160920130400 - kopi design

Setiap kopi yang kita minum 
pasti menyimpan cerita tersendiri
dan 
siapa yang tahu kalau "letek" bisa memberikan cerita yang berbeda 
disetiap kita meminum kopi. 

Ini letekku hari ini. 
mana letekmu?
hahahaha




"Golek" By Ayuna Kusuma



Ditengah teriknya masalah demi masalah hari ini, seorang ibu berjalan sendirian, menjajakan makanan yang di sunggih dengan susah payah. Jalanan yang tak hanya berkerikil, tapi juga berbatu, tak mengurungkan niatnya untuk berjualan. Anak- anaknya pasti sudah menunggu di rumah. Mereka punya keinginan dan keperluan sendiri-sendiri yang harus di tepati. Sebagai Ibu, ia tak mungkin membiarkan buah hatinya menunggu terlalu lama.

"Pecel...!!! Pecel pincuk!!!!... Murah...!!! Sehat....!!! Ayo sopo seng luweh... maem pecel pincuk yooo!!!" teriak Ibu penjual pecel pincuk dengan sekuat tenaga.

Orang-orang hanya melihatnya, ada juga yang tertarik membeli, tapi seorang temannya bilang kalau ini belum waktunya makan. Memang, Ibu penjual pecel pincuk itu sedikit terlambat menjajakan hasil karyanya. Pagi sudah berlalu, Siang pun belum datang. Semua orang pasti sudah makan dan belum begitu lapar.

"Pecel mbak?? enak mbak... lauk tahu sama peyek" tawar sang Ibu, pada perempuan molek yang duduk di warung.

"Aku yo dodol pecel buk... sampean dodolano neng kono loh... wakeh seng arep paling o" kata perempuan molek dengan suara angkuhnya.

"Matur nuwun..." jawab Sang Ibu. Ia kembali berjalan mengitari jalanan yang ramai, tapi serasa sepi di lubuk rasanya.

"Ya Allah... tunjukkan aku bagaimana cara mencintai semua yang kau berikan padaku... bila hari ini pecel ini tak laku... setidaknya aku bisa memberikannya pada kedua anakku di rumah..." gumam Sang Ibu sambil terus berjalan menawarkan pecel pincuknya.

Puluhan langkah kakinya, tak bisa mempertemukannya dengan pembeli yang sangat ia dambakan. Ia duduk di bawah halte bis. Di sampingnya, seorang bapak tua yang nampak seperti orang tak waras, sedang memegangi perutnya yang kurus kering.

Entah apa yang dipikirkan Sang Ibu, ia membuka bakulnya dan membuatkan satu pecel pincuk lezat beserta peyeknya yang gurih. Lalu, dengan hati-hati ia mendekati pak tua gila, yang duduk menerawang di sisinya.

"Pak... monggo di dahar..." kata Sang Ibu pada pak tua gila, yang umurnya jauh lebih tua darinya.

Pak tua gila, matanya membelalak, melihat pecel yang ada di sampingnya, tanggannya gemetaran hendak mengambil makanan yang disediakan Sang Ibu penjual pecel. Dengan hati-hati ia memasukkan satu persatu "pulukan" ke dalam mulutnya. Ada airmata yang menetes dari pelupuk matanya.

Sambil makan, pak tua menatap ibu penjual pecel pincuk, rasa bahagia tergambar di wajahnya.

"Ning... aku wes ga luwih... aku ra nduwe duwik... mugo-mugo... pecelmu laku kabeh... puenak tenan hihihihi" kata pak tua gila, dengan logat ketidakwarasannya.

Sang Ibu penjual pecel pincuk ikut menangis melihat pak tua gila yang sudah kembali ceria, ia sunggih kembali bakul yang masih penuh pecel pincuk. Dengan segala tenaga, ia berjalan lagi menjajakan pecel.

"Ning!!!! GOLEKO!!! GOLEKO!! REZEKI SENG AKEH!!!! ALLAH Seneng ngekeki awakmu NING!!! GOLEKO!!! GOLEKOO!!!" Teriak pria tua gila dari bawah halte bis.

***

Sore hari, ketika matahari kian malas bersinar, Sang Ibu penjual pecel pincuk pulang ke rumah, bakulnya sudah kosong, dompetnya sekarang yang penuh. Anak-anaknya berlari menyambut dirinya dengan suka cita.

"Wes laku buk?" tanya salah satu anaknya yang masih kecil
"Wes.... laku kabeh... Alhamdulillah.... iki gawe awakmu le... meneh bayaro SPP, iki gawe Sulis... meneh tukuwo buku neng gurumu yoo... nah... nek iki... gawe modal ibuke... wes ndang sinau.... ben mene isok dadi dokter..." kata Sang Ibu mengakhiri perjalanan hari ini.

By Ayuna

Hei Hantu By Ayuna Kusuma

Ada yang tak bisa dilihat
Tapi aku bisa melihatnya
Ia duduk di pojok ruang
Menanti, tangisannya menggema
Mendirikan bulu kuduk
Tatapan matanya yang sama sekali tak kosong
membuatku ingin mengenalnya lebih jauh
Hei... Hantu siapa namamu?
Ia hanya diam saja
Masih di pojok ruang
Tak peduli aku sudah jauh-jauh dari dimensi yang lain mencoba menyapa
Hei Hantu... kamu sudah makan?
Ia akhirnya menatapku
begitu lama.
Hingga ia tertidur dalam pangkuanku.
Di rebahkan kepalanya
Rambutnya yang panjang dan hitam menyentuh kakiku.
Hei Hantu... apa kau sedih?
Ia menganggukan kepala
Rambutnya menggesek lututku.
Dingin
Dingin
suasana begitu Dingin
Hampa...
Hampa...
Kuharap sang Hantu yang tidur di pangkuanku.
Tak lagi merasa Hampa.
Hei Hantu... apa kau perlu teman?
Ia mengangkat kepalanya, lalu melayang di hadapanku.
Mulutnya yang merah berlumur darah
menyeringai
giginya yang tajam terlihat olehku
Ia tertawa
Aku yakin ia bahagia.
Lalu anggukan itu terulang berkali-kali.
Hei Hantu... apa kau perlu teman?
Tubuh yang melayang seperti kapas.
Masuk dalam tubuhku.
Menyatu
Menjadi diriku
Hei Hantu... apakah kau suka berada dalam tubuhku?
Aku mengangguk dan menyeringai.
Ya.... aku suka menjadi dirimu.... kau begitu hangat...

The End

Hei Hantu By Ayuna Kusuma

Kerancuan

Ada yang menanyakan...
dan ada yang menjawab
Itu hal biasa.
Tapi bagaimana kalau yang bertanya, tak tahu apa yang sedang ia tanyakan?
dan bagaimana kalau yang akan menjawab, tak tahu apa yang harus ia jawab?

Itulah yang terjadi saat ini. di dalam masyarakat kita. Ada sebuah masalah yang harus di selesaikan, tapi banyak orang tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan persoalan itu, solusi apa yang pas dan klop untuk masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.


Kerancuan satu persatu terjadi... dan bisakah anda menjawab, siapa yang bertanggung jawab atas kerancuan yang sudah menyebar... luas di tengah masyarakat kita ini?.
 
Layanan untuk Anda: Cerita dari Ayuna Kusuma | AYUNA Duwur | dari Ayuna | Lihat dalam Versi Seluler