, kulihat keadaan Yoshi yang begitu lemah, kulitnya pucat, lingkaran matanya semakin menghitam.

Ibunya berpaling dan melihatku, ia segera membuka pintu dan menarikku masuk.

"Nakata... untung kau datang... sedari tadi ia memanggilmu terus menerus... Aku tak tahu harus mencarimu kemana... bagaimana kau tahu kami ada disini?"

"Dokter Daiki memberitahukan kamarnya padaku... Bagaimana keadaanya Bu?" tanyaku sambil duduk di sebelah Yoshi yang tidur terlelap.

"Aku hampir putus asa... ketika menemukannya terkapar di halte... ada orang yang menganiayanya, bekas tamparan di pipinya sampai sekarang tak bisa hilang... ia hampir kehabisan darah... penyakitnya kambuh lagi... Dokter mengatakan kalau telat beberapa jam... Yoshi akan meninggal di tempat... Nakata... bagaimana ini... Nakata... apakah aku harus kehilangan anakku satu-satunya... euhmmm"

To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler