Muktamar Khilafah 26 Mei 2013


Khilafah bukan hanya bualan, tapi sebuah HARAPAN 



Fanfiction - Jeo-Ju - Part 6 - Series



"Tolong sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... please.... supaya Authornya seneng melanjutkan cerita ini kalau banyak yang baca hehehe"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : Mystery, Romance, Action

Maincast :

Hyun Bin : Hyun
Taeyeon SNSD : Taeyeon
Jo Youngmin : Jo Youngmin
Jo Kwangmin : Jo Kwangmin
Siwan ZE:A : Jaehwan

Location : Seoul, Korea


29 April 2013 17:30 618-1 Ahyeon-dong, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan

Di ruangan rapat khusus, Hyun, Taeyeon dan Jaehwan masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hyun terlihat duduk menghadap layar laptop miliknya, beberapa kali ia memasukkan data orang-orang yang menjadi korban ke satu sheet.

Nama, alamat, tanggal lahir, dan semua keterangan mengenai korban yang dibawa Taeyeon ia catat disana. Sedangkan Jaehwan, ia sibuk mengotak-atik video cctv dan video yang ia dapatkan pagi tadi. Rekaman pantulan kaca itupun ia jadikan foto dan ia sejajarkan dengan foto rekaman tadi pagi, beberapa kali ia bergidik ngeri.

“Ommo… ternyata mereka orang yang sama… Nuna… aku sudah membuat semua bukti untukmu, wah kau benar… kedua anak kembar itu memang pembunuhnya… wah… bagaimana kau bisa sehebat ini hahahaha” kata Jaehwan sambil menepuk punggung Taeyeon yang duduk disampingnya.

“hmmm….. printkan setiap foto satu lembar untukku…” Kata Taeyeon sambil mengetik sesuatu di laptopnya.

“Yeon… kau sedang apa?” Tanya Hyun sambil berjalan mendekati Taeyeon.

“hmmm…” gumam Taeyeon, ia terlalu sibuk untuk sekedar melayani pertanyaan Hyun yang sepele “Mwooo??? Kau membuat soal bahasa inggris sebanyak itu??? Aigoo… apakah itu untuk si kembar Jo?.. ommo… ommmo… lihat… wah… 200 soal??” Hyun tampak terkejut ketika melihat apa yang diketik Taeyeon selama di ruang rapat khusus.

“Haiss… jangan menggangguku, ini untuk semua muridku, ternyata mereka bodoh” kata Taeyeon sambil membuka tasnya lalu mengeluarkan lembaran kertas yang menumpuk, “Lihatlah… mereka semua suka mencontek, semua anak mendapatkan nilai 40” kata
Taeyeon sambil memberikan lembaran itu pada Hyun “Benar-benar kurang dari standart penilaian… aku merasa guru sebelumnya sama sekali tak mengajari mereka dengan baik” Lanjut Taeyeon sambil mengetik soal ke 201.

“Woooaah… bagaimana bisa murid Daedong sebodoh ini hahahaha” tawa Hyun sambil membuka setiap lembar soal, semua anak mendapatkan nilai 40 dari Taeyeon.

Jaehwan pun ikut melihat Taeyeon yang sibuk mengetik, “Mwooo.. Eonnie. Kau sudah menulis soal ke dua ratus lima.. hahaha… kau akan memberikan mereka berapa soal??” Tanya Jaehwan sambil memegang perutnya yang kram karena menahan tawa.

“Haissss… sudah kubilang jangan menggangguku… aku akan memberikan mereka 500 soal” kata Taeyeon terlihat sangat antusias dengan pekerjaannya malam itu.

“HAHAHAHAHAHAHAHA” Hyun dan Jaehwan hanya tertawa melihat tingkah Taeyeon.

“Hei… Yeon… berbaik hatilah sedikit pada mereka… kau guru baru disana… bagaimana kalau mereka berniat buruk padamu? Lalu merencanakan pembunuhan? Hmmm pikirkanlah… beberapa hari yang lalu ada guru yang ditemukan meninggal di kamar mandi, iyakan Jaehwan.. kau masih ingat kasus itu?” kata Hyun sambil membolak balik kertas yang ia bawa.

“Ye. Hyung… mengerikan, bagaimana bisa seorang murid membunuh gurunya sendiri” kata Jaehwan sambil mengerjakan mengedit foto.

“HYAAK!! Kalau mereka ingin membunuhku.. aku pasti tahu sebelumnya… aku ini seorang fortuneteller… jadi aku tahu apa yang akan terjadi” kata Taeyeon pada kedua pria yang ada di sampingnya.

“Wooh.. woooh.. hahahahaha baiklah… hei Yeon.. apakah kau tahu apakah Jo Twins akan bisa kita tangkap?” Tanya Hyun sambil menunggu jawaban dari Taeyeon.

“Hehehe… aku juga tak tahu kalau masalah itu” jawab Taeyeon sambil menahan malu.

“HAHAHAHAHAHAHA… Yeon… katanya kau punya kekuatan Fortuneteller.. kau harusnya juga tahu masalah itu… hahaha” kata Hyun mentertawakan Yeon.

Brak… kaleng soda yang kosong melayang mengenai kepala Hyun, Jaehwan yang duduk di samping Taeyeon menatap Hyun dengan sengit.

“Jangan mentertawakan Nuna.. biarkan dia bekerja… Hyung… sebaiknya kau mencari wanita lain saja untuk kau goda.. eoh… atau kita tak perlu bertukar pekerjaan eoh… kau kembali saja ke sekolah Daedong, dan bertemu dengan Sora. Kau goda saja wanita itu.. dia kan menyukaimu sesuai ceritamu… eoh…” kata Jaehwan

“MWOOOO!! Mwooo??? Apa tadi yang kau katakan?? Berani-beraninya kau hah!!” kata Hyun sambil menghajar bawahannya dengan pukulan yang tak menyakitkan.

“Aigoo!! Hyung… sudah!!...aku tak mau bertukar pekerjaan. Kau tetap mengajar saja…. Sora pasti kehilanganmu kalau kau tak masuk lagi HAHAHAHAHA” sindir Jaehwan, kali ini Taeyeon tertawa mendengar perkataan rekan kerjanya.

“Hahahahaha… sudah sudah… kita harus kembali bekerja… urggg… Hyun.. apakah kau merasa lapar?” Tanya Taeyeon

“Tidak.. aku sudah makan tadi..” kata Hyun kembali ke pekerjaannya semula.

“Hmmm Nuna… mau aku belikan makanan?” Tanya Jaehwan.

“Boleh… bisakah kau belikan aku Jjangmyeon?” kata Taeyeon sambil mengedipkan mata pada Jaehwan.

“Okey Nuna… aku akan kembali secepatnya” kata Jaehwan sambil memakai jaketnya yang tebal, lalu pergi keluar.

“Wooaah… apakah kau juga menyukai Jaehwan?” Tanya Hyun tertarik untuk menggoda rekan kerjanya lagi dan lagi.

“hmmm… dia pria yang tampan… tapi aku terlalu tua untuknya… heehehe…” kata Taeyeon sambil meneruskan pekerjaannya.

“Wah… berarti kau juga menyukainya… hihihihi” bisik Hyun.

“hmmmm… aku juga tak tahu heehehe” balas Taeyeon.

“Jaehwan sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, jangan pernah kau kecewakan dia ya Yeon” kata Hyun.

Taeyeon hanya memandangi rekan kerjanya yang mulai sibuk sendiri menatap layar monitor. Lalu ia tersenyum sendiri, menikmati kebahagiaan malam ini. Dengan lembut ia sentuh bibirnya, wajahnya pun berubah seperti buah persik yang memerah.

***

29 April 2013 17:58 Jjangmyeon Stand 618-1 Ahyeon-dong, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan

“Hyung… tunggu aku di sana… aku akan segera kembali… hmmm.. aniya.. aku hanya ingin membeli jjangmyeon… ye…” Kwangmin menutup handphonenya lalu duduk di kursi yang disediakan
Jjangmyeon Stand, ia melihat ke sekeliling lalu menutup kepalanya dengan syal tebalnya berwarna merah.

“Hei.. kau mau pesan apa?” Tanya seorang pelayan Jjangmyeon stand.

“jjangmyeon, dua porsi, di kemas… jangan terlalu banyak garam” kata Kwangmin, ia menundukkan kepala setelah pelayan itu pergi melayani pesanannya.

Tak berapa lama, Jaehwan masuk ke dalam tenda Jjangmyeon stand, ia terlihat bahagia, sambil menggosok tangannya yang kedinginan, lalu meniupnya.

“Ahjussi… pesan dua jjangmyeon… hmm salah satunya tambahkan pasta yang pedas” kata Kwangmin, ia melihat ke sekeliling, semua tempat duduk sudah penuh. Hanya tempat duduk yang di depan Kwangmin yang masih kosong.

Jaehwan dengan tenang melangkah mendekati Kwangmin dan duduk didepannya.

“Hei.. aku duduk disini ya.. kau tak membawa teman kan?” Tanya Jaehwan sambil sibuk menggosok tangannya.

“Anni…” jawab Kwangmin, wajahnya tertutup syal merah tebal, hingga Jaehwan tak bisa mengenalinya.

“Apa kau memesan untuk dibawa pulang?” Tanya Jaehwan sambil memberikan Kwangmin sebuah senyuman.

“Humm” jawab Kwangmin

“Aku juga… haiss… aku sangat bahagia hari ini.. aku bisa mencium wanita yang kusukai.. hehehe huuufff” kata Jaehwan sambil meneruskan menghembuskan nafas dan tersenyum

“begitukah?” Kwangmin sepertinya tak tertarik dengan ceritanya.
Tapi Jaehwan yang murah senyum itu malah berbalik dan menatap Kwangmin. “Aku. Jaehwan… detektif baru kepolisian Seoul. Kalau kau?” kata Jaehwan sambil mengulurkan tangannya.

Kwangmin menyambut uluran tangan Jaehwan, dan mulai mengenalkan dirinya, matanya pun sudah menghipnotis Jaehwan.
“Aku… Kwangmin… Jaehwan-ssi… kumohon… setelah kau kembali ke kantormu.. hapuslah semua rekaman tentangku dan kakakku… arra… aku tak akan membunuhmu… arra” bisik Kwangmin. Jaehwan hanya terdiam seperti batu, mata mereka berdua pun saling menatap.
“Jaehwan-ssi.. aku tahu kau tak sengaja merekam kami… jadi aku tak akan membunuhmu hmm… tapi setelah kau kembali ke kantor… kumohon.. hapuslah semua rekaman tentang kami… hapus semuanya tanpa ada yang tahu kalau kau menghapusnya… Jaehwan-ssi… lupakan kau telah bertemu dengan Kwangmin.. ingatlah kau hanya bertemu dengan orang lain yang bernama Hyojin… okey… hmm” kata Kwangmin sambil membelai mata Jaehwan.

“Ohh… siapa namamu?” Tanya Jaehwan kembali tersenyum.

“Aku.. Hyojin” kata Kwangmin. Ia memberikan pelayan uang untuk jjangmyeon yang dibelinya, dan berdiri siap-siap meninggalkan korbannya.

“Bye bye Jaehwan-ssi… senang bertemu denganmu…” kata Kwangmin sembari keluar dari tenda. Jaehwan hanya tersenyum saja, ia memberikan uang kepada pelayan yang ada disampingnya. Lalu pergi kembali ke kantornya.

“hehehe… Nuna pasti suka jjangmyeon rasa pedas” gumam Jaehwan, ia kembali ke kantornya, memberikan senyuman pada siapa saja yang ia temui. Ketika masuk ke dalam ruang rapat khusus. Jaehwan memberikan jjangmyeon yang di belinya pada Taeyeon tanpa ada satu katapun yang ia ucapkan.

“Wooah… gomawoo.. Jaehwan…” kata Taeyeon.

“ye… hehehe” kata Jaehwan terlihat aneh, dia langsung duduk di kursi kerjanya, dan mulai menghapus semua data mengenai Jo Twins.

Taeyeon yang penasaran, mendekat untuk melihat apa yang dilakukan Jaehwan, ia sepertinya merasakan ada yang salah dengan rekan kerjanya itu. Betapa terkejutnya Taeyeon setelah melihat Jaehwan menghapus semua file yang diperlukan Taeyeon dan Hyun untuk investigasi selanjutnya. Taeyeon dengan sekuat tenaga langsung memeluk Jaehwan dan melarang tangan rekan kerjanya menghapus semua file yang diperlukannya. Ia menyeret Jaehwan menjauh dari meja kerja.

“HYUUUNN!!! TOLONG AKU KKAAJJJA!!!” Teriak Taeyeon sambil menahan tangan dan tubuh Jaehwan.

“Ada apa?” Tanya Hyun.

“KAJJA!!!!! JAEHWAN MENGHAPUS SEMUA DATA KITA!!!! KAJJA!!!” teriak Taeyeon, Hyun yang melihat keanehan itu langsung berlari dan melihat laptop Jaehwan.

“WOooh.. dia menghapus semua datanya” kata Hyun, ia pun berpaling dan menampar Jaehwan “HYAK!!! WAE HAH! Mengapa kau menghapusnya??” Hyun terlihat marah pada Jaehwan.

“Hyun… dia tak bersalah. Saat ini ia sedang dalam pengaruh hipnotis Jo twins. Tolong pegang dia” kata Taeyeon yang kualahan menghalangi tingkah Jaehwan.

“HAhAhAHA… aku akan menghapusnya… hahaha Taeyeon kau akan kubuat bahagia hahahaha” kata Jaehwan, Hyun memeluk tubuh Jaehwan dengan sekuat tenaga.

Taeyeon terlihat berlari keluar, lalu kembali membawa air mineral yang masih dalam kemasan, ia menyiram Jaehwan dengan air mineral yang ada ditangannya. Sontak tubuh Jaehwan menjadi lemas dalam pelukan Hyun.

“Dia pasti bertemu dengan Jo Twins di luar tadi… Hyun… aku sedang merasakan Jo Twins sedang menjadikan Jaehwan sebagai target mereka selanjutnya. Hyun… bagaimana ini??” kata Taeyeon sambil duduk di lantai.

“Air??...itu bisa menghilangkan hipnotis??” Tanya Hyun sambil merebahkan rekan kerjanya di meja rapat yang lebar.

“hum.. sifat air adalah netral, air bisa menyembuhkan segala penyakit bahkan sihir… Hyun… kita harus melindungi Jaehwan… aku tak mau ia terluka… aku tak ingin kita semua terluka Hyun” Taeyeon merapatkan kakinya dan mulai menangis sendiri. “Aku tahu… Jo twins… mereka akan melakukan apapun untuk menghalangi kita… mereka akan melakukan apapun, kalau aku tak membunuh mereka… mereka akan membunuh kita semua… Hyun… bagaimana ini” Tanya Taeyeon di sela tangisannya.

Hyun duduk di depannya, ia memeluk Taeyeon yang sedang shock dengan kejadian saat itu “Yeon… aku tahu… kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini, aku dan Jaehwan akan baik-baik saja… kami akan berusaha untuk lebih berhati-hati… tenangkan dirimu… okey…” Hyun pun berpindah posisi. Ia mengambil rokok yang ada di kantong nya. Menyalakan dan menghisapnya.

“Yeon… kita sudah tak punya data lagi.. bagaimana ini? Apakah kita akan membunuh anak itu secara langsung saja? Aku mulai percaya mereka lah pembunuhnya…” ujar Hyun

“tenang saja… aku masih punya data mereka di laptopku dan flashdisc…mereka tak akan bisa melawanku… karena takdir mereka ada ditanganku” kata Taeyeon “Hyun… untuk sementara.. bawa Jaehwan ke apartmentku.. ayahku akan melindunginya”

***

29 April 2013 18:40 371 Seoul Word Cup Stadium 240, Woldeukeom-ro, Mapo-gu

“Hyung~~~~~!! Heehehehe… kau sudah lama menungguku???” Kwangmin berlari mendekati Youngmin yang terduduk di bangku penonton, Youngmin terlihat menundukkan kepalanya.

“Hyung… ada apa?” Tanya Kwangmin.

“Mianhada… aku tak bisa masuk kedalam daftar championship… aku ditolak… tempatku digantikan oleh Song-ah… maafkan aku Kwangmin… aku tak bisa mengumpulkan uang untuk perbaikan rumah kita” kata Youngmin sambil menyeka air matanya.

“Hyung… jangan terlalu di pikirkan… aku akan membuat kau mendapatkan tempatmu… kau akan ikut dalam daftar championship… aku yakin… kita harus membunuh Song Ah… hmmm tenanglah… kita akan bisa membunuhnya…” kata Kwangmin sambil mengambil kepala Youngmin, lalu menyuruh kakaknya menyandarkan kepalanya di pundaknya.

“Hmmm… aku tahu… semua akan baik-baik saja… terima kasih Kwang… kau tadi dari mana? Lama sekali datangnya” Tanya Youngmin mulai bisa mengontrol dirinya.

“Aku??... hmmm hanya bertemu dengan seseorang…” kata Kwangmin “Kak.. kau mau jjangmyeon? Masih hangat… mau makan bersamaku?” Tanya Kwangmin sambil menyodorkan Jjangmyeon ke tangan Youngmin.

“hmm. Tentu saja mau…” jawab Youngmin, ia kembali duduk tegap, dan membuka jjangmyeon yang dibelikan adiknya.

“Hyung… jangan pernah bersedih… karena kita akan mendapatkan semuanya dengan kekuatan yang kita miliki… dan wanita itu… tak akan bisa menangkap kita” Kata Kwangmin sambil menatap Youngmin yang mulai memakan Jjangmyeonnya dengan lahap.

To be continue

Fanfiction - Jeo-Ju - Part 5 - Series





Author : Ayuna Kusuma

Genre : Mystery, Romance, Action

Maincast :

Hyun Bin : Hyun
Taeyeon SNSD : Taeyeon
Jo Youngmin : Jo Youngmin
Jo Kwangmin : Jo Kwangmin
Siwan ZE:A : Jaehwan

Location : Seoul, Korea


29 April 2013 10:05 Kelas 12-4 Daedong Highschool 35 Gye-dong, Jongno-gu, Seoul

Pelajaran Bahasa Inggris masih berlanjut, murid kelas 12-4 sedang sibuk menyelesaikan soal yang diberikan Taeyeon. Jo Youngmin dan Kwangmin pun mengerjakan soal itu, tak ada gerak-gerik yang mencurigakan.

Taeyeon selalu mengawasi kedua anak itu, sesekali Youngmin bertanya pada adiknya yang duduk didepannya, mereka sama sekali tak melihat Taeyeon, entah karena takut atau karena ingin bersikap biasa saja.

“Sudah pukul 10. Silahkan kumpulkan tugas kalian di mejaku” kata Taeyeon yang berdiri di belakang kelas, Youngmin dan Kwangmin mengumpulkan tugas mereka terlebih dahulu, lalu melangkah keluar.

“Kalian berdua.. berhenti. Kalian mau kemana?” Tanya Taeyeon tegas.

“Bukankah ini waktunya istirahat seonsaengnim? Kami ingin mengisi perut kami” jawab Youngmin, menimbulkan decak tawa semua temannya yang berada di dalam kelas.

“heh. Kembali ke tempat kalian…” kata Taeyeon sambil menunjuk kedua bangku tempat Jo twins

“Ye. Seonsaengnim..” Youngmin melangkah ke bangkunya, menuruti perintah gurunya, tapi Kwangmin hanya berdiri di dekat pintu, ia mencoba mencuri tatapan Taeyeon, agar bisa menghipnotis Taeyeon. Tapi sepertinya sulit mendapatkan tatapan Taeyeon.

“Kwangmin, atau Youngmin… apa yang kau lakukan disana? Cepat duduk” kata Taeyeon sambil menutup wajahnya dengan tangan kirinya, ia tahu tersangka sedang menggunakan kekuatan sihir untuk menghipnotis dirinya.

“Dia Kwangmin, adikku. Tak bisakah kau membedakan kami seonsaengnim?” kata Youngmin sedikit menyindir, semua temannya di kelas kembali tertawa.

“SHUT UP!!.. Apakah kalian akan selalu tertawa setelah Youngmin menyindirku? Hah!!, Kwangmin, kumohon kembalilah ke tempat dudukmu” kata Taeyeon, ia tetap menutup wajahnya dengan satu tangan.

Semua murid mendadak diam setelah mendengar kemarahan gurunya, Kwangmin tetap saja berdiri di sisi pintu.

“seonsaengnim… mengapa kau begitu kasar pada kami? eoh? Kami hanya murid, masih dibawah umur, kalau kau membentak kami, terus menerus, kau telah mengajarkan kami menjadi orang yang arogan, jadi… seonsaengnim… apakah aku tak boleh menikmati istirahatku? Demi arogansimu?” Kwangmin menatap Taeyeon dengan penuh amarah.

Semua murid didalam kelas memberikan applause setelah mendengar kata-kata Kwangmin.

“Anniya… duduklah… arra…. Ada yang harus kusampaikan pada kalian berdua arra…” kata Taeyeon merendahkan suaranya, mencoba agar tak emosi setelah mendengar perlawanan dari Kwangmin.

“Kwangmin… duduklah… kita akan makan di waktu istirahat kedua saja… kajja” kata Youngmin sambil melambaikan tangan ke Kwangmin. Taeyeon tertarik untuk melihat tingkah Youngmin, ia melihat anak itu begitu lekat, sepertinya ada yang sangat akrab di perasaan Taeyeon, sepertinya Youngmin pernah bertemu dengannya sebelumnya, dan kata-kata “Kajja” yang di ucapkan Youngmin membuat Taeyeon mengingat sesuatu yang dulu ia lupakan.
Kwangmin dengan muka masamnya kembali ke bangku, di dorongnya meja yang ada didepannya.

“seonsaengnim.. aku sudah duduk, apakah sekarang kau puas?”
Tanya Kwangmin sambil melipat tangannya di depan dadanya.

“hmm” jawab Taeyeon, ia sama sekali tak mempedulikan Kwangmin, karena sedari tadi ia tertarik melihat senyuman Youngmin yang khas dan mencari memori di otaknya, senyum anak itu seperti senyuman siapa?.

“Okey… semuanya… sudah!! Kumpulkan tugas kalian sekarang juga!! Kajja!!” kata Taeyeon, maka dengan cepat semua murid mengumpulkan tugas mereka dan kembali ke tempat duduk masing-masing.

“Silahkan istirahat.. khusus Youngmin dan Kwangmin, kalian ikut aku ke ruang guru” kata Taeyeon sambil melangkah ke depan kelas, mengambil semua lembaran tugas yang dikerjakan muridnya.

“seonsaengnim…” gumam Youngmin

“Kalian lapar? Tenang saja nanti Sora akan membelikan kalian makanan, tapi kalian harus ikut denganku” kata Taeyeon, mereka bertiga keluar dari kelas dan melangkah dengan tenang menuju ruang guru.

***

“Duduklah… aku akan ke ruang kepala sekolah sebentar” kata Taeyeon

Youngmin dan Kwangmin duduk di depan meja Mrs Jung guru bahasa inggris mereka yang dulu.

“Hyung… biar aku saja yang bicara dengannya, kalau dia Tanya macam-macam tentang kita, aku tahu ia hanya memiliki kekuatan fortuneteller, tapi kekuatan ayahnya belum masuk pada dirinya..” kata Kwangmin sambil memainkan pensil yang ada didepannya

“Humm… aku juga tahu… tenang saja… dia juga tahu… kita yang paling kuat. Kalau dia terlalu gegabah, nyawanya akan sama nasibnya dengan korban kita sebelumnya” bisik Youngmin

Taeyeon berjalan mendekati kedua anak kembar itu sambil membawa dua formulir.

“Youngmin… Kwangmin” kata Taeyeon sambil memberikan formulir ke hadapan mereka “Kalian menyerah saja kali ini… eoh… aku sudah tahu kalianlah di balik semua pembunuhan ini… hmm? Pembunuhan yang berkedok bunuh diri, kalian menggunakan kekuatan kalian untuk membunuh dan mengambil darah korban, iya kan?... menyerah saja, isi formulir itu, dan menyerah… aku berjanji aku tak akan membunuh kalian berdua, seperti ayahku membunuh ayah dan paman kalian… hmmm… kajja… tulislah… penyerahan diri… aku sudah punya banyak bukti untuk kalian, dan pembunuhan Ilhoon atlit sepak bola itu… kalian adalah tersangka utama.. kajja..kajja… aku menunggu kalian… aku tahu kalian masih anak-anak dan bisa dirubah… aku tak akan membunuh kalian, walaupun takdirku adalah untuk menghabisi kalian dengan tanganku sendiri” kata Taeyeon sambil menunjukkan tangan kirinya yang bertato Naga.

“seonsaengnim… apa maksudmu? Kami tak mengerti?” Tanya Kwangmin terlihat santai.

“Jinsu, Eunsong, Soljae, Kyong Wan, Ji Yeon, Ryukang, Songhoon, Park Ju, Chun Gu, Il Nam, Kyong Han, Ko Danbi, Hwajin, Lee Hyeop, So Yeon, So Bum, Kim Gong, Jin Shi, Ki Beom, Young Yon, dan terakhir Ilhoon. Mereka kalian bunuh dalam tahun ini… aku tahu semua sejarah kalian, karena aku adalah anak dari pria yang telah menghabisi ayah kalian… Aku tahu… kalian harus mencari banyak darah untuk kehidupan dan kekuatan kalian… tapi aku yakin, garis keturunan Jo, akan hidup tenang bila mereka tak menuruti apa yang di katakan leluhurnya, kalian akan tenang bila tak membunuh… Youngmin… Kwangmin… aku berjanji dengan nyawaku sendiri… aku akan menyelamatkan kalian dari takdir yang begitu menyakitkan… hmmm… tulislah surat pernyataan. Kalau kalian menyerah, hukuman yang akan kalian dapatkan hanya 20 tahun… sekarang usia kalian masih 17 tahun… kalau kalian keluar dari penjara, umur kalian 37 tahun, saat kalian keluar dari penjara aku akan mencarikan pekerjaan untuk kalian dan membuat kalian hidup tenang dengan kehidupan yang normal hmmm… kajja… tulislah” kata Taeyeon.

“seonsaengnim… aku jadi tak mengerti apa yang kau maksudkan… bagaimana kami berdua membunuh mereka? Eoh? Bagaimana? Kami sama sekali tak kenal dengan mereka… siapa mereka?? Kalaupun kami tulis surat pernyataan, kami tak akan pernah di hukum… karna kau tahu? Didalam hukum tak ada yang mengatur mengenai sihir, dan kami tak memiliki kekuatan yang seaneh itu… iya kan hyung hehehehe” Kwangmin mengelak dengan tenang, Youngmin hanya tertawa pahit melihat Taeyeon yang sedikit emotional didepannya.

“seonsaengnim… apakah kau seorang polisi? Seonsaengnim… jangan habiskan waktumu dengan investigasi yang sia-sia seperti ini… hmmm… kami hanya anak biasa, kalau kami membunuh mereka semua? Apa keuntungan kami? huh… dan apa itu kekuatan leluhur? Kata-kata leluhur? Ayahmu membunuh ayahku? Seonsaengnim… Sekarang ayah dan ibuku sedang di Singapore, mereka sedang bekerja disana… kau bisa melihat data kami… hmm…” Taeyeon dengan sigap membuka lemari arsip yang ada di belakangnya.
Kelas 12-4 loker bertuliskan itu letaknya di atas paling kiri. Taeyeon membukanya dan mencari data Youngmin juga Kwangmin. Ia membuka kedua map berkas yang ada di tangan kirinya.

“seonsaengnim… bagaimana? Di sana ada semua data kami, dan foto-foto kenaikan kelas bahkan foto perpisahan dengan angkatan sebelumnya, disana ada ayah dan ibu kami, seonsaengnim… aku rasa anda telah salah menuduh kami… kami hanya anak-anak, tak ada alasan kami untuk membunuh? Kami masih punya keluarga yang utuh, kami hidup penuh kebahagiaan, jadi… apa alasan kami untuk membunuh?” kata Kwangmin.

Taeyeon terlihat shock, ia menjatuhkan map yang dipegangnya, ia berpikir sekali lagi, semua foto yang ia lihat adalah foto asli, tertulis tanggal pemotretan, dan ayah juga ibu Jo twins wajahnya begitu berbeda dengan pria yang dibunuh ayahnya semasa silam.
Ia kembali duduk di depan kedua anak itu. Di tatapnya satu persatu mata mereka. Taeyeon masih berpikir lagi, dalam diam ia meneliti apa sesungguhnya yang terjadi.

“Aku… akan membawa semua data kalian… kapan orang tua kalian kembali dari Singapore? Aku ingin bertemu dengan mereka” tantang Taeyeon.

“untuk apa seonsaengnim?” Tanya Youngmin sambil tersenyum penuh kemenangan.

“aku ingin bertemu dengan mereka, katakan saja… kapan mereka kembali?” Tanya Taeyeon sekali lagi, sambil menahan kemarahannya.

“Besok sore mereka kembali seonsaengnim… ah… apakah kami tetap harus menulis di formulir ini?” Tanya Kwangmin sambil siap menulis, tapi Taeyeon merebut formulirnya dan merobeknya menjadi berkeping-keping.

“Kembalilah kalian…aku sudah selesai” kata Taeyeon merasa sedikit kecewa, mengapa ia tak bisa menganalisa dengan cepat tentang semua ini.

“Ye.. seonsaengnim” balas Youngmin, kedua anak kembar itu berdiri dari tempat duduknya dan menunduk memberi hormat pada Taeyeon lalu mereka berlari ke luar ruangan guru.

Taeyeon mengganjal kepalanya dengan tangan, ia begitu bingung dengan kasus yang satu ini. Kalau bukan Kwangmin dan Youngmin, siapa lagi tersangka utamanya? Di beberapa foto saat kejadian perkara, pantulan sosok mereka ada di kaca balkon.

“Kalau bukan mereka… apakah ada yang lain?... kembar yang lainnya perempuan dan laki-laki… tak mungkin mereka yang melakukannya. Jo twinslah tersangka utamanya. Tapi Ayah dan Ibu mereka masih hidup… hmmm” Taeyeon melihat lagi foto-foto milik Kwangmin dan Youngmin. Lalu ia menyerah dengan merebahkan kepalanya di meja.

Sedangkan Kwangmin dan Youngmin terlihat begitu bahagia. Mereka berlari menuju atap sekolah.

“hahahahaha…. Hyung!!! Kau lihat wajahnya????” Tanya Kwangmin sambil berlari ke arah atap.

“Hehehehee…. Dia pasti kebingungan sekarang…. Dan kita akan bebas dari segala tuduhan…… Kwangmin… kau memang hebat dalam hal ini… Hahahahaha” Youngmin berlari dan melemparkan tubuhnya ke angin, bersalto sambil tertawa.

29 April 2013 16:42 618-1 Ahyeon-dong, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan

Mobil Taeyeon berhenti di depan kantor kepolisan Seoul, ia segera keluar dari mobil, membawa semua data 20 murid yang menjadi korban, dan data Jo twins. Ia terlihat tergesa-gesa masuk ke dalam kantor polisi.

Banyak polisi yang menyapanya, tapi Taeyeon terlalu pusing dengan masalah yang ia hadapi, sehingga sapaan itu ia lewati begitu saja. Taeyeon segera masuk ke dalam ruang rapat, Hyun dan Jaehwan pasti sudah menunggunya disana.

Ketika pintu ruang rapat ia buka. Jaehwan langsung berlari
menghampirinya.

“NUNNAAAAAAAAAA!!!!!!!!!! AIGOO!! Aigoo.. aigoo.. sini aku bantu” kata Jaehwan sambil memeluk data Taeyeon yang begitu banyak.

“Kalian sudah menunggu lama?” Tanya Taeyeon sambil melepas jaketnya dan menaruhnya di kursi kerja.

“Humm… aku sudah menunggumu terlalu lama.. bagaimana pekerjaan menjadi guru? Sulit bagimu?” Tanya Hyun sambil memakan burger yang ada di tangan kirinya.

“Mudah… hanya saja, aku bingung dengan data ini. Coba kalian lihat ini” kata Taeyeon sambil membuka kedua map milik Kwangmin dan Youngmin.

“Lihatlah… mereka masih punya ayah dan ibu, padahal… seharusnya ayah mereka sudah meninggal karena dibunuh oleh seseorang…” kata Taeyeon pada Jaehwan dan Hyun yang ada didepannya.

“Hmm… Hahahaha… Yeon… darimana kau bisa mengatakan seperti itu hah? Apa dasarnya? Bagaimana kalau memang mereka berdua adalah ayah dan ibu Jo twins… karena aku lihat face mereka tak jauh berbeda… coba Jaehwan… lihat ini” kata Hyun sambil memberikan satu foto pada Jaehwan.

“hmmm… Nuna… benar kata Hyun… ah.. tapi coba lihat rekaman ini… Hyun tadi sudah melihatnya sekarang giliranmu” kata Jaehwan sambil memberikan laptopnya pada Taeyeon. “Aku sudah mengcopynya dan membuat banyak sekali duplikat di berbagai folder. Berjaga-jaga kalau saja ada yang mau menghapusnya hehehe” kata Jaehwan.
Taeyeon melihat rekaman hasil karya Jaehwan, sedangkan Hyun meneruskan makan burger.

“Kwangmin… Young…” gumam Taeyeon “mereka… pada jam yang sama mereka ada di kelasku… bagaimana bisa… mereka ada dua?.. mereka membelah diri?... Jaehwan.. bisakah kau besarkan gambarnya?” kata Taeyeon

Jaehwan yang sedari tadi memandang wajah Taeyeon langsung membantu, “Ye Nuna… hmmm.. sudah” kata Jaehwan, kali ini dia ada disamping wanita yang sudah lama di sukainya.

“Oh… benar.. itu mereka… Jaehwan.. simp” kata-kata Taeyeon berhenti ketika ia berpaling, karena bibir Jaehwan menutup bibirnya.

“WOOAAAAH!!! Pertahankan posisi kalian.. aku akan memotretnya!! HAHAHA!!” kata Hyun sambil memotret Taeyeon yang membatu setelah dicium Jaehwan.

“Hahahahaha…. Aku berhasil mencium NUNAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!! YAYAYAYAYAYYYYY!!” Jaehwan berteriak sambil meloncat-loncat berkeliling ruang rapat, sedangkan Taeyeon hanya berdiam diri, wajahnya berubah menjadi memerah.

“Hahahahaha… Yeon!!! Hyakkk Sadarlah!! Kau menikmatinya? Hahahaha” kata Hyun sambil mendorong punggung Taeyeon.

“JAEHWAAAAAAAAAAAAAN!!!!!!!!!!!!!!! AWAS KAU!!!!!” teriak Taeyeon mulai mengejar rekan kerjanya. Jaehwan dengan gesit berlari menghindari Taeyeon yang berlari sambil membawa tongkat besi.

“NUNAAAAAA!!! Kau mau saja ku cium… berarti kau maukan menjadi kekasihku???” Tanya Jaehwan sambil berlari, meloncat ke meja rapat, lalu terjun bebas.

“HYAAAAAAA!! JAEHWAAN!!!” Taeyeon tetap mengejarnya.

“Jaehwan… sudah… mengalahlah.. berhenti berlari.. kasihan Yeon” kata Hyun sambil meminum soda.

Jaehwan menuruti apa kata Hyun, ia berhenti dan Taeyeon memukul punggung Jaehwan dengan tongkat besi.

“AAAWWWW!!! Sakit Nuna” teriak Jaehwan sambil membelai punggungnya.

“Kali ini hanya punggungmu. Kalau kau lakukan lagi. Akan kuhancurkan kepalamu” kata Taeyeon.
Cling… ia lempar tongkat besi itu kelantai, dan melihat lagi video Jo twins.

“Mianhae Nuna… tapi hatiku menyuruhku menciummu…” kata Jaehwan, masih memijat punggungnya sambil duduk di samping Taeyeon.

“hahahahaha… Jaehwan.. kau memang hebat. Yeon.. terima saja dia.. aku tahu Jaehwan tak pernah memiliki hubungan sebelumnya, mungkin saja kau cinta pertamanya hahahaha” goda Hyun.

“SSSSSSSSSTTT… SHUT UP!!... kalian seriuslah sedikit” kata Taeyeon.

“ye Nuna… mianhae… apa tadi yang akan kau katakan?” Tanya Jaehwan.

“tolong simpankan video ini di flashdiscku. besok aku akan bicara lagi dengan mereka. Besok mereka tak akan bisa mengelak, dan mereka akan menyerah setelah melihat semua ini… Youngmin.. Kwangmin… aku sudah berbaik hati ingin membantu meringankan hukuman kalian… tapi kalian tak mau mendengarkanku…” Taeyeon mengetik

To be continue

Fanfiction - Jeo-Ju - Part 4 - Series



Author : Ayuna Kusuma

Genre : Mystery, Romance, Action

Maincast :

Hyun Bin : Hyun
Taeyeon SNSD : Taeyeon
Jo Youngmin : Jo Youngmin
Jo Kwangmin : Jo Kwangmin
Siwan ZE:A : Jaehwan

Location : Seoul, Korea


29 April 2013 09:00 Kelas 12-4 Daedong Highschool 35 Gye-dong, Jongno-gu, Seoul

“Baiklah… kumpulkan tugas kalian, aku akan memberikan tugas lagi yang lebih menyenangkan hahaha” kata Taeyeon di depan kelas,

“YE~!! Seonsaengnim!!” jawab muridnya serentak.

“Huh… rugi sekali si kembar tak masuk kelasku” gumamnya lirih sambil merapikan bukunya.

“seonsaengnim.. ini tugas kami semuanya, apakah ada tugas lagi untuk kami?, aku senang memiliki guru baru sepertimu” kata Youngmin sambil tersenyum pada Taeyeon yang menunduk sibuk mengambil pen nya yang terjatuh.

“Ya… terima kasih… OOMMMO!!” Taeyeon pun terkejut melihat kedua anak kembar itu ada di kelasnya. Ia memegang kepalanya.

“Bagaimana kalian sudah ada disini?” Tanya Taeyeon kebingungan.

“seonsaengnim… dari tadi pagi, kami juga sudah di kelas ini… ada apa seonsaengnim??” Tanya Kwangmin sambil mencoba mencuri pandangan Taeyeon.

"seonsaengnim… apa kau sakit? Yeongmin dan Kwangmin sedari tadi ada di kelas... seonsaengnim….. kalau kau sakit pergi ke klinik saja... biar kami belajar sendiri" kata murid yang ada di pojok kelas paling kanan

"Haiss... SHUT UP~!!" Bentak Taeyeon.

Wanita itu tampak ketakutan melihat kedua muridnya yang tak wajar, bagaimana bisa Youngmin dan Kwangmin berada di kelas padahal tadi pagi mereka melarikan diri. Ia menutup matanya dengan sebelah lengannya, sambil memikirkan baik-baik.

Bukan dia saja yang melihat Jo twins berlari keluar dari sekolah, tapi Hyun rekan kerjanya bahkan ingin mengejar mereka. Taeyeon memukul-mukul kepalanya sambil kembali melihat kedua muridnya yang kembar.

“seonsaengnim… apakah tidak ada lagi tugas untuk kita?” Tanya Kwangmin sambil menahan senyumnya.

“tidak… tidak… hmmm ah… kalian duduklah… aku akan menyiapkan tugas kalian” kata Taeyeon mencoba bersikap biasa di depan semua muridnya. “Anak-anak… buka halaman 82. Disana ada rumus yang harus kalian hafalkan. Aku akan membuatkan tugasnya, tapi sebelum itu, kalian baca dulu halaman 82 ya…” kata Taeyeon sambil melihat Jo twins yang kembali duduk di bangku paling belakang.

Mereka saling berdekatan, kedua bangku dari belakang rupanya menjadi istana mereka, tak ada yang berani duduk sejajar dengan mereka.

“Ye~!! Seonsaengnim!!” Jawab murid Taeyeon, mereka semua membuka bukunya masing-masing, termasuk Jo twins.

Taeyeon keluar dari ruangan kelas, ia berlari secepat mungkin menuju ruang olah raga, menemui rekan kerjanya. Melihat gurunya keluar kelas, semua murid menjadi ribut sendiri, ada yang mulai sibuk bergosip, saling melempar buku, bahkan ada yang kontes dance.

Sedangkan Jo twins hanya duduk di tempatnya masing-masing, mereka masih membaca buku yang di perintahkan Taeyeon.

“Hyung… sepertinya dia begitu shock saat melihat kita hehehe” bisik Kwangmin yang duduk didepan kakaknya.

“huh… kita lihat saja… dia akan semakin gila kalau berurusan dengan kita” balas Youngmin, kali ini ia merebahkan kepalanya di mejanya.

“Aigoo… kepalaku pusing sekali… bahasa inggris membuatku pusing…” keluh Youngmin.

“hyung… apakah sore ini kau akan bertanding dengan sekolah Ilhoon?” Tanya Kwangmin

“huh.. hheheheehe… sepertinya tidak… pelatih mengirimkan pesan kalau pertandiangan ditunda karena Ilhoon ditemukan bunuh diri” kata Youngmin lirih, ia memejamkan matanya mencoba tidur.

“hehehe…… kita sungguh beruntung Hyung… bisa mendapatkan 20 orang… kita bisa membunuh siapapun tanpa ada jejak kalau 20 nyawa itu digenggaman kita…” bisik Kwangmin pada kakaknya, ia pun mencoba merebahkan kepalanya di mejanya.

“Kwang… apakah tadi sudah kau campurkan dengan catmu?” Tanya Youngmin

“Hummm… sudah… kita akan mendapatkan banyak uang kalau lukisanku semuanya terjual, dan rumah peninggalan leluhur kita, akan bisa kita renovasi….” Kata Kwangmin

“Mianhae… tahun ini aku tak bisa ikut club karena kemarin mereka mengalahkanku…” gumam Youngmin.

“hummm… tak apa... bukan kau yang salah… ilhoon lah yang curang hehehe”

“hehehee…” mereka berdua menikmati apa yang telah mereka lakukan, tapi anehnya murid yang lain tak ada yang mendengar perkataan mereka, murid yang lain hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, mereka tak tahu kalau di dekat mereka ada pembunuh yang akan melahap nyawa mereka satu persatu.

***

“Hyun~!! Dimana Hyun~!!” Taeyeon berteriak di ruang olah raga, tapi tak ada siapapun disana, dengan sigap ia berbelok kekiri dan berlari ke ruang guru. Disana juga kosong, hanya ada Nona Sora sekertaris kepala sekolah yang sedang melapisi wajahnya dengan masker kecantikan.

“Nona… kau tahu dimana Hyun?? Temanku? Hah?” Tanya Taeyeon sambil mengatur nafasnya.

“Oh… Tuan tampan itu sudah pergi, katanya ada keperluan penting” kata Sora tanpa tersenyum, demi menjaga maskernya.

“Gomawo..eh..” kata Taeyeon sambil berlari ke kelasnya, ia membuka handphonenya, menghubungi Hyun.

“Yoboseyo… Hyun… kau dimana hah? Ada yang harus ku… mwoo?.... dimana?... Baiklah aku akan kesana… ANDWAE… korban bunuh diri itu pasti korban mereka… oh.. andwae… Hyun… bagaimana bisa mereka membunuh?? Dari tadi pagi mereka ada di kelasku… itulah yang kubingungkan. Bagaimana mereka bisa ada di dua lokasi… hum.. baik Hyun… hummm… aku serahkan padamu” Taeyeon menyimpan handphonenya di saku celananya.
Ia pun berjalan kembali ke kelasnya.

“seonsaengnim!!!!!!” teriak salah seorang murid 12-4, mendengar teriakan itu semua murid yang ada di dalam kelas merapikan diri mereka masing-masing, Youngmin dan Kwangmin pun mengangkat kepala mereka dan membenarkan dasinya.

Taeyeon masuk sambil melihat semua muridnya yang mendadak tenang.

“Mwoo… apa yang terjadi? Bukankah kalian tadi selalu ribut? mengapa jadi seperti ini... ayo ribut lagi...” sindir Taeyeon

“seonsaengnim… kami sedari tadi hanya seperti ini, belajar sesuai perintahmu” kata seorang murid

“Huh… kalau kau berbohong lagi, penghapus ini akan kulempar ke wajahmu.. ARRA!!... baiklah… karena kalian mengaku sudah membaca semua yang kuperintahkan… terimalah 200 soal dariku hahahaha” kata Taeyeon sambil menuju ke tempatnya, ia mencetak soal yang sudah ia siapkan dari tadi, sebanyak 30 lembar, sesuai jumlah murid di kelas 12-4.

“seonsaengnim…. Kau kejam sekali” keluh salah seorang murid yang duduk tepat di depannya.

“hehehe… kerjakan… jangan pernah berbohong padaku… okey.. baiklah… silahkan selesaikan soalnya. Tanya bila ada yang tidak kalian mengerti” kata Taeyeon.

“seonsaengnim… bolehkah aku keluar sebentar saja?” Tanya Kwangmin, Taeyeon melihat saja muridnya itu, tapi ia selalu mengelak pandangan Kwangmin.

“Humm silahkan” kata Taeyeon. “Tapi kalau kau ingin ke ruangan seni… nanti saja. Di jam ke tiga, kau akan mendapatkan pelajaran seni, kau bisa ke sana seharian… kalau kau ingin ke toilet… silahkan” kata Taeyeon.

“aku… hanya ingin buang air, kalau kau tak percaya kau boleh ikut denganku seonsaengnim” jawab Kwangmin, membuat semua temannya tertawa lepas.

“Muragu???” Taeyeon mulai marah dengan Kwangmin, tapi muridnya itu hanya membalasnya dengan senyuman, lalu pergi meninggalkan kelas.

29 April 2013 09:23 Bar 36 Gye-dong, Jongno-gu, Seoul

Mobil polisi dan ambulance terparkir rapi di depan gang kecil di dekat tempat kejadian perkara. Hyun rekan kerja Taeyeon terlihat meneliti mayat yang ada di depannya.

“Ahjussi.. jangan dimasukkan dulu.. jjamkanman..” ujar Hyun sambil membuka mulut mayat Ilhoon, lalu menggores kulit mayat itu, tak ada darah yang tersisa di kulitnya. “Hmmm… ini sangat aneh… mungkin pembunuhnya bukan mereka… baiklah Ahjussi… kirim mayar ini ke bagian forensic entomologi, biarkan mereka yang meneliti apa yang terjadi dengan mayat ini” kata Hyun sambil menutup kantung mayat.

“Ye…” kata pria paruh baya yang berada didalam ambulance. Ia segera menutup pintu belakang ambulance dan membawa mayat itu ke suatu tempat yang sudah direncanakan.

“Hyung~!!!” seorang pria berlari mendekati Hyung dari belakang, Hyun menoleh ke belakang dan ia memicingkan matanya.

“Jaehwan??... sedang apa kau disini?” Tanya Hyun pada seorang pria yang memakai seragam preman dan label detektif.

“Hai… bagaimana kabarmu ha..Hyung… hehehe lama tak berjumpa denganmu” kata pria yang bernama Jaehwan sambil memeluk Hyun dan berjabat tangan dengannya.

“Woah… kau semakin tampan saja Jaehwan… hehehe… apa yang kau lakukan disini?” kata Hyun.

“Aku…? Aku yang menangani kasus kematian Ilhoon, atlit highschool yang baru saja terjun dari lantai tiga. Aku baru saja mengajukan diriku untuk mengatasi kasus ini, karna aku punya beberapa bukti, siapa yang berpeluang besar membunuh mereka… Hyung… kau sendiri?” Tanya Jaehwan.

“Hmmm aku sebenarnya sedang menyamar sebagai guru olahraga di Daedong Highschool, ada peristiwa bunuh diri yang begitu janggal, korbannya sudah ada 20 orang, dan Komisaris memanggilku untuk melihat kejadian bunuh diri yang menewaskan Ilhoon, kebetulan dekat, makanya Komisaris menyuruhku… hmmm kau punya buktinya? Mungkin kita bisa saling membantu?” Tanya Hyun

“Ye Hyung… coba lihat ini” kata Jaehwan sambil menyalakan kameranya, membuka folder rekaman, dan mereka berdua bisa melihat video yang sudah di rekam Jaehwan.

“Hyung… lihatlah ini… aku merekam ini, pas ketika kejadian… aku sedang di depan bar, kau lihat disana? Aku duduk di balik buku-buku itu… café itu” kata jaehwan sambil menunjukkan café komik yang terletak di depan bar.

“hmmm… coba lihat lagi” kata Hyun sambil mendekatkan kepalanya ke kamera.

“Hyung… lihat ini… kau lihat?? Aneh sekali kan? Ada anak yang mencekik korban, tapi korban sama sekali tak melawan, dan lihat ini… anak yang lainnya bergantian mencekik, lalu lihat itu… oh… lihat… apa yang mereka lakukan… mereka menampung semua darahnya…, lalu lihat itu hyung… ommo… korban berjalan seperti mayat hidup menuju ke lantai atas. Aku tak berani merekamnya keluar Hyung, karena aku tahu aku akan jadi korban berikutnya kalau memaksakan diri… nah… Hyung… lihat ini… salah satu anak ini berteriak, lalu mereka berlari… dalam hitungan ke sepuluh, Ilhoon terjun dari lantai atas. Kau tahu… apa yang kurasakan???... aku begitu shock… sayang sekali, kedua anak itu tak bisa aku kejar… hooh… mereka sepertinya punya kekuatan sihir yang aneh Hyung… apakah kau percaya Sihir?” Tanya Jaehwan sambil mematikan kameranya

“Aigoo.. bisakah kau lihatkan lagi padaku…” keluh Hyun

“Oh… baiklah” kata Jaehwan, menyalakan lagi kameranya.

“Besarkan… gambarnya… resolusinya…” kata Hyun. Jaehwan pun melaksanakan perintah atasannya. “Bisakah kau pause di menit 2.43 ??” Tanya Hyun

“Okey…” kata Jaehwan.

“hmmm… besarkan gambarnya” perintah Hyun lagi

“okey….” Kata Jaehwan

“OMMOOOOOOO~~~~~~!!!” Hyun berteriak sambil meloncat, ada raut wajah ketakutan yang terpampang di wajah Hyun.

“ada apa Hyun? Kau kenal kedua anak ini??” kata Jaehwan

“Dd…ddd..dia… Jo..twins…. tapi.. bagaimana bisa mereka yang membunuhnya?? Oh… Taeyeon mengatakan mereka ada di kelasnya sejak pagi” kata Hyun sambil sibuk merogoh kantong celananya.

“Taeyeon?? Nuna?? Oh.. kau bekerja dengan Nuna Yeon? Hahahaha… dimana dia sekarang?” Tanya Jaehwan terlihat senang mendengar kabar dari Hyun.

“Sssstt…” kata Hyun sambil menempelkan jari nya ke bibir.

“Taeyeon… kau ada dimana sekarang? Hmmm bisakah kau keluar sekarang?? Aku ingin bicara serius denganmu… hmmm aku tunggu… JEPPALLI~!!” bentak Hyun.

“Nuna… dimana Nuna..” Tanya Jaehwan sambil tersenyum girang

“Dia sedang menyamar sebagai guru bahasa inggris, dia guru Jo Twins sekarang, tersangka utama yang ada di rekamanmu” kata Hyun, ia masih menempelkan handphone di telinganya.

“Ommo…” gumam Jaehwan

“Sssstt… Hey.. Yeon… kau yakin Jo twins ada di kelas bersamamu?... hmmm beberapa anak mengatakan mereka di kelas? Hmmm… aku bertemu dengan Jaehwan, dia yang menyelidiki kematian Ilhoon, hmm… ya… baru saja ia memberitahukan kalau ia punya bukti, sebuah rekaman.. hmm.. dan kau tak akan menyangka semua ini… Jo Twins lah yang membunuh Ilhoon… bukan mereka? Huh… sekarang kau mengurungkan niatmu untuk memenjarakan mereka??... Yeon… dengan mataku sendiri aku melihat Jo Twins ada di bar, salah satu dari mereka mencekik Ilhoon, lalu salah satu dari mereka mengambil darahnya… kau harus percaya padaku… sore ini kita bertemu di kantor… ye… Annyeong… Yeon… hati-hati… aku akan pulang bersama Jaehwan… aku tak mau kembali kesana… Sora terlalu menakutkan bagiku… hum” Hyun menutup handphonenya dan menatap Jaehwan yang sibuk memotret lokasi kejadian.

“Jaehwan… berapa umurmu?” Tanya Hyun

“Mwoo?? Aku… 24 tahun” jawab Jaehwan.

“Besok… aku akan memasukkanmu ke Daedong, kau menggantikanku sebagai guru olahraga. Okey… temani Yeon disana” kata Hyun

“OOOOH~~~!! Benarkah!!!!!!?? Aku bisa bersama Nuna seharian??? Tapi pekerjaanku bagaimana?” Jaehwan yang semula terlihat ceria kini murung kembali.

“Aku saja yang mengerjakannya… kau kerjakan pekerjaanku, ku kerjakan pekerjaanmu. Bagaimana? Adil?” tawar Hyun.

“YE!!! Adil!! HAHAHA!!! NUNA!!! I’m COMING!!” teriak Jaehwan

“Haisss… babo…” Hyun memukul kepala Jaehwan sambil tertawa,

“Tapi hati-hati dengan wanita yang bernama Sora… kau akan depresi kalau dekat dengannya brrrrrrr” keluh Hyun.

To be continue

Fanfiction - Jeo-Ju - Part 3 - Series



Author : Ayuna Kusuma

Genre : Mystery, Romance, Action

Maincast :

Hyun Bin : Hyun
Taeyeon SNSD : Taeyeon
Jo Youngmin : Jo Youngmin
Jo Kwangmin : Jo Kwangmin
Ilhoon BTOB : Ilhoon

Location : Seoul, Korea


29 April 2013 07:24 Near Daedong Highschool 35 Gye-dong, Jongno-gu, Seoul

Banyak murid yang berjalan berkelompok menuju sekolah, ada yang berlari, ada yang memakai mobil, sepeda, bahkan skateboard, anak-anak perempuan sedang asyik berkumpul di lapangan upacara, mereka membuka majalah-majalah CECI yang terbaru, membicarakan tentang gossip yang sedang in saat ini.
Kehidupan sekolah di pagi hari yang lumrah terlihat di sekeliling
Daedong Highschool. Di gerbang sekolah yang belum tertutup, ada dua anak laki-laki yang memiliki wajah yang sama, rambut yang hampir sama, dan mereka hanya berdiri di depan gerbang.

“Hyung… bagaimana? Apakah kita hadapi saja?” Tanya siswa kembar yang berambut pirang.

“Fiuuhh… aku merasakan kita sedang di awasi… Ayo… kita akan ke tempat lain saja….Terlalu bahaya bagi kita untuk masuk ke sekolah saat ini” kata siswa kembar yang berambut hitam kelam. Ia menyeret adiknya berjalan menjauh dari sekolah.

“Hyung… kalau kita sengaja menjauh… mereka malah semakin yakin dengan tuduhan mereka… Ayolah Hyung…” anak laki-laki yang berambut pirang itu mencoba menahan agar kakaknya tak membawanya semakin jauh. “Hyung… kita bersikap biasa saja… hmmm… aku yakin… kita akan bisa menyingkirkan orang itu dengan mudah”

“Kwangmin…..” kata anak laki-laki berambut hitam kelam itu sambil terus menyeret adiknya.

“Youngmin… percayalah padaku” mata kedua anak kembar itu saling menatap, mereka terdiam sebentar seperti patung “Youngmin… aku tahu hari minggu kemarin Ilhoon telah mencurangimu… ayahnya sudah membayar wasit agar membuatmu di keluarkan… aku akan membunuhnya untukmu… eoh… tapi kau harus ikut denganku… Hyung… kita bersikap seperti orang biasa saja… kajja” Kwangmin menarik tangan Youngmin, kali ini kakaknya tak mengajaknya berdebat, ia menuruti semua kata-kata Kwangmin.

“Kwangmin ~!!! Annyeonghaseyoo… ah… Youngmin… Annyeonghaseyoo… Kwang.. kau sudah menyelesaikan homework bahasa inggris?” Tanya seorang gadis, ia memakai seragam yang sama seperti yang dipakai si kembar.

“Nari… Annyeonghaseyoo” Kwangmin menunduk dan Youngmin pun ikut menunduk.

“Aisss.. tak perlu menunduk seperti itu hehehe” kata gadis yang dipanggil Nari oleh Kwangmin

“Aku sudah menyelesaikannya tadi malam” kata Kwangmin sambil meneruskan berjalan ke ruangan kelasnya.

“Kwang… ada apa dengan Youngmin? Apakah dia sakit?” Tanya Nari sambil menunjuk Youngmin yang hanya terdiam mengikuti adiknya.

“oh.. dia hanya sedang memikirkan pertandingannya sore ini. Nari… bagaimana kabar Ayahmu?” Tanya Kwangmin sambil membuka lokernya.

“Oh… ayahku?? Hehhe… dia baik-baik saja… sekarang dia sedang banyak pekerjaan yang menyita waktunya.. kemarin kami mendaki gunung bersama… ada apa kau menanyakan tentang ayahku Kwang?” Tanya Nari sedikit penasaran.

“Oh.. tidak… sebenarnya aku ingin mengikuti acara pelatihan kepolisian minggu depan yang diselenggarakan kepolisian Seoul. Tapi… sepertinya aku harus mempersiapkan lukisanku dulu… hehe” Kwangmin mengelak dengan cerdas.

“oh… begitu… Kwangmin … aku suka lukisanmu… semua lukisanmu menarik hehehe.. kalau kau ingin mengikuti acara pelatihan kepolisian… ikut saja denganku di pertengahan bulan Mei, aku juga akan mengikutinya… kita akan belajar menembak bersama” kata Nari,

“Kwangmin … annyeong… sampai Jumpa lain waktu” Nari pun meninggalkan si kembar di lorong loker.

Dengan hati-hati Kwangmin mengusap wajah kakaknya, Youngmin yang tersadar langsung menghantam adiknya ke pintu loker “Kau… apakah kau berpikir kita akan lolos dari wanita itu?? kau tahu sejarah keluarga kita? Ayah kita dibunuh oleh ayahnya… sekarang kau meremehkannya? Bagaimana kalau dia membunuh kita hah??” bisik Youngmin, matanya membelalak terlihat amarahnya.

“Hyung… bertahanlah… aku yakin kita tak akan mendapat masalah” kata Kwangmin menenangkan kakaknya.

“Haisss… kau semakin menyulitkan saja…” Youngmin berbalik dan berlari keluar gedung sekolah, ia berlari secepat mungkin.

“Hyung~~~~!! Haisss baboya… HYUNg~~~~!!” Kwangmin pun mengejar kakaknya, berlari menuju luar sekolah.

Hyun yang berada di lapangan melihat kedua anak kembar itu berlari semakin menjauh dari sekolah, sebenarnya ingin sekali ia mengejarnya, setidaknya ia sudah menjadi guru olah raga dan punya alasan untuk menahan kedua anak itu. tapi Taeyeon meneriakinya agar mengurungkan niatnya.

“HYUN~!! Jangan~!!” teriak Taeyeon dari jendela kelas lantai dua. Hyun melanjutkan pekerjaannya, menghukum anak yang tak membawa dasi dan pelanggaran sekolah lain sebagainya.

“Humm… cara kalian lari dariku… membuat kalian semakin mencurigakan… dasar babo…” kata Taeyeon sambil kembali duduk ke kursi khusus guru yang terletak di samping kiri depan kelas.

“mwo??? Siapa kau??” Tanya seorang murid yang masuk ke dalam kelas.

Taeyeon langsung berdiri dan menyapa murid-murid yang mulai memenuhi kelas.

“Annyeonghaseyoo… aku adalah Mrs Taeyeon… guru bahasa inggris kalian yang baru…” sapa Taeyeon

“Wooah… lebih cantik dari Mrs Jung hahaha” kata seorang murid laki-laki sambil menyeka bibirnya.

“HAHAHAHAHAHAHA~~~~~~~~!!” semua muridpun tertawa didepan Taeyeon.

“SSSSTTT SHUT UP~!!” bentak Taeyeon sambil menempelkan penggaris di bibirnya. “Ayo kita mulai saja belajarnya…”

“seonsaengnim… kau tak mengenalkan siapa nama lengkapmu? Dimana rumahmu? Dan apakah kau sudah punya kekasih? Hahahaha” murid yang berada di belakang mulai mengolok Taeyeon. Kembali. Semua murid menyambut olok-olokan murid laki-laki itu dengan tawa yang menggema.

Kesal dengan komentar muridnya. Taeyeon melempar penghapus, penghapus itu melayang mengenai wajah murid yang mengoloknya.

“HYAAKK meongcheong!!! Sekali lagi kau berkata yang tidak penting, sepatuku akan melayang merusak wajahmu ARRA!!” mendengar Taeyeon marah, semua murid pun terdiam, dan mulai membuka buku mereka masing-masing sambil menundukkan wajah mereka.

29 April 2013 08:08 36 Gye-dong, Jongno-gu, Seoul

“Hyak~~~~!! Hyung~~~~!! Stopp~~!!” Kwangmin mengejar kakaknya yang terus berlari. Youngmin memasuki sebuah bar yang berada di gang sempit tak jauh dari sekolahnya. Ia membuka jasnya dan duduk di bar.

“Hyung…. Ahh… ah…. Larimu cepat sekali…” kata Kwangmin membuka jas sekolahnya dan duduk disamping kakaknya “ahjussi.. 2 vodca untukku” kata Kwangmin pada pelayan bar
“Hyak~! Kalian tidak masuk ke sekolah tap…” Kwangmin menjulurkan badannya ke depan dan dilihatnya mata ahjussi pelayan bar.

“Ahjussi… aku ingin dua vodka… Jeppalli” ulang Kwangmin, dengan patuh ahjussi pelayan bar itu menyiapkan pesanan Kwangmin.

“Hyung… apa yang kau takutkan hah?” kata Kwangmin pada kakaknya yang duduk terdiam di sampingnya, “kau punya kekuatan membunuh, dan aku punya kekuatan menghipnotis… kita punya kekuatan Hyung… dan dia… wanita fortuneteller itu… apa yang ia miliki? Eoh?... dia hanya polisi bodoh yang mencoba menangkap kita… kau juga sedikit memiliki kemampuan fortuner… Hyung… jadi apa yang kita takutkan eoh?? Tak ada sama sekali…benar kan?” kata Kwangmin panjang lebar.

Youngmin menatap mata adiknya, lalu ia tersenyum. “Aku lari dari sana hanya ingin membuat wanita itu semakin senang, ia akan mengira kitalah pembunuh sebenarnya hahahaha”

“Hahahahaha” Kwangmin menambah tawa kakaknya, ia memberi secangkir vodka untuk Youngmin “Baiklah hyung… kita buat dia bersenang-senang dulu… hahahaha… ah Hyung… bagaimana dengan Ilhoon? Apakah kita akan membunuhnya sore ini?... aku sangat muak dengannya juga ayahnya yang sok mendapatkan segalanya”

“Hum… boleh saja… catmu sudah habis?” Tanya Youngmin pada adiknya.

“Mm…ahh… masih ada.. tapi kemungkinan darah Ilhoon lebih hitam hahaha… dia penuh kecurangan, mungkin… aku perlu warna yang seperti itu untuk lukisanku yang baru” kata Kwangmin sambil menyelesaikan tegukan terakhir.

Tiba-tiba pintu bar terbuka, beberapa murid dari highschool yang lain masuk memenuhi bar, dan betapa beruntungnya Jo bersaudara, target mereka malah mendatangi mereka.

“Oh…?? Lihat siapa ini? Youngmin~!! Pengecut dari Daedong?? Hahahaha~!! Lihatlah… semuanya~~!! Jo Youngmin… oh hohohoho… dia… si pengecut miskin ini… berhasil kita kalahkan kemarin” Ilhoon memulai pertengkaran dengan sikapnya yang menyebalkan.

“Hahahahaha… kau memang hebat Ilhoon…” semua teman pria itu pun tertawa keras menikmati kekalahan Youngmin yang duduk didepan mereka.

Kwangmin berpaling dan melihat semua orang yang ada dibelakangnya. Matanya berubah menjadi hitam kelam, Semua orang yang ada di bar mendadak diam seperti patung, tak ada yang bergerak sedikitpun, bahkan nafas tak terdengar diantara mereka.
Sedangkan Youngmin tetap di tempat semula sambil menambahkan cangkirnya dengan tuangan vodka.

“Youngmin… akan kita apakan mereka semua hah? Hahahaha… moron… beraninya kau mengatakan kakakku pengecut hah!!!” Kwangmin mencekik leher Ilhoon, tapi tak ada reaksi.

“Heh…. Biar aku saja” kata Youngmin, ia menyingkirkan tangan adiknya dari leher Ilhoon. Youngmin mencekik leher Ilhoon dengan kekuatan terpendamnya, hingga dari semua lapisan kulit Ilhoon mengeluarkan darah, Kwangmin melihat darah itu, kepalanya berputar kekiri dan kekanan mengatur arah darah itu menetes, akhirnya dengan kecepatan tinggi darah itu sudah menetes bersama di satu sudut tangan Ilhoon.

Kwangmin hanya tertawa sembari mengambil darah Ilhoon yang menetes. “Hahahaha… apa kataku… darahnya begitu kental dan hitam… lukisanku akan sempurna dengan ini semua hahahahaha…”

“Sudah… sekarang buat ia terjun dari lantai atas” kata Youngmin menyuruh adiknya melakukan tugas terakhir, ia melepaskan cekikan di leher Ilhoon.

“Ilhoon… pergilah kelantai atas… dan terjunlah… sesukamu… hummm CEPAT~!!!” kata Kwangmin sambil menatap mata Ilhoon yang hampa, pria itu menuruti semua kata-kata Kwangmin. Ia melangkah dengan lunglai menuju lantai atas.

“kalian semua… hapus semua memori tentang kami berdua…” Kwangmin menoleh ke arah ahjussi pelayan bar. “Ahjussi… kau juga harus menghapus memorimu tentang kami berdua.. mulai satu… dua…” Kwangmin dan Youngmin memakai jas mereka, memasukkan semua yang bisa dijadikan barang bukti ke dalam tas. Baik botol vodka, cangkir, hingga darah Ilhoon.

“Tiga… Empat… lupakan semuanya…. Lima… Enam…” Kwangmin bersiap-siap melangkah keluar bar bersama kakaknya. “Tujuh…. Delapan…. Dan kalian harus mengatakan kepada semua orang… kalau Ilhoon memang ingin bunuh diri… bukan kami yang membunuhnya…. Sembilan…. Sepuluh… baaammmagma Jeoooju!!” bentak Kwangmin, kakak beradik Jo pun lari secepat mungkin menjauh dari tempat dimana mereka membunuh korban ke 21.
Setelah Kwangmin mengucapkan mantranya, semua orang Nampak normal seperti biasanya, dan Ilhoon yang terkena hipnotis, dalam hitungan ke sepuluh terjun dari lantai 5, mengejutkan semua orang yang ada di bar. Mayatnya tergeletak di jalanan, tanpa ada bercak darah.

“Hahahahahahaha……….!!! Hyakk Youngmin~~~~!! Jangan tinggalkan aku~~~~!!” kata Kwangmin yang masih terus berlari menjauh dari tempat pembunuhan. Youngmin berhenti sebentar lalu ia genggam tangan adiknya. Mereka berlari bersama, sambil tertawa lepas.

“Hahahahahahaha…. Kwangmin… kau memang adikku yang hebat…!!!” Youngmin berteriak meluapkan kebahagiaannya

“Hyaaaaaaak Hyung!!! Kaulah yang hebat hahahahaha…. Kita akan melakukan dengan cara tadi… arra!!! Akhirnya aku bisa menghipnotis darahnya untuk keluar di satu sisi hahahahahaha”

To be continue

Fanfiction - Jeo-Ju - Part 2 - Series



Author : Ayuna Kusuma

Genre : Mystery, Romance, Action

Maincast :

Hyun Bin : Hyun
Taeyeon SNSD : Taeyeon
Jo Youngmin : Jo Youngmin
Jo Kwangmin : Jo Kwangmin

Location : Seoul, Korea


28 April 2013 12:38 Daedong Highschool 35 Gye-dong, Jongno-gu, Seoul

Di ruangan seni yang begitu luas, ada seorang murid yang sedang sibuk-sibuknya menggoreskan kuas dengan tinta merah di kain kanvas. Ia tak mempedulikan kesendiriannya di ruangan yang begitu luas dan sedikit mengerikan, karena hanya ada satu penerangan saja di dinding samping kirinya.

Drrrt… Drrrt… ada sesuatu yang bordering di tas kain warna hitam yang menggantung di bahu murid laki-laki itu. Ia merogoh tasnya dengan pelan, dilihatnya handphone yang ada ditangannya.
“huh…..” gumamnya, ia membuka handphonenya

“Ye Hyung….. aku sedang melukisnya… hehehe… tadi malam memang begitu menyenangkan… hmmm… aku akan menyertakan lukisanku di pameran Seoul Art… hum… begitukah?... kurang 5 orang lagi?... hmmm siapa ya… aku tidak tahu Hyung… saat ini tak ada orang yang ingin kubunuh… bagaimana denganmu?...hmmm aku juga sempat bingung…” kata murid laki-laki itu.

Ia menelpon sambil terus melukis di kanvas dengan cat merah yang ada dibawahnya.

“Ye.. aku sudah mencampurkan darahnya dengan catku… hehehe… bagus… lukisanku sangat bagus… Hyung… kau sedang dimana? Oh… begitukah?” murid itu membuka korden ruang seni yang besar, ia mengintip sedikit ke luar ruangan.

“Hmmm… aku melihatmu Hyung… kali ini kau harus kalahkan Ilhoon. Ah… Hyung… bagaimana kalau target kita selanjutnya Ilhoon? Eoh??..... hmmm… iya aku tahu… target kita harus yang tak punya hubungan dengan kita…. Baiklah Hyung…hmmm… aku akan menemuimu di lapangan… sebentar lagi… aku selesaikan bagian kepalanya dulu” Murid laki-laki itu berpaling, mendekati lukisannya, mengocok cat yang bercampur darah di bawah kakinya. Lalu membuat lukisan seorang wanita yang mengerikan. Kepalanya hanya setengah.

“huh…. Hyung terlalu cepat…… tapi memang harus ada korban lagi demi kebaikan bersama…” kata murid laki-laki itu pada dirinya sendiri.

***

28 April 2013 13:00 618-1 Ahyeon-dong, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan

Hyun dan Yeon masih sibuk dengan kasus barunya, pembunuhan 20 murid Daedong Highschool yang tak pernah terkuak, dari semua korban cara bunuh dirinya selalu sama, mereka melompat dari kamar apartemennya, dan dari beberapa video cctv ada pantulan bayangan yang menyerupai anak laki-laki kembar.

“Yoboseyo… gyojang seonsaengnim… saya dari kepolisian Seoul, hmm… ye…ah… ye… sebenarnya saya dan detektif Taeyeon akan menyamar sebagai guru bahasa inggris dan olahraga di sekolahmu… hmmm.. ah anni… anni… tidak ada sangkut pautnya dengan gang… anni… ye… kami punya tugas untuk melindungi anak-anak dari kejahatan rasis yang terjadi di sekolahmu… ye… ah… gyojang seonsaengnim… bisakah mulai besok kami masuk?... ye… ah tidak masalah… kami akan jadi guru pendatang yang mengisi kekosongan saja. Hanya saja… khusus nona Taeyeon. Mohon di tempatkan di kelas 12-4… ye… wooah.. gyojang seonsaengnim…daedanhi gamsahabnida. gyojang seonsaengnim… ye ye… kapan-kapan aku akan berkunjung ke rumah anda… ye… daedanhi gamsahabnida. gyojang seonsaengnim…” Hyun menutup telpnya.

“HUAAAAHHAHAHAHAHAHA~~~~!! MULAI BESOK kita akan menjadi guru disana~~~!! WOOOHOOOOOOOOO~~~~!! Kau lihat kan??? Kolega itu begitu berharga hahahaha” Hyun meloncat-loncat sambil membanggakan dirinya.

Taeyeon yang sedari tadi sibuk menulis sesuatu di buku jurnalnya, melihat Hyun sambil tertawa “woooh…wooh… baiklah tuan Hyun… mari kita bekerja lagi… oh. Apakah kau kenal dengan kepala sekolah Daedong?” Tanya Taeyeon sedikit penasaran

“Hum… dia adalah saudara dari saudara teman ayahku” kata Hyun sambil kembali duduk

“Hahahahaha… aku sedikit bingung dengan urutan kolegamu…” sindir Taeyeon sembari meminum kopi yang ada didepannya.

“Haisss… lupakanlah… yang penting besok kau harus masuk pagi arra??... jangan terlambat masuk.. karena kau akan menjadi guru… dan Mr Oh, akan menempatkanmu di kelas 12-4 dimana si kembar Jo belajar disana… oh… Yeon… apakah kau begitu pintar dalam bahasa inggris??”

“what? you doubt my ability??” Tanya Taeyeon sok berbahasa inggris

“Hahahaha… okey… stop… I don’t know anymore” jawab Hyun sambil mengangkat tangannya

“Hahahahahahaha” mereka pun tertawa bersama, melepas kepenatan.

“Hyun… kau jangan sekali-kali menatap mata kedua anak kembar itu. karena kekuatan mereka ada di matanya, kalau kedua anak kembar itu ingin melukai seseorang, mereka akan menggunakan matanya untuk menghipnotis… percayalah padaku… eoh??” kata Taeyeon pada Hyun.

“apa kau sedang bercanda…? Hehehe” Hyun menggoda Taeyeon dengan melebarkan matanya.

“Haiss… aku bicara serius… lalu kau akan mengajar sebagai guru olah raga?” Tanya Taeyeon sembari memasukkan beberapa map ke tas ransel hitam miliknya.

“hum… aku akan mejadi guru olah raga… Yeon… mengapa kau tak menuduh pasangan kembar lainnya?” Tanya Hyun sambil membuka lagi foto anak kembar yang kedua.

“Babo… kau lihat… mereka kembar laki-laki dan perempuan, mereka juga pendek, dan mata mereka seperti mata orang biasa. Coba lihat ini” kata Taeyeon memberikan foto yang sudah di print pada Hyun.

“Coba lihat ini. Bayangan ini dan foto kembar Jo. Mata mereka sama, postur tubuh mereka sama, dan rambut mereka sama. Kau tahu Hyun… aku adalah keturunan Furtuneteller terkenal di Seoul, jadi… aku tahu apa yang terjadi nanti” terang Taeyeon.

“Yeon… bisakah kau ramal aku?? Apakah aku akan mendapatkan wanita yang cantik sebagai istriku eoh?? Haiiisss… mendapatkan wanita yang tidak cinta uang begitu sulit…” kata-kata Hyun membuat Taeyeon menahan tawanya.

Ia memakai jaket hitamnya dan tas ranselnya. “aku tak akan memberitahumu kalau masalah itu, kalau aku beritahu…. Kau akan meninggalkanku sendirian dengan kasus ini… hehehe… bye bye… Hyun…”

“Hya!! Yeon… kalau aku punya kekasih aku akan janji tak akan meninggalkanmu… Hey~!! Jangan tinggalkan aku~!! YEON~!!! Aku tak bawa mobil tadi~~~~!!” Hyun mengejar rekan kerjanya yang sudah jalan lebih dulu.

***

29 April 2013 07:00 Daedong Highschool 35 Gye-dong, Jongno-gu, Seoul

Mobil Hyundai milik Taeyeon sudah terparkir di lapangan parker Daedong Highschool. Mereka berdua, Taeyeon dan Hyun kini berada di ruangan kepala sekolah.

“hmmm… aku sebenarnya juga khawatir dengan maraknya bunuh diri yang dilakukan murid Daedong… jadi menurut kalian berdua ini bukan bunuh diri? Tapi pembunuhan?” Tanya Kepala sekolah pada Taeyeon dan Hyun yang duduk di hadapannya.

“gyojang seonsaengnim… itu analisis kami sementara ini, dan kedua anak ini adalah tersangka utama kami, tapi… kita tidak bisa langsung menangkapnya. Aku dan Taeyeon akan menyelidiki bagaimana kehidupan mereka, dan semua tentang kedua anak kembar ini” kata Hyun sambil memberikan foto Jo Kembar kepada kepala sekolah.

“Hmmm… Kwangmin… dan Youngmin… mereka adalah siswa terbaik yang kami miliki… Youngmin adalah atlit soccer ternama dari sekolah kami, ia mendapatkan banyak piala selama bersekolah disini… dan Kwangmin… anak ini begitu jenius dalam hal seni. Berkali-kali dia di undang Seoul art untuk menampilkan semua karyanya… tak mungkin mereka yang melakukan semua ini… tak mungkin…” kata kepala sekolah sembari membenarkan kacamatanya.

“gyojang seonsaengnim… untuk itu… kami harus menyelidikinya terlebih dahulu… kami tak ingin asal tangkap saja… bagaimana? Apakah kita bisa masuk hari ini?” Tanya Hyun.

“Humm… baiklah… kalian bisa masuk mulai hari ini… semoga saja bukan mereka berdua yang dibalik semua pembunuhan ini” kata kepala sekolah sambil menyelipkan foto di lacinya.

“Nona Sora… masuklah…” kepala sekolah memanggil seseorang untuk masuk ke dalam ruangannya. Seorang wanita yang memakai baju pink dan kacamata pink masuk, ia tampak kaget ketika melihat Hyun yang terlihat tampan dengan setelan olah raga.

“Sora… apakah pak Min dan Nona Jung tak masuk hari ini?” Tanya Kepala sekolah pada wanita yang bernama Sora.

“Ah..hehe… iya mereka sedang menjalani training dan seminar di Busan… ada apa gyojang seonsaengnim?” Tanya Sora, matanya tak lepas dari Hyun.

Hyun merasa wanita itu sedang melihatnya, dengan malu-malu ia menyembunyikan wajahnya di balik jaket Taeyeon.

“Oh… baiklah… Nona Sora… kenalkan. Dia Hyun. Guru olahraga pengganti Pak Min, dan Nona Taeyeon pengganti Nona Jung guru bahasa inggris kelas 12-4. Tolong antarkan mereka ke kelasnya masing-masing” kata kepala sekolah sembari bangkit dari duduknya.

“Hyun… selamat berjuang… dan jangan membuat semua orang tahu siapa kau.. Nona Taeyeon selamat bekerja” kata kepala sekolah,
mereka saling berjabat tangan, tanda kerjasama sudah dimulai.

“Ye… gyojang seonsaengnim… daedanhi gamsahabnida” Kata Taeyeon. Sedangkan Hyun masih saja menempel pada rekan kerjanya, menjauhkan wajahnya dari pandangan Nona Sora.

“Yeon pakai ini… aku juga memakainya. Kita akan berhubungan melalui walkie talkie nano ini… okey.” Kata Hyun sambil memberikan sesuatu pada Taeyeon. Mereka berdua memakainya dan mulai keluar ruangan.

“Ssstt… Yeon wanita itu mengapa memandangku terus … aku merasa ketakutan” bisik Hyun pada Taeyeon.

“ssstt… aku bisa merasakan ia jatuh cinta padamu hihihi” bisik Taeyeon

“haissss… Jinjja??” bisik Hyun lagi. Mereka berjalan berdempetan mengikuti Nona Sora yang berjalan lebih dulu.

“Ye… ssstt… dia tipe wanita yang tak suka uang… cocok dengan tipemu hihihi” bisik Taeyeon lagi.

“Nona Taeyeon… ini ruang kelas 12-4. Pelajaran pertama hari ini Bahasa inggris jadi anda bisa masuk lebih dulu… maaf anak-anak belum masuk karena jam masuk sekolah masih 1 jam lagi… Tuan Hyun… ayo kuantar ke ruang olah raga” kata Nona Sora sambil mencoba menggapai tangan Hyun

“Gomawo… Sora…” kata Taeyeon sambil menahan tawa, melihat rekan kerjanya ketakutan di sebelah wanita berkacamata pink itu.

“YEOON~~~~~~!! ANDWAEEEEEEEEE” teriak Hyun tanpa suara, Sora telah menyeretnya menjauh dari kelas 12-4.

“Bye bye… Hyun Hahahahaha… aigoo… pria itu sungguh aneh…” gumam Taeyeon sambil masuk kedalam kelas 12-4.

“Youngmin… kau duduk disini hah?” kata Taeyeon sambil memeriksa kursi dan meja yang berada di pojok ruangan dekat jendela.

“Hummm… webtoon… itu kesukaanmu? hmmm” gumam Taeyeon lagi

Kemudian ia berpindah ke tempat duduk yang ada di depan, juga dekat dengan jendela “Kwangmin… jadi disini kau duduk heh… coba apa yang ada dilacimu” Yaeyeon membuka laci, dan ia hanya menemukan catatan pelajaran disana.

“hmmm… tak ada yang mencurigakan… Jo… kalian akan kutangkap… lihat saja nanti… semuanya akan tahu siapa kalian sebenarnya” kata Taeyeon sambil menyiapkan pelajarannya di meja guru.

To be continue

Fanfiction - Jeo-Ju - Part 1 - Series



Author : Ayuna Kusuma

Genre : Mystery, Romance, Action

Maincast :

Hyun Bin : Hyun
Taeyeon SNSD : Taeyeon
Jo Youngmin : Jo Youngmin
Jo Kwangmin : Jo Kwangmin

Location : Seoul, Korea

28 April 2013 08:00 618-1 Ahyeon-dong, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan

Hari minggu merupakan hari istimewa di Seoul, banyak orang yang menghabiskan waktunya di pusat hiburan keluarga, atau sekedar mendaki gunung, di hari minggu juga banyak sekali remaja yang menyelenggarakan acara, dari hiburan sampai acara yang serius seperti pagelaran galeri teknologi di pusat kesenian Seoul.

Tapi sepertinya hari minggu sama saja bagi setiap polisi. Hari minggu mereka harus bertugas bahkan lebih ketat lagi tugas mereka.

Seperti ketiga orang yang duduk di ruang rapat tertutup, di kantor polisi Mapogu. Mereka bertiga sangat konsentrasi melihat adegan-adegan yang ditampilkan di layar besar di depan mereka.

“Lihatlah… bagaimana gadis itu meloncat dari gedung lantai 15, ia seperti sedang berbicara dengan orang lain disana, padahal di rekaman itu tak ada siapapun kecuali gadis itu… coba lihat dia, hmmm” kata seorang petinggi kepolisian, mengarahkan kedua anak buahnya untuk melihat tayangan yang ia berikan.

Wanita yang ada di sebelah kanannya, mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih jelas.

“Oh… sepertinya ada orang lain yang menyuruhnya untuk meloncat dari balkon… Komisaris… adakah rekaman lainnya? Dari sisi yang lain?... mungkin saja ada anak lain yang bersembunyi di suatu tempat lalu membuatnya takut dan akhirnya melakukan bunuh diri?” wanita yang memakai label detektif seoul itu mulai tertarik dengan kasus yang di paparkan komisaris polisi.

“tidak ada…. Hanya ini saja…. Tapi aku mendapatkan banyak rekaman yang sama dengan ini, rekaman dari tempat lain, lokasi yang lain, tapi ke semuanya, semua tempat ke jadian masih di sekitar Seoul. Dan semua korban adalah murid Daedong Highschool Seoul. Ah… aku lupa… coba lihat ini… aku sudah merubahnya menjadi pict jpg… sebentar… Hyun… Taeyeon… silahkan nikmati dulu Americano yang sudah kubeli hehehe… aku merasa bersalah karena menyuruh kalian bekerja di hari minggu” kata pria yang memiliki jabatan komisaris itu.

“ah… terima kasih…sebenarnya aku juga senang bekerja di hari minggu hehehe… aku sedang single saat ini, jadi hari minggu sangat kubenci” kata pria yang dipanggil Hyun oleh komisaris.

“Hehehehee…. Kau bisa saja, kenapa tak kau tembak saja taeyeon… dia juga sedang single iya kan?” goda komisaris sambil mengotak atik laptopnya.

“Hahaha.. ha… Komisaris kau bisa saja… aku tak mungkin kencan dengannya, komisaris… apa kau tahu? Hyun pria yang suka buang gas sembarangan, aku tak mau bila kita kencan dia buang gas ketika kita sedang romantic hahahahaha” kata-kata Taeyeon membuat mereka semua tertawa dan melupakan sedikit ketegangan di ruangan itu.

“Nah… sudah… coba lihat ini” kata Komisaris sambil mengklik mouse laptopnya. Beberapa foto terpampang di layar. Di setiap foto itu ada dua bayangan pria yang tampak di kaca. Satu lagi foto yang dilihatkan komisaris, membuat Taeyeon bergidik.

“Oh… mereka terlihat masih muda… tapi mereka hanya tampak di kaca saja… oh… apakah pembunuhnya hantu?” kata Taeyeon

“kalau menurutku mereka manusia… hanya saja mereka memanipulasi kamera cctv” kata Hyun sambil mencatat sesuatu di kertasnya. “Yeon… bisakah kau lihat?? Wajah mereka sama… iya kan? Seperti anak kembar… hmmm dan lihatlah… seragam mereka sama dengan seragam siswa Daedong Highschool… kemungkinan mereka adalah salah satu siswa Daedong” Hyun kembali menuliskan sesuatu di catatannya dan memasukkannya ke jas.

“Aku ingin kalian menyelidiki siapa mereka, dan segera menangkap kedua pria itu, agar kita semua bisa melakukan investigasi lebih lanjut. karena peristiwa bunuh diri yang sama, sudah terjadi 20 kali dan menewaskan 20 murid Daedong Highschool. Apakah kalian bisa menerima tugas ini?” Tanya Komisaris dengan tegas.

"Ommo... 20 murid??" mata Taeyeon membelalak seakan ingin keluar karena terkejut.

"Hummm 20 murid" tegas komisaris.

“Ya… aku akan mengatasi masalah ini” jawab Hyun

“Hyun… aku rasa target kita kali ini bukan orang biasa, buktinya mereka bisa membunuh 20 anak dibawah umur dengan tipuan cctv seperti itu… Ya.. aku mau mengatasi masalah ini”

“Baiklah… ini semua beberapa catatan mengenai korban, dan aku sudah mencatat kode masuk ke motherboard sekolah itu. kalian berdua bisa melihat siapa saja yang berpeluang besar menjadi tersangka utama, okey… aku harus menemani Nari mendaki gunung dulu… hehehehe… dia terlalu merindukan Appanya…” kata
Komisaris sambil bersiap-siap memakai jaket sport.

“Bye bye… Hyun… Taeyeon… sampai jumpa hari senin depan” kata Komisaris sambil berjalan keluar ruangan.

"Bye bye.... hati-hati dijalan..." balas Taeyeon

“Oh… Nari… anak komisaris itu tahun kemarin baru masuk Daedong Highschool kan? Aigoo… mungkin itu sebabnya komisaris membuka kasus ini” kata Hyun sambil membuka file-file korban di depannya.

“Humm… Hyun… coba buka lagi file ini… foto ini.. mereka terlihat seperti kembar… iya kan?” kata Taeyeon sambil membuka beberapa foto di laptop.

“Hmmm… sebentar aku akan cari datanya di motherboard Daedong highschool… hmmm…. “ kata Hyun sambil membuka laptopnya lalu memecahkan beberapa password, tanpa menunggu lama Hyun sudah memasuki bank data sekolah itu. Disana ia mencari pasangan kembar yang sekolah atau mengajar di sekolah itu. Akhirnya dia mendapatkan 2 pasangan kembar.

“Woaaaaaah… Taeyeon… coba lihat kesini” panggil Hyun, Taeyeon meloncat dan mendekati Hyun, ia lihat di layar ada dua pasangan kembar, sama-sama anak lelaki, tapi Taeyeon menunjuk salah satu pasangan kembar yang ada di kiri layar.

“Hyun… aku rasa mereka orangnya… lihat dari postur tubuh, bentuk wajah dan style rambut, ya mereka orangnya… coba lihat identitas mereka..” pinta Taeyeon, tangan gadis itu kemudian bergetar ketika melihat kedua nama murid kembar itu

“Jo…? Jo Twins…? Ommo…. Lihatlah mereka… mata mereka sepertinya saling memiliki pertautan energy yang luar biasa… Hyun… mereka lah pembunuhnya” kata Taeyeon, ia duduk di samping Hyun dan terus melihat ke layar laptop yang menampilkan kedua murid kembar.

“haisss… Jjamkkanman… Yeon… kau tak bisa seperti itu, kita belum punya bukti yang pasti mengenai tersangka utama, dan kelihatannya mereka berdua hanya murid biasa. Mungkin saja ada orang yang menggunakan refleksi foto mereka dan memantulkannya ke jendela kaca, pembunuh utamanya pasti ingin kita menangkap mereka berdua”

“Andwae!!!... Hyun… Andwae!!” Yeon memundurkan kursi kerjanya dan berteriak begitu keras.

“Yeon… ada apa denganmu?” Tanya Hyun sambil menenangkan teman kerjanya yang terlihat ketakutan

“Hyun… ayahku adalah Fortuneteller, dia pernah mengatakan padaku, kalau suatu saat nanti, akan ada saudara kembar bermarga Jo, yang akan membawa kerusakan, dan bila misi marga Jo itu selesai, dunia ini akan hancur” kata Yeon, ia memejamkan matanya mengingat-ingat lagi apa yang dikatakan ayahnya.

“HAHAHAHAHAHAHAHA…….. apakah kau terlalu banyak melihat kartun? Atau karena kau sudah mulai menjadi webtoon addict?? Hahahaha… Yeon… mereka hanya anak-anak..” Hyun mentertawakan temannya sambil memegang perutnya yang kram.

“HYUN~!! AKU HARUS MENGHADAPI MEREKA SENDIRI!! EOH!! Kirim aku ke sekolah itu… harus aku yang menangkap mereka… Hyun!!”
Taeyeon berlutut di depan Hyun yang sedang duduk sambil tertawa.

“Hahahaha… Yeon… jangan bercanda lagi. Perutku sangat sakit.. woaa ekspresimu sangat mengagumkan… kau harus menjadi artis”

PLAAAZZZZ….

Taeyeon menampar wajah teman kerjanya dengan kesadaran penuh “eotteohge!!! Aku serius HYUN!! Bisakah kau melihat keseriusan dalam diriku? Eoh? Dari wajahku?”

Menerima tamparan dan makian Taeyeon, tawa Hyun semakin lepas. “HAHAHAHAHHAHAHAHAHA….. Okey…. Kita tunggu saja satu hari ini, apakah ada yang mereka bunuh lagi atau tidak”

PLAAAAZZZZ…….

“Hyun… apakah semurah itu nyawa manusia?? Kirim aku sebagai guru pendatang di Daedong Highschool, setelah itu aku akan tunjukkan padamu kalau mereka berdua. Jo Youngmin dan Jo Kwangmin… mereka adalah Jeoju… yang akan membunuh semua orang sesuka hati mereka, eolmana? Kau setuju?”

“Hahahahahaha…… baiklah… kau akan ku kirim ke sekolah itu untuk menyelidiki siapa tersangka utama dalam kasus ini, tapi kau jangan terlalu berpegang teguh dengan khayalanmu… tidak ada yang namanya kutukan, dan kau harus hidup dalam sebuah kenyataan” kata Hyun sambil menyuruh temannya duduk di tempat semula.

“Kita lihat saja nanti… apa yang dikatakan ayahku adalah benar… dan kalau benar, kita harus membunuh anak kembar itu, agar ia
tak lagi membuat kerusakan di bumi ini”

“hum… apakah harus membunuhnya?” Tanya Hyun mulai serius

“Harus… mereka adalah pasangan yang menakutkan… aku bisa merasakan dari tatapan matanya… tak heran kalau banyak korban yang ketakutan dan memilih untuk bunuh diri… tapi aku tak tahu apa yang alasan mereka membunuh semua korban…” kata Taeyeon sambil membuka lagi semua file korban yang diberikan komisaris

“Hummm….. kita akan tahu setelah kau sudah menjadi guru disana”

To be continue

GENTLEMAN - THE SERIES

Author : Ayuna Kusuma

Genre : Mistery, Horror, Parody

Target : Semua Usia

Seorang pria, berjalan mengendap-endap didepan sebuah kamar apartemen, lalu dia mematikan sikring kamar apartemen itu. Pria bertubuh tambun itu tertawa kecil sambil bersembunyi dibalik pintu.

Tak menunggu lama, ada pria lainnya keluar dari kamar dan memeriksa keadaan, dia melihat kekanan dan kekiri. Semuanya masih menyala, hanya kamarnya saja yang mati.

Pria bertubuh kurus itu tak tahu kalau ada seseorang yang bersembunyi dibalik pintu. Ia melangkah sebentar. Dan

“BHAAAAAAAA!!” pria bertubuh tambun itu berhasil memberikan kejutan pada temannya

“Aigo~!! SHINDONG~!! Haiss.. baeseolmul yo!!!” kata pria bertubuh kurus itu sambil memukul temannya dengan senter.

“Ommo… hahahahaha… apakah kau takut? Sejak kapan kau takut dengan hal seperti itu hah?” Kata Shindong sambil menyalakan kembali sikring kamar temannya.

“Ada apa Hyung? Apakah kau perlu makanan? Aku tidak ada mianhae…” kata pria bertubuh kurus itu sambil menutup pintu, tapi kaki Shindong berhasil mengganjal pintunya.

“Haisss.. Jjamkanmannyoo… Aku malah membawakan makanan untukmu hihihi hmm? Kau mau tteokbokki…?” Tanya Shindong sambil memajang plastic berisi tteokbokki didepan temannya.

“Ah… adakah makanan yang lain? Pizza? Hamburger? Atau sepageti?” Tanya pria pemilik kamar pada Shindong

“Hmmm aku tak punya uang lebih, ah begini saja, kita anggap tteokbokki ini sepageti bagaimana?”

“Haisss.. Jijja?... masuklah Hyung, aku tak tega denganmu” kata pria bertubuh kurus itu pada temannya, ia membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan membiarkan temannya masuk. Lalu melihat keluar lorong apartemen, dan menutup pintu dan mengetuk pintu tiga kali.
Shindong melihat temannya dengan penuh penasaran. “Hyaaa. Hanbyul, kau masih melakukan itu? mengetuk pintu tiga kali dari dalam?” Tanya Shindong sambil menuang semua tteokbokki yang sudah dibelinya diatas piring.

“Tentu saja, haisss.. dingin sekali malam ini” kata Hanbyul sambil menyelimuti dirinya dengan badcover tebal dan duduk dihadapan Shindong, sesekali ia mengambil tteokbokki yang panas dan memakannya dengan cepat.

“Haiss… brrr… dingin sekali… Hyung, apa kau tidak merasakannya?” Tanya Hanbyul sambil meneruskan memakan tteokbokki pemberian Shindong.

“Hummm.. tidak, aku merasa biasa aja… Hanbyul apakah hari ini kau bekerja di proyek?” Shindong memasukkan beberapa tteokbokki ke mulutnya lalu mengunyahnya dengan cepat.

“ya… aku masih bekerja di proyek pembangunan itu, beberapa pekerja menemukan barang-barang antic di ruang bawah tanah. Aku rasa tempat itu sedikit menyeramkan… brrr… Hyung, bisakah kau menutup jendelaku?” Shindong berjalan kearah jendela dan menutupnya.

“Apakah kau tak keluar saja, kau bisa statistic kan? Bekerja saja di kantorku, kalau kau masih takut dengan hal-hal aneh seperti hantu, pekerjaanmu akan terbengkalai”

“wooh.. kau menyuruhku keluar? Andwe… dari proyek itu aku akan mendapatkan 8 juta won, dengan itu aku bisa pulang ke Hongkong, menjemput semua keluargaku dan mengajaknya tinggal disini”

“hmmm… iya aku tahu… ahss.. terserah kau saja, Han… apakah di apartemen ini masih ada peristiwa seperti booooo… hmm?” Shindong kembali duduk dihadapan Hanbyul dan meneruskan makannya.

“Semua penghuni menyuruhku setelah menutup pintu harus mengetuk pintu terlebih dahulu, agar arwah yang meninggal di apartemen ini tak masuk ke dalam kamarku, kau masih ingat kan ceritaku, kalau aku tak mengetuk pintu dari belakang, hantu itu akan mengira kamarku kosong, dan dia akan masuk seenaknya.. brrrr….”
“hmmm.. aku ingat, maksudku, apakah ada yang bunuh diri lagi di apartemen ini?”

“memangnya kenapa? Kau ingin melihat kamarnya? Nyonya Myung yang tinggal di samping kamarku, tiga hari yang lalu bunuh diri, dia melompat dari balkon, kau mau menemui arwahnya?”
“Haisss.. Jinjja?” Shindong mengerutkan wajahnya.
“hahahaha… Hyung, apakah sekarang kau merasa takut? Hah?...”

“Aku tak akan takut pada hantu, kau yang penakut bukan aku Eoh…” Shindong mendobrak meja, apakah semudah itu pria marah pada temannya, hanya masalah sepele saja ia sudah melakukan kekerasan.

“Hyaaa.. Hyung… aku hanya bercanda saja… ya… tenangkan dirimu, aku memang yang paling penakut bukan kau” Kata Hanbyul menenangkan temannya, ia membersihkan meja makannya dari piring bekas tteokbokki, lalu menuju tempat cuci piring dan membersihkan piringnya.

“HanByul… aku punya permainan, sudah satu minggu kita tak berlibur kan? Hari sabtu besok kau libur kan? Bagaimana kalau kita menginap di tempat terseram di Busan? Hah?”

“Hyung…. Sudahlah, aku hanya bercanda… apa kau tak mau memaafkanku?” kata Hanbyul, setelah selesai mencuci piring ia rebahkan tubuhnya yang berselimutkan badcover tebal.

“Bukan… aku tidak mempermasalahkan perkataanmu tadi, tapi…. Seru kalau kita berdua berkemah atau menginap di tempat paling menakutkan di busan. Neulbom Garden… woaaah… apa yang terjadi kalau kita menginap disana hahahaha” kata Shindong, ia melebarkan tangannya dan menatap Hanbyul dengan penuh kesombongan

“Han… byul ah… apakah kau mau menemaniku? Huahahahaha” Tanya Shindong, kali ini dia tertawa seperti iblis yang digambarkan di berbagai game.

“Neul…bom… Garden??? Ahhhss JINNJAA?” Hanbyul langsung bangkit dan duduk, ia menatap temannya itu lekat-lekat. “Apakah kau serius? Disana banyak orang yang meninggal karena keracunan, kecelakaan, ahsss. Andwe… aku tak mau, jalankan saja idemu Hyung, tapi jangan mengajakku….”

“HANBYUL~!!!” Shindong berdiri dan meloncat menindih temannya.
“Kau harus ikut denganku, kita nikmati weekend dengan cara berbeda… Ayooo… Pallli… ikut denganku hahahaha” Kata Shindong sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya diatas badcover yang menyelimuti Hanbyul.

“Haisss… dangsin michyeoss-eo ? HUAHHH???” Hanbyul berhasil menjatuhkan tubuh temannya ke samping. “haiss… apa yang kau lakukan padaku hah? Kau menodaiku” kata Hanbyul berakting layaknya wanita sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Hyakk.. Baboya…” Shindong pun mendesak Hanbyul yang duduk di pojok ruangan. “Ayo… kita berlibur bersama, aku ingin sekali masuk ke  Neulbom Garden sejak lama…”

Dok. Dok. Dok.

Tiba-tiba ada yang mengetuk apartemen Hanbyul dari luar, Shindong dan Hanbyul saling berpelukan, mereka merasa suasana menjadi semakin mencekam, ketika langkah kaki itu terdengar bolak balik, mengitari balkon didepan pintu.

Dok. Dok. Dok.

Tiga kali ketukan di pintu, sekali lagi membuat bulu kuduk Shindong dan Hanbyul berdiri.

“Hyung… buka pintunya…” Hanbyul mendorong tubuh Shindong ke arah pintu, mereka berjalan berdempetan menuju pintu.

“aih…. Kau yang tinggal disini, kau saja yang membukanya, aku hanya tamu kan, aku tak punya hak untuk membuka pintu” bisik Shindong

“Yak… kau takut? Kau kan pemberani?” bisik Hanbyul sambil mendesak Shindong untuk membukakan pintu.

Dok. Dok. Dok. Setelah pintu di ketuk, suara langkah kaki itu pun terdengar lagi, sepertinya ada seseorang yang menunggu di luar, menunggu untuk dipersilahkan masuk.

“Sss…siapa disana?” Tanya Hanbyul. Tak ada jawaban, tak ada langkah kaki. Tak ada ketukan lagi.

“HYAAAAAAAAAAAAK~~~~~!!” Shindong berlari menghindar dari pintu dan menyelimuti tubuhnya dengan badcover milik Hanbyul.

“Han~~~!! Lari dari sana……. Itu hantu… arwah Nyonya Myung…. HYAk~~~~!! Apa yang kau lakukan disana hah?” teriak Shindong, hanya matanya saja yang tak tertutup selimut.
Hanbyul masih mempertahankan diri berdiri di sebelah pintu. Ia tak berani melihat dari sela pintu, dan memeriksa siapa yang diluar.

Dok, Dok, Dok. Ketukan itu mengejukan Hanbyul, ia bersandar di dinding dan mengatur nafasnya.

“Annyeonghaseyo… bisakah kau membukakan pintu? Aku Sungjong, penghuni baru. Bisakah kau menolongku? Listrik di tempatku selalu mati ketika kunyalakan”. Hanbyul segera membuka pintunya, dan ia menyeret masuk pria yang berdiri di depan kamarnya.

“OMMO~!!” Hanbyul terkejut setelah melihat penampilan pria yang di seretnya masuk tadi. Pria itu menggunakan setelan hitam, wajahnya halus seperti wanita tapi sedikit tampan.

“Hehehe.. terima kasih, aku menunggumu lama sekali, bisakah aku meminjam kamar mandi sebentar saja?” kata pria bernama Sungjong sambil menambahkan senyumannya yang manis.

“Ah… iya.. iya… kau manusia kan?” Tanya Hanbyul
“hahaha… apakah aku seperti hantu gentayangan? Kau ada-ada saja… Ommo… siapa itu?” Sungjong berjalan mendekati Shindong yang masih berlindung di dalam badcover.

“Woah.. apakah kau ketakutan? Hehehe mianhae…” kata Sungjong sambil mengintip Shindong yang berada di dalam bad cover.

“Ah.. aku belum tahu namamu, siapa namamu tetanggaku?” Tanya Sungjong sambil mengambil buku catatan di sakunya.

“Han Byul.. itu namaku, dan temanku itu Shin Dong, kalau mau ke kamar mandi, belok saja ke kiri” Sungjong menuliskan sesuatu di buku kecilnya.

“hmm… baik. Terima kasih Hanbyul” pria bersetalan hitam itu melangkah dengan pasti menuju kamar mandi.
Shindong yang sedari tadi bersembunyi dibalik badcover, berlari membuka perlindungannya dan berlari menghampiri Hanbyul “Hyak… mengapa kau mengizinkannya masuk? Aigooo… bagaimana kalau dia hantu yang bisa berubah menjadi manusia hah? Kau pernah melihatnya di tv kan? Ada hantu yang bisa berubah menjadi manusia lalu membantai semua orang hah?” kata Shindong berapi-api

“pelankan suaramu, yang kau bicarakan ada dibelakangmu” bisik Hanbyul sambil menunjuk Sungjong yang berdiri tepat dibelakang Shindong.

“Boooo…" Sungjong menghentak punggung Shindong dari belakang, pria bertubuh tambun yang ketakutan itu hampir saja mati berdiri " hehehe… tak perlu khawatir aku bukan hantu… Hanbyul bolehkah aku meminjam coffee maker mu? Aku ingin membuat coffee..” Sungjong menatap hanbyul dengan mata yang tajam, dia tetap tersenyum, tapi senyumannya begitu berbeda dari yang lainnya.

“I..iya silahkan…” Hanbyul dan Shindong berlari mendekati Sungjong, mereka melihat telapak kaki Sungjong, dan merasa lega, kakinya masih menginjak lantai, berarti dia manusia sungguhan.

“Kenapa dengan kalian? Masih tak percaya kalau aku manusia? Hahaha… aku buatkan kalian coffee juga ya?”

“Ye… terima kasih, Sungjong, apakah kau pindah di apartemen bekas Nyonya Myung bunuh diri?” Tanya Shindong, kali ini dia sudah bisa bicara seperti biasa, tak ada rasa ketakutan lagi yang menyergapnya. Hanbyul kembali meraih badcovernya dan menyelimuti semua tubuhnya dengan badcover.

“Hmm… aku anak Nyonya Myung yang terakhir, ibuku bunuh diri karena pengaruh kejiwaan, jangan pernah dipikirkan, sekarang ibuku sudah nyaman di alamnya, dia tak akan merasa sedih, dan tak ada alasan untuk menghantui kalian berdua” jelas Sungjong sambil memberikan kedua pria itu cangkir yang penuh kopi.

Sunjong duduk dihadapan Hanbyul dan Shindong, ia meminum kopi dengan penuh kenikmatan, “Muaaahh… enak sekali… Ah.. aku tadi mendengar pembicaraan kalian, kalian ingin pergi ke Neulbom Garden hari sabtu besok? Benarkah?” Tanya Sungjong, matanya berbinar, menandakan ia sangat tertarik dengan hal itu.

“Ya… aku dan Hanbyul akan menginap disana selama dua hari, sampai minggu malam” kata Shindong memastikan. Hanbyul yang sedari tadi tidak setuju tiba-tiba menendang Shindong

“Hyakk.. kau saja yang pergi kesana, aku tak tertarik…”
“Hanbyul.. sepertinya kau harus kesana, untuk melatih keberanianmu… bagaimana kalau aku menemani kalian?” kata Sungjong, ia sibuk membuka dompetnya, ia memberikan kartu nama pada Hanbyul, lalu meminum kopinya.

“Ghost Buster Sung Jong? Hmmmppt… hahahahahaha apakah kau salah satu pecinta kartun ghostbuster?” Tanya Hanbyul. Wajah Sungjong berubah menjadi aneh.

“Bagaimana? Aku adalah pembasmi hantu yang sebenarnya, aku terbiasa berinteraksi dengan mereka, jadi kalian tak perlu takut kalau ada aku. Hanbyul… itu pekerjaanku, yang sangat kubanggakan, tolong jangan mentertawakannya” kata SungJong sambil merebut kartu nama yang digenggam Hanbyul.

“Ah… mianhae… aku hanya bercanda…” Hanbyul memohon sambil menundukkan kepalanya, ia tak sanggup lagi melihat wajah seram Sungjong sekali lagi.

“Baiklah… aku maafkan hehehe” Sungjong kembali tersenyum. “Ah… apakah kalian sudah tahu sejarah Neulbom Garden?”
“Anni…” jawab Hanbyul “Aku hanya tahu disana sangat menakutkan”

“Aku juga tak pernah tahu kejelasan tentang sejarah rumah itu” kata Shindong

“Baiklah… aku akan menceritakan sebuah sejarah kelam Neulbom Garden,  aku telah lama mencari informasi ke semua orang, Itu adalah rumah yang dibangun oleh seorang pria untuk keluarga kecilnya, mereka hidup bahagia disana, ia, istrinya, dan satu anak gadisnya. Tapi suatu hari, ketika anak nya bermain di jalan, ada mobil yang menabraknya. DRAAAAAATT~!! Anak gadis itu tidak mati, hanya saja kepalanya mengalami benturan, yang membuat tubuhnya lumpuh, Semenjak anak gadisnya lumpuh, kedua pasangan suami istri itu mengalami stress berat, mereka tak kuat menahan kesedihan yang menimpa keluarganya, sang ayah bunuh diri di kamarnya dengan menjerat kepalanya, lalu sang ibu bunuh diri dengan loncat dari loteng, dan sang anak, dibiarkan hidup dirumah itu sampai mati. Beberapa bulan kemudian, ada saksi yang menemukan tiga mayat di Neulbom Garden, itu cerita 20 tahun yang lalu.” Sungjong mengakhiri ceritanya, ia meneruskan meminum kopi di cangkirnya yang masih tersisah.

“Aigoo… aigoo… mengapa mereka sekejam itu dengan kehidupannya sendiri… apakah sampai disitu saja ceritanya?” Tanya Shindong, ia ketakutan, tapi masih saja menagih cerita pada Sungjong.  Hanbyul sama sekali tak tertarik dengan cerita tetangga barunya itu, dia hanya merebahkan diri disamping meja.

“Anni… masih ada cerita lainnya lagi, yang membuat rumah itu semakin mengerikan, 15 tahun yang lalu, ada seorang pria kaya, yang membeli rumah itu dan merubahnya menjadi restoran. Pria itu bekerja sebagai koki. Banyak yang yang mengunjungi restoran itu karena masakan pria kaya itu sangat enak di bandingkan dengan koki yang lain di daerah Busan. Tapi keanehan, keanehan terjadi, kartu pesanan selalu salah, konsumen memesan a, di kartu tertulis b, padahal pelayan sudah menulisnya pesan a. sepertinya ada yang sengaja merubahnya. Konsumen masih tetap menyukai masakan sang koki, walaupun pesanan mereka tertukar”

“Ketika malam, pelayan mendengar ada yang memasak di dapur, padahal restoran sudah tutup. Lalu pria pemilik restoran itu tingkahnya berubah drastic seperti seorang psikopat, setiap pengunjung yang tidak menghabiskan makanannya, dia pasti memukulnya kepala mereka satu persatu, konsumen tidak ada yang boleh keluar dari restoran kalau makanan yang dipiring masih tersisah. Semakin lama, koki semakin gila, masakannya tak enak seperti dulu, dan banyak konsumen yang merasa tertekan dengan sikap koki yang diluar nalar. Akhirnya restoran itu bangkrut dan ditinggalkan. Sang koki. Menghilang tak tahu kemana… Setelah peristiwa kebangkrutan restoran itu, tak ada yang berani lagi masuk ke rumah itu, melewati rumah itu saja sudah membuat takut sejumlah pejalan kaki. Beberapa waktu yang lalu ada yang syuting di sana kan? Salah satu televise lokal, kalian tahu??? Mereka mendapatkan rekaman, yang mengerikan, ada barang yang berpindang dengan sendirinya, kran cuci piring menyala, padahal sudah lama mati dan jadi rongsokan, kamar yang dulu ditinggali gadis lumpuh itu terbuka sendiri pintunya dan terdengar tangisan demi tangisan dari sana. Ada juga penampakan gadis memakai Sobok yang berjalan mengelilingi rumah… nah… apakah kalian masih mau menginap disana?” Tanya Sungjong menantang

“YA~!!! Aku mau…” Shindong mengangkat tangan kanannya

“Aku mau… aku akan membuktkan kalau itu hanya cerita bohong… tak ada hantu di dunia ini” kata Hanbyul sambil menutup wajahnya dengan lengannya.

“haiss. Baiklah… asalkan kau ikut, aku sudah senang, akan kutunjukkan kalau disana ada banyak hantu, dan kita berlibur dengan suasana yang berbeda hahahahaha” Shindong kembali tertawa sambil melebarkan tangannya.

“okey… sampai jumpa besok, Hanbyul terima kasih coffee nya kau memang tetangga yang baik” Sungjong pun berlalu dan keluar dari kamar apartemen,

“hummm ya….” Jawab Hanbyul.

“Hyak… apakah kau mendengar ceritanya tadi? Neulbom Garden sungguh mengerikan… hyakk Hanbyul~!!”

“wae… ah… mollayo…” kata Hanbyul sambil merubah posisi tidurnya.

“Hya…….!! Hanbyul-ah~~~~~!!” Shindong kembali menggoda temannya. Apakah yang terjadi ketika mereka menginap di Neulbom Garden???... apakah Sungjong kuat menahan kekuatan jahat yang begitu besar?? Kita tunggu saja part selanjutnya Bwahahahahahaha…

To be continue   Tanggal 16 Mei 2013

Please Share, and Comment,
and like my story....

Informant terbaik : Ray Won. Pyu Gak, Hansim Kim, Gang Bong, Daeri Jung.

Fanfiction : Sal-In - Part 4



Author : Ayuna Kusuma

Maincast :
IU : Hyemi
Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun
TIGER JK : Hyung / ChangJun
5ZIC : JaeBo

Genre : Romance, Action


11 Februari 2013 15:08, Gudang Arrin Apartmen.Daemyeong, Nam-Gu, Daegu,

“Ah~~~~~~~!!” petugas kebersihan berteriak sekeras-kerasnya ketika menemukan tubuh Ji-eun yang tergeletak di dalam lemari penyimpanan. Celana Ji-eun sobek-sobek, beberapa pecahan botol kaca masih menancap di lutut dan telapak kakinya.

Berkali-kali wanita paruh baya itu berteriak meminta tolong, tak ada yang menanggapinya, petugas kebersihan itu kehilangan akal, entah karena terlalu panic atau memang sifatnya yang bodoh. Ia menyiram wajah Ji-eun dengan air bekas bercampur detergen.

Ji-eun terbangun, sadar tubuhnya sudah terlalu basah, ia bangkit, dan segera menutup pintu gudang apartemen, gadis petugas kebersihan itu hanya terdiam melihat tingkah Ji-eun.

“Ahjumma,.. terima kasih telah membuatku sadar, aku hampir mati, tadi…” bisik Ji-eun, ia duduk bersandar pada pintu gudang, sambil mencoba mencabut pecahan kaca di lututnya yang masih menancap.

“Aigo… Aigoo…” Kata ahjumma ketika Ji-eun berhasil melepas pecahan kaca.

“Ahjumma… di lantai dua, kamar no 8 apakah ada orang disana?” Tanya Ji-eun, dia merobek celana jeansnya dan merubahnya menjadi hot pants.

“Aigoo.. apakah kau perlu ke rumah sakit? Hah…?Ayo kuantarkan ke rumah sakit… kakimu parah.. apa yang terjadi denganmu eoh… aigoo…” kata Ahjumma sambil menutup matanya dengan lengannya

“Ahjumma, jawab pertanyaanku, apakah diatas masih ada tiga pria memakai setelan hitam?” kata Ji-eun, diambilnya tas ranselnya yang basah.

“Anni… disana kosong, dan sangat berantakan… apa kau yang tinggal di kamar no 8?” Tanya Ahjumma, kali ini dia sudah tak takut lagi melihat keadaan Ji-eun, walaupun kakinya penuh luka, gadis itu tetap bisa berdiri tegap.

“Ahjumma… aku hampir saja di bunuh, jadi mohon kerjasamanya, bisakah kau mengecek ke atas, apakah disana masih ada orang?” kata Ji-eun, Ahjumma yang menolongnya itu langsung berlari, keluar gudang, Ji-eun hanya menunggunya di balik pintu gudang.
Beberapa menit kemudian, Ahjumma petugas kebersihan itu datang, nafasnya menderu “tak ada siapa-siapa disana…”

Ji-eun bangkit dari istirahatnya, ia memberikan Ahjumma kalungnya yang berbentuk bintang.

“Ahjumma… tolonglah aku, kalau ada orang yang mencariku, bilang saja aku sudah tidak ada disini lagi, arra? Ini untukmu, terima kasih telah menolongku Ahjumma” kata Ji-eun, Ahjumma petegas kebersihan itu menggenggam kalung yang diberikan Ji-eun dan melihat gadis itu berjalan dengan begitu pelan.

Sesekali, Ji-eun melihat ke kiri dan kekanan, melihat parkiran mobil yang ada di depan apartemen, tak ada mobil hitam disana. Merasa aman Ji-eun lalu berlari menuju lantai dua menggunakan tangga darurat, sesekali ia menyeret kakinya yang kram.

Sampai di kamarnya, Ji-eun memilih dan memilah baju yang harus ia bawa, tas yang basah karena air bekas pel ia buang begitu saja, ia mengambil tas ranselnya yang lain, dan mengisinya dengan baju juga senjata yang pernah diberikan ayahnya. Pistol caliber 22.

Ayahnya sering bilang, kalau Ji-eun harus bisa menjaga dirinya sendiri, karena sebagai polisi Ayahnya memiliki banyak musuh, baik dari mafia atau aparatur Negara yang korup. Banyak yang ingin membunuh ayahnya, polisi yang jujur. Ayahnya berkali-kali berhasil membunuh mafia yang sering membuat ulah di kawasan Pohang.

Itulah sebabnya, mengapa Ji-eun harus tinggal di kota yang berbeda. Ayah Ji-eun tak mau anaknya terlibat dengan pekerjaannya, menjaga anaknya satu-satunya adalah keinginan utama Ayahnya. Setiap kali ada hari libur, ayahnya pasti mengunjungi Ji-eun, tapi sepertinya kali ini tidak bisa. Ji-eun memutuskan pergi ke Pohang.

Sebuah keputusan yang salah kaprah. Padahal musuh utamanya, otak pembunuhan yang punya keinginan besar menyiksa Ji-eun sekarang berada di Pohang. Mereka ayah dan ibu Pyo, mafia terbesar di Pohang.

Setelah selesai mengganti pakaiannya dengan cepat. Ji-eun melangkah keluar dari kamarnya.

“bye bye…” kata perpisahannya pada semua barang miliknya yang ia tinggal. Ji-eun harus lebih hati-hati lagi saat ini. Gadis hebat itu berlari menuju halte bis.

Topi dan kacamata, jaket hitam akan membuatnya tampak seperti orang lain. Jangan sampai ada orang yang melihatnya. Kalau tidak, nyawanya akan hilang dan tak bisa lagi bertemu ayah yang dicintainya.

***

11 Februari 2013 16:21 Intercity Bus Terminal, Daemyeong 11(sibil)-dong, Nam-gu, Daegu

Ryu turun dari taxi bersama seorang gadis. Tangan mereka saling menggenggam, sesekali Ryu melihat ke sekelilingnya, apakah ada orang suruhan ChangJun yang mengikutinya. Memastikan tak ada yang mencurigakan, Ryu akhirnya masuk ke dalam terminal, gadis yang bersamanya itu tak melepaskan genggaman tangannya.

“Oppa… apa kau yakin, kita akan pindah ke Gumi?” Tanya gadis itu sedikit ketakutan. “Oppa… apakah Hyung akan mengejarmu? Mengapa kau tak kembali saja padanya, lalu meminta maaf padanya Oppa…” kata gadis itu.

Ryu menatap wajah gadis itu lalu memberinya senyuman yang menenangkan. “Tidak… aku tidak akan kesana lagi, aku akan membawamu ke Gumi, kita akan menikah disana, aku tak mau kau tinggal di rumah keluarga Hyung, dia sudah membenciku, kalau seperti itu, kau pasti menjadi sasaran berikutnya. Hyemi… apakah kau tak ingin bersamaku? Tak ingin menikah denganku?” Tanya Ryu sambil mencium tangan kekasihnya.

“Oppa… aku ingin sekali… tapi…”

“Ssstt… “ Ryu membungkam bibir manis Hyemi dengan tangannya.
Setelah membeli tiket bus, mereka duduk di ruang tunggu bersama penumpang lainnya, malam itu banyak sekali orang yang ingin bepergian, mengingat sebentar lagi perayaan valentine, jadi banyak pria yang bekerja di Daegu pulang ke kota mereka masing-masing.

“Hyemi… apakah kau sudah menyiapkan coklat untukku?” Tanya Ryu sedikit menetralisir ketegangan Hyemi. Sedari tadi gadis itu memeluk lengan Ryu, sambil melihat kekiri dan kekanan.

“Oppa… jangan memikirkan hal itu sekarang… lihatlah wajahmu… apakah Hyung benar-benar melakukan ini?”

“Hyemi… kalau kita menikah nanti… aku ingin kita membuka stand makanan, aku akan bekerja keras untuk membahagiakanmu Hyemi… tapi kau juga harus membahagiakanku, buatkan aku anak yang banyaaaaaaaaaak.. hehehe”

“lalu kau melatihnya menjadi mafia?”
“bukan… aku akan melatih mereka untuk bisa membunuh semua mafia di korea ini” kata Ryu sambil memeluk Hyemi.

“hehehe itu sama saja mafia…”

“Hahahaha” mereka tertawa, tampak begitu bahagia. Padahal di belakangnya ada tiga orang yang mengintai. Jaebo dan kedua anak buahnya.

“Hyung… pakai ini” kata anak buah Jaebo sambil memberikan peredam shotgun. Mereka duduk di pojok ruangan, selisih 3 deretan bangku, tapi komplotan mafia sadis itu bisa melihat Ryu.

“Hei.. apakah kau yakin itu gadis yang harus kita bunuh?” kata Jaebo, sambil memasang peredam suara di selonsong shotgun miliknya.

“Yakin… aku yakin itu Ji-eun… cepat Hyung, tembak gadis itu sekarang, sebelum mereka pindah posisi” kata anak buah Jaebo.
Jaebo berpindah posisi, ia duduk di balik bangku, “Hei. Cepat duduklah didepanku” anak buahnya bergeser menutupi Jaebo, pria itu membuka jaketnya dan menyelipkan selongsong shotgun, ia membuka jaketnya lagi, memberikan ruang kepada Jaebo untuk membidik targetnya.

“Siap… huh… mati kau Ji-eun, ibuku akan menyukai mayatmu…” kata Jaebo membanggakan tindakannya.

TAZZZZZZZZZZ….. tubuh Hyemi jatuh ke pelukan Ryu.

Syok kekasihnya meninggal seketika di pelukannya. Ryu berteriak-teriak memanggil Hyemi, ia mengguncang-guncang tubuh kekasihnya yang berlumuran darah, beberapa polisi yang menjaga stasiun bis melihat Ryu sedang memeluk Naemi, mereka langsung mengetahui dari banyak pengunjung ada yang membawa pistol.

“HYEEEEEEEEEEEEEEEEMIIIIIIIIIIIIIIIIII~~~~~~!! Bangun Hyemi……… Bangun….. Hyemmi… Jangan tinggalkan aku Hyemi………..” Ryu menangis, sambil memeluk kekasihnya yang sudah lemas tak bernyawa.

“DIAM~~~~~!! JANGAN BERGERAK~!! Jangan ada yang bergerak~~~~!! Atau kutembak kalian semuanya~~!!” kata polisi itu sambil menunjukkan senjatanya. Semua pengunjung yang berdiri terdiam, termasuk kedua anak buah Jaebo. Dan Ji-eun yang baru datang ke stasiun.

Ji-eun melihat Ryu, mafia yang telah menolongnya tadi pagi sedang memeluk seorang gadis, dan menangis sekeras-kerasnya. Ji-eun hanya bisa bersembunyi di balik tong sampah besar didepannya. Ia berpikir pasti mafia yang ingin membunuhnya mengira gadis yang bersama Ryu itu adalah dirinya.

“Hyemi…….. Hyemi……. Mengapa kau meninggalkan aku sendirian Hyemi…” tangis Ryu yang menyayat hati terdengar begitu menggema, membuat beberapa calon penumpang menangis juga melihat peristiwa itu. “HYAAAAAK~~~~~!! JAEBO~~~~~!! Aku tahu kau ada di ruangan ini HAH~~~~~!! Keluarlah kau,

KELUAR~~~~~~!! BUNUH AKU~~~~~!! Bunuh sekarang juga~!! cepat~~~~~!!” Ryu berdiri berjalan kesana kemari mencari orang yang dituduhnya telah membunuh Hyemi.

“Hey~! Kau diamlah… jangan bertind…” Polisi yang mencoba melarang Ryu itu terkapar, peluru menembus punggung sampai jantungnya. Semua calon penumpang seketika berdesakan keluar, mereka tak mau menjadi korban berikutnya. Petugas stasiun pun berlari keluar menyusul para penumpang

“JAEBOOO~~~~~~!! Keluarlah~~!! HAH~~~~~!! BUNUH AKU~~~~~~~!! HA……” Ryu masih berdiri, nafasnya tak teratur, emosinya meninggi, kemarahannya telah membuatnya lupa akan Hyemi untuk sementara.

Ji-eun merubah posisinya, ia tak mau terlihat oleh mafia yang sedang mengincarnya. Sekarang ia berada di luar ruang tunggu, bersandar di pintu sebelah kanan, ia melihat Ryu. Ingin sekali ia menolongnya, tapi Apa yang bisa ia lakukan. Akhirnya ia menyiapkan pistol caliber 22 yang ia miliki.

Jaebo bangkit dari persembunyiannya, ia menyeka keringatnya, lalu mendekati Ryu yang menahan marahnya.

“Oh… ternyata bukan targetku… miannatta…heehee” kata Jaebo meremehkan, ia berlalu begitu sambil tersenyum mengejek. Tak menunggu lama, Ryu meloncat kearahnya dan menghantam wajah Jaebo dengan pukulan andalannya.

Ryu memukul wajah, lalu menendang ulu hati Jaebo. Hingga pria yang membunuh kekasihnya itu terlempar ke belakang. Ryu kembali memukul Jaebo dan menendangnya berkali-kali, pria kekar yang dikatakan bisa membunuh 17 orang dalam pertarungan itu tak bisa mengelak pukulan Ryu, sama sekali tak bisa.

Kedua anak buah Jaebo berniat menembak Ryu, tapi mereka tak pernah tahu kalau Ji-eun sudah bersiap menembak mereka dari balik pintu. Ji-eun tak bodoh, ia juga menggunakan peredam untuk aksinya menolong Ryu.

Sekali, dua kali tembakan mampu membunuh kedua bawahan Jaebo. Ji-eun sudah terbiasa menggunakan senjata. Di sekolah kepolisian Pohang, ayahnya sering melatihnya menembak dengan kecepatan tinggi.

Jaebo yang tak sadar anak buahnya telah mati. Masih saja mencoba
menghajar Ryu. Tapi Ryu kali ini sanggup melawan pria kekar itu. Dengan emosi yang meletup-letup, dan air mata yang masih mengalir, ia berhasil melumpuhkan Jaebo.

Dicengkramnya kemeja Jaebo. “Jaebo… hidupkan lagi HYEMI~!!! CEPAT~~~~!! RIGHT NOW~~~~~!!” Teriak Ryu, ia menangis menyesali kematian kekasihnya. Jaebo yang sudah babak belur masih sempat tertawa mengejek Ryu, tak peduli lagi, Ryu kembali menghantamkan Shotgun milik Jaebo ke wajah musuhnya.
Ia mencengkram lagi kemeja Jaebo, Jaebo terlalu lemas, akhirnya Ryu mencengkram leher Jaebo dan mendorongnya ke dinding. Jaebo tercekik dan mengeluarkan lidahnya, ia terlalu susah untuk bernafas kali ini.

“Apakah ChangJun yang menyuruhmu membunuh Hyemi??? … hummm” Tanya Ryu mencoba menahan emosinya.
Jaebo tak menjawab, ia terlalu sibuk mengatur nafasnya yang terasa tercekat.

“HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA JAEBO~~~~~!! APAKAH CHANGJUN yang menyuruhmu membunuh HYEMI??? HAH?” Ryu berteriak di depan wajah Jaebo, sesekali ia menghantam kepala musuhnya dengan shotgun ditangannya.

“Aaa… aku kir a… di… dia… Ji…Eun…. Maa…afkan… aku Ryu… aku salah… sa..saran…” kata Jaebo.

TAZZZZZ… Jaebo lemas seketika, ada peluru yang bersarang di lengannya.

“Maaf Ryu..tembakanku meleset, peluruku juga sudah habis ” kata Ji-eun, ia berdiri di belakang Ryu.

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH~~~~~!! Mengapa kau membunuhnya HAH??” tak pernah di duga, Ryu berbalik dan menampar Ji-eun, sampai gadis itu terjatuh ke samping. “Apakah kau tak tahu hah? Ada seorang mafia di Pohang yang ingin
membunuhmu untuk membalaskan dendamnya, karena ayahmu telah membunuh mereka, hah… kenapa kau malah membunuh anak mereka yang lainnya hah?? Kau tahu… mereka telah membunuh kekasihku… semua itu karna kau… Hyemi… bangunlah Hyemi… aku tak bisa hidup tanpamu… Hyemi….” Tangis Ryu, ia kembali memeluk kekasihnya dan menciumi wajah Hyemi yang sudah mendingin

“a…apa…?”

“Ji-eun.. Selama ini kau menjadi sasaran para mafia di Pohang, mereka ingin menghabisimu, dan mengirim mayatmu untuk dijadikan permainan disana… tadi pagi kau sudah kuperingatkan untuk keluar negeri… pergilah… menjauhlah dari Korea… tapi kau tak mau bekerja sama… dan tadi… mereka membunuh Hyemi…” Ryu menguncang-guncang kekasihnya yang telah meninggal.

Ji-eun menangis melihat Ryu seperti itu, ia menjatuhnya pistolnya, dan membungkam mulutnya, menahan tangisnya, Ji-eun merasakan apa yang telah di rasakan Ryu.

“Ryu… dia… dia sudah meninggal… jangan mengguncangnya seperti itu Ryu…” kata Ji-eun disela tangisannya.

“DIAM KAU~!! HYEMI… tak akan pernah mati, dia akan hidup untukku selamanya, iya kan Hyemi…? Bangunlah Hyemi…” Ryu memeluk Hyemi lebih erat.

“Ryu… maafkan aku… aku tak mempercayaimu… Ryu…”

“STOP~!! Jangan pernah lagi menggangguku, urus saja urusanmu sendiri Ji-eun, kau sudah membunuh Jaebo, kakak dari korban yang dibunuh ayahmu… sekarang lindungilah dirimu sendiri, dua mafia terbesar di Pohang dan Daegu, akan memburumu kalau mereka tahu kau yang membunuh Jaebo… Aku akan tetap disini bersama Hyemi… iya kan Hyemi… hummm” Ryu membelai wajah kekasihnya dan menyeka darah yang keluar dari hidung Hyemi.

“Ryu… polisi akan datang kemari, ayo… kita pergi… tinggalkan Hyemi disini, pasti pihak Polisi akan mengurusnya… Ryu… cepatlah…” Ji-eun memberanikan diri melepaskan tangan Ryu yang sedari tadi memeluk kekasihnya.

Dengaan mudah Ryu melemparkan tangan Ji-eun. “Pergilah sendiri.
Gara-gara kau, Hyemi menjadi seperti ini, aku juga sudah keluar dari mafia, jadi kita sudah tak ada urusan lagi,… anggap saja kau tak pernah mengenalku…” kata Ryu, sambil membopong kekasihnya yang sudah menjadi mayat.

Ryu keluar dari ruang tunggu, ia berjalan di malam yang begitu menyedihkan, sambil membawa kekasihnya dalam pelukannya. Banyak pejalan kaki yang melihatnya, menganggap Ryu hanya pria gila, mereka tak tahu kalau Ryu memang sedang gila mengatasi perasaannya sendiri, berpisah dengan kekasih yang sudah menemaninya selama 3 tahun.

“Hyemi… apakah kita harus berpisah sekarang?” kata Ryu pada kekasihnya, sesekali ia mencium pipi mayat kekasihnya itu.

Ji-eun berjalan di belakangnya, menjaga jarak, agar Ryu, tak merasa sedang di ikuti. Gadis itu tak bisa menahan tangisnya, air matanya menetes begitu deras membasahi pipinya.

“Ryu…. jebal ... naleul yongseo… hmm… aku tak tahu kalau seperti ini jadinya…” kata Ji-eun, sayang sekali Ryu tak mendengarnya. Ia terlalu jauh berjalan di depan.

“Hyemi… kau ingin hanbok warna ungu kan?... aku akan membelikanmu malam, ini… aku akan membuatmu semakin cantik…”

***

11 Februari 2013 18:21 Daemyeong 10(sip)-dong, Nam-gu, Daegu

Ryu membawa kekasihnya ke pemakaman, ia memesankan pemakaman untuk kekasihnya, Hyemi bertambah cantik ketika Ryu memakaikannya hanbok berwarna ungu.

“Ahjumma… tolong urus kekasihku dengan baik, ini uang pemakamannya, aku tak tega melihatnya seperti ini, terima kasih, kau mau menolongku, ini data Hyemi, aku harap kau mau menyimpankan abunya untukku Ahjumma” Ryu menangis di hadapan pengurus pemakaman.

Wanita paruh baya yang ada didepannya hanya berkata “Pulanglah… dia sudah tenang di alamnya sendiri… jangan pernah bersedih seperti ini, kalau kau bersedih, dia akan lebih bersedih, kalau kau merasa kehilangannya, ia akan lebih kehilanganmu… Terima kasih Ryu… ini lebih dari cukup… apakah ada keluarga yang lainnya?”

“tidak… Ahjumma, hanya aku keluarganya” jawab Ryu sambil keluar dari tempat pemakaman. Ia menghapus air matanya, ketika melihat ke samping, ia menemukan Ji-eun bersandar di dinding gedung pemakaman.

Ryu hanya berjalan melewati gadis itu, ia seakan tak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada Ji-eun.

“Ryu… Ryu…” Ji-eun berhasil meraih tangan Ryu yang terasa dingin. Ryu kembali menghempaskan tangan Ji-eun, tapi gadis itu terlalu kuat keinginannya. Ia kembali lagi mengulangi tindakannya. “Ryu… jebal ... naleul yongseo…… hmmm… jebal ... naleul yongseo…Ryu… jebal ... naleul yongseo…” Ji-eun berlutut di samping Ryu.

“jebal ... naleul yongseo……Ryu… aku tak tahu lagi harus bagaimana… kau sudah menolongku… tapi aku sama sekali tak bisa menolongmu… jebal ... naleul yongseo…” kata Ji-eun di sela tangisnya.

“kau bisa membantuku, menjauh dariku, jangan libatkan aku lagi…hmmm… apakah permintaanku belum jelas HAH?? KAU BISA MEMBANTUKU JI-EUN!! MENJAUH DARIKU!!” Ryu berlari menjauh dari Ji-eun yang tetap berlutut dan menangisi nasibnya sendiri.

To be continue
 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler