- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Shit Down Chapt 6 Nanako




Flash Story : Shit Down
Author : Ayuna Kusuma

"Sebelum/Sesudah membaca Fanfiction ini, budayakan share, Like, dan komentar. Terima kasih atas dukungannya"


***


Chapter Six : Nanako Side

Biarpun cahaya mentari mencoba membangunkanku dari mimpi indah semalam, aku masih bertahan diatas tempat tidur, berbaring sambil mengingat-ingat apa saja yang kulakukan bersama Nakata semalam.

Kami menghabiskan semalam penuh di kedai okonomiyaki, kedai ice cream, dan pusat mainan yang buka 24 jam. Kami berdua bertingkah layaknya remaja yang baru jatuh cinta. Nakata sudah bisa menahan dirinya untuk tidak mengkonsumsi gula demi kesehatannya, ia memberitahukan tentang keseriusannya padaku untuk menjaga kesehatannya walaupun tak pernah mengatakannya padaku.

Tapi, Nakata tetap seorang adik yang sering kekanakan, di pusat mainan 24 jam, ia membeli beberapa paket lego, dan puzzle seperti kebiasaanya beberapa tahun yang lalu sebelum ia lulus dari sekolah.

Setelah pulang ke rumah, Nakata melarangku tidur, ia mengajakku bermain lego semalaman penuh hingga pukul 3 pagi. Banyak sekali yang kami ceritakan malam itu.

Dan karena malam itu, aku bisa tahu, Nakata beberapa kali cemburu pada teman priaku di kampus, bahkan pada Daiki, sahabatku selama ini.

"Aku cemburu pada mereka... mengapa mereka bisa menjadi orang asing. yang .dekat denganmu" Gumam Nakata sambil merebahkan kepalanya di bantal dekat Tv, lalu terlelap tidur.

"Akupun cemburu pada Yoshi... tapi aku tak ingin kau tahu Nakata" Gumamku sambil menggosok wajahku yang kotor karena keringat.

Dok Dok Dok...!!

Suara ketukan pintu mengejutkanku.

"Ya...!" gumamku sambil membereskan tempat tidurku.

"Nanako...." Nakata memanggilku dari luar kamar.

"Ya... sebentar.." kurapikan pakaianku, lalu kubuka pintu, di depanku Nakata masih setengah terlelap, berdiri sambil menyandarkan kepalanya ke daun pintu.

"Hai..." kataku betapa konyolnya aku, kulambaikan tanganku ke arah Nakata yang masih memejamkan matanya.

"Haaaiii...... huuuuummm" gumamnya, ia memindahkan kepalanya ke pundakku. "Nanako... bolehkah aku tidur di tempatmu sebentar.... saja..... sepertinya kepalaku pening sekali..."

"Silahkan... " kataku sambil menjauhkan kepalanya dari pundakku, Kalau Ibu melihat kami seperti ini, ia akan mencurigai kami "Tidurlah.. aku harus membantu ibu di dapur..."

"Aaaa... Nanako.... jangan pergi... aku tak ingin kau pergi.... disinilah sebentar saja denganku..." kata Nakata sambil menyandarkan kepalanya lagi di pundakku, kali ini ia juga memelukku dari belakang.

"Nakata... jangan seperti ini.... aku tak mau kalau kau bersikap seperti ini padaku" kataku sambil mendorongnya kebelakang lalu membaringkannya ke tempat tidurku "Istirahatlah... jangan pikirkan apapun... kalau kau pusing... tidurlah... aku akan tetap bersamamu... Hari ini... aku akan izin tidak masuk... kita akan berlibur ke pantai... kau mau?"

"Hont┼Źni???" mata Nakata langsung membulat menatapku.

"Honto..!" kataku sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya.

"Kemarin aku sudah membaca hukum Negara... kita bisa menikah Nanako... karena kita sama sekali tak ada ikatan tali persaudaraan... kita bukan saudara sedarah... hehe... suatu saat nanti... kita bisa menikah... apakah kau senang?"

"Tentu saja...." kataku sambil mencium pipi Nakata, lalu kutinggalkan ia tidur di kamarku.

***

Makanan sudah tersaji di meja, Ayah, Nakata, dan Ibu pun sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Menikmati makanan yang lezat pagi ini.

"Nanako... kau tidak ke kantor hari ini?" tanya Ayah.

"Iya... hari ini tak ada operasi, dan semua pasienku keadaannya semakin membaik, beberapa ada yang keluar hari ini" jelasku

"Hmmmm... bagus... karirmu semakin cemerlang" puji Ayah.

"Kalau kau Nakata!! Berapa lama kau sudah tidak masuk kerja di Wagashi UChi!! kau ingin jadi pengangguran hah!!" bentak Ibu pada Nakata.

"Aku sudah bekerja di luar... aku sudah keluar dari Wagashi... sekarang aku bekerja sebagai programer game... kau saja yang tak tahu... kemana saja kau selama ini... sampai-sampai tak tahu kabar anakmu satu-satunya... hasss... ck ck ck" kata Nakata sambil menunjuk Ibu dengan sumpitnya.

"Nakata!!!" Ibu semakin marah, ia menghempaskan mangkuk nasinya, hingga berceceran di meja.

"Sudah bu... Nakata hanya bercanda saja..." kataku sambil menggosok punggung Ibu, berusaha menenangkannya.

"Anak itu... dia selalu menyakitiku...!!" kata Ibu tak mau mereda.

"Huh....!! kau lupa??? Kau yang selama ini menyakitiku... siapa yang mau membunuhku ?? bukankah kau??" tanya Nakata tanpa ekspresi

"Auuuh!!!.... Nanako... antar aku ke kamar... jantungku sakit sekali..."

TING TONG........ Ting TONG.......

Bel berbunyi berkali-kali.

"Daripada mengurusi ucapanmu yang menyakitiku... lebih baik kulihat siapa yang datang... auhhh" gumam ibu sambil berjalan ke layar keamanan, melihat siapa yang datang sepagi ini.

Nakata berkali-kali melirikku, dasar, ia masih saja tak bisa mengontrol ucapannya.

"Nakata... ia tetap ibumu... jangan mengatakan itu lagi padanya... okey?" gumam Ayah

"Hai..!!" jawab Nakata.

Ibu berlari masuk ke dapur, ia melambaikan tangan ke orang di belakangnya.

"Kalian semuanya........!! Lihatlah...... siapa yang datang sepagi ini???" tanya Ibu begitu bersemangat.

"hmmmm?" gumamku dengan Nakata bersamaan.

"Yoshi!!!!!... Ini dia.. Kekasih Nakata........ Hassh... Nakata... menyakitkan seperti apapun kata-katamu padaku... akan kumaafkan kalau kau ternyata bisa mendapatkan kekasih secantik ini... Yoshi..... jangan bersembunyi... ayo sini..." kata Ibu.

Yoshi pun muncul dari balik dinding, ia tersenyum pada Nakata, sedangkan padaku, ia sepertinya begitu sinis, aku tahu dari bibirnya yang terus mencibir.

"Yoshi!!! Apa yang kau lakukan disini HAH!!!" Nakata begitu marah, ia melemparkan mangkuk dan sumpitnya ke meja, lalu menyeret Yoshi keluar dari rumah.

Ibu hanya diam terpaku melihat kejadian yang tak seperti yang ia harapkan.

"Nanako... apa yang terjadi dengan mereka??" kata Ibu saat menahanku untuk mengikuti Nakata.

"Akupun tak tahu Bu..."

"Kejarlah mereka... jangan sampai penyakit Nakata kambuh lagi.... aku tak ingin ia terluka" kata Ibu.

Akupun mengikuti kemana Nakata membawa Yoshi. dari kejauhan aku bisa melihat mereka bertengkar hebat. Dari balik tiang listrik yang cukup besar, aku bisa mendengar apa saja kata Nakata dan Yoshi.

"Lancang sekali kau datang ke rumahku...!!! Aku tak mau lagi mengenalmu Yoshi!!! pergilah dari kehidupanku..!! Kucoba untuk peduli denganmu... tapi kau tak pernah peduli dengan orang yang menolongmu... Sekarang... semakin jelas apa yang harus kulakukan...!! Hummm... Aku tak mau lagi peduli kapan kau mati!! DETIK INI KAU MATI!!! Aku tak akan pernah peduli!!!"

"Nakata.... tapi aku.... aku mulai mencintaimu... Bagaimana denganku?... mengapa kau hanya mencintai Nanako saja??? tak bisakah kau berpaling padaku!!! Ia kakakmu!!! kalau ibumu tahu... Ayahmu Tahu... mereka tak akan pernah menyetujui hubungan kalian!!!"

PLAZZZZ!!!

Nakata pun menampar Yoshi tepat di depanku.

"Lancang sekali kau mau merusak impianku!!! Hah!!! PERGI !!!!!"

"AKU BERJANJI PADA DUNIA!!! AKU AKAN MEMBUAT KAU DAN NANAKO TAK AKAN PERNAH BERSATU!!! CINTA KALIAN MENJIJIKKAN!!! AKU AKAN MENGHANCURKAN CINTA KALIAN!!! INGAT ITU NAKATA!!!! Akan kubuat kau mencintaiku!!!" Nakata jatuh di hadapan Yoshi. darah mengalir keluar dari hidung dan mulutnya.

Yoshi berlari menjauh dan tak peduli apapun yang terjadi pada Nakata, akupun segera menghampiri Nakata dan membaringkan kepalanya di kakiku.

"Jangan menunduk... menghadap keatas... apa kau masih pusing?"

Nakata hanya menanggukkan kepalanya.

"Sudah... bertahanlah sebentar... 2 menit cukup untuk menahan darah tak menetes terlalu banyak... kita akan kembali ke rumah kalau darahmu sudah tak keluar lagi..."

"Nanako... kau mendengar semuanya?"

"Ya..... tentu saja... aku bisa mendengar semuanya..." kataku.

"Akupun bisa mendengarnya... Nakata... Nanako..." gumam seseorang di belakang kami. Ketika kulihat ke belakang.

"Ibu...."

"Kalian berdua.... sejak kapan semuanya ini bermula?" tanya Ibu sambil menghapus airmatanya.

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler