- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Shit Down Chapt 8 Nanako

Flash Story : Shit Down
Author : Ayuna Kusuma


Nanako Side :

Ayah dan Ibu masih tetap di kamar mereka, terkadang terdengar teriakan Ibu yang melengking. Sepertinya aku tak bisa masuk dan memberitahukan kalau Nakata sedang kritis sekarang. Dengan terpaksa, aku meluncur sendiri ke rumah sakit dengan mobil ayah yang seharusnya ia pakai ke kantor.

Nakata lebih penting daripada mengintrupsi pertengkaran antara Ayahku dan ibu, Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi dengan Nakata dan Yoshi di rumah sakit. Mungkinkah mereka bertengkar lagi karna diriku?. Mengingat bagaimana Nakata menampar Yoshi saja membuatku ketakutan.

Yoshi juga pasienku, bila ada yang melakukan hal sekasar itu padanya, akupun turut prihatin. Tapi Nakata lah yang melakukannya, lalu aku bisa apa?. Banyak dilema dalam pikiranku, apakah setelah ini lebih baik aku tinggalkan saja semuanya.

Nakata, mungkin tak bisa menerima itu. Pikiranku yang kalut tertuju pada Nakata, bisakah ia bertahan melawan serangan penyakitnya?.

Sepuluh menit, akhirnya sampai juga di rumah sakit, untung saja tak ada polisi yang mengejarku ketika kutancap mobil ayah dengan kecepatan 100km/jam

Di telephone, Nakata mengatakan kalau ia berada di kantorku. Saat ini, Daiki mungkin sudah mengatasi keadaan Yoshi yang sekarat. Akupun memutuskan menuju kantor.

"Nakata....!!" Nakata Terkapar tengah pintu, kepalanya bersandar di daun pintu, ia masih sadar, matanya melihatku, bibirnya masih bisa tersenyum, dan tangannya tetap menahan darah yang keluar dari hidungnya.

"Nanako... kepalaku... sakit sekali... aku juga ingin muntah..."

"Sebentar... aku akan paggilkan suster..."

"hmmm... Nanako... Bagaimana dengan Yoshi?"

"Jangan pikirkan dia... kalian akan baik-baik saja..." kataku yang terakhir kali. Kutinggalkan Nakata demi mencari suster yang tak pernah bisa diandalkan. Peristiwa ini, harus kucatat dan kulaporkan ke manajemen pusat, agar suster yang berjaga di rumah sakit lebih perhatian dan menyebar dalam berjaga.

"HYAAAAA!!! KAU!!! CEPAT BAWA RANJANG ITU!!! BODOH SEKALI KALIAN!!! APA KAU TAK BISA MELIHAT PASIEN TERKAPAR DI KANTORKU HAH!!!"

"Tapi... Dok... kami sedang istirahat..." sangkal suster yang duduk di kantin sambil makan bekalnya.

"SHIT!!! CEPAT IKUT AKU!!! ATAU KULAPORKAN KALIAN SEMUA? Mau DIPECAT HAH!!!"

"Baiklah Dok..." Suster yang menyangkal kesalahannya, bersama beberapa temannya mengikutiku. Di dalam rumah sakit mereka mengambil satu ranjang untuk Nakata.

Sesampainya di kantor, aku masih menemukan Nakata dengan keadaan yang sama, hanya saja muntahannya yang bercampur darah mengotori kaosnya.

"Cepat bawa dia ke ruang INSENTIVE CARE UNIT... CEPAT!!! ANGKAT!!!" Kataku pada empat suster yang berdiri di depanku.

"HAI!!" Mereka pun membantuku mengangkat Nakata yang hampir pingsan tak kuat menahan rasa sakitnya.

***

Bersama dokter Kugou yang sedang berjaga di rumah INSENTIVE CARE UNIT kurawat Nakata, Kugou sudah memberikan cairan infus dan berbagai obat untuk menghilangkan rasa sakitnya.

Nakata kini sedang tertidur di ruang inap INSENTIVE CARE UNIT, kutinggalkan dia sebentar untuk mengurusi administrasi inap 3 hari yang harus dijalani Nakata.

"Nanako....??" tegur seorang pria dari belakangku.

"Daiki...!!! Yoshi!! Bagaimana dia???"

"Anak itu... sepuluh menit yang lalu menutup usianya... Nanako... mari ikut aku ke ruangan Yoshi... Ibu Yoshi ingin bertemu denganmu..."

"Nakata.... apa yang dia lakukan pada anak itu... hmmm" kekhawatiranku pun memuncak ketika mendengar Yoshi telah meninggal dunia, tepat ketika Nakata mengunjunginya.

"Tak perlu khawatir... aku melihat mereka dari balik jendela... Nakata tak melakukan apapun... kalau ibu Yoshi ingin membawa ini ke jalur hukum... aku sebagai saksinya... Adikmu tak melakukan kesalahan apapun... Yoshi hanya memeluknya... lalu melepaskan nafasnya yang terakhir kali... Ayo... Nanako... ikut aku..." Daiki menggiringku ke kamar Yoshi. Tangannya yang lembut mencoba menenangkanku.

Di dalam kamar Yoshi, Ibu gadis itu segera berlari kearahku, lalu memelukku.

"Dok... terima kasih atas segala bantuanmu... dan segala kesediaan adikmu untuk memberikan kebahagiaan pada Yoshi... saat ini... aku tak tahu harus melakukan apa?... anakku satu-satunya telah pergi untuk selamanya... Dokter... maukah kau datang ke pemakaman Yoshi yang akan diselenggarakan malam ini? kumohon kau bisa datang dengan Nakata...hummm"

"Maafkan aku...." hanya itu yang bisa kuungkapkan, mulutku seakan kelu ketika kulihat mayat Yoshi masih tertidur di ranjangnya. Matanya yang sayu tak nampak bersedih, ada seulas senyum dari bibirnya yang membuatku sedikit tertekan.

"Kau sudah berusaha sebaik mungkin Dok... Inilah keputusan yang diberikan Tuhan pada Yoshi... aku percaya di Surga... Yoshi bisa bahagia..."

"Maafkan aku... Yoshi..." Kulepaskan pelukan ibu Yoshi, lalu dengan keberanian penuh aku duduk disamping mayat Yoshi yang terlihat lebih cantik dari sebelumnya.

"Yoshi... kumohon maafkan aku... aku tak bisa menyelamatkan nyawamu sampai seminggu... kumohon maafkan aku..." airmata ini tak bisa terbendung lagi... kepalaku lunglai terjatuh tepat diatas tangan Yoshi yang mulai mendingin.

"Nanako.... sudahlah... Jangan seperti ini..." kata Daiki sambil mengangkat bahuku. "Kembalilah ke Nakata... adikmu mungkin sudah sadar... biar aku saja yang mengurusi hal ini..." kata Daiki mencoba menenangkanku lagi.

***

4 jam kemudian, Nakata sadar kembali, ia memandangiku kebingungan.

"Nanako... matamu merah... kau menangis? ada apa?" tanya Nakata sambil membalikkan badannya ke arahku.

"Hummm...."

"Aku sudah sembuh saat ini... untuk sementara saja... hehe... bagaimana dengan Yoshi?"

"Dia... sudah pergi..."

"Ah... Ibunya sudah membawanya pulang? syukurlah... apakah dia baik-baik saja?"

"Nai.... Ia baik-baik saja... lebih baik dari yang kau bayangkan..." kataku sambil menghapus airmataku sendiri.

"Nanako... apa... Yoshi meninggalkan dunia ini? begitukah?"

"Hummmm...." tangisku mulai pecah lagi, kali ini Nakata berusaha bangkit dari tempat tidurnya, lalu memeluk kepalaku dan mengusap rambutku seperti biasanya.

"Nanako... jangan menangis... mungkin ini sudah selayaknya..."

"Kalau saja aku mau sedikit mengalah... Yoshi pasti lebih bahagia sebelum ia meninggal... dan kau tak perlu menamparnya...dan ia tak perlu mati secepat ini... Nakata... ini salahku...bagaimana ini...?"

"Yoshi... sudah memaafkan kita... dan ia begitu menyayangimu... ia bangga bisa mengenalmu... walaupun ia begitu cemburu padamu Nanako... tenanglah... Yoshi mungkin sudah bahagia saat ini tanpa perlu menahan rasa sakitnya..."


To be continue

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler