- . - . - . - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |

Lupa Ladang Pahalanya Sendiri


Untaian kata ini mari kita awali dengan sebuah pertanyaan. Berapa banyak lading untuk mencari pahala? Apakah lading untuk mencari pahala begitu minim hingga sedikit orang yang memilih untuk menggarapnya? Lalu kebanyakan orang memilih untuk menggarap lading lainnya yang berkenaan dengan dunia?. Sayangnya kenyataan tidak seperti itu.

Seperti seorang ibu dan seorang istri. Mereka memilii banyak lading untuk mencari pahala. Namun karena nafsu telah lebih dulu meminta hak untuk dipenuhi, mereka lupa menggarap ladang pahala yang sudah di depan mata.

Seorang istri dan ibu sebut saja M. Ia dulu terlahir di keluarga biasa-biasa saja, dengan tingkat ekonomi yang biasa saja, pengetahuan agama yang bisa saja, hingga hidupnya menjadi terlalu biasa, tak punya greget untuk mencetak sesuatu yang luar biasa.

Di pertengahan misinya menjadi istri dan seorang ibu. Ia menyerah. Nafsu menghadangnya meminta untuk dituruti, dipenuhi haknya. Ia menyerah begitu saja meninggalkan kewajibannya menjadi insan mulia yang harusnya mendidik suami dan anak-anaknya.

M menyerah begitu saja meninggalkan orang yang mencintainya, untuk mengejar orang yang di cintainya. Pria yang ia sebut sebagai kekasih hati tak bisa terganti. Perpisahan itu memang menyakitkan, namun sang mantan suami dan anak-anaknya merelakan M untuk mengejar kebahagiaannya sendiri.

Sebenarnya cukup sederhana kata kebanyakan orang. Suami yang ditinggalkan bisa menikah lagi dengan perempuan manapun yang mencintainya atau bahkan sebaliknya menikah dengan perempuan manapun dengan wanita yang mau dengannya. Anaknya pun sama, mereka bisa memilih tinggal dengan siapa saja yang mencintai mereka, mereka harus bersyukur karena orang tua mereka bertambah.

Namun hidup tak sesimple itu. Kenyataan lebih pelik dari yang kita pikirkan.
Ketika itu anak-anaknya memilih tinggal bersama dirinya. Sedangkan mantan suami M memutuskan untuk menikah lagi. Dengan seorang wanita yang berat hati untuk menerima anak-anak dari M.

Mulailah masalah datang silih berganti, membuat M semakin melupakan ladang beramal yang ia miliki, Ia membiarkan ladang itu kering kerontang hingga hancur menjadi debu sia-sia.
M melupakan pendidikan anak-anaknya, karena ia sibuk mengejar lelaki yang dicintainya yang rupanya juga memiliki seorang istri yang mencintainya. M melupakan pengawasan ketat anak-anaknya dari serangan media pembunuh, hingga anak-anaknya tenggelam dalam kesibukan menikmati media yang suatu saat bisa membunuh mereka. M melupakan kewajiban sebagai muslimah, sebagai seorang ibu yang harusnya mendekatkan anak-anaknya kepada sang pencipta. M seakan tak peduli kalau anak-anaknya nanti hidup jauh dari sang pencipta.

M lebih peduli pada berapa rupiah yang masuk kekantongnya untuk membayar hidupnya yang penuh hutang, M lebih memilih untuk lari kesana kemari mengikuti gerak lelaki yang ia cintai, meninggalkan anaknya sendiri di dunia temaram.  Menikmati dunia sendiri dan melupakan jati dirinya sebagai seorang muslimah.

Betapa sia-sianya hidup M. Ia melupakan ladang pahala yang ia miliki, padahal ladang itu begitu luas. Mulai dari yang kecil sampai ladang yang besar pahalanya. Ketika ia memilih bercerai dan memilih pria yang belum tentu bisa mencintainya seperti mantan suaminya, ia menghanguskan ladang itu dengan api cintanya. Ketika ia memilih mengejar cinta pria lain dan melupakan mendidik anak-anaknya ia menghanguskan lagi ladang pahala yang ia miliki karena jebakan dunia. Lihatlah. Betapa dunia begitu menjebak, hingga melupakan manusia dari ladang pahala yang ia miliki. Kalau saja sang M tahu betul ladang pahala yang ia miliki. Ia tak akan pernah melirik lelaki lain, ia tak akan pernah meninggalkan anak-anaknya demi segenggam uang. Ia akan tetap menjadi istri yang terus belajar memuaskan suaminya, mendidik suami dan anaknya, ia akan menjadi wanita yang bersabar dan terus bersabar menghadapi gelombang rumah tangga yang berkecamuk mencabik jiwanya dan merindukan Surga yang dijanjikan Allah Azza wa Jalla

To be continue 




By Ayuna Kusuma

 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler